• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keadaan Umum Lokasi Penelitian Kondisi Geografis Desa

Taman Pendidikan Karakter Semai Benih Bangsa Sutera Alam terletak di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Desa Sukamantri memiliki topografi berupa dataran tinggi dan berada pada ketinggian 750 m dari permukaan laut dengan luas wilayah 639 Ha. Suhu udara rata-rata sebesar 25 0C dan curah hujan 400 mm/th.

Desa Sukamantri memiliki batas-batas wilayah yaitu sebelah timur berbatasan dengan Desa Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan dan Desa Sukaharja, Kecamatan Cijeruk. Sebelah utara dan barat berbatasan dengan Desa Kotabatu serta Sirnagalih, Kecamatan Ciomas. Desa Sukamantri bagian selatan berbatasan langsung dengan Gunung Salak.

Jumlah penduduk Desa Sukamantri sampai dengan bulan Juni 2005 terhitung sebanyak 8358 jiwa, terdiri dari 4534 orang pria dan 3824 orang wanita dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 1728 KK. Sebagian besar penduduk memiliki mata pencaharian sebagai petani sebanyak 1057 orang, namun di sekitar lokasi penelitian sebagian besar bekerja sebagai buruh pabrik.

Tahun 2003, Desa Sukamantri memiliki pendapatan per kapita per bulan sebesar Rp 196 492.23 dan sebanyak 290 keluarga termasuk dalam kategori miskin. Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan yaitu lulusan SD/Sederajat sebanyak 2640 orang, lulusan SLTP sebanyak 3684 orang, lulusan SLTA sebanyak 5647 orang, dan lulusan Perguruan Tinggi sebanyak 65 orang. Berdasarkan etnis, sebanyak 12231 orang penduduk Desa Sukamantri beretnis Sunda.

Fasilitas kesehatan yang terdapat di Desa Sukamantri antara lain puskesmas dan posyandu. Puskesmas hanya tersedia 1 buah yang letaknya cukup jauh dari lokasi penelitian, dan berada di samping kantor Kecamatan Tamansari, Bogor, Jawa Barat. Masing-masing Rukun Warga (RW) memiliki 1 buah posyandu, sehingga jumlah total posyandu yang ada di Desa Sukamantri sebanyak 12 buah. Sementara itu tenaga kesehatan yang tersedia yaitu dokter berjumlah 3 orang dan 1 orang bidan.

Keadaan Taman Pendidikan Karakter Semai Benih Bangsa

TK Karakter merupakan sarana pendidikan yang menerapkan sistem pendidikan yang berbeda dengan sekolah lainnya. Sistem pendidikan yang digunakan antara lain: (1) Penerapan Quantum Learning, Student Active Learning (student oriented bukan teacher oriented); (2) Menerapkan Character- based Integrated Learning Curriculum; (3) Refleksi pilar karakter setiap hari; (4)

Co-Parenting Character Education; serta (5) Melibatkan peran aktif dan kerjasama orangtua murid dengan sekolah.

Pendidikan TK Karakter bertujuan: (1) Membantu mengembangkan kecerdasan yang optimal dalam aspek kognitif, emosional dan spiritual; (2) Membantu anak mencapai keseimbangan fungsionalisasi otak kiri dan kanan; serta (3) Membangun dan membentuk karakter atau kepribadian anak yang mempunyai intelektualitas dan kematangan emosi yang dibingkai dengan nilai- nilai ruhiyah. Karakter yang dibangun terdiri dari 9 pilar karakter, yaitu: (1) Cinta kebenaran; (2) Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian, (3) Amanah dan kejujuran; (4) Hormat dan santun; (5) Kasih sayang, kepedulian dan kerjasama; (6) Percaya diri, kreatif dan pantang menyerah; (7) Keadilan dan kepemimpinan; (8) Baik dan rendah hati; serta (9) Toleransi, kedamaian dan kesatuan.

