Hasil penelitian disajikan dalam bentuk analisa univariat yang menggambarkan distribusi frekuensi dari responden.
A. Gambaran Umum Daerah Penelitian
Kelurahan Kramatpela sebagian besar merupakan daerah tempat tinggal yang teratur, kecuali di lingkungan RW 09 yang merupakan daerah pemukiman padat penduduk. Kelurahan kramatpela tidak ada daerah sawah dan rawa juga tidak memiliki daerah industry berat. Luas daerah Kramatpela adalah 124 hektar dengan jumlah penduduk sebanyak 19.232 jiwa, kepala keluarga berjumlah 3.786 jiwa. RW 09 sendiri mempunyai kepala keluarga sebanyak 501 jiwa. Batas dari kelurahan ini adalah:
1. Utara: berbatasan dengan Jl. Kyai Maja dan Kelurahan Gunung
2. Timur: berbatasan dengan Jl. Panglima Polim dan Kelurahan Melawai
3. Selatan: berbatasan dengan Kelurahan Gandaria dan Kelurahan Pulo
4. Barat: berbatasan dengan kali grogol dan wilayah Kecamatan Kebayoran Lama
B. Karakteristik Responden
1. Umur
Data umur responden disajikan dalam bentuk tabel dan menggunakan data numerik.
Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Umur di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan Kebayoran Baru Tahun 2009
Variabel Mean Median SD Minimum Maksimum
Umur 37.52 36 10.032 22 73
Tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata umur responden adalah 37 tahun. Umur termuda responden adalah 22 tahun dan umur tertua responden adalah 73 tahun.
2. Pendidikan
Pada penelitian ini peneliti membagi tingkat pendidikan responden yaitu SD, SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi. Tabel 5.2 menunjukkan distribusi frekuensi responden menurut tingkat pendidikannya.
Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Tingkat Pendidikan di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan Kebayoran Baru Tahun 2009
Tingkat Pendidikan Frekuensi Prosentase %
SD 15 20,5
SLTA 31 42,5
Perguruan Tinggi 3 4,1
Total 73 100
Tabel 5.2. menunjukkan sebagian besar responden mempunyai tingkat pendidikan setingkat SLTA yaitu sebesar 42,5% dan hanya sebagian kecil responden yang memiliki tingkat pendidikan perguruan tinggi yaitu sebanyak 3 orang responden atau 4,1%.
3. Pekerjaan
Pada penelitian ini, peneliti membagi pekerjaan responden menjadi beberapa jenis pekerjaan seperti ibu rumah tangga, pegawai negeri sipil, karyawan swasta, wiraswasta, polisi, dan TNI. Dibawah ini merupakan tabel distribusi frekuensi responden menurut jenis pekerjaannya.
Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Jenis Pekerjaan di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan Kebayoran Baru Tahun 2009
Jenis Pekerjaan Frekuensi Prosentase %
PNS 3 4,1
Ibu Rumah Tangga 37 50,7
Karyawan Swasta 11 15,1
Wiraswasta 20 27,4
Polisi 2 2,7
TNI 0 0
Total 73 100
Tabel diatas dapat menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah sebagai seorang ibu rumah tangga yaitu sebanyak 37 responden atau sebesar 50,7%. Sebanyak 27,4% responden memiliki pekerjaan sebagai
seorang wiraswasta dan 15,1% responden bekerja sebagai karyawan swasta. Responden yang bekerja sebagai PNS hanya berjumlah 3 orang (4,1%) dan responden yang bekerja sebagai polisi sebanyak 2 orang (2,7%).
C. Pengetahuan Responden
Tabel dibawah ini menggambarkan seberapa jauh pengetahuan responden mengenai DBD dan pencegahannya.
