Penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah ANC kurang dari 4 kali meningkatkan risiko terjadinya persalinan patologis. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan software SPSS diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4.1. Distribusi Subyek Penelitian Menurut Umur Umur (tahun) Frekuensi Persentase
< 27 132 40,6 %
≥ 27 198 58,4 %
Total 330 100 %
Tabel 4.1. menunjukkan gambaran distribusi penelitian menurut umur. Dari
tabel 4.1. tampak umur responden terbanyak adalah umur ≥ 27 (58,4%).
Tabel 4.2. Distribusi Subyek Penelitian Menurut Paritas
No. Paritas Frekuensi Persentase
1. Primigravida 114 34,5%
2. Multigravida 205 62,2%
3. Grandemultigaravida 11 3,3%
Total 330 100%
Tabel 4.2. menunjukkan gambaran distribusi penelitian menurut paritas. Dari tabel 4.2. tampak paritas yang terbanyak adalah multigravida (62,2%).
commit to user
20
Tabel 4.3. Distribusi Subyek Penelitian Menurut Jenis Pekerjaan Ibu Hamil
No. Pekerjaan Frekuensi Persentase
1. IRT 194 59%
2. Swasta 67 19,5%
3. PNS 28 9%
4. Wiraswasta 41 12,5%
Total 330 100%
Tabel 4.3. menunjukkan gambaran distribusi penelitian menurut jenis pekerjaan. Dari tabel 4.3 tampak pekerjaan responden yang terbanyak adalah yang bekerja sebagai IRT sebanyak 194 orang (59%) sedangkan terendah adalah yang bekerja sebagai PNS sebanyak 28 orang (9%).
Tabel 4.4 Distribusi Subyek Penelitian Menurut Tingkat Pendidikan Ibu Hamil
No. Tingkat pendidikan formal bumil Frekuensi Persentase
1 Rendah 83 25%
2 Menengah 214 65%
3 Tinggi 33 10%
Total 330 100%
Tabel 4.4. menunjukkan gambaran distribusi penelitian menurut tingkat pendidikan formal ibu hamil. Dari tabel 4.4 tampak responden dengan tingkat pendidikan rendah sebanyak 83 orang (25%), tingkat pendidikan menengah sebanyak 214 orang (65%), dan tingkat pendidikan tinggi sebanyak 33 orang (10%).
commit to user
21
Tabel 4.5. Hasil Analisis Antenatal Care (ANC) Kurang Dari 4 kali Meningkatkan Risiko Persalinan Patologis
Frekuensi ANC Persalinan Patologis Jumlah Ya Tidak f % F % 4 kali 37 22,8% 128 77,2% 165 100% < 4 kali 111 67,3% 54 32,7% 165 100% Total 148 44,8% 182 55,2% 330 100% Keterangan: RR : 5,2 ; CI (95%) : 3,2 – 8,2 ; P: 0,0
Berdasarkan tabel 4.5. tersebut dapat diperoleh beberapa informasi bahwa secara deskriptif, dari 165 ibu yang melakukan kunjungan ANC sebanyak 4 kali terdapat 37 ibu (22,8%) yang mengalami persalinan patologis, lebih sedikit dibandingkan yang tidak mengalami persalinan patologis yaitu sebanyak 128 ibu (77,2%). Adapun dari 165 ibu yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 4 kali terdapat 111 ibu (67,3%) yang mengalami persalinan patologis, lebih banyak dibandingkan yang tidak mengalami persalinan patologis yaitu sebanyak 54 ibu (32,7%). Secara keseluruhan terdapat 148 ibu (44,8%) yang mengalami persalinan patologis dan 182 ibu (55,2%) yang tidak mengalami persalinan patologis.
Berdasarkan angka deskriptif dapat dilihat bahwa ibu yang melakukan kunjungan ANC 4 kali tidak mengalami persalinan patologis, sedangkan ibu yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 4 kali mengalami persalinan patologis.
Pengujian statistik (dengan Mantel-Haenszel Chi Square Test) menghasilkan
angka probabilitas atau signifikansi (P) sebesar 0,0. Angka ini signifikan pada taraf signifikansi 5% (0,000 < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi ANC dengan persalinan patologis.
Sesuai dengan analisis berdasarkan angka-angka deskriptif, diketahui bahwa ibu yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 4 kali memiliki risiko lebih besar
commit to user
22
untuk mengalami persalinan patologis. Besarnya perbandingan peluang kejadian persalinan patologis dari kedua kelompok ibu dapat diketahui berdasarkan nilai RR
(Relative Risk). Perhitungan menghasilkan nilai RR sebesar 5,2 yang berarti bahwa
ibu yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 4 kali beresiko mengalami persalinan patologis 5,2 kali lebih besar dibandingkan ibu yang melakukan kunjungan ANC 4 kali.
