METODE PENELITIAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Sasaran penelitian adalah wisatawan asing yang memasuki kawasan obyek wisata alam Bukitlawang. Taman Nasional Gunung Leuser, Bahorok, melalui tempat pengambilan SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) di Kantor Seksi Wilayah V Bukitlawang atau di Visitor Center. Data jumlah wisatawan selama periode Januari-Desember 2005 dan Januari-Desember 2006 disajikan pada Lampiran 4.
Karakteristik Pengunjung
Karakteristik wisatawan asing di Obyek Wisata Alam Bukitlawang, Taman Nasional Gunung Leuser yang berkunjung ke lokasi wisata meliputi:
Asal, Jumlah, dan Alasan Kedatangan Wisatawan Asing
Wisatawan merupakan faktor utama dalam kegiatan wisata alam. Karena tanpa adanya pengunjung maka sebaik dan seindah apapun obyek suatu obyek wisata tersebut menjadi tidak berarti. Pendapat ini sesuai dengan pernyataan yang diungkapkan oleh Sudrajat dan Istanto, (1998) yang menyatakan bahwa tanpa pengunjung investasi jasa wisata tidak mempunyai arti.
Wisatawan asing yang berkunjung ke Obyek Wisata Alam Bukitlawang Taman Nasional Gunung Leuser, didominasi oleh wisatawan yang berasal dari Negara Belanda yaitu 10 orang (30%), Spanyol 7 orang (21%), Jerman 5 orang (15%), Inggris Sebanyak 5 orang (15%), Irlandia sebanyak 1 orang (3%), Amerika 1 orang (3%), Skotlandia 1 orang (3%), Perancis 1 orang (3%), dan Australia 2 orang (6%).
Alasan wisatawan asing umumnya adalah untuk berlibur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Suwantoro (2000) bahwa dalam kejenuhan yang semakin meningkat manusia ingin menikmati suasana yang lain, yaitu dengan melakukan rekreasi sebagai kegiatan penyegaran badan dan pikiran, melalui wahana yang menimbulkan kenyamanan/kesenangan dalam ruang dan waktu senggang. Data asal, jumlah dan alasan kedatangan wisatawan asing selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Asal. Jumlah dan Alasan Kedatangan Wisatawan Asing ke Wisata Alam Bukitlawang, TNGL.
\
No. Negara Asal
Jumlah kunjungan Alasan berkunjung (*) (Orang) Berlibur Penelitian Lain-lain
1. Jerman 5 5 - - 2. Skotlandia 1 1 - - 3. Irlandia 1 1 - - 4. Inggris 5 4 1 - 5. Perancis 1 1 - - 6. Spanyol 7 7 - - 7. Belanda 10 10 - - 8. Amerika 1 1 - - 9. Australia 2 2 - - Jumlah 33 32 1 - % 97 3 -
Umur dan Jenis Kelamin
Berdasarkan kuisioner diperoleh data umur dan jenis kelamin wisatawan dari tiap-tiap negara asal (Tabel 3). Adanya variasi umur wisatawan menunjukkan bahwa setiap orang berhak untuk menikmati wisata, hal ini sesuai dengan pernyataan Soemitro (1990) yang menyatakan bahwa jasa wisata adalah produk umum dimana setiap orang berhak menikmati jasa wisata.
Tabel 3. Umur dan Jenis Kelamin Wisatawan Asing di Obyek Wisata Alam Bukitlawang, TNGL.
No. Negara Umur Rata-Rata Jenis Kelamin (Orang) Asal (Tahun) laki-laki Perempuan
1. Jerman 17.37 2 3 3. Skotlandia 20.00 - 1 4. Irlandia 19.00 - 1 5. Inggris 23.60 2 3 6. Perancis 26.00 1 - 7. Spanyol 36.57 3 4 8. Belanda 40.25 7 3 9. Amerika 32.00 - 1 10. Australia 31.00 2 - Jumlah 17 16 % 52 48 Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata alam Bukitlawang mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi.
Tabel 4. Tingkat Pendidikan Wisatawan Asing di Obyek Wisata Alam Bukitlawang, TNGL.
