• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

A. Analisa Data

2. Hasil Penelitian

Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan self regulated learning pada mahasiswa yang bersuku Batak Toba merantau dan non merantau di Fakultas Psikologi USU. Metode analisa data yang digunakan adalah independent sample t-test, terlebih dahulu harus dilakukan uji asumsi penelitian yang mencakup uji normalitas dan uji homogenitas varians untuk melihat apakah distribusi data penelitian masing-masing variabel telah menyebar secara normal dan populasi homogen atau tidak.

a. Hasil uji asumsi 1) Uji normalitas sebaran

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah distribusi data penelitian masing-masing variabel telah menyebar secara normal. Adapun untuk mengukur normalitas itu sendiri dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji normalitas dengan menggunakan Kolmogorov-Smirnov dapat dilihat pada tabel 9.

Tabel 9. Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov untuk Uji Normalitas Merantau Non merantau

N 60 56

Kolmogorov-Smirnov Z 0.906 0.813

Signifikansi (p) 0.384 0.524

Prosedur yang digunakan untuk melakukan interpretasi hasil uji normalitas dengan menggunakan fasilitas program SPSS 18.0 for windows adalah dengan melihat perbandingan nilai signifikansi (p) dengan nilai α (Alpha). α merupakan taraf kepercayaan. Penelitian ini menggunakan α = 0.05. Apabila nilai p < α,

maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data penelitian masing-masing variabel tidak menyebar secara normal, sedangkan apabila nilai p > α, maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data penelitian masing-masing variabel telah menyebar secara normal.

Dari data yang diperoleh pada tabel 9, menunjukkan bahwa nilai Z untuk mahasiswa merantau adalah 0.906 dengan nilai p = 0.384, yang artinya p > 0.05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa distribusi data penelitian pada mahasiswa yang merantau telah menyebar secara normal. Demikian pula pada mahasiswa non merantau memiliki nilai Z sebesar 0.813 dengan nilai p = 0.524 yang artinya p > 0.05 sehingga dapat disimpulkan bahwa distribusi data penelitian pada mahasiswa non merantau telah menyebar secara normal. Pengujian normalitas dapat dilihat selengkapnya pada lampiran.

2. Uji Homogenitas varians

Uji homogenitas varians dilakukan untuk memeriksa apakah varians dari kedua kelompok adalah sama. Adapun untuk mengukur homogenitas varians itu sendiri dengan menggunakan Anava melalui Levene Statistic. Prosedur yang digunakan untuk melakukan interpretasi hasil uji homogenitas adalah dengan melihat perbandingan nilai signifikansi (p) dengan nilai α (Alpha).

Apabila nilai p < α, maka disimpulkan bahwa varians pada subjek penelitian adalah tidak sama atau tidak homogen, sedangkan apabila nilai p > α, maka disimpulkan bahwa varians pada subjek penelitian adalah sama atau homogen. Hasil Levene Statistic untuk uji homogenitas varians terlihat pada tabel 10.

Tabel 10. Hasil Levene Statistic untuk Uji Homogenitas Varians Levene Statistic df1 df2 Sig.

1.777 1 114 0.185

Dari data yang diperoleh pada tabel 10, maka dapat dilihat bahwa nilai p sebesar 0.185 yang artinya p > α. Dapat disimpulkan bahwa varians dari sampel penelitian ini sama atau homogen.

b. Hasil Penelitian

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan self regulated learning pada mahasiswa yang bersuku Batak Toba merantau dan non merantau di Fakultas Psikologi USU. Metode analisa data yang digunakan adalah independent sample t-test. Untuk melakukan pengujian statistik dilakukan perumusan hipotesis statistik, yaitu :

1. Ho : µ1= µ2, artinya tidak ada perbedaan self regulated learning pada mahasiswa yang bersuku Batak Toba merantau dan non merantau di Fakultas Psikologi USU

2. Ha : µ1≠ µ2, artinya ada perbedaan self regulated learning pada mahasiswa yang bersuku Batak Toba merantau dan non merantau di Fakultas Psikologi USU

Kriteria Ho ditolak jika p < α ; α = 0.05. Hasil perhitungan statistik uji-t yang diperoleh lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel 11.