Semai Benih Bangsa (SBB) merupakan kegiatan pendidikan prasekolah untuk anak-anak dari keluarga miskin yang berorientasi pada pembentukan karakter anak. Pendirian TK Semai Benih Bangsa (SBB) ditujukan untuk menampung anak-anak yang tidak dapat masuk ke TK formal, karena tak punya biaya. Kegiatan di SBB difokuskan pada pembentukan karakter dengan metode ”knowing the good, loving the good, and acting the good”.

Saat ini ada 3 lokasi Semai Benih Bangsa (SBB) yang sudah memasuki tahun ke 2, yaitu di Tapos, Sukamulya dan Cibungbulang. Lima lokasi yang baru dibuka yaitu di daerah Empang, Cilendek, Bondongan, Gunung Batu dan daerah Cikaret. Kelima daerah tersebut berada di Kota Bogor.

Selain di wilayah tersebut telah berdiri pula Taman Pendidikan (TP) Karakter Semai Benih Bangsa (SBB) Sutera Alam yang berlokasi di Desa Sukamantri, Kecamatan Tamansari, Bogor. Para pengajar di TK ini sudah terlatih karena telah mengikuti berbagai pelatihan yang diadakan oleh pihak yayasan. Taman Pendidikan SBB Sutera Alam diresmikan oleh Direktur PADU Ditjen PLSP Depdiknas RI pada tanggal 11 Januari 2005. Kegiatan belajar mengajar baru dimulai pada 28 Maret 2005.

Gambar 2 Sebaran contoh berdasarkan jenis kelamin. 60% 40% Laki-laki Perempuan Karakteristik Contoh Umur

Menurut Santoso dan Ranti (1999), hasil tumbuh kembang dapat dikatakan terlihat pada karakteristik anak Taman Kanak-kanak (kelompok usia 3–6 tahun) yang dapat dikelompokkan atas usia 3–4 tahun, usia 4–5 tahun dan 5–6 tahun. Pada anak usia 1-6 tahun, selain mengalami sosialisasi primer di lingkungan keluarga juga mengalami sosialisasi sekunder dari lingkungan luar.

Jumlah keseluruhan contoh adalah 40 orang anak prasekolah siswa Taman Pendidikan Karakter Semai Benih Bangsa Sutera Alam. Umur contoh berkisar antara 30-89 bulan, dengan contoh terbanyak memiliki kisaran pada kelompok umur 54-65 bulan (50%). Rata-rata umur contoh adalah 60.5 bulan.

Tabel 2 Sebaran contoh berdasarkan umur Kelompok Umur Contoh (bulan) Jumlah n % 30-41 2 5.0 42-53 5 12.5 54-65 20 50.0 66-77 11 27.5 78-89 2 5.0 Total 40 100.0 Jenis Kelamin

Menurut Hurlock (1998), jenis kelamin merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Proporsi jenis kelamin contoh tidak terlalu berbeda jauh. Berdasarkan jenis kelamin, sejumlah 60.0% contoh berjenis kelamin laki-laki dan sebanyak 40.0% adalah perempuan.

Gambar 3 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga. 50% 50% Keluarga Kecil Keluarga Besar Karakteristik Keluarga Besar Keluarga

Besar keluarga memiliki pengaruh terhadap berbagai hal, salah satunya adalah kebutuhan makanan. Seperti yang dikatakan Suhardjo (1989b), besarnya jumlah keluarga menentukan pemenuhan kebutuhan makanan. Pemenuhan kebutuhan makanan akan menjadi lebih mudah pada keluarga yang memiliki jumlah anggota keluarga lebih sedikit.

Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 3 sampai 9 orang. Proporsi keluarga kecil (= 4 orang) sama dengan keluarga besar (> 4 orang) sebanyak 20 keluarga (50.0%). Keluarga kecil dalam penelitian ini hanya terdiri dari satu keluarga yang tinggal bersama dalam satu tempat tinggal (keluarga inti). Keluarga besar merupakan extended family atau lebih dari satu keluarga yang tinggal dalam satu atap. Keluarga contoh yang tergolong keluarga besar mayoritas masih tinggal bersama dengan orangtua dan sanak keluarga yang lain.

