HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
3. Hasil penelitian berdasarkan wawancara
a. Penerapan Tradisi Kebudayaan Masyarakat Adat terhadap Haroa di Desa Talaga II Kecamatan Talaga Raya Kabupaten Buton Tengah.
1) Bagaimana pendapat anda jika adat Haroa ini kemudian punah dan bagaimana solusinya ?
Menurut Informan I selaku warga desa talaga mengatakan bahwa:
“menurut saya, jika adat Haroa ini punah maka masyarakat akan kehilangan rasa kebersamaan, rasa untuk berbagi, dan bahkan kehilangan rasa cinta karena lupa akan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan sosuli yang dapat diterapkan seperti mengajarkan sejak dini tentang adat Haroa, mengikut sertakan pemudanya dalam penyelenggaraan Haroa agar bisa dijadikan pelajaran dalam menghadapi tantangan masa depan”. (Hasil wawancara pada tanggal 17 oktober 2019 pukul 16.00 WITA)
Informan II menambahkan bahwa:
“Jika adat Haroa punah, salah satunya dapat mengurangi tali silaturahmi serta sosialisasi yang terjadi di dalam masyarakat talaga. Dan solusinya adalah masyarakat yang sudah kenal atau paham dengan pelaksanaan adat Haroa yaitu dengan mengajarkan kepada generasi berikutnya bahwa masyarakat talaga selalu melaksanakan adat Haroa disetiap tahunnya”. (Hasil wawancara pada tanggal 20 oktober 2019 pukul 16.00 WITA)
Informan III menambahkan bahwa:
“Jika adat Haroa ini kemudian punah maka generasi berikutnya tidak akan mengetahui tradisi atau budaya yang diperingati setiap tahunnya, dan berkurangnya kekompakan antara masyarakat talaga, jadi solusinya tradisi ini harus dilestarikan agar generasi berikutnya dapat mengetahui sejarah di kampung ini”. (Hasil wawancara pada tanggal 16 oktober 2019 pukul 10.00 WITA)
Jadi dapat disimpulkan bahwa adat Haroa sangat penting dilaksanakan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw dan dijadikan sebagai salah satu cara untuk selalu menjaga tali
57
silaturahim dengan sesama dan apabila adat Haroa ini punah maka masyarakat akan kehilangan budaya dan kearifan lokal.
2) Apa sajakah persiapan yang dilakukan masyarakat talaga sebelum melaksanakan adat Haroa ?
Menurut Informan I selaku warga masyarakat desa talaga mengatakan bahwa:
“Sebelum pelaksanaan adat Haroa memang sudah ditentukan hari dan tanggalnya dalam setiap tahunnya, dan menyiapkan apa saja syarat-syarat yang harus ada dalam adat Haroa sekaligus menentukan hari bagi masyarakat yang akan melaksanakan adat Haroa”. (Hasil wawancara pada tanggal 13 oktober 2019 pukul 16.00 WITA)
Informan II menambahkan bahwa :
“Persiapan yang dilakukan sebelum melaksanakan adat Haroa yaitu menunggu tanggal yang baik atau tanggal yang sudah ditentukan sebelumnya, memanggil lebbe (pemimpin upacara adat Haroa), memanggil kerabat-kerabat terdekat, menyediakan makanan khas adat”. (Hasil wawancara pada tanggal 19 oktober 2019 pukul 16.20 WITA)
Informan III menambahkan bahwa:
“Persiapan sebelum melaksanakan Haroa yaitu menyiapkan perlengkapan, mempersiapkan makanan, hidangan dengan bermacam bentuk seperti kue kering, makanan yang wajib dihidangkan seperi pisang goreng, dll. Makanan yang telah disiapkan disimpan disebuah nampan yang cukup besar”. (Hasil wawancara pada tanggal 17 oktober 2019 pukul 16.00 WITA) Jadi dapat disimpulkan bahwa sebelum melaksanakan adat Haroa memang sudah ditentukan hari dan tanggal yang baik untuk pelaksanaannya, mempersiapkan makanan khas adat yang akan disajikan atau dihidangkan pada saat pelaksanaan adat Haroa seperti kue kering, makanan yang wajib dihidangkan seperti pisang goreng dll dan
58
memanggil lebbe (pemimpin upacara adat Haroa), dan para kerabat terdekat untuk menghadiri acara pelaksanaan adat Haroa tersebut.
