Hasil
Kelangsungan Hidup dan Laju Pertumbuhan Ikan Nila
Kelangsungan hidup ikan nila tertinggi selama penelitian adalah pada perlakuan C (100%) diikuti oleh perlakuan B dan D (98,67%), kemudian perlakuan A (94,33%) (Gambar 2). Hasil uji statistik juga menunjukkan bahwa kepadatan kerang perlakuan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan nila (P<0,05).
Gambar 2. Kelangsungan hidup ikan nila pada setiap perlakuan selama penelitian Laju pertumbuhan bobot dan panjang harian ikan nila dapat dilihat pada Gambar 3. Berdasarkan uji statistik, kepadatan kerang perlakuan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ikan nila (P<0,05).
Gambar 3. Laju pertumbuhan bobot dan panjang rata-rata harian (%) ikan nila pada setiap perlakuan selama penelitian
20
Efisiensi Penyisihan
Efisiensi penyisihan Total N, Total P, kandungan bahan organik (TOM) dan padatan tersuspensi total (TSS) yang dihasilkan selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Efisiensi penyisihan air yang masuk dan keluar bak fiber pada setiap perlakuan selama penelitian: a). Total N, b). Total P, c). TOM, d). TSS
Efisiensi penyisihan Total N yang masuk ke bak fiber dan yang keluar bak fiber tertinggi adalah pada perlakuan C (kepadatan kerang 60 individu) yaitu sebesar 29.56% diikuti oleh perlakuan D (kepadatan kerang 90 individu) sebesar 25.39%, B (kepadatan kerang 30 individu) sebesar 16.69% dan A (tanpa kerang) sebesar 3.23% (Gambar 4). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa kepadatan kerang perlakuan berpengaruh terhadap efisiensi penyisihan Total N dari air yang masuk ke bak fiber dan yang keluar bak fiber (P<0,05).
Efisiensi penyisihan Total P yang masuk ke bak fiber kerang dan yang keluar bak fiber tertinggi adalah pada perlakuan D (kepadatan kerang 90 individu)
a)
d) c)
21
yaitu sebesar 55,25% diikuti oleh perlakuan C (kepadatan kerang 60 individu) sebesar 42,33%, B (kepadatan kerang 30 individu) sebesar 30,21% dan A (tanpa kerang) sebesar 4,31% (Gambar 4). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa kepadatan kerang perlakuan berpengaruh terhadap efisiensi penyisihan Total P dari air yang masuk ke bak fiber dan yang keluar bak fiber (P<0,05).
Efisiensi penyisihan TOM yang masuk ke bak fiber kerang dan yang keluar bak fiber tertinggi adalah pada perlakuan C (kepadatan kerang 60 individu) yaitu sebesar 22.57% diikuti oleh perlakuan D (kepadatan kerang 90 individu) sebesar 17.40%, B (kepadatan kerang 30 individu) sebesar 11.75% dan A (tanpa kerang) sebesar 6.27% (Gambar 4). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa kepadatan kerang perlakuan berpengaruh terhadap efisiensi penyisihan bahan organic (TOM) dari air yang masuk ke bak fiber dan yang keluar bak fiber (P<0,05).
Efisiensi penyisihan TSS yang masuk ke bak fiber kerang dan yang keluar bak fiber tertinggi adalah pada perlakuan C (kepadatan kerang 60 individu) yaitu sebesar 31.74% diikuti oleh perlakuan D (kepadatan kerang 90 individu) sebesar 25.39%., B (kepadatan kerang 30 individu) sebesar 20.54% dan A (tanpa kerang) sebesar 14.29% (Gambar 4). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa kepadatan kerang perlakuan berpengaruh terhadap efisiensi penyisihan TSS dari air yang masuk ke bak fiber dan yang keluar bak fiber (P<0,05).
Retensi N dan P oleh Kerang Air Tawar
Retensi N tertinggi oleh kerang berturut-turut adalah pada perlakuan C (535,83), D (361,38%), B (290,65%) dan A (248,56%) sedangkan retensi P oleh ikan nila berturut-turut adalah pada perlakuan D (644,77%), B (556,80%), A (428,78%) dan C (272,47%) (Gambar 5).
