• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PENUTUP

B. Saran

Bab ini menguraikan hasil penelitian yang telah dilaksanakan pada Lembaga Rumoh Manuksrip Aceh, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Jumlah orang yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah Pak Tarmizi Abdul Hamid sendiri, pemilik Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh.

Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan pemilik Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh mengenai pelestarian manuskrip supaya tetap terjaga dan awet, beliau mengatakan bahwa:

a. Strategi Pelestarian Manuskrip

Strategi yang dilakukan di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh (LRMA) adalah cara mudah dilakukan dengan berbagai cara dan meminta bantuan untuk pelestarian seperti fasilitas peralatan penyimpanan manuskrip sebagai strategi untuk memperoleh peralatan.

1. Melakukan Restorasi

Pelestarian manuskrip di Lembaga Rumoh Manuskrip dilakukan dengan cara Restorasi. Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Tarmizi.

Pelestarian manuskrip dilakukan dengan cara restorasi merupakan mengembalikan bentuk naskah menjadi lebih baik. dicuci pakai air tetapi sudah diberikan alkohol, dicuci pakai air kertasnya dibersihkan, teks-teksnya yang sudah mau hancur di media alas kertas itu digunting, teks itu dipindah ke kertas yang lain, dan keasliannya yang paling penting. Cover sudah dilapisi dari berbagai serangan jamur, berbagai serangan zat asam, dari serangan kutu-kutu buku. Jadi di boknya sesuai dengan ukuran manuskrip tersebut dan harus dipindahkan agar tidak masuk binatang seperti rayap kedalam bok tersebut, karena dalam lapisan bok tersebut keamanan terjauh dari rayap sudah sangat tinggi, dan bahan tersebut berasal dari Jepang. Jadi pelestarian ini memang sangat mahal dan membutuhkan Sumber Daya

48

Manusia yang terampil, karna yang dihadapi bukan buku biasa, tetapi artefak dari warisan budaya 400 tahun yang lalu.42

Dari hasil wawancara di atas, penulis menyimpulkan bahwa kegiatan restorasi di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh, dilakukan dengan mencuci pakek alkohol, kertasnya dibersihkan, teks-teks yang mau hancur dipindahkan ke kertas yang lain. Manuskrip yang sudah di bersihkan di simpan di Bok sesuai dengan ukuran Manuskrip.

2. Penggunaan Kertas Untuk Manusksrip

Kertas yang digunakan untuk manuskrip di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh yaitu kertas Eropa, sesuai hasil wawancara dengan pak Tarmizi:

Jenisnya bukan kertas biasa dan bukan kertas produk dari abad ke 21, kertas naskah kuno memang dibuat khusus dinegara-negara Eropa untuk di kirim ke Aceh. Ketika mereka menulis dari tinta hitam yang dipanaskan dari biji besi dia tidak akan robek, tidak akan terbakar.43

Dari hasil wawancara di atas, penulis menyimpulkan bahwa manuskrip kuno kolesi di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh mengunakan kertas yang dibuat khusus bukan kertas biasa, dan kertas tersebut berasal dari negara-negara Eropa serta kertas tersebut tidak akan robek saat ditulis menggunakan tinta hitam yang di

42 Ibid., hal. 10.

43 Hasil Wawancara dengan Bapak Tarmizi Abdul Hamid, Pada Tanggal 25 November 2022

panaskan dari biji besi. Oleh karena itu untuk pelestarian manuskrip tersebut perbaikannya digunakan kertas urauchi buatan Jepang.