Tabel 5.4. Pengetahuan Responden Mengenai DBD Dan Pencegahannya di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan Kebayoran Baru Tahun 2009
Pengetahuan Responden Frekuensi Prosentase
Penyebab DBD adalah virus dengue 1. Benar 2. Salah 42 31 57,5 % 42,5 % Nama nyamuk penyebab DBD adalah Aedes Aegypti
1. Benar 2. Salah 66 7 90,4 % 9,6 % Nyamuk Aedes hanya menggigit ketika malam hari
1. Benar 2. Salah 70 3 95,9 % 4,1 % Jarak terbang nyamuk Aedes 100M
1. Benar 2. Salah 29 44 39,7 % 60,3 % Ciri nyamuk DBD adalah loreng hitam putih
1. Benar 2. Salah 71 2 97,3 % 2,7 % Tanda awal DBD adalah demam tinggi dan timbul bintik
merah pada kulit 1. Benar 2. Salah 72 1 98,6 % 1,4 % DBD dapat menyebabkan kematian jika terlambat ditangani
1. Benar 2. Salah 72 1 98,6 % 1,4 % Tindakan pertolongan pertama pada pasien DBD adalah
berikan minum yang banyak dan kompres air dingin 1. Benar 2. Salah 63 10 86,3 % 13,7 % Sampai saat ini belum ada obat untuk DBD
1. Benar 2. Salah 35 38 47,9 % 52,1 % 3M adalah cara efektif untuk pencegahan DBD
1. Benar 2. Salah 73 0 100 % 0 % Tabel 5.4. dapat menunjukkan bahwa responden yang belum mengetahui penyebab DBD adalah virus dengue sebanyak 31 orang (42,5 %) dan 42 responden (57,5 %) mengetahui bahwa penyebab DBD adalah virus dengue. Pertanyaan mengenai nama nyamuk penyebab DBD, sebagian besar responden (90,4 %) sudah mengetahui nama nyamuk penyebab DBD dan hanya 9,6 % responden yang belum mengetahui nama nyamuk penyebab DBD. Pertanyaan mengenai waktu nyamuk penyebab DBD menggigit ketika malam hari, sebagian besar responden (95,9 %) sudah menjawab dengan tepat dan mengetahui bahwa nyamuk penyebab DBD menggigit tidak pada malam hari, sedangkan responden yang tidak mengetahui waktu nyamuk DBD menularkan virus dengue sebanyak 3 orang responden (4,1 %).
Tabel 5.4. juga menunjukkan masih banyak responden (60,7 %) yang belum mengetahui jarak terbang nyamuk penyebab DBD adalah 100M dari tempat perkembangbiakannya, sedangkan sebanyak 29 responden (39,3 %) mengetahui jarak terbang nyamuk penyebab DBD. Pertanyaan mengenai ciri-ciri nyamuk penyebab DBD, sebanyak 71 responden (97,3 %) mengetahui bahwa ciri-ciri nyamuk Aedes adalah loreng hitam putih di seluruh tubuh dan hanya 2 responden (2,7 %) yang tidak mengetahui ciri dari nyamuk Aedes. Pertanyaan tentang tanda dan gejala awal pada penderita DBD, sebagian besar responden mengetahui tanda dan gejala penderita DBD yaitu sebanyak 72 responden (98,6 %) dan hanya 1 responden yang tidak mengetahui tanda dan gejala yang dialami oleh penderita DBD.
Tabel 5.4. menunjukkan sebanyak 72 responden (98,6 %) mengetahui bahwa DBD dapat menyebabkan kematian pada penderitanya jika tidak segera mendapatkan pertolongan dan hanya 1 responden (1,4 %) yang tidak mengetahui bahwa DBD dapat menyebabkan kematian jika tidak segera mendapatkan pertolongan. Tabel 5.4. juga menunjukkan sebanyak 63 responden (86,3 %) mengetahui tindakan pertolongan pertama yang harus diberikan kepada penderita DBD dan 10 responden (13,7 %) tidak mengetahui tindakan pertolongan pertama yang harus diberikan kepada penderita DBD.
