LAPORAN HASIL PENELITIAN
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan analisis data dari tes berpikir analogi matematika (TBAM) dalam menyelesaikan soal-soal materi limas dan prisma diatas. Data mengenai hasil tes kemampuan berpikir analogi dalam menyelesaikan soal- soal materi limas dan prisma pada siswa kelas VIII C adalah sebagai berikut : Tabel 4.13 Hasil Tes Tingkat Kemampuan Analogi
No. Nama
Skor Soal Nomor
Jumlah Skor T1 T2 1 2 3 4 1. MAA (C-04) 3 0 1 0 4 2. MDFAY (C-06) 4 4 2 1 11 3. BVRS (C-18) 4 4 2 4 14 4. DAD (C-19) 1 1 1 0 3 5. LHA (C-20) 4 4 4 4 16 6. ENR (C-25) 4 4 4 4 16 Keterangan : T1 : Tugas 1 T2 : Tugas 2
Hasil analisis data TBAM menunjukkan bahwa dari 6 siswa terdapat 3 siswa (50%) tergolong dalam kelompok kemampuan berpikir analogi tinggi, ketiga siswa tersebut 2 siswa dari tingkat kemampuan tinggi dan seorang siswa dari tingkat kemampuan sedang. Seorang siswa (16,6%) termasuk dalam kelompok kemampuan berpikir analogi sedang, siswa tersebut dari tingkat kemampuan tengah. Sedangkan 2 siswa (33,4%) termasuk dalam kelompok kemampuan berpikir analogi rendah, kedua siswa tersebut dari tingkat kemampuan rendah. Adapun hasil analisis tes berpikir analogi, sebagai berikut.
Tabel 4.14 Hasil Analisis Tes Berpikir Analogi Kelompok Kemampuan Berpikir Analogi Prosentase siswa Tingkat
Atas Tengah Bawah
Tinggi 50 % 2 1 -
Sedang 16,6 % - 1 -
Rendah 33,4 % - - 2
Berdasarkan tabel 4.13 dan tabel 4.14 diatas dapat diketahui bahwa siswa pada tingkat kemampuan tengah tidak selalu memiliki kemampuan berpikir analogi sedang. Namun untuk siswa pada tingkat kemampuan rendah cenderung memiliki kemampuan berpikir analogi rendah. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yang dijumpai peneliti saat wawancara, antara lain siswa : 1. Kurang teliti dalam memahami informasi didalam soal sehingga dalam
penyelesaiannya kurang tepat dalam satuan ukurannya dan mengakibatkan penyelesaian jawaban yang kurang tepat, namun langkah-langkah penyelesaiannya sudah tepat dan beruntut. Ini terjadi pada siswa tingkat kemampuan tinggi dan sedang.
2. Pada pengetahuan awal terjadi kesalahan konsep sehingga dalam menyelesaikan masalah sumber masih belum tepat, dan mengakibatkan kesalahan dalam menyelesaikan masalah target. Sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Duit, et. al. yaitu kelebihan dari berpikir analogi adalah dapat mendorong guru untuk mengetahui kemampuan prasyarat siswa, sehingga miskonsepsi pada siswa dapat terungkap.73
3. Tidak mengetahui bahwa pemecahan masalah sumber dapat membantu dalam memecahkan masalah target, meskipun masalah target berisi
73
gagasan tambahan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Halyoak bahwa inti dari penggunaan analogi dalam pembelajaran adalah untuk memecahkan masalah.74 Terjadi jika siswa dapat menggunakan masalah sumber untuk memecahkan masalah target.
4. Kurang bisa mengidentifikasi masalah sumber yang tepat untuk membantu menyelesaikan masalah target.
Berdasarka hasil analisis di atas, siswa yang mempunyai kemampuan berpikir analogi tinggi mampu melakukan setiap tahap proses berpikir analogi dengan baik. Siswa mengetahui bahwa masalah sumber dapat membantu menyelesaikan masalah target, meskipun masalah target berisi gagasan yang ditambahi.
Siswa yang kemampuan berpikir analogi sedang cenderung mampu melakukan setiap tahap proses berpikir analogi dengan baik, hanya saja kurang teliti dalam memahami informasi yang terdapat didalam soal. Namun hambatan tersebut langsung bisa diatasi dengan baik. Hal ini disebabkan hambatan yang terjadi mengenai satuan ukuran, sehingga tidak merubah langkah-langkah penyelesaiannya, hanya saja jawabannya yang kurang tepat. Siswa dalam kemampuan sedang mengetahui bahwa masalah sumber dapat membantu dalam menyelesaikan masalah target.
