5.1 Deskripsi Umum UD Rizka
UD Rizka berdiri pada tahun 2010, dimana pemiliknya bernama H. Tasbi, dan terletak di Desa Tompong Batu, usaha ini berjalan dengan modal sendiri dan memiliki tenaga kerja 5 orang. Usaha ini bermula dari orang tua H. Tasbi yang memulai dari awal dan kemudian diserahkan kepada anaknya yaitu H. Tasbi. Usaha sapi lokal bermula dari 1 ekor terus bertambah menjadi 2 ekor, dimana sapi jantan dikandangkan sebagai penggemukan, kemudian betinanya sebagian dikandang dan sebagian diberi orang serta kelahiran pertama sapi diberi pemilik (H. Tasbi), kemudian yang kelahiran keduanya diberikan kepada pengembala. Kemudian setiap sapi bibit masing-masing diambil kepada pengembala (pemelihara), selanjutnya dikembangkan dan jantan digemukkan.
UD Rizka bergerak pada bidang penggemukan dan pengembangan sapi lokal dalam peternakan ini adalah peternakan rakyat. Sistem penggemukan ternak sapi lokal yang digunakan adalah sistem kereman. Sistem kereman yaitu ternak sapi diberi pakan hijauan dan konsentrat serta sapi dikandangkan selama pemeliharaan. Bila musim hujan, sapi banyak diberi pakan hijauan, tetapi bila musim kering sapi lebih banyak diberi pakan konsentrat. Sistem kereman lebih banyak digunakan oleh peternak rakyat dan pemberian pakannya masih tergantung dengan kondisi musim. Usaha ini bisa dilakukan sepanjang tahun, selama harga bakalan terjangkau dan sesuai standar pasar, maka peternak membeli bakalan untuk digemukkan. Sebelum bakalan tiba di kandang, hal yang harus dilakukan yakni persiapan
kandang. Kandang dan perlengkapannya dibersihkan secara menyeluruh menggunakan disinfektan. Tidak hanya itu, pakan hijauan dan konsentrat juga sudah disiapkan dan dipastikan ketersediaannya, baik secara kualitas maupun kuantitas. Selain itu, air minum juga harus selalu tersedia sejak awal kedatangan bakalan. Bakalan diberikan perlakuan awal yaitu ditenangkan sebentar di kandang, lalu diberi pakan yang telah disediakan sebelumnya. Bakalan yang baru sampai di kandang biasanya akan sedikit mengalami stres setelah mengalami perjalanan dari tempat asalnya. Setelah didiamkan sekitar satu hari bakalan diberi obat cacing dan dimandikan. Pemberian obat cacing dilakukan guna menjaga kesehatan bakalan agar pertumbuhannya tidak terganggu sedangkan bakalan dimandikan agar badannya menjadi lebih segar dan memiliki nafsu makan yang tinggi
Pakan yang diberikan berupa rumput yang diperoleh dari daerah sekitar Desa Tompong Patu. Selain itu ternak sapi potong diberi pakan tambahan berupa konsentrat (dibeli dari pabrik). Ternak sapi tiap harinya diberi pakan sejumlah 3% bahan kering (BK) dari total bobot. Pakan diberikan dua kali sehari, yakni pada pagi hari dan sore hari dengan dosis masing-masing sebanyak 50%. Saat dalam pemeliharaan, penimbangan dilakukan setiap dua minggu sekali. Penimbangan dilakukan untuk mengetahui progress penambahan bobot sapi selama pemeliharaan dilakukan. Penimbangan terakhir dilakukan kembali saat sapi akan dijual. Hasil akhir ternak sapi potong adalah tingkat kegemukan sapi pada waktu akan dijual. Seekor ternak sapi dianggap baik bila dapat menghasilkan karkas sebesar 60% dari bobot tubuh dan recahan sebanyak 40%. Harga jualnya bervariasi, tergantung pada momen yang sedang berlangsung.