No. Negara Tingkat Pendidikan Asal SD SLTP SMU PT 1. Jerman - 1 3 1 2. Skotlandia - - - 1 3. Irlandia - - - 1 4. Inggris - - 1 4 5. Perancis - - - 1 6. Spanyol - - - 7 7. Belanda 1 - 4 5 8. Amerika - - - 1 9. Australia - - - 2 Jumlah 1 1 8 23 % 3 3 24 70
Besarnya proporsi tingkat pendidikan perguruan tinggi dari seluruh responden menunjukkan bahwa wisatawan asing sangat mementingkan
pendidikan. sehingga rasa keingintahuan mereka terhadap sesuatu yang tidak ditemukan disekitar mereka, bukan hanya sekedar untuk berlibur. Variasi pendidikan di atas menunjukkan bahwa dalam rekreasi tidak ada pembatasan selama wisatawan mematuhi peraturan dan memiliki SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi).
Jenis Pekerjaan
Tabel 5. Jenis Pekerjaan Wisatawan Asing di Obyek Wisata Alam Bukitlawang, TNGL.
No. Negara Jenis Pekerjaan Asal 1 2 3 4 5 1. Jerman 2 2 1 - - 2. Skotlandia 1 - - - - 3. Irlandia 1 - - - - 4. Inggris 3 2 - - - 5. Perancis 1 - - - - 6. Spanyol - 1 - 4 2 7. Belanda 2 3 - 5 - 8. Amerika - - - 1 - 9. Australia 2 - - - - Jumlah 12 8 1 10 2 % 36 24 3 30 6 Keterangan: 1. Pelajar 2. Wiraswasta/Pengusaha 3. Polisi/Tentara 4. Pegawai Swasta/Karyawan 5. Lain-Lain
Besarnya proporsi jumlah wisatawan pelajar/mahasiswa, Pengusaha dan Pegawai Swasta/Karyawan dari seluruh responden wisatawan asing yang terlihat pada Tabel 5 menunjukkan bahwa kelompok mereka lebih memerlukan rekreasi untuk menghilangkan kejenuhan akibat rutinitas kegiatan/kerja sehari-hari.
Lama Perjalanan
Lama Perjalanan adalah waktu yang hilang selama melakukan perjalanan untuk mencapai lokasi wisata dari negara asal. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Lama Perjalanan Wisatawan Asing Menuju Obyek Wisata Alam Bukitlawang, TNGL.
No. Negara Lama Perjalanan
Asal (Jam) 1. Jerman 16.00 2. Skotlandia 24.00 3. Irlandia 24.00 4. Inggris 17.00 5. Perancis 13.00 6. Spanyol 23.00 7. Belanda 18.00 8. Amerika 17.00 9. Australia 14.00
Berdasarkan kuisioner diperoleh data waktu perjalanan yang terlama adalah negara Irlandia dan Skotlandia yaitu selama 24 jam, dan waktu yang tercepat adalah negara Perancis yaitu selama 13 jam. Perbedaan lama perjalanan disebabkan oleh jarak negara asal wisatawan asing yang berbeda dengan lokasi wisata. Hal ini dapat mempengaruhi total biaya perjalanan. Sesuai dengan pernyataan Soemitro (1990) bahwa biaya perjalanan wisata sangat ditentukan oleh asal negara masing-masing responden karena jaraknya yang berbeda-beda.
Lama Kunjungan
Lama kunjungan adalah waktu yang digunakan untuk melakukan kegiatan wisata di obyek wisata alam Bukitlawang, TNGL. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Lama Kunjungan Wisatawan Asing di Obyek Wisata Alam Bukitlawang, TNGL.
No. Negara Lama Kunjungan
Asal (Hari) 1. Jerman 3 2. Skotlandia 14 3. Irlandia 14 4. Inggris 6 5. Perancis 5 6. Spanyol 5 7. Belanda 3 8. Amerika 14 9. Australia 2
Berdasarkan kuisioner diperoleh data negara yang paling lama mengunjungi obyek wisata alam Bukitlawang adalah Skotlandia, Irlandia, dan Amerika. Hal ini disebabkan. karena di antara mereka ada yang melakukan tracking ke dalam hutan sampai berhari-hari, dan ada yang hanya menikmati keindahan, keunikan dan kesejukkan obyek wisata alam Bukitlawang untuk menghilangkan kejenuhan dan kepenatan dari rutinitas sehari-hari. Semakin banyak waktu yang digunakan untuk melakukan kegiatan wisata, maka semakin banyak biaya perjalanan yang dikeluarkan selama berada di obyek wisata alam Bukitlawang, TNGL.