Tabel 11. Hasil Uji Independent Sample t-test Mahasiswa merantau dan non merantau yang bersuku Batak Toba di psikologi USU

Variabel t Df Sig Mean

Difference Std. Error Difference Self regulated learning 2.043 114 0.185 5.919 2.897

Dari tabel 11 dapat digambarkan bahwa hasil analisis uji-t diperoleh nilai signifikansi sebesar 0.185 (p > 0.05) maka dapat diambil kesimpulan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan self regulated learning pada mahasiswa yang bersuku Batak Toba merantau dan non merantau di Fakultas Psikologi USU. Berdasarkan hasil dari data statistik deskriptif nilai rata-rata yang diperoleh pada mahasiswa yang bersuku Batak Toba merantau dan non merantau di Fakultas Psikologi pada tabel 12.

Tabel 12. Perbandingan Nilai rata-rata Mahasiswa merantau dan non merantau yang bersuku Batak Toba di Fakultas Psikologi USU

Status N Mean Std. Deviation Std. Error Mean SRL Merantau 60 160.88 13.595 1.755 Non merantau 56 154.96 17.480 2.336

Dari tabel 12 dapat dilihat nilai rata-rata self regulated learning mahasiswa merantau lebih tinggi daripada mahasiswa non merantau yaitu 160.88 pada mahasiswa merantau dan 154.96 pada mahasiswa non merantau.

B. Pembahasan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan self regulated learning pada mahasiswa bersuku Batak Toba yang merantau dan non merantau di Fakultas Psikologi USU dengan nilai p = 0.185 (p > 0.05). Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesa yang diajukan ditolak. Hal ini dapat disebabkan karena beberapa hal. Pertama, pada mahasiswa yang bersuku Batak Toba merantau di fakultas Psikologi dalam proses belajarnya tidak terlalu menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan proses belajar yang dialami mahasiswa non merantau.

Berdasarkan hasil observasi ditemukan bahwa mahasiswa suku Batak Toba yang merantau menghadapi lebih banyak perubahan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-harinya tetapi dalam proses belajar mahasiswa yang merantau dan non merantau mendapat tuntutan yang sama dari fakultas sehingga mahasiswa merantau dan non merantau menunjukkan motivasi belajar yang sama dalam belajar untuk mendapatkan prestasi akademik yang memuaskan. Mahasiswa merantau, akan mengalami penyesuaian diri dalam lingkungan tempat tinggal dan kampus. Dalam proses penyesuaian diri kebanyakan mahasiswa merantau mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi di dalam kampus maupun di luar kampus. Mahasiswa bersuku Batak Toba yang merantau tetap dapat meningkatkan hasil belajar mereka, walaupun dengan banyaknya kegiatan-kegiatan yang diikuti diluar kampus.

Kedua, mahasiswa yang merantau akan tinggal di tempat perantauan berarti terpisah dengan orangtua dan harus tinggal dengan orang lain yang berbeda daerah, mereka juga harus berusaha mengatasi segala sesuatunya sendiri seperti mengurus

pakaian, manajemen keuangan, mengatur kamar, membagi waktu bermain termasuk memotivasi diri sendiri untuk mencapai keberhasilan dalam kuliahnya tanpa dukungan dari orangtua atau keluarga secara langsung. Tetapi walaupun mahasiswa non merantau tidak mengalami perubahan lingkungan fisik mereka tetap menerapkan self regulated learning dalam proses belajar dikarenakan adanya dukungan langsung dan pengawasan keluarga, Parmawati (2007).

Dalam penelitian yang dilakukan mengenai self regulated learning telah dikaji berdasarkan keterlibatan orangtua terhadap prestasi akademik. Hasilnya menunjukkan bahwa keterlibatan orangtua dapat meningkatkan self regulated learning anaknya sehingga prestasi akademiknya meningkat. Orangtua mengajarkan dan mendukung self regulated learning melalui modeling, memberi dorongan, memfasilitasi, me-reward, goal setting, penggunaan strategi yang baik dan proses-proses lainnya Martinez-Pons (dalam Latifah, 2010).

