• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil

Potensi Tumbuh Maksimum (%)

Berdasarkan analisis data secara statistik diketahui bahwa perlakuan Giberelin berpengaruh nyata terhadap parameter potensi tumbuh maksimum sedangkan perlakuan konsentrasi NaCl dan interaksi antara kedua faktor tersebut berpengaruh tidak nyata terhadap parameter potensi tumbuh maksimum (Lampiran 1).

Data potensi tumbuh maksimum dalam hubungannya dengan perlakuan konsentrasi NaCl dan Giberelin dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Rataan Potensi Tumbuh Maksimum pada Perlakuan Konsentrasi NaCl dan Giberelin

Giberelin (G) Konsentrasi NaCl (N) Rataan N0 N1 N2 N3 G0 68.33 71.67 68.33 61.67 67.50 c G1 80.00 81.67 90.00 75.00 81.67 a G2 83.33 70.00 70.00 80.00 75.83 abc G3 85.00 86.67 78.33 73.33 80.83ab Rataan 79.17 77.50 76.67 72.50

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom yang sama, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncant (DMRT) pada taraf 5 %

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa potensi tumbuh maksimum yang tertinggi akibat perlakuan Giberelin terdapat pada perlakuan G1 yaitu sebesar 81,67 % berbeda tidak nyata dengan G2 dan G3 tetapi berbeda nyata dengan G0 serta terendah pada perlakuan G0 yaitu sebesar 67,5 % berbeda tidak nyata dengan G2 tetapi berbeda nyata dengan G1 dan G3.

Hubungan antara potensi tumbuh maksimum dengan pemberian konsentrasi larutan garam NaCl dan Giberelin terhadap benih kedelai dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. potensi tumbuh maksimum dengan pemberian konsentrasi larutan garam NaCl dan Giberelin terhadap benih kedelai.

Daya Kecambah (%)

Berdasarkan analisis data secara statistik diketahui bahwa perlakuan konsentrasi garam NaCl, giberelin, dan interaksi antara kedua faktor perlakuan tersebut berpengaruh tidak nyata terhadap parameter daya kecambah (Lampiran 2).

Data daya kecambah dalam hubungannya dengan perlakuan konsentrasi larutan garam NaCl dan giberelin dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rataan daya kecambah pada perlakuan konsentrasi garam NaCl dan Giberelin

Giberelin (G) Konsentrasi Garam (NaCl) Rataan N0 N1 N2 N3 G0 2.10 1.80 3.54 2.40 2.46 G1 2.33 3.67 3.17 2.83 3.00 G2 3.80 3.54 2.53 2.94 3.21 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 N0 N1 N2 N3 G ib e r e li n NaCl G0 G1 G2 G3

G3 2.65 3.17 2.53 1.55 2.48

Rataan 2.72 3.05 2.94 2.43

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa daya kecambah tertinggi akibat perlakuan konsentrasi larutan garam NaCl terdapat pada perlakuan N1 yaitu sebesar 3,05 % dan terendah pada N3 yaitu sebesar 2.43 %, sedangkan daya kecambah tertinggi akibat perlakuan giberelin terdapat pada G2 yaitu sebesar 3,21 % dan terendah pada G0 yaitu sebesar 2,46 %.

Indeks Vigor (%)

Berdasarkan analisis data secara statistik diketahui bahwa perlakuan konsentrasi larutan garam NaCl, Giberelin berpengaruh tidak nyata terhadap indeks vigor. Dan berpengaruh nyata terhadap interaksi antara kedua faktor perlakuan tersebut (Lampiran 12).

Data rataan indeks vigor dalam hubungannya dengan perlakuan konsentrasi larutan garam NaCl dan Giberelin dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Rataan indeks vigor pada perlakuan Konsentrasi garam NaCl dan Giberelin

Giberelin (G) Konsentrasi Garam NaCl (N) Rataan

N0 N1 N2 N3

G0 2.10ab 2.53ab 3.54ab 2.40ab 2.64 G1 1.78ab 2.64ab 3.17ab 2.10ab 2.42 G2 3.80a 1.25c 2.53ab 2.94ab 2.63 G3 2.64ab 3.67a 1.98ab 1.55ab 2.46 Rataan 2.58 2.52 1.78 2.25

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom yang sama, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncant (DMRT) pada taraf 5 %

Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa indeks vigor tertinggi akibat perlakuan konsentrasi larutan garam NaCl terdapat pada perlakuan N0 yaitu sebesar 2,58 dan terendah pada N2 yaitu sebesar 1,78 sedangkan indeks vigor

tertinggi akibat perlakuan Giberelin terdapat pada G3 yaitu sebesar 2,64 dan terendah pada G1 yaitu sebesar 2,42. Dan interaksi tertinggi terdapat pada N0G2 3,80 dan terendah terdapat pada N1G2.