3) Bagaimana pasrtisipasi masyarakat talaga pada saat proses pelaksanaan adat Haroa ?
Menurut Informan I sebagai masyarakat desa talaga II mengatakan
“Partisipasi masyarakat desa talaga II pada saat proses pelaksanaan adat Haroa sangat antusias sekali karena ada Haroa ini sangat ditunggu-tunggu disetiap tahunnya, budaya Haroa juga bisa menyambung tali silaturahim sesama masyarakat”. (Hasil wawancara pada tanggal 14 oktober 2019 pukul 09.00 WITA) Informan II menambahkan :
“Partisipasi yang dilakukan masyarakat talaga sebelum melaksanakan adat Haroa adalah sebagai tetangga dan kerabat yang menyelenggarakan acara adat Haroa dipanggil datang untuk mempersiapkan apa yang perlu dipersiapkan untuk melaksanakan adat Haroa tersebut”. (Hasil wawancara pada tanggal 19 oktober 2019 pukul 16.00 WITA)
Informan III menambahkan bahwa:
“Partisipasi masyarakat talaga dalam pelaksanaan Haroa sangatlah antusias, karena sebelum acara dilakukan masyarakat, kerabat, dan tetangga diundang untuk datang ke rumah, sehingga masyarakat berbondong-bndong untuk hadir”. (Hasil wawancara pada tanggal 16 oktober 2019 pukul 10.00 WITA)
Dapat disimpulkan bahwa pastisipasi masyarakat yang ada di desa talaga II sangat antusias dalam mempersiapkan segala persiapan yang akan disajikan dalam acara adat Haroa yang dilaksanakan kerabat disekitarnya.
59
4) Apakah ada dampak yang akan terjadi apabila tidak melaksanakan adat Haroa ?
Menurut Informan I mengatakan bahwa :
“Tidak ada dampak yang terjadi apabila sebagian masyarakat tidak melaksanakan adat Haroa ini karena adat Haroa tidak belaku wajib untuk dilaksanakan melainkan hanya meneruskan adat yang turun temurun dilaksanakan di desa talaga”. (Hasil wawancara pada taggal 15 oktober 2019 pukul 14.00 WITA)
Informan II menambahkan:
“Tidak ada dampak, terkhusus dampak buruk bagi masyarakat yang tidak melaksanakan adat Haroa karena adat Haroa di desa talaga bukan suatu kewajiban namun adat Haroa sudah menjadi kegiatan rutin dilaksanakan setiap tahunnya”. (Hasil wawancara pada tanggal 17 oktober 2019 pukul 16.00 WITA)
Informan III menambahkan bahwa:
“Tidak ada dampak karena haroa merupakan tkegiatan rutin yang sering di laksanakan masyarakat tagala”. (Hasil wawancara pada tanggal 13 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA)
Jadi dapat disimpulkan tindak ada dampak apabila tidak melaksanakan adat Haroa karena Haroa bukan suatu kewajiban melainkan hanya meneruskan adat yang turun temurun dilaksanakan di masyarakat.
5) Faktor apa sajakah yang menyebabkan perubahan proses tahapan dalam penyelenggaraan Haroa ?
