• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPT Perpustakaan ISI Yogyakarta

D. Hasil Pembahasan

(sumber:dokumentasi penulis)

Gb.05. Puput Sri Rezeki, Gemuruh dalam gerakan #01, 2017

Fotolitografi di atas kertas, 21 x 30 cm

Karya 2 Dimensi secara tampilan seperti negatif pada film kamera, juga seni potret diri hitam putih dimana hanya ada sebuah objek tunggal didalamnya. Objek yang mendominasi adalah tubuh manusia dengan posisi berbalik badan, telapak kaki yang menjinjit dan lengan tangan yang diangkat seperti menggantung pada bahu sebagai tumpuan. Sebuah gerakan yang menandakan sikap yang siap. Terbentuk dari tumpukan cat air yang membentuk tekstur transparan, dimana air sebagai zat yang fleksibel terhadap media yang dilewatinya. Selaras dengan gagasan pada penggambaran gerakan tubuh yang merepresentasikan gerakan emosi, bukan tubuh sebagai keadaan fisik. Bahwasanya keadaan emosi dapat diketahui dengan melihat tanda pada perubahan tubuh secara fisik.

Warna hitam sebagai latar visual menjelaskan tentang konsep benda atau keadaan yang tidak terkena cahaya maka segalanya menjadi gelap. Seperti keadaan manusia yang membutuhkan “pencerahan” sebagai pedoman dalam menjalani hidup. Warna Putih diantara latar yang gelap menampilkan objek menjadi terpusat, ada kesan keegoan sebagai paham antroposentrisme yaitu paham dimana manusia sebagai makhluk tertinggi disemesta alam. Namun disisi lain putih diasosiasikan sebagai ruh pada setiap manusia, yang pada dasarnya tidak bernoda,tetapi sifat masing-masing individu yang bertugas mewarnai akan menjadi pribadi seperti apa. Hal ini dapat dilihat munculnya warna biru dengan bentuk rupa yang sama. Karya ini terinspirasi dari kata “Aku” yang muncul pada setiap bait puisi Surat Kau. Pengulangan kata menjadi sangat melekat sehingga memberi kesan egois juga terdengar seperti pertanyaan. Aku, aku?, Aku!.

( sumber: dokumentasi penulis )

Penggunaan teknik kolase dalam bentuk karya 3 dimensi pada karya merupakan metafora dari komunikasi individu tentang pengalaman pribadi terhadap masyarakat maupun lingkungan sekitar . Proses gunting tempel ini sebagai upaya untuk membongkar juga berbagi pengalaman yang akan dimanifestasikan kedalam bentuk visual.

Sehingga hasil karya dalam 3 dimensi dianggap dapat mewujudkan konsep presentasi rupa sebagai artefak yang artifisial. Keseluruhan warna pada karya terinspirasi dari warna pitch suara pada rekaman pembacaan puisi, juga mewakili eskpresi perasaan yang berbeda-beda dan selalu berubah. Karya ini terinspirasi dari keseluruhan puisi yang dimana masing-masing bait memiliki isyarat makna yang berbeda.

Gb. 06. Puput Sri Rezeki, clipping memento # 02, 2017

Kolase di atas batu, 40 x 30 x 10 cm

( sumber: ( sumber: dokumentasi penulis)

Sebagai manusia kita dihadapkan persoalan hidup yang datang silih berganti, baik suka maupun duka sehingga mempengaruhi watak dan karakter. Berbagai upaya dan cara dilakukan dalam meluapkan emosi dan terkadang memilih untuk disimpan karena merupakan bagian dari perjalanan hidup. Salah satunya adalah dengan menulis diari. Clipping memento #03 merupakan jurnal keseharian yang di transformasikna kedalam bentuk visual. Karya yang terdiri dari 16 potongan gambar ini mewakili dari beberapa potongan kejadian yang dialami. Gestur tubuh manusia mengasosiasikan ekspresi dari perasaan, sedangkan simbol air dan warna menjadi latar belakang untuk mempertegas

Gb. 07. Puput Sri Rezeki, clipping memento #03, 2017

Sablon di atas kertas dan kolase, 56 x 56 cm

luapan emosional. Karya ini terinspirasi dari keseluruhan puisi yang dimana masing-masing bait memiliki isyarat makna yang berbeda.