Siswa yang kemampuan berpikir analogi rendah, langkah-langkah proses berpikir analogi belum dapat dilakukan dengan baik. Kesalahan konsep yang menjadi awal dari hambatan siswa, siswa masih sulit dalam menghadapi
74
hambatan tersebut. Sehingga siswa kesulitan dalam menyelesaikannya dan menentukan rumus mana yang cocok dalam penyelesaian masalah tersebut. Hal ini disebabkan siswa dari kategori ini tidak mengetahui bahwa masalah sumber dapat membantu dalam menyelesaikan masalah target, bahkan tidak mampu dalam mengidentifikasi masalah sumber yang tepat utuk membantu masalah target. Dalam menyelesaikan masalah sumber siswa masih kebingungan dalam menentukan yang ditanyakan mengenai luas permukaan atau volume yang masih bingung membedakannya.
Tabel 4.15 Proses Berpikir Analogi Tiap Kelompok
Tahap Kelompok Kemampuan Analogi Tinggi Kelompok Kemampuan Analogi Sedang Kelompok Kemampuan Analogi Rendah Encoding Siswa mampu
mengidentifikasi ciri-ciri atau struktur dari masalah sumber dan target.
Siswa mampu
mengidentifikasi ciri-ciri atau struktur dari masalah sumber dan target.
Siswa cenderung mampu
mengidentifikasi ciri- ciri atau struktur dari masalah sumber dan target.
Inferring Siswa mampu mencari hubungan atau
menyelesaikan masalah sumber dengan baik.
Siswa mampu mencari hubungan atau
menyelesaikan masalah sumber dengan baik.
Siswa kurang mampu dalam mencari hubungan atau
menyelesaikan masalah sumber.
Mapping Siswa mampu mencari hubungan atau penyelesaian yang terdapat pada masalah target. Dalam
menyelesaikan masalah target menggunakan cara yang sama dengan masalah sumber.
Siswa mampu mencari hubungan atau penyelesaian yang terdapat pada masalah target. Dalam
menyelesaikan masalah target menggunakan cara yang sama dengan masalah sumber. Hanya saja dalam masalah sumber, siswa kurang teliti dalam memahami satuan ukurannya.
Siswa tidak mampu mencari hubungan atau penyelesaian pada masalah target, penyelesaian atau konsep yang digunakan pada masalah sumber tidak dapat membantu menyelesaikan masalah target.
Applying Siswa dapat melakukan pemilihan penyelesaian yang tepat dengan rumus yang sesuai dan dapat menjelaskan analogi (keserupaan) yang digunakan.
Siswa dapat melakukan pemilihan penyelesaian yang tepat dengan rumus yang sesuai dan dapat menjelaskan analogi (keserupaan) yang digunakan.
Siswa tidak dapat melakukan pemilihan penyelesaian yang tepat dengan rumus yang sesuai dan tidak dapat mengidentifikasi analogi (keserupaan).
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan di SMP Islam Al Azhaar Tulungagung pada kelas VIII C, dengan subjek penelitian 6 siswa yang terdiri dari 2 siswa termasuk dalam tingkat kemampuan tinggi yaitu BVRS (C-18) dan ENR (C-25), 2 siswa termasuk dalam tingkat kemampuan sedang yaitu LHA (C-20) dan MDFAY (C-06), dan 2 siswa termasuk dalam tingkat kemampuan rendah yaitu DAD (C-19) dan MAA (C-04) menunjukkan bahwa tingkat kemampuan berpikir analogi dalam menyelesaikan soal-soal materi limas dan prisma dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Kelompok kemampuan berpikir analogi tinggi sebesar 50 %, yang terdiri dari 2 siswa tingkat kemampuan tinggi yaitu BVRS (C-18) dan ENR (C- 25) dan seorang siswa dari tingkat kemampuan sedang yaitu LHA (C-20). Dalam berpikir analogi, pada tahap encoding siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri atau struktur dari masalah sumber dan target, pada tahap inferring mampu mencari hubungan atau menyelesaikan masalah sumber dengan baik, sedangkan pada tahap mapping siswa mampu mencari hubungan atau penyelesaian yang terdapat pada masalah target (menyelesaikan masalah target mengunakan cara yang sama dengan masalah sumber), sehingga pada tahap applying dapat melakukan
pemilihan penyelesaian yang tepat dengan rumus yang sesuai dan dapat menjelaskan analogi (keserupaan) yang digunakan.