Menurut Informan I selaku warga desa talaga mengatakan bahwa:
“Salah satu faktor perubahan adat Haroa yaitu dipengaruhi dengan perkembangan zaman, dan generasinya kurang mengetahui makna-makna adat Haroa, perubahan dalam penyelenggaraan adat Haroa biasanya masyarakat zaman dulu melaksanakan adat Haroa pada malam hari dan sekarang dilaksanakan pada sore hari”. (Hasil wawancara pada tanggal 13 oktober 2019 pukul 16.00 WITA)
60 Informan II menambahkan:
“Faktor yang menyebabkan perubahan proses tahapan dalam penyelenggaraan Haroa yakni pertama karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki serta perkembangan zaman yang semakin modern”. (Hasil wawancara pada tanggal 20 oktober 2019 pukul 10.00 WITA)
Informan III menambahkan bahwa:
“Faktor perubahan prosesi Haroa yaitu salah satunya dipengaruhi dengan perkembangan zaman yang modern sehingga menyebabkan sajian makana yang bervariasi dalam penyelenggaraan adat Haroa”. (Hasil wawancara pada tanggal 19 oktober 2019 pukul 16.00 WITA)
Jadi dapat disimpulkan faktor yang mempengaruhi perubahan proses tahapan dalam penyelenggaraan Haroa yaitu perkembangan zaman, dan generasinya kurang mengetahui makna-makna adat Haroa.
b. Peran masyarakat adat dalam melaksanakan tradisi Haroa di desa talaga II kecamatan talaga raya kabupaten buton tengah
1) Dapatkah anda menceritakan latar belakang sejarah mengapa budaya adat Haroa berlaku pada masyarakat talaga raya ?
Menurut Informan I sebagai masyarakat desa talaga II mengatakan bahwa:
“Masyarakat talaga merupakan orang buton dimana di wilayah buton dahulu pernah berdiri kerajaan islam bernama kesultanan Butuuni, riwayat sejarah setempat mencatat bahwa perayaan maulid di Buton berawal pada masa pemerintahan sultan murhum sehinga tradisi yang dilaksanakan sultan murhum ini di jadikan tradisi oleh masyarakat buton terkhusus masyarakat talaga yang merayakan adat haroa disetiap tahunnya untuk memperingati hari kelahiran nabi muhammad SAW”. (Hasil wawancara pada tanggal 14 oktober 2019 pukul 09.00 WITA)
61 Informan II menambahkan Bahwa:
“Sejarah budaya adat Haroa yang berlaku pada masyarakat talaga raya sudah ada sejak dahulu yang sudah dilakukan oleh nenek moyang sampai sekarang masih rutin dilakukan. Tradisi Haroa yang dilaksanakan oleh masyarakat talaga ini diadakan pada hari-hari besar islam dan dilaksanakan dirumah-rumah warga, Karena mayoritas masyarakat talaga beragama islam dan mengikut adat dan budaya buton”. (Hasil wawancara pada tanggal 16 oktober 2019 pukul 10.00 WITA)
Informan III menambahkan bahwa:
“Dahulu Haroa seling dilakukan oleh masyarakat terdahulu sebagai suatu adat atau budaya untuk merayakan hari-hari besar islam.
Tradisi Haroa adalah salah satu tradisi keagamaan yang telah lama dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat talaga, sebagai warisan leluhur masyarakat talaga yang turun temurun dari generasi ke generasi”.
Dapat disimpulkan bahwa latar belakang sejarah budaya adat Haroa berlaku pada masyarakat talaga raya karena talaga merupakan bagian dari daerah buton sehingga tradisi Haroa yang dilaksanakan sultan murhum ini dijadikan tradisi oleh masyarakat buton terkhusus masyarakat talaga yang merayakan adat Haroa disetiap tahunnya untuk memperingati hari kelahiran nabi muhammad SAW.
2) Bagaimana tanggapan masyarakat talaga tentang adat Haroa ?
