• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.2 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

a. Letak Geografis

Kecamatan Peureulak Timur merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di

Kabupaten Aceh Timur. Adapun batas-batas wilayah kecamatan Peureulak Timur adalah :

1. Sebelah Timur berbatasan dengan dengan Sungai Raya

2. Sebelah Barat berbatasan dengan Pereulak

3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Selat Malaka

4. Sebelah Utara berbatasan dengan berbatasan dengan Peureulak

Kecamatan Peureulak Timur terletak ± 30 km dari pusat ibukota Kabupaten Aceh

Timur, dengan luas wilayah 241,75 Km2 yang beriklim tropis dengan musim kemarau antara

bulan Maret-Agustus dan musim hujan antara bulan September - Februari. Suhu maksimum

rata-rata perbulan 30°C dan suhu minimum rata-rata perbulan 260 C, kelembaban udara relatif

rat-rata 70%.

b. Demografi

Jumlah penduduk di Kecamatan Peureulak Timur secara keseluruhan sebanyak 12.808

77

Tabel 4.1 Distribusi Penduduk berdasarkan Desa di Kecamatan Peureulak Timur tahun 2008

No Desa Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Alue tho 74 96 170 2 Seumatang Keude 430 442 872 3 Seunebok Jalan 192 162 3541 4 Seunebok Paya 100 100 200 5 Seunebok Rawang 369 331 700 6. Seunebok Dalam 162 199 361 7. Seunebok Lapang 548 698 1246 8. Alue Nireh 209 200 409 9. Gelanggang merah 193 233 426 10. Kreung lintang 577 579 1155 11. Jengki 433 483 916 12. Babah Kreung 383 375 758 13. Tualang Pateng 390 300 690 14. Buket Meriam 267 309 576 15. Alue Bureb 290 315 605 16. Seunebok Tepin 337 346 683 17. Alue Bugeng 629 600 1229 18. Seunebok Punti 197 107 304 19. Alue Lhok 94 91 185 20. Seunebok Tengoh 370 598 969 Jumlah 6244 6564 12.808 4.5 Analisis Univariat 4.5.1 Variabel Independen a. Karakteristik Responden

Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan kelompok umur terdapat 40,6% responden

berumur < 35 tahun, dan 37,8% umur 35-45 tahun, 21,7% umur > 45 tahun, dengan tingkat

pendidikan 53,3% termasuk kategori sedang, 23,9 termasuk kategori rendah dan 22,8%

termasuk kategori tinggi. Status pekerjaan responden 43,3% termasuk kategori tidak bekerja

78

Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Distribusi Karakteristik Responden Kecamatan Peureulak Timur Kabupaten Aceh TimurTahun 2008

No Karakteristik Responden Jumlah (orang) Persentase (%) 1 Umur < 35 tahun 35-45 Tahun > 45 tahun 73 68 39 40,6 37,8 21,7 Total 180 100,0 2 Pendidikan Tinggi Sedang Rendah 43 96 41 23,9 53,3 22,8 Total 180 100,0 3 Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja 102 78 56,7 43,3 Total 180 100,0 4 Tingkat Pendapatan Tinggi Rendah 86 94 47,8 52,2 Total 180 100,00 Pengetahuan

Variabel pengetahuan dalam penelitian ini didasarkan pada 10 pertanyaan dalam kuesioner mengenai pemahaman responden tentang rumah sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden (44,4%) menjawab dengan benar aspek pengetahuan tentang langit-langit rumah, mayoritas responden (35,0%) menjawab dengan benar tentang dinding rumah sehat, mayoritas responden (40,0%) menjawab dengan benar tentang lantai rumah yang sehat, mayoritas responden (40,6%) menjawab dengan benar tentang syarat ventilasi yang memenuhis syarat kesehatan, mayoritas responden (43,9%) menjawab dengan kurang benar tentang pencahayaan dalam rumah sehat, mayoritas responden (40,6%) menjawab dengan benar syarat sarana air bersih, mayoritas responden (42,2%) menjawab dengan kurang benar saluran air limbah yang memenuhi syarat kesehatan, sedangkan pengetahuan responden

79

tentang pembuangan sampah masing menjawab benar dan kurang benar masing-masing 40,6%.

Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Pengetahuan

Jawaban Benar Kurang Benar Tidak Benar No Indikator Pengetahuan n % n % n % 1 Langit-langit rumah 80 44,4 66 36,7 34 18,9 2 Dinding rumah sehat 63 35,0 61 33,9 56 31,1 3 Lantai rumah sehat 72 40,0 52 28,9 56 31,1 4 Ventilasi rumah sehat 73 40,6 64 35,6 43 23,9

5 Asap dapur 81 45,0 59 32,8 40 22,2

6 Pencahayaan 75 41,7 79 43,9 26 14,4

7 Sarana air bersih 73 40,6 59 32,8 48 26,7

8 Jamban 71 39,4 68 37,8 41 22,8

9 Saluran air limbah 64 35,6 76 42,2 40 22,2 10 Pembuangan sampah 73 40,6 73 40,6 34 18,9

Berdasarkan perhitungan jumlah skor pada indikator pengetahuan dengan menggunakan metode rating (persentase) maka variabel pengetahuan dapat dikategorikan menjadi kategori baik dan kurang. Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.4

Tabel 4.4. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan

No Pengetahuan Responden Jumlah (orang) Persentase (%) 1 2 Baik Kurang 103 77 57,2 42,8 Total 180 100,0

Berdasarkan Tabel 4.4. di atas, diketahui bahwa mayoritas responden memnpunyai pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 103 orang (57,2%), dan hanya 77 orang (428%) termasuk pengetahuan kurang.

b. Sikap

Variabel sikap dalam penelitian ini adalah pandangan responden terhadap kepemilikan

80

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden (51,7%) menyatakan setuju

tentang langit-lagit rumah sehat harus bersih, mayoritas respoden (40,6%) menyatakan setuju

jika dinding rumah sehat permanen, mayoritas responden (44,4%) menyatakan setuju jika

ventilasi rumah sehat harus ≥10% dari luas lantai rumah, mayoritas responden (52,2%) menyatakan setuju jika rumah sehat memiliki saluran pembuangan asap dapur, mayoritas

responden (48,7%) menyatakan setuju bahwa rumah sehat harus mempunyai pencahayaan

yang terang dan tidak silau.

Selain itu dari aspek sarana, mayoritas responden(47,8%) menyatakan setuju bahwa

rumah sehat harus memiliki sarana air bersih, mayoritas responden (52,8%) menyatakan setuju

bahwa jamban keluarga dalam rumah sehat harus berbentuk leher angsa dan mempunyai septic

tank, myoritas responden (47,2%) menyatakan setuju bahwa saluran pembuangan air limbah

pada rumah sehat harus memenuhi syarat kesehatan dan mayoritas responden (45,0%)

menyatakan setuju bahwa rumah sehat harus mempunyai tempat pembuangan sampah. Hasil

penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Sikap Jawaban Setuju Kurang Setuju Tidak Setuju Indikator Sikap n % n % n % 1. Langit-langit rumah bersih 93 51,7 61 33,9 26 14,4 2. Dinding yang permanen 73 40,6 61 33,9 46 25,6 3. Lantai rumah sehat 80 44,4 50 27,8 50 27,8 4. Ventilasi rumah sehat jika ≥10% luas lantai 84 46,7 72 40,0 24 13,3 5. Ada Saluran pembuangan asap dapur 94 52,2 52 28,9 34 18,9 6. Pencahayaan terang dan tidak silau 88 48,9 66 36,7 26 14,4 7. Sarana air bersih harus ada 86 47,8 53 29,4 41 22,8 8. Jamban berbentuk leher dan ada septic tank 95 52,8 47 26,1 38 21,1 9. Saluran air limbah memenuhi syarat kesehatan 85 47,2 58 32,2 37 20,6 10.Pembuangan sampah harus ada 81 45,0 72 40,0 27 15,0 Keterangan n = Jumlah Responden