3. Pencegahan kerusakan manuskrip

Pencegahan kerusakan manuskrip di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh disebutkan:

Jadi Cara pencegahannya di masukkan naskah kuno itu ke dalam Codex Box jangan di letakkan di luar, naskah tersebut harus memiliki Codex Box semua supaya tidak mudah rusak, akan tetapi untuk proses pembuatan Codex Box tentu dibutuhkan orang yang mumpuni dan tahu bagaimana standar Codex Box untuk penempatan naskah tadi. Alat pencegahannya seperti alat pendingin jangan terlalu lampau panas akan menyebabkan manuskrip mudah rusak.44

Dari hasil wawancara di atas, penulis menyimpulkan bahwa Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh untuk pencegahan dari kerusakan, manuskrip tersebut harus disimpan dalam box semua supaya tidak mudah rusak. Jadi diperlukan SDM untuk membuat box manuskrip tersebut.

b. Tantangan Pelestarian Manuskrip

Tantangan yang dihadapi dalam pelestarian sangat langka sumber daya manusia di bidang restorasi kecuali mendapat bantuan dari lembaga-lembaga lain., tidak ada keilmuan merawat dan melestarikan hal-hal yang bersifat langka.

44 Ibid., hal. 9.

50

1. Faktor Kerusakan

Faktor kerusakan koleksi di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh meliputi faktor biologi, faktor fisika, faktor kimia dan faktor lainnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Tarmizi yang terjadi.

Faktor biologi karena adanya serangga seperti rayap, kecoa, kutu buku, binatang penggerat dan jamur. Faktor fisika seperti, cahaya, udara atau debu, suhu dan kelembaban. Faktor kimia seperti, zat-zat kimia, keasaman dan oksidasi. Faktor-faktor lain seperti, banjir, gempa bumi, api dan manusia akibat kelalaian sendiri, dipegang sembarangan, tidak di jaga dan tidak disampul.45

Dari hasil wawancara di atas, penulis menyimpulkan bahwa faktor kerusakan manuskrip yang terjadi di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh akibat faktor biologi, faktor fisika, faktor kimia dan faktor lain.

2. Kendala yang dihadapi di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh (LRMA)

Kendala yang dihadapi dalam pelestarian manuskrip di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh selama ini di atasi sesuai yang diungkapkan Tarmizi Abdul Hamid:

Kendala dalam pelestarian tidak punya alat yang canggih dan tidak punya alat yang Standar Internasional dalam pelestarian manuskrip di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh. Terkendala dengan box penyimpanan secara

45 Hasil Wawancara dengan Bapak Tarmizi Abdul Hamid, Pada Tanggal 25 November 2022

khusus, belum memiliki gedung, belum memiliki kamar khusus untuk penyimpanan, belum memiliki Standar dari uap/cuaca Stapintas atau pengukur dari ruangan.46

Dari hasil wawancara di atas, penulis menyimpulkan bahwa Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh, terkendala tidak mempunyai alat-alat untuk pelestarian manuskrip, tidak mempunyai box penyimpanan khusus dan tidak mempunyai gedung.

c. Solusi Dalam Menghadapi Tantangan

1. Meminta bantuan untuk pelestarian manuskrip pada Lembaga-lembaga lain.

2. Melakukan restorasi yaitu suatu kegiatan perbaikan koleksi yang sudah rusak agar dapat dipergunakan lagi dalam keadaan utuh dan lengkap, dengan proses pengembalian yang rusak, meratakan atau mengubah dokumen ke bentuk aslinya atau mndekati aslinya.

3. Tarmizi Abdul Hamid (TAH) juga sudah melakukan katalogisasi naskah, kegiatan pelestarian dengan mengkatalogisasi sebagian koleksi miliknya melalui kerjasama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, Jakarta.

2. Pembahasan

Manuskrip adalah naskah tulisan tangan yang menjadi kajian filologi, baik tulisan tangan maupun ketikan. Perawatannya memerlukan kehati-hatian dalam

46 Hasil Wawancara dengan Bapak Tarmizi Abdul Hamid, Pada Tanggal 25 November 2022

52

penangganan fisiknya karena perjalanan usia manuskrip. Naskah tulisan tangan ini dapat dianggap sebagai salah satu representasi dari berbagai sumber lokal yang paling otentik dalam memberikan berbagai informasi sejarah pada masa lalu.

