Kondisi Hidro-Oseanografi di Perairan Teluk Jakarta pada Bulan April dan Bulan September
Perairan Teluk Jakarta merupakan perairan yang relatif dangkal sehingga sangat dipengaruhi oleh kondisi hidro-oseanografi (Hadikusumah 2007). Nilai elevasi pasang surut pada saat pengambilan sampel pada bulan April menunjukkan tunggang pasang surut (pasut) mencapai 0.5 m dengan pasang tertinggi 0.9 m dan surut terendah 0.4 m (Gambar 3a) sedangkan pada saat pengambilan sampel pada bulan September menunjukkan tunggang pasut juga mencapai 0.3 m dengan pasang tertinggi 0.7 m dan surut terendah 0.4 m (Gambar 3b). Pasang surut di Teluk Jakarta bersifat tunggal dengan kisaran pasang tertinggi 0.4-1.54 m dan surut terendah 0.02-0.86 m (Ilahude dan Lisaputra 1980; Indriani
et al. 2010; Lubis dan Yosi 2012 dan Newyeara et al. 2014). Pengambilan sampel pada tanggal 1 April 2014 untuk stasiun 13 pada jam 11:01 pada saat surut, stasiun 10 pada jam 12:45 pada saat surut, stasiun 7 pada jam 15:50 pada saat surut menuju pasang, stasiun 4 pada jam 16:20 pada saat surut menuju pasang dan satsiun 1 pada jam 16:57 pada saat surut menuju pasang. Titik pengambilan sampel tanggal 2 April 2014 untuk stasiun 14 pada jam 11:52 pada saat surut, stasiun 11 pada jam 12:28 pada saat surut, stasiun 8 pada jam 14:01 pada saat surut, stasiun 5 pada jam 14:32 pada saat surut menuju pasang dan stasiun 2 pada jam 15:01 pada saat surut menuju pasang. Untuk titik pengambilan sammpel pada 3 April 2014 untuk stasiun 15 pada jam 11:27 pada saat surut, stasiun 12 pada jam 11:57 pada saat surut, stasiun 9 pada jam 12:25 pada saat surut, stasiun 6 pada jam 12:53 pada saat surut dan stasiun 3 pada jam 13:25 pada saat surut. Kondisi pasang surut pada saat pengambilan sampel yang dilakukan pada bulan April sebagian besar berada dalam kondisi muka air surut.
Pada bulan September titik pengambilan sampel yang dilakukan pada tanggal 10 September 2014 untuk stasiun 15 pada jam 10:07 pada saat pasang, stasiun 12 pada jam 11:40 pada saat pasang, stasiun 9 pada jam 13:14 pada saat pasang, stasiun 6 pada jam 13:51 pada saat pasang dan stasiun 3 pada jam 14:24 pada saat pasang. Titik pengambilan sampel tanggal 11 September 2014 untuk stasiun 14 pada jam 09:45 pada saat pasang, stasiun 11 pada jam 10:23 pada saat pasang, stasiun 8 pada jam 11:40 pada saat pasang, stasiun 5 pada jam 13:55 pada saat pasang dan stasiun 2 pada jam 14:14 pada saat pasang. Untuk titik pengambilan sampel pada 12 September 2014 untuk staisun 13 pada jam 09:13 pada saat pasang, stasiun 10 pada jam 09:47 pada saat pasang, stasiun 7 pada jam 10:39 pada saat pasang, stasiun 4 pada jam 11:15 pada saat pasang dan stasiun 1 pada jam 11:50 pada saat pasang. Kondisi pasang surut pada saat pengambilan
sampel yang dilakukan pada bulan September sebagian besar berada dalam kondisi muka air pasang. Pengambilan sampel yang dilakukan pada bulan April pada saat kondisi surut dan pengambilan sampel yang dilakukan pada bulan September pada saat kondisi pasang berkaitan dengan perbedaan pola sirkulasi arus pasang surut di perairan Teluk Jakarta. Hal ini diduga yang menyebabkan perbedaan variasi konsentrasi logam berat di perairan Teluk Jakarta. Kondisi pasang surut perairan Teluk Jakarta saat penelitian pada bulan April dan bulan September dapat dilihat pada Gambar 3a dan 3b.
