BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.3. Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya natrium benzoat dalam minuman isotonik dan berapa kadar natrium benzoat dalam minuman isotonik tersebut. Hasil perhitungan kadar natrium benzoat dalam satuan mg/kg seperti yang tertera pada tabel dibawah ini.
Tabel 5.1. Hasil Uji Natrium Benzoat Secara kualitatif
No Nama Sampel Kandungan natrium
benzoat
1 100 Plus Positif
2 Adams Ale Sports Drink Positif
3 Ena-O Negatif 4 Gatorade Positif 5 Hemaviton Positif 6 Hydro[fatigon] Positif 7 M-150 Positif 8 Mizone Positif
9 Pocari Sweat Negatif
10 Powerade Isotonik Positif
11 Vitazone Positif
12 You C 1000 Lemon Positif
13 Extra Joss (serbuk) Negatif
14 E-Juss (serbuk) Negatif
Pada tabel 5.1. di atas, dapat diketahui bahwa sebelas sampel mengandung natrium benzoat dan empat sampel tidak mengandung natrium benzoat. Hal ini dapat ditemukan dengan adanya reaksi positif yaitu, terdapat endapan kecokelatan pada uji dengan FeCl₃ dan reaksi negatif tidak menunjukkan endapan kecokelatan. Untuk memastikan uji kualitatif semua sampel dilakukan uji kuantitatif dengan metode titrasi menggunakan natrium hidroksida.
Table 5.2. Hasil Uji Natrium Benzoat Secara Kuantitatif No Nama Sampel Jumlah natrium
benzoat(mg/kg)
Keterangan
1 100 Plus 27, 42 Memenuhi syarat
2 Adams Ale Sports Drink 9, 71 Memenuhi syarat
3 Ena-O − Memenuhi syarat
4 Gatorade 11, 38 Memenuhi syarat
5 Hemaviton 35, 28 Memenuhi syarat
6 Hydro[fatigon] 10, 98 Memenuhi syarat
7 M-150 33, 85 Memenuhi syarat
8 Mizone 187, 20 Memenuhi syarat
9 Pocari Sweat − Memenuhi syarat
10 Powerade Isotonik 48, 82 Memenuhi syarat
11 Vitazone 6, 50 Memenuhi syarat
12 You C 1000 Lemon 8, 08 Memenuhi syarat 13 Extra Joss (serbuk) − Memenuhi syarat
14 E-Juss (serbuk) − Memenuhi syarat
Berdasarkan tabel 5.2. di atas, diketahui kandungan natrium benzoat berbeda pada sampel yang berbeda. Semua sampel memenuhi syarat iaitu tidak melebihi batas maksimum menurut Permenkes RI No.722/Menkes/Per/IX/1988 iaitu sebesar
600 mg/kg. Kandungan natrium benzoat tertinggi pada sampel minuman isotonik Mizone sebanyak 187, 20mg/kg dan terendah pada Vitazone sebanyak 6, 50mg/kg.
Table 5.3. Bahan Pengawet yang Terkandung dalam Sampel. No Nama Sampel Bahan Pengawet
Komposisi Hasil Lab 1 100 Plus Natrium Sitrat, (+) Natrium Benzoat
Natrium Klorida, Natrium Benzoat
2 Adams Ale Sports Drink Natrium Klorida (+) Natrium Benzoat 3 Ena-O Tidak Ada Pengawet (-) Natrium Benzoat 4 Gatorade Natrium Sitrat, (+) Natrium Benzoat
Natrium Klorida
5 Hemaviton Tidak Ada Pengawet (+) Natrium Benzoat 6 Hydro[fatigon] Tidak Ada Pengawet (+) Natrium Benzoat 7 M-150 Natrium Benzoat (+) Natrium Benzoat 8 Mizone Natrium Klorida, (+) Natrium Benzoat
Natrium Benzoat, Kalium Sorbat
9 Pocari Sweat Natirum Sitrat, (-) Natrium Benzoat Natrium Klorida
10 Powerade Isotonik Natrium Sitrat, (+) Natrium Benzoat Natrium Klorida
11 Vitazone Natrium Klorida, (+) Natrium Benzoat Natrium Sitrat
12 You C 1000 Lemon Natrium Klorida (+) Natrium Benzoat 13 Extra Joss (serbuk) Tidak Ada Pengawet (-) Natrium Benzoat 14 E-Juss (serbuk) Natrium Klorida (-) Natrium Benzoat 15 Pocari Sweat (serbuk) Natirum Sitrat, (+) Natrium Benzoat
Berdasarkan tabel 5.3. di atas, diketahui sepuluh sampel minuman mengandungi natrium klorida yang berfungsi sebagai pengawet dan enam dari sampel minuman tersebut mengandungi natrium sitrat yang berfungsi sebagai bahan pengawet juga. Tiga sampel mengandungi natrium benzoat dan dimasukkan dalam komposisi dan lapan sampel minuman mengandungi natrium benzoat tetapi tidak dimasukkan dalam komposisi minuman tersebut dan akhirnya, satu sampel mengandungi kalium sorbat.
