Line plot sampling ECT79 stand Aek Nauli ditanam dengan 47 jenis klon
eukaliptus. Pada saat melakukan pengamatan pada tiap klon eukaliptus keseluruhannya berumur 5 bulan. Rata-rata tingginya sudah mencapai ± 60-120 cm. Pertumbuhan tiap klon baik dari tinggi dan banyaknya jumlah daun yang tumbuh memang berbeda-beda, ada yang pertumbuhannya sangat cepat dengan tinggi diatas 100 cm dengan jumlah daun paling maksimal dibanding dengan klon eukaliptus lainnya. Terdapat juga yang pertumbuhannya lambat dengan tinggi ±60 cm dan jumlah daun yang cukup sedikit, sebagian daunnya pun berwarna tidak normal. Pengamatan secara visual terhadap gejala serangan penyakit menunjukkan cukup banyak bentuk serta warna bahkan efek berbeda pada masing-masing daun. Namun warna dan bentuk paling dominan yang menyerang daun klon eukaliptus berupa bercak dan bintik dengan warna ungu tua, bahkan ada yang menyerang seluruh bagian daun klon eukaliptus, namun pertumbuhannya tetap berjalan dengan baik.
Gejala Serangan Penyakit Pada daun Eukaliptus
Gejala serangan yang terdapat pada 47 plot pada tiap plot mempunyai 2 sampai 3 gejala serangan berbeda. Pada tiap klon dengan gejala serangan berbeda namun memungkinkan disebabkan oleh fungi yang sama.
Tabel 2. Gejala serangan dan Luas Serangan Gejala
Ke-
Symptomps (gejala serangan) Plot Jlh tnmn Luas Serangan
(%) 1 Bercak kecil berwarna merah 1;5 6 0,042 2 Bercak berwarna merah kecoklatan 1;7;10;19 6 0,042 3 Hawar daun pada pinggiran daun
berwarna merah hati
1 1 0,0007
4 Bercak berwarna oranye kecoklatan
2;4;22 5 0,035
bentuk daun menciut (abnormal)
6 Bercak berwarna ungu tua 3;43;8;23;24;4 6;11;22;32;33;
34;45
22 0,156
7 Bercak yang relatif besar berwarna merah bagian inti kuning
5;24 2 0,014
8 Bercak ungu kekuningan 6;40 3 0,021 9 Bercak berwarna coklat muda
kemerahgelapan
6;7;24;35;42;4 7
11 0,078
10 Bintik berwarna hitam kekuningmudaan
8; 1 0,0007
11 Bintik berwarna coklat kekuningan 9;21;28 5 0,035 12 Daun berwarna kuning seperti
nekrosis
9;16;25 5 0,035
13 Bintik berwarna ungu 10;13;15;17;18 ;20;21;26;40
21 0,148
14 Bintik berwarna merah keunguan 11 3 0,021 15 Daun gosong dengan bintik
berwarna merah kecoklatan
11;26 2 0,014
16 Bintik berwarna coklat kekuningan 15;29;13 5 0,035 17 Bintik berwarna kuning muda
kemerahtuaan pada pinggiran daun
15 1 0,0007
Pada saat melakukan pengamatan setiap bentuk gejala serangan yang ditemukan harus diperhatikan dan diamati dengan sangat teliti agar dapat menentukan dengan jelas tiap klon yang mempunyai gejala serangan yang sama atau tidak. Menurut Djafaruddin (2001) bahwa gejala pokok, tanda-tanda, maupun gejala lapangan sangat perlu diketahui guna menetapkan jenis penyakit, penyebab, serta jenis tanaman inangnya, dan jenis hasil tanaman inang yang diharapkan.
Pada kebun percobaan ECT79 stand Aek Nauli ditanam sebanyak 47 jenis klon eukaliptus yang berasal dari jenis Eucalyptus grandis, Eucalyptus pellita,
Eucalyptus urrophylla, Eucalyptus alba, Eucalyptus braciana. Penyakit yang
menyerang eukaliptus paling banyak di persemaian, dan pada tanaman muda eukaliptus di kebun percobaan. Penyakit yang paling umum menyerang tanaman muda eukaliptus adalah bercak daun (leaf spot disease). Menurut Siregar (2005) penyakit bercak daun (leaf spot disease) merupakan salah satu penyakit yang umum terjadi di persemaian, pada tanaman muda, dan pada tanaman di lapangan.
