• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemeriksaan Klinis

Objek penelitian ini adalah melihat efektivitas terapi pada sapi penderita endometritis menggunakan kombinasi antibiotik dan PGF2α secara intra uteri. Pemeriksaan gejala klinis sangatlah dibutuhkan untuk dapat mendiagnosa suatu penyakit. Keakuratan suatu diagnosa merupakan kunci sukses dari keberhasilan terapi yang diberikan.

Hasil pemeriksaan klinis menunjukkan bahwa keenam ekor sapi betina yang didiagnosa menderita endometritis menunjukkan gejala klinis seperti terlihat pada Tabel 1. Gambaran USG memperlihatkan adanya cairan abnormal pada lumen uterus yang bersifat hyperechoic dan hypoechoic serta berdasarkan pengamatan visual terhadap leleran nanah yang keluar.

Tabel 1. Gejala klinis sapi-sapi penderita endometritis.

Kriteria Jumlah sapi (ekor)

USG:

Cairan penuh mengisi uterus 6

Adanya CL 5

Ada sisa leleran nanah di sekitar ekor, vulva dan perinium, dapat berwarna:

Kuning 3

Krem 2

Hijau keabu-abuan 1

Cairan yang mengisi lumen uterus tersebut ditemukan pada keenam ekor sapi. Korpus luteum ditemukan pada 5 ekor sapi dan 1 ekor sapi tidak terdapat CL dan berada dalam fase folikuler. Secara klinis terlihat adanya sisa leleran nanah yang mengering dan berwarna kuning (3 ekor), krem (2 ekor), hijau keabu-abuan (1 ekor) di sekitar ekor, perinium dan vulva (Gambar 3 & 4). Hasil pengamatan klinis dan USG tersebut sama seperti yang pernah dilaporkan oleh Kasimanickam et al. (2006) pada sapi-sapi yang menderita endometritis.

16

Gambar 3. Gejala klinis sapi-sapi penderita endometritis. Sisa nanah berwarna kuning, krem atau hijau keabu-abuan ditemukan melekat di vulva perineum dan ekor. Tanda panah = nanah.

Smith dan Risco (2002); Drillich et al. (2001) menyatakan dengan adanya pemeriksaan gejala klinis maka dapat diketahui bahwa uterus sapi sedang terinfeksi yang ditandai dengan sesuatu yang berbau busuk, berair, berwarna coklat kemerah-merahan. Gejala lain seperti depresi, anorexia, dehidrasi dan penurunan produksi susu (Youngquist dan Shore 1997; Smith dan Risco 2002) serta demam dengan suhu 39,4oC (Pugh et al. 1994 dan Smith et al. 2002). Palpasi rektal dapat dilakukan untuk melihat cairan yang penuh mengisi uterus (Pugh et al. 1994; Drillich et al. 2001; Smith dan Risco 2002) dan dapat dipaksa keluar uterus. Palpasi rektal sangat subjektif dan sulit dilakukan untuk membedakan uterus yang kembali normal dari involusi dengan metritis, terutama dua minggu pertama setelah melahirkan (calving) (Pugh et al. 1994 dan Smith dan Risco 2002), karena itu maka dilakukan pengamatan gambaran klinis dengan menggunakan USG seperti yang pernah dilakukan oleh Kasimanickam et al. (2004, 2005, 2006). Pemeriksaan USG mencakup gambaran dari cairan abnormal pada bagian depan (anterior) vagina dan lumen uterus serta gambaran ukuran serviks uterus.

Gambar 4. Potongan melintang gambaran ultrasonografi organ reproduksi sapi. Bagian serviks dan korpus uteri yang berisi lendir dan nanah yang bersifat anechoic, hypoechoic dan hyperechoic (1a.b) serta keberadaan CL dan folikel pada ovarium sapi endometritis (2a.b).