81

Berdasarkan perhitungan jumlah skor pada indikator sikap responden maka variabel

sikap responden dapat dikategorikan menjadi baik dan kurang. Hasil penelitian dapat dilihat

pada Tabel 4.6

Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Sikap

No Sikap Responden Jumlah (orang) Persentase (%)

1 2 Baik Kurang 95 85 52,8 47,2 Total 180 100,0

Berdasarkan Tabel 4.6 di atas, diketahui bahwa mayoritas responden mempunyai sikap

kategori baik terhadap rumah sehat yaitu sebanyak 95 orang (52,8%), dan 85 responden

(47,2%) lainnya termasuk kategori kurang.

c. Peran Petugas

Peran petugas dalam penelitian ini didasarkan pada 5 (lima) indikator yang terdapat

dalam pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden (46,7%) menyatakan

petugas kesehatan pernah membuat pertemuan tentang rumah sehat, mayoritas responden

(38,8%) menyatakan bahwa petugas kadang-kadang melakukan penyuluhan tentang rumah

sehat, demikian juga, mayoritas responden (37,8%) menyatakan petugas kadang-kadang

melakukan diskusi pentingnya rumah sehat, mayoritas responden (43,3%) mengatakan

petugas kesehatan pernah meninjau kondisi rumah dan sanitasi rumah penduduk, dan

mayoritas responden (41,1%) mengatakan kadang-kadang petugas kesehatan memberi

82

Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.7

Tabel 4.7 Distribusi Responden Berdasarkan Indikator Peran Petugas Jawaban

Pernah Kadang-kadang

Tidak Pernah Indikator Peran Petugas

n % n % n %

1. Membuat pertemuan tentang rumah sehat 84 46,7 70 38,9 26 14,4 2. Melakukan penyuluhan rumah sehat 66 36,7 68 37,8 46 25,8 3. Diskusi pentingnya rumah sehat 64 35,6 68 37,8 48 26,7 4. Meninjau kondisi dan sanitasi rumah 78 43,3 67 37,2 35 19,4 5. Memberi informasi pengadaan rumah sehat 63 35,0 74 41,1 43 23,9

Berdasarkan perhitungan skor pada indikator peran petugas tersebut di atas, maka variabel peran petugas dapat dikategorikan menjadi baik dan kurang. Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.8

Tabel 4.8 Distribusi Responden Berdasarkan Peran Petugas

No Peran Petugas Jumlah (orang) Persentase (%)

1 2 Baik Kurang 54 126 30,0 70,0 Total 180 100,0

Berdasarkan Tabel 4.8 di atas, diketahui bahwa peran petugas kesehatan terhadap

kepemilikan rumah sehat termasuk kategori kurang, yaitu sebanyak 126 orang (70,0%), dan

hanya 54 orang (30,0%) termasuk kategori baik.

4.5.2 Kepemilikan Rumah Sehat

Kepemilikan rumah sehat dilihat dari beberap indikator yaitu meliputi komponen rumah, ketersediaan sarana dan prasarana serta perilaku penghuni rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden (80%) mempunyai langit-langit rumah, tetapi masih kotor dan sulit dibersihkan, mayoritas responden (47,8%) mempunyai dinding rumah semi permanen, mayoritas responden (61,7%) mempunyai lantai yang terbuat dari papan, mayoritas responden (99,4%) mempunyai jendela kamar, mayoritas responden (88,3%) mempunyai jendela ruang keluarga, sedangkan dari aspek ventilasi masing-masing responden (48,3%) mempunyai ventilasi tetapi luas <10% luas lantai dan ≥10% luas lantai, mayoritas

83

responden (45,6%) mempunyai lubang asap dapur dengan lubang >10 % dari luas lantai dapur, dan mayoritas responden (43,3%) mempunyai pencahayaan rumah yang kurang terang.

Berdasarkan sarana, diketahui mayoritas responden (30,0%) mempunyai sarana air bersih, milik sendiri tetapi tidak memenuhi syarat kesehatan, mayoritas responden (34,4%) mempunyai jamban keluarga tetapi bukan bentuk leher angsa, dan tidak ada tutup, mayoritas responden (37,2%) mempunyai tempat pembuangan air limbah dan dialirkan ke sekolan terbuka.