Karakteristik Wisatawan Asing Berdasarkan Pola Kunjungan dan Kendaraan Yang Digunakan
Karakteristik Wisatawan Asing Berdasarkan Pola Kunjungan dan Kendaraan yang digunakan adalah cara yang dilakukan oleh wisatawan asing untuk menikmati wisata alam yang ada di Bukitlawang, TNGL. Dari kelompok wisatawan asing yang berkunjung ke obyek wisata alam Bukitlawang, pada
umumnya pola kunjungan yang dilakukan oleh wisatawan asing adalah berkelompok. Dari data kuisioner yang diperoleh pola kunjungan berkelompok sebesar 48%, keluarga atau kerabat sebesar 21%, hanya sekitar 30 yang datang sendirian. Mereka umumnya menggunakan kendaraan umum yaitu sebesar 87%, yang menggunakan kendaraan carteran sebesar 6% dan sisanya adalah menggunakan kendaraan pribadi sebesar 6%.
Tabel 8. Karakteristik Wisatawan Asing Berdasarkan Pola Kunjungan dan Kendaraan yang Digunakan.
No. Negara Kedatangan Kendaraan
Asal Sendiri Keluarga Kelompok Pribadi Umum Rental
1. Jerman 1 - 4 - 5 - 2. Skotlandia 1 - - - 1 - 3. Irlandia 1 - - - 1 - 4. Inggris 1 2 2 - 5 - 5. Perancis 1 - - - 1 - 6. Spanyol 1 2 4 - 7 - 7. Belanda 1 3 6 - 8 2 8. Amerika 1 - - - 1 - 9. Australia 2 - - - 2 - Jumlah 10 7 16 - 31 2 % 30 21 48 - 94 6
Obyek Wisata yang Disukai Wisatawan Asing di Obyek Wisata Alam Bukit Bukitlawang, TNGL.
Obyek wisata yang disukai adalah sesuatu yang paling menarik bagi seorang wisatawan untuk dinikmati pada saat melakukan kegiatan wisata. Hal ini meliputi, Orangutan, sungai, kebudayaan, tracking dan tumbuhan. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Obyek Wisata yang Disukai oleh Wisatawan Asing di Obyek Wisata Alam Bukitlawang, TNGL.
No. Negara Obyek Wisata Yang Disukai
Asal Orangutan Sungai Tracking Budaya Keindahan Alam Tumbuhan 1 Jerman 5 2 5 4 5 3 2 Skotlandia 1 1 1 1 1 1 3 Irlandia 1 1 1 1 1 1 4 Inggris 5 4 4 4 4 3 5 Perancis 1 1 1 1 6 Spanyol 7 4 3 3 7 2 7 Belanda 10 4 10 7 10 7 8 Amerika 1 1 1 1 1 1 9 Australia 2 2 2 2 2 Jumlah 33 20 28 21 32 20 (%) 100 61 73 64 97 61
Pada Tabel 9, dapat disimpulkan bahwa alasan dan tujuan utama wisatawan asing datang berkunjung ke obyek wisata alam Bukitlawang, TNGL adalah untuk melihat Orangutan yaitu 100% dari wisatawan asing yang datang berkunjung ke obyek wisata alam Bukitlawang tersebut. Untuk mengunjungi lokasi Orangutan, setiap wisatawan asing harus memiliki SIMAKSI yang diperoleh dari petugas di Seksi Konservasi Wilayah IV TNGL di Visitor Center Bukitlawang. Kunjungan diarahkan untuk menyaksikan Orangutan yang berada di feeding site, di mana petugas (Orangutan Keeper) sedang memberi makan Orangutan pada waktu yang telah ditentukan. Orangutan yang diberi makan adalah Orangutan yang sedang dikarantina untuk diliarkan dan Orangutan semiliar. Waktu feeding ditentukan yaitu, pada pukul 8.00 WIB pagi dan pukul 15.00 sore.