E. Kesimpulan

Hadirnya pluralisme media puisi memberi gambaran bahwa puisi telah mengalami perkembangan. Penulis berpendapat fenomena tersebut merupakan bagian dari perkembangan kebudayaan yang mempengaruhi suatu golongan masyarakat dalam berekspresi juga menjalani suatu budaya hidup.

Pada penulisan Tugas Akhir ini dilatar belakangi oleh puisi, karena puisi adalah ekspresi tidak langsung yang dirangkai dalam bahasa dengan makna yang tersirat. Hal ini dianggap dapat mewakili tujuan dari penulis untuk mengungkapkan ekspresi tanpa harus secara langsung memperlihatkan luapan emosi yang sebenarnya. Seperti pada puisi “Surat Kau” yang menggunakan majas Sinekdoke Pars Pro Toto untuk mewakili objek lainnya. Contohnya pada kalimat membutuhkan langkahmu, membutukan jingkrungmu, dan sebagainya.

Dalam proses penciptaan karya yang mentransformasikan puisi menjadi karya visual, langkah pertama penulis menafsirkan puisi yang berjudul “surat Kau” menggunakan metode analisa dasar puisi dengan konvensi puisi yang telah ada guna memahami tanda-tanda, pemilihan diksi, isyarat yang digunakan. Kemudian penulis menggunakan elemen-elemen seni rupa yang dianggap dapat mewakili untuk mewujudkan konsep bentuk yaitu simbol, bentuk, garis, komposisi, tekstur. Diksi yang terdapat pada puisi mempengaruhi penulis dalam pemilihan simbol. Salah satunya adalah simbol gestur tubuh yang menjadi unsur paling dominan dalam penciptaan karya visual karena didasari oleh keseluruhan isi puisi terdapat indikasi penggunaan tubuh secara sebagian sebagai objek dalam mewakili keseluruhan objek tubuh yang disebut juga dengan majas Sinekdoke Pars Pro toto sehingga Penulis mengasosiasikan gestur tubuh manusia sebagai bahasa untuk mengungkapkan perasaan maupun emosi.

Melalui perubahan gerak tubuh yang mengindikasikan kesan emosional tanpa harus menggunakan bahasa verbal. Selain simbol tersebut juga terdapat simbol air sebagai metafor dari emosi juga ketenangan, simbol burung sebagai

ungkapan kebebasan, simbol batu sebagai ungkapan kegigihan dan tidak mudah putus asa, simbol hutan untuk mewakili situasi hidup yang komplek dan misterius, simbol pohon menunjukkan bahwa manusia sebagai makhluk zoonpoliticon, dan simbol bunga asoka mengasosiasikan tentang kebahagian.

Sebagai bahan refrensi warna maupun komposisi, penulis membuat rekaman puisi dengan menggunakan perangkat lunak Cube base 5, secara otomatis akan muncul tampilan tangga nada sesuai dengan pitch suara yang tertangkap. Proses Hasil rekaman yang digunakan adalah rekaman ke empat dari sepuluh rekam suara dihari yang berbeda. Hal ini bertujuan agar adanya pembanding dalam meneliti emosi suara diwaktu yang berlainan. Rekaman tersebut menjadi pilihan penulis yaitu dinilai dari emosi suara terdengar cukup jelas sehingga mempengaruhi perubahan grafik pitch suara. Bentuk gelombang suara pada grafik menjadi salah satu acuan penulis dalam mengkomposisikan bentuk dan garis. Contohnya pada karya yang berjudul “Looping Loop” menunjukkan gestur tubuh manusia yang tersusun membentuk siklus gelombang suara. Juga garis lengkung yang tersusun membentuk kesan optis terisnpirasi dari frekuesi gelombang yang bertumpuk.

Dalam pemilihan warna penafsiran penulis sangat berpengaruh dalam mewujudkan gagasan dalam karya, walaupun terdapat data kuantitatif sebagai salah satu acuan namun sebatas refrensi.

Penulis berharap hasil dari interpretasi puisi dalam bentuk karya visual dapat menambah keberagaman penafsiran terhadap puisi Surat Kau. Selain itu juga kolaborasi berbagai media dapat memberi kontribusi pada seni grafis.

Dokumen terkait