Penyakit tersebut banyak menimbulkan kerugian pada tanaman Eucalyptus
urophylla (Ampupu) dan Eucalyptus deglupta (Leda) di hutan-hutan.
A B
Gambar 3. Gejala serangan penyakit paling banyak ditemukan berupa bercak ungu tua. Daun muda (A) daun tua (B) Gejala serangan penyakit berupa bercak-bercak berwarna ungu tua paling banyak ditemukan pada tiap plot menyerang jenis klon eukaliptus berikut klon 19375 Eucalyptus grandis, klon 19358 Eucalyptus grandis, klon E GRA
Eucalyptus grandis, klon 19193 Eucalyptus urrophylla, klon 19461 Eucalyptus urophylla, klon 19194 Eucalyptus urophylla, klon 19481 Eucalyptus urophylla x Alba, klon 18791 Eucalyptus urophylla x braciana, klon 19475 Eucalyptus grandis x pellita, klon 19182 Eucalyptus pellita, klon 19111 IND 1. Gejala
serangan ini terdapat sebanyak 22% dan terdapat di 12 plot.
A B
Gambar 4. Gejala serangan penyakit terbanyak kedua berupa bintik berwarna ungu tua. Pada daun tua (A) daun muda (B)
Gejala serangan paling banyak menyerang jenis klon eukaliptus berikut klon 18452 Eucalyptus urophylla, klon 19458 Eucalyptus urophylla, klon 18413
Eucalyptus urophylla, klon 18800 Eucalyptus urophylla, klon 19364 Eucalyptus grandis, klon 19366 Eucalyptus grandis, klon 19369 Eucalyptus grandis, klon
19047 Eucalyptus grandis x urophylla, klon 19234 Eucalyptus urophylla x
braciana. Gejala serangan penyakit berupa bintik-bintik berwarna ungu tua
menyerang klon eukaliptus ditanam pada line plot ECT79 ini sebesar 21% dan terdapat di 11 plot (Gambar 7).
Gejala serangan berupa bercak oranye kecoklatan menyerang klon-klon eukaliptus sebesar 5% terdapat di 3 plot. Klon tanaman eukaliptus yang diserang adalah klon 19372 Eucalyptus grandis, klon E GRA Eucalyptus grandis dan klon 19075 Eucalyptus pellita (Gambar 8).
A B
Gambar 5. (A) Gejala serangan berupa bercak oranye kecoklatan. (B) Gejala serangan penyakit berupa hawar daun pada bagian pinggir
Gejala serangan penyakit berupa hawar ini hanya terdapat pada satu klon tanaman eukaliptus saja, yaitu klon 18741 Eucalyptus urophylla yang ditanam pada plot satu. Gejala serangan penyakit berupa bercak relatif besar berwarna merah bagian inti kuning menyerang klon tanaman eukaliptus di 2 plot sebesar
2%, klon yang diserang adalah klon 19840 Eucalyptus urophylla x alba, klon 19111 IND 1 (Gambar 9).
Gambar 6. Bercak yang relatif besar merah bagian inti kuning.
Beberapa gejala yang ditemukan paling dominan pada kebun percobaan ECT79 stand Aek Nauli berupa nekrotik, bercak-bercak daun yang berbentuk bulat, motifnya tidak beraturan, hawar daun maupun bintik-bintik dengan warna bervariasi dari berwarna ungu, cokelat, kuning, bahkan seperti gosong dan gangguan pertumbuhan daun abnormal, maupun kerontokan pucuk maupun daun muda (lampiran 4).
Siregar (2005) gejala serangan penyakit bercak daun berupa nekrotik pada daun, berbentuk bulat, lonjong atau tidak teratur, dan berwarna kuning sampai cokelat. Gejala lebih lanjut adalah nekrotis berkembang membentuk hawar (blight), dan akhirnya daun menjadi kuning dan rontok. Gejala serangan ini umumnya dimulai dari bagian bawah tajuk pada daun-daun yang lebih tua, kemudian berkembang ke bagian atas tajuk hingga seluruh daun penyusun tajuk menjadi kering, rontok dan akhirnya tanaman kering dan mati .
