BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
89
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada Bab ini akan menguraikan dan menjelaskan hasil penelitian dan pembahasan dari penelitian mengenai Analisis Wacana Kritis Teks Pidato Pledoi Indonesia Menggugat oleh Sukarno Pada Tahun 1930 . Teks pidato pledoi wacana tersebut akan dianalisis dengan menggunakan teori dan model wacana dari Teun A. van Dijk. Sesuai dengan prosedur sistematika dengan menggunakan model wacana van Dijk dan metode penelitian kualitatif, peneliti menganalisis teks pidato pledoi Indonesia Menggugat" dengan menggunakan tiga bagian analisis, yang juga sesuai dan mengacu pada identifikasi masalah, yaitu: analisis wacana dari segi teks, analisis wacana dari segi kognisi sosial, dan analisis wacana dari segi konteks sosial.
4.1 Deskripsi Informan Penelitian
4.1.1 H. Dedy Hermansyah, S.H.
Dedy Hermansyah SH lahir di Bengkulu, tahun 1975. Ia adalah seorang mantan aktivis mahasiswa tahun 90-an. Ia mengenyam pendidikan perguruan tinggi di Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung (Unisba) tahun 1993. Pengalaman dia pernah mengajar sebagai dosen mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Hukum Indonesia di STIA Bagasasi Bandung. Ia pun pernah menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat periode 2002-2004. Saat ini, ia berprofesi sebagai wiraswata.
90
Pengalaman masa kecil Dedy, antara lain, ayahnya pernah berkata Nak, kita harus bangga sebagai orang Bengkulu, karena salah satu putri Bengkulu yaitu Ibu Fatmawati dipersunting Bung Karno, presiden pertama Republik Indonesia . Ayahnya pun pernah mengajak Dedy kecil mengujungi rumah pengasingan Bung Karno, di Jalan Anggut Atas, Bengkulu. Dari sanalah bibit-bibit kecintaan seorang Dedy Hermansyah kecil kepada Bung Karno mulai tumbuh.
Peneliti pertama kali bertemu dengan Dedy adalah pada saat acara diskusi terbatas suatu organisasi kemahasiswaan ekstra kampus. Ia sangat menyambut terbuka ketika peneliti memintanya untuk menjadi informan pada penelitian ini. Pada saat proses wawancara, banyak informasi yang peneliti dapatkan dari narasumber ini, baik yang sesuai dengan konteks penelitian maupun diluar konteks penelitian. Bagi peneliti, semua itu peneliti anggap sebagai pelajaran yang sangat berharga. Ia pun menasihati peneliti agar lebih banyak membaca berbagai referensi tentang Bung Karno.
Yang ia kagumi dari Bung Karno adalah sikap perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia ini yang totalitas kepada bangsanya secara konsistensi. Sepengetahuannya, Bung Karno pun tidak pernah korupsi. Dengan kata lain, Bung Karno tidak pernah memanfaatkan jabatan kekuasaannya untuk kepentingan sendiri maupun keluarganya. Terakhir, moto hidup Dedy adalah Hidup adalah pilihan, pilihan adalah perjuangan, perjuangan adalah pengorbanan, dan pengorbanan adalah hidup .
91
4.1.2 Mochammad Sa ban Hanief
Mochammad Sa ban Hanief, atau yang biasa peneliti sebut Kang Hanief, lahir di Bandung tahun 1979. Ia adalah seorang mantan aktivis mahasiswa waktu kuliah tahun 1997. Sejak itu pula, ia berhubungan dengan banyak hal yang ber- bau dengan Bung Karno. Karena keharusan tentang pengetahuan sejarah, kemudian mau tidak mau, ia membaca banyak literatur yang akrab berhubungan dengan ajaran-ajaran Bung Karno.
Menurutnya, bila ingin bertolak dan membangun bangsa ini, terlebih dahulu setiap orang harus mengetahui dan mempelajari sejarah. Sedangkan bila kita belajar sejarah, katanya, sejarah bangsa ini tidak lepas dari peran besar Bung Karno sebagai bapak pendiri bangsa. Bung Karno, baginya merupakan tokoh yang sangat berpengaruh besar terhadap terciptanya Pancasila sebagai konsep negara Indonesia, karena Bung Karno adalah seorang pencetus dan orang yang pertama kali mengusulkan Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia.