18

Keberadaan Lendir dan Nanah dalam Uterus

Hasil pemeriksaan dengan USG pada uterus sapi-sapi penderita endometritis menunjukkan adanya lendir keruh, ataupun nanah. Sapi-sapi pada KLP I memperlihatkan pengeluaran nanah lebih cepat dibanding dengan KLP II. Pengeluaran nanah pada KLP I sudah mulai terjadi sehari setelah terapi dan berhenti 2 hari menjelang estrus. Pada KLP II pengeluaran nanah terjadi lebih lambat, yaitu pada H4 dan H7 setelah terapi. Sisa nanah yang sudah kering dan menempel di sekitar vagina dan ekor dan hanya terjadi 1-2 hari saja selama penelitian ini dilakukan (Gambar 5).

Gambar 5. Nanah yang menempel di perineum dan ekor sapi penderita

endometritis setelah diterapi dengan kombinasi antibiotik+ PGF.

Pemeriksaan Diferensial Leukosit Darah

Selain pemeriksaan klinis juga dilakukan pemeriksaan diferensial leukosit darah. Hasil penelitian menunjukkan pada sapi-sapi penderita endometritis memiliki persentase jumlah limfosit yang lebih tinggi dibanding dengan diferensial leukosit lainnya ( KLP I 62,50±1,17 dan KLP II 63,66±2,35) (Gambar 6). Hal ini juga ditemukan oleh Ahmad et al. (2003), biasanya persentase jumlah limfosit itu dijumpai lebih tinggi dibanding bentuk leukosit lainnya baik pada sapi-sapi endometritis, siklik ataupun non siklik. Sapi-sapi penderita endometritis

mempunyai rataan jumlah limfosit sekitar 60,67±2,92%, tidak jauh berbeda dengan hasil yang telah diperoleh saat ini.

Gambar 6. Diferensial leukosit darah pada sapi endometritis. KLP I diterapi dengan kombinasi antibiotik+PGF, KLP II diterapi dengan kombinasi antibiotik.

Peningkatan jumlah limfosit terjadi karena limfosit mampu menerobos jaringan atau organ lunak yang berguna untuk penyediaan zat kebal bagi pertahanan tubuh. Hasil analisis statistik menunjukkan gambaran diferensial leukosit pada KLP I tidak berbeda nyata dengan KLP II (p>0,05). Ini mengindikasikan bahwa terapi kombinasi antibiotik pada kedua kelompok perlakuan tidak membawa perubahan yang berbeda berdasarkan gambaran diferensial leukositnya.

0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 Ju m la h ( % ) KLP I 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 80.00 1 2 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Ju m la h ( % ) Hari

Limfosit Neutrofil Monosit Eosinofil Basofil

KLP II

20

Selain limfosit juga dijumpai persentase jumlah neutrofil yang besar ( KLP I 29,33±0,94 dan KLP II 27,33±0,94). Ini sesuai seperti yang pernah dilaporkan oleh Ahmad et al. (2003) yang menyatakan walaupun tidak berbeda nyata antara diferensial leukosit pada sapi terlihat bahwa persentase jumlah neutrofil lebih banyak ditemukan pada sapi endometritis (30,64±3,10%) dibanding pada sapi-sapi normal lainnya baik siklik (26,28±1,54%) ataupun non siklik (23,28±1,79%).

Diameter Uterus

Berdasarkan hasil penelitian, sebelum diterapi sapi-sapi endometritis memperlihatkan rataan diameter serviks yang lebih kecil pada H1 (3,93±0,76 cm dan 3,43±0,31 cm) dan H2 (4,00±0,66 cm dan 3,40±0,26 cm) dibandingkan setelah diterapi H3 (4,30±0,44 cm dan 3,60±0,17 cm) sampai selesai penelitian. Pada KLP I peningkatan diameter serviks sudah terjadi 24 jam atau sehari setelah terapi H3 (4,30±0,44 cm) dan puncaknya terjadi pada 48 jam setelah terapi H4 (4,6±0,17 cm). Pada KLP II pembesaran diameter serviks lebih lambat, puncak peningkatan diameter serviks baru terjadi pada H21 (Gambar 7). Peningkatan diameter serviks hanya terjadi selama 2 hari saja, selanjutnya uterus kembali normal mengikuti siklus alaminya. Korpus dan kornua terlihat lebih kecil setelah diterapi (5,71±0,02 cm dan 3,78±0,07cm : 5,27±0,18 cm dan 3,64±0,17 cm) pada KLP I. Pada KLP II rataan diameter korpus dan kornua lebih besar setelah diterapi (5,15±0,07 cm dan 3,60±0,00 cm : 5,19±0,15 cm dan 3,62±0,18 cm).