Kondisi dari kebun percobaan ECT79 stand Aek Nauli ini mempunyai kondisi cuaca dan iklim yang fluktuasinya cukup besar sepanjang hari, kondisi tanah pada kebun percobaan cenderung lembab, bahkan kondisi tanah basah dan
adanya genangan air pada semak-semak yang berada disekitar tanaman muda, namun cuaca di siang hari cukup terik karena kebun percobaan tidak mempunyai naungan, sehingga sinar matahari sangat menyegat, hal ini menyebabkan tanaman rentan terserang penyakit karena cukup membantu perkecambahan spora atau konodia jamur (gambar 1).
Menurut Siregar (2005) jamur- jamur penyebab penyakit bercak daun pada dasarnya merupakan parasit fakultatif yang hanya menyerang tanaman pada kondisi tertentu saja. Perkecambahan spora ataupun konodia pada jamur sangat dibantu oleh kelembaban yang tinggi dan kondisi terang di hutan tanaman (khususnya Eucalyptus urophylla) yang dibangun di dataran rendah kurang dari 100 mdpl. Penyakit ini berkembang sangat intensif dan dapat menimbulkan kerugian yang besar.
Pada tanggal 8 Desember 2009 dilakukan penanaman sampel penyakit yang diambil dari daun terserang gejala penyakit pada media PDA. Pengamatan dilakukan setiap minggu dengan pengamatan visual pada cawan petri. Sampel daun yang memiliki gejala serangan penyakit yang dikembangkan pada media PDA sebanyak 21 cawan petri yang mewakili 17 gejala serangan penyakit yang terdapat pada line plot ECT79 stand Aek Nauli.
Terdapat 7 buah cawan petri yang ditumbuhi oleh fungi secara tunggal dan bertumbuh dengan maksimal hampir menutupi seluruh permukaan media PDA pada cawan petri. Terdapat juga 7 buah cawan petri yang ditumbuhi 2 hingga 3 jenis fungi dengan warna dan koloni yang berbeda. Pada 4 cawan petri lainnya sama sekali tidak ditemukan adanya pertumbuhan fungi dari sampel daun yang ditanamkan pada media PDA di dalam cawan petri. Pada 7 buah cawan petri yang
ditumbuhi oleh fungi secara tunggal. Berikut adalah hasil pengamatan secara visual setelah tampak pertumbuhan dan perkembangan fungi.
1. Isolasi fungi
Dilakukan isolasi fungi pada sampel daun terserang gejala penyakit, dan ada 6 jenis fungi tumbuh secara tunggal pada media PDA di cawan petri. Pengamatan yang dilakukan di laboratorium bioteknologi pada fungi dari daun klon 18800 Eucalyptus urophylla (Gambar 10). Fungi dari sampel daun klon 19358 Eucalyptus grandis (Gambar 11). Fungi dari sampel daun klon 19182
Eucalyptus pellita (Gambar 12). Fungi dari sampel daun klon 18452 Eucalyptus urophylla (Gambar 13). Fungi dari sampel daun klon 19111 IND1 (Gambar 14).
Fungi dari sampel daun klon 18800 Eucalyptus urophylla (Gambar 15).
Namun terdapat 7 media PDA pada cawan petri yang ditumbuhi dengan 2 hingga 3 jenis fungi berbeda, berikut adalah beberapa fungi tersebut. Fungi dari sampel daun klon 18791 Eucalyptus urophylla x braciana (Gambar 16). Fungi dari sampel daun klon 19475 Eucalyptus grandis x pellita (Gambar 17). Fungi dari sampel daun klon 19179 Eucalyptus pellita (Gambar 18). Fungi dari sampel daun klon 18413 Eucalyptus urophlla (Gambar 19). Fungi dari sampel daun klon 19358 Eucalyptus grandis (Gambar 20). Fungi dari sampel daun klon 19372
Eucalyptus grandis (Gambar 21). Fungi dari sampel daun klon 18791 Eucalyptus urophylla x braciana (Gambar 22).