Kunjungan ke Bukitlawang juga terkait dengan keindahan alam, tracking, adat istiadat masyarakat lokal, tubbing di sungai, dan tumbuh-tumbuhan yang merupakan daya tarik dari kawasan Bukitlawang, TNGL.
Biaya Perjalanan
Menurut Hufschmidt et al (1987) penentuan nilai ekonomi wisata didasarkan pada pendekatan biaya perjalanan wisata yaitu, jumlah uang yang dihabiskan selama melakukan kunjungan wisata ke Bukitlawang. Biaya tersebut meliputi biaya transprortasi pulang pergi, biaya konsumsi, biaya dokumentasi, penginapan, souvenir, jasa pelayanan dan lain-lain (termasuk tiket masuk/SIMAKSI). Dalam hal ini biaya perjalanan untuk konsumsi tidak dikurangi dengan biaya konsumsi sehari-hari ketika tidak melakukan kegiatan wisata, karena yang ingin diambil adalah nilai kawasan obyek wisata alam Bukitlawang, jadi yang ingin diperoleh adalah total pengeluaran wisatawan asing selama melakukan kegiatan wisata di obyek wisata alam Bukitlawang. Berdasarkan negara asal dan biaya perjalanan wisata, wisatawan asing dibagi menjadi 9 negara. Biaya perjalanan wisata dari masing-masing negara asal dapat dilihat pada Tabel 10.
Nilai Total ekonomi secara global dihitung dari rata-rata biaya perjalanan yang diperoleh dari rata-rata pengunjung yang berkunjung setiap tahunnya selama dua tahun terakhir yaitu, Tahun 2005 dan 2006, diperoleh angka sebesar Rp. 50.483.976.499/tahun. Menurut Barbier (1992) angka itu diperoleh dengan mengalikan rata-rata biaya perjalanan/kunjugan dikali dengan, jumlah kunjungan/tahun untuk masing-masing wisatawan asing. Ringkasan hasil penghitungan nilai ekonomi dari rata-rata perjalanan dapat dilihat pada Tabel 11.
Dan untuk nilai ekonomi kawasan secara khusus diperoleh sebesar Rp. 7.798.605.485,-. Nilai ini diperoleh dengan mengurangkan jumlah biaya perjalanan dengan biaya transportasi pulang pergi, kemudian dikalikan dengan rata-rata pengunjung yang berkunjung setiap tahunnya selama dua tahun terakhir yaotu, Tahun 2005 dan 2006. Ringkasan hasil perhitungan nilai ekonomi kawasan Obyek Wisata Alam Bukitlawang, TNGL secara khusus dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 11. Total Nilai Ekonomi Dari Rata-Rata Biaya Perjalanan secara Menyeluruh.
Rata-Rata Biaya Rata-Rata Nilai Total/ Perjalanan/Kunjungan Kunjungan/Tahun Tahun
(Rp/Orang) (Jiwa) (RP)
25.875.949 1951 50.483.976.499
Tabel 12. Total Nilai Ekonomi Kawasan Obyek Wisata Alam Bukitlawang, Bukitlawang, TNGL dari Rata-rata Biaya Perjalanan.
Rata-Rata Biaya Rata-Rata Nilai Total/ Perjalanan/Kunjungan Kunjungan/Tahun Tahun
(Rp/Orang) (Jiwa) (RP)
3.997.235 1951 7.798.605.485
Berdasarkan Tabel 11, terlihat bahwa nilai ekonomi wisata alam Bukitlawang, TNGL, secara global atau menyeluruh yang diperoleh dari wisatawan asing, bila dihitung dengan nilai rupiah mencapai Rp. 50.483.976.499 per-tahunnya. Hal ini menjelaskan dimana Wisata Alam Bukitlawang, TNGL, merupakan aset daerah dan negara yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi dan perlu dikembangkan dan dipertahankan. Karena, wisatawan asing rela mengorbankan biaya perjalanan (trasportasi) yang cukup tinggi untuk mencapai lokasi obyek wisata alam Bukitlawang.
