Hasil.
Tinggi Tanaman
Data pengamatan tinggi tanaman kedelai umur 4 MST beserta sidik ragam dapat dilihat pada lampiran 5-10 yang menunjukkan perlakuan pemberian alelopati lalang dan babadotan berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman kedelai.
Tinggi tanaman kedelai pada perlakuan pemberian alelopati lalang (Imperata cylindrica) dan babadotan (Ageratum conyzoides)umur 4 MST dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel1. Tinggi tanaman kedelai pada perlakuan pemberian alelopati lalang (Imperata cylindrica) dan babadotan (Ageratum conyzoides) umur 4
MST
Pemberian alelopati Ulangan
Rataan
I II III
---cm---
P0 ( tanpa ektrak ) 40,06 42,80 38,46 40,44
P2 ( 100 ml akar lalang ) 34,90 40,94 41,96 39,27
Tabel 1 menunjukkan tanaman kedelaitertinggi (40,44 cm) cenderung diperoleh pada perlakuan pemberian tanpa alelopati ( P0
Diameter batang
)yang berbeda tidak nyata dengan perlakuan lainnya.
Data pengamatan diameter batang tanaman kedelai umur 4 MST beserta sidik ragam dapat di lihat pada lampiran 11 dan 12 yang menunjukkan perlakuan pemberian alelopati lalang dan babadotan berpengaruh nyata terhadap diameter batang tanaman kedelai.
Diameter batang tanaman kedelai pada perlakuan pemberian alelopati lalang (Imperata cylindrica ) dan babadotan (Ageratum conyzoides) umur 4 MST dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Diameter batang tanaman kedelai pada perlakuan pemberian alelopati lalang (Imperata cylindrica) dan babadotan (Ageratum conyzoides) umur 4 MST
Pemberian alelopati Ulangan
Rataan
Keterangan`: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %,
Tabel 2 menunjukkan diameter tanaman kedelaiterbesar (4,51 mm) diperoleh pada perlakuan pemberian tanpa ekstrak alelopati ( P0 ) yang berbeda tidak nyata dengan P1, P2 tetapi berbeda nyata dengan P3, P4, P5 dan P
Umur Berbunga
6.
Data pengamatan umur berbunga tanaman kedelai beserta sidik ragam dapat di lihat pada lampiran 13 dan 14 yang menunjukkan perlakuan pemberian alelopati lalang dan babadotan berpengaruh tidak nyata terhadap umur berbunga tanaman kedelai.
Umur berbunga tanaman kedelai pada perlakuan pemberian alelopati lalang ( Imperata cylindrica ) dan babadotan (Ageratum conyzoides) dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 menunjukkan umur berbunga tanaman kedelaitercepat (30,60 hari) cenderung diperoleh pada pemberian pemberian alelopati lalang 100
ml (P2) yang berbeda tidak nyata dengan P0, P1, P3, P4, P5 dan P6
Tabel 3.Umur berbunga tanaman kedelai pada perlakuan pemberian alelopati lalang ( Imperata cylindrica ) dan babadotan (Ageratum conyzoides)
.
Pemberian alelopati Ulangan
Rataan
Data pengamatan jumlah cabang produktif tanaman kedelai beserta sidik ragam dapat di lihat pada lampiran 19 dan 20 yang menunjukkan perlakuan pemberian alelopati lalang dan babadotan berpengaruh nyata terhadap cabang
Jumlah cabang produktif tanaman kedelai pada perlakuan pemberian alelopati lalang (Imperata cylindrica) dan babadotan (Ageratum conyzoides) dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4.Jumlah cabang produktif tanaman kedelai pada perlakuan pemberian alelopati lalang (Imperata cylindrica) dan babadotan (Ageratum conyzoides)
Pemberian alelopati Ulangan
Rataan
Keterangan`: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %,
Tabel 4 menunjukkan jumlah cabang produktif terbanyak (3,07 cabang) diperoleh pada perlakuan tanpa pemberian alelopati ( P0 ) yang berbeda nyata dengan P1 P2, P4, P5 dan P6
Jumlah Polong hampa .
Data pengamatan jumlah polong hampa tanaman kedelai beserta sidik ragam dapat di lihat pada lampiran 17 dan 18 yang menunjukkan perlakuan pemberian alelopati lalang dan babadotan berpengaruh nyata terhadap jumlah polong hampa tanaman kedelai.
Jumlah polong hampa tanaman kedelai pada perlakuan pemberian alelopati lalang ( Imperata cylindrica ) dan babadotan (Ageratum conyzoides) dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5.Jumlah polong hampa tanaman kedelai pada perlakuan pemberian alelopati lalang ( Imperata cylindrica ) dan babadotan (Ageratum conyzoides)
Pemberian alelopati Ulangan
Rataan
Keterangan`: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolo menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %,
Tabel 5 menunjukkan jumlah polong hampa kedelai terbanyak (3,20 polong) diperoleh pada pemberian babadotan 150 ml ( P6 ) yang berbeda
tidak nyata dengan P2, P3 P4 P5 tetapi berbeda nyata dengan P0 dan P1
Jumlah Polong Berisi
.