(a)
(b)
Gambar 3 Kondisi pasang surut pada saat kondisi (a) pengambilan sampel pada bulan April (b) pengambilan sampel pada bulan September di perairan Teluk Jakarta.
Validasi arus hasil simulasi perlu dilakukan agar dapat diketahui sejauh mana penyimpangan dari hasil simulasi yang telah dilakukan. Suatu hasil simulasi dapat dikatakan valid jika hasil simulasi memiliki pola yang konsisten dengan data lapangan. Validasi arus pasang surut pada bulan April dilakukan dengan membandingkan arus hasil simulasi pada grid yang terpilih dengan data pengukuran lapangan pada tanggal 15-18 April 2014 dengan koordinat 6.0853 LS dan 106.7701 BT. Kecepatan minimum, rata-rata dan maksimum arus hasil simulasi adalah sebesar 0 cm/s, 1.6 cm/s dan 5.2 cm/s, sedangkan kecepatan minimum, rata-rata dan maksimum arus total hasil pengukuran lapang sebesar 0 cm/s, 7.6 cm/s dan 18 cm/s. Hasil validasi data arus hasil simulasi dengan arus total pengukuran lapang untuk arah arus sebagian besar dominan sama namun untuk kecepatan arus terdapat perbedaan. Kecepatan arus hasil pengukuran lapang jauh lebih besar dibandingkan kecepatan arus hasil simulasi. Perbedaan hasil kecepatan arus pengukuran lapang dibandingkan kecepatan arus dari hasil simulasi disebabkan karena simulasi arus yang dilakukan hanya menggunakan pasang surut dan angin saja sebagai gaya pembangkit arus sedangkan di alam gaya pembangkit arus sangat komplek sehingga terdapat perbedaan pola antara data yang dihasilkan simulasi model arus dengan data pengukuran lapang. Secara umum arah arus hasil simulasi dapat digunakan untuk melihat kondisi sirkulasi arus di perairan Teluk Jakarta pada bulan April. Validasi data arus pasang surut pada bulan April di perairan Teluk Jakarta dapat dilihat pada Gambar 4a dan 4b.
(a)
(b)
Gambar 4 Validasi data arus pasang surut simulasi (a) dengan data arus pengukuran lapang (b) pada bulan April di perairan Teluk Jakarta.
Validasi arus pasang surut pada bulan September dilakukan dengan membandingkan tinggi muka muka laut dari hasil simulasi Regional Ocean Modelling System (ROMS) dengan data tinggi muka air laut Sea Surface Height
(SSH) dari satelit altimetri (AVISO). Secara keseluruhan, kenaikan muka laut dari data satelit altimetri memiliki pola yang sama dengan tinggi muka laut dari data hasil simulasi ROMS sehingga data arus hasil simulasi dapat digunakan untuk melihat kondisi sirkulasi arus diperairan Teluk Jakarta September. Validasi data arus pasang surut pada bulan September di perairan Teluk Jakarta dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5 Validasi data arus pada bulan September di perairan Teluk Jakarta (Atmadipoera AS 11 Juni 2015, komunikasi pribadi).