Berdasarkan perilaku penghuni, mayoritas responden setiap hari membuka dan kadang-kadang membuka jendela kamar, masing-masing (35,6%), mayoritas responden (47,2%) kadang-kadang membuka jendela ruang keluarga, mayoritas responden (46,7%) kadang membersihkan rumah dan halaman, mayoritas responden (44,4%) kadang membuang air besar di jamban keluarga, dan mayoritas responden (42,2%) kadang-kadang membuang sampah pada tempat pembuangan sampah. Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.9

Tabel 4.9 Distribusi Responden Berdasarkan Komponen Rumah Sehat Hasil Penilaian

0 1 2 3 4 Komponen Rumah Sehat

n % n % n % n % n % 1. Langit-langit - - 36 20,0 144 80,0 - - - - 2. Dinding - - 74 41,1 86 47,8 20 11,1 - - 3. Lantai 14 7,8 55 30,6 111 61,7 - - - - 4. Jendela Kamar 1 0,6 179 99,4 - - - - - - 5. Jendela Ruang Keluarga 21 11,7 159 88,3 - - - - - - 6. Ventilasi 6 3,3 87 48,3 87 48,3 - - - - 7. Lubang Asap Dapur 26 14,4 72 40,0 82 45,6 - - - - 8. Pencahayaan 43 23,9 78 43,3 59 32,8 - - - - 9. Sarana Air Bersih 26 14,4 54 30,0 53 29,4 28 15,6 19 10,6 10.Jamban 20 11,1 62 34,4 60 33,3 28 15,6 10 5,6 11.Tempat pembuangan air limbah 21 11,7 63 35,0 67 37,2 29 16,1 - - 12.Membuka jendela kamar 22 12,2 64 35,6 64 35,6 - - 13.Buka jendela ruang keluarga 53 29,4 85 47,2 42 23,3 - - - - 14.Bersihkan rumah&halaman 55 0,6 84 46,7 41 22,8 - - - - 15.Buang tinja di Jamban 45 25,0 80 44,4 55 30,6 - - - - 16.Buang sampah di tempatnya 49 27,2 76 42,2 55 30,6 - - - -

84

Berdasarkan penilaian pada beberapa indikator rumah sehat terserbut, maka kepemilikan rumah sehat dapat dikategorikan menjadi sehat dan tidak sehat. Hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.10

Tabel 4.10 Distribusi Responden Berdasarkan Kepemilikan Rumah No Kepemilikan Rumah Sehat Jumlah (orang) Persentase (%)

1 2 Sehat Tidak Sehat 57 123 31,7 68,3 Total 180 100,0

Berdasarkan Tabel 4.10 di atas, diketahui bahwa responden mempunyai rumah yang

sehat hanya sebanyak 57 orang (31,7%) dan yang mempunyai rumah tidak sehat yaitu

sebanyak 123 orang (68,3%).

4.6 Analisis Bivariat

Análisis bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi square antara variabel

Independen (pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, sikap dan peran petugas)

dengan variabel Dependen (kepemilikan rumah sehat). Hasil penelitian dapat dilihat pada

Tabel 4.11.

Tabel 4.11 Hasil Analisa antara Variabel Independen dengan Variabel Dependen Kepemilikan Rumah Sehat Sehat Tidak Sehat Jumlah p value

No

Variabel Independen n % n % n % PENDIDIKAN Tinggi 21 36,8 20 16,3 41 22,8 Sedang 29 50,9 67 54,5 96 53,3 Rendah 7 12,3 36 29,3 43 23,9 Total 57 100,0 123 100,0 180 100 0,002 PEKERJAAN Bekerja 39 68,4 63 51,2 102 56,7 Tidak Bekerja 18 31,6 60 48,8 78 43,3 Total 57 100,0 123 100,0 180 100 0,030 PENDAPATAN

85 Kepemilikan Rumah Sehat Sehat Tidak Sehat Jumlah p value

No

Variabel Independen n % n % n % Tinggi 34 59,6 52 42,3 86 47,8 Rendah 23 40,4 71 57,7 94 52,2 Total 57 100,0 123 100,0 180 100 0,030 Tabel 4.11 (Lanjutan) Kepemilikan Rumah Sehat Sehat Tidak Sehat Jumlah p value