5.2 Pembahasan
5.2.1. Pemeriksaan Kualitatif Natrium Benzoat Pada Minuman Isotonik
Untuk penelitian ini, reaksi esterifikasi digunakan untuk pemeriksaan kualitatif natirum benzoat. Penggunaan pengawet natrium benzoat dapat dipastikan karena terdapat endapan cokelat. Sekiranya tiada endapan, ini bermaksud pengawet natrium benzoat tidak digunakan. Lima belas sampel telah diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah Medan. Setelah eksperimen dilakukan, sebelas sampel telah dibuktikan mengandung pengawet natrium benzoat. Empat sampel lain pula tidak menggunakan pengawet natrium benzoat. Setelah pemeriksaan kualitatif dilakukan, pemeriksaan kuantitatif dilakukan untuk memastikan hasil uji kualitatif, yaitu dengan menggunakan metode titrasi. Sampel yang mengandung pengawet natrium benzoat menjadi warna merah jambu. Sampel yang tidak mengandung pengawet natrium benzoat tidak berlaku perubahan warna.
Pengawet natrium benzoat diizinkan pengunaannya dalam makanan sesuai batas maksimum yang telah ditetapkan. Batas maksimum penggunaan pengawet natrium benzoat dalam minuman menurut Permenkes Republik Indonesia No.722/Menkes/Per/IX/1988 yaitu sebesar 600mg/kg. Tujuannya adalah untuk menjaga keamanan pengkonsumsinya oleh manusia agar tidak membahayakan tubuh.
Menurut penelitian Suyetmi Zentimer, konsentrasi natirum benzoat memberikan pengaruh terhadap vitamin C, total asam, total soluble solid, viskositas dan nilai organoleptik pada minuman sari buah sirsak berkarbonasi. Penggunaan natirum benzoat meningkatkan kadar vitamin C, total soluble solid, viskositas dan nilai organoleptik tetapi menurunkan nilai total asam. Interaksi antara konsentrasi natirum benzoat dan lama penyimpanan memberikan pengaruh nyata terhadap viskositas juga. Penelitian ini menyokong penggunaan natirum benzoat untuk meningkatkan mutu bahan makanan. (Suyetmi Zentimer 2007)
5.2.2. Pemeriksaan Kuantitatif Natrium Benzoat Pada Minuman Isotonik
Metode titrasi digunakan untuk pemeriksaan kuantitatif natrium benzoat pada minuman isotonik. Sampel yang mengandung pengawet natrium benzoat menjadi berwarna merah jambu. Sampel yang tidak mengandung pengawet natrium benzoat tidak berlaku perubahan warna. Sebelas sampel telah dibuktikan mengandung pengawet natrium benzoat dan ternyata memenuhi syarat karena kurang daripada batas maksimum yang diizinkan yaitu 600mg/kg.