UD. Rizka memiliki tempat untuk penanggulangan limbah peternakan yang dimanfaatkan kembali oleh peternak menjadi pupuk kandang untuk memupuk kebun rumput yang dikelola oleh peternak sebagai cara dalam mengifisiensikan biaya pakan ternak. Selain itu, UD. Rizka juga telah memiliki ijin usaha dari pemerintah setempat. Sehingga usaha yang dilakukan oleh UD. Rizka merupakan usaha yang legal dan layak. Jenis sapi lokal yang ada dilokasi UD Rizka yaitu Jenis PO (kurang harganya), dan Sapi Bak (yang tetap).
Keberhasilan usaha ternak sapi lokal tergantung dari faktor sumberdaya manusia dan sumberdaya alam. Variasi produksi yang tinggi dan penurunan ini sangat dipengaruhi oleh pakan yang diberikan petani terutama yang berasal dari konsentrat. Petani yang tidak mampu membeli konsentrat mempunyai produksi susu yang rendah, demikian pula dengan penggantian komposisi dan peningkatan komponen lokal bahan pakan menyebabkan penurunan produksi.
Pembagian pekerjaan pada UD Rizka dibagi menjadi lima bagian yang masing-masing bertanggung jawab atas pekerjaan yang penting dalam peternakan. Pembagian tanggungjawab pekerjaan ini yaitu :
a) Pimpinan.
Pimpinan usaha UD Rizka bertanggungjawab mengorganisir setiap pekerjaan yang ada dalam peternakan dan membuat kesimpulan akhir dari keputusan bersama dalam mengembangkan usaha peternakan.
b) Bagian operasional.
Kepala operasional bertanggungjawab atas kegiatan operasional peternakan mulai dari pengurusan sapi hingga peternakan.
c) Karyawan.
Karyawan merupakan pekerja yang bertugas untuk mengurus kegiatan sehari-hari peternakan mulai dari mengurus sapi, kandang, dan lain-lain.
Pada usaha ini tenaga kerja yang dimiliki berjumlah tiga orang pekerja dengan tingkat pendidikan dari lulusan SMK. Kriteria perekrutan tenaga kerja yakni tekun, rajin, ulet dan dapa dipercaya serta peka terhadap segala permasalahan yang terjadi. Pelaksanaan fungsi perencanaan dan pengorganisasian dilakukan oleh pemilik yaitu H. Tasbi. Perencanaan mencakup bagaimana melakukan kegiatan produksi yang efisien dan efektif, ketersediaan bahan baku, penetapan harga, pelaksanaan promosi, pemasaran yang efektif dan perolehan modal. Fungsi perencanaan tersebut dilaksanakan dengan baik sesuai dengan pengalaman yang dimiliki pemilik selama keberlangsungan usaha. Untuk fungsi pengorganisasian yaitu mengkoordinasikan setiap fungsi dan tugas kepada pekerjanya. Hal ini dilakukan agar pekerjaan dapat berjalan dengan baik dan terintegrasi.
5.2 Analisis Strategi Pengembangan Usaha Sapi Lokal
Tujuan dari kegiatan usaha sapi lokal adalah untuk peningkatan produksi, peningkatan pendapatan, serta efisiensi yang dapat dicapai dari usaha sapi lokal ini. Hal ini, dapat dicapai dengan adanya strategi-strategi pengembangan untuk usaha sapi lokal.
Tahap awal proses penetapan strategi adalah dengan menaksir kekuatan (strength), kelemahan (weakness), kesempatan/peluang (opportunity) dan ancaman (threats) yang dimiliki oleh perusahaan. Dalam analisa SWOT, informasi
dikumpulkan dan dianalisa, dimana hasil analisa dapat menyebabkan dilakukannya perubahan pada misi, tujuan, kebijaksanaan dan strategi yang sedana berjalan.
Analisa SWOT bertujuan untuk menentukan aktivitas usaha pengembangan sapi lokal untuk mengeksploitasi segala kesempatan yang ada dan mengurangi atau menghilangkan semua ancaman yang akan membahayakan kelangsungan hidup usaha pengembangan sapi. Penetapan analisa SWOT merupakan pengidentifikasian berbagai unsur kekuatan dan kelemahan (merupakan analisa lingkungan internal) serta pengidentifikasian berbagai unsur peluang dan ancaman (merupakan analisa lingkungan eksternal).