Pada beberapa sampel daun klon eukaliptus dengan gejala serangan penyakit yang diisolasi pada media PDA ada yang tidak tumbuh, bahkan sisa-sisa daun masih terlihat. Fungi dari sampel daun klon 19480 Eucalyptus urophylla x
Klon 19047 Eucalyptus grandis x urophylla (Gambar 23 C). Klon 18413
Eucalyptus urophylla (Gambar 23 D).
2. Identifikasi fungi
Dari hasil isolasi fungi yang tumbuh pada media PDA di cawan petri dilakukan identifikasi mikroskopik fungi menggunakan mikroskop, hasil identifikasi ada beberapa fungi mempunyai ciri mikroskopik sama namun pada pengamatan secara visual makroskopik gejala serangan penyakit pada daun tidak sama, bahkan jenis klon eukaliptus dan plot berbeda.
Pada hasil pengamatan sebelumnya yang dilakukan oleh salah satu mahasiswi kehutanan, ditemukan 5 spesies fungi yang menyerang tanaman klon eukaliptus di lokasi pembibitan PT. Toba Pulp Lestari Porsea, yakni
Cylindrocladium reteaudii, Mycosphaerella spp., Cryptosporiopsis spp., dan 2
spesies dari Phaeophleospora spp.
Pada hasil pengamatan yang diperoleh dari ECT79 stand Aek Nauli, terdapat perbedaan hasil pengamatan dari penelitian sebelumnya yang dilakukan di pembibitan Porsea, bibit yang dikirim ke Porsea secara keseluruhan berasal dari pembibitan yang dilakukan di bagian kultur jaringan sektor Aek Nauli. Setiap klon yang dinyatakan dapat tumbuh dengan baik dan sehat dikirim ke setiap sektor untuk dikembangbiakan di lapangan. Ada 5 jenis spesies fungi diantaranya adalah Cryptosporiopsis spp., Cladosporium spp., Teratosphaeria spp.
Cylindrocladium spp., dan Phaeophleospora spp. Adapun 5 spesies fungi ini
merupakan fungi yang menyerang tanaman muda eukaliptus di kebun percobaan. Ciri-ciri mikroskopik fungi yang diamati adalah bentuk hifa, konodiaspora, organ fungi, yang lainnya serta panjang dan diameter fungi. Menurut Widyastuti,
dkk (2004) kelompok fungi Ascomycota membentukk spora seksual yang disebut ascospora dalam askus dan kelompok fungi Deuteromycota menghasilkan spora aseksual diantaranya klamidospora, konodia dan oidia. Menurut Sinaga (2003) miselium fungi dari kelas Deuteromycetes berkembang sempurna, bersepta dan bercabang. Spora aseksual (konodia) dibentuk pada konodiaspora secara tunggal atau berkelompok dalam struktur khusus.
Pada kondisi lantai hutan kebun percobaan ECT79 stand Aek Nauli berupa daun-daun yang telah kering dan gulma yang lembab yang merupakan tempat perkembangan piknidia jamur (Gambar 2A). Menurut Siregar (2005) penyakit bercak daun disebabkan oleh beberapa jenis jamur dari anggota kelas
Deuteromycetes yang jenisnya bervariasi tergantung pada situasi lokasi dan
sumber inokulum yang ada. Jamur tersebut membentuk badan buah (berupa piknidium) di permukaan daun. Piknidia berbentuk bulat dan berwarna gelap berisi konodia (spora) dengan konodiofor (tangkai spora), yang agak memanjang dan memiliki ostiole (lubang pengeluaran spora), piknidium jamur dapat bertahan sebagai saprofit pada gulma dan juga daun-daun kering di lantai hutan.
Gambar 7. Fungi Cryptosporiopsis spp. a: macro
conidia (single-celled).
Fungi Cryptosporiopsis spp. dari cawan petri 2.2 B klon 19372 Eucalyptus
grandis dan cawan petri 24.1 sampel daun klon IND 1 gejala serangan berupa
bercak berwarna ungu tua pada permukaan daun, dan pada cawan petri terdapat pertumbuhan fungi berupa kapas putih pada bagian permukaannya kapas tebal berwarna putih krem kekuningan menyeluruh dengan bagian dasar fungi berwarna kuning telur. Pada umumnya fungi Cryptosporiopsis spp. menunjukkan pertumbuhan fungi seperti yang tumbuh pada media PDA di cawan petri 24. 1.