Umur Orangtua

Orangtua merupakan orang yang memiliki peranan sangat penting pada masa pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Umur orangtua contoh tersebar pada seluruh kelompok umur. Umur ayah contoh berkisar antara 24-45 tahun, sedangkan ibu antara 20-38 tahun. Mayoritas ayah contoh (97.5%) berada pada kisaran usia 20-40 tahun. Sebanyak 82.5% ibu contoh berumur 20-40 tahun. Orangtua contoh dapat dikatakan masih tergolong relatif muda, karena pada usia 20-40 tahun merupakan usia yang produktif dan tergolong dewasa awal.

Umur orangtua terutama ibu yang relatif masih muda, cenderung memiliki sedikit sekali pengetahuan tentang gizi dan pengalaman dalam mengasuh anak. Umumnya mereka mengasuh anak berdasarkan pengalaman orangtuanya dahulu. Ibu yang masih berusia muda cenderung untuk mendahulukan

82.5 97.5 17.5 2.5 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

<20 tahun 20-40 tahun >40 tahun Umur Orangtua

Ayah Ibu

Persentase (%)

kepentingannya sendiri, sehingga waktu pengasuhan menjadi sangat singkat dan tidak menyenangkan. Sebaliknya pada ibu yang lebih berumur cenderung akan menerima dengan senang hati tugasnya sebagai ibu, sehingga akan mempengaruhi pula terhadap kuantitas dan kualitas pengasuhan anak (Hurlock 1998).

Gambar 4 Sebaran contoh berdasarkan umur orangtua.

Lama Pendidikan Orangtua

Semakin lama pendidikan yang pernah ditempuh oleh seseorang, maka tingkat pendidikannyapun akan semakin tinggi. Orang yang berpendidikan tinggi cenderung memilih makanan yang murah tapi kandungan gizinya tinggi sesuai dengan jenis pangan yang tersedia dan kebiasaan makan sejak kecil, sehingga kebutuhan zat gizi dapat terpenuhi dengan baik (Suhardjo 1989a).

Lama pendidikan orangtua contoh cukup beragam mulai dari = 6 hingga > 12 tahun. Hasil analisis statistik menunjukkan lama pendidikan ayah dan ibu lebih banyak masih tergolong rendah (= 6 tahun). Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya orangtua contoh yang hanya memperoleh pendidikan selama = 6 tahun yaitu sebanyak 40.0% ayah dan 62.5% ibu contoh. Penyebabnya diduga karena faktor kesejahteraan keluarga orangtua contoh yang masih rendah, kurangnya kesadaran diri dan fasilitas yang mendukung untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

40 62.5 37.5 25 15 12.5 7.5 0 10 20 30 40 50 60 70

= 6 tahun 7-9 tahun 10-12 tahun >12 tahun Lama Pendidikan

Gambar 5 Sebaran contoh berdasarkan lama pendidikan.

Ayah Ibu

Persentase (%)

Rendahnya pendidikan ibu diduga dapat menyebabkan rendahnya kesadaran ibu akan pentingnya keadaan gizi dan kesehatan anak yang baik, sehingga dapat berdampak pada rendahnya keadaan gizi dan kesehatan anak. Seperti yang diungkapkan oleh Krisnatuti (2004), rendahnya tingkat pendidikan orangtua dapat berakibat terhadap rendahnya kondisi gizi dan kesehatan keluarga.

Pekerjaan Orangtua

Pekerjaan atau mata pencaharian orangtua, khususnya kepala keluarga sangat berhubungan dengan faktor-faktor kesehatan, hal ini disebabkan mata pencaharian ada hubungannya dengan pendidikan dan pendapatan (Sukarni 1994). Jenis pekerjaan dapat memberikan gambaran tingkat pendapatan suatu keluarga tiap bulannya.

Hasil penelitian menunjukkan seluruh ayah contoh bekerja, sedangkan ibu contoh tidak bekerja. Lebih dari separuh ayah contoh (52.5%) bekerja sebagai buruh pabrik yang ada di sekitar tempat tinggal keluarga contoh. Selain itu, ayah contoh juga ada yang bekerja sebagai pedagang dan pegawai swasta masing- masing sebesar 17.5%, serta supir sebanyak 12.5%.

Tabel 3 Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan orangtua Pekerjaan Orangtua Jumlah

n % Ayah Pedagang 7 17.5 Pegawai Swasta 7 17.5 Buruh 21 52.5 Supir 5 12.5 Total 40 100.0 Ibu Pedagang - - Pegawai Swasta - - Buruh - - Tidak bekerja 40 100.0 Total 40 100.0

Jenis pekerjaan yang dimiliki ibu contoh tidak beragam seperti pekerjaan ayah. Seluruh ibu contoh tidak memiliki pekerjaan di luar rumah dan hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga (100.0%). Hal ini menunjukkan bahwa alokasi waktu yang dicurahkan untuk mengurus anak sangat besar, karena hampir setiap saat ibu dapat bersama dengan anaknya. Diharapkan dengan banyaknya waktu ibu yang tersedia dapat dialokasikan untuk memperhatikan dan mengurus anak, agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Menurut Meirita (2000), pemberian makanan kepada anak menjadi tidak teratur pada ibu yang bekerja. Hal ini disebabkan karena berkurangnya waktu ibu di rumah, sehingga mereka harus menyerahkan pengasuhan anaknya kepada orang lain.

Pendapatan Keluarga

Pendapatan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi konsumsi pangan, status gizi dan tingkat perkembangan seorang anak. Menurut Yuliana (2004), keadaan ekonomi keluarga berperan dalam perkembangan anak dan menentukan tingkat kesejahteraan keluarga. Keadaan sosial yang serba kurang akan menyebabkan kondisi yang kurang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Data pendapatan per kapita per bulan keluarga contoh diperoleh dari jumlah total pendapatan seluruh anggota keluarga dibagi jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan kepala keluarga. Rata-rata pendapatan per bulan keluarga contoh berkisar Rp 150 000-Rp 2 500 000 dengan rata-rata Rp 699 200. Pendapatan per kapita per bulan keluarga contoh berkisar Rp 41 667- Rp 833 333 dengan rata-rata sebesar Rp 179 494.

Garis kemiskinan penduduk Jawa Barat menurut BPS (2003) sebesar Rp 135 598. Jika dibandingkan dengan garis kemiskinan penduduk, maka diperoleh sebanyak 57.5% keluarga contoh merupakan keluarga yang berada di atas garis kemiskinan Jawa Barat, karena memiliki pendapatan per kapita per bulan = Rp 135 598. Jika pendapatan sudah memadai, maka diharapkan pengasuhan anak dapat lebih dikonsentrasikan sepenuhnya guna mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan anak.

Tabel 4 Sebaran contoh berdasarkan pendapatan keluarga per kapita per bulan Pendapatan keluarga per kapita per bulan Jumlah

n %

Di bawah garis kemiskinan ( < Rp 135 598) 17 42.5 Di atas garis kemiskinan ( = Rp 135 598) 23 57.5

Total 40 100.0

Soekirman (2000) menyatakan bahwa besarnya pendapatan per kapita per bulan keluarga mempengaruhi daya beli keluarga terhadap pangan yang berkualitas. Bila pendapatan meningkat maka pola konsumsi pangan akan makin beragam, serta umumnya akan terjadi peningkatan konsumsi pangan yang lebih bernilai gizi tinggi. Menurut Yuliana (2004), keadaan sosial yang serba kurang akan menyebabkan kondisi yang kurang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Penge tahuan Gizi Ibu

Pengetahuan gizi adalah sejumlah informasi yang dimiliki seseorang mengenai gizi dan makanan. Pengetahuan gizi merupakan salah satu faktor yang ikut berperan aktif dalam pengasuhan anak, karena saat ini salah satu penyebab gizi kurang adalah kurangnya informasi yang diperoleh pengasuh anak khususnya ibu. Sumber informasi tidak hanya dapat diperoleh dari media massa saja, melainkan juga bisa dari kegiatan-kegiatan organisasi (Sihadi et al. 2000). Harper et al. (1986) menyatakan bahwa kurangnya pengetahuan gizi atau rendahnya kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari-hari merupakan salah satu penyebab timbulnya gangguan gizi.