Peneliti pertama kali bertemu Kang Hanif, ketika terdapat suatu acara memperingati Seratus Tahun Peristiwa Indonesia Menggugat di Gedung Indonesia Menggugat Bandung, yang dulunya merupakan gedung pengadilan Landraad yang dipakai untuk proses persidangan Bung Karno. Ia sangat menyambut terbuka ketika peneliti minta untuk menjadi informan pada penelitian ini. Pada saat proses wawancara, banyak informasi bermanfaat yang peneliti dapatkan dari narasumber ini, ia pun menasihati peneliti agar
92
penggalian sejarah mengenai bangsa ini terus dilakukan untuk meluruskan dan untuk menyadari pentingnya sejarah sebagai titik tolak membangun bangsa ini.
Yang ia kagumi dari sosok Bung Karno adalah Bung Karno merupakan sosok seseorang luhur dalam mengabdikan hidupnya kepada bangsa ini. Bahkan, ketika Bung Karno membuat suatu rumusan negara, Bung Karno memandang Pancasila berdasarkan perpektif kebudayaan, bukan politik. Bung Karno merumuskan Pancasila hasil dari perasan nilai-nilai luhur kehidupan bangsa Indonesia, termasuk juga dalam ranah kebudayaan yang sangat sekali kental dalam kehidupan rakyat Indonesia waktu itu, bahkan hingga saat ini.
4.1.3 Abdy Yuhana, S.H, M.H.
Abdy Yuhana, S.H, M.H lahir di Indramayu, tahun 1976. Ia adalah seorang mantan aktivis mahasiswa tahun 1996. Terlahir dari keluarga kalangan Partai Nasional Indonesia (PNI). Ia telah akrab mendegar banyak cerita tentang Bung Karno, sejak kecil. Pengalaman hidupnya, antara lain, pernah menjabat sebagai wakil ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jawa Barat periode 2004-2007. Ia pun pernah mengeluarkan buku pada tahun 2009, yang berjudul Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Perubahan UUD 1945: Sistem Perwakilan di Indonesia dan Masa Depan MPR RI . Hingga kini, ia menjalani karier politiknya sebagai wakil sekretaris Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Jawa Barat periode 2010-2015. Ia
93
pun berprofesi sebagai advokat dan memiliki kantor hukum sendiri, yang didirikannya pada 2002, hingga kini.
Pertama kali peneliti bertemu Abdy pada kesempatan seminar kebangsaan yang membahas empat pilar kebangsaan Indonesia yang wajib dipertahankan selama negara ini masih berdiri. Ia pun sangat menyambut terbuka ketika peneliti memintanya untuk menjadi informan pada penelitian ini. Pada saat proses wawancara banyak informasi yang peneliti dapatkan darinya. Ia pun mengatakan kepada peneliti bahwa tiga konsensus nasional bangsa Indonesia, yaitu kongres Sumpah Pemuda 1928, pidato lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni, dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan suatu hal mutlak mengenai konsep negara Indonesia yang tidak perlu diperdebatkan.
Yang ia kagumi dari Bung Karno, adalah pemikiran-pemikirannya hingga saat ini masih sangat relevan. Bahkan, menurutnya, hingga saat ini pemikiran Bung Karno merupakan jendela informasi bagi yang ingin mendalami ihwal kebangsaan. Pemikiran Bung Karno itu mencakup semua ideologi yang ada. Gagasan visi Bung Karno terlihat jauh ke depan. Belum ada pemimpin seperti Bung Karno, bahkan hingga saat ini sekalipun.
4.2 Teks Pidato Pledoi tentang Imperialisme dan Kapitalisme
Berikut ini adalah penggalan teks yang akan diteliti, yaitu teks pidato pledoi Indonesia Menggugat yang bertema tentang Imperialisme dan Kapitalisme, sebagai berikut:
94