Data pengamatan jumlah polong berisi tanaman kedelai beserta sidik ragam dapat di lihat pada lampiran 15 dan 16 yang menunjukkan perlakuan pemberian alelopati lalang dan babadotan berpengaruh nyata terhadap jumlah polong berisi tanaman kedelai,
Jumlah polong berisi tanaman kedelai pada perlakuan pemberian alelopati lalang ( Imperata cylindrica ) dan babadotan (Ageratum conyzoides) dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6.Jumlah polong berisi tanaman kedelai pada perlakuan pemberian alelopati
lalang ( Imperata cylindrica ) dan babadotan
(Ageratum conyzoides)
Pemberian alelopati Ulangan
Rataan
Keterangan`: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom menunjukkan berbeda tidak nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf α = 5 %,
Tabel 6 menunjukkan jumlah polong berisi kedelai terbanyak (39,53 polong) diperoleh pada perlakuan tanpa pemberian alelopati ( P0 ) yang berbeda tidak nyata dengan P1 tetapi berbeda nyata dengan P2, P3, P4, P5 dan P Bobot Biji
6.
Data pengamatan bobot biji tanaman kedelai beserta sidik ragam dapat di lihat pada lampiran 21 dan 22 yang menunjukkan perlakuan pemberian alelopati lalang dan babadotan berpengaruh tidak nyata terhadap bobot biji tanaman kedelai,
Bobot biji tanaman kedelai pada pemberian alelopati lalang (Imperata cylindrica ) dan babadotan (Ageratum conyzoides) dapat dilihat
pada Tabel 7,
Tabel 7.Bobot biji tanaman kedelai pada pemberian alelopati lalang
Pemberian alelopati Ulangan
Tabel 7 menunjukkan bobot biji kedelai terberat (8,03 g) cenderung diperoleh pada pemberian tanpa alelopati (P0)yang berbeda tidak nyata dengan P1,
P2, P3, P4, P5 dan P Umur panen
0.
Data pengamatan umur panen tanaman kedelai beserta sidik ragam dapat di lihat pada lampiran 23 dan 24 yang menunjukkan perlakuan pemberian alelopati lalang dan babadotan berpengaruh tidak nyata terhadap umur panen tanaman kedelai.
Umur panen tanaman kedelai pada pemberian alelopati lalang (Imperata cylindrica) dan babadotan (Ageratum conyzoides) dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Umur panen tanaman kedelai pada pemberian alelopati lalang ( Imperata cylindrica ) dan babadotan (Ageratum conyzoides)
Perlakuan Blok
Total Rataan
I II III
P0 73.20 74.00 79.80 227.00 75.67
P1 73.00 73.60 77.40 224.00 74.67
P2 74.80 74.40 74.40 223.60 74.53
Tabel 8 menunjukkan umur panen kedelaitercepat cenderung diperoleh pada pemberian alelopati lalang 50 ml (P1)yang berbeda tidak nyata dengan P0, P2 P3, P4, P5 dan P
Pembahasan
6.
Dari hasil analisis data secara statistik menunjukkanbahwa pemberian alelopati lalang berpengaruh nyata pada peubah amatan diameter batang, polong berisi, polong hampa, cabang produktif.
Dari hasil analisis yang di peroleh bahwa pemberian alelopati babandotan 150 ml (P6) menurunkan diameter batang tanaman kedelai.Hal ini mengindikasikan bahwa alelopati yang di berikan mampu menurunkan diameter batang tanaman karena bersifat toksik yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Hal ini sejalan dengan pendapat Togatorop (2009), bahwa ekstrak Ageratum conyzoides dapat menekan panjang kecambah bagian atas pada sawi
yang disebabkan oleh adanya senyawa phenolic acid yang terkandung pada Ageratum conyzoides,
Dari hasil analisis yang di peroleh di ketahui bahwa pemberian alelopati berpengaruh nyata terhadap parameter polong berisi, polong hampa dan cabang produktif.Hal ini mengindikasikan bahwa alelopati yang di berikan mampu menurunkan produksi tanaman kedelai yang di sebabkan alelopati mengandung toksik. Hal ini sesuai dengan Hasil penelitian Inawati (2000) menunjukkan bahwa kehadiran gulma A, conyzoides dan C, rotundus pada pertanaman kedelai dapat
menurunkan produksi masing-masing sebesar 21,72% dan 37%, D, adscendens dapat menurunkan hasil tanaman bawang merah sekitar 43,5%
Senyawa alelopati merupakan metabolit sekunder pada tumbuh-tumbuhan, Senyawa tersebut dapat ditemukan di semua jaringan tumbuhan, antara lain pada daun, batang, akar, rizome, bunga, buah dan biji serta dapat dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan yang masih hidup atau telah mati (Sastroutomo, 1990), Senyawa tersebut diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori menurut struktur dan sifat yang berbeda dari senyawa tersebut diantaranya: (1) asam organik yang larut dalam air, alkohol rantai lurus, aldehid alifatik, dan keton, (2) lakton sederhana yang tak jenuh, (3) rantai panjang asam lemak (fatty acid) dan polyacetylenes, (4) Naphthouinones, anthroquinones dan quinines kompleks, (5) fenol sederhana, asam benzoat dan turunannya, (6) asam sinamat dan turunannya, (7) kumarin, (8) flavonoid, (9) tanin, (10) steroid dan terpenoid (lakton sesquiterpene, diterpenes, dan triterpenoid), (11) asam amino dan polipetida, (alkaloid dan dyanohydrins), (12) sulfida dan glukosida, (15) purin dan nukleotida (Rice, 1984; Wang et al,, 2006), Senyawa alelopati dapat mempengaruhi penyerapan hara, pembelahan sel, penghambat pertumbuhan, fotosintesis, respirasi, sintesis protein dan aktivitas enzim (Sastroutomo, 1990; Ferguson dan Rathinasabapathi, 2009),