Penelitian yang dilakukan oleh Judika(2006) men.ganalisa tentang natrium benzoat produk kecap pada tahun 2006. Kadar kandungan natirum benzoat pada yang tertinggi adalah sebesar: 152 mg/kg dan kadar kandungan natrium benzoat terendah adalah sebesar 104 mg/kg. Hasil penelitian menunjukkan tiga sampel yang kandungan natrium benzoat pada produk kecap tidak memenuhi syarat kesehatan menurut S N I 01-3545-1994. Batas maksimum natrium benzoat yang diizinkan di dalam kecap sebesar 600 mg/kg. (Judika, 2006)
Menurut penelitian Dwi Mulyanti, terdapat perbedaan secara nyata pada kadar air, vitamin C, nilai pH, nilai total padatan terlarut, kadar natrium benzoat, dan kadar pewarna tartrazine. Penelitian pada empat merk saos tomat di mana penambahan natrium benzoat berada dibawah Standar Peraturan Menteri Kesehatan RI yaitu 600- 1000 mg/kg. Pada saos ABC (472,06 ppm), saos Eco (404,06 ppm)dan saos Del Monte (584,28 ppm). Kandungan natrium benzoat lebih rendah dibandingkan standar, hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi gangguan kesehatan akibat dari penggunaan natrium benzoat yang berlebihan. Sedangkan pada saos Lucky sudah sesuai dengan standar yaitu sebesar 676,24 ppm. Dari keempat merk saos tersebut ditinjau dari segi bahan pengawet yang digunakan layak untuk dikonsumsi.
Penggunaan bahan pengawet natrium benzoat mempunyai bahaya terutama jika digunakan dalam j u mlah yang berlebihan. Menurut Badan Pangan Dunia (FAO), pengkonsumsian natrium benzoat secara berlebihan menyebabkan menimbulkan penyakit kanker dalam jangka panjang dan ada juga laporan yang menunjukkan bahawa dapat merusak system saraf manusia pengawet bersifat menumpuk. (Awang, 2003)
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ryan Bernhardt pada tahun 2007, tentang efek natirum benzoat apabila digunnakan dengan asam askorbik. Penelitian ini membuktikan bahawa benzene diproduksi apabila hadirnya asam askorbik (Vitamin C). Asam askorbik digunakan sebagai antioksidant dalam minuman dan natirum benzoat digunakan sebagai bahan pengawet.
Kesimpulan penelitian ini adalah, minuman yang mengandungi pH asam dan asam askorbic yang tinggi akan bereaksi dengan natrium benzoat sehingga memproduksi benzene yang bersifat karsinogenik yang dapat mengakibatkan kanker. (Ryan Bernhardt, 2007)
Penelitian yang dilakukan Alimi pada tahun 1986 tentang pemberian natrium benzoat kepada tikus mencit selama 60 hari secara terus menerus, membuktikan bahwa pada pemberian natrium benzoate dengan kadar 0,2% menyebabkan sekitar 6,67% mencit putih terkena radang lambung, usus dan kulit. Sedangkan pada pemberian kadar 4% menyebabkan sekitar 40% tikus mencit menderita radang lambung dan usus kronis serta 26,6% menderita radang lambung dan usus kronis yang disertai kematian (Alimi,1986).
Selain itu, minuman isotonik yang mengandung natrium benzoat dalam jumlah yang berlebihan (tidak sesuai dengan Acceptable Dailly Intake) akan mengganggu kesehatan manusia. Natrium benzoat yang masuk ke dalam tubuh akan melewati membrane-mrmbrane tubuh dan memasuki aliran darah karena tidak ada sistem yang khusus pada manusia untuk tujuan tunggal mengenai penyerapan zat-zat kimia. Natrium benzoat cenderung di serap oleh lambung dan jika dikonsumsi dalam jumlah yang besar akan mengiritasi lambung lalu merusak organ target (hati) setelah menumpuk satu jumlah yang berlebihan (WHO, 2000).
Concise International Chemical Document (CICAD) bertujuan untuk mengenal pasti karakteristik bahan kimia dan efek apabila tereksposi pada bahan kimia tersebut. Menurut CICAD, kasus-kasus urticaria, asma, rhintis dan syok anaphilatic telah di laporkan. Konsumsi natrium benzoat secara berlebihan dapat memberikan efek buruk pada sistem persarafan sentral, hepar dan ginjal.
(CICAD 2005)