Menurut Informan I sebagai masyarakat desa talaga II mengatakan bahwa:
“Menurut saya adat Haroa yang sudah merupakan kegiatan rutin yang sudah dilakukan oleh masyarakat talaga setiap tahunnya untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw atau biasa disebut juga dengan maulid. Kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan di masyarakat talaga dan sebagai bentuk rasa syukur”. (Hasil wawancara pada tanggal 20 oktober 2019 pukul 10.00 WITA)
62 Informan II menambahkan bahwa:
“Adat Haroa merupakan tradisi turun-temurun yang dilakukan masyarakat talaga dan termaksud adat yang menambah hubungan silaturahmi masyarakat talaga. Masyarakat sangat antusias dengan tradisi Haroa dan melaksanakannya sesuai dengan nilai-nilai budaya Haroa”. (Hasil wawancara pada tanggal 16 Oktober 2019 pukul 10.00 WITA)
Informan III menambahkan bahwa:
“Adat yang perlu dilestarikan karena Haroa merupakan suatu adat atau kebiasaan yang sering dilaksanakan untuk memperingati hari-hari besar islam, dan sebagai rasa syukur kepada Allah Swt. Dan digunakan untuk bersedekah kepada masyarakat”. (Hasil wawancara pada tanggal 17 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA) Dapat disimpulkan bahwa adat Haroa merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan masyarakat talaga setiap tahunnyauntuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw, dan partisipasi masyarakat sangat antusias dalam merayakan tradisi adat Haroa.
3) Apa tujuan dilaksanakan adat Haroa?
Menurut Informan I sebagai masyarakat desa talaga II mengatakan bahwa:
“Tujuan dilaksanakannya adat Haroa selain untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw, Haroa juga bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antara masyarakat talaga raya, terkhusus lebih untuk bisa menjadikan pribadiyang lebih baik dengan mengenang perjuangan Nabi Muhammad Saw dihari kelahiran beliau”. (Hasil wawancara pada tanggal 17 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA)
Informan II menambahkan bahwa:
“Haroa dilakukan pada bulan rabiul awal untuk memperingati maulid Nabi Muhammad Saw. Lahirnya muhammad adalah berita gembira yang menjadi berkah bagi semesta. Muhammad adalah sosok yang membawa jalan terang bagi manusia. Dirayakan dengan adat Haroa dan membaca ayat-ayat suci al-qurab bersama.
63
Jadi dapat disimpulkan”. (Hasil wawancara pada tanggal 19 oktober 2019 pukul 16.00 WITA)
Informan III menambahkan bahwa:
“Tujuan adat Haroa yaitu untuk memperingati hari lahir nabi muhammad Saw. Dan untuk melestarikan budaya dan mengenang para pendahulu”. (Hasil wawancara pada tanggal 14 Oktober 2019 pukul 09.00 WITA)
Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan dilaksanakannya adat Haroa untuk memperingati maulid Nabi Muhammad Saw. dan mempererat tali silaturahmi antara masyarakat talaga raya.
4) Apakah makna yang terkandung dalam adat Haroa bagi masyarakat talaga bila ditinjau dari pemaknaan kata atau bahasa?
Menurut Informan I sebagai masyarakat desa talaga II mengatakan bahwa:
“Ditinjau dari kata makna Haroa bisa dikatakan sebagai perayaan, bentuk rasa syukur, atau bisa dikatakan sebagai maulid. Makna yang terkandung dalam adat Haroa menekankan pada norma yang didasarkan kepada nilai-nilai luhur, kejujuran, loyalitas dan kerjasama”. (Hasil wawancara pada tanggal 19 Oktober 2019 pukul 16.00 WITA)
Informan II menambahkan bahwa:
“Makna yang terkandung dalam adat Haroa bagi masyarakat talaga bila ditinjau dari pemaknaan kata atau bahasa adat Haroa yaitu sebuah tradisi yang didalamnya terkandung nilai-nilai agama, dan kebiasaan para leluhur yang sesuai dengan syariat islam yang turun temurun dilaksanakan dalam berbagai bentuk kegiatan sosial kemasyarakatan sifatnya secara pribadi atau kekeluargaan”. (Hasil wawancara pada tanggal 16 Oktober 2019 pukul 10.00 WITA) Informan III menambahkan bahwa:
“Makna Haroa bagi masyarakat yaitu menunjukkan wujud kecintaan kepada nabi Muhammad Saw”. (Hasil wawancara pada tanggal 20 Oktober 2019 pukul 10.00 WITA)
64
Jadi dapat disimpulkan bahwa makna yang terkandung dalam adat Haroa yaitu sebagai wujud kecintaan kepada nabi muhammad Saw. Di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur, kejujuran, loyalitas dan kerjasama.