Validasi data simulasi pola arus rata-rata pada bulan April dan September di perairan Teluk Jakarta dilakukan dengan membandingkan data tinggi muka laut dari simulasi Regional Ocean Modelling System (ROMS) dengan data data tinggi muka air laut Sea Surface Height (SSH) dari satelit altimetri (AVISO) tahun 2005-2010. Data satelit altimetri dirata-ratakan mingguan dalam periode bulanan. Sebagai perbandingan adalah data tinggi muka laut (zeta) simulasi Regional Ocean Modelling System (ROMS) pada tahun ke 5. Data simulasi ROMS memiliki rataan harian. Kedua data ini dibuatkan nilai anomali atau datum Mean Sea Level (MSL) sehingga nilai tinggi muka laut dapat dibandingkan. Hail validasi menunjukka nilai tinggi muka laut dari data satelit altimetri menunjukkan tinggi muka laut pada bulan April dominan besar berada di bawah nol atau rata-rata muka laut Mean Sea Level (MSL) sedangkan pada bulan September tinggi muka laut dominan besar di atas nol atau rata-rata muka laut Mean Sea Level
(MSL). Hal yang sama ditunjukkan juga pada hasil simulasi ROMS. Data simulasi ROMS memiliki rataan harian sehingga fluktuasi muka laut lebih banyak terjadi pada data hasil simulasi tersebut. Secara keseluruhan, kenaikan tinggi muka laut dalam periode bulanan data dari satelit altimetri memiliki pola yang sama dengan tinggi muka laut dari data hasil simulasi ROMS. Secara umum data arus hasil simulasi dapat digunakan untuk melihat kondisi sirkulasi arus rata-rata bulanan diperairan Teluk Jakarta pada bulan April dan September. Validasi arus
rata-rata pada bulan April dan September di perairan Teluk Jakarta dapat dilihat pada Gambar 6a dan 6b.
(a)
(b)
Gambar 6 Validasi arus rata-rata pada bulan April (a) dan bulan September (b) di perairan Teluk Jakarta (Atmadipoera AS 11 Juni 2015, komunikasi pribadi).
Simulasi sirkulasi arus pasang surut pada bulan April dan September di perairan Teluk Jakarta dilakukan berdasarkan pada kondisi pasang dan surut. Pada kondisi pasang terdapat dua tinjauan terhadap muka air, yaitu pada saat muka air (mean sea level) menuju pasang tertinggi dan pada saat muka air berada pada pasang tertinggi. Pada saat surut terdapat dua tinjauan terhadap muka air, yaitu pada saat muka air (mean sea level) menuju surut terendah dan pada saat muka air berada pada surut terendah. Data arus hasil simulasi yang dihasilkan merupakan nilai kecepatan arus rata-rata untuk seluruh kolom perairan yang telah diintegrasikan terhadap kedalaman dari dasar sampai ke permukaaan bebas. Pola arus bulan April pada saat kondisi muka air (mean sea level) menuju pasang tertingi arus masuk ke dalam teluk dari bagian mulut teluk sebelah Timur dan selanjutnya bergerak ke dalam teluk melewati daerah pantai Teluk Jakarta yang akhirnya keluar teluk melalui mulut teluk bagian Barat (Gambar 7a). Pada daerah tengah teluk terlihat kecepatan arus lebih besar dibandingkan dengan dekat pantai. Hal ini terjadi akibat adanya perubahan kedalaman dari arah mulut teluk ke arah pantai yang semakin dangkal sehingga kecepatan arus akan semakin kecil akibat adanya