Berdasarkan hasil wawancara jumlah orang yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah Tarmizi Abdul Hamid (TAH) sendiri, mengatakan bahwa di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh (LRMA) telah berdiri sejak tahun 2009 hanya bisa melestarikan manuskrip sebanyak 10 buah, dengan kemampuannya sebelum didirikannya Rumoh Manuskrip Aceh. Upaya pelestarian manuskrip yang dilakukan oleh TAH dengan menempatkannya dalam suatu sampul-sampul yang tebal, di mana sebelumnya manuskrip terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran-kotoran, kutu buku, jamur, dan unsur-unsur perusak lainnya, kemudian dimasukkan kedalam sampul tersebut sekaligus memasukkan bahan-bahan pengawet manuskrip berupa lada hitam, lada putih, cengkeh, dan kapur barus guna menjaga manuskrip dari serangan binatang-binatang yang merusak (insect).

Pada tahun 2013 pelestarian manuskrip di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh dilakukan atas bantuan (PKPM) yang ada di Banda Aceh, yang ketika itu melakukan penelitian dan melestarikan manuskrip sebanyak 50 buah. Kemudian pada tahun berikutnya ada dana dari anggota (DPRA), untuk pelestarian sebanyak 50 manuksrip lagi sehingga pada tahun 2014 manuskrip yang di lestarikan menjadi 100 buah. Ketika itu pelestarian sudah dilakukan dengan cara agak lebih moderen dengan menggunakan alat-alat pelestarian terkini selebihnya kemudian dilakukan sendiri, menurut secara manual dan tradisional secara berkala.

Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh (LRMA) melakukan upaya-upaya pelestarian manuskrip seperti preservasi fisik naskah, berupa kegiatan konservasi dan restorasi, yang bertujuan untuk membantu memelihara bentuk fisik naskah agar tetap bertahan kondisinya dan tidak bertambah rusak. Restorasi yaitu suatu kegiatan perbaikan koleksi yang sudah rusak agar dapat dipergunakan lagi dalam keadaan utuh dan lengkap, dengan proses pengembalian yang rusak, meratakan atau mengubah dokumen ke bentuk aslinya atau mendekati kondisi aslinya.

Preservasi teks manuskrip, berupa kegiatan katalogisasi, digitalisasi dan riset filologi. Preservasi teks dalam naskah dilakukan dengan cara membuatkan salinan ke dalam bentuk media lain. Untuk melakukan preservasi manuskrip tersebut, beberapa cara dapat dilakukan yaitu, katalogisasi naskah, Tarmizi sudah melakukan kegiatan pelestarian dengan mengkatalogisasi Sebagian koleksi naskah miliknya, melalui kerjasama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, Jakarta. Digitalisasi naskah adalah proses alih media dari bentuk tercetak menjadi bentuk elektronik. Adapun koleksi manuskrip Tarmizi belum semuanya diubah dalam bentuk digital, tetapi hanya beberapa naskah yang sudah digitalisasi karena proses digitalisasi memakan biaya yang besar. Selain digitalisasi Tarmizi juga melakukan diskusi sebagai upaya pelestarian naskahnya. Diskusi atau pengkajian merupakan kegiatan yang sering digunakan oleh akademisi atau peneliti dalam melakukan berbagai kajian, melakukan diskusi-diskusi dengan para peneliti yang membahas kandungan manuskrip. Dalam pelestarian manuskrip yang digunakan, restorasi merupakan mengembalikan bentuk naskah menjadi lebih baik. Naskah tadi, kemudian dicuci menggunakan air yang sudah dicampurkan dengan alkohol,

54

teks-teks yang hampir hancur dipindahkan ke media atau alas kertas yang lain dengan cara di gunting, karena keasliannya yang paling penting. Cover of The Manuskrip atau sampul naskah sudah dilapisi dari berbagai serangan jamur, zat asam, dan kutu-kutu buku. Codex box atau kotak naskah yang sudah sesuai dengan ukuran manuskrip tersebut harus dipindahkan agar tidak masuk binatang seperti rayap ke dalam box tersebut, karena keamanannya sangat tinggi terhadap serangan rayap. Hal ini di karenakan codex box tadi terbuat dari bahan terbaik dan berasal dari Jepang. Jadi pelestarian ini memang sangat mahal dan membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan terhadap bidang ini, karena yang di hadapi bukan buku biasa, akan tetapi Artefak dari pada budaya 400 tahun yang lalu. Jenis kertas yang digunakan untuk manuskrip yaitu kertas Eropa, kertas ini bukanlah kertas biasa dan bukanlah kertas produk dari abad ke 21, tetapi kertas naskah kuno yang khusus dibuat di negara-negara Eropa serta kertas tersebut tidak akan robek saat ditulis menggunakan tinta hitam yang dipanaskan dari biji besi.