Tabel 5.4. menunjukkan masih banyak responden (38 responden) yang belum mengetahui bahwa sampai saat ini belum ada obat untuk penyakit DBD dan sebanyak 35 (47,9 %) responden mengetahui bahwa sampai saat ini tidak ada obat untuk DBD. Seluruh responden mengetahui bahwa 3M adalah cara paling efektif untuk pencegahan DBD.
Tingkat pengetahuan dalam penelitian ini dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu rendah, sedang, dan tinggi berdasarkan nilai titik potong dimana nilai terendah adalah 0 dan nilai tertinggi adalah 10. Kategori pengetahuan responden dapat dilihat pada tabel 5.5. dibawah ini.
Tabel 5.5. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Tingkat Pengetahuan di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan Kebayoran Baru Tahun 2009 Tingkat Pengetahuan Frekuensi Prosentase %
Rendah 0 0
Sedang 7 9,6
Tinggi 66 90,4
Tabel 5.5. menunjukkan sebagian besar responden atau sebanyak 66 responden (90,4 %) mempunyai tingkat pengetahuan baik, 7 responden (9,6 %) mempunyai tingkat pengetahuan sedang dan tidak ada responden yang mempunyai tingkat pengetahun yang rendah.
D. Sikap Responden Tentang Pencegahan DBD
Tabel dibawah ini akan menggambarkan sikap responden tentang pencegahan DBD.
Tabel 5.6. Sikap Responden Tentang Pencegahan DBD di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan Kebayoran Baru Tahun 2009
Sikap Responden Frekuensi Prosentase
Lingkungan rumah yang bersih akan mengurangi resiko terkena DBD
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Tidak setuju 4. Sangat tidak setuju
55 17 1 0 75,3 % 23,3 % 1,4 % 0 % Jika ada kegiatan 3M di lingkungan saya tidak akan
mengikuti kegiatan tersebut 1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Tidak setuju 4. Sangat tidak setuju
0 1 41 31 0 % 1,4 % 56,2 % 42,5 % Tempat yang dapat menampung air harus selalu
dalam keadaan tertutup 1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Tidak setuju 4. Sangat tidak setuju
32 36 5 0 43,8 % 49,3 % 6,8 % 0 % Barang bekas yang dapat menampung air hujan akan
dibiarkan saja 1. Sangat setuju 2. Setuju 1 1 1,4 % 1,4 %
3. Tidak setuju 4. Sangat tidak setuju
19 52
26 % 71,2 % Air dalam vas bunga harus diganti minimal satu kali
seminggu
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Tidak setuju 4. Sangat tidak setuju
20 38 11 4 27,4 % 52,1 % 15,1 % 5,5 % Bak tempat penampungan air dikuras satu bulan
sekali
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Tidak setuju 4. Sangat tidak setuju
4 11 38 20 5,5 % 15,5 % 52,1 % 27,4 % Tidur siang lebih baik menggunakan kelambu
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Tidak setuju 4. Sangat tidak setuju
14 52 7 0 19,2 % 71,2 % 9,6 % 0 % Menguras bak mandi jika sudah kotor saja
1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Tidak setuju 4. Sangat tidak setuju
2 2 25 44 2,7 % 2,7 % 34,2 % 60,3 % Barang bekas yang dapat menjadi tempat
perkembangbiakkan nyamuk harus dikubur 1. Sangat setuju
2. Setuju 3. Tidak setuju 4. Sangat tidak setuju
48 22 1 2 65,8 % 30,1 % 1,4 % 2,7 % Saya tidak akan menggerakkan keluarga saya untuk
melakukan 3M 1. Sangat setuju 2. Setuju 3. Tidak setuju 4. Sangat tidak setuju
2 1 35 35 2,7 % 1,4 % 47,9 % 47,9 %
Sikap responden tentang pencegahan DBD selanjutnya dibagi menjadi 2 kategori, yaitu positif dan negatif berdasarkan nilai median yang dicapai. Kategori sikap positif terdiri dari responden yang nilainya lebih besar atau sama dengan nilai median dan sikap negatif terdiri dari responden yang nilainya kurang dari nilai median. Kategori sikap dapat dilihat pada tabel 5.7.