pengaruh gesekan dasar perairan yang akan mengurangi kecepatan arus. Pola arus bulan September yang dihasilkan dari Regional Ocean Modelling System (ROMS) pada saat kondisi muka air (mean sea level) menuju pasang tertingi menunjukkan hasil yang konsisten dengan bulan April dimana arus masuk ke dalam teluk dari bagian mulut teluk sebelah Timur dan selanjutnya bergerak ke dalam teluk melewati daerah pantai Teluk Jakarta yang akhirnya keluar teluk melalui mulut teluk bagian Barat (Atmadipoera AS 11 Juni 2015, komunikasi pribadi). Pola arus pada saat kondisi muka air (mean sea level) menuju pasang tertinggi di perairan Teluk Jakarta arus masuk ke dalam teluk dari Timur melewati pantai dan akhirnya keluar melalui bagian Barat dengan kecepatan rata-rata sebesar 0.098-18 cm/s (Putri dan Mihardja 1999; Suriwati et al. 2004; Sanusi et al. 2005 dan Newyeara et al. 2014). Pola arus pada saat kondisi muka air pasang tertinggi telihat pola arus tidak beraturan dan kecepatan arus mulai berkurang (Gambar 7b). Pola arus bulan September yang dihasilkan dari Regional Ocean Modelling System (ROMS) pada saat kondisi muka air (mean sea level) pasang tertingi menunjukkan hasil yang konsisten dengan bulan April dimana telihat pola arus tidak beraturan dan kecepatan arus mulai berkurang (Atmadipoera AS 11 Juni 2015, komunikasi pribadi). Pola arus pada saat kondisi muka air pasang tertinggi telihat pola arus tidak beraturan dengan kecepatan sebesar 7.7 cm/s (Suriwati et al. 2004). Besarnya kecepatan arus pada saat kondisi muka air saat pasang tertinggi berbeda dengan saat muka air (mean sea level) menuju pasang tertinggi. Kecepatan arus pada saat muka air (mean sea level) menuju pasang tertinggi lebih besar dengan pola yang lebih teratur dibandingkan dengan muka air pada saat pasang tertinggi yang tidak teratur. Hal ini karena pada saat kondisi muka air pasang tertinggi terdapat keadaan yang hampir setimbang atau sama rata di atas posisi duduk tengah (mean sea level) terhadap muka air sehingga perbedaan gradien tekanan sangat kecil atau hampir tidak ada perbedaan gradien terhadap muka air. Kecilnya perbedaan gradien tekanan membuat pergerakan masa air juga menjadi semakin kecil sehingga pada kondisi ini kecepatan arus sangat kecil sekali dengan arah arus yang tidak beraturan. Kondisi sebaliknya terjadi pada saat muka air (mean sea level) menuju pasang tertinggi. Pada kondisi ini terdapat perbedaan gradien tekanan yang cukup besar sehingga membuat
pergerakan massa air semakin besar juga sehingga pada kondisi ini kecepatan arus sangat besar dengan arah yang beraturan bergerak dari Timur masuk ke dalam teluk melewati pantai dan keluar melalui Barat. Hasil simulasi pola arus pada saat muka air (mean sea level) menuju pasang tertinggi dan pada saat muka air berada pada pasang tertinggi pada bulan April dapat dilihat pada Gambar 7a dan 7b.
(a)
(b)
Gambar 7 Hasil simulasi pola arus pada saat muka air (mean sea level) menuju pasang tertinggi (a) dan pasang tertinggi (b) di perairan Teluk Jakarta pada bulan April (Pranowo et al. 2014).
