DI KOTA GORONTALO
III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Hak Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dalam Penyelenggaraan Pemerintah Daerah di Kota Gorontalo
Hasil penelitian yang penulis lakukan dibeberapa tempat seperti Kantor DPRD Kota Gorontalo, yaitu 5 (lima) orang anggota dewan dari tim Balegda (disebut sebagai sampel key informan), dan 1 (satu) orang dari Bagian Hukum Setda Kota Gorontalo (disebut sebagai sampel key informan), serta 16 (enam belas) responden dari berbagai elemen masyarakat dan masyarakat umum dari berbagai bidang pekerjaan di Kota Gorontalo (disebut sebagai populasi). Senada dengan hal tersebut maka penulis akan melihat, apakah pelaksanaan hak anggota DPRD khususnya pada pengajuan rancangan peraturan daerah di Kota Gorontalo, sesuai dari bunyi Pasal 44 ayat (1) UU Nomor 32 Tahun 2004, serta penjelasannya dapat diketahui bahwa setiap anggota DPRD berhak untuk mengajukan rancangan peraturan baik lisan maupun tertulis di setiap rapat-rapat pembahasan rancangan peraturan daerah tersebut.
Lahirnya Peraturan Daerah merupakan wujud nyata dari Pemerintah Daerah untuk dapat mempermudah jalannya roda pemerintahan dalam rangka menuju penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bertanggung jawab atau yang dikenal dengan Good Governance.
Hal diatas merupakan hal yang layak dan seharusnya pemerintah mewujudkan secara serius titik berat otonomi daerah tingkat II, karena kalau dilihat dari efektifnya untuk memudahkan jalannya proses pelaksanaan pemerintahan dalam tingkat mewujudkan pembangunan yang baik dan berkesinambungan antara satu dengan yang lainnya, maka hal itu terlihat pada daerah tingkat II merupakan wilayah yang lebih dekat dengan rakyat.
Desentralisasi dibidang pemerintahan atau otonomi adalah menyerahkan kewenangan untuk mengatur dan menyelenggarakan pemerintahan kepada daerah. Penyerahan ini berarti memberikan kesempatan kepada aparat daerah, termasuk wakil-wakil rakyatnya untuk berpartisipasi didalam merencanakan dan melaksanakan berbagai kebijaksanaan pembangunan.
Salah satu tahap awal dan penting dalam bidang hukum, khususnya program pembentukan peraturan perundang-undangan adalah tahap perencanaan. Tahap perencanaan ini adalah perencanaan penyusunan perda dilakukan dalam suatu Program legislatif Daerah (Prolegda). Program legislatif daerah ini adalah upaya penyusunan rencana dan prioritas pembentukan peraturan perundang- undangan dalam kurun waktu tertentu, baik lima tahunan maupun satu tahunan.
Pemerintah daerah dan DPRD dapat menyusun Prolegda yang memuat rencana dan prioritas pembentukan Perda untuk kurun waktu lima tahunan dan satu tahunan. Prioritas ditentukan berdasarkan pengkajian atau inspirasi dan kebutuhan daerah masing-masing serta memperlihatkan perubahan kenegaraan dan kemasyarakatan relatif cepat.
Penyusunan program legislasi daerah dapat dilakukan melalui dua tahap yaitu tahap pertama pada Pemerintah daerah dengan meminta masukan dari dinas-dinas daerah atau perangkat daerah lainnya mengenai raperda yang diperlukan untuk memperlancar kerja masing-masing dinas yang bersangkutan dan tahap kedua di DPRD, masukan dapat diperoleh dari komisi-komisi, fraksi, maupun aspirasi masyarakat yang disampaikan kepada DPRD.
B. Produk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Gorontalo
Penelitian ini menunjukkan bahwa hasil pembentukan Peraturan Daerah yang telah dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Gorontalo dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 sebanyak 91 buah Perda, dan semuanya telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Gorontalo, dan haya 3 buah perda yang merupakan pengajuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Gorontalo. Pada umumnya Perda-perda tersebut merupakan pengajuan dari Pemerintah Kota Gorontalo.