Fungi Cryptosporiopsis spp. mempunyai makrokonida dengan panjang antara 5-8 µ m dan diameternya 2-3 µ m (Gambar 25). Bentuk konidia fungi berbentuk lonjong memanjang dengan ukuran yang berbeda-beda. Menurut Old, dkk (2003) makrokonidia fungi berdinding tebal dan berbentuk lonjong sampai lonjong memanjang, dengan ukuran yang berbeda-beda. Gejala dari
bercak daun terlihat pada kedua permukaan daun dan banyak terlihat dalam banyak ukuran, bentuk dan warna hingga antar spesies eukaliptus.
Menurut Old (2003), Cryptosporiopsis leaf dan Shoot blight, penyakit ini menyerang bagian batang dan daun tanaman. Penyakit ini biasanya tersebar secara menyeluruh, lembut dan berwarna coklat, luka nekrotik yang menjalar dan dikenal sebagai gejala jamur hitam, bentuknya bundar berukuran 1-2 cm.
Gambar 8. Fungi Cryptosporiopsis spp. a: hypha
Fungi Cladosporium spp. Berasal dari cawan petri 8.2 A sampel daun klon 19358 Eucalyptus grandis dengan gejala serangan berupa bercak warna ungu, berasal juga dari cawan petri 26.2 sampel daun klon 18800 Eucalyptus urophylla dengan gejala serangan berupa daun gosong dengan bintik berwarna merah kecoklatan, dan fungi Cladosporium spp. juga berasal dari cawan petri 11.1 sampel daun klon 18791 Eucalyptus urophylla x braciana dengan gejala serangan berupa bintik berwarna merah keunguan, juga berasal dari cawan petri 10.1 sampel daun klon 18452 Eucalyptus urophylla dengan gejala serangan
berupa bercak berwarna merah kecoklatan, dan dari cawan petri 26.1 sampel daun klon 18800 Eucalyptus urophylla dengan gejala berupa bintik berwarna ungu.
Fungi Cladosporium spp. merupakan fungi yang berasal dari kelas
Deutromycetes. Fungi ini sangat mudah dikenali karena bentuk dan warnanya
yang sangat khas. Bentuk hypha dengan yang bersepta dengan ukuran panjang 5-10 µm dengan diameter 0,5-2 µm, dan ukuran spore sangat kecil sekitar 1-3 µ m dengan diameter 0,5 µm (Gambar 27).
Fungi Cladosporium spp. berkembang karena faktor cuaca yang cukup lembab dan hari hujan yang sering terjadi pada kebun percobaan ECT79 stand Aek Nauli. Namun dipengaruhi juga oleh sinar matahari yang sangat besar pada siang hari (Gambar 1). Menurut Peternel (2004) dari hari ke hari variasi pada konsentrasi spora Altenaria dan spora Cladosporium disebabkan terutama juga karena efek dari terjadinya hujan. Perbedaan yang sangat tampak pada konsentrasi spora telah tercatat sebelum dan sesudah terjadi presipitasi.
Perkembangan fungi ini semakin cepat menyebar ke seluruh hutan tanaman, karena kondisi pertumbuhan dan tempat tumbuhnya yang sama rata, dan juga kodisi yang tidak memiliki naungan (Gambar 1). Menurut Peternel (2004) spora jamur adalah komponen yang selalu ada di atmosfir dengan konsentrasi yang diketahui berfluktuasi sesuai dengan kondisi meteorologi. Perbedaannya sangat tampak antara spora kering udara dan spora cuaca udara basah. Spora udara kering meliputi Cladosporium, Alternaria, Epicoccum, Drechslera,
Gambar 9. Anamorphs dari spesies Cladosporium sp. a. Conodiophores
Menurut Hatcher (2008) Cladosporium herbarum memiliki dimensi konodia 5-23 x 3-8 mikron. Hal ini ditemukan pada tanaman mati, tanaman berkayu, makanan, jerami, tanah, cat dan tekstil. Rahayu (1999) penyakit pohon eukaliptus antara lain berupa bercak daun (leaf spot disease), disebabkan oleh kelas Deutromycetes, Macrophoma sp., Curvularia sp., Pestalotia, Gleosporium,
Helmintosporium sp., bercak daun umum terjadi pada persemaian atau tanaman di
lapangan. Fungi Cladosporium spp. merupakan fungi yang berasal dari kelas
Gambar 10. a. Asci of Teratosphaeria sp. Famili Capnodiales.