Hasil analisis statisik menunjukkan diameter uterus pada KLP I tidak berbeda nyata dengan KLP II (p>0,05). Namun demikian rata-rata diameter serviks (4,20±0,22 cm), korpus (5,27±0,18 cm) dan kornua (3,64±0,17 cm) pada KLP I lebih besar dibanding dengan KLP II (3,89±0,23 cm; 5,19±0,15 cm dan 3,62±0,18 cm). Ini berarti bahwa pemberian kombinasi antibiotik lebih efektif dalam upaya membunuh kuman penyebab infeksi dan penambahan pemberian PGF menyebabkan pengeluaran nanah dari uterus. Peningkatan diameter seviks pada KLP I mengindikasikan bahwa PGF dapat menyebabkan relaksasi serviks, mencairkan sumbat serviks dan menyebabkan kontraksi otot polos sehingga nanah dari uterus dapat dikeluarkan (Hisbrunner et al. 2000). Menurut Smith dan Risco (2002); Frazer (2001) dasar pemikiran penggunaan PGF atau analog PGFpada

periode pospartum adalah peningkatan tonus uterus, akan tetapi ini tidak berpengaruh jika tidak ada jaringan luteal pada ovari (DelVecchio et al. 1994).

Gambar 7. Diameter uterus sapi-sapi penderita endometritis setelah diterapi. KLP I diterapi dengan kombinasi antibiotik+PGF, KLP II diterapi dengan kombinasi antibiotik.

Gambaran USG jelas memperlihatkan sapi-sapi endometritis sebelum diterapi mempunyai diameter serviks yang lebih kecil dibanding setelah diterapi pada KLP I. Pada KLP II diameter serviks tidak berbeda baik sebelum ataupun setelah diterapi (Gambar 8). Ini jelas menguatkan dan mendukung hipotesis awal

2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00 5.50 6.00 6.50 D ia m ete r (c m ) KLP I 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00 5.50 6.00 6.50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 D ia m ete r (c m ) Hari

Serviks uterus Korpus uterus Kornua uterus

KLP II

22

bahwa sapi-sapi yang diterapi dengan kombinasi antibiotik+PGF akan lebih efektif dibanding dengan sapi-sapi yang hanya diterapi dengan kombinasi antibiotik saja.

Gambar 8. Gambaran ultrasonografi serviks dan korpus uterus sapi endometritis.

Sebelum (1a.b) dan setelah diterapi dengan kombinasi

antibiotik+PGF (1c.d), serta sebelum (2a.b) dan setelah diterapi dengan kombinasi antibiotik (2c.d).

Ketebalan Endometrium

Biasanya pada sapi yang menderita endometritis memiliki dinding endometrium yang lebih tebal karena banyak terbentuknya jaringan ikat sebagai efek lanjut kerja sistem imun uterus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya penurunan ketebalan endometrium setelah diterapi baik pada KLP I (1,88±0,21 cm : 1,30±0,12 cm) atau pada KLP II (1,71±0,12 cm : 1,43±0,05 cm). Pada penelitian ini ketebalan endometrium uterus KLP I tidak berbeda nyata dengan

KLP II (p>0,05). Walaupun demikian terdapat penurunan ketebalan endometrium yang lebih besar pada KLP I (1,30±0,12 cm) dari pada KLP II (1,43±0,05 cm). Penurunan sudah terlihat sehari setelah diterapi (H3) dan semakin menurun secara tajam pada hari kedua setelah terapi (H4), ini jelas terlihat pada sapi-sapi KLP I (Gambar 9). Hal ini sejalan dengan peningkatan diameter serviks uterus mulai H3 dan mencapai puncaknya pada H4.

Gambar 9. Ketebalan endometrium pada sapi-sapi endometritis. KLP I diterapi dengan kombinasi antibiotik+PGF2α, KLP II diterapi dengan kombinasi antibiotik.