Tabel 5.7. Distribusi Frekuensi Responden Menurut Sikap Terhadap Pencegahan DBD di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan Kebayoran
Baru Tahun 2009 Sikap Responden Tentang
Pencegahan DBD Frekuensi Prosentase % Positif 72 98,6 Negatif 1 1,4 Total 73 100
Tabel 5.7. menggambarkan hampir semua responden (72 responden) memiliki sikap positif terhadap pencegahan DBD dan hanya 1 responden yang memiliki sikap negatif terhadap pencagahan DBD.
E. Praktek Responden Tentang Pencegahan DBD
Tabel 5.8. menggambarkan praktek yang dilakukan oleh responden dalam upaya pencegahan DBD.
Tabel 5.8. Praktek Responden Terhadap Pencegahan DBD di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan Kebayoran Baru Tahun 2009
Praktek Responden Terhadap Pencegahan DBD
Ferkuensi Prosentase Menutup bak tempat penampungan air
1. Ya 2. Tidak 28 45 38,4 % 61,6 % Memberikan bubuk abate pada bak mandi
1. Ya 2. Tidak 22 51 30,1 % 69,9 % Menguras bak penampungan air minimal satu
minggu sekali 1. Ya 2. Tidak 42 31 57,5 % 42,5 % Mengganti air dalam vas bunga satu minggu sekali
1. Ya 2. Tidak 60 13 82,2 % 17,8 % Memasang kawat kassa pada ventilasi udara
1. Ya 2. Tidak 59 14 80,8 % 19,2 % Tidak membiarkan pakaian kotor bergantungan
dibelakang pintu 1. Ya 2. Tidak 6 67 8,2 % 91,8 % Memelihara ikan pemakan jentik
1. Ya 2. Tidak 15 58 20,5 % 79,5 % Menyemprotkan insektisida atau memasang obat
nyamuk bakar atau menggunakan kelambu saat tidur 1. Ya 2. Tidak 68 5 93,2 % 6,8 % Menelungkupkan barang bekas seperti ember bekas
dan kaleng bekas 1. Ya 2. Tidak 38 35 52,1 % 47,9 & Tidak membuang sampah plastik dan kaleng bekas
sembarangan 1. Ya 2. Tidak 47 26 64,4 % 35,6 %
Tabel 5.8. menggambarkan praktek yang dilakukan oleh keluarga tentang pencegahan DBD, hampir semua responden (91,8 %) membiarkan pakaian kotor bergantungan di belakang pintu dan hanya 8,2 % responden yang tidak membiarjan pakaian kotor bergantungan di belakang pintu.
Praktek responden terhadap pencegahan DBD dalam penelitian ini selanjutnya dibagi menjadi 3 kategori, yaitu kurang, cukup, dan baik berdasarkan
titik potong yang dicapai dengan nilai terendah 0 dan nilai tertinggi 10. Kategori tingkat praktek responden terhadap pencegahan DBD dapat dilihat pada tabel 5.9.
Tabel 5.9. Distribusi Responden Menurut Tingkat Prakteknya Terhadap Pencegahan DBD di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan Kebayoran
Baru Tahun 2009 Praktek responden terhadap
pencegahan DBD Frekuensi Prosentase % Kurang 18 24,7 Cukup 42 57,5 Baik 13 17,8 Total 73 100
Tabel 5.9. menggambarkan 42 responden (57,5 %) mempunyai tingkat praktek yang cukup terhadap pencegahan DBD, 18 responden (24,7%) mempunyai tingkat praktek yang kurang terhadap pencegahan DBD dan hanya sebagian kecil responden (13 responden/ 17,8 %) yang mempunyai tingkat praktek yang baik terhadap upaya pencegahan DBD.