Fungi Teratosphaeria sp. ini berasal dari cawan petri 11.1 B 3 yang merupakan fungi dari sampel daun klon 18791 Eucalyptus urophylla x braciana. Pada fungi B seperti tumpukan bulat berwarna kuning telur berserabut polanya tak beraturan. Pada fungi B terlihat perubahan warna menjadi merah muda keoranyean bagian tengahnya berwarna abu-abu bagian pinggir intinya berwarna hitam. Pada fungi B menunjukkan warna putih seperti kapas bertumpuk dan tebal namun sangat halus.
Pada cawan petri 8.2 pertumbuhan fungi ini sangat lambat, tidak terlihat pertumbuhan fungi menyebar dan melebar hingga bagian pinggir cawan petri. Pada gejala serangan penyakitnya di lapangan terlihat berupa bercak berwarna ungu, dan ukuran bercak tidak besar. Menurut Clegg (2009) pada gejala serangan berupa bercak berwarna ungu yang menyerang klon 19358 Eucalyptus grandis akan segera menghilang dari permukaan daun setelah tanaman eukaliptus mencapai umur diatas 12 bulan. Sesuai dengan pernyataan tersebut, dapat dibuktikan pada pengamatan di laboratorium bahwa fungi ini memang sangat
lambat pertumbuhannya pada media PDA, dan pada gejala serangan yang berasal dari fungi ini intensitas serangan dan luas serangannya rendah, dan reaksi tanaman dinyatakan imun.
Pada cawan petri 11.1 B tampak fungi bertumbuh dengan 3 fungi lainnya, pada minggu kedua 3 fungi masih terus tumbuh dalam bentuk morfologi berbeda, yaitu fungi A, B dan C. Setelah diteliti diketahui bahwa fungi ini berasal dari famili Capnodiales, dari spesies Mycosphaerella dan spesies Teratosphaeria. Hal ini dibuktikan dengan penelitian Crous yang menunjukkan bahwa terdapat gejala serangan pada daun dengan warna yang sama, dan hasil pertumbuhan pada media agar yang sama, namun media proliferasi yang digunakan oleh Crous menggunakan Oatmeal Agar, dan menunjukkan bentuk asci sama persis dengan hasil penelitian yang dilakukan di laboratorium (gambar 28).
Menurut Crous (2009) yang membedakan dengan jelas spesies
Teratosphaeria dengan Mycosphaerella adalah sering kali adanya bekas atau sisa
dari hamathecial, adanya ascal endotunica yang berlapis-lapis, dan ascospores yang bersarung (seperti pelepah) yang seringkali berubah warna menjadi cokelat ketika masih berada di dalam asci.
Crous (2009) antara spesies Mycosphaerella yang menginfeksi
Eucalyptus, beberapa spesies seperti Teratosphaeria cryptica (syn. M. cryptica)
mempunyai jarang tanaman inang dan penyakit yang disebabkan persilangan 38 spesies Eucalyptus genus Monocalyptus dan Symphyomyrtus. Ketika
Teratosphaeria nubilosa menunjukkan hampir semua tanaman inang, hanya 12
spesies Eucalyptus yang diserang dan beberapa jenis hybrid tanpa subgenus
jumlah perwakilan banyaknya genus berbeda, banyak yang dapat dikenal dari sifat dasar morfologi dari 30 banyaknya gabungan spesies genus anamorph ini.
Fungi Cylindrocladium spp. berasal dari cawan petri 11.3 A sampel daun klon 18791 Eucalyptus urophylla x braciana dengan gejala serangan berupa daun gosong dengan bintik berwarna merah kecoklatan dan juga berasal dari cawan petri 19.1 sampel daun klon 19179 Eucalyptus urophylla dengan gejala serangan berupa bercak berwarna merah kecoklatan, fungi Cylindrocladium spp. ini juga berasal dari cawan petri 8.3 sampel daun klon 19358 Eucalyptus grandis pada plot 8 dengan gejala serangannya berupa bercak-bercak berwarna ungu. Pada cawan petri 34.1 ini fungi yang berkembang merupakan fungi yang berbentuk seperti kapas putih yang berserabut dan menebal pada bagian permukaannya. Gejala serangan penyakit yang tampak pada daun di lapangan berupa bercak berwarna ungu, gejala serangan ini menyerang klon 19475 Eucalyptus grandis x pellita.
