Cakupan Vaksinasi
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Medan Johor yang terletak di jalan Karya Jaya 5, Kelurahan Pangkalan Masyhur Kecamatan Medan Johor Kota Medan, Sumatera Utara 20146, Indonesia.Puskesmas ini merupakan jenis tipe puskesmas non perawatan.
4.1.2 Hasil Analisa Univariat
Analisa univariat bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis fakta karakteristik populasi atau bidang tertentu secara aktual dan cermat.
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Variabel
Variabel Hasil Pengukuran Frekuensi Persentase (%) Nilai Kumulatif
Pendidikan Ibu Pendidikan tinggi 15 30 30,0
Ibu Pendidikan rendah 35 70 100,0
Berdasarkan tabel 4.1 didapat bahwa responden berpendidikan tinggi berjumlah 15 orang (30%) dan responden yang berpendidikan rendah berjumlah 35 orang (70%).Responden dengan pengetahuan baik berjumlah 30 orang (60%) dan responden dengan pengetahuan kurang baik berjumlah 20orang (40%).Responden dengan status ekonomi baik berjumlah 18 orang (36%) dan responden dengan status ekonomi kurang baik berjumlah 32 orang (64%).Responden yang menganggap vaksinasi halal berjumlah 34 orang (68%) dan responden yang menganggap vaksinasi tidak halal berjumlah 16 orang (32%).Responden yang anaknya pernah mengalami KIPI berjumlah 35 orang (70%) dan responden yang anaknya tidak pernah mengalami KIPI berjumlah 15 orang (30%).Responden yang mempunyai anak dengan cakupan vaksinasi lengkap berjumlah 22 orang (44%) dan responden yang mempunyai anak dengan cakupan vaksinasi tidak lengkap berjumlah 28 orang (56%).
4.1.3 Hasil Analisa Bivariat
Sebelum dilakukan analisismultivariat, variabel-variabel independen yang ada di uji dahulu satu per-satu dengan uji regresi logistik metode enter untuk mendapatkan variabel yang berhubungan signifikan dengan variabel dependen dan dapat dilanjutkan ke analisa multivariat. Syarat dari seleksi variabel ini adalah bila p value yang didapatkan dari uji variabel satu persatu didapatkan > 0,25.
Tabel 4.2 Pengaruh Antara Variabel Bebas dengan Variabel Terikat menggunakan Uji Regresi Logistik (Metode Enter)
Berdasarkan tabel 4.2 diketahui bahwa dari lima variabel independen yang diuji dengan regresi logistik metode enter didapatkan empat variable yang berhubungan (sig <0,25) dan satu variable yang tidak berhubungan signifikan (sig >0,25) dengan variabel dependen yaitu variabel status ekonomi.
29
Hasil yang mengatakan bahwa status ekonomi tidak signifikan memperngaruhi cakupan vaksinasi tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mukungwa di Zimbabwe bahwa status ekonomi sangat terkait dengan cakupan vaksinasi dasar di Zimbabwe (Mukungwa, 2015). Hal ini mungkin terjadi dikarenakan di Negara Indonesia sendiri, khususnya di kawasan kerja Puskesmas Medan Johor, pemberian informasi akan vaksinasi gratis yang sedang digiatkan oleh pemerintah telah sampai kepada masyarakat di kawsaan kerja Puskesmas Medan Johor sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan biaya yang perlu dikeluarkan demi mendapatkan vaksinasi dasar lengkap untuk anak mereka.
4.1.4 Hasil Analisa Multivariat
Terdapat empat variabel independen yang berhubungan dengan variabel dependen yaitu variabel Pendidikan, Pengetahuan, Kehalalan, dan KIPI yang secara bersama-sama dimasukkan dalam perhitungan uji regresi logistik metode Enter dengan hasil yang tertera pada tabel 4.4.
Tabel 4.3 Variabel Independen yang Telah Diuji Dengan Uji Regresi Logistik (Metode Enter)
Variabel memiliki p value > 0,05, hal ini berarti secara statistik tidak mempunyai hubungan terhadap variabel terikat. Pada uji regresi selanjutnya saat variabel pendidikan dikeluarkan untuk melihat perubahan Exp(B) pada variabel lain, tidak dijumpai perubahan Exp(B) >10% pada variabel lain sehingga variabel pendidikan tidak diikutsertakan lagi dalam uji.Berikut ini adalah variabel yang tersisa dan terdapat perubahan Exp(B) >10% saat dikeluarkan satu per-satu menurut p value tertinggi hingga terendah.