Oleh karena itu untuk pelestarian manuskrip tersebut perbaikannya menggunakan kertas washi dengan teknik urauchi buatan Jepang.

Adapun untuk pencegahan kerusakan manuskrip, maka naskah kuno tadi dimasukkan ke dalam Codex box dan jangan diletakkan di luar supaya tidak mudah rusak. Akan tetapi, membuat codex box itu di dibutuhkan orang yang mumpuni dan tahu bagaimana standar box untuk penempatan naskah tadi. Alat pencegahannya seperti alat pendingin jangan lampau panas akan menyebabkan manuskrip mudah rusak. Strategi dan tantangan dalam pelestarian manuskrip di dilakukan dengan mudah yaitu dengan melakukan berbagai cara. Di antara cara

yang dilakukan adalah mencari bantuan untuk pelestarian seperti fasilitas peralatan dan penyimpanan manuskrip. Dalam pelestarian di LRMA tidak ada SDM di bidang restorasi kecuali mendapatkan bantuan-bantuan dari lembaga-lembaga lain.

Jadi di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh (LRMA) terkendala dalam pelestarian karena kurangnya alat yang canggih ataupun alat yang berstandar Internasional dalam pelestarian manuskrip. Terkait dengan codex box untuk penyimpanan, belum memiliki gedung atau kamar khusus untuk penyimpanan, serta tidak adanya standar dari uap atau cuaca Stapintas atau pengukur dari ruangan. LRMA dalam melakukan pelestarian manuskrip, belum memenuhi kebutuhan sehingga dalam pelaksanaan kegiatan pelestarian manuskrip kurang maksimal, karena mengingat alat untuk pelestarian yang cukup mahal dan perlu sumber daya manusia dan keterampilan. Sarana dan prasarana yang dimiliki oleh LRMA belum memadai, maka dari itu belum mencapai standar pelestarian.

56 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan deskripsi hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan oleh penulis mengenai strategi dan tantangan pelestarian manuskrip di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh (penelitian pada Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh), maka dapat diperoleh kesimpulannya sebagai berikut:

Strategi dan tantangan dalam pelestarian manuskrip di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh dilakukan dengan mudah yaitu dengan melakukan berbagai cara.

Di antara cara yang dilakukan adalah mencari bantuan untuk pelestarian seperti fasilitas peralatan dan penyimpanan manuskrip. Tantangan yang dihadapi dalam pelestarian di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh tidak ada SDM di bidang restorasi, kecuali mendapat bantuan tenaga dari lembaga-lembaga lain.

Pelestarian Manuskrip dilakukan dengan cara restorasi merupakan mengembalikan bentuk naskah menjadi lebih baik. Naskah tadi, kemudian di cuci menggunakan air yang sudah udah diberikan alkohol, teks-teksnya yang hamper hancur dipindahkan ke media atau alas kertas. itu digunting yang lain dengan cara digunting, karena keasliannya yang paling penting. Cover of The Manuskrip atau sampul naskah sudah dilapisi dari berbagai serangan jamur, zat asam, dan kutu-kutu buku. Codex box atau kotak naskah yang sudah sesuai dengan ukuran

manuskrip tersebut dan harus dipindahkan agar tidak masuk binatang seperti rayap kedalam box tersebut, karena keamanannya sangat tinggi terhadap serangan rayap. Hal ini dikarenakan codex box tadi terbuat dari bahan terbaik dan berasal dari Jepang. Jadi pelestarian ini memang sangat mahal dan membutuhkan Sumber Daya Manusia yang terampil karna yang dihadapi bukan buku biasa, tetapi artefak dari warisan budaya 400 tahun yang lalu.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, maka penelitian memberikan beberapa saran-saran sebagai berikut:

1. Kepada SDM di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh untuk terus meningkatkan skill dalam memberikan layanan sehingga kepada peneliti dan mahasiswa merasa puas terhadap layanan yang diberikan.