Oleh karena angka RR dihitung berdasarkan data sampel maka tidak bisa dikatakan sebagai angka resiko sebenarnya. Angka resiko yang sebenarnya
dinyatakan dalam rentang nilai menurut tingkat kepercayaan (Confidence Interval
atau CI) tertentu. Penelitian ini menggunakan taraf signifikansi 5% sehingga besarnya tingkat kepercayaan adalah 95%. Dengan tingkat kepercayaan 95% diperkirakan angka resiko (RR) berkisar antara 3,228 hingga 8,250. Hal ini berarti bahwa ibu yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 4 kali beresiko mengalami persalinan patologis kira-kira 3 sampai 8 kali lebih besar dibandingkan ibu yang melakukan kunjungan ANC 4 kali.
commit to user
23
BAB V PEMBAHASAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional retrospektif, dengan
menggunakan rancangan retrospektif cohort study. Untuk meneliti apakah ANC
kurang dari 4 kali meningkatkan risiko terjadinya persalinan patologis. Dari hasil penelitian ini ,secara retrospektif didapatkan dari 165 ibu yang melakukan kunjungan ANC sebanyak 4 kali terdapat 37 ibu (22,8%) yang mengalami persalinan patologis, lebih sedikit dibandingkan yang tidak mengalami persalinan patologis yaitu sebanyak 128 ibu (77,2%). Adapun dari 165 ibu yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 4 kali terdapat 111 ibu (67,3%) yang mengalami persalinan patologis, lebih banyak dibandingkan yang tidak mengalami persalinan patologis yaitu sebanyak 54 ibu (32,7%). Secara keseluruhan terdapat 148 ibu (44,8%) yang mengalami persalinan patologis dan 182 ibu (55,2%) yang tidak mengalami persalinan patologis. Berdasarkan angka deskriptif dapat dilihat bahwa ibu yang melakukan kunjungan ANC 4 kali cenderung tidak mengalami persalinan patologis, sedangkan ibu yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 4 kali mengalami persalinan patologis.
Sesuai dengan penelitian Husin, 1997 yang menyebutkan bahwa dengan ANC diharapkan persalinan berlangsung dengan aman. Selain itu, menurut departemen kesehatan diharapan dengan adanya ANC kehamilan dan persalinan di Indonesia
berlangsung aman, serta bayi yang dilahirkan hidup dan sehat.
Sedangkan angka kejadian persalinan patologis dapat juga terjadi pada ibu yang melakukan kunjungan ANC 4 kali, yaitu sebanyak 37 kasus (22,8%). Hal ini bisa terjadi kemungkinan oleh karena beberapa faktor risiko seperti : a) faktor sosiodemografi yaitu usia, dan pendidikan ibu b) faktor cakupan distribusi ANC c) riwayat kehamilan seperti paritas.
Tampak perbedaan yang bermakna dengan angka probabilitas atau
signifikansi (P) sebesar 0,0, Relative Risk : 5,2. Angka ini signifikan pada taraf
commit to user
24
yang signifikan antara frekuensi ANC dengan tindakan persalinan patologis. Hal ini menunjukkan bahwa ibu yang melakukan kunjungan ANC kurang dari 4 kali mempunyai risiko persalinan patologis yang lebih besar.
Di Eropa terdapat beberapa variasi frekuensi kunjungan asuhan antenatal. Belanda menerapkan 12 sampai 14 kali kunjungan sedangkan Luxemburg hanya
menerapkan 5 kali kunjungan. Menurut NICE (National Institute for Clinical
Exelence) Inggris menerapkan 10 kali kunjungan pada wanita nulipara dan 7 kali
pada wanita yang pernah melahirkan sebelumnya. Survei terbaru di Skotlandia mengungkapkan bahwa rata – rata jumlah kunjungan asuhan antenatal wanita dengan risiko rendah adalah 14 kali. Di Swedia jumlah yang direkomendasikan 16 kali dan di Finlandia 15 kali (James D., 1996).
Cakupan ANC di Indonesia menurut SDKI 2002 – 2003 adalah sebesar 96%, sedangkan ibu hamil yang mendapatkan kunjungan antenatal yang diharapkan adalah 64% (Badan Pusat Statistik dan ORC Macro, 2003).
Penyebab kurangnya pencapaian target kunjungan Ibu hamil dalam ANC ini tentu saja sangat kompleks, namun sebagian besar berkaitan dengan faktor penyedia
pelayanan ANCdi satu pihak dan ibu hamil di lain pihak. Secara umum dalam tulisan
ini adalah dalam rangka membantu memperoleh kejelasan bagaimana gambaran
hubungan pemanfaatan pelayanan antenatal dengan faktor karakteristik Ibu hamil,
dengan faktor sarana dan prasarana pelayanan antenatal, serta beberapa faktor lain
yang bersifat penguat seperti sikap tokoh masyarakat dan petugas kesehatan, aturan dan sebagainya.