Terjadinya kontraksi otot polos uterus menyebabkan pengeluaran nanah melalui serviks uterus yang membesar diameternya sehingga endometrium yang tadinya tampak lebih tebal karena penumpukan jaringan menjadi normal kembali diikuti perbaikan vaskularisasi yang normal di endometrium. Gambaran ultrasonografi menunjukkan bahwa sebelum diterapi dinding endometrium tampak lebih putih (hyperechoic) yang menandakan banyaknya jaringan, sedangkan gambaran setelah diterapiterlihat berwarna abu-abu (hypoechoic) yang diselingi warna hitam (anechoic) yang menandakan vaskularisasi darah telah normal kembali (Gambar 10).

0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 K et eb a la n ( cm ) Hari KLP I KLP II Terapi

24

Gambar 10. Gambaran ultrasonografi dinding endometrium uterus sapi endometritis. Sebelum (a) dan setelah diterapi (b) dengan menggunakan kombinasi antibiotik+PGF.

Regresi Korpus Luteum

Berdasarkan hasil pengamatan sebelum terapi diperoleh data hanya lima ekor sapi menderita endometritis memiliki CL dengan rataan diameter CL 1,23±0,61 cm dan satu ekor tidak dijumpai CL. Setelah diterapi satu ekor sapi mengalami CL persisten pada KLP II, dan satu ekor sapi mengalami sistik folikel dengan rataan diameter folikel 2,96 cm dan 3,64 cm pada KLP I. Efek yang ditimbulkan dari sistik folikel ini adalah terjadinya perpanjangan durasi estrus yaitu 3 hari (72 jam). Sapi yang mengalami sistik folikel setelah diterapi bukan karena pengaruh penggunaan PGF. Kejadian sistik folikel ini mungkin karena

sudah ada bakat bawaan sebelum diterapi, terlebih lagi apabila pada saat sebelum terapi terdapat banyak folikel yang dominan sedang tumbuh sehingga tidak semuanya mampu untuk regresi ataupun ovulasi. Folikel yang mempunyai bakat sistik terus tumbuh seiring dengan regresinya CL, penurunan level plasma progesteron, follicle stimulating hormone (FSH) dan estrogen yang mulai tinggi yang memicu pertumbuhan folikel, mungkin hal inilah penyebab terjadinya sistik folikel tersebut. Menurut Garverick dan Youngquist (1999), sistik folikel dapat juga disebabkan karena faktor genetik pada sapi-sapi yang mempunyai bakat bawaan sistik.

Keberadaan CL sebelum sapi-sapi diterapi sangat perlu mengingat efek kerja dari pemberian PGF adalah meregulasi fungsi CL untuk menginduksi luteolisis melalui mekanisme counter current dari vena uterina media dan kemudian menembus dinding vena dan arteri ovarica (Ginther 1981; Senger 2003), karena itulah terapi menggunakan kombinasi antibiotik+PGFdiberikan

pada sapi-sapi yang mempunyai CL atau berada pada fase luteal. PGF efektif untuk meregresikan CL fungsional, tidak pada CL yang sedang tumbuh, yakni CL yang terbentuk kurang dari 3-5 hari setelah berahi (Hunter 1995).

Hasil penelitian menunjukkan sapi-sapi endometritis pada KLP I mengalami regresi CL rata-rata 32 jam setelah terapi. Sedangkan pada KLP II, CL tidak langsung regresi setelah diterapi tetapi menetap mengikuti siklus estrus yang sedang berlangsung. Terjadinya regresi CL menunjukkan bahwa pemberian eksogenus PGF secara intra uteri dapat menginduksi terjadinya luteolisis yang

menyebabkan penurunan progesteron (Lewis 2004).

Onset Estrus

Onset estrus pada KLP I adalah 48-72 jam atau 2-3 hari setelah terapi dengan rata-rata onset estrus 56±13,85 jam. Dua ekor sapi memperlihatkan timbulnya gejala estrus 2 hari (48 jam) setelah terapi, sedangkan satu ekor sapi lagi 3 hari (72 jam) setelah terapi, sama seperti yang dilaporkan oleh Bartolome et al. (2004) dan Putro (2010) bahwa sapi-sapi yang telah disinkronisasi dengan PGF2α akan memperlihatkan estrus 72 jam kemudian.