No

Variabel Independen n % n % n % PENGETAHUAN Baik 44 77,2 59 48,0 103 57,2 Kurang 13 22,8 64 52,0 77 47,8 Total 57 100,0 123 100,0 180 100 0,000 SIKAP Baik 40 70,2 55 44,7 95 52,8 Kurang 17 29,8 68 55,3 85 47,2 Total 57 100,0 123 100,0 180 100 0,001 PERAN PETUGAS Baik 10 17,5 44 35,8 54 30,0 Kurang 47 82,5 79 64,2 126 70,0 Total 57 100,0 123 100,0 180 100 0,013

Berdasarkan Tabel 4.11 di atas, diketahui berdasarkan pendidikan, mayoritas (50,9%)

rumah sehat terdapat pada responden berpendidikan sedang dibandingkan responden

berpendidikan tinggi (36,8%) dan pendidikan rendah (12,3%). Sedangkan untuk rumah tidak

sehat mayoritas (54,5%) terdapat pada pendidikan sedang dibandingkan dengan pendidikan

rendah (29,3%) dan pendidikan tinggi (16,3%). Hasil uji statistik dengan uji chi square

menunjukkan ada hubungan signifikan antara pendidikan dengan kepemilikan rumah sehat

86

Berdasarkan pekerjaan, diketahui rumah sehat mayoritas (68,4%) terdapat pada

responden yang bekerja dibandingkan responden yang tidak bekerja (31,6%). Sedangkan

rumah tidak sehat mayoritas juga terdapat pada responden yang bekerja (51,2%) dibandingka

dengan responden yang tidak bekerja (48,8%). Hasil uji statistik dengan uji chi square

menunjukkan ada hubungan signifikan antara pekerjaan dengan kepemilikan rumah sehat

(p=0,030).

Berdasarkan pendapatan, diketahui rumah sehat mayoritas (59,6%) terdapat pada

responden dengan pendapatan tinggi dibandingkan responden berpendapatan rendah (40,4%).

Sedangkan rumah tidak sehat mayoritas (57,7%) terdapat pada responden yang berpendapatan

rendah dibandingkan dengan pendapatan tinggi (42,3%). Hasil uji statistik dengan uji chi

square menunjukkan ada hubungan signifikan antara pendapatan dengan kepemilikan rumah

sehat (p=0,030).

Berdasarkan pengetahuan, diketahui rumah sehat mayoritas (77,2%) terdapat pada

responden dengan pengetahuan kategori baik dibandingkan responden yang mempunyai

pengetahuan kurang (22,8%). Sedangkan rumah tidak sehat mayoritas (52,0%) terdapat pada

pengetahuan kurang dibandingkan dengan pengetahuan baik (48,0). Hasil uji statistik dengan

uji chi square menunjukkan ada hubungan signifikan antara pengetahuan dengan kepemilikan

rumah sehat (p=0,000).

Berdasarkan sikap, diketahui rumah sehat mayoritas (70,2%) terdapat pada responden

dengan sikap kategori baik dibandingkan responden yang mempunyai sikap kurang (29,8%).

Sedangkan rumah tidak sehat mayoritas (55,3%) terdapat pada responden dengan sikap kurang

87

menunjukkan ada hubungan signifikan antara sikap dengan kepemilikan rumah sehat

(p.=0,001).

Berdasarkan peran petugas, diketahui rumah sehat mayoritas (82,5%) terdapat pada

responden dengan peran petugas kategori kurang baik dibandingkan responden yang peran

petugas yang baik (17,5%). Sedangkan untuk rumah tidak sehat mayoritas (64,2%) juga

terdapat pada responden dengan peran petugas kategori kurang baik (35,8%). Hasil uji statistik

dengan uji chi square menunjukkan ada hubungan signifikan antara peran petugas dengan

kepemilikan rumah sehat (p.=0,013).