2. Kepada peneliti atau mahasiswa terus meningkatkan kunjungan ke Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh tersebut agar mengetahui tentang kandungan manuskrip.

58

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Hakim. 2017 “Metodologi Penelitian: Penelitian Kualitatif, Tindakan Kelas

& Studi Kasus”. Jawa Barat : CV Jejak. Cet. 1

Albi Anggito dan Johan Setiawan. 2018 “Metodologi Penelitian Kualitatif”. Jawa Barat: CV Jejak. Cet. 1

Eva Syarifah Wardah. 2018 “Preservasi dan Restorasi Naskah”. Jurnal Tsaqofah.

Vol.10, No.02,

Firdaus dan Fakhry Zamzam. 2018 “Aplikasi Metodologi Penelitian”. Yogyakarta : Deepublish. Cet. 1,

Gendro Keling. 2019 “penegakan hukum cagar budaya di indonesia: studi kasus sma 17 “1” Yogyakarta”. Jurnal Kebudayaan, Volume 14, Nomor 1.

Gio David Widiesha. 2013 “Pribadi Rasa Pangrasa Sorangan”. Bandung : Skripsi Universitas Pendidikan Indonesia

Hadira Latiar. 2018 “Preservasi Naskah Kuno Sebagai upaya Pelestarian Budaya Bangsa”. Jurnal Alkuttab. Vol. 5.

Hadira Latiar. 2018 “Preservasi Naskah Kuno Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Bangsa”. Jurnal Al Kuttab. Vol. 5,

Hasyim. 2017 “Sistem Pelestarian Bahan Pustaka di UPT Perpustakaan Universitas Negeri Makasar”. (Skripsi Ilmu Perpustakaan dan

Informasi Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Alauddin Maskassar)

Herwin Cahya Nugraha. 2021 “Pelestarian Naskah Kuno dalam Upaya Menjaga Warisan Budaya Bangsa di Perpustakaan Museum Dewantara Kirti Griya Tamansiswa Yogyakarta”. Jurnal Kajian Ilmu Perpustakaan, Informasi dan Kearsipan. Vol. 1,

Herwin Cahya Nugraha. 2022 “Pelestarian Naskah Kuno dalam Upaya Menjaga Warisan Budaya Bangsa di Perpustakaan Museum Dewantara Kirti Griya Tamansiswa Yogyakarta”.

Hijrana Bahar dan Taufiq Mathar. 2015 “Upaya Pelestarian Naskah Kuno di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sulawesi Selatan”.

Jurnal Khizanah Al-Hikmah. Vol. 3.

Iwan Hermawan. 2019 “Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan Mixed Methods”. Jawa Barat: Hidayatul Quran Kuningan

Mardawani. 2020 “Praktis Penelitian Kualitatif Teori Dasar dan Analisis Data Dalam Perspektif Kualitatif”. Yogyakarta: CV BUDI UTAMA. Cet. 1

Mardawati. 2020 “Praktis Penelitian Kualitatif Teori Dasar dan Analisis Data Dalam Perspektif Kualitatif”. Yogyakarta: Grup Penerbit CV BUDI UTAMA

60

Muhammad Ilyasin, dkk 2017 “Teoritis dan Agama: Konstruksi Teologi Teoantroposentris” Jakarta: Kencana, 2017. Cet. 1

Naila Krismaulida. 2021 “Strategi Pengelola Perpustakaan Dalam Melakukan Pemeliharaan Bahan Pustaka di Perpustakaan Universitas Palembang”. (Skripsi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah Palembang)

Neneng Asaniyah. 2019 “Pelestarian Koleksi Langka Melalui Restorasi”. Jurnal Buletin. Perpustakaan Universitas Islam Indonesia. Vol. 2 No. 1,

Nopriani. 2020 “Konservasi Naskah Manuskrip Sebagai Upaya Menjaga Warisan Budaya Bangsa di Era Industri 4.0”. Jurnal Jupiter Vol.

