METODE PENELITIAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Penelitian dengan judul Karakteristik dan Gambaran Klinis Penderita Kanker Payudara di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari-Juni Tahun 2017 ini dilakukan di ruang penyimpanan rekam medis RSUP Haji Adam Malik kota Medan Provinsi Sumatera Utara yang berlokasi di Jalan Bunga Lau No.17, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan.
Sampel dalam penelitian ini adalah rekam medis pasien kanker payudara di RSUP Haji Adam Malik Medan periode Januari-Juni Tahun 2017. Jumlah seluruh pasien kanker payudara pada bulan Januari-Juni tahun 2017 di RSUP Haji Adam Malik Medan adalah sebanyak 84 orang. Setelah dilakukan pengambilan data dan diperiksa hanya terdapat 42 sampel yang memenuhi syarat kriteria sampel penelitian. Rekam medis yang tidak tersedia sebanyak 15 buah dan yang tidak memenuhi kriteria sebanyak 27 buah.
Data lengkap mengenai karakteristik sampel dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah.
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Usia Sampel
Usia N %
Distribusi usia sampel yang diperoleh dari hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4.1. di mana pada usia 50–59 Tahun paling banyak terjadi kanker payudara yaitu sebanyak 15 orang (35,7%). Diikuti oleh usia 40–49 Tahun sebanyak 12 orang (28,6%), 30–39 Tahun sebanyak 8 orang (19%), dan >60 Tahun sebanyak 7 orang (16,7%).
26
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jaanani a/p Gengatharan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013 dengan total sampel 147 orang, mendapatkan hasil bahwa kanker payudara paling banyak terjadi pada umur 51–60 tahun yaitu sebanyak 59 orang (40,1%), kemudian umur 41–50 tahun yaitu sebanyak 47 orang (32%), umur 31–40 tahun sebanyak 20 orang (13,6%), dan umur 61–70 tahun sebanyak 17 orang (11,6%) (Gengatharan, 2013).
Namun, hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Megawati di RS Cipto Mangunkusumo tahun 2012. Dari 138 pasien yang diteliti, sebagian besar didiagnosis kanker payudara pada usia 41–50 tahun yaitu sebanyak 50 orang (36,2%), kemudian diikuti oleh kelompok usia 31–40 tahun yaitu sebanyak 46 orang (33,3%). Sedangkan pada usia < 30 tahun dan
> 60 tahun, masing–masing sebanyak 4 orang (2,9%) dan 10 orang (7,2%) (Megawati, 2012).
Menurut American Cancer Society 2017, risiko terkena kanker payudara meningkat seiring dengan pertambahan usia. Tingkat kejadian kanker payudara meningkat sedikit di antara wanita berusia di atas 50 tahun selama periode terakhir (2005-2014). Hal ini diduga karena pengaruh paparan hormonal (estrogen) yang lama serta paparan faktor risiko lain yang memerlukan waktu yang lama untuk dapat menginduksi terjadinya kanker payudara (American Cancer Society, 2017).
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Pekerjaan Sampel
Pekerjaan N %
Distribusi pekerjaan sampel yang diperoleh dari hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4.2. dimana pada IRT paling banyak terjadi kanker payudara yaitu sebanyak 33 orang (78,6%). Diikuti oleh Pegawai sebanyak 5 orang (11,9%). Dan Petani sebanyak 4 orang (9,5%)
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Devitra a/p Rajendran
27
di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2015 dengan total sampel 244 orang, dengan hasil pekerjaan paling banyak pada pasien kanker payudara adalah IRT sebanyak 157 orang (64,3%) (Rajendran, 2015).
Sama juga halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Intan Laga Wijaya di Puskesmas Pandak I Bantul Yogyakarta tahun 2016, dengan jumlah sampel sebanyak 34 orang. Pekerjaan yang paling banyak pada penderita kanker payudara adalah ibu rumah tangga (IRT) dengan jumlah 20 orang (33,3%) (Wijaya, 2016).