22
Gambar 5. Retensi N dan P oleh kerang air tawar (Pilsbryoconcha exilis)
Kelangsungan Hidup dan Laju Pertumbuhan Kerang Air Tawar
Kelangsungan hidup kerang air tawar tertinggi adalah pada perlakuan B (98,89%) diikuti oleh perlakuan C (88,33%) dan D (80,89%) (Gambar 6). Berdasarkan uji statistik, kepadatan kerang perlakuan mempengaruhi kelangsungan hidup kerang (P<0,05).
Gambar 6. Kelangsungan hidup kerang air tawar pada setiap perlakuan selama penelitian
Laju pertumbuhan panjang, lebar, tebal dan berat kerang air tawar dapat dilihat pada Gambar 7. Kepadatan kerang perlakuan tidak berpengaruh terhadap laju pertambahan panjang, lebar, tebal dan berat kerang air tawar (P>0,05).
23
Gambar 7. Laju pertumbuhan panjang, lebar, tebal dan berat kerang air tawar pada setiap perlakuan selama penelitian
Rasio Daging dan Cangkang pada Kerang Air Tawar
Data rasio antara daging dan cangkang pada kerang air tawar setelah perlakuan dapat dilihat pada Gambar 8.
Gambar 8. Rasio Daging dan Cangkang pada Kerang Air Tawar
Retensi N dan P oleh Ikan Nila
Retensi N tertinggi oleh ikan nila berturut-turut adalah pada perlakuan C (535,83), D (361,38%), B (290,65%) dan A (248,56%) sedangkan retensi P oleh ikan nila berturut-turut adalah pada perlakuan D (644,77%), B (556,80%), A (428,78%) dan C (272,47%) (Gambar 9).
24
Gambar 9. Retensi N dan P oleh ikan nila (Oreochromis niloticus)
Data Kualitas Air
Data kualitas air yang meliputi suhu, pH dan Oksigen terlarut pada akuarium pemeliharaan ikan nila dan bak filter kerang selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kisaran nilai kualitas air pada akuarium ikan nila dan bak filter kerang
Parameter kualitas air Kepadatan Kerang (individu)
0 30 60 90 Akuarium Suhu (⁰C) 27.5-31.20 29.2-31.00 30.1-31.00 29.4-30.5 pH 6.23-7.80 7.17-7.79 7.11-7.74 7.27-7.64 DO (mg/l) 0.81-4.66 1.19-3.47 1.47-5.00 1.42-4.17 Bak filter Suhu (⁰C) 28.3-31.5 29.6-31.2 30.1-31.2 29.5-30.9 pH 7.02-7.78 7.16-7.76 7.27-7.76 7.36-7.6 DO (mg/l) 0.6-4.13 1.1-3.36 1.47-4.53 1.29-3.56
Data kekeruhan pada akhir penelitian dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini.
Tabel 3. Data kekeruhan (NTU) di akuarium dan bak filter pada akhir penelitian
Lokasi Kepadatan Kerang (individu)
0 30 60 90
Akuarium 27,8 13,8 11,7 31,3 Bak filter 25,9 46,3 13,6 48,1
25
Pembahasan
Limbah adalah sisa suatu usaha atau kegiatan, yang mengandung bahan berbahaya atau beracun yang karena sifat, konsentrasi, atau jumlahnya, baik secara langsung atau tidak langsung akan dapat membahayakan lingkungan, kesehatan, kelangsungan hidup manusia atau makhluk hidup lainnya (Mahida 1984). Nitrogen (N) dan Fosfor (P) adalah limbah metabolisme utama yang diproduksi oleh ikan dalam budidaya perikanan intensif. Pelepasan kedua elemen ini terhadap sistem akuakultur dapat menyebabkan eutrofikasi dan mengakibatkan perubahan dalam sistem akuatik selanjutnya dapat menyebabkan penurunan produktivitas kolam budidaya. Tingkat penggunaan N dan P dalam pakan ikan dan keefisienan penggunaannya mempengaruhi pelepasan nutrien ini ke lingkungan (Lazzari dan Baldisserotto 2008) sedangkan ikan menggunakan protein untuk mendapatkan energi, tidak seperti halnya hewan terrestrial yang banyak menggunakan karbohidrat dan lipid (Hepher 1988).