XVll, No.1

Nyimas Nazariah Nazimah. 2018 “Pelestarian Manuskrip: Studi Kasus Pada perpustakaan Pribadi Di Kota Palembang”. Palembang: Uin Raden Fatah

Oman Faturahman, dkk 2010 “Filologi dan Islam Indonesia”. Jakarta: Badan LItbang

Ramesh C Gaur dan Mrinmoy Chakraborrty. 2009 “Preservation and Access to Indian Manuscripts: A Knowledge Base of Indian Cultural Heritage Resources for Academic Libraries”. India: ICAL,

Sahidi 2018 “Pentingnya Pelestarian Naskah Kuno Sebagai Warisan Budaya Bangsa”. Jurnal iqra Vol. 12 No.02,

Siti Baroroh Baried dkk. 1985 “Pengantar Teori Filologi”. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Siti Baroroh Baried. 1994 “Pengantar Teori Filologi”. Yogyakarta

Suci Rahmadani 2018 “Pelestarian Naskah Kuno Pada Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara Medan”. (Skripsi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan)

Sugiyono. 2018 “Metode penelitian kualiataif: Konsep, Prinsip, Dan Operasionalnya”. Jawa Timur:Akademia Pustaka

Sugiyono. 2018 “Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D”.

Bandung: Alfabeta. Cet. 27

Sutiono Mahdi dan Ade Kosasih. 2018 “Pelestarian Naskah-Naskah Kuno Di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang”. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Volume 2. No 2,

Sutiono Mahdi dan Ade Kosasih. 2022 “Pelestarian Naskah-Naskah Kuno Di Museum Prabu Geusan Ulun Sumedang”. (Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran)

62

Tarmizi Abdul Hamid. 2022 “Satu Data Digital Naskah Nusantara Dari Perspektif Tarmizi Hamid”. Kolektor Naskah Kuno Dari Aceh

“Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya”. 2010 Jakarta: Dirjen Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata

Yusuf. 2017 “Metode Penelitian Kualitatif, Kualitatif dan Gabungan”. Jakarta:

Kenacana

Zulmiyetri dkk. 2019 “Penulisan Karya Ilmiah”. Jakarta: Kencana

D. Pedoman Wawancara dengan Informan (pemilik) Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh

Sumber data (informan) : Tarmizi Abdul Hamid Hari dan tanggal : Jum’at, 23 November 2022

Lokasi : Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh

Daftar pertanyaan

1. Bagaimana Sejarah Pelestarian Manuskrip di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh?

2. Apa Visi dan Misi Pelestarian Manuskrip di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh?

3. Apa Tujuan Pelestarian Manuskrip Dilakukan?

4. Koleksi Manuskrip Apa Saja Yang Terdapat di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh?

5. Sejak Kapan Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh Melakukan Pelestarian Manuksrip?

6. Kegiatan Pelestarian Apa Saja Yang Dilakukan Terhadap Manuskrip?

7. Berapa Lama Usia Manuskrip Yang Dimiliki?

8. Berapa Jumlah Koleksi Manuskrip Yang Dimiliki?

9. Apa Saja Kendala Yang Dihadapi Dalam Pelestarian Naskah Kuno?

10. Apa Jenis Kertas Dari Naskah Kuno Yang Dimiliki?

13. Apa Saja Peralatan Dan Bahan Yang Dibutuhkan Untuk Kegiatan Pelestarian Naskah Kuno?

14. Apa Saja Kendala Yang di Hadapi Dalam Melestarikan Naskah Kuno?

E. Lampiran Dokumentasi

Dokumenatsi Manuskrip di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh

Dokumentasi Pelestarian Manuskrip di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh

Dokumentasi Cara Pelestarian Manuskrip di Lembaga Rumoh Manuskrip Aceh

Dokumen terkait