5) Siapa sajakah yang terlibat dalam pelaksanaan adat Haroa ?
Menurut Informan I sebagai masyarakat desa talaga II mengatakan bahwa:
“Adapun yang terlibat dalam pelaksanaan adat Haroa yakni Lebbe atau biasa disebut juga dengan pemimpin, atau orang yang memimpin acara Haroa, keluarga dan kerabat, serta seluruh masyarakat talaga raya”. (Hasil wawancara pada tanggal 13 oktober 2019 pukul 10.00 WITA)
Informan II menambahkan bahwa:
“Yang terlibat dalam pelaksanaan adat Haroa yaitu masyarakat setempat, ketua adat, lebbe yang memimpin adat Haroa tersebut”.
(Hasil wawancara pada tanggal 20 oktober 2019 pukul 16.00 WITA)
Informan III menambahkan bahwa:
“Yang terlibat adalah Lebbe, keluarga dan tetangga serta kerabat”.
Jadi dapat disimpulkan bahwa yang terlibat dalam pelaksanaan adat Haroa yaitu Lebbe (pemimpin upacara adat Haroa), masyarakat setempat, ketua adat.
65 B. PEMBAHASAN
Di setiap daerah atau provinsi di Indonesia, mempunyai ciri khas tersendiri terkait tradisi atau budaya yang sampai kini masih dilestarikan. Selain karena dianggap sakral, juga termasuk warisan atau ajaran para leluhurnya. Salah satunya bisa dilihat di Desa Talaga II Kecamatan Talaga Raya Kabupaten Buton Tengah.
Proses persiapan proses ini merupakan tahapan yang harus diperhatikan sebelum proses pelaksanaan upacara Haroa dimulai. Proses ini merupakan tahapan yang menentukan lancarnya upacara adat yang akan dilaksanakan.
Pada tahap ini diundang para tokoh adat, tokoh masyarakat dan aparat pemerintah setempat guna membincangkan hal-hal yang terkait dengan pelaksanaan upacara Haroa. Hal-hal yang dibicarakan itu antara lain mencari waktu yang tepat untuk hari pelaksanaannya. Pada pertemuan tersebut akan disepakati hari baik untuk pelaksanaan.
Proses pelaksanaan Adat Haroa di rumah adalah dengan mengundang perangkat hukum Sara, dalam hal ini adalah:
1. Imam adalah pemimpin tertinggi Sara agama.
2. Badan Penasihatan Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan (BP4) adalah Organisasi perkumpulan yang bersifat sosial keagamaan sebagai mitra Kementerian Agama dan instansi terkait lain dalam upaya meningkatkan kualitas perkawinan umat Islam di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi keluarga muslimin di seluruh Indonesia.
66
3. Khatib adalah terdiri dari dua orang yang berperan dalam membaca khutbah pada shalat Jum‟at, shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
4. Moji berperan dalam melaksanakan berbagai kegiatan keagamaan dalam kehidupan masyarakat Talaga Raya baik yang berhubungan dengan individu maupun kegiatan umum serta kepentingan yang menyangkut keperluan hidup maupun kematian. Keperluan hidup yaitu membantu PPN sebagai saksi alam sebuah pernikahan selain itu disaksikan dari pihak kedua mempelai, sedangkan keperluan mati yaitu ditugaskan untuk memandikan serta mengkafani jenazah.
5. Mukim adalah orang yang beriman (dalam agama) Perangkat-perangkat tersebut dinamakan lebe atau subyek pelaku ritual posumanga. Setelah itu, mereka membaca doa untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dengan membaca istighfar, shalawat Nabi Muhammad SAW dan ayat-ayat suci Al Qur‟an. Selanjutnya, mereka berdoa sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan. Doa tersebut bertujuan untuk keselamatan, diberikan umur panjang agar selalu meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Setelah rangkaian doa tersebut, selanjutnya para perangkat hukum Sara tersebut berserta para keluarga yang diundang untuk menikmati hidangan makanan yang diletakkan di atas talang. Selain itu, sebagai wujud penghargaan orang yang melaksanakan ritual Posumanga terhadap perangkat hukum Sara diberikan pula uang yang disebut Pasali.