F. Distribusi Proporsi Pengetahuan berdasarkan Pendidikan Responden Tentang DBD
Tabel 5.10. distribusi proporsi pengetahuan berdasarkan pendidikan responden tentang DBD di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan Kebayoran Baru
Tahun 2009
Tingkat Pengetahuan
n % n % n % n % SD 0 0 5 33,3 10 66,7 15 100 SLTP 0 0 2 8,3 22 91,7 24 100 SLTA 0 0 0 0 31 100 31 100 Perguruan Tinggi 0 0 0 0 3 100 3 100 Total 0 0 7 9,6 66 90,4 73 100
Tabel 5.10. menggambarkan bahwa hampir sebagian besar responden yang berasal dari tingkat pendidikan dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi tentang DBD. Dari 15 responden yang tingkat pendidikannya adalah sekolah dasar hanya 5 responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang sedang, 10 responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang DBD dan tidak ada responden yang tingkat pendidikannya sekolah dasar memiliki tingkat pengetahuan yang kurang tentang DBD. Responden yang tingkat pendidikannya SLTP dalam penelitian ini berjumlah 24 orang, hampir sebagian besar dari responden yang tingkat pendidikannya SLTP memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang DBD yaitu sebesar 22 orang (91,7%) dan hanya 2 (8,3%) responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang sedang mengenai DBD.
Responden yang tingkat pendidikannya SLTA dalam penelitian ini berjumlah 31 orang dan semuanya memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi mengenai DBD. Responden yang tingkat pendidikannya mencapai perguruan tinggi dalam penelitian ini berjumlah 3 orang dan semuanya memiliki pengetahuan yang tinggi tentang DBD.
G. Distribusi Proporsi Sikap Berdasarkan Pendidikan Responden Tentang Pencegahan DBD
Tabel 5.11. akan menggambarkan distribusi proporsi sikap berdasarkan pendidikan responden mengenai pencegahan DBD.
Tabel 5.11. distribusi proporsi sikap berdasarkan pendidikan responden tentang DBD di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan Kebayoran Baru Tahun
2009 Sikap
Negatif Positif Total
Pendidikan n % n % n % SD 1 6,7 14 93,3 15 100 SLTP 0 0 24 100 24 100 SLTA 0 0 31 100 31 100 Perguruan Tinggi 0 0 3 100 3 100 Total 1 1,4 72 98,6 73 100
Tabel 5.11. menggambarkan bahwa hampir sebagian besar responden yang berasal dari tingkat pendidikan sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi mempunyai sikap positif terhadap usaha pencegahan DBD. Hanya satu responden (1,4%) yang berasal dari tingkat pendidikan sekolah dasar memiliki sifat negatif terhadap usaha pencegahan DBD.
H. Distribusi Proporsi Praktek Berdasarkan Pendidikan Responden Tentang Pencegahan DBD
pendidikan responden tentang pencegahan DBD.
Tabel 5.12. distribusi proporsi praktek berdasarkan pendidikan responden tentang DBD di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan Kebayoran Baru
Tahun 2009 Praktek
Kurang Cukup Baik Total
Pendidikan n % n % n % n % SD 8 53,3 6 40 1 6,7 15 100 SLTP 6 25 11 45,8 7 29,2 24 100 SLTA 3 9,7 25 80,6 3 9,7 31 100 Perguruan Tinggi 1 33,3 0 0 2 66,7 3 100 Total 18 24,7 42 57,5 13 17,8 73 100
Tabel 5.12. menggambarkan bahwa responden yang memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar berjumlah 15 responden dan hampir separuhnya (8 responden / 53,3%) mempunyai tingkat praktek yang kurang terhadap pencegahan DBD, 6 responden (40%) mempunyai tingkat praktek yang cukup terhadap pencegahan DBD dan hanya 1 responden yang memiliki tingkat praktek yang baik terhadap pencegahan DBD. Responden yang memiliki tingkat pendidikan SLTP dalam penelitian ini berjumlah 24 responden dengan 6 responden (25%) mempunyai tingkat praktek yang kurang terhadap pencegahan DBD, 11 responden (45,8%) mempunyai tingkat praktek yang cukup terhadap
pencegahan DBD dan sebanyak 7 responden (29,2%) memiliki tingkat praktek yang baik terhadap pencegahan DBD.