Adanya respon yang bervariasi dari pemberian eksogenus PGF,

membuat bervariasinya waktu estrus setelah calving (Etherington et al. 1984; Benmrad dan Stevenson 1986; Glanvil dan Dobson 1991). Timbulnya onset estrus yang bervariasi tergantung pada fase Dominance Follicle (DF) saat terjadi luteolisis ketika terapi dimulai. Jika luteolisis terjadi bersamaan dengan keberadaan DF fase pertumbuhan maka DF tersebut akan tumbuh dan berovulasi, sehingga estrus teramati lebih cepat. Namun jika pemberian eksogenus PGF terjadi bersamaan dengan keberadaan DF yang mengalami atresia, maka DF yang akan berovulasi adalah DF yang berasal dari gelombang berikutnya, sehingga estrus teramati lebih lama dari waktu terapi.

26

Pada KLP II, waktu timbulnya gejala estrus sangat bervariasi; satu ekor sapi estrus terjadi pada 2 hari sebelum terapi, satu ekor sapi estrus pada saat terapi diberikan dan satu ekor sapi lagi estrus 11 hari setelah terapi.

Estrus

Sapi-sapi yang diterapi dengan menggunakan kombinasi antibiotik dan PGF secara intra uteri memperlihatkan tanda-tanda estrus antara lain vulva

berwarna kemerahan dan bengkak, adanya lendir, ekor sering dinaikkan, urinasi dan diam jika dinaiki pejantan (standing estrus) (Gambar 11). Selain gejala estrus yang dapat diamati secara visual, dapat juga diamati pembesaran serviks dan perkembangan folikel dominan pada saat estrus dengan menggunakan USG seperti pada Gambar 12.

Setelah diterapi dengan kombinasi antibiotik+PGF sapi-sapi pada KLP I

menunjukkan gejala estrus pada hari yang hampir bersamaan karena efek dari pemberian analog PGFyang dapat menyebabkan terjadinya sinkronisasi estrus. Timbulnya estrus akibat pemberian PGF disebabkan karena lisisnya CL pada ovarium oleh kerja vasokonstriksi PGFsehingga aliran darah menuju CL menurun secara drastis (Toelihere 1981 dan Senger 2003), akibatnya kadar progesteron yang dihasilkan CL akan menurun di dalam darah.

Gambar 12. Gambaran ultrasonografi serviks uterus dan ovarium sapi. Serviks (a), Subordinate Follicle (SF) (b) dan Dominance Follicle (DF) (c) saat estrus.

Rasby (2005) menyatakan bahwa regresi CL berakibat penurunan kadar progesteron dalam plasma darah, sehingga menurunkan umpan balik negatif dari hormon ini pada hipotalamus, sehingga menyebabkan pembebasan follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) dari hipofisa anterior. Kedua hormon ini bertanggung jawab dalam proses folikulogenesis dan ovulasi, sehingga terjadi pertumbuhan dan pematangan folikel. Folikel-folikel tersebut akhirnya menghasilkan hormon estrogen yang mampu memanifestasikan gejala berahi (Hafez dan Hafez 2000). Hanzen (1984) menyatakan, pemberian eksogenus PGF dapat menginduksi pelepasan LH dan FSH dari hipofisa anterior, bahkan

pada sapi-sapi yang anestrus (Cruz et al. 1977), dengan demikian analog PGF

secara luas banyak digunakan pada reproduksi sapi dengan aplikasi untuk menginduksi abortus/partus, sinkronisasi estrus, terapi untuk gangguan reproduksi seperti endometritis, pyometra dan sistik ovari (Wenzel 1991).