Berdasarkan Tabel 12, terlihat bahwa nilai ekonomi obyek wisata alam Bukitlawang secara khusus yang diperoleh dari wisatawan asing, sebesar Rp. 7.798.605.485. Nilai ini merupakan nilai yang diperoleh dari biaya yang dihabiskan selama di dalam kawasan dan tidak termasuk biaya transportasi, karena biaya transportasi merupakan biaya di luar kawasan. Apabila dibandingkan dengan penerimaan negara melalui SIMAKSI atau karcis masuk sebesar Rp.20.000/orang/kunjungan maka total penerimaan negara sebesar Rp. 39.020.000/tahun atau 0,5% dari total nilai ekonomi wisata alam di Bukitlawang. TNGL.
Jumlah pengunjung dari masing-masing negara asal ditransformasi menjadi jumlah kunjungan per 1000 penduduk. Dan mengenai jumlah penduduk, biaya total perjalanan wisata, biaya perjalanan ke tempat wisata pengganti dan jumlah kunjungan per 1000 penduduk dari masing-masing negara asal dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12. Derajat Kunjungan Wisata Alam Per-1000 Penduduk
No. Negara Asal Kunjungan
Jlh Pddk (Jpi) Jki Pi (%) DK/1000 1 Jerman 82.424.609 29.265 15 0.36 2 Skotlandia 5.000.000 5.853 3 1.17 3 Irlandia 3.969.558 5.853 3 1.47 4 Inggris 60.711.591 29.265 15 0.48 5 Perancis 62.944.619 5.853 3 0.09 6 Spanyol 40.280.780 40.971 21 1.02 7 Belanda 16.607.543 58.530 30 3.52 8 Amerika 297.336.946 5.853 3 0.02 9 Australia 19.916.010 11.706 6 0.59 Sumber: Internet Keterangan:
Jki = Jumlah Pengunjung
Pi = Persentase Jumlah Wisatawan Asing Jpi = Jumlah Penduduk
DK = Derajat Kunjungan
Jumlah penduduk dan jumlah wisatawan dipakai untuk mengetahui derajat kunjungan dari tiap negara asal ke Wisata Alam TNGL Bukitlawang. Derajat kunjungan wisatawan asing tertinggi berasal dari negara Belanda yaitu sebesar 3,52 (30%), derajat kunjugan terendah berasal dari negara Amerika 0,02 (3%). Tabel 13. Data Jumlah Kunjungan per 1000 Penduduk, , Biaya Total Perjalanan
dan Biaya Total Perjalanan ke Tempat Wisata Pengganti.
No. Negara Asal Y X1 X2 1 Jerman 0.36 19.338.280 67.000 2 Skotlandia 1.17 28.634.860 - 3 Irlandia 1.47 54.963.790 48.000 4 Inggris 0.48 20.587.386 36.643 5 Perancis 0.09 18.903.400 50.000 6 Spanyol 1.02 20.346.817 40.000 7 Belanda 3.52 22.927.263 26.000 8 Amerika 0.02 23.959.222 70.000 9 Australia 0.59 23.222.528 60.000
Dengan menyatakan hubungan antara jumlah kunjungan per-1000 penduduk (Y) dengan biaya perjalanan wisata (X1) dan biaya perjalanan wisata pengganti (X2) dalam suatu persamaan linier yang dihasilkan dari regresi linier berganda, diperoleh persamaan permintaan regresi dari jumlah penduduk setiap Negara asal wisatawan asing sebagai berikut:
Y = 3,64 + 0,00000019X1 – 0,000055X2 Keterangan :
Y = Permintaan Rekreasi/Derajat Kunjungan per 1000 penduduk (orang) X1 = Biaya Perjalanan (Rp)
X2 = Biaya Total Wisata Pengganti (Rp)
Untuk menduga nilai manfaat rekreasi dari Obyek Wisata Alam Bukitlawang, TNGL, digunakan perluasan Metode Biaya Perjalanan dengan
menggunakan simulasi harga karcis (Clawson, 1996 dalam Davis dan Johnson, 1987). Harga karcis (SIMAKSI) yang berlaku sekarang adalah Rp.20.000.
Dalam penerapan perluasan Metode Biaya Perjalanan dibuat simulasi harga karcis mulai dari Rp.20.000 – Rp.190.000. Pada masing-masing tingkat harga karcis diduga jumlah kunjungannya, dengan memasukkan nilai biaya perjalanan dari masing-masing negara asal wisatawan asing ditambah dengan nilai simulasi harga karcis masuk sebagai variabel bebas pada persamaan rekreasi. Hasil pendugaan jumlah kunjungan pada berbagai tingkat harga karcis masuk (SIMAKSI) pada Lampiran 9, 10 dan 11.