Kebutuhan protein ikan sekitar dua sampai tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan mamalia. Hal inilah yang menyebabkan pelepasan limbah protein yang berasal dari pakan ikan yang diberikan akan banyak terbuang ke perairan budidaya maupun ke lingkungan sekitarnya. Produk akhir yang utama dari metabolisme protein pada ikan teleost adalah amonia. Melalui proses nitrifikasi dengan bantuan bakteri Nitrosomonas sp. amonia akan diubah menjadi nitrit dan selanjutnya dengan bantuan bakteri Nitrobacter sp. akan diubah menjadi nitrat. Produksi amonia pada ikan terutama tergantung pada protein yang masuk dan efisiensi metabolisme dari ikan, dimana species-spesifik dan dipengaruhi oleh tingkat kelarutan ammonia dalam air.
Nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan organik. Nitrogen anorganik terdiri atas ammonia (NH3), ammonium (NH4), nitrit (NO2),
nitrat (NO3), dan molekul nitrogen (N2) dalam bentuk gas. Nitrogen organik
berupa protein, asam amino dan urea. Beberapa organisme akuatik dapat memanfaatkan nitrogen dalam bentuk gas, akan tetapi sumber utama nitrogen di perairan tidak terdapat dalam bentuk gas. Nitrogen total adalah penjumlahan dari
26
nitrogen anorganik yang bersifat larut dan nitrogen organik yang berupa partikulat yang tidak larut dalam air.
Ikan dalam komposisi zat gizinya juga membutuhkan mineral dalam campuran pakannya agar ikan dapat tumbuh dengan baik. Mineral merupakan unsur anorganik yang dibutuhkan oleh organisme perairan (ikan) untuk proses hidupnya secara normal. Ikan sebagai organisme air mempunyai kemampuan untuk menyerap beberapa unsur anorganik ini, tidak hanya dari makanannya saja tetapi juga dari lingkungan. Jumlah mineral yang dibutuhkan oleh ikan sangat sedikit tetapi mempunyai fungsi yang sangat penting. Dalam penyusunan pakan buatan, mineral yang dicampur biasanya berkisar di antara 2- 5% dari total jumlah bahan baku dan bervariasi bergantung pada jenis ikan yang akan mengkonsumsinya. Walaupun sangat sedikit yang dibutuhkan oleh ikan, mineral ini mempunyai fungsi yang sangat utama dalam tubuh ikan antara lain merupakan bagian terbesar dari pembentukan struktur kerangka, tulang, gigi, dan sisik.
Mineral yang terkandung dalam tubuh ikan tergantung dari umur dan mineral yang diperoleh. Salah satu makromineral yang dibutuhkan oleh ikan adalah fosfat. Kebutuhan fosfat dalam formulasi pakan ikan hanya sekitar 0,7% pakan ikan per kilogram. Gejala kekurangan fosfor pada ikan dapat menghambat pertumbuhan, kelainan tulang, efisiensi pakan rendah (Wiramiharja et al. 2007). Penambahan fosfat dalam pakan ikan akan turut pula meningkatkan buangan limbah fosfat dalam perairan. Keberadaan fosfor secara berlebihan yang disertai dengan keberadaan nitrogen dapat menyebabkan ledakan pertumbuhan alga di perairan (algae bloom), yang selanjutnya dapat berdampak pada penetrasi oksigen dan cahaya matahari yang masuk ke perairan dan dapat menghambat pertumbuhan ikan.