Tabel 5.12. juga menggambarkan dari 31 responden yang memiliki tingkat pendidikan SLTA sebanyak 25 responden (80,6%) mempunyai tingkat praktek yang cukup terhadap pencegahan DBD, 3 responden (9,7%) mempunyai tingkat praktek yang kurang terhadap pencegahan DBD dan sisanya sebanyak 3 responden (9,7%) mempunyai tingkat praktek yang baik terhadap pencegahan DBD.
I. Distribusi Proporsi Pengetahuan Berdasarkan Pekerjaan Responden Tentang Pencegahan DBD
Tabel 5.13. akan menggambarkan distribusi proporsi pengetahuan berdasarkan pekerjaan responden tentang pencegahan DBD.
Tabel 5.13. distribusi proporsi pengetahuan berdasarkan pekerjaan responden tentang DBD di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan Kebayoran Baru
Tahun 2009
Tingkat Pengetahuan
Rendah Sedang Tinggi Total
Pekerjaan
n % n % n % n %
PNS 0 0 0 0 3 100 3 100
Karyawan Swasta 0 0 0 0 11 100 11 100
Wiraswasta 0 0 4 20 16 80 20 100
Ibu Rumah Tangga 0 0 3 8,1 34 91,9 37 100
Polisi 0 0 0 0 2 100 2 100
Tabel 5.13. menggambarkan responden yang mempunyai pekerjaan sebagai PNS sebanyak 3 responden, karyawan swasta sebanyak 11 responden dan polisi sebanyak 2 responden semuanya memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi tentang DBD dan pencegahannya. Responden yang mempunyai pekerjaan sebagai seorang wiraswata sebanyak 20 responden, 4 responden (20%) mempunyai tingkat pendidikan yang sedang tentang DBD dan sisanya sebanyak 16 responden (80%) memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi tentang DBD. Responden yang bekerja sebagai ibu rumah tangga sebanyak 37 responden, hanya 3 responden (8,1%) yang memiliki tingkat pengetahuan yang sedang tentang DBD dan sisanya sebanyak 34 responden (91,9%) memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi tentang DBD dan pencegahannya.
J. Distribusi Proporsi Sikap Berdasarkan Pekerjaan Responden Tentang Pencegahan DBD
Tabel 5.14. akan menggambarkan distribusi proporsi sikap berdasarkan pekerjaa responden tentang pencegahan DBD.
Tabel 5.14. distribusi proporsi sikap berdasarkan pekerjaan responden tentang pencegahan DBD di RW 09 Kelurahan Kramatpela
Kecamatan Kebayoran Baru Tahun 2009 Sikap
Negatif Positif Total
Pekerjaan
n % n % N %
PNS 0 0 3 100 3 100
Wiraswasta 0 0 20 100 20 100
Ibu rumah tangga 1 2,7 36 97,3 37 100
Polisi 0 0 2 100 2 100
Total 1 1,4 72 98,6 73 100
Tabel 5.14. menggambarkan bahwa responden yang bekerja sebagai PNS, karyawan swasta, wiraswasta, dan polisi mempunyai sikap yang positif terhadap pencegahan DBD. Responden yang bekerja sebagai ibu rumah tangga berjumlah 37 responden, hanya 1 responden (2,7%) yang mempunyai sikap negatif terhadap pencegahan DBD dan sisanya sebanyak 36 responden (97,3%) mempunyai sikap yang positif terhadap pencegahan DBD.
K. Distribusi Proporsi Praktek Berdasarkan Pekerjaan Responden Tentang Pencegahan DBD
Tabel 5.15. akan menggambarkan distribusi proporsi praktek berdasarkan pekerjaan responden tentang pencegahan DBD.