Pada Lampiran 11 dapat dilihat bahwa semakin besar harga karcis masuk (SIMAKSI) maka pengunjung yang datang untuk berkunjung semakin berkurang. Pendugaan nilai manfaat rekreasi dilakukan berdasarkan kesediaan membayar para pengunjung untuk mendapatkan manfaat rekreasi yang diinginkan. Dengan menggunakan perluasan metode biaya perjalanan dengan simulasi harga SIMAKSI pada model pendugaan persamaan rekreasi yang didapat.
Nilai koefisien determinasi dari persamaan Y = 3,64 + 0,00000019X1 – 0,000055X2 adalah (r2 = 0.597). Nilai menunjukkan bahwa pengaruh variabel biaya perjalanan dan biaya perjalanan wisata pengganti (X1 dan X2) terhadap permintaan rekreasi (Y) sebesar 59,7%, sedangkan selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain. Hasil regresi menunjukkan bahwa biaya perjalanan dan biaya perjalanan wisata pengganti (X1 dan X2) terhadap permintaan rekreasi (Y) tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% (t hitung = 2,596 > t tabel = 2,034).
Berdasarkan persamaan regresi linier berganda diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 0,00000019X1-0,000055X2, artinya setiap kenaikan biaya perjalanan sebesar satu rupiah maka jumlah kunjungan per 1.000 penduduk akan bertambah sebesar 0,00000019, sebaliknya setiap penurunan biaya perjalanan wisata pengganti sebesar satu rupiah maka jumlah kunjungan per 1.000 penduduk akan bertambah sebesar 0,000055 .
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, biaya perjalanan tidak berpengruh nyata terhadap permintaan rekreasi, karena wisatawan yang datang ke Obyek Wisata Alam TNGL bersedia membayar berapapun untuk menikmati oyek wisata tersebut demi mendapatkan kesenangan.
Pada Lampiran 11 dapat diketahui untuk tahun 2007 jika terhadap pengunjung dikenakan harga karcis masuk (SIMAKSI) yang berlaku sekarang ini Rp.20.000 jumlah pengunjung yang datang adalah 1951 orang/tahun dengan jumlah penerimaan penjualan karcis sebesar Rp.39.020.000/tahun,- sedangkan harga karcis yang paling optimal yang akan mendatangkan penerimaan karcis yang maksimal adalah Rp.80.000,- pada tingkat harga karcis ini akan diperoleh penerimaan hasil penjualan karcis sebesar Rp.2.270.475.210,-. Nilai tersebut jauh lebih besar dari penerimaan yang diperoleh pada tingkat harga karcis sekarang. Kesediaan membayar dari pengunjung akan bertambah jika kawasan tersebut dikelola dengan baik, sebaliknya akan berkurang jika pengelolaan terhadap kawasan tidak baik.
Menaikkan harga karcis masuk (SIMAKSI), menuntut suatu kosekuensi dari pengelolaan kawasan rekreasi untuk meningkatkan pelayanannya terhadap pengunjung baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya (sarana dan prasarana).
Tanpa adanya peningkatan pelayanan, akan menyebabkan menurunnya nilai kesediaan membayar para pengunjung. Hal ini akan menurunkan manfaat nilai rekreasi.
Kualitas Wisata Alam
Penilaian yang diberikan wisatawan asing terhadap Wisata Alam Bukitlawang, TNGL, berdasarkan keberadaan wisata alam TNGL baik lingkungan, sarana-prasarana, dan peraturan yang ada, selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 13.
Pada umumnya wisatawan asing memberi penilaian bahwa kawasan wisata alam Bukitlawang TNGL, menarik dengan pemandangan hutan pengunungan yang sangat indah, adanya penangkaran Orangutan yang merupakan daya tarik bagi wisatawan asing yang berkunjung ke wisata alam Bukitlawang, Bahorok, TNGL.
