TINJAUAN PUSTAKA
2.4.2 Karakteristik Individu 1.Pendidikan
Cumming dkk (Azwar, 2007), mengemukakan bahwa pendidikan sebagai
suatu proses atau kegiatan untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan
individu atau masyarakat. Ini berarti bahwa pendidikan adalah suatu pembentukan
watak yaitu sikap disertai kemampuan dalam bentuk kecerdasan, pengetahuan, dan
keterampilan. Seperti diketahui bahwa pendidikan formal yang ada di Indonesia
adalah tingkat sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sekolah lanjutan
tingkat atas, dan tingkat akademik/perguruan tinggi. Tingkat pendidikan sangat
menentukan daya nalar seseorang yang lebih baik, sehingga memungkinkan
menyerap informasi-informasi juga dapat berpikir secara rasional dalam menanggapi
Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan
mengembangkan kemampuan manusia Indonesia jasmani dan rohani yang
berlangsung seumur hidup, baik di dalam maupun di luat sekolah dalam rangka
pembangunan persatuan Indonesia dan masyarakat adil dan makmur berdasarkan
Pancasila (Hasibuan, 2005).
Koentjoroningrat (1997), mengatakan pendidikan adalah kemahiran menyerap
pengetahuan atau meningkatkan sesuai dengan pendidikan seseorang dan kemampuan
ini berhubungan erat dengan sikap sesorang terhadap pengetahuan sesoerang yang
diserapnya, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin mudah untuk dapat menyerap
pengetahuan.
Menurut Daryanto (1997), pendidikan adalah upaya peningkatan manusia ke
taraf insani itulah yang disebut mendidik, sedangkan menurut Dictionary of
Education (1984), pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan
kemampuan, sikap dan bentuk tingkah laku lainnya di dalam lingkungan masyarakat.
2. Pekerjaan
Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan atau pencaharian yang dijadikan
pokok penghidupan seseorang yang dilakukan untuk mendapatkan hasil (Depdikbud,
1998). Pekerjaan lebih banyak dilihat dari kemungkinan keterpaparan khusus dan
derajat keterpaparan tersebut serta besarnya risiko menurut sifat pekerjaan juga akan
berpengaruh pada lingkungan kerja dan sifat sosial ekonomi karyawan pada
3. Pendapatan
Pendapatan adalah tingkat penghasilan penduduk, semakin tinggi penghasilan
semakin tinggi pula persentase pengeluaran yang dibelanjakan untuk barang,
makanan, juga semakin tinggi penghasilan keluarga semakin baik pula status gizi
masyarakat (BPS, 2006).
Tingkat pendapatan yang baik memungkinkan anggota keluarga untuk
memperoleh yang lebih baik, misalnya di bidang pendidikan, kesehatan,
pengembangan karir dan sebagainya. Demikian pula sebaliknya jika pendapatan
lemah akan maka hambatan dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut.
Keadaan ekonomi atau penghasilan memegang peranan penting dalam meningkatkan
status kesehatan keluarga. Jenis pekerjaan orangtua erat kaitannya dengan tingkat
penghasilan dan lingkungan kerja, dimana bila penghasilan tinggi maka pemanfaatan
pelayanan kesehatan dan pencegahan penyakit juga meningkat, dibandingkan dengan
penghasilan rendah akan berdampak pada kurangnya pemanfaatan pelayanan
kesehatan dalam hal pemeliharaan kesehatan karena daya beli obat maupun biaya
transportasi dalam mengunjungi pusat pelayanan kesehatan (Zacler dalam
2.4.3 Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan hal ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan
raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga
(Notoatmodjo, 2003).
Margono dalam Notoatmodjo (2003) menyatakan bahwa pengetahuan adalah
kemampuan untuk mengerti dan menggunakan informasi.
Staton dalam Notoatmodjo (2003), menyatakan pengetahuan atau knowledge
adalah individu tahu apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya.