Andi Mustari Pide (1999:24-25) pada konsep Negara Federasi, kekuasaan dalam negara selanjutnya dibagi antara pemerintah negara federal dengan pemerintah negara-negara bagian yang berfederesi sedemian rupa, sehingga pemerintah federal mengendalikan kekuatan dalam suatu lingkungan tertentu. Sementara pemerintah negara-negara bagian mengendalikan kekuasaan tertentu yang lain, tanpa pengawasan pemerintah federal. Pembagian kekuasaan negara kepada negara federal dan kepada negara-negara bagian di tetapkan dalam suatu konstitusi, terutama kekuasaan pemerintah federal terhadap hal hubungan luar negeri, mencetek uang, dan militer. Sementara sisanya menjadi wewenang negara-negara bagian.
Amrah Muslimin (1982:4) mengartikan dekonsentrasi sebagai pelimpahan wewenang dari pemerintah kepada alat-alat pemerintah pusat yang ada di daerah. Hubungan antara DPRD dengan eksekutif dalam penyusunan peraturan daerah Kota Gorontalo diwujudkan dengan kegiatan interaksi dan negosiasi dalam rapat pembahasan raperda tersebut. DPRD memegang dua peranan dalam waktu yang sama yakni bertindak sebagai wakil rakyat dan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Dengan kata lain, peranan yang pertama ialah selaku wakil rakyat dan sebagai penyalur serta pelindung kepentingan rakyat di daerah yang diwakilinya, dalam hal ini juga anggota DPRD seakan-akan berhadapan dengan eksekutif. Peranan yang kedua yaitu selaku pembentuk legitimasi bagi eksekutif melalui berbagai peraturan yang dihasilkan. Hubungan DPRD dan eksekutif sangatlah erat dalam penyusunan peraturan daerah.
Desentralisasi sebagai suatu sistim pemerintahan atau sering di sebut sebagai asas pemerintahan, mengandung beberapa pengertian. Van der pot (dalam Bagir Manan, 1994:21), membedakan desentralisasi dalam arti desentralisasi territorial dalam arti desentralisasi fungsional, desentralisasi teritorial menjelma dalam bentuk badan yang di dasarkan pada wilayah
(gebeidscorporaties), sedangkan desentralisasi fungsional menjelma dalam bentuk badan-badan yang di dasarkan pada tujuan-tujuan tertentu (doelcorporaties).
Di dalam negara kesatuan ada dua sistim pemerintahannya, yaitu suatu sistim yang memusatkan semua urusan-urusan, tugas, fungsi dan wewenang. Pelaksanaan tugas pemerintahan kepada pemerintah pusat. Sistim ini di kenal dengan istilah sistim sentralisasi. Sistim lainnya yang berupaya untuk mendesentralisasikan semua urusan, tugas, fungsi, dan wewenang, pelaksanaan
pemerintah besar dan kecil di daerahnya.Kemudian diistilahkan dengan desentralisasi (Miftah Toha dalam jurnal CIDES, 1997:158)
Proses penyusunan Peraturan Daerah Kota Gorontalo dilakukan melalui Proses pembahasan dan pembicaraan yang melibatkan Pansus sebagai wakil dari DPRD dan Bagian Hukum serta leading sector sebagai wakil pemerintah daerah. Bagian Hukum dan Leading sector inilah yang diajukan ke DPRD.
Sriyono (1999:5) Tanpa informasi yang memadai dan mudah diperoleh para anggota DPRD maka akan mengalami kesulitan dalam membahas berbagai masalah dengan mitra kerjanya (pihak pemerintah daerah). Pihak eksekutif memiliki peralatan yang lengkap dan data-data yang mendukung, hal ini bisa dimaklumi karena pemerintah mempunyai perangkat sampai pada tingkat paling bawah. Masalah yang disebut masyarakat adalah ketegantungan DPRD kepada pemerintah di sektor data, anggota DPRD tidak memiliki otonomi dalam membiayai seluruh kegiatannya, dengan demikian dapat dimengerti kiranya anggota DPRD kekurangan dana untuk menghipun pemikiran, sarana, dan pendapat para ahli dari luar Dewan.
Dari pihak DPRD sendiri, kegiatan yang dilakukan sebagai bahan yang dapat dijadikan pertimbangan dan sebagai bahan perbandingan pada saat pembicaraan dengan pihak Pemda adalah mengadakan kunjungan kerja/ studi banding ke daerah-daerah yang mempunyai Perda yang sejenis.