Tabel 5.15. distribusi proporsi praktek berdasarkan pekerjaan responden tentang pencegahan DBD di RW 09 Kelurahan Kramatpela Kecamatan
Kebayoran Baru Tahun 2009 Praktek
Kurang Cukup Baik Total
Pekerjaan
n % n % n % n %
PNS 0 0 1 33,3 2 66,7 3 100
Karyawan swasta 2 18,2 9 81,8 0 0 11 100
Wiraswasta 7 35 9 45 4 20 20 100
Polisi 0 0 2 100 0 0 2 100
Total 18 24,7 42 57,5 11 17,8 73 100
Tabel 5.15. menggambarkan dari 3 responden yang bekerja sebagai PNS hanya 1 responden (33,3%) yang memiliki tingkat praktek yang cukup tentang pencegahan DBD dan 2 responden (66,7%) memiliki tingkat praktek yang baik tentang pencegahan DBD. Responden yang bekerja sebagai karyawan swasta pada penelitian ini berjumlah 11 responden, 2 responden (18,2%) mempunyai tingkat praktek yang kurang tentang pencegahan DBD, 9 responden (81,8%) mempunyai tingkat praktek yang cukup tentang pencegahan DBD dan tidak ada responden yang bekerja sebagai karyawan swasta mempunyai tingkat praktek yang baik tentang pencegahan DBD.
Tabel 5.15. juga menggambarkan dari 20 responden yang bekerja sebagai seorang wiraswasta, 7 orang responden (35%) memiliki tingkat praktek yang kurang tentang pencegahan DBD, 9 responden (45%) memiliki tingkat praktek yang cukup tentang pencegahan DBD dan hanya 4 responden (20%) yang memiliki tingkat praktek yang baik tentang pencegahan DBD. Responden yang bekerja sebagai ibu rumah tangga dalam penelitian ini sebanyak 37 responden dan sebagian besar (21 responden / 56,8%) mempunyai tingkat praktek yang cukup tentang pencegahan DBD, 9 responden (24,3%) mempunyai tingkat praktek yang kurang tentang pencegahan DBD dan hanya sebanyak 7 responden (18,9%) mempunyai tingkat praktek yang baik tentang pencegahan DBD. Responden yang bekerja sebagai polisi dalam penelitian ini hanya berjumlah 2 responden dan semuanya mempunyai tingkat praktek yang cukup
tentang pencegahan DBD.
BAB VI PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan pembahasan yang meliputi interpretasi dan diskusi dari hasil penelitian, keterbatasan penelitian dan selanjutnya akan dibahas juga tentang bagaimana implikasi dari hasil penelitian untuk pelayanan keperawatan dan penelitian yang berhubungan dengan DBD.
A. Interpretasi dan Diskusi Hasil
Penelitian ini seperti sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya bertujuan untuk mengidentifikasi dan menggambarkan perilaku keluarga tentang pencegahan penyakit DBD. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Agustus 2009 di daerah RW 09 kelurahan Kramatpela dengan pengumpulan data menggunakan tekhnik wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti kepada 73 responden. Perilaku yang dimaksud dalam penelitian ini terdiri dari 3 domain, yaitu pengetahuan, sikap, dan praktek, berikut uraian hasil penelitian dari 3 domain tersebut.
1. Pengetahuan Keluarga Tentang DBD dan Pencegahannya
Notoadmodjo (2003) mengatakan bahwa pengetahuan merupakan hasil tahu yang didapatkan dari lima penginderaan individu seperti indera penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan perasa terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan keluarga dalam penelitian ini adalah keluarga mampu mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan penyakit DBD dan cara-cara pencegahannya.
Hasil penelitian didapatkan bahwa hampir sebagian besar keluarga atau sebanyak 66 keluarga (90,4 %) memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi terhadap DBD dan pencegahannya, sebanyak 7 keluarga (9,6 %) memiliki tingkat pengetahuan yang sedang terhadap DBD dan pencegahannya dan tidak ada keluarga yang memiliki tingkat pengetahuan yang rendah terhadap DBD dan pencegahannya. Hal ini dapat disimpulkan bahwa rata-rata keluarga di RW 09 Kelurahan Kramatpela mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi tentang DBD. Peneliti berpendapat bahwa tingginya tingkat pengetahuan keluarga disebabkan karena pemerintah dalam hal ini adalah Depkes RI melakukan sosialisasi informasi tentang DBD dan pencegahannya yang berupa penyuluhan melalui media cetak, media elektronik dan penyuluhan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Upaya pemerintah tersebut membuat keluarga mendapatkan informasi mengenai DBD dan pencegahannya dan secara langsung akan meningkatkan tingkat pengetahuan keluarga mengenai DBD.