Notoatmodjo (2003), berpendapat bahwa pengetahuan adalah hasil tahu
seseorang terhadap obyek melalui indra yang dimilikinya dan dipengaruhi oleh
intensitas perhatian dan persepsi terhadap obyek. Pengetahuan seseorang terhadap
obyek mempunyai intensitas dan tingkat yang berbeda-beda, yang secara garis besar
dapat dibagi dalam 6 (enam) tingkat pengetahuan, yaitu :
a. Tahu (know).
Merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah, termasuk dalam tingkatan ini
adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
b. Memahami (comprehension)
Pada tingkatan ini orang sudah paham dan dapat menjelaskan secara benar
tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut
secara benar juga.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.
d. Analisis (analysis)
Pada tingkatan ini sudah ada kemampuan untuk menjabarkan materi yang telah
dipelajari dalam komponen-komponen yang berkaitan satu sama lain.
e. Sintesis (synthetis)
Sintesis merupakan kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada dengan cara meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian
di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap
suatu materi atau obyek, dimana penilaian berdasarkan pada kriteria yang dibuat
sendiri atau pada kriteria yang sudah ada.
2.4.4 Sikap
Menurut Azwar (2007), sikap adalah keteraturan tertentu dalam hal perasaan
atau afeksi, pemikiran (koneksi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang
Sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk berespons (secara
positif maupun negatif) terhadap orang, objek atau situasi tertentu. Sikap seseorang
dapat berubah dengan diperolehnya tambahan informasi tentang objek melalui
persuasi serta tekanan dari kelompok sosialnya (Sarwono, 2007).
Menurut Notoatmodjo (2003), sikap adalah penilaian (berupa pendapat)
seseorang terhadap stimulus atau objek (masalah kesehatan, termasuk penyakit),
setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek, proses selanjutnya akan menilai
atau bersikap terhadap stimulus atau objek kesehatan.
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap stimulus atau objek. Manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat tetapi
hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata
menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang
dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap
stimulus sosial. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi
merupakan predisposisi tindakan atau perilaku (Bloom dalam Notoatmodjo, 2003).
Menurut Allport dalam Notoatmodjo (2003), sikap mempunyai 3 (tiga)
komponen pokok yaitu kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu
objek dan kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek serta
kecenderungan untuk bertindak. Ketiga komponen ini secara bersama membentuk
Kothandapani dalam Azward (2007), merumuskan tiga komponen sikap yaitu
kognitif (kepercayaan atau beliefs), komponen emosional (perasaan) dan komponen
perilaku (tindakan).
2.45 Peran Petugas
Menurut Depkes (1998), peran petugas sanitasi dan kepala puskesmas sangat
menentukan keberhasilan cakupan pelaksanaan inspeksi sanitasi di wilayah
puskesmas selama 1 (satu) tahun. Petugas sanitasi dan kepala puskesmas kurang
memahami akan pentingnya inspeksi sanitasi terhadap rumah sehat dan sarana
kesehatan lingkungan, makanya cakupan inspeksi dan sanitasi tidak memenuhi target
yang ditetapkan.
Sanitarian adalah jumlah tenaga kesehatan yang memiliki latar belakang
pendidikan terakhir bidang kesehatan lingkungan dan sanitarian yang bekerja di
puskesmas yang bersangkutan menurut jenis kelamin. Yang termasuk tenaga
sanitarian adalah SPH, D-III Kesehatan Lingkungan, D-III Penyuluh Kesehatan.