4.7 Analisis Multivariat

Analisis multivariat dilakukan untuk melihat faktor paling dominan mempengaruhi

variabel independen. Adapun syarat multivariat adalah nilai probabilitas pada variabel yang

diuji di analisis bivariat mempunyai nilai p<0,25.

Analisis multivariat dalam penelitian ini menggunakan uji regresi logistik. Hasil

penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.12.

Tabel 4.12 Hasil Analisis Multivariat Model Regresi Logistik

Variabel Nilai p-value

Pendidikan 0,422 0,260 Pekerjaan -0,431 0,255 Pendapatan 0,000 0,971 Pengetahuan 6,896 0,000* Sikap 4,330 0,000* Peran Petugas 0,668 0,430

88

Berdasarkan Tabel 4.12 di atas, diketahui bahwa ada 4 (empat) variabel yang

dikeluarkan dari analisis Uji Regresi Logistik karena mempunyai nilai p < 0,025. Keempat

variabel tersebut adalah pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan peran petugas, sehingga

diperoleh dua variabel sebagai variabel yang mempengaruhi kepemilikan rumah sehat, seperti

Tabel 4.13.

Tabel 4.13 Hasil Akhir Uji Regresi Logistik

Variabel Nilai p-value

Pengetahuan 6,896 0,000

Sikap 4,330 0,000

Berdasarkan Tabel 4.13 di atas diketahui variabel yang mempengaruhi kepemilikan

rumah sehat adalah variabel pengetahuan dengan nilai β = 6,896, artinya responden yang mempunyai rumah tidak sehat resikonya enam kali lebih besar, penyebabnya adalah tingkat

pengetahuan kurang dibandingkan dengan responden yang berpengetahuan baik setelah

variabel sikap dikontrol dan variabel sikap dengan nilai β = 4,330, artinya responden yang mempunyai rumah tidak sehat resikonya empat kali lebih besar, penyebabnya adalah sikap

yang kurang dibandingkan dengan responden yang mempunyai sikap baik setelah variabel

pengetahuan dikontrol.

Berdasarkan nilai Exp (β) kita dapat memperkirakan kekuatan pengaruh variabel pengetahuan dan sikap responden terhadap kepemilikan rumah sehat makin besar nilai Exp

(β), makin kuat pengaruh variabel terhadap kepemilikan rumah sehat.

Dari kedua variabel tersebut di atas terlihat bahwa variabel yang paling dominan

mempengaruhi kepemilikan rumah sehat adalah variabel pengetahuan dengan nilai β tertinggi yaitu β = 6,896.

89

BAB 5

PEMBAHASAN

5.7 Pengaruh Pendidikan Terhadap Kepemilikan Rumah Sehat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan siginifikan antara pendidikan

dengan kepemilikan rumah sehat, artinya semakin tinggi pendidikan seseorang maka

kemungkinan untuk mempunyai rumah yang sehat akan semakin besar. Berdasarkan proporsi

kepemilikan rumah sehat, diketahui 50,9% responden yang mempunyai rumah sehat terdapat

pada responden yang berpendidikan kategori sedang.

Keadaan ini dapat dianalisis bahwa seseorang yang mempunyai pendidikan menengah

ke atas akan mempunyai keinginan untuk memiliki rumah sehat, dan ia lebih mengetahui

komponen-komponen apa saja yang harus dipenuhi suatu rumah sehat. Karena pada

prinsipnya pendidikan adalah pintu masuk seseorang untuk mengambil suatu keputusan,

termasuk untuk memiliki suatu rumah sehat. Hal ini sesuai dengan dengan pendapat

Cumming, dkk yang dikutip oleh Azwar, (2007) mengemukakan bahwa pendidikan sebagai

suatu proses atau kegiatan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan individu atau

masyarakat, dan bertujuan untuk bertahan hidup termasuk memenuhi kebutuhan sandangnya.

Hal ini juga sejalan dengan penelitian Lubis (2002), bahwa tingkat pendidikan

90

Bila pendidikan rendah maka pengetahuan cara hidup sehat belum dipahami dengan

baik. Tingkat pendidikan sangat menentukan daya nalar seseorang yang lebih baik, sehingga

memungkinkan menyerap informasi-informasi juga dapat berpikir secara rasional dalam

menanggapi informasi atau setiap masalah yang dihadapi dalam membentuk rumah yang

sehat.