Hubungan antara indeks vigor dengan pemberian konsentrasi larutan garam NaCl dan Giberelin terhadap benih kedelai dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Indeks vigor dengan pemberian konsentrasi larutan garam NaCl dan Giberelin terhadap benih kedelai.

Persentase Keserempakan Tumbuh (%)

Berdasarkan analisis data secara statistik diketahui bahwa perlakuan konsentrasi larutan garam NaCl, Giberelin dan interaksi antara kedua faktor perlakuan tersebut berpengaruh tidak nyata terhadap persentase keserempakan tumbuh (Lampiran 13).

Data rataan persentase keserempakan tumbuh dalam hubungannya dengan perlakuan konsentrasi garam NaCl dan Giberelin dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rataan persentase keserempakan tumbuh pada perlakuan Konsentrasi garam NaCl dan Giberelin

Giberelin (G) Garam NaCl (N) Rataan N0 N1 N2 N3 G0 2.10 bc 1.25 c 2.10 bc 2.64 ab 1.81 G1 24.14 a 1.25 c 1.80 c 2.64 ab 7.73 G2 1.25 c 1.25 c 1.25 c 1.25 c 1.46 G3 2.64 bc 2.33 bc 1.80 c 4.71 ab 2.34 Rataan 7.53 1.87 1.53 2.42

Berdasarkan Tabel 4 dapat dilihat bahwa persentase keserempakan tumbuh tertinggi akibat perlakuan konsentrasi larutan garam NaCl terdapat pada perlakuan N0 yaitu sebesar 7,53 dan terendah pada N2 yaitu sebesar 1,53, sedangkan persentase keserempakan tumbuh tertinggi akibat perlakuan Giberelin terdapat pada G1 yaitu sebesar 7,73 dan terendah pada G2 yaitu sebesar 1,46.

Hubungan antara keserempakan tumbuh dengan pemberian konsentrasi larutan garam NaCl dan Giberelin terhadap benih kedelai dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Keserempakan tumbuh dengan pemberian konsentrasi larutan garam NaCl dan Giberelin terhadap benih kedelai.

Kecepatan Tumbuh (Hari)

Berdasarkan analisis data secara statistik diketahui bahwa perlakuan konsentrasi larutan garam NaCl tidak berpengaruh nyata terhadap kecepatan tumbuh , sedangkan Giberelin dan interaksi kedua faktor tersebut berpengaruh nyata terhadap parameter kecepatan tumbuh (Lampiran 14).

Data rataan kecepatan tumbuh dalam hubungannya dengan perlakuan konsentrasi larutan garam NaCl dan Giberelin dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Rataan kecepatan tumbuh pada perlakuan konsentrasi garam NaCl dan Giberelin (G)

Varietas (V) Garam NaCl (N) Rataan N0 N1 N2 N3 G0 1.71 c 2.04 c 2.78 bc 3.20 ab 2.43 G1 2.57 bc 1.87 c 2.83 bc 4.00 a 2.82 G2 2.98 ab 1.89 c 2.04 c 2.32 c 2.30 G3 2.83 bc 3.67 ab 2.44 bc 1.32 d 2.56 Rataan 2.52 2.37 2.52 2.71

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada kolom yang sama, menunjukkan berbeda nyata menurut Uji Jarak Berganda Duncant (DMRT) pada taraf 5 %

Berdasarkan Tabel 5 dapat dilihat bahwa kecepatan tumbuh tertinggi akibat perlakuan konsentrasi larutan garam NaCl terdapat pada perlakuan N3 yaitu sebesar 8,25 dan terendah pada N1 yaitu 6,75 sedangkan perlakuan Giberelin tertinggi terdapat pada G1 yaitu sebesar 9,00 berbeda tidak nyata dengan G0 dan G3 tetapi berbeda nyata dengan G2 serta terendah pada perlakuan G2 yaitu sebesar 5,75 berbeda tidak nyata dengan G0 tetapi berbeda nyata dengan G1 dan G2. Dan interaksi tertinggi terdapat pada N3G1 yaitu sebesar 16,00 dan terendah pada N3G3 yaitu 2,00.