Di perairan, unsur fosfor tidak ditemukan dalam bentuk bebas sebagai elemen, melainkan dalam bentuk senyawa anorganik yang terlarut (ortofosfat dan polifosfat) dan senyawa organik yang berupa partikulat. Ortofosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan akuatik, sedangkan polifosfat harus mengalami hidrolisis membentuk ortofosfat terlebih dahulu, sebelum dapat dimanfaatkan sebagai sumber fosfor. Fosfor total
27
menggambarkan jumlah total fosfor, baik berupa partikulat maupun terlarut, anorganik maupun organik.
Fosfor merupakan komponen biokimia sebagai pengubah energi di dalam sel dan terdapat dalam bentuk adenosin fosfat, yang sangat diperlukan dalam kehidupan sel. Kekurangan fosfor akan menghambat metabolisme secara keseluruhan, sehingga menyebabkan penurunan pertumbuhan biomassa. Sementara itu, nitrogen adalah merupakan bagian dari struktur protein dan asam amino yang penting untuk kehidupan.
Limbah N dan P yang terbuang ke perairan dapat dimanfaatkan oleh hewan jenis filter feeder seperti kerang air tawar (Pilsbryoconcha exilis). Kebiasaan makan kerang air tawar yaitu menyaring makanan yang masuk ke dalam tubuhnya yakni berupa diatom, alga/fitoplankton, paramecium, protozoa, zooplankton, karapas dari krustacea kecil, bakteri, detritus dan berbagai zat tersuspensi (Allen 1914). Ukuran makanan yang dapat disaring oleh kerang air tawar yakni 0,1 – 50 mm dan dapat menyaring air sebanyak 24 ml/menit/ekor.
Daging kerang mengandung asam lemak tak jenuh EPA dan DHA yang dapat meningkatkan kecerdasan otak, dan mengandung asam amino esensial (arginin, leusin dan lisin) (Suwignyo et al. 1981). Lebih lanjut kerang dari famili Unionidae ini bermanfaat secara ekologis karena mampu menjernihkan air berkat efisiensinya menyaring partikel-partikel tersuspensi dan alga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan kerang sebanyak 60 individu adalah yang terbaik menghasilkan kelangsungan hidup ikan nila yakni sebanyak 100%. Demikian pula dengan laju pertumbuhan panjang dan bobot harian ikan nila tertinggi didapat oleh perlakuan dengan kepadatan kerang 60 individu. Lebih lanjut Frid dan Dobson (2002); Benli dan Koksal (2005); Voslarova et al. (2008) menyebutkan bahwa parameter kualitas air yang cukup berpengaruh terhadap pertumbuhan dan sintasan adalah nitrit, nitrat, ammonia, oksigen terlarut dan fosfat. Hal ini mengindikasikan bahwa dengan kepadatan kerang sebanyak 60 individu adalah yang terbaik dalam menurunkan buangan limbah yang dihasilkan oleh ikan nila sehingga dapat menghasilkan kelangsungan hidup serta pertumbuhan ikan nila yang terbaik.
28
Kualitas air pemeliharaan ikan nila yang baik diindikasikan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa limbah berupa Total N, Total P, bahan organik (TOM) dan total padatan tersuspensi (TSS) dari budidaya ikan nila, secara umum dapat ditekan dengan penggunaan kerang air tawar sebagai biofilter dengan sistem resirkulasi. Efisiensi penyisihan Total N terbaik dicapai oleh kepadatan kerang 60 individu, yakni sebesar 29,56%.