Bila dikaitkan dengan pendapat Maslow yang dikutip oleh Natoatmodjo (2003), bahwa salah

satu kebutuhan manusia adalah kenyamanan. Kenyamanan hidup dalam suatu rumah, artinya

semakin tinggi pendidikan seseorang, maka kebutuhan akan kenyamanan semakin besar,

sehingga mempunyai usaha-usaha yang mengarah pada kepemilikan rumah sehat.

Pengaruh Pekerjaan Terhadap Kepemilikan Rumah Sehat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara pekerjaan dengan

kepemilikan rumah sehat. Secara proporsi kepemilikan rumah sehat juga menunjukkan

mayoritas responden (68,4%) yang mempunyai rumah sehat berstatus bekerja. Hal ini

menunjukkan bahwa seseorang yang telah bekerja mempunyai kesempatan yang besar untuk

memiliki rumah sehat. Rasa ingin memiliki rumah sehat tersebut berkaitan dengan ada

tidaknya penghasilan yang tetap, artinya orang yang sudah bekerja biasanya mempunyai

sejumlah pengahasilan setiap hari atau setiap bulan.

Bila dikaitkan dengan teori Maslow (1943) yang dikutip oleh Malayu (2002), bahwa

jika seseorang yang ingin memiliki kebutuhan rasa aman dan kenyamanan maka akan

melakukan berbagai upaya untuk mencapainya, dan salah satu faktor pendukungnya adalah

kecukupan akan penghasilan, dan ini hanya diperoleh jika ia mempunyai suatu pekerjaan yang

91

5.8 Pengaruh Pendapatan Terhadap Kepemilikan Rumah Sehat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan keluarga mempunyai hubungan signifikan dengan kepemilikan rumah sehat. Hal ini juga didukung oleh proporsi kepemilikan rumah sehat yang menunjukkan responden yang mempunyai rumah sehat 59,6% mempunyai pendapatan kategori tinggi. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi pendapatan seseorang maka semakin besar kemungkinan memiliki suatu rumah sehat. Masyarakat Indonesia pada umum mempunyai harapan dan keinginan untuk memiliki rumah tempat hidup dan berkeluarga. Hal ini sangat relevan dengan jumlah penghasilan yang diperolehnya setiap hari atau setiap bulan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat Panudju (1999), bahwa sdalah salah satu faktor yang mempengaruhi kepemilikan rumah sehat adalah faktor pendapatan. Masyarakat berpenghasilan rendah tidak mampu memenuhi persyaratan mendapatkan perumahan yang layak.

Pengaruh Pengetahuan Terhadap Kepemilikan Rumah Sehat

Hasil penelitian dengan analisis bivariat menunjukkan bahwa rumah sehat 77,2% dimiliki oleh responden yang mempunyai pengetahuan baik. Pengetahuan tersebut menyangkut seluruh aspek penilaian suatu rumah sehat yang dibuktikan secara keseluruhan responden menjawab dengan benar komponen-komponen apa saja yang dinilai sebagai syarat rumah sehat, dan 57,2% pengetahuan responden termasuk baik.

Hasil uji regresi logistik diperoleh bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap kepemilikan rumah sehat adalah variabel pengetahuan dengan nilai koefisien regresi ( ) sebesar 6,896, artinya responden yang mempunyai rumah tidak sehat resikonya enam kali lebih besar, penyebabnya adalah tingkat pengetahuan kurang dibandingkan dengan responden yang berpengetahuan baik setelah variabel sikap dikontrol. Dengan demikian pada penelitian ini pengetahuan merupakan variabel dominan yang mempengaruhikepemilikan rumah sehat.