Ovulasi

Hasil pengamatan menunjukkan sapi-sapi pada KLP I ovulasi sehari setelah estrus; 2 ekor sapi ovulasi 3 hari setelah terapi dan 1 ekor sapi ovulasi 4 hari setelah terapi, dengan rataan DF yang ovulasi 1,43±0,06 cm. Pada KLP II tidak ovulasi dalam waktu yang bersamaan; 1 ekor sapi ovulasi sehari sebelum

28

terapi, 1 ekor sapi ovulasi sehari setelah terapi dan 1 ekor sapi lagi ovulasi 12 hari setelah terapi dengan rataan DF yang ovulasi 1,53±0,12 cm.

Ovulasi yang hampir bersamaan pada sapi-sapi KLP I merupakan efek dari pemberian eksogenus PGF yang dapat meregresikan CL melalui mekanisme counter current yang kemudian menginduksi terjadinya ovulasi. Sementara itu pada KLP II tidak memperlihatkan onset estrus dan ovulasi pada waktu yang sama karena kombinasi antibiotik yang diberikan disini tidak berpengaruh pada regresinya CL, melainkan hanya berupaya untuk membunuh kuman penyebab infeksi.

Dinamika Ovari

Hasil pengamatan terhadap sapi-sapi endometritis KLP I dan KLP II memperlihatkan rataan panjang siklus estrus 18 hari, dan rataan jumlah gelombang folikel yang muncul sebanyak 3 gelombang, dengan rataan Kelas I, II dan III pada KLP I adalah 10,27±2,25; 5,94±1,24; 1,88±1,05 dan pada KLP II adalah 8,96±3,56; 5,37±1,11; 2,90±1,20. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada perbedaan yang nyata (P>0,05) terhadap kelas-kelas folikel pada KLP I dan KLP II (Gambar 13). Walaupun demikian rataan folikel kelas III pada KLP I lebih kecil dibanding dengan KLP II (1,88±1,05 : 2,90±1,20), tetapi ini tidak berpengaruh terhadap berhasil atau tidaknya folikel untuk ovulasi. Ini terbukti dengan adanya satu ekor sapi pada KLP II yang tidak berhasil ovulasi sepanjang penelitian ini dilakukan.

Hasil pengamatan pada KLP I selama sinkronisasi hingga hari estrus (H0), terjadi penurunan jumlah folikel kecil dari H-3 (14,00±3,5) hingga H-2 (7,00±2,00), kemudian meningkat lagi H0 (9,7±3,1), peningkatan folikel sedang dari H-3(4,3 ±2,3) hingga H-1 (5,7±4,2) dan folikel besar dari H-3 (3,00±2,3) sampai H-1 (5,00±4,2). Hal tersebut menandakan adanya folikel yang berpindah kelas dari folikel kecil ke folikel sedang dan folikel besar hingga ovulasi. Walaupun demikian tidak semua folikel berhasil naik kelas. Sebagian besar folikel mengalami regresi, hal ini ditandai dengan rendahnya jumlah folikel Kelas III.

Berdasarkan hasil pengamatan selama kurun waktu H0 (estrus) hingga H18 bahwa pada gelombang pertama, jumlah folikel kecil meningkat dari H1

(6,7±2,3) dan mencapai puncaknya pada H5 (15,00±4,00) kemudian turun lagi pada H6 (10,7±2,6).

Gambar 13. Klasifikasi ukuran folikel pada sapi endometritis. KLP I diterapi dengan kombinasi antibiotik+PGF, KLP II diterapi dengan kombinasi antibiotik.

Perkembangan folikel sedang terjadi peningkatan dari H1 (6,3± 2,00) dan mencapai puncaknya H3 (7,00±4,7) kemudian turun lagi hingga H6 (4,3 ±1,2). Folikel besar mengalami penurunan sejak H1(4,00 ± 2,3) hingga H6 (1,00 ± 0,6). Pada gelombang ke 2, mulai H7 (13,00±3,2) jumlah folikel kecil menurun sampai H8 (7,00±8,9) kemudian meningkat hingga mencapai puncaknya H11 (12,3±3,6). Folikel sedang meningkat sejak H7 (6,3±2,1) dan kemudian turun sampai H9 (4,7±2,0) lalu meningkat lagi pada H10 (6,7±0,6). Sementara folikel besar