Total P menggambarkan jumlah total fosfor, baik berupa partikulat maupun terlarut, anorganik maupun organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi penyisihan Total P terbaik dicapai pada perlakuan kepadatan kerang 90 individu yaitu sebesar 55,25%, namun secara umum, perlakuan kepadatan kerang efisien dalam menurunkan limbah fosfat. Kandungan fosfat dalam perairan alami dapat berasal dari pelapukan batuan mineral, dekomposisi bahan organik, limbah industri dan domestik serta limpasan dari daerah pertanian (Effendi 2003). Pada perairan budidaya, kandungan fosfat berasal dari pakan yang diberikan pada ikan. Menurut Goldman & Horne (1983), fosfor dan nitrogen merupakan unsur pembatas dalam proses eutrofikasi. Bila rasio N dan P > 12, maka sebagai faktor pembatas adalah P, sedangkan rasio N dan P < 7 maka sebagai faktor pembatas adalah N. Rasio N dan P yang berada antara 7 dan 12 menandakan bahwa N dan P bukan sebagai faktor pembatas (non-limiting factor). Ryding & Rast (1989) menyatakan bahwa perairan termasuk dalam klasifikasi eutrofik bila kandungan total N di perairan sebesar 0,393–6,100 mg/l dan bila > 6,100 mg/l perairan termasuk dalam klasifikasi hipertrofik. Dampak negatif lain dari eutrofikasi adalah meningkatnya jumlah alga yang mati dan tenggelam ke dasar perairan. Alga tersebut akan diuraikan oleh bakteri, mereduksi kandungan oksigen di dasar perairan, dapat mencapai ke tingkat yang sangat rendah untuk mendukung kehidupan organisme, sehingga menyebabkan kematian ikan.
Nilai TOM menggambarkan kandungan bahan organik total dalam suatu perairan yang terdiri dari bahan organik terlarut, tersuspensi dan koloid (Hariyadi
et al. 1992). Semua perairan alami mengandung bahan organik yang terdiri atas plankton, partikel tersuspensi bahan organik dan bahan organik terlarut (Boyd 1990). Bahan organik yang ada dalam suatu perairan budidaya dapat berasal dari sisa pakan, sisa metabolisme, pupuk serta plankton yang mati. Hasil penelitian
29
menunjukkan bahawa efisiensi penyisihan TOM antara akuarium pemeliharaan ikan nila dan bak filter kerang sebesar 22,57%. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Nugroho (2006) yang menyatakan bahwa kijing ukuran besar dapat menekan pembentukan TOM sebesar 20,80%. Hamsiah (2000) juga menyebutkan bahwa keberadaan keong bakau sebagai biofilter dapat menurunkan kadar TOM pada limbah budidaya tambak udang intensif.
Padatan tersuspensi total (TSS) adalah bahan tersuspensi dan tidak larut dalam air, tertahan pada saringan Millipore dengan diameter pori 0,45 µm (Hariyadi et al. 1992). Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi penyisihan TSS antara akuarium pemeliharaan ikan nila dan bak filter kerang sebesar 31,74%. Nugroho (2006) juga menyebutkan bahwa kijing ukuran besar dapat menurunkan nilai TSS sebesar 96,05% sedangkan Hamsiah (2000) menyatakan bahwa perlakuan dengan pemberian keong bakau (T. telescopium L.) pada limbah budidaya tambak udang intensif cenderung lebih besar menurunkan kadar TSS daripada kontrol. Penurunan kadar TSS ini diduga akibat kegiatan filter feeder oleh kerang. Kerang menyaring air dan menangkap bahan-bahan tersuspensi yang termasuk makanannya seperti plankton dan detritus. Pengurangan jumlah bahan- bahan tersebut dalam air menyebabkan nilai TSS menurun. Seperti diketahui TSS dapat meningkatkan nilai kekeruhan, yang selanjutnya akan menghambat penetrasi cahaya matahari ke kolom air dan akhirnya berpengaruh terhadap proses fotosintesis di perairan.