Tingginya tingkat pengetahuan keluarga tentang DBD dan pencegahannya juga dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan responden. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pendidikan mayoritas responden adalah SLTA (42,5%) dimana pengetahuan dan pemahaman responden tentang usaha pencegahan penyakit DBD kemungkinan lebih baik daripada
pendidikan SD dan SLTP. Muzaham (1995) menyatakan bahwa pendidikan formal pada dasarnya akan memberikan kemampuan kepada seseorang untuk berpikir rasional dan objektif dalam menghadapi masalah hidup terutama yang berkaitan dengan penyakit DBD. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang diharapkan diikuti oleh semakin tingginya tingkat pengetahuan dan pemahaman seseorang.
Tingkat pengetahuan keluarga yang tinggi tentang DBD dan pencegahannya akan sangat mempengaruhi tugas kesehatan yang dimiliki oleh keluarga, yaitu keluarga mampu mengenal masalah kesehatan yang ada didalam keluarga. Dengan tingkat pengetahuan yang tinggi diharapkan keluarga mampu mengenali dan mengidentifikasi masalah kesehatan yang terjadi di dalam keluarga. Kesadaran akan tumbuh pada tiap anggota keluarga untuk melakukan tindakan pencegahan terhadap DBD jika keluarga sudah dapat mengenal masalah kesehatan yang berhubungan dengan DBD (Wahit, 2006).
Tingkat pengetahuan keluarga tentang DBD dan pencegahannya di RW 09 Kelurahan Kramatpela rata-rata sudah cukup tinggi, tetapi angka
kejadian DBD di daerah ini pada tahun 2008 masih cukup tinggi yaitu sebanyak 40 kasus. Hal ini disebabkan karena keluarga yang memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi terhadap DBD dan pencegahannya belum tentu memiliki tingkat ketrampilan yang baik untuk melakukan tindakan pencegahan DBD. Bloom (1987, dalam Notoadmodjo 2003) mengatakan domain perilaku dibentuk oleh 3 ranah, yaitu ranah kognitif (pengetahuan), ranah attitude (sikap), dan ranah psikomotor (praktek). Jadi pengetahuan hanya merupakan dasar atau domain terendah keluarga untuk membentuk suatu perilaku yang berkaitan dengan upaya pencegahan DBD.
WHO (1999, dalam Notoadmodjo, 2003) mengatakan bahwa pendekatan edukasi berupa pendidikan kesehatan akan lebih tepat bila digunakan untuk pembinaan dan peningkatan kesehatan di dalam keluarga karena dapat meningkatkan pengetahuan dan menimbulkan kesadaran tentang kesehatannya serta perubahan yang dicapai dapat bertahan lebih lama. Peran perawat komunitas dalam hal ini sangat diperlukan karena perawat mempunyai peran dalam upaya pencegahan primer terhadap penyakit DBD. Pencegahan primer yang dapat dilakukan oleh seorang perawat komunitas adalah dengan cara memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga secara berkala tentang pencegahan penyakit DBD. Promosi kesehatan juga dapat dilakukan melalui media atau gerakan masyarakat seperti kampanye jumat bersih dan program-program yang mengarah ke peningkatan kesadaran masyarakat akan kesehatan khususnya tentang pencegahan DBD. Tujuan dari
pencegahan primer adalah agar tidak terjadi penyakit DBD di masyarakat ataupun di dalam keluarga.
2. Sikap Keluarga Tentang Pencegahan DBD