67
Pelaksanaan Haroa ini dimana ada tudung saji berbungkus mukena putih diletakkan ditengah-tengah konferensi duduk bundar keluarga yang dipandu oleh seorang pria tua yang dikenal dengan sebutan lebbe. Yah, itulah sebutan untuk pemuka agama, yang biasa memimpin sebuah upacara adat Haroa di daerah Buton Khususnya di desa talaga II Kecamatan talaga raya.
Dalam Adat Haroa, tudung saji yang diletakkan di tengah-tengah majelis berisikan sederetan kuliner khas adat Buton, seperti onde-onde, sanggara (pisang goreng), cucuru (cucur), bharuasa (kue beras), bholu (bolu), kaowi-owi (ubi goreng) dan pelengkap yang lainnya. Dengan sepiring nasi minyak tertutup telur ditengah talang dalam tudung saji tersebut.
Tradisi Adat Haroa diawali dengan pembacaan ayat-ayat khusus oleh sang lebbe, dan diakhiri dengan santap bersama. Disinilah makna haroa sesungguhnya, yakni menjalin hubungan sosial diantara manusia, karena tradisi ini biasanya menghadirkan seluruh anggota keluarga dan beberapa tetangga.
Kebudayaan adalah cara hidup yang dikembangkan oleh anggota-anggota masyarakat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kebudayaan adalah hasil karya dan karsa manusia yang dikembangkan sebagaimana bagian dari peradaban manusia sepanjang masa yang akan dijadikan sebagai pedoman dalam berlaku dan bertindak.
68
Kebudayaan bisa dikatakan bertahan lama ditengah-tengah peradaban manusia apabila kebudayaan tersebut memiliki nilai-nilai tetap yang berlaku dan bersifat universal seperti norma, kebiasaan, adat, tradisi, gagasan, ideologi, teknologi, kesenian dan benda-benda hasil ciptaan manusia.
Namun, kebudayaan juga tetap akan mengalami proses penyempurnaan dan perubahan sesuai perkembangan zaman dan kemajuan yang dicapai manusia.
Suatu budaya sesungguhnya merupakan bahan masukan atau pertimbangan bagi manusia itu sendiri dalam mengembangkan dirinya.
Dalam kehidupan manusia, budaya ini perlu ditanamkan sejak kecil agar nilai kebudayaan ini bisa menjadi bagian dari kehidupan anak dalam lingkungan sosial masyarakatnya. Hal ini disebabkan karena kebudayaan memiliki fungsi yang sangat sensitif dalam diri manusia.
Pemahaman tentang konsep budaya sangat penting bagi masyarakat terutama masyarakat yang masih melestarikan dan mempertahankan budaya.
Upaya pelestarian kebudayaan tidak hanya dalam bentuk pelaksanaan ritual budaya namun juga mempertahankan segala nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Talaga Raya yang masih melaksanakan ritual Adat Haroa serta melestarikan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya tersebut.
Adat Haroa ini merupakan salah satu warisan budaya yang secara turun temurun dari generasi ke genarasi yang di laksanakan di masyarakat Kecamatan Talaga Raya. Tradisi ini masih dilestarikan dan dipertahankan
69
oleh masyarakat Kecamatan Talaga Raya sampai saat ini dan tradisi ini dilaksanakan untuk memperingati hari lahir Muhammad Saw, sehingga tradisi ini masih dilakukan oleh masyarakat Kecamatan Talaga Raya sampai sekarang.
Masyarakat juga berperan penting dalam menjaga dan mempertahankan adat Haroa ini, karna masyarakatlah yang menjadi kunci dalam keberadaan suatu tradisi agar tidak dilupakan, apakah tradisi ini ingin tetap ada atau ditinggalkan tergantung masyarakat menyikapi arti penting sebuah tradisi itu sendiri.
70 BAB V