5.2.1 Identifikasi Faktor Internal
Kekuatan dan kelemahan merupakan faktor intern strategi usaha pengembangan sapi lokal. Kekuatan usaha peternakan sapi menunjukkan kemungkinan adanya beberapa strategi tertentu yang akan berhasil, sedangkan kelemahan usaha peternakan sapi menunjukkan bahwa terdapat berbagai hal yang harus diperbaiki. Pada usaha peternakan sapi UD Rizka di Desa Tompong Patu Kecamatan Kahu kekuatan (strengths) yang dimiliki adalah :
1. Kekuatan (Strenghts) a) Produksi
Produksi ternak sapi lokal di UD Rizka, daerah penelitian cukup tinggi sehingga dapat memenuhi permintaan pasar lokal dan diluar wilayah Kabupaten Bone. Produksi tersebut meliputi dari penggemukan sapi potong yang mencapai 50 sampai 100 ekor pertahun.
b) Ketersediaan Limbah yang Memadai
Salah satu alternatif pakan ternak dengan memanfaatkan dan mengembangkan limbah hasil pertanian dan perkebunan yang diduga memiliki kandungan
nutrisi setara dengan pakan komersial, antara lain jerami padi, jagung, limbah sayuran, limbah tebu. Jagung dan dedak (padi) adalah salah satu contoh bahan baku yang tersedia cukup memadai tetapi belum dimanfaatkan secara optimal sebagi pakan ternak. Jadi pakan untuk usaha ternak sapi lokal ini tidak seterusnya menggunakan rerumputan tetapi pakan lain seperti konsentrat dan lain-lain.
c) Tersedianya tenaga kerja
Wilayah Desa Tompong Patu sangat menunjang usaha UD Rizka dalam hal ketersediaan tenaga keria, dimana merupakan salah satu keuntungan dalam menjalankan sebuah usaha ternak sapi lokal. Kondisi tenaga kerja dalam pengembangan usaha sapi lokal dimana mereka mempunyai pengalaman dan keterampilan dalam peternakan sapi, yang mereka dapat dari penyuluhan-penyuluhan yang diberikan oleh petugas penyuluh peternakan, sehingga mereka lebih mengetahui dengan baik dalam pengembangan sapi lokal d). Tidak terdapat serangan virus penyakit yang mematikan
Pihak UD Rizka dan Dinas Peternakan setepat telah melakukan kerjasama dalam hal penanganan virus kepada sapi lokal, sehingga segala virus yang akan menjangkiti pada sapi lokal telah diantisipasi sebelumnya di daerah penelitian menyebabkan peternak memperoleh pendapatan yang lebih besar, karena tidak
mengeluarkan biaya untuk menangulangi serangan virus yang mematikan tersebut.
e) Pengalaman Beternak
Peternak sapi lokal di daerah penelitian sudah dapat dikatakan cukup baik. Karena mereka sudah turun temurun melakukan atau menjalani usaha ternak sapi lokal Jadi mereka sudah memiliki pengalaman yang cukup baik dalarn menangani usaha beternak sapi lokal. Rata-rata peternak memiliki pengalaman kurang lebih 10 tahun.
2. Kelemahan (Weakness) a) Lahan yang tidak memadai
UD Rizka diketahui bahwa belum memiliki lahan yang cukup luas untuk mengembangkan usaha temak sapi lokal, dimana lahan yang ada berkisar 1, 5 sampai 3 hektar, sebagai lahan pelepasan sapi. Sementara ini UD Rizka masih menggunakan lahan yang ada disekitar tempat usahanya yang masih sempit untuk dijadikan kandang ternak sapi lokal.
b) Teknis Pemeliharaan yang Masih Tradisional
Didalam pemeliharan ternak sapi lokal di daerah penelitian dapat diketahui bahwa masih melakukan pemeliharaan sapi lokal dengan cara yang masih tradisional, misalnya dalam hal perkandangan dan lahan pelepasan sapi. Sementara dengan model IB, masih dalam taraf sosialisasi, sehingga masih perlu diperkenalkan bagi peternak sapi lokal.