Gambar 11. Fungi Cylindrocladium spp. a:hypha, b:chlamydospore
Fungi Cylindrocladium reteaudii mempunyai konodiospora yang bercabang dengan panjang antara 30-45 µ m dan diameternya 1-2 µ m.
Chlamydospore dengan ukuran antara 45-100 µm dengan panjang antara 15-20
µ m dan diameternya 3-5 µ m. Patogen ini banyak menyerang tanaman pembibitan eukaliptus dengan gejala hawar daun dan bercak daun pada daun muda sampai dengan daun tua yang dapat mengakibatkan daun mati.
Menurut Old (2003), Cylindrocladium foliar spot dan foliar blight penyakit ini disebabkan oleh Cylindrocladium spp. yang menyebabkan penyakit pada pembibitan, pada bagian akar dan leher akar, hawar tunas, hawar daun dan bercak daun. Penyebaran penyakit dengan konidia dalam jumlah sangat besar terjadi di atas permukaan daun. Rahayu (1999) penyakit pohon eukaliptus antara lain berupa bercak daun (leaf spot disease), disebabkan oleh kelas Deutromycetes,
Macrophoma sp., Curvularia sp., Pestalotia, Gleosporium, Helmintosporium sp.,
bercak daun umum terjadi pada persemaian atau tanaman di lapangan. Fungi
Cladosporium spp. merupakan fungi yang berasal dari kelas Deutromycetes.
Menurut Old (2003) gejala awal dari penyakit ini ditandai dengan adanya bercak berwarna keabu-abuan dan bersifat basah pada daun muda. Bercak-bercak tersebut bersatu dan berkembang menjadi bercak nekrotik yang besar. Pancaran spora-spora yang berwarna putih dapat terlihat meluas pada bagian daun dan tunas-tunas yang baik. Fungi yang paling umum penyebab hawar daun di Asia Tenggara adalah Cylindrocladium reteaudii, penyakit ini endemik di negara-negara seperti Australia, Vietnam, Laos dan Sebagian dari Thailand. Menurut Old (2003) fungi Cylindrocladium spp. menyebabkan penyakit pada pembibitan dan pada tanaman termasuk akar dan leher akar, hawar tunas, hawar daun dan bercak
daun. Patogen ini akan berkembang apabila cuaca dalam keadaaan lembab yang diakibatkan cuaca lokal lembab ataupun penyiraman tanaman yang berlebihan.
Seperti pengamatan yang dilakukan di lapangan, yang menunjukkan gejala serangan penyakit berupa daun gosong dengan bintik berwarna merah kecoklatan, hal ini diungkapkan oleh Old (2003) bahwa pada kondisi cuaca dengan kelembaban yang tinggi dan curah hujan yang tinggi, bercak nekrotik menutupi seluruh permukaan daun dan pada ujung tunas muda yang mematikan mengakibatkan gejala hawar pada daun dan tunas. Konidia fungi Cylindrocladium spp. berbentuk silindris mempunyai septa antara satu sampai dengan tiga.
Menurut Old (2003) bahwa struktur pembuahan yang dihasilkan terdiri atas 6 sel makrokonidia, 2 sel mikrokonidia. Fungi ini juga membentuk
Chlamydospore yang berpigmen, sel hypha membesar yang mengembangkan
pigmentasi dan tahan terhadap kerusakan biologi yang membantunya bertahan hidup dalam tanah.
Menurut Old (2003), penyakit daun Phaeophleospora biasanya terdapat pada pembibitan dan menyerang tanaman jenis tertentu. Gejala yang ditunjukkan berupa bercak daun berwarna kemerahan pada permukaan atas daun dan adanya spora berwarna hitam pada permukaan daun, jamur yang menyerang adalah