Pola arus pada saat kondisi muka air (mean sea level) menuju surut terendah terlihat arus bergerak masuk ke dalam teluk melalui mulut teluk bagian Barat dan bergerak ke daerah pantai Teluk Jakarta yang akhirnya keluar teluk melalui mulut teluk bagian Timur (Gambar 8a). Pola arus bulan September yang dihasilkan dari Regional Ocean Modelling System (ROMS) pada saat kondisi muka air (mean sea level) menuju surut terendah menunjukkan hasil yang konsisten dengan bulan April dimana arus terlihat arus bergerak masuk ke dalam teluk melalui mulut teluk bagian Barat dan bergerak ke daerah pantai Teluk Jakarta yang akhirnya keluar teluk melalui mulut teluk bagian Timur (Atmadipoera AS 11 Juni 2015, komunikasi pribadi). Pada saat kondisi muka air (mean sea level) menuju surut terendah di perairan Teluk Jakarta arus bergerak masuk ke dalam teluk dari Barat melewati pantai dan akhirnya keluar melalui bagian Timur dengan kecepatan rata-rata sebesar 0.12-15 cm/s (Putri dan Mihardja 1999; Suriwati et al. 2004; Sanusi et al. 2005 dan Newyeara et al. 2014). Pada saat muka air surut terendah pola arus kembali terlihat tidak beraturan dan kecepatan arus juga semakin berkurang (Gambar 8b). Pola arus bulan September yang dihasilkan dari Regional Ocean Modelling System (ROMS) pada saat kondisi muka air (mean sea level) surut terendah menunjukkan hasil yang konsisten dengan bulan April dimana arus arus kembali terlihat tidak beraturan dan kecepatan arus juga semakin berkurang (Atmadipoera AS 11 Juni 2015, komunikasi pribadi). Pola arus pada saat kondisi muka air pasang tertinggi telihat pola arus tidak beraturan dengan kecepatan sebesar 3.4 cm/s (Suriwati et al. 2004). Besarnya kecepatan dan arus rata-rata pada saat muka air saat surut terendah juga berbeda dengan saat muka air (mean sea level) menuju surut terendah. Kecepatan arus pada saat muka air (mean sea level) menuju surut terendah lebih besar dengan pola teratur dibandingkan dengan muka air pada saat surut terendah yang tidak teratur. Hal ini karena pada saat kondisi muka air pada saat surut terendah terdapat keadaan yang hampir setimbang atau sama rata di bawah posisi duduk tengah (mean sea level) terhadap muka air sehingga terdapat perbedaan gradien tekanan sangat kecil atau hampir tidak ada perbedaan gradien terhadap muka air. Kecilnya perbedaan gradien tekanan membuat pergerakan masa air juga menjadi semakin kecil sehingga pada kondisi ini kecepatan arus sangat kecil dengan arah yang tidak beraturan. Kondisi sebaliknya terjadi pada saat muka air (mean sea level) menuju surut terendah. Pada kondisi ini terdapat perbedaan gradien tekanan yang cukup besar sehingga membuat pergerakan massa air juga semakin besar. Pada kondisi ini kecepatan arus sangat besar dengan arah yang beraturan bergerak dari Barat masuk ke dalam teluk melewati pantai dan keluar melalui Timur. Hasil simulasi pola arus pada saat muka air surut (mean sea level) menuju surut terendah dan muka air surut terendah pada bulan April dapat dilihat pada Gambar 8a dan 8b.
(a)
(b)
Gambar 8 Hasil simulasi pola arus pada saat muka air (mean sea level) menuju surut terendah (a) dan surut terendah (b) di perairan Teluk Jakarta pada bulan April (Pranowo et al. 2014)
Pola sirkulasi arus di perairan teluk dan dekat daratan biasanya dipengaruhi oleh rambatan pasang surut. Koropitan dan Ikeda (2008) mengatakan rambatan pasang surut di Laut Jawa didominasi oleh komponen K1 yang merambat dari Laut Flores dibagian timur dan berakhir di Laut Jawa yang menghasilkan resonansi yang menguatkan amplitudo pasang surut di bagian tengah sebagai akibat dari batas tertutup Pulau Sumatera di bagian barat. Hatayama (1996) menambahkan komponen pasang surut K1 merambat dari Samudera Pasifik menuju Laut Jawa melalui 3 jalur yaitu melewati Laut Cina Selatan menuju Laut Jawa, melewati Laut Sulawesi menuju Selat Makasar kemudian berbelok ke Laut Jawa dan melewati Laut Halmahera melewati Laut Flores menuju Laut Jawa. Fatoni (2011) menjelaskan rambatan passing surut dengan komponen K1 di Laut Jawa merambat dari Timur ke Barat dengan perubahan jam 20 menuju jam 24 dengan amplitudo yang rapat di sekitar Laut Jawa sebesar 15 cm sampai 50 cm. Pasang surut di Teluk Jakarta dominan besar dipengaruhi komponen K1 karena berbatasan langsung dengan Laut Jawa yang merambat berasal dari Laut Flores. Pada kondisi pasang dan surut pada wilayah teluk ditandai arah arus yang bolak-balik. Di perairan Teluk Jakarta pada saat arah gelombang pasang ditandai dengan arah Timur menuju ke Barat sedangkan pada saat surut ditandai dengan arah yang berkebalikan dari Barat menuju ke Timur.