c) Modal yang tidak mencukupi
Saat ini usaha ternak UD Rizka dalam hal ini, sapi lokal yang dijalankan oleh H. Tasbi di daerah penelitian sangatlah terbatas. Mereka hanya bisa mengandalkan ternak sapi mereka untuk bisa berkembang biak tanpa adanya modal untuk membeli indukan ataupun bibit sapi lokal. Adapun modal sementara yang dimilik ± Rp. 60.000.000
d) Ketersediaan bibit yang kurang
Dalam proses pengembangbiakan ternak sapi lokal sangatlah diperlukan bibit yang bagus dan bermutu tinggi. Tetapi di UD Rizka memiliki masalah yaitu kurangnya ketersediaan bibit baik dari pemerintah dan swasta, sehingga peternak mengambil bibit sapi sesuai dengan kondisi yang ada. Demi menunjang peningkatan usaha ternak sapi lokal di daerah penelitian dibutuhkannya bibit-bibit yang bermutu tinggi.
e) Teknis pemanfaatan 1imbah yang kurang
UD Rizka dalam penanganan limbah dari temak sapi lokal banyak sekali yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang pendapatan para peternak menjadi lebih menguntungkan seperti : membuat biogas, membuat pupuk urea dan tentunya membuat pupuk kompos. Akan tetapi, di daerah penelitian ditemukan UD Rizka belum bisa memanfaatkan limbah dari ternak sapi lokal untuk dijadikan sumber atau tambahan penghasilan bagi peternak.
5.2.2 Identifikasi Faktor Eksternal
Peluang dan ancaman sebaiknya diurutkan dengan sedemikian rupa, sehingga perhatian khusus dapat diberikan kepada yang dinilai lebih penting dan
mendesak untuk segera dilaksanakan. Perubahan yang terjadi pada lingkumgan eksternal secara pasti akan menimbulkan peluang bagi usaha peternakan sapi. Kondisi ekstemal adalah kecenderungan berbagai keiadian dan pengaruh alam yang berada di luar kendali pengusaha. Kondisi eksternal tidak sama bagi setiap usaha peternakaan sapi, sehingga dampak yang ditimbulkan oleh perubahan kondisi eksternal ini juga berbeda untuk pengusaha yang berbeda.
1. Peluang (Opportunity) usaha peternakan sapi UD Rizka di Desa Tompong Patu Kecamatan Kahu :
a) Pendapatan yang tinggi dari pemeliharaan ternak sapi lokal
Pemeliharaan sapi lokal merupakan suatu usaha yang menjanjikan bagi UD Rizka untuk meningkatakan kesejahterannya hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan peternak penerima program bantuan langsung dari pemerintah. Peternak sudah dapat menjual ternak sapinya dengan harga yang tinggi disebabkan jenis ternak sapi jenis lokal. Penjualan Pedet (umur 3-4 bulan) jenis Simental Rp. 5.500.000,- – Rp 6.500.000,- per ekor, sementara sapi dewasa Rp. 9.000.000,- -- Rp. 13.000.000,-.
b) Pemasaran
UD Rizka dalam melakukan pemasaran sapi lokal yang dihasilkan dari usaha ternak sapi lokal dapat dikatakan meningkat, dimana dari tahun ketahun mencapai ± 100 ekor per tahun. Pemasaran pada hasil daging sapi lokal yang dihasilkan dari usaha ternak sapi lokal dapat dikatakan meningkat dan kemudahan dalam memasarkan ternak sapi lokal serta didukung dengan akses transportasi dan sarana infrastruktur yang mendukung.
c) Musim
Musim dalam usaha ternak sapi lokal merupakan peluang yang sangat baik dan ditunggu-tunggu oleh para pelaku usaha ternak sapi lokal atau peternak, khususnya UD Rizka sendiri. Karena, para peternak dapat menjual sapi lokalnya dengan harga yang, cukup lumayan tinggi dikarenakan UD Rizka menjual hasil ternaknya pada saat musim Hari Raya Idul Fitri dan juga Hari Raya Idul Adha. dan para peternak dapat menghasilkan penjualan yang cukup meningkat dibandingkan dengan musimmusim biasa diiuar dari musim Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idu1 Adha.
d) Politik dan Keamanan
Stabilitas politik dan keamanan masih sangat kondusif sehingga membuka peluang usaha ternak lokal. Dengan kondisi iklim politik dan keamanan sangat berpengaruh terhadap suatu usaha investasi. Hal ini dikarnakan jika kondisi iklim politik dan keamanan disuatu daerah baik maka minat dari investor akan terbuka lebar dalam mengembangkan usaha ternak sapi lokal.
e) Adanya Dukungan Pemerintah
Dalam usaha ternak sapi lokal dukungan pemerintah tidak kalah penting dengan yang lainnya. Karena, dengan adanya pemerintah para peternak bisa mendapatkan pembelajaran tentang beternak sapi lokal dengan baik melalui para penyuluh yang ada di daerah penelitian. Pemerintah juga dapat memberikan bantuan berupa indukan sapi yang bermutu tinggi seperti .jenis limmousine, simmental, Brahman dan sebagainya.
2. Ancaman (Threats) a) Pesaing
Pada usaha ternak sapi lokal terdapat juga ancaman yang berupa pesaing baru atau peternak yang telah muiai mengembangkan usaha ternak sapi lokal dan memberikan harga sapi yang lebih bersaing. Untuk di wilayah lokal ada 5 pengusaha yaitu 2 di kelurahan Pallattae, 2 pesaing di Desa Cenrana dan 1 pesaing di Desa Sanrego.
b). Ketidakstabilan harga daging sapi
Di dalam usaha ternak sapi lokal ada ancaman yang berupa harga yang tidak stabil. Harga ini tidak stabil dikarenakan adanya berbagai sapi impor yang masuk ke Indonesia dan juga harga bibit yang cenderung meningkat pada_hal harga penjualan sapi menurun. Ini mengakitbatkan harga temak sapi menjadi tidak stabil dikarenakan para peternak kesulitan menentukan harga akibat murahnya sapi impor yang masuk ke Indonesia dan juga mahalnya bibit sapi yang akan dibeli untuk menunjang usaha ternak sapi lokal agar dapat meningkat.
c). Hewan temak pengganti sapi lokal
Produk sapi lokal yang dihasilkan oleh UD Rizka cenderung memiliki harga yang tinggi dan juga tidak stabil, maka para konsumen lebih memilih untuk membeli daging yang berasal dari hewan ternak lain seperti kambing juga ayam. Dengan adanya hewan ternak pengganti sapi lokal maka akan mengakibatkan menurunya hasil dari penjualan ternak sapi lokal para peternak.
d). Pemanfaatan teknologi yang kurang
Baik peternak di daerah penelitian banyak yang tidak dapat memanfaatkan teknologi yang dapat menunjang usaha ternak sapi lokal dan juga banyak peternak yang tidak tahu akan teknologi yang ada. Teknologi yang dapat menunjang perkembangan usaha ternak sapi lokal para peternak harus diketahui terlebih dahulu tentang bioteknologi peternakan yaitu suatu integritas berbagai cabang ilmu, antara lain biologi, kimia genetika, pemeliharaan reproduksi.
e) Kurangnya kemitraan dengan lembaga lain.
Usaha ternak sapi lokal belum memiliki kerja sama dengan lembaga untuk mengembangkan usaha ternak sapi lokal. Ketidaktersediaan kerja sama dengan lembaga lain mengakibatkan usaha ternak sapi lokal sulit untuk berkembang. Di samping itu, pihak ketiga (mitra) sering tidak konsekwen dalam melakukan perjanjian kerjasama.
Analisis SWOT ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor strategis internal dalam kerangka peluang dan ancaman, serta untuk menentukan alternatif strategi dan penentuan pilihan strategi usaha pengembangan sapi lokal UD Rizka di Desa Tompong Patu Kecamatan Kahu Kabupateb Bone. Adapun pembahasan analisis data hasil penelitian dengan SWOT analisis pada Tabel 1
Tabel 1. Faktor Analisis Internal (IFAS) Strategi Usaha Pengembangan Sapi Lokal UD Rizka di Desa Tompong Patu Kecamatan Kahu Kabupaten Bone Faktor-faktor Strategi Internal Bobot
(B) Rating (R) Nilai Skor (B x R) Strength (S)/ Kekuatan 1. Produksi
2. Ketersediaan Limbah Memadai 3. Tersedianya tenaga kerja
4. Tidak terdapat serangan virus mematikan 5. Pengalaman peternak Sub Total 0.18 0.16 0.13 0.12 0.08 0,67 3.60 3.20 3.00 2.80 2.60 0.65 0.51 0.39 0.34 0.21 2.09 Weakness (W)/ Kelemahan
1. Lahan yang tidak memadai
2. Teknis pemeliharaan masih tradisional 3. Modal tidak mencukupi
4. Ketersediaan bibit kurang
5. Teknis pemanfaatan limbah yang kurang Sub Total 0.11 0.08 0.06 0.05 0.03 0.33 3.00 2.60 2.20 1.80 1.20 0.34 0.21 0.12 0.09 0.04 0.80 Total 1,00 2,89
Tabel 2. Faktor Analisis Eksternal (EFAS) Strategi Usaha Pengembangan Sapi Lokal UD Rizka di Desa Tompong Patu Kecamatan Kahu Kabupaten Bone
Faktor-faktor Strategi Eksternal Bobot (B)
Rating (R)
Nilai Skor (B x R) Oppurtunity (O)/ Peluang
1. Pendapatan yang tinggi dari sapi lokal 2. Pasar sapi lokal
3. Musim
4. Politik dan keamanan 5. Kebijakan pemerintah Sub Total 0.13 0.12 0.12 0.09 0.06 0.52 3.20 1.75 1.63 1.50 0.88 0.40 0.21 0.19 0.14 0.05 1.00 Threats (T)/ Ancaman 1. Adanyan pesaing
2. Kestabilan harga daging sapi
3. Hewan ternak pengganti sapi potong 4. Pemanfaatan teknologi yang kurang 5. Kurangnya kemitraan Sub Total 0.12 0.11 0.11 0.09 0.06 0.48 3.00 2.20 1.80 1.40 1.20 0.36 0.25 0.19 0.12 0.07 0.99 Total 1,00 2,99
Tabel 1 dan 2. faktor kekuatan (S) mempunyai nilai kekuatan 2,09 sedangkan kelemahan mempunyai nilai 0,80 ini berarti dalam strategi usaha pengembangan sapi lokal masih mempunyai kekuatan lebih baik dari pada kelemahan-kelemahan yang ada. Seperti halnya pada IFAS, maka pada faktor-faktor Strategis Eksternal (EFAS) juga dilakukan identifikasi yang hasilnya seperti Tabel 2 menunjukkan bahwa untuk faktor-faktor Peluang (O) nilai skornya 1,00 dan faktor-faktor Ancaman (T) 0,99 ini berarti bahwa dalam rangka masih ada peluang strategi usaha pengembangan sapi lokal UD Rizka di Desa Tompong Patu Kecamatan Kahu Kabupaten Bone , mengingat ancamannya lebih kecil nilainya dari peluang. Dengan tersusunnya matrik IFAS dan EFAS tersebut dapat menghasilkan nilai skor pada masing-masing faktor internal dan eksternal sebagai berikut :
- Faktor Kekuatan : 2,09
- Faktor Kelemahan : 0,80
- Faktor Peluang : 1,00
- Faktor Ancaman : 0,99
Yang dapat digambarkan dalam rumusan matrik SWOT sebagai berikut: Tabel 3. Matriks IFAS dan EFAS.
EFAS IFAS
Strength (S) Weakness (W)
Opportunity (O) Strategi (SO) = 2,09 + 1,00 = 3,09
Strategi (WO) = 0,80 + 1,00 = 1,80
Threats (T) Strategi (ST) = 2,09 + 0,99 = 3,08 Strategi (WT) = 0,80 + 0,99 = 1,79
Strategi usaha pengembangan sapi lokal UD Rizka di Desa Tompong Patu Kecamatan Kahu Kabupaten Bone berada pada posisi kuadran I, yang merupakan posisi yang sangat menguntungkan bagi perusahaan karena pada saat ini usaha sapi lokal memiliki peluang dan kekuatan sehingga dapat dimanfaatkan. Strategi yang harus dilakukan dalam kondisi ini adalah mengubah strategi yang lama.