30

meningkat sejak H7 (1,3±1,0) dan mencapai puncak pada H9 (2,00±1,2) lalu turun sampai dengan H11 (0,0±0,0). Pada gelombang ke 3, terjadi penurunan folikel kecil sejak H12 (11,3±5,0) kemudian meningkat pada H14 (12,7±6,1) lalu turun lagi pada H15 (8,3±8,6) dan meningkat lagi sampai H17 (10,0±6,7). Sementara itu terjadi peningkatan folikel sedang sejak H11 (6,0±3,8) dan mencapai puncaknya pada H13 (7,3±3,2) lalu turun sampai H15 (4,0±1,3) namun kemudian naik lagi mencapai puncaknya pada H17 (8,7±1,0). Folikel besar terus terjadi peningkatan sejak H12 (0,3±0,0) sampai dengan H18 (2,7±0,0).

Berdasarkan pengamatan kelas folikel I yang timbul tersebut dapat diamati bahwa gelombang folikel terjadi 3 kali dalam 1 kali siklus estrus. Adams (1998) menyatakan biasanya sapi-sapi yang dengan 2 gelombang folikel mempunyai panjang siklus estrus 19-20 hari, sedangkan sapi-sapi dengan 3 gelombang folikel mempunyai panjang siklus estrus 22-23 hari. Berbeda dengan hasil yang ditemukan pada sapi PO saat ini dimana panjang siklus estrus adalah 18 hari dengan 3 gelombang folikel yang muncul. Peningkatan proporsi pada sapi dengan 3 gelombang folikel berhubungan dengan pola nutrisi dan heat stress (Adams 1998). Menurut Bo et al. (2003), pola gelombang folikel pada Bos taurus tidak dipengaruhi oleh musim tetapi berapa kali beranak, juga tidak dipengaruhi oleh breed dan umur (Adams et al. 2008).

Perkembangan folikel selama satu siklus estrus menunjukkan pola penurunan dan kenaikan jumlah folikel dan terjadinya perkembangan diameter folikel, sehingga akhirnya terbentuk folikel dominan yang kemudian ovulasi. Hasil analisis statistik menunjukkan DF dan SF pada ke 3 gelombang folikel yang muncul tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata antara KLP I dan KLP II (p>0,05).

Menurut Ginther et al. (2003) siklus estrus yang normal meliputi 2 atau 3 gelombang folikel, mencakup periode kemunculan, pertumbuhan, penyimpangan,

dominan, atresi atau ovulasi. Masing-masing gelombang melibatkan

perkembangan dari folikel besar, sedang dan kecil. Periode deviasi mencakup pengurangan atau penghentian pertumbuhan folikel besar kedua (SF), selagi folikel besar menjadi dominan dan ukurannya membesar. Periode deviasi ini merupakan suatu mekanisme seleksi yang mengatur sejumlah folikel yang

diovulasikan menjadi folikel tunggal. Mekanisme seleksi kadang kala gagal, diikuti lebih dari satu DF yang berkembang selama 1 gelombang folikel, peristiwa ini disebut codominance (Kulick et al. 2001) dan ovulasi gandapun terjadi (Ginther et al. 2003). Pada penelitian ini dijumpai kejadian ovulasi ganda pada satu ekor sapi yang diterapi dengan kombinasi antibiotik+PGF, mungkin

ini pengaruh dari penggunaan analog PGF, sama seperti yang pernah ditemukan oleh Lopez-Gatius et al. (2004) akan kejadian ovulasi ganda pada sapi perah setelah diterapi dengan Cloprostenol pada saat inseminasi. Sejauh ini, belum ada laporan pasti bahwa prostaglandin dapat menginduksi ovulasi ganda, oleh karena itu diperlukan riset yang lebih lanjut untuk megungkapkan mekanisme yang melibatkan efek ini.