Ketiga, dari situasi belajar, mahasiswa merantau dan non merantau dituntut untuk dapat mengikuti setiap materi perkuliahan yang telah ditetapkan, baik dalam sekolah, akademik maupun universitas mahasiswa harus dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan belajar, kebanyakan mahasiswa tidak mampu dalam mengatur waktunya yang mengakibatkan terganggunya proses belajar dan kurang memahami metode atau strategi belajar yang efektif (Muljono, 1999). Cobb (2003) juga mengemukakan bahwa dengan menerapkan self regulated learning para peserta didik akan cenderung lebih efisien mengatur waktunya dan efektif dalam belajar. Mahasiswa merantau dan non merantau juga seharusnya dapat mengembangkan self

regulated learning lebih efektif dalam kehidupannya sehingga dapat terjadi peningkatan motivasi belajar pada diri mahasiswa.

Keempat, pada penelitian ini hanya membandingkan mahasiswa suku Batak Toba yang merantau dan non merantau dalam satu fakultas saja. Hal ini mungkin menjadi penyebab tidak adanya perbedaan self regulated learning pada kedua kelompok tersebut, dikarenakan jumlah mahasiswa tidak banyak dan luas, dengan proses dan tuntutan belajar yang sama, kualitas belajar dan pengajaran didapat dalam kelompok tersebut cenderung sama. Para mahasiswa baik merantau dan non merantau di fakultas Psikologi mungkin dituntut untuk menerapkan kualitas belajar yang baik. Oleh karena itu, dalam proses belajarnya mahasiswa yang merantau dan non merantau pada penelitian ini sama-sama menerapkan self regulated learning dalam proses belajanya yaitu mahasiswa menjadi pengatur untuk belajarnya sendiri, dengan mengatur kognisi, perilaku dan lingkungan belajar sehingga dapat meningkatkan prestasi akademik (Zimmerman & Martinez-Pons, 1990). Namun peneliti masih perlu membuktikan dengan melakukan penelitian lanjutan yaitu mengambil sampel penelitian seluruh mahasiswa yang ada di Universitas Sumatera Utara.

Hasil penelitian yang dilakukan Kyung (1992) pada mahasiswa Virginia menunjukkan bahwa pada umumnya mahasiswa merantau lebih responsif terhadap kualitas pendidikan pada satu institusi sedangkan non merantau cenderung lebih mempertimbangkan faktor biaya untuk pendidikan mereka. Dalam penelitiannya juga menunjukkan bahwa mahasiswa merantau lebih berbakat dalam hal akademis, lebih tergantung pada beasiswa dan memiliki harapan yang lebih tinggi pada pendidikan.

Fenske (Dalam Kyung, 1992) juga menemukan bahwa mahasiswa merantau cenderung berbakat dalam akademis berdasarkan prestasi akademik (IPK) dibadingkan mahasiswa non merantau. Hal ini dapat dipengaruhi oleh faktor sosial budaya, dimana mahasiswa merantau yang berada di Virginia berasal dari sosial budaya yang menengah kebawah sehingga menyebabkan mereka harus berkompetisi untuk mendapatkan prestasi akademik yang baik, walaupun tanpa dukunga langsung dari orangtuanya, berbeda halnya dengan mahasiswa yang non merantau mereka mendapat fasilitas dari orangtua maupun keluarga secara langsung sehingga menyebabkan mereka lebih mudah dalam proses belajar, Kyung (1992).

Berdasarkan apa yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang merantau dan non merantau menerapkan proses belajar yang sama sehingga ketika dihadapkan pada situasi apapun baik merantau maupun tidak merantau mereka tetap dapat mengatur perilaku dan lingkungan belajar dengan efektif. Berbagai hasil penelitian menggambarkan pentingnya keterampilan self regulated learning dimiliki oleh mahasiswa karena berkorelasi dengan usaha belajar yang efektif dan efisien. Selanjutnya akan diperoleh tingkat kepuasan akademik yang lebih tinggi yaitu prestasi akademik (Zimmerman, 1990).

BAB V

Dokumen terkait