Selain terjadi hubungan antara DPRD dan eksekutif, dalam proses pembahasan raperda ini juga harus memperhatikan keterlibatan masyarakat. Keterlibatan masyarakat ini dalam Undang- undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 139 ayat (1) menyebutkan bahwa “masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan dan tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan Perda”.
Selain aturan yang termuat dalam Undang-undang Pemerintahan daerah tersebut, dalam Peraturan Tata Tertib DPRD Kota Gorontalo disebutkan bahwa dalam pembicaraan Tahap III, harus melibatkan masyarakat untuk memberikan masukan secara lisan dan tertulis berkaitan dengan materi muatan yang harus dibuat dalam Peraturan Daerah yang sedang dibahas.
Kedua aturan tersebut penting untuk menjamin partisipasi masyarakat dalam penyusunan peraturan daerah. Partisipasi masyarakat merupakan unsur penting yang nantinya akan terlibat langsung dengan pelaksanaan peraturan daerah ketika sudah diundangkan dan dinyatakan berlaku. Selain masyarakat yang berkepentingan, unsur dari masyarakat yang juga dilibatkan yakni dari kalangan kampus dan akademisi untuk memberikan masukan-masukan terkait dengan peraturan daerah ini baik teknis maupun substansi dari peraturan daerah tersebut.
IV. KESIMPULAN
Pelaksanaan hak anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Gorontalo yang berhubungan dengan pembentukan regulai di daerah khususnya untuk daerah Kota Gorontalo terlihat jelas kalo memang masih perlu adaya perhatian yang khusus atau sebaik-baiknya dari berbagai pihak baik itu secara keseluruhan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Gorontalo, Pemerintah Kota Gorontalo, dan masyarakat Kota Gorontalo itu sendiri maupun komponen-komponen yang terkait dengan pembentukan Peraturan Daerah Kota Gorontalo. Hal ini terlihat belum berjalan secara
maksimal sehingga apa yang terlihat dalam pembentukan Peraturan Daerah Kota Gorontalo oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Gorontalo yang merupakan salah satu haknya yang termasuk dalam amanat Undang-Undang 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini tampak tidak maksimal bahkan jauh dari harapan.
V. SARAN
Diharapkan agar pelaksanaan hak anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah seyogyanya dilaksanakan secara efektif mungkin dan diharapkan adanya partisipasi dari masyarakat dan komponen yang secara sinergi untuk dapat menyadari atau memahami dan berpartisipasi pembntukan peraturan tersebut yang dapat mempengaruhi pelaksanaan hak anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Gorontalo dan penyeleanggaraan pemerintahan yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Amran Muslimin, Aspek-Aspek Hukum Otonomi Daerah, Bandung: Alumni, 1982.
Andi Suryaman Mustari Pide, Otonomi Daerah dan Kepala Daerah Memasuki Abad XXI, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999.
Bagir Manan, Hubungan Antara Pusat dan Daerah Menurut UUD 1945, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994.
Kuntjoro Purbopranoto, Beberapa Catatan Hukum Pemerintahan dan Peradilan Administrasi Negara,
Bandung: Alumni, 1981.
Miriam Budianrdjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1992.
Miftah Toha, Beberapa Masalah Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah, dalam Jurnal CIDES Profil Indonesia, Jakarta, 1997.
Marbun B.M., DPRD: Pertumbuhan, Masalah dan Masa Depannya, Jakarta: Erlangga, 1993.
Mochtar Kusumaatmadja, Konsep-Konsep Hukum Dalam Pembangunan (Kumpulan Karya Tulis),
Bandung: Alumni, 2002.
Sekretaris Negara RI, Risalah Sidang BPUPKI – PPKI, Disunting Oleh Safruddin dkk, Jakarta: Setneg RI, 1995.
Soesilo Bambang Yudoyono, Otonomi Daerah, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003.
Sriyono, Fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah di Bekasi, Jawa Barat, 1999.
The Liang Gie, Kumpulan Pembahasan Terhadap Undang-Undang Tentang Pengaturannya Tahun 1986 -1997, Jakarta: Sekolah Tinggi Hukum Militer, 1977.
___________(I), Pertumbuhan Pemerintah Daerah di Negara RI, Jilid I, Jakarta: Gunung Agung, 1997.
PELEMAHAN ASAS LEGALITAS DENGAN DIANUTNYA AJARAN