Menurut US-EPA (1972), pengaruh padatan tersuspensi sangat beragam, tergantung pada sifat kimia alamiah bahan tersuspensi tersebut, khususnya bahan toksik. Untuk zat padat tanpa bagian toksik yang nyata seperti tanah liat, pemisahan bahan tersuspensi serta penutupan oleh tanaman bentik dan hewan tidak bertulang belakang dapat menyebabkan angka kematian yang tinggi. Tanaman menderita abrasi dan kerusakan mekanik, hewan yang tidak bertulang belakang yang lebih kecil mati tercekik, dan hewan tidak bertulang belakang besar yang mempunyai insang akan mengalami penyumbatan pada alat penglihatan dan permukaan tubuh lainnya. Pengaruh yang berbahaya pada ikan, zooplankton, dan makhluk hidup lainnya pada prinsipnya adalah penyumbatan insang oleh partikel. Telur makhluk hidup air yang terdapat pada sedimen menderita angka kematian
30
yang tinggi. Partikel terlarut juga dapat menyebabkan kematian pada telur non bentik dengan melalui penyerapan pada permukaan telur. Kedua pengaruh tersebut mengakibatkan penurunan aliran air dan oksigen terlarut ke dalam telur (Alabaster 1980). Pengaruh keduanya terhadap perilaku ikan terjadi dalam bentuk penolakan ikan terhadap air keruh, hambatan makan dan peningkatan pencarian tempat berlindung. Selain itu kekeruhan juga mengurangi aktivitas dan mempengaruhi jalur migrasi ikan.
Nilai efisiensi penyisihan limbah Total N, Total P, TOM dan TSS yang terbaik dihasilkan oleh kepadatan kerang sebanyak 60 individu, ternyata didukung oleh data retensi N dan P terhadap daging kerang. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa retensi N tertinggi dicapai oleh kepadatan kerang 60 individu yakni sebesar 281,91% dan retensi P sebesar 1121,32%. Nilai retensi P yang cenderung lebih besar dibandingkan dengan retensi N diduga terjadi karena unsur P cenderung mengendap di dasar perairan, dimana merupakan habitat yang umum dari kerang air tawar kelompok Bivalvia. Metode penelitian yang digunakan juga menempatkan kerang air tawar di dasar bak filter sehingga cenderung menyerap unsur P lebih banyak daripada N. Menurut Nell (1983), luas permukaan epithel yang besar dari insang dan mantel kerang sangat cocok untuk menyerap nutrient secara langsung. Selama aktivitas menyaring yang normal, luas permukaan ini terbuka terhadap volume air yang besar. Sebagai akibatnya, kerang menyerap kalsium, fosfor dan trace elements dengan penyerapan langsung dari air. Penyerapan langsung nutrient organik terlarut telah ditunjukkan tapi kapasitas untuk penyerapan langsung jumlah nutrisi yang penting dari nutrien organik terlarut belum diperiksa/diuji. D-glukosa yang diberi label tritium, L-metionin, L- Lysine.HCl, myo-inositol dan kolin klorida digunakan untuk mengusut dan nutrien tanpa label ditambahkan untuk memperoleh konsentrasi yang diinginkan. Akumulasi nutrien pada jaringan kerang tergantung pada konsentrasi nutrien dalam air.
Kelangsungan hidup kerang air tawar tertinggi dicapai oleh kepadatan kerang 30 individu, yakni sebesar 98,89%,diikuti oleh kepadatan 60 (88,33%) dan kepadatan 90 (80,89%). Berdasarkan uji statistik, kepadatan kerang perlakuan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup kerang air tawar (P<0,05). Hal ini
31
diduga terjadi karena persaingan kerang dalam mendapatkan oksigen lebih sedikit pada kepadatan 30 jika dibandingkan dengan kepadatan 60 dan 90 yang menyebabkan aliran air tidak lancar. Kerang jenis Unionidae membutuhkan oksigen terlarut 3,8-12,5 mg/l, namun masih mampu bertahan dengan kadar oksigen yang sedikit dalam jangka waktu pendek. Unionidae dapat mengatur tingkat metabolisme oksigen dengan baik sehingga masih dapat hidup pada keadaan dimana kandungan oksigen dalam air sangat rendah (Hart and Fuller 1974). Hal lain yang turut pula mendukung adalah luas area bak filter yang menunjang kelangsungan hidup kerang, dimana kerang pada kepadatan 30 tidak dalam posisi bertumpuk sehingga persaingan mendapatkan partikel limbah juga lebih tinggi.