Di negara berkembang, program ANC yang secara rutin direkomendasikan jarang diimplementasikan dan kunjungan yang dilakukan dapat tidak teratur, dengan
waktu yang menunggu yang lama dan feedback yang buruk. Tujuan dari asuhan
antenatal yang terkini adalah membatasi jumlah kunjungan ke klinik, tes yang
dilakukan, prosedur klinik, dan tindakan follow-up yang terbukti melalui penelitian
commit to user
25
Dalam memberikan penyuluhan melalui ANC, bidan atau petugas kesehatan sebaiknya memberikan informasi yang mencakup deteksi dini, konseling,
peningkatan kesehatan (health promotion), persiapan persalinan, dan kesiapan apabila
terjadi suatu komplikasi. (Depkes, 1991)
Informasi penting yang diberikan dalam kunjungan ibu hamil pada trimester pertama, atau sebelum minggu ke 14, yakni membangun hubungan saling percaya antara bidan dan ibu agar supaya hubungan penyelamatan jiwa bisa dibina bilamana perlu, mendeteksi masalah yang bisa diobati sebelum menjadi bersifat mengancam jiwa, mencegah masalah seperti neonatal tetanus, anemia kekurangan zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan, memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi, dan mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat dan sebagainya). (Pusdiknakes, 2002)
Informasi penting yang diberikan dalam kunjungan ibu hamil pada trimester kedua, atau sebelum minggu ke 28, yakni sama seperti dalam kunjungan pada
trimester pertama, ditambah kewaspadaan khusus mengenai PIH(Pregnancy Induced
Hypertension) (tanya ibu tentang gejala PIH, pantau tekanan darahnya, evaluasi
edemanya, periksa untuk mengetahui protein urine). (Pusdiknakes, 2002)
Informasi penting yang diberikan dalam kunjungan ibu hamil pada trimester ketiga, atau antara minggu ke 28 dengan 36, yakni sama seperti dalam kunjungan pada trimester sebelumnya, ditambah palpasi abdomen untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda. (Pusdiknakes, 2002)
Informasi penting yang diberikan dalam kunjungan ibu hamil pada trimester keempat, atau setelah 36 minggu, yakni sama seperti dalam kunjungan pada trimester sebelumnya, ditambah pendeteksian letak bayi yang tidak normal, atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit. (Pusdiknakes, 2002)
Strategi MPS yang digalakkan pemerintah meliputi tiga pesan kunci, yakni
setiap persalinan harus ditolong tenaga medis, setiap komplikasi persalinan harus ditangani tenaga adekuat (dokter ahli) dan setiap wanita usia subur harus mempunyai akses pencegahan kehamilan dan penanganan komplikasi keguguran. Pada
commit to user
26
pelaksanaannya, strategi ini terbentur pada keterbatasan jumlah tenaga yang berkualitas dan berbagai kendala lainnya.
Selain itu juga disampaikan agar ibu hamil dapat meningkatkan dan menjaga baik fisik, mental, kesehatan sosial ibu dan janin dengan memberikan pendidikan tentang nutrisi, kebersihan perorangan dan tentang proses kelahiran, mendeteksi dan menangani jika terdapat komplikasi selama kehamilan dengan memberikan pengobatan maupun tindakan, menyiapkan proses kelahiran dan membuat rencana tindakan apabila terdapat komplikasi, serta membantu ibu menyiapkan proses menyusui, menghadapi masa nifas, dan merawat bayi. (Bernstein P., et all, 2000).
Oleh karena itu ANC penting untuk menjamin agar proses alamiah tetap berjalan dengan normal selamam kehamilan. WHO memperkirakan bahwa sekitar 15% dari seluruh wanita yang hamil akan berkembang menjadi komplikasi yang berkaitan dengan kehamilan dan jiwanya. Selain itu ANC mempunyai tujuan utama mempersiapkan ibu dan bayinya dalam keadaan sehat dengan cara membangun hubungan saling percaya dengan ibu, deteksi dini tanda bahaya dalam kehamilan, dan mempersiapkan persalinannya.
Pengembangan diarahkan sedemikian rupa sehingga seluruh masyarakat, terutama ibu hamil, dapat dengan mudah dan cepat menjangkaunya termasuk biaya yang harus dikeluarkan oleh mereka. Seiring dengan pengembangan komunikasi, informasi, dan edukasi dalam hal pelayanan ibu hamil, terdapat beberapa hal penting seperti pengetahuan, sikap dan perilaku positif pelaksana pelayanan beserta masyarakat. (Pusdiknakes, 2002)
Literatur dan beberapa hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan
faktor predisposisi (predisposing factors) yang terwujud dalam pendidikan, jumlah
anak, pendidikan suami, umur, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan ibu hamil dan
keahlian petugas kesehatan dengan pemanfaatan pelayanan antenatal care di sarana
kesehatan pada umumnya bervariasi.
Pada penelitian ini masih terdapat beberapa faktor bias yang dapat mempengaruhi hasil sehingga dapat menjadi kelemahan pada penelitian ini. Oleh
commit to user
27
karena itu untuk menguranginya kemungkinan dapat lebih baik dengan menggunakan
faktor matching. Akan tetapi mempunyai risiko dalam hal menentukan subyek
penelitian dan waktu penelitian. Literatur menyebutkan selain dengan matching,
faktor bias dapat dikurangi dengan cara memasukkan faktor inklusi dan eklusi sekaligus menaikkan jumlah sampelnya. Hal tersebut telah dilakukan pada penelitian ini. (Sastroasmoro, 1995)
commit to user
28
BAB VI