Hasil pengamatan terhadap tinggi tanaman kedelai akibat pemberian ekstrak alelopati lalang dan bandotanmenunjukkan terjadi penekanan pertumbuhan tanaman kedelai. Dari hasil pengamatan tersebut, terlihat rata-rata tinggi tanaman yang paling tinggi adalah pada perlakuan kontrol yaitu 44 cm sedangkan yang terendah adalah pada perlakuan ekstrak bandotan 150 ml yaitu 6,90 cm. Berdasarkan hasil tersebut, dapat diketahui bahwa pemberian cairan ekstrak A, conyzoides dapat menekan pertumbuhan tanaman kedelai, dikarenakan
pada gulma A, conyzoides mengandung bahan kimia yang dikenal dengan istilah alelopati di mana suatu senyawa yang dikeluarkan untuk menghambat pertumbuhan tanaman, sehingga fotosintesis, respirasi akan terganggu yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Weston (1996) yang menyatakan alelopati merupakan pelepasan senyawa bersifat toksik yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman disekitarnya dan senyawa yang bersifat alelokimia, Beberapa senyawa alelopati menghambat pembelahan sel-sel akar, menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel, menghambat respirasi akar, menghambat sintesis protein, menghambat aktivitas enzim dan menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan.
Dari hasil analisis yang di peroleh bahwa pemberian alelopati berpengaruh tidak nyata terhadap parameter umur berbunga tanaman. Rataan umur berbunga kedelai antara rentang 30 sampai 33 hari, dimana umur berbunga pada varietas grobogan menurut T. Adi sarwanto antara 30 – 32 hari. Sehingga dapat disimpulkan umur berbunga tanaman tidak dipengaruhi oleh alelopati yang diberikan.
Hasil pengamatan terhadap bobot biji tanaman kedelai akibat pemberian ekstrak alelopati lalang dan bandotanmenunjukkan terjadi penurunan produksi tanaman kedelai. Dari hasil pengamatan tersebut, terlihat rataan bobot biji terendah (5,83 g) yaitu pada pemberian 50 ml babadotan. Hal ini diduga karena pertumbuhan vegetative tanaman terganggu sehingga hasil produksi akan menurun. Penurunan ini disebabkan karena senyawa alelopati menghambat metabolisme dalam tubuh tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Weston (1996 ) bahwa alelopati merupakan pelepasan senyawa bersifat toksik yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman disekitarnya dan senyawa yang bersifat
alelopati disebut alelokimia. Beberapa senyawa alelopati menghambat pembelahan sel-sel akar, menghambat pertumbuhan yaitu dengan mempengaruhi pembesaran sel, menghambat respirasi akar, menghambat sintesis protein, menghambat aktivitas enzim, serta menurunkan daya permeabilitas membran pada sel tumbuhan.
Hasil pengamatan terhadap bobot biji tanaman kedelai akibat pemberian ekstrak alelopati lalang dan bandotanmenunjukkan terjadi penekanan pertumbuhan tanaman kedelai, Dari hasil pengamatan tersebut, terlihat rata-rata umur panen tanaman yang tercepat adalah pada perlakuan P6 yaitu 71,20 cm dan yang paling lambat adalah control 75,67.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat diketahui bahwa pemberian cairan ekstrak A, conyzoides dapat menekan pertumbuhan tanaman kedelai, dikarenakan pada gulma A, conyzoides mengandung bahan kimia yang dikenal dengan istilah alelopati di mana suatu senyawa yang dikeluarkan untuk menghambat pertumbuhan tanaman, sehingga fotosintesis, respirasi akan terganggu yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan tanaman, Hal ini sesuai dengan pernyataan Hasanuzaman (2001) yang menyatakan bahwa sumber senyawa alelopati yang bersifat racun tersebut dapat terjadi melalui beberapa cara yaitu diantaranya eksudasi dari akar, larut dari daun segar melalui air hujan atau embun, larut dari serasah yang telah terdekomposisi dan transformasi dari mikroorganisme tanah, Pada umumnya konsentrasi senyawa alelopati yang berasal dari daun segar jauh lebih rendah dibandingkan yang berasal dari serasah yang telah terdekomposisi .