Pengetahuan gizi diukur menggunakan 20 pertanyaan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan. Kemudian jawaban yang diperoleh diberi total skor antara 0-100. Skor pengetahuan gizi yang diperoleh kemudian dikelompokkan menjadi tiga kategori menurut Khomsan (2000), yaitu kurang (<60%), sedang (60-80%) dan baik (>80%).

Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan pengetahuan gizi ibu Pengetahuan Gizi Ibu Jumlah

n %

Kurang (<60%) 18 45.0

Sedang (60-80%) 20 50.0

Baik (>80%) 2 5.0

Total 40 100.0

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa sejumlah 50.0% ibu contoh memiliki pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori sedang dan 45.0% tergolong kurang. Hanya 5.0% ibu memiliki pengetahuan gizi yang baik. Hal ini menggambarkan pengetahuan gizi ibu yang masih rendah. Tingginya jumlah ibu yang termasuk dalam kategori kurang diduga karena sebagian besar pendidikan ibu masih tergolong rendah. Seperti yang diungkapkan Madanijah (2003), pengetahuan ibu selain dipengaruhi oleh pendidikan ibu, pendidikan ayah dan keadaan sosial ekonomi keluarga, juga dipengaruhi oleh akses terhadap informasi. Semakin tinggi pendidikan ibu diduga akan semakin meningkatkan wawasan ibu termasuk dalam hal gizi dan kesehatan anak. Selain itu, masih rendahnya kesadaran ibu akan pentingnya keadaan gizi dan kesehatan anak yang baik juga menjadi salah satu penyebab kurangnya pengetahuan gizi ibu. Rendahnya kesadaran ibu tersebut akan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak yang baik.

Akses Ibu terhadap Informasi

Ibu merupakan orang yang sangat besar peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Informasi mengenai gizi dan kesehatan sangat penting untuk diketahui oleh ibu dalam melakukan perawatan dan pengasuhan anak demi mencapai status gizi dan perkembangan yang baik. Subulassalam (2005) menyatakan bahwa informasi gizi dan kesehatan didapat dari berbagai sumber informasi seperti media massa dan petugas kesehatan. Media massa menjadi alat untuk mendistribusikan informasi dari satu tempat ke tempat lain secara cepat.

Menurut Darmadji (1994), diacu dalam Yuliana (2004), pendidikan gizi melalui artikel-artikel, pemberitaan-pemberitaan dari surat kabar, majalah maupun televisi mengenai anak dapat meningkatkan pemahaman ibu mengenai perkembangan anak. Media massa yang lebih banyak dimanfaatkan ibu untuk memperoleh informasi mengenai gizi dan kesehatan adalah televisi (42.5%).

Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan sumber informasi yang digunakan ibu Sumber Informasi Jumlah

n % TV 17 42.5 Radio 3 7.5 Majalah 3 7.5 Koran 1 2.5 Brosur 4 10.0 Poster 2 5.0 Kader posyandu 15 37.5 Bidan/Dokter 15 37.5 Saudara 2 5.0 Orangtua 6 15.0 Tetangga 6 15.0

Selain itu, ibu juga memperoleh informasi dari bidan atau dokter dan kader posyandu setempat yang masing-masing proporsinya sama yaitu 37.5%. Informasi yang diperoleh dari bidan atau dokter dan kader posyandu hanya diperoleh pada saat-saat tertentu saja, seperti saat pemeriksaan anak ke bidan/dokter atau ketika kegiatan posyandu diadakan. Hal ini menyebabkan penyampaian informasi dari sumber kepada ibu sangat terbatas.