Program pokok kesehatan lingkungan adalah informasi mengenai apakah
program kesehatan lingkungan diselenggarakan oleh tenaga sanitasi di puskesmas
yang bersangkutan atau tidak. Peralatan petugas sanitasi (water test kit dan sanitarian
kit) yaitu informasi mengenai peralatan yang didapatkan dengan kondisi berfungsi
Menurut Syafri (1993), usaha-usaha sanitasi ditujukan kepada seluruh
masyarakat, langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengupayakan perubahan
perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik. Beberapa cara yang dapat diterapkan
sebagai usaha meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat adalah sebagai
berikut :
a. Menggalakkan penyuluhan tentang hidup sehat. Kepedulian dari
lembaga-lembaga kesehatan sangat diharapkan masyarakat. Pemanfaatan tempat-tempat
pelayana kesehatan masyarakat merupakan upaya ideal dalam mewujudkan
kesadaran masyarakat untuk berperilaku sehat. Kepercayaan masyarakat terhadap
petugas-petugas kesehatan di lingkungan adalah merupakan nilai tambah
tersendiri. Masyarakat akan lebih mudah menerima masukan-masukan yang
diberikan. Gambaran umum menunjukkan bahwa lingkungan yang bermasalah
bagi kesehatan didominasi oleh penduduk berpenghasilan rendah dengan tingkat
pengetahuan yang rendah. Adanya asumsi bahwa timbulnya penyakit karena
kutukan adalah tidak relevan sama sekali. Masyarakat harus diberitahu bahwa
terjadinya penyakit adalah karena adanya interaksi antara 3 faktor, yaitu
environment, host dan agent. Penyuluhan-penyuluhan dapat diberikan pada saat
kejadian-kejadian masyarakat berlangsung. Penyuluhan yang cukup efektif dapat
dilakukan terhadap ibu rumah tangga, karena kondisi kesehatan keluarga erat
hubungannya dengan tingkat pengetahuan ibu. Pembinaan terhadap ibu-ibu dapat
dilakukan posyandu. Ibu rumah tangga dapat dianjurkan untuk memulai perilaku
b. Memberi contoh lingkungan sehat bagi masyarakat. Kebanyakan masyarakat
tidak akan menerima langsung isi penyuluhan-penyuluhan tentang kesehatan.
Masyarakat lebih tertarik dengan hal-hal yang praktis dan kurang sukar
memikirkan secara mendalam apa yang harus dilakukan terhadap lingkungannya
agar mereka terhindar dari penyakit. Sebaiknya masyarakat langsung ditunjukkan
contoh-contoh lingkungan sehat yang akan dijadikan panutan agar lebih efektif
dan membantu. Contoh lingkungan sehat bagi masyarakat yang cocok adalah
suatu rumah sederhana dengan perkarangan yang bersih, mempunyai jamban
yang cukup syarat kesehatan, air yang cukup tersedia, dan tempat pembuangan air
limbah serta sampah tersedia baik.
Dari adanya contoh-contoh seperti ini, masyarakat akan mengerti bahwa dengan
kesederhanaan yang mereka miliki, mereka dapat juga menikmati lingkungan
yang sehat dan terhindar dari penyakit-penyakit yang timbul karena keadaan
lingkungan sekitar mereka. Poster-poster sederhana juga dapat membantu
masyarakat mengenal dan menerapkan sanitasi lingkungan. Sarana-sarana desa
seperti balai desa dan pusat pelayanan kesehatan tersebut sering dikunjungi
masyarakat.
c. Menunjang kesehatan masyarakat dalam bidang sanitasi lingkungan. Konsep dan
teknis sanitasi yang cocok bagi suatu wilayah, kadangkala dapat timbul dari
masyarakat sendiri. Hal ini merupakan sumbangan besar bagi terlaksananya usaha
sanitasi lingkungan. Sanitasi lingkungan yang dilakukan masyarakat
oleh masyarakat tani untuk dijadikan kompos. Tujuan utama mereka adalah untuk
menambah bahan organik pada tanaman yang diusahakan. Secara tidak sadar
sebenarnya mereka telah ikut meniadakan vektor-vektor penyakit yang hidup di
sampah-sampah. Kegiatan-kegiatan sanitasi seperti ini merupakan suatu potensi.
Adanya dukungan dari pihak-pihak yang berkompeten akan menumbuhkan peran
serta masyarakat. Masyarakat diberitahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah
salah satu cara melepaskan mereka dari gangguan vektor penyakit.
d. Pemberian penghargaan bagi lingkungan sehat. Keinginan untuk dihargai adalah
mutlak dalam diri manusia. Penghargaan dapat dinyatakan melalui dukungan
terhadap apa yang telah dilakukan, pemberian tambahan sarana-sarana dan hadiah
jika memungkinkan. Adanya penghargaan akan lebih memotivasi masyarakat
untuk meningkatkan kepedulian terhadap keadaan lingkungan yang berkaitan
dengan kesehatan.