Perkembangan diameter folikel pada KLP I (Gambar 14), selama kurun waktu sehari sebelum sinkronisasi estrus menggunakan PGF hingga estrus H0,

menunjukkan bahwa terjadi perkembangan folikel dominan (DF) pada H-4 (1,07±0,15 cm) sampai sebelum estrus H-1 (1,40±0,10 cm) hingga mencapai folikel yang siap utuk ovulasi H0 (1,43±0,06 cm) dan diikuti dengan folikel terbesar kedua (SF) yang mulai atresi pada H0 (1,17±0,15 cm). Estrus terjadi antara hari ke 2-3 setelah terapi. Hal ini sesuai dengan pendapat bahwa hewan yang telah disinkronisasi estrus dengan PGF akan mengalami estrus secara

serentak pada hari yang relatif sama (Ginther 1981; Perez et al. 2003; Senger 2003; Kasimanickam et al. 2006). Pengamatan dengan USG dilanjutkan selama siklus estrus, dimulai H0 hingga menjelang estrus berikutnya, diperoleh hasil rata-rata lama siklus estrus antar individu yang diamati yaitu 18 hari. Diameter folikel yang berhasil ovulasi berkisar antara 1,4-1,5 cm (1,47±0,06 cm).

Perkembangan folikel terbesar pada gelombang pertama (1stDF) sudah dimulai sejak H0 (0,63±0,12 cm) dan mencapai puncaknya antara H5 (1,23±0,06 cm) kemudian mulai mengalami atresi sejak H6 (1,20±0,10 cm) sampai dengan selesai siklus. Folikel terbesar kedua (1stSF) meningkat dari H0 (0,53±0,12 cm) dan mencapai puncaknya H4 (0,93±0,12 cm) lalu mulai atresi hingga H7 (0,63±0,06 cm) dengan hari deviasi H4 (0,93±0,12 cm). Pada gelombang kedua, folikel terbesar (2ndDF) meningkat dari H8 (0,73±0,06 cm) lalu mencapai puncaknya pada H14 (0,97±0,15 cm) kemudian mulai atresi H15 (0,87±0,15 cm)

32

sampai selesai siklus. Folikel terbesar kedua (2ndSF) meningkat dari H8 (0,55±0,07 cm) kemudian mencapai puncaknya pada H13 (0,90±0,17) lalu atresi, dengan hari deviasi H13 (0,90±0,17 cm).

Gambar 14. Dinamika ovari pada sapi endometritis. KLP I diterapi dengan kombinasi antibiotik+PGF2α, KLP II diterapi dengan kombinasi antibiotik. 0.00 0.20 0.40 0.60 0.80 1.00 1.20 1.40 1.60 1.80 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 D ia m ete r (c m )

Hari selama siklus estrus

CL 1st DF 1st SF 2nd DF 2nd SF 3rd DF 3rd SF Estrus Ovulasi DF KLP I Ovulasi DF -0.5 0 0.5 1 1.5 2 2.5 -11 -9 -7 -5 -3 -1 1 3 5 7 9 11 13 15 17 0 2 4 D ia m ete r (c m )

Hari selama siklus estrus

CL (sapi 2) CL ( sapi 4) CL (2 ekor)

CL (sapi 6) 1st DF (sapi 4) 1st DF 1st SF 2nd DF (sapi 4) 2nd DF (sapi 6) 2nd DF 2nd SF (sapi 4) 2nd SF (sapi 6) 2nd SF 3rd DF (sapi 2) 3rd DF (sapi 4) Ovulasi DF KLP II CL Lisis CL Persisten Estrus

Pada gelombang ketiga, terlihat adanya pertumbuhan yang sangat cepat dari folikel terbesar (3rdDF) yang jelas terlihat sejak H14 (1,03±0,21 cm) hingga mencapai folikel dominan yang siap untuk ovulasi H18 (1,47±0,06 cm). Folikel terbesar kedua (3rdSF) meningkat dari H14 (0,83±0,06 cm) mencapai puncak pada H17 (1,10±0,10 cm) lalu atresi sejak H18 (1,07±0,15 cm) dengan hari deviasi H17 (1,10±0,10 cm).

Selain dari pada itu, juga dapat diketahui bahwa tidak adanya perbedaan diameter folikel besar (DF) menjelang estrus baik setelah sinkronisasi ataupun secara alami, sama seperti pada sapi FH (1,43±0,06 cm dan 1,47±0,06 cm), hanya

Dokumen terkait