BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian Dan Pembahasan
Dari penelitian yang telah dilaksanakan di instalasi rekam medis Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, dijumpai jumlah seluruh neonatus yang lahir di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2016 adalah sebanyak 245 neonatus, dengan 130 rekam medis neonatus yang masuk ke dalam kriteria ekslusi di karenakan data rekam medis yang tidak lengkap. Pada penelitian ini karakteristik subjek yang digunakan dapat dibedakan berdasarkan nama, jenis kelamin, usia gestasi, dan kadar bilirubin.
23
Subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi adalah neonatus yang mengalami hiperbilirubinemia di RSUP HAM Medan pada tahun 2016 sebanyak 115 sampel. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Karakteristik Subjek Penelitian
Karakteristik N Persentase (%)
Jenis Kelamin
Hiperbilirubin 82 71.3
Jumlah 115 100
Berdasarkan dari tabel 4.1 dapat dilihat distribusi frekuensi neonatus pada karakteristik jenis kelamin ditemukan lebih banyak neonatus dengan jenis kelamin laki-laki, yaitu dengan jumlah 68 neonatus atau 59,1% dan perempuan sebanyak 47 neonatus atau 40,9%. Pada karakteristik usia gestasi dapat terlihat jumlah neonatus dengan usia gestasi preterm sebanyak 83 neonatus atau sebanyak 72,2%
dan bayi aterm sebanyak 32 neonatus atau sebanyak 27,8%. Dengan demikian maka dapat dikatakan lebih banyak neonatus dengan usia gestasi preterm < 37 minggu atau kurang bulan yang melakuan pemeriksaan hiperbilirubinemia. Hal ini sesuai dengan penelitian di Shri MP Shah Medical Collage Jamnagar Gujerat yang menyatakan bahwa kejadian hiperbilirubin pada neonatus adalah sebanyak 80%. Ini adalah disebabkan oleh kadar bilirubin serum neonatus yang premature selalu lebih tinggi dibanding neonatus cukup bulan karena maturasi hati meningkat sejalan dengan umur (Nelson, 2007).
Pada karakteristik bilirubin di jumpai neonatus yang memiliki kadar bilirubin normal sebanyak 33 neonatus atau 28,7 %, dan dijumpai neonatus dengan kadar bilirubin diatas normal atau hiperbilirubinemia sebanyak 82 neonatus atau 71,3% . Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis yang paling sering
24
ditemukan pada neonatus (Wong et al., 2007). Neonatus dengan hiperbilirubin tampak kuning akibat akumulasi pigmen bilirubin yang berwarna kuning pada sklera dan kulit. Pada janin tugas mengeluarkan bilirubin dari darah dilakukan oleh plasenta dan bukan oleh hati. Setelah neonatus lahir, tugas ini langsung di ambil alih oleh hati, yang memerlukan sampai beberapa minggu untuk penyesuaian (Sukadi A, 2010).
Selama selang waktu tersebut, hati bekerja keras untuk mengeluarkan bilirubin dari darah. Walaupun demikian, jumlah bilirubin yang tersisa masih menumpuk di dalam tubuh. Oleh karena bilirubin berwarna kuning, maka jumlah bilirubin yang berlebihan dapat memberi warna pada kulit, sklera dan jaringan-jaringan tubuh lainnya. Pada setiap neonatus yang mengalami keadaan peningkatan kadar bilirubin > 5mg/dl dikatakan mengalami Hiperbilirubinemia (Hansen TWR, 2011).