Pola sirkulasi arus rata-rata pada bulan April yang masih berada dalam kisaran Musim Peralihan I terlihat pengaruh dari Musim Barat sudah mulai hilang namun pengaruh dari Musim Timur sudah mulai muncul yang terlihat pola arus yang melemah menuju ke arah Barat dengan kecepatan sekitar 1-4 cm/s (Gambar 9a).Pola arus di perairan Teluk Jakarta pada Musim Peralihan I bergerak dominan ke arah Timur dan Barat Daya dengan kecepatan sebesar 0.05-2.3 cm/s (Hadikusumah 2007 dan Simanjuntak 2007). Lubis dan Yosi (2012) menambahkan pola arus pada bulan April di perairan Teluk Jakarta dominan ke arah Utara dan Timur Laut dengan kecepatan sebesar 0.3-7.78 cm/s. Pola arus sirkulasi rata-rata pada bulan September yang masih berada dalam kisaran Musim Peralihan II terlihat pengaruh dari Musim Timur masih sangat kuat dimana pola arus terlihat dominan menuju ke arah Barat dengan kecepatan sekitar 1-6 cm/s (Gambar 9b). Simanjuntak (2007) menyatakan pola arus di perairan Teluk Jakarta pada Musim Peralihan II bergerak dominan ke arah Barat, Barat dan Tenggara dengan kecepatan sebesar 0.07-3.8 cm/s. Pola arus pada bulan September di perairan Teluk Jakarta dominan ke arah Barat, Utara dan Timur Laut dengan kecepatan sebesar 0.8-3.4 cm/s (Hadikusumah 2007 dan Newyeara et al. 2012). Kecepatan arus bulan September lebih besar dibandingkan dengan kecepatan arus bulan April. Wyrtki (1996) menjelaskan bahwa pola arus di Laut Jawa pada bulan April-September bergerak ke arah Barat. Perbedaan kecepatan arus rata-rata ini diduga mempengaruhi perbedaan profil logam berat pada bulan April dan September di perairan Teluk Jakarta. Simulasi pola arus rata-rata pada bulan April dan September di perairan Teluk Jakarta dapat dilihat pada Gambar 9a dan 9b.
(a)
(b)
Gambar 9 Hasil simulasi pola arus rata-rata pada bulan April (a) dan bulan September (b) di perairan Teluk Jakarta (Atmadipoera AS 11 Juni 2015, komunikasi pribadi).
Suhu perairan pada bulan April berkisar antara 30-31.3 °C dengan rata-rata sebesar 30.6 °C (Gambar 10a) sedangkan pada bulan September berkisar antara 28.9-30.2 °C dengan rata-rata sebesar 29.3 °C (Gambar 10b). Hasil penelitian sebelumnya mengatakan suhu perairan Teluk Jakarta berkisar 28.9-31.2 °C (Illahude 1995; Wiliam et al. 2000; Paonganan et al. 2005; Hadikusumah 2008 dan Kusuma et al. 2014). Kondisi suhu di perairan Teluk Jakarta tidak lepas dari pengaruh Laut Jawa yang mengalami pengingkatan yang mencapai puncaknya pada Musim Peralihan I dan Musim Peralihan II karena pada ke dua musim ini tiupan angin relatif lemah dan memiliki konsistensi arah yang labil sehingga pemanasan lebih maksimal (Syahdan 2015). Illahude (1995) menambahkan suhu di Teluk Jakarta secara normal mengalami dua kali nilai minimum dan dua kali nilai maksimum setiap tahunnya. Nilai minimum pada bulan Februari karena angin Musim Barat yang cukup keras dan minimum bulan Agustus yang disebabkan oleh penguapan yang relatif tinggi oleh pengaruh angin Musim Timur.