Menurut Rangkuti (2004) kebijakan pertumbuhan yang berubah strategi ini didesain untuk mencapai pertumbuhan, baik dalam penjualan, aset, profit, atau kombinasi dari ketiganya.
5.3 Alternatif Strategi
Strategi usaha pengembangan sapi lokal UD Rizka di Desa Tompong Patu Kecamatan Kahu Kabupaten Bone dapat dilakukan dengan beberapa alternatif. Penentuan alternatif strategi yang sesuai bagi pengembangan adalah dengan cara membuat matriks SWOT. Matrik SWOT ini di buat berdasarkan faktor-faktor strategi baik internal (kekuatan dan kelemahan) maupun eksternal (peluang dan ancaman).
Untuk merumuskan alternatif strategi yang diperlukan dalam strategi usaha pengembangan sapi lokal digunakan analisis Matriks SWOT. Matriks SWOT menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal dapat dipadukan dengan kekuatan dan kelemahan internal sehingga dihasilkan rumusan strategi pengembangan usaha. Matriks ini menghasilkan empat sel kemungkinan alternatif strategi, yaitu strategi S-O, strategi W-O, strategi W-T, dan strategi S-T
Tabel 4 Matriks SWOT Strategi Usaha Pengembangan Sapi Lokal EFAS IFAS Strength (S) 1. Produksi 2. Ketersediaan Limbah Memadai
3. Tersedianya tenaga kerja 4. Tidak terdapat serangan
virus mematikan 5. Pengalaman peternak
Weakness (W)
1. Lahan yang tidak memadai
2. Teknis pemeliharaan masih tradisional
3. Modal tidak mencukupi 4. Ketersediaan bibit kurang 5. Teknis pemanfaatan limbah
yang kurang Oppurtunity (O)
1. Pendapatan yang tinggi dari sapi lokal
2. Pasar sapi lokal 3. Musim
4. Politik dan keamanan 5. Kebijakan pemerintah
Strategi SO 1. Meningkatkan
pendapatan dan produksi yang berkualitas untuk memenuhi permintaan pasar
2. Bekerja sama dengan pemerintah daerah lembaga-lembaga setempat untuk mengefektifkan jaringan pemasaran. 3. Memanfaatkan musim dan juga pengalaman beternak untuk mengoptimalkan hasil produksi sapi lokal
Strategi WO
1. Memberikan program pendampingan dan
penyuluhan disertai dengan demonstrasi sehingga dapat meningkatkan kemampuan peternak.
2. Pengenalan mengenai teknologi pengelolahan pakan berbasis limbah pertanian dan bibit ternak sapi lokal
3. Optimalisasi program swasembada daging sapi yang dicanangkan oleh pemerintah guna menambah skala kepemilikian sapi lokal Threats (T)
1. Adanya pesaing
2. Kestabilan harga daging sapi
3. Hewan ternak pengganti sapi lokal
4. Pemanfaatan teknologi yang kurang
5. Kurangnya kemitraan
Strategi ST
1. Menjaga kualitas sapi 2. Kerjasamama dengan
pihak pengusaha lain diluar daerah 3. Mengembangkan teknologi dengan memanfaatkan sumberdayaserta mengkaitkannya dengan pengalaman beternak para peternak Strategi WT 1. Memperkuat kelembagaan peternak 2. Pengembangan usaha pembibitan sapi lokal dengan cara menggunakan teknologi dengan tepat
3. Memanfaatkan lahan dengan membuat sebuah kelompok ternak agar dapat menutupi kekurangan dari ekonomi peternak juga dapat bersaing dengan baik
Berdasarkan tabel diatas dapat diperoleh sebuah langkah alternatif dalam meningkatkan strategi usaha pengembangan sapi lokal UD Rizka di Desa Tompong Patu Kecamatan Kahu Kabupaten Bone dari matriks SWOT. Dengan matriks SWOT ini dapat kita ketahui beberapa faktor-faktor strategi yang berupa internal dan juga eksternal, dimana internal terdiri dari kekuatan dan kelemahan sedangkan eksternal terdiri dari peluang dan ancaman.
Adapun alternatif strategi pengembangan usaha ternak sapi lokal yaitu: 1. Strategi S-O
a. Meningkatkan pendapatan dan produksi yang berkualitas untuk memenuhi