Tabel 4.2 Distribusi frekuensi neonatus dengan hiperbilirubinemia berdasar jenis kelamin
Jenis kelamin
Bilirubin
Normal Persentase Hiperbilirubin Persentase
Laki- laki 22 19,1 % 46 40,0 %
Perempuan 11 9,6 % 36 31,3%
Total 33 28,7 % 82 71,3 %
Berdasarkan dari tabel 4.2 di atas distribusi frekuensi neonatus dengan hiperbilirubinemia berdasarkan jenis kelamin, ditemukan neonatus yang mengalami hiperbilirubinemia lebih banyak pada jenis kelamin laki-laki, yaitu dengan jumlah 46 neonatus atau 40,0% dan perempuan sebanyak 36 neonatus atau 31,3% dari total keseluruhan 83 neonatus yang mengalami hiperbilirubinemia atau 71,3% dari 115 neonatus yang menjadi sampel penelitian. Dimana dapat dikatakan bahwa neonatus dengan jenis kelamin laki-laki lebih banyak mengalami hiperbilirubinemia dibandingkan neonatus dengan jenis kelamin perempuan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Tieoseco yang mengatakan bahwasannya laki–laki lebih banyak menderita hiperbilirubinemia (Tieoseco, 2005). Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan di rumah sakit DR Soetomo Surabaya yang dilakukan oleh melisa, risa, dan pudji dimana ditemukan jumlah
25
bayi yang mengalami hiperbilirubinemia dengan jenis kelamin laki-laki sebanyak 55 neonatus dan 45 dengan jenis kelamin perempuan, hal ini juga di dukung oleh pendapat Hussein yang menyatakan bahwa faktor defisiensi G6pd (Glucose 6 phospat dehydrogen-ase) paling sering terjadi pada neonatus laki-laki dari pada perempuan (Hussain et al., 2010).
Mekanisme pengaruh jenis kelamin terhadap peningkatan kadar bilirubin belum jelas, faktor yang di duga dapat mempengaruhi metabolisme bilirubin pada neonatus dengan jenis kelamin laki-laki adalah kromosom Y yang menyebabkan peningkatan metabolisme dan terjadinya defisiensi maturasi system enzim pada pembentukan, metabolisme, dan eliminasi serum bilirubin ( Tieoseco, 2005)
Tabel 4.3 Hubungan antara usia gestasi dengan kadar bilirubin
Usia Gestasi
Bilirubin
P-value Normal Persentase Hiperbilirubin Persentase
Preterm 13 11,3 % 70 60,9 % 0,001
Aterm 20 17,4 % 12 10,4 % 0,001
Total 33 28,7 % 82 71,3 % 0,001
Pada tabel 4.3 ditemukan neonatus dengan usia gestasi preterm yang memiliki kadar bilirubin normal seabanyak 13 neonatus atau 11,3% dan yang hiperbilirubinemia sebanyak 70 neonatus atau 60,9%. Sedangkan neonatus dengan usias gestasi aterm sebanyak 20 orang atau 17,4% dan yang mengalami hiperbilirubinemia sebanyak 12 neonatus atau 10,4 %. Dari analisis menggunakan uji chi-square di dapat hasil neonatus dengan usia gestasi dengan kadar bilirubin memiliki nilai p sebesar 0,001 < 0,005 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan anatara usia gestasi preterm dengan kadar bilirubin neonatus.
Ditemukan 115 neonatus yang melakukan pemeriksaan hiperbilirubinemia dan sesuai dengan kriteria inklusi pada penelitian ini dari 245 neonatus yang lahir di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari 2016-Desember 2016.
Berdasarkan distribusi frekuensi usia gestasi yang dijumpai pada penelitian ini dan menggunakan analisa terhadap tabulasi silang antara usia gestasi dan hiperbilirubinemia menggunakan uji Chi–square diperoleh hasil nilai p dengan
26
nilai 0,001 < 0,005 yang menyatakan bahwa terdapat adanya hubungan yang signifikan antara usia gestasi dengan kadar bilirubin neonatus.
Hasil penelitian tersebut serupa dengan penelitian yang dilakukan di kota Cimahi pada tahun 2009 di Rumah Sakit Dustira Cimahi yang dilakukan oleh Novie dan Ade, menyatakan bahwasanya ada hubungan yang signifikan antara faktor usia kehamilan dengan hiperbilirubinemia. Pada penelitian tersebut di jumpai nilai p 0,001.
Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sandi dan Retno di rumah sakit umum daerah panambehan senopati pada tahun 2009, di mana ditemukan nilai p 0,001 lebih kecil dari 0,005 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara hubungan kelahiran premature dengan kejadian ikterus.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
1. Angka kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus di jumpai cukup tinggi dengan distribusi lebih banyak terjadi pada neonatus dengan usia gestasi preterm atau < 37 minggu yaitu sebanyak 83 neonatus dengan persentase 72,2%.
2. Angka kejadian hiperbilirubinemia pada neonatus dijumpai cukup tinggi dengan distribusi lebih banyak terjadi pada neonatus dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 46 orang dengan persentase 40,0%.
3. Di jumpai ada hubungan yang signifikan antara usia gestasi dengan kadar bilirubin pada neonatus dengan nilai p 0,001 (< 0,05) yang mengartikan ada nya hubungan antara usia gestasi dengan kadar bilirubin.
5.2 SARAN
1. Bagi pelayan kesehatan agar terus meningkatkan pelayanan terhadap pasien neonatus, khusunya pasien neonatus dengan hiperbilirubinemia, serta melakukan pencatatan data pasien secara lengkap sehingga bermanfaat sebagai bahan evaluasi dan penelitian.
2. Disarankan untuk seluruh ibu yang sedang mengandung untuk melalukan perawatan antenatal care dengan baik, sehingga diharapkan dapat mengurai kejadian neonatus lahir dengan usia gestasi premature.
3. Penelitian mengenai bidang ini sebaiknya dikembangkan agar pengetahuan mengenai pasien dan terapi dari penyakit ini dapat terus bertambah dan relevan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga aplikasinya dapat bermanfaat bagi masyarakat.
28
DAFTAR PUSTAKA
American Academy of Pediatrics. Subcommitteee on hyperbilirubinemia.
Management of hyperbilirubinemia in the newborn infant 35 or more weeks of gestation. Clinical Practice Guidelines. Pediatrics.
2004;114:297-316.
BagchiA. Phototheraphy. Dalam: Mc Donald MG, Ramasethu J, penyunting.
Atlas of Procedures in neonatology. edisi 3. Philadelphia: JB Lippincort Company;2002: h.373-80
Bhutani, V. K., R. J. Vilms, and L. Hamerman-Johnson. "Universal bilirubin screening for severe neonatal hyperbilirubinemia." Journal of perinatology 30 (2010): S6-S15.
Bhutani, Vinod K., et al. "Neonatal hyperbilirubinemia and Rhesus disease of the newborn: incidence and impairment estimates for 2010 at regional and global levels." Pediatric research 74.S1 (2013): 86-100.
Bhutani, Vinod K., Ronald J. Wong, and David K. Stevenson.
"Hyperbilirubinemia in Preterm Neonates." Clinics in perinatology 43.2 (2016): 215-232.
Blackburn ST, penyunting. Bilirubin metabolism.materna,fetal,& neonatal physiology, a clinical perspective. Edisi ke – 3. Saunders. Missori., 2007
Boyle, Elaine M., et al. "Effects of gestational age at birth on health outcomes at 3 and 5 years of age: population based cohort study." Bmj 344 (2012):
e896.
Bratlid, D., B. Nakstad, and T. W. R. Hansen. "National guidelines for treatment of jaundice in the newborn." Acta Paediatrica 100.4 (2011): 499-505.
Cunningham F, Williams J. Williams obstetrics. New York: McGraw-Hill Medical; 2010.
Dennery PA,Seidman DS,Stevenson DK. Neonatal hyperbilirubinemia. N Engl J Med 2001;344:581-90.
Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE. Hyperbilirubinemia. In:
Gomella TL, editor. Neonatology; Management procedures, on-call problems, disease and drugs. New York: Lange Medical Book/McGraw- Hill Co, 2004; p.381-95.
29
Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG. Hiperbilirubinemia. Dalam:
Neonatology; Management. Procedures, On-Call Problems, Diseases and Drugs. New York. Lange Medical Book/McGraw-Hill Co. 2004;
247-50.
Halamek LP, Stevenson DK. Neonatal jaundice and liver disease, Dalam ; Fanaroff AA, Martin RJ, penyunting. Neonatal –perinatal madicine.