Salinitas perairan pada bulan April berkisar 23.1-29.4 psu dengan rata-rata sebesar 27.75 psu (Gambar 10c) sedangkan pada bulan September berkisar antara 29.5-30.6 psu dengan rata-rata sebesar 30.2 psu (Gambar 10d). Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan salinitas perairan Teluk Jakarta berkisar 22-32.4 psu (Praseno dan Kastoro 1979; Illahude 1995; Mezuan 2007; Sutisna 2007; Hadikusumah 2008 dan Kusuma et al. 2014). Salinitas di perairan Teluk Jakarta juga tidak lepas dari pengaruh Laut Jawa yang mengalami dua kali minimum pada bulan Februari dan September dan dua kali nilai maksimum sekitar bulan Mei dan November (Illahude 1995). Minimum pada bulan Februari lebih rendah dari mimimum bulan September disebabkan tambahan pengenceran oleh curah hujan dan maksimum bulan November lebih besar dari bulan Mei disebabkan karena massa air Laut Pasifik yang masuk dari bagian Timur tidak mengalami pengenceran oleh sungai-sungai di bagian Timur. Derajat keasaman (pH) perairan pada bulan April berkisar 6.98-7.48 dengan rata-rata sebesar 7.23 (Gambar 10e) sedangkan pada bulan September berkisar antara 7.80-8.17 dengan rata-rata sebesar 8.02 (Gambar 10f). Hasil penelitian sebelumnya menyatakan derajat keasaman (pH) perairan Teluk Jakarta berkisar 6.5-8.1 (Praseno dan Kastoro 1979; Wiliam et al. 2000; Paonganan et al. 2005; Sutisna 2007; BPLHD 2010 dan Kusuma et al. 2014). Kondisi suhu dan salinitas perairan Teluk Jakarta pada bulan April dan bulan September dapat dilihat pada Gambar 10.
(c) (d)
(e) (f)
Gambar 10 Kondisi suhu permukaan bulan (a) April dan (b) September, salinitas permukaan bulan (c) April dan (d) September, derajat keasaman (pH) permukaan bulan (e) April dan (f) September.
Partikel tersuspensi (TSS) perairan pada bulan April berkisar 27-54 mg/l dengan rata-rata sebesar 37.26 mg/l (Gambar 11a) sedangkan pada bulan September berkisar antara 25-68 mg/l dengan rata-rata sebesar 54.26 mg/l (Gambar 11b). Hasil penelitian sebelumnya menjelaskan partikel tersuspensi (TSS) perairan Teluk Jakarta berkisar 5-45.2 mg/l (Pemda DKI 1999; Mezuan 2007; Sutisna 2007 dan Kusuma et al. 2014). Kekeruhan perairan pada bulan April berkisar antara 0.49-4.64 NTU dengan rata-rata sebesar 1.04 NTU (Gambar 11c) sedangkan pada bulan September berkisar berkisar antara 0.52-3.42 NTU dengan rata-rata sebesar 1.32 NTU (Gambar 11d). Hasil penelitian sebelumnya mengatakan kekeruhan perairan Teluk Jakarta berkisar antara 1.58-85.05 NTU (Dahlia 2009; Sutisna 2007 dan Madubun 2008). Secara umum hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi input masukan dari daratan yang dibawa dari
melalui sungai atau drainase yang masuk ke wilayah dekat daratan sangat mempengaruhi kondisi hidro-oseanografi perairan Teluk Jakarta Teluk Jakarta baik pada bulan April maupun bulan September terutama suhu, salinitas, derajat keasaman (pH) dan partikel tersuspensi (TSS) serta kekeruhan. Kondisi salinitas dan derajat keasaman (pH) yang terlihat rendah sedangkan suhu, kekeruhan dan