Pengetahuan ibu akan bertambah bila ibu dapat mengakses berbagai infomasi dengan mudah, termasuk informasi gizi dan kesehatan. Proporsi akses informasi ibu terbesar berada pada kategori kurang (72.5%), walaupun banyak dari mereka memperoleh informasi gizi dan kesehatan dari televisi. Hal ini diduga pemanfaatan media elektronik, seperti televisi hanya digunakan sebagai alat hiburan saja bukan sebagai sumber informasi yang dapat menambah pengetahuan ibu. Hanya sebagian kecil ibu yang membaca atau mendengarkan materi mengenai gizi dan kesehatan anak dari selain tenaga kesehatan.

Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan akses ibu terhadap informasi Akses terhadap Informasi Jumlah

n %

Kurang (10-33) 29 72.5

Sedang (34-57) 8 20.0

Baik (58-80) 3 7.5

Total 40 100.0

Kurangnya akses informasi yang dimiliki oleh seorang ibu dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang ibu yang masih rendah. Hal ini sependapat dengan Meirita (2000) yang mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan ibu yang tinggi akan mempermudah penerimaan terhadap informasi

tentang gizi dan kesehatan anak. Mudahnya ibu dalam menerima informasi dapat meningkatkan pengetahuan ibu. Sebaliknya sulitnya dan rendahnya akses terhadap informasi dapat menyebabkan rendahnya pengetahuan ibu.

Pola Asuh Makan

Pola asuh makan merupakan praktek-praktek pengasuhan yang diterapkan oleh ibu kepada anak yang berkaitan dengan pemberian makan (Karyadi 1985). Skor pola asuh makan contoh berkisar antara 26-43 dari nilai maksimum skor 45. Gambar 6 menunjukkan bahwa sebanyak 62.5% contoh memperoleh pola asuh makan yang tergolong dalam kategori sedang. Contoh yang memiliki pola asuh makan tergolong kurang dan baik masing-masing sebesar 20.0% dan 17.5%. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata ibu sudah dapat memberikan perhatian dalam hal praktek pemberian makanan dengan cukup baik, walaupun masih ada yang tergolong kurang. Menurut Hardinsyah dan Martianto (1992), perhatian terhadap makanan dan kesehatan pada anak usia balita sangatlah diperlukan oleh orangtua. Kurangnya pengasuhan makan ibu yang diberikan kepada contoh diduga karena sebagian besar ibu memiliki lama pendidikan yang masih tergolong rendah dan kurangnya akses informasi yang diperoleh.

Gambar 6 Sebaran contoh berdasarkan kategori pola asuh makan. Walaupun seluruh ibu tidak bekerja dan hanya sebagai ibu rumah tangga, namun pengasuhan anak terutama pengasuhan makan contoh, termasuk dalam kategori sedang dan banyak yang tergolong kurang. Hal ini diduga karena faktor pengetahuan ibu yang kurang tentang pemberian makan yang baik. Selain itu dapat juga disebabkan usia ibu yang masih tergolong muda, sehingga cenderung memiliki sedikit sekali pengetahuan tentang gizi dan pengalaman dalam mengasuh anak. Ibu yang tergolong muda cenderung mendahulukan kepentingannya sendiri, sehingga waktu pengasuhan menjadi tidak efektif.

20%

17.5%

62.5%

Kurang Sedang Baik

Berdasarkan Lampiran 1 dapat diketahui bahwa semua ibu contoh (responden) menjadi pengatur menu makan contoh. Namun hampir seluruh ibu mengatur dan sekaligus menyiapkan menu makanan contoh (95.0%) seorang diri tanpa dibantu orang lain. Anggota keluarga lain juga memiliki andil dalam menentukan dan menyiapkan menu makan contoh, antara lain ayah dan nenek contoh sebanyak 5.0%.

Sejumlah 50.0% contoh kadang-kadang terbiasa disuapi saat makan, sedangkan contoh yang tidak terbiasa disuapi sejumlah 32.5%. Hampir seluruh contoh (90.0%) terbiasa disuapi oleh ibu contoh dan hanya 10.0% contoh yang terbiasa disuapi selain oleh ibu juga orang lain. Menurut Over et al. (1992), diacu dalam Anugra (2004), pengasuhan juga dapat dilakukan oleh anggota keluarga yang lain dan didukung oleh lingkungan keluarga yang baik, tetapi pengasuhan terbaik tetap dilakukan oleh ibu.