Menurut penelitian yang dilakukan Ophi Indria Desanti (2010) bahwa proporsi responden yang paling sering melakukan SADARI dan mendapat informasi tentang kanker payudara adalah responden yang bekerja sebagai karyawan atau pegawai yaitu sebanyak 58,3% dibandingkan dengan kelompok yang tidak bekerja yaitu sebanyak 55%. Mayoritas responden adalah ibu rumah tangga yang dikelompokkan sebagai kelompok yang tidak bekerja . Salah satu penyebab tingginya kejadian kanker payudara pada IRT yang signifikan adalah kurangnya pengetahuan responden tentang kanker payudara (Desanti, 2010).
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Pendidikan Sampel
Pendidikan N %
Distribusi pendidikan sampel yang diperoleh dari hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4.3. dimana pada tamatan SLTP paling banyak terjadi kanker payudara yaitu 15 orang (35,7%). Diikuti oleh tamatan SLTA sebanyak 14 orang (33,3%), tamatan SD sebanyak 12 orang (28,6%), dan lulusan AMD sebanyak 1 orang (2,4%)
Hal ini berbeda dari penelitian yang dilakukan oleh Devitra a/p Rajendran di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2015 dengan total sampel 244 orang, dengan hasil distribusi frekuensi penderita kanker payudara berdasarkan pendidikan terakhir yang tertinggi ialah SD yaitu sebanyak 86 orang (35,2%)
28
kemudian SMA sebanyak 77 orang (31,6%), lalu SMP sebanyak 64 orang (26,4%), dan Sarjana sebanyak 17 orang (7%) (Rajendran, 2015).
Dan penelitian yang dilakukan oleh Dewi D. Agustini, dkk di RSUP Hasan Sadikin Bandung tahun 2015. Dengan hasil penelitian pada sampel sebanyak 200 orang di dapatkan jumlah tamatan SD yang terbanyak yaitu 91 orang (45,5%), yang paling sedikit adalah tamatan sarjana (S1, S2, S3) yaitu sebanyak 5 orang (2,5%) (Agustini et al., 2015).
Menurut penelitian Nanik Widiawaty (2012) bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi perilaku dan menghasilkan banyak perubahan, termasuk pengetahuan di bidang kesehatan. Semakin tinggi tingkat pendidikan formal semakin mudah menyerap informasi termasuk juga informasi kesehatan, semakin tinggi pula kesadaran untuk berperilaku hidup sehat (Widiawaty, 2012).
Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Gejala Klinis Sampel
Gejala Klinis N %
Benjolan pada payudara 28 66,7
Ulserasi pada payudara
Distribusi Gejala Klinis sampel yang diperoleh dari hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4.4. dimana gejala klinis berupa Benjolan pada payudara paling banyak terjadi pada pasien kanker payudara sebanyak 28 orang (66,7%), lalu Ulserasi pada payudara sebanyak 6 orang (14,3%), selanjutnya Benjolan dan Ulserasi pada payudara sebanyak 4 orang (9,5%), Benjolan dan Peau d’orange sebanyak 2 orang (4,8%), Payudara bengkak sebanyak 1 orang (2,4%), dan Benjolan, Ulserasi, Peau d’orange, Skin dimpling, Retraksi puting pada payudara sebanyak 1 orang (2,4%).
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Jaanani a/p Gengatharan
29
di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013 dengan total sampel 147 orang, dengan hasil gambaran klinis yang paling banyak di keluhkan oleh penderita kanker payudara ialah Benjolan pada payudara yaitu sebanyak 62 orang (42,2%) (Gengatharan, 2013).
Pada penelitian yang dilakukan Juliana di RSUD Provinsi Riau Pekan Baru tahun 2000 – 2004 menemukan keluhan utama penderita kanker payudara terbanyak adalah benjolan di payudara yaitu sebanyak 89,9% (Juliana, 2005).
Menurut American Cancer Society 2017, kanker payudara biasanya tidak menimbulkan gejala saat ukuran tumor masih kecil, itulah sebabnya Skrining penting untuk deteksi dini, tanda fisik yang umum adalah benjolan yang tidak menyakitkan, terkadang kanker payudara dapat menyebar ke kelenjar getah bening yang menyebabkan pembengkakan atau benjolan, dan pada payudara saat tumor membesar baru dapat dirasakan (American Cancer Society, 2017).
Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Stadium Sampel
Stadium N %
Distribusi Stadium kanker payudara sampel yang diperoleh dari hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4.5. dimana pada stadium III B paling banyak ditemui pada pasien kanker payudara sebanyak 27 orang (64,3%), diikuti dengan stadium IV sebanyak 11 orang (26,4%), selanjutnya ditemukan sebanyak 1 orang (2,4%) pada stadium 0, stadium I, stadium II A, dan stadium II B.
Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Jaanani a/p Gengatharan di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013 dengan total sampel 147 orang, dan mendapatkan jumlah sampel terbanyak berdasarkan grading stadium klinis adalah stadium III B sebanyak 50 orang (34%) dan sampel paling sedikit adalah pada stadium 1 sebanyak 2 orang (1,4%) (Gengatharan, 2013).
30
Vina Purnamasari, dkk yang melakukan penelitian di RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo tahun 2014. Mendapatkan hasil dari 105 pasien, juga mendapatkan stadium yang banyak ditemukan pada penelitian adalah stadium III B yaitu sebanyak 58 orang (55,24%) (Purnamasari et al., 2015).
Menurut I Rasjidi (2010) ini dikarenakan penderita kanker payudara umumnya baru datang ke dokter sesudah penyakitnya dalam stadium lanjut.
Faktor–faktor yang menyebabkan kelambatan deteksi diantaranya penderita tidak tahu atau kurang mengerti tentang kanker payudara, tidak tahu tentang SADARI, rasa takut dan faktor ekonomi (Rasjidi, 2010).
Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Tatalaksana Sampel
Tatalaksana N %
Distribusi Tatalaksana sampel yang diperoleh dari hasil penelitian dapat dilihat pada tabel 4.6. dimana Kemoterapi paling banyak dipilih sebagai pengobatan kanker payudara sebanyak 30 orang (71,4%), selanjutnya MRM dan Kemoterapi sebanyak 5 orang (11,9%), lalu Kemoterapi dan Radiasi sebanyak 4 orang (9,5), dan memilih MRM sebanyak 3 orang (7,1%) .
Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Megawati di RS Cipto Mangunkusumo tahun 2012. Dari 138 pasien yang diteliti, sebagian besar dari mereka memilih melakukan pembedahan dan kemoterapi yakni sebanyak 32 orang (23,2%). Selanjutnya pengobatan yang paling banyak dilakukan adalah kemoterapi saja sebanyak 22 orang (15,9%), yang tidak diobati sebanyak 22 orang (15,9%) (Megawati, 2012).
Namun, hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Devitra a/p Rajendran di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2015 dengan total sampel 244 orang, dengan hasil distribusi penatalaksanaan medis tertinggi adalah dengan kemoterapi yaitu 93 orang (38,1%), kemudian pembedahan 78 orang (32%), pembedahan + kemoterapi 53 orang (21,7%), terapi hormonal 12 orang (4,9%).
31
Pengobatan penyakit kanker payudara tidak hanya satu jenis tetapi merupakan perpaduan antara beberapa jenis pengobatan. Pembedahan diberikan kepada penderita yang belum mengalami metastase. Kemoterapi diberikan setelah pembedahan dengan tujuan untuk membunuh sel kanker yang kemungkinan masih ada. Penatalaksanaan medis dengan kemoterapi saja tanpa operasi juga dilakukan pada penderita stadium dini yang kemungkinan karena penderita tidak mau dioperasi dan lebih memilih melakukan kemoterapi saja (Rajendran, 2015).
BAB V