Laju pertumbuhan kerang (bobot) tertinggi didapat oleh kepadatan kerang 90, dimana hal ini diduga terjadi karena berat kerang didominasi oleh cangkang. Menurut Purnama (2009), berat total kijing lokal lebih didominasi oleh berat cangkang itu sendiri, sedangkan berat daging termasuk berat terkecil dari berat total, lebih kecil dari berat organ dalamnya. Kadar air merupakan komposisi yang paling mendominasi dari seluruh total komposisi yang dikandung oleh kijing itu sendiri. Laju pertumbuhan kerang yang diekspresikan dengan panjang, lebar dan tebal kerang tertinggi didapat oleh kepadatan 30 individu. Berdasarkan uji statistik, kepadatan kerang perlakuan tidak mempengaruhi laju pertumbuhan panjang dan bobot harian kerang air tawar (P>0,05). Hal ini dimungkinkan terjadi karena waktu penelitian yang cenderung singkat, sedangkan kerang membutuhkan waktu yang lama untuk pertumbuhan tubuhnya terutama pembentukan cangkang. Menurut Rachman (2007), laju pertumbuhan bobot kerang air tawar jenis
Margaritifera sp. selama 10 bulan pemeliharaan baru bisa mencapai di atas
0,90%.
Laju pertumbuhan panjang dan bobot harian kerang air tawar yang tidak berbeda nyata dengan kepadatan kerang perlakuan, juga diekspresikan dengan rasio antara daging dan cangkang, dimana kepadatan kerang 60 individu adalah yang terendah. Hal ini tidak berkorelasi positif dengan hasil penelitian yang sebelumnya disebutkan bahwa efisiensi penyisihan limbah terbaik dan retensi pada daging kerang tertinggi adalah pada perlakuan dengan kepadatan kerang 60
32
individu. Menurut Zonneveld et al. (1991), makanan yang diserap akan dirubah menjadi energi dan dimanfaatkan selain untuk bergerak dan pertumbuhan, juga untuk reproduksi. Kerang yang digunakan adalah kerang yang berukuran relatif besar dan sudah mencapai stadia dewasa, dimana energi banyak dimanfaatkan untuk reproduksi. Seperti diketahui, kerang adalah jenis hewan yang perkembangbiakannya tergolong cepat. Di daerah tropis seperti Indonesia, kerang dapat berkembang biak sepanjang tahun. Sekali berkembang biak keturunannya bisa 300.000 individu (Suwignyo 1975). Sementara itu menurut Suhardjo (1977), setiap kali memijah kerang dapat menghasilkan telur sebanyak 369.227-458.000 butir.
Perubahan suhu di alam seperti halnya suhu air sangat kritis mengatur kematangan gonad dan pemijahan pada kerang. Variasi suhu tahunan telah dilaporkan merupakan faktor yang utama berkaitan dengan waktu reproduksi kerang Dreissena (Ram et al. 1996).
Pada akhir penelitian, kekeruhan terendah yang terukur pada akuarium ikan nila dengan kepadatan kerang 60 individu adalah yang terendah, yakni 11,7 NTU. Hal ini turut mendukung efisiensi penyisihan TSS, dimana efisiensi tertinggi juga didapat oleh kepadatan kerang 60 individu.
Status kekeruhan sebagaimana diketahui merupakan gambaran sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh bahan organik dan anorganik baik terlarut maupun tidak terlarut seperti lumpur, pasir halus dan jasad renik. Kekeruhan sangat terkait dengan TSS. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya sistem osmoregulasi seperti pernafasan dan daya lihat organisme. Kekeruhan pada perairan tergenang lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi berupa koloid dan partikel halus. Oleh karena itu, kekeruhan yang meningkat selain dikhawatirkan mengganggu konsentrasi DO di perairan juga dikhawatirkan akan mengganggu penetrasi sinar matahari ke dalam kolom air. Perairan yang keruh akan menghambat proses fotosintesis dan pertumbuhan alga serta organisme lain yang hidup di perairan tersebut.