Mayoritas contoh memiliki jadwal makan yang tidak tetap (77.5%). Hanya 22.5% contoh yang memiliki jadwal makan tetap. Kebanyakan dari responden (80.0%) memberi makan kepada anaknya berdasarkan kemauan anak dan tidak sesuai dengan jadwal makan yang seharusnya. Hanya 15.0% contoh yang makan sesuai dengan jadwal makan mereka. Menurut WHO (1998), diacu dalam Anugra (2004), diantara faktor praktek pemberian makan yang dapat mempengaruhi konsumsi makanan anak antara lain adalah kepekaan ibu mengetahui waktu makan dan kuantitas serta kualitas makanan yang diberikan kepada anaknya.

Lebih dari separuh responden menghidangkan makanan untuk anaknya dalam porsi kecil dan sedikit demi sedikit (52.5%). Sebagian responden menghidangkan makanannya tidak tentu, terkadang sedikit demi sedikit, namun tak jarang pula langsung dalam porsi besar. Saat anak makan, sebanyak 47.5% responden menunggu tanpa bercerita atau bercanda dengan anaknya. Hal ini disebabkan kebanyakan dari responden memberi makan kepada anak dan menemaninya sambil menonton televisi, sehingga anak dan ibu masing-masing memiliki keasikan tersendiri. Masih terdapat responden yang meninggalkan anaknya saat makan tanpa menemaninya sejumlah 25.0%. Namun kebersamaan fisik saja tidak menjamin dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, melainkan diperlukan juga kebersamaan secara psikososial.

Sebanyak 60.0% responden dalam memberikan makan kepada contoh dengan cara merayu. Sejumlah 52.5% contoh kadang-kadang menghabiskan

makannya. Apabila tidak habis, 70.0% responden membujuk dan mencoba lagi agar contoh mau menghabiskan makanan. Terlalu memaksakan anak untuk makan makanan yang tidak disukai akan menyebabkan berkurangnya tingkat konsumsi baik energi maupun protein. Apabila keadaan ini berlangsung secara terus menerus akan mempengaruhi status gizinya.

Hal yang dilakukan oleh hampir seluruh responden (95.0%) bila anaknya menghabiskan makan ialah memuji. Seorang ibu cukup mempunyai waktu dan kesempatan untuk mengamati dan mengenal anaknya sebagai individu, tidak hanya sebagai anggota kelompok. Ibulah yang paling tahu minat anaknya, tahu bila ia perlu dorongan atau pujian dan kasih sayang (Munandar 1985, diacu dalam Yuliana 2004). Pujian yang diberikan orang tua kepada anak dapat menumbuhkan rasa kebanggaan dan percaya diri pada diri anak.

Hampir semua contoh (97.5%) memiliki kesukaan terhadap makanan jajanan. Apabila contoh meminta jajan, lebih dari separuh ibu (55.0%) langsung membelikannya. Mengatur jajanan anak berguna untuk menghindari anak lebih suka terhadap makanan jajanan dibandingkan makanan utama.

Masa seorang anak berada pada usia kurang dari lima tahun termasuk salah satu masa yang tergolong rawan. Pada umumnya anak mulai susah makan atau hanya suka pada makanan jajanan yang tergolong hampa kalori dan hampa gizi (Hardinsyah & Martianto 1992).

Pola Asuh Kesehatan

Perilaku atau pengasuhan kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan (Notoatmodjo 1997). Skor pola asuh kesehatan contoh berkisar antara 27-34 dari nilai maksimum 34. Pemeliharaan kesehatan anak harus dimulai sedini mungkin untuk mencegah anak terserang penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya. Menurut Santoso dan Ranti (1999), jika sejak usia dini kesehatan anak terpelihara, maka dapat diharapkan dalam proses belajarnya juga berhasil. Faktor kesehatan ini berpengaruh pada keberhasilan belajar anak karena ia dapat belajar dengan tenang, teratur dan terus menerus.

Dokumen terkait