Wisatawan asing biasanya banyak dan mudah dijumpai pada pagi hari yaitu sekitar jam 07.00 Wib dan sore hari pada jam 15.00 Wib di lokasi pemberian makan Orangutan (Feeding Site), karena mereka sangat tertarik untuk mengetahui kehidupan Orangutan, setelah itu mereka melakukan tracking ke hutan dan ditemani guide yaitu masyarakat yang menemani mereka selama berada di lokasi wisata. Data guide selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 15.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap wisatawan asing meyatakan bahwa aksessibilitas untuk mencapai lokasi wisata alam Bukitlawang, TNGL, agak sulit. Dapat dilihat pada Lampiran 13, yang menyatakan aksessibilitas mencapai lokasi wisata sebesar 48%, dan yang menyatakan sulit sebesar 30%, hal ini dapat diartikan bahwa aksessibilitas untuk mencapai lokasi wisata alam Bukitlawang
TNGL agak sulit, karena nilai antara mudah dan sulit sangat mendekati. Penilaian ini dapat menjadi pertimbangan pemerintahan daerah untuk meningkatkan kualitas aksessibilitas wisata alam Bukitlawang. Bahorok, TNGL. Dari data kuisioner juga diperoleh beberapa data yang menyatakan bahwa tingkat keamanan dan kenyamanan di kawasan terutama di penginapan kurang. karena dari beberapa wisatawan asing mengalami kehilangan beberapa benda milik mereka. seperti sepatu dan sandal.
Tempat Wisata Pengganti
Tempat wisata pengganti adalah tempat wisata lain, dimana pengunjung dari kawasan Wisata Alam Bukitlawang, TNGL, akan berkunjung ke lokasi wisata lain. Jumlah wisatawan asing yang melakukan kunjungan ke tempat wisata pengganti sebesar 15 orang (45%), dari rata-rata bulanan wisatawan asing pada periode 2005 dan 2006 yaitu sampel sejumlah 33 orang. Hal ini dapat diartikan bahwa wisata alam Bukitlawang, TNGL, lebih memiliki daya tarik yang lebih tinggi daripada tempat wisata lainnya. Antara lain di Berastagi, Danau Toba dan Museum Satwa di Medan. Rata-rata biaya perjalanan wisata pengganti sebesar Rp. 26.643/orang. Data yang diambil hanya biaya perjalanan wisatawan asing ke lokasi wisata pengganti pulang pergi, dapat dilihat pada Lampiran 5.
Pemandu Wisata (Guide)
Pemandu wisata (guide) adalah masyarakat yang bekerja mendampingi wisatawan asing yang ingin mengetahui tentang obyek wisata yang ada di wisata alam Bukitlawang, Bahorok, dan mampu berbahasa Inggris. Pada umumnya mereka menemani wisatawan asing untuk tracking ke hutan dan memberitahukan
hal-hal yang ingin diketahui oleh wisatawan asing, misalnya peraturan-peraturan daerah setempat dan lokasi-lokasi tertentu yang dibutuhkan oleh wisatawan asing. Hasil yang diperoleh biasanya adalah 50 $ US per hari atau sekitar Rp. 462.500 tergantung dari kebijaksanaan dari wisatawan asing tersebut. Khusus untuk tracking ke hutan biasanya mereka mendapat upah sebesar 15$ US atau sekitar Rp. 138.750.
Biaya sebesar 15$ US yang harus dibayar oleh setiap wisatawan asing kepada pemandu (guide) merupakan harga yang telah ditetapkan oleh badan pengurus pemandu wisata yang diberi nama HPI (Himpunan Pemandu Indonesia). yang ada di Obyek Wisata Alam Bukitlawang, TNGL.
Berdasarkan hasil wawancara langsung dengan saudara Ali (25 Tahun) bekerja sebagai pemandu wisata (guide) dalam perharinya dia bisa mendapat Rp. 500.000 bahkan lebih, hal ini tergantung pada jumlah pengunjung yang dapat dipandunya dalam sehari dan lamanya waktu kegiatan. Satu paket pemandu dinilai sebesar 15$ US selama 3 jam. Penghasilan dan keuntungan yang diperoleh sangat tergantung pada jumlah kedatangan pengunjung. Semakin banyak pengunjung yang datang ke lokasi wisata alam Bukitlawang, TNGL, semakin besar kesempatan mereka untuk meraih penghasilan yang lebih tinggi.