2. Kelompok kemampuan berpikir analogi sedang sebesar 16,6 %, yang terdiri dari seorang siswa dari tingkat kemampuan sedang yaitu MDFAY (C-06). Dalam berpikir analogi, pada tahap encoding Siswa mampu mengidentifikasi ciri-ciri atau struktur dari masalah sumber dan target, pada tahap inferring mampu mencari hubungan atau menyelesaikan masalah sumber dengan baik, sedangkan pada tahap mapping mampu mencari hubungan atau penyelesaian yang terdapat pada masalah target, dalam menyelesaikan masalah target menggunakan cara yang sama dengan masalah sumber hanya saja dalam masalah sumber, siswa kurang teliti dalam memahami satuan ukurannya, sehingga pada tahap applying dapat melakukan pemilihan penyelesaian yang tepat dengan rumus yang sesuai dan dapat menjelaskan analogi (keserupaan) yang digunakan. 3. Kelompok kemampuan berpikir analogi rendah sebesar 33,4 %, yang
terdiri dari 2 siswa dari tingkat kemampuan rendah, yaitu MAA (C-04) dan DAD (C-19). Dalam berpikir analogi, pada tahap encoding Siswa cenderung mampu mengidentifikasi ciri-ciri atau struktur dari masalah sumber dan target, pada tahap inferring kurang mampu dalam mencari hubungan atau menyelesaikan masalah sumber, sedangkan pada tahap mapping tidak mampu mencari hubungan atau penyelesaian pada masalah target, penyelesaian atau konsep yang digunakan pada masalah sumber tidak dapat membantu menyelesaikan masalah target, sehingga pada tahap
applying tidak dapat melakukan pemilihan penyelesaian yang tepat dengan rumus yang sesuai dan tidak dapat mengidentifikasi analogi (keserupaan).
Adapun faktor yang mempengaruhi tingkat kemampuan berpikir analogi berdasarkan analisis jawaban dan wawancara dengan siswa sebagai berikut :
1. Kurang teliti dalam memahami informasi yang terdapat di dalam soal. 2. Terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi) dalam menyelesaikan masalah
yang diberikan.
3. Tidak mengetahui bahwa pemecahan masalah sumber dapat membantu dalam memecahkan masalah target
4. Kurang bisa mengidentifikasi masalah sumber yang tepat untuk membantu menyelesaikan masalah target.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis memberikan saran-saran demi keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Untuk meningkatkan mutu pendidikan maka penulis memberikan saran-saran sebagai berikut :
1. Bagi Siswa
Hendaknya siswa lebih meningkatkan kemampuan berpikir analogi dalam cara belajar siswa. Karena dengan berpikir analogi dapat membantu siswa dalam mengintegrasikan struktur-struktur pengetahuan yang terpisah agar terorganisasi menjadi struktur kognitif yang lebih utuh,
sehingga akan mempermudah proses pengungkapan kembali pengetahuan baru.
2. Bagi Orang Tua
Sebaiknya orang tua lebih meningkatkan perhatiannya dalam pendidikan anak karena orang tua merupakan motivator dalam pendidikan anak. Seharusnya orang tua bisa menjadi tempat curahan hati anak, supaya orang tua bisa mengontrol dan mengetahui sejauh mana perkembangan anaknya sehingga dapat memberikan solusi-solusin dalam pemecahan masalah jika dalam belajar.
3. Bagi Guru Matematika
Agar pengetahuan dan pengalaman siswa lebih berkembang dan lebih luas, hendaknya guru menerapkan proses berpikir analogi dalam belajar mengajar sehari-hari, karena dengan menerapkan proses berpikir analogi dapat mendorong guru untuk mengetahui pengetahuan prasyarat siswa sehingga miskonsepsi pada siswa dapat terungkap. Sehingga segaa hambatan yang terjadi dalam belajar siswa di sekolah bisa teratasi dengan baik dan sesuai.
4. Bagi Institusi Pendidikan
Hendaknya sekolah senantiasa memberikan dukungan bagi guru mata pelajaran untuk selalu mengembangkan proses berpikir analogi, supaya siswa senantiasa lincah dalam menyelesaikan permasalahan apapun. Hendaknya kepala sekolah mengupayakan meningkatkan sarana dan prasarana tentang proses berpikir analogi dalam perpustakaan, seperti
sejarah tentang umat islam dimasa lampau, supaya bisa dianalogikan dimasa sekarang.