Hubungan antara kecepatan tumbuh dengan pemberian konsentrasi larutan garam NaCl dan Giberelin terhadap benih kedelai dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4. Kecepatan tumbuh dengan pemberian konsentrasi larutan garam NaCl dan Giberelin terhadap benih kedelai.

Pembahasan

Pengaruh konsentrasi larutan garam NaCl terhadap viabilitas dan vigoritas benih kedelai

Dari hasil analisis statistik, diperoleh bahwa perlakuan pemberian larutan garam NaCl pada konsentrasi yang berbeda memperlihatkan respon yang tidak nyata pada semua parameter yaitu potensi tumbuh maksimum, daya kecambah, indeks vigor, kecepatan tumbuh dan keserempakan tumbuh. Hal ini dikarenakan garam yang terlarut pada media tumbuh lebih kecil dari pada 1000 ppm. Hal ini sesuai dengan literatur Tan (1991) dalam Delvian (2005) yang menyatakan bahwa tanah disebut bergaram jika ECs lebih dari 4 mmhos/cm. Secara alternatif, jika tanah dinyatakan dalam konteks konsentrasi garam, tanah bergaram adalah tanah yang mengandung garam lebih dari 0,1 % (1000 ppm).

0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 3,00 3,50 4,00 N0 N1 N2 N3 G ib e r e li n Nacl G0 G1 G2 G3

Pengaruh giberelin terhadap viabilitas dan vigoritas benih kedelai

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rataan potensi tumbuh maksimum tertinggi terdapat pada perlakuan pemberian giberelin 50 ppm (G1) yaitu sebesar 81,67 % dan yang terendah pada perlakuan tanpa giberelin (G0) yaitu sebesar 67,5 % (tabel 1). Hal ini karena di dalam benih kedelai terdapat giberelin sehingga dengan penambahan giberelin 50 ppm sudah mencukupi untuk kebutuhan perkecambahan benih kedelai. Hal ini sesuai dengan literatur Anonimous (2008) yang menyatakan bahwa giberelin yang terdapat di dalam biji merupakan penghubung antara isyarat lingkungan dan proses metabolik yang menyebabkan pertumbuhan embrio.

Interaksi antara konsentrasi larutan garam NaCl dan giberelin terhadap viabilitas dan vigoritas benih kedelai

Berdasarkan analisis data kecepatan tumbuh perkecambahan tercepat terdapat pada perlakuan N0G0 yaitu 1,71 hari sedangkan terlambat pada N3G1 yaitu sebesar 4 hari. Hal ini diprngaruhi oleh pemberian konsentrasi garam yang lebih tinggi sehingga menekan proses pertumbuhan tanaman, sesuai dengan literature dari Sipayung (2003) yang menyatakan bahwa salinitas juga menekan proses pertumbuhan tanaman dengan efek yang menghambat pembesaran dan pembelahan sel, produksi protein serta penambahan biomassa tanaman. Tanaman yang mengalami stres garam umumnya tidak menunjukkan respon dalam bentuk kerusakan langsung tetapi pertumbuhan yang tertekan dan perubahan secara perlahan.

Interaksi dari kedua faktor perlakuan mempengaruhi indeks vigor benih, berdasarkan analisa data yang diperoleh bahwa indeks vigor tertinggi terdapat

pada perlakuan N0G2 yaitu sebesar 3,80 % dan terendah terdapat pada N1G2 yaitu 1,25 %. Dimana pada keadaan suboptimum dapat menambah segi kelemahan benih dan mengakibatkan turunnya persentase perkecambahan serta lemahnya pertumbuhan selanjutnya. Sesuai dengan literatur Rosmarkam dan Yuwono (2002) tanaman mempunyai ketahanan yang berbeda terhadap keberadaan garam dalam tanah. Kadar kegaraman yang tinggi menyebabkan penurunan produksi tanaman yang lebih tinggi pula.

Sesuai dengan data yang diperoleh bahwa perlakuan konsentrasi NaCl dapat mengurangi vigor dan viabilitas benih kedelai, tetapi dengan adanya pemberian giberelin dapat mempengaruhi perkecambahan benih menjadi lebih cepat berkecambah

Dokumen terkait