Disease of the fetus in infant. Edisi ke 7. St louis; Mosby inc, 2002 ; h.1309-50.
Hansen TWR. Jaundice, neonatal. E. Medicine [homepage on the Internet]. 2011 [updated 2011 June 15; cited 2011 October 15]. Available from:
http://www.emedicine.medscape.com/a rticle/974786-overview.
Health Technology Assessment unit Medical Development Division Ministry Of Health Malaysia,2002.Management of neonatal hyperbilirubinemia.
Hiperbilirubinemia. [homepage on the internet]. Nodate [updated 02 February 2010; cited 2011 October 15]. Available from: http://forum.um.ac.id/
index.php? topic=8421.0.
Hussain M, Irshad M, Kalim M, Ali L, Ali L (2010). Glucose-6-phosphate dehydrogenase deficiency in jaundiced neonates. JPMI 24, 122-126 Kosim, M. Sholeh, et al. "Hubungan hiperbilirubinemia dan kematian pasien yang
dirawat di nicu rsup dr kariadi semarang." Sepsis 65.90 (2007): 3.
Kosim, M. Sholeh, et al. Buku Ajar Neonatologi. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Jakarta . 2012
Maisels M. Neonatal hiperbilirubinemia.Dalam: Polin A, Yodes MC, penyunting.
Workbook in practical neonatology. Edisi ke- 4.Philadelphia:Saunders, 2007. h.53-70.
Managing newborn problems: a guide for doctors,nurses,and midwives.
Departement of Reproductive Health and Research, World Health Organization, Geneva 2003.
Martin CR, Cloherty JP. Neonatal hiperbilirubinemia. Dalam: Cloherty JP, Eichenwald EC, Stark AR, penyunting. Manual of neonatal care. Edisi ke-5. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2004.h.185-221.
Mauliku,Novie E; Nurjannah,Ade. Faktor – faktor pada ibu bersalin yang berhubungan dengan kejadian hiperbilirubin pada bayi baru lahir di rumah sakit Dustira Cimahi tahun 2009.
30
Muray, RK.Biokimia harper edisi 27 jakarta:EGC 2009 page 289-303
Muslihatun,. W.N. (2010) Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta: Fitra Maya
Nelson, ew ; Kliegman, Philadelphia.nelson textbook of pediatrics. 18th ed.english saunders.2007.
Oski FA. Physiologic Jaundice. Dalam: Schaffer and Avery’s Disease of the Newborn. WB Saunders Company. Philadelphia, 1991:753-757
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Perinatologi, dalam Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak 3. FKUI. Jakarta. 1985.
Sukadi A. Hiperbilirubinemia. Dalam: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku Ajar Neonatologi. Edisi 1. Jakarta:
IDAI; 2008.h.147-69.
Sukadi A. Hiperbilirubinemia. In: Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A, penyunting. Buku Ajar Neonatologi (Edisi Ke-1). Jakarta:
Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2010; p. 147-53.
Surjono A. hiperbilirubinemia pada neonatus : pendekatan kadar bilirubin bebas.
Berkala Ilmu Kedokteran 1995;27 43-46
Susiatmi,Sandi Ari; Mawarti, Retno hubungan Kelahiran premature dengan kejadian ikterus neonatorum patologik pada bayi baru lahir di rsup panembahan senopati bantul tahun 2009.
Tioseco JA., Aly H., Milner J., Patel K., Mohandes AAE. Does gender affect neonatal hyperbilirubinemia in infants? Pediatric Crit Care Med 2005 ; 6(2): 171-174
Unit Pengkajian Teknologi Kesehatan Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Tata laksana ikterus neonatorum. HTA Indonesia, Dirjen Yanmed Depkes RI 2004;1:1-22 WHO. Preterm Birth. Fact Sheets. 2015
Wong RJ, Stevenson DK, Ahlfors CE, Vreman HJ. Neonatal Jaundice: Bilirubin physiology and clinical chemistry. NeoReviews 2007;8:58-67.
Lampiran 1. Biodata Penulis
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Amira Nur Habibi Nasution
Jenis Kelamin : Perempuan
NIM : 140100076
Tempat / Tanggal Lahir : Medan, 30 Maret 1997
Agama : Islam
Nama Ayah : Abdul Hadi Husin Nasution
Nama Ibu : Savita Handayani
Alamat : Jl. Iskandar Muda No.17, Kel. Merdeka, Kec.
Medan Baru, Medan Riwayat Pendidikan :
1. TK Harapan 2 (2000-2002) 2. SD Harapan 2 (2002-2008) 3. SMP Harapan 2 (2008-2011) 4. SMA Negeri 4 Medan (2011-2014)
5. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (2014-Sekarang)
Riwayat Pelatihan :
1. Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) FK USU 2014
Riwayat Organisasi : -
Lampiran 2. Lembar Orisinalitas
PERNYATAAN
HUBUNGAN ANTARA USIA GESTASI DENGAN KADAR BILIRUBIN PADA NEONATUS DI RSUP HAJI ADAM MALIK
PADA TAHUN 2016
Dengan ini penulis menyatakan bahwa skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh Sarjana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan Dokter pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan yang penulis lakukan pada bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penelitian ilmiah.
Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian skripsi ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Medan, Desember 2017 Penulis,
AMIRA NUR HABIBI NASUTION 140100076
Materai Rp 6.000
Lampiran 3. Surat Izin Survei Awal Penelitian
SURAT IZIN SURVEI AWAL PENELITIAN
Lampiran 4. Ethical Clearance
ETHICAL CLEARANCE
Lampiran 5. Surat Izin Penelitian
SURAT IZIN PENELITIAN
Lampiran 6. Data Induk Penelitian
31. 685066 Laki-Laki 35 9.40
68. 694681 Perempuan 36 17.80
105. 695326 Perempuan 32 22.10
106. 686587 Laki-Laki 39 4.70
107. 674845 Laki-Laki 36 17.50
108. 665545 Perempuan 40 4.70
109. 674545 Laki-Laki 36 6.50
110. 668543 Perempuan 36 13.70
111. 682043 Perempuan 35 18.50
112. 682341 Perempuan 32 16.90
113. 674841 Laki-Laki 36 14.50
114. 692839 Laki-Laki 28 11.30
115. 683437 Perempuan 28 11.40
Lampiran 7. Data Statistik SPSS
HASIL UJI STATISTIK
HASIL OUTPUT :
JENIS KELAMIN NEONATUS
Statistics
Jenis Kelamin Neonatus
N Valid 115
Missing 0
Jenis Kelamin Neonatus
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Laki-Laki 68 59.1 59.1 59.1
Perempuan 47 40.9 40.9 100.0
Total 115 100.0 100.0
USIA GESTASI NEONATUS
Statistics
Usia_Gestasi_Neonatus
N Valid 115
Missing 0
Usia_Gestasi_Neonatus
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Preterm 83 72.2 72.2 72.2
Aterm 32 27.8 27.8 100.0
Total 115 100.0 100.0
KADAR BILIRUBIN NEONATUS
Statistics
Kadar_Bilirubin
N Valid 115
Missing 0
Kadar_Bilirubin
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Normal 33 28.7 28.7 28.7
Hiperbiliruin 82 71.3 71.3 100.0
Total 115 100.0 100.0
KADAR BILIRUBIN NEONATUS BERDASARKAN JENIS KELAMIN
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Jenis Kelamin Neonatus * Kadar_Bilirubin 115 100.0% 0 0.0% 115 100.0%
Jenis Kelamin Neonatus * Kadar_Bilirubin Crosstabulation
Count
Kadar_Bilirubin
Total Normal Hiperbiliruin
Jenis Kelamin Neonatus Laki-Laki 22 46 68
Perempuan 11 36 47
Total 33 82 115
HUBUNGAN USIA GESTASI DENGAN KADAR BILIRUBIN
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Usia_Gestasi * Kadar_Bilirubin 115 100.0% 0 0.0% 115 100.0%
Usia_Gestasi * Kadar_Bilirubin Crosstabulation
a. 0 cells (0.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.18.
b. Computed only for a 2x2 table