92

Pengetahuan merupakan salah satu indikator yang memungkinkan seseorang untuk

mempunyai rumah yang layak dan sehat. Pengetahuan juga merupakan salah satu domain

enting terhadap perilaku seseorang. Perilaku dalam penelitian ini adalah mengenai perilaku

yang mengarah kepada kepemilikan rumah sehat, karena salah satu indikator komponen rumah

sehat adalah perilaku penghuni rumah. Menurut Rogers, dalam Notoatmodjo (2003), Perilaku

yang didasari oleh pengetahuan akan lebih baik dari pada perilaku yang tidak didasari oleh

pengetahuan. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang maka semakin tahu tentang

pentingnya kepemilikan rumah sehat untuk menunjang kehidupan dan kesehatan keluarga.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Wahyuni (2005), bahwa masyarakat suku

Dayak yang memiliki rumah sehat dipengaruhi oleh pemahaman mereka tentang pentingnya

rumah sehat. Secara proporsi juga menunjukkan bahwa responden yang mempunyai rumah

sehat sederhana 76,2% terdapat pada responden dengan pengetahuan kategori tinggi.

5.9 Pengaruh Sikap Terhadap Kepemilikan Rumah Sehat

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara sikap dengan

kepemilikan rumah sehat, dan demikian juga dengan hasil regresi logistik juga menunjukkan

variabel sikap mempunyai pengaruh signifikan terhadap kepemilikan rumah sehat. Secara

proporsi kepemilikan rumah sehat, diketahui mayoritas responden (70,2%) terdapat pada

responden dengan sikap kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik sikap

seseorang terhadap pentingnya rumah sehat, dan komponen rumah sehat maka akan semakin

besar peluangnya untuk mengambil suatu keputusan untuk memiliki rumah yang layak dan

sehat. Hasil uji regresi logistik menunjukkan nilai = 4,330 dan p value =0,000 yang berarti

93

Variabel yang mempengaruhi kepemilikan rumah sehat adalah variabel pengetahuan

dengan nilai β = 6,896, artinya responden yang mempunyai rumah tidak sehat resikonya enam kali lebih besar, penyebabnya adalah tingkat pengetahuan kurang dibandingkan dengan

responden yang berpengetahuan baik setelah variabel sikap dikontrol dan variabel sikap

dengan nilai β = 4,330, artinya responden yang mempunyai rumah tidak sehat resikonya empat kali lebih besar, penyebabnya adalah sikap yang kurang dibandingkan dengan

responden yang mempunyai sikap baik setelah variabel pengetahuan dikontrol.

Berdasarkan nilai Exp (β) kita dapat memperkirakan kekuatan pengaruh variabel pengetahuan dan sikap responden terhadap kepemilikan rumah sehat makin besar nilai Exp

(β), makin kuat pengaruh variabel terhadap kepemilikan rumah sehat.

Dari kedua variabel tersebut di atas terlihat bahwa variabel yang paling dominan mempengaruhi kepemilikan rumah sehat adalah variabel pengetahuan dengan nilai β tertinggi yaitu β = 6,896.

Secara teoritis sikap adalah respon terhadap suatu objek. Menurut Sarwono (2007),

bahwa sikap seseorang didasari oleh pengetahuan dan rasa membutuhkan sesuatu, dalam hal

ini berkaitan dengan kepemilikan rumah sehat. Jika seseorang mempunyai sikap positif dan

baik terhadap pentingnya suatu rumah yang sehat, maka dia biasanya akan melakukan

serangkaian kegiatan atau menempuh cara untuk dapat memperoleh rumah yang sehat, dan

diawali dari perilaku sehatnya.

Penelitian ini sejalan dengan hasil temuan Sudjarwo dalam Azwar (2007), menyatakan bahwa sikap yang positif terhadap sesuatu mencerminkan perilaku yang positif. Ada beberapa alasan yang menyebabkan untuk berperilaku negatif contohnya membuang sampah tidak pada tempat yang telah disediakan dan membuang kotoran manusia tidak pada tempatnya (WC), peneliti menduga bahwa karakteristik individu berperan dalam pembentukan perilaku kesehatan

94

seseorang, namun juga dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan seperti ada tidaknya sarana yang mendukung untuk berperilaku sehat.

5.10 Pengaruh Peran Petugas Terhadap Kepemilikan Rumah Sehat

Peran petugas dalam penelitian ini adalah keikutsertaan petugas kesehatan dalam

Dokumen terkait