Tabel 4.4 Variabel Independen yang Telah Diuji Dengan Uji Regresi Logistik (Metode Enter)
Dari hasil akhir tabel 4.4 didapatkan variabel-variabel yang secara signifikan mempengaruhi variabel dependen, sedangkan variabel-variabel yang tidak masuk ke model akhir uji multivariate dikatakan sebagai variabel perancu atau variabel counfounding.
Pada variabel pengetahuan,p value dari variabel pengetahuan sebesar 0,015 (>
0,05), dan Exp(B) sebesar 7,345, hal ini berartiibu dengan pengetahuan yang baik 7,345 kali lebih besar akan memberikan vaksinasi dasar lengkap kepada anaknya.
Sebaliknya pada ibu dengan pengetahuan yang kurang baik akan7,345 kali lebih besar beresiko tidak memberikan vaksinasi dasar lengkap kepada anaknya. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Azwar bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu.Sebagian besar pengetahuan diperoleh dari indera penglihatan dan indera pendengaran.Pengetahuan sangat mempengaruhi sikap dan perilaku setiap hari dan dapat menimbulkan kepercayaan diri. Sehingga pengetahuan dapat dikatakan sebagai suatu peran yang penting dalam pembentukan tindakan seseorang(Azwar, 2011). Dan hasil uji ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Triana dimana dalam penelitiannya tersebut didapatkan kesimpulan bahwa Orang tua yangmemiliki pengetahuanrendah berisiko 2,02 kali lebih besartidak memberikan imunisasi dasar lengkappada bayinya dari pada ibu yang memiliki pengetahuantinggi.
Pada variabel kehalalan, p value dari variabel kehalalan sebesar 0,050, yang berarti secara signifikan mempengaruhi cakupan vaksinasi di Puksesmas Medan Johor, dan Exp(B) sebesar 6,204 yang berarti Ibu yang menganggap bahwa vaksin halal menurut kepercayaannya 6,204kali lebih besar akan memberikan vaksinasi dasar lengkap kepada anak mereka. Sebaliknya, ibu yang menganggap vaksin
31
tidak halal menurut kepercayaannya beresiko 6,204kali lebih besar tidak akan memberikan vaksinasi dasar yang lengkap kepada anak mereka. Hal ini sesuai dengan penelitian Sulistiyani et al,
bahwa terdapat 2 pandangan berbeda terhadap imunisasi dari segi agama.
Sebanyak 8 orang subjek penelitian menyatakan bahwa imunisasi boleh dilakukan. Subjek penelitian yang menyatakan bahwa imunisasi dalam agama boleh dilakukan, beranggapan bahwa agama tidak mengharamkan imunisasi karena imunisasi merupakan program pemerintah yang sifatnya baik karena untuk kesehatan rakyatnya, maka sebagai warga negara yang baik, harus taat kepada pemerintah.Sedangkan 10 orang subjek penelitian yang lain percaya bahwa imunisasi haram karena masih meragukan kehalalan dari bahan pembuat imunisasi, sehingga mereka meninggalkan imunisasi(Sulistiyani et al., 2017) Pada variabel KIPI, p value yang didapatkan adalah sebesar 0,031(> 0,05) yang berarti KIPI secara bermakna mempengaruhi cakupan vaksinasi di Puskesmas Medan Johor, dan nilai Exp(B) sebesar 7,512, hal ini berarti Ibu yang pernah mengalami KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) 7,512kali lebih besar beresiko tidak akan memberikan vaksinasi dasar secara lengkap kepada anaknya.
Sebaliknya Ibu yang tidak pernah mengalami KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) 7,512kali lebih besar akan memberikan vaksinasi dasar secara lengkap kepada anaknya. Hal ini sesuai dengan penelitianMusfiroh dan Pradina bahwa kecemasan ibu untuk tidak melakukan imunisasi disebabkan karena adanya pemberitaan miring tentang efek imunisasi. Peran petugas kesehatan sangat diperlukan dalam memberikan informasi tentang imunisasi dan kejadian ikutan pasca imunisasi yang mungkin terjadi kepada bayi pasca imunisasi, karena informasi yang benar akan membentuk kepercayaan ibu dan menurunkan tingkat kecemasan ibu pasca imunisasi campak(Musfiroh and Pradina, 2014).
.BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN