• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Partisipan 1

Dalam dokumen T1 802009044 Full text (Halaman 22-45)

1. Identitas dan latar belakang

Partisipan adalah sepasang suami istri berinisial O yang pada awalnya beragama Islam dan S beragama Khatolik. O berumur 30 tahun sedangkan S 28 tahun. Usia perkawinan mereka 5 tahun dan dikaruniai dua orang anak. Mereka tinggal di kota Salatiga, di tahun 2012 mereka memutuskan untuk bekerja di Bekasi dan menitipkan kedua anak mereka pada orangtua masing-masing, namun O merasa tidak betah dengan pekerjaannya di Bekasi dan memutuskan untuk kembali ke Salatiga bekerja sebagai E.O karena lebih cocok bekerja dibidang seperti itu, sehingga sekarang mereka hidup terpisah karena O berada di salatiga bersama anak dan keluarganya sedangkan S masih bekerja di Bekasi.

Partisipan sama-sama anak kedua dari dua bersaudara, mereka bersahabat dari kuliah kebetulan partisipan satu fakultas dan akhirnya memutuskan berpacaran selama kurang lebih 3 tahun sampai akhirnya menikah. Walaupun partisipan berbeda agama namun mereka tetap berpacaran secara terbuka dan diketahui oleh keluarga

masing-masing. Keluarga masing-masing mendukung dan tidak melarang hubungan partisipan. Pada awalnya S ingin menikah secara beda agama karena S tidak ingin berpindah agama, S juga tidak ingin O pindah agama tapi tidak menjalankan agama barunya secara baik namun akhirnya O memutuskan untuk pindah agama mengikuti agama S karena menginginkan hanya terdapat satu agama saja pada keluarganya.

2. Hasil

Pada aspek yang pertama yaitu pembagian tanggung jawab perkawinan (sharing marital responsibility), terdiri dari empat tugas penyesuaian.

1. Peran gender : O dan S saling bertukar peran dalam mengurus rumah tangganya karena menurut O itu terjadi secara naluriah.

O : ‘...kalau pertuka ran peran itu memang ga ada perjanjian di awal sih sebenernya tapi itu secara.. istilahnya seca ra naluriah udah jalannya seperti itu..’

S : ‘...kita ya udah kompak sih kalo bisa ngerjain ya dikerjain kecuali memang kita ga bisa dan akan jadi acak-acakanlah kasarannya

gitu ya...’

2. Materi dan keuangan : O dan S sama-sama bekerja dan penghasilan O lebih banyak digunakan dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya karena O berada di Salatiga sedangkan S berada di Bekasi.

O : ‘...jarak ini saat ini uangnya kalau yang dari aku memang a ku simpen sendiri dulu nanti kalau dia pulang

baru...’

S : ‘...ya itu paling sisa berapa baru yang udah di cut untuk pengeluaran ba ru di transferin ke

aku paling gitu...’

3. Pekerjaan dan prestasi : Menurut O konversi agama tidak berpengaruh pada pekerjaannya sekarang namun menurut S konversi agama yang dilakukan suaminya tetap berpengaruh pada pekerjaannya sebagai guru di sekolah Khatolik.

O : ‘...kalau buat aku karena memang pada dasarnya kebetulan da ri dulu pekerjaanku ga pernah ada sangkut pautnya sama agama jadi ga belum kebetulan belum pernah mengalami

konflik sih...’

S : ‘...kalo menurutku sedikit banyak akan berpengaruh karenakan gini.. kan dia sempet ngajar di sekolah khatolik.. kalo misalnya dia tetep muslim pun ga akan ada kesempatan untuk

itu kan...’

4. Kekuatan / kekuasaan dan pengambilan keputusan : Status O dan S seimbang namun dominan dalam hal-hal tertentu. Saat mengambil keputusan ada komunikasi sebelumnya.

O : ‘...kalo pada dasarnya sih seimbang cuman dalam beberapa hal pasti adalah kalo yang dominan.. kalo untuk pengambilan keputusan sih pada dasarnya pa sti diomongin bareng...’

S : ‘...kalo aku sih ngelihatnya untuk hal-hal tertentu memang salah satu lebih dominan.. so far sih masing seimbang.. kalo saya sih tetep

diobrolin dulu karena itu juga komitmen...’

Pada aspek yang kedua yaitu komunikasi dan konflik (communication and conflict), terdiri dari dua tugas penyesuaian.

1. Komunikasi : O dan S terbuka satu sama lain namun tetap mempunyai privasi masing-masing.

O : ‘...walaupun seterbuka apapun pasti dimanapun pasangan aku ya kin pasti juga ada satu hal yang disimpen juga.. tapi kalau untuk secara umum

sih memang komunikasi terbuka...’

S : ‘...tingkat keterbukaannya kalo aku ke dia ya

masih 90 persen sih...’

2. Konflik dan pemecahan masalah : Menurut O sikap cuek atau tidak peduli O menjadi pemicu konflik paling sering. Sedangkan menurut S masalah terbesar yang dialami adalah masalah dengan keluarganya terutama pakdhenya.

O : ‘...kalo paling sering itu karena

kecuekanku yang memicu konflik...’ S : mau nikah itu kan yang dari pakdheku itu, kan ‘...kalo aku ngerasain konflik malah pas aku

sedikit banyak kan bikin stres juga...’

Pada aspek yang ketiga yaitu seks dalam perkawinan (sex in marriage), terdiri

1. Penyesuaian seksual : Konversi agama yang dilakukan O tidak memengaruhi penyesuaian seksual yang mereka lakukan. S merasa karena adanya anak susah dalam menyisihkan waktu berdua bersama O.

O : ‘...aktivitas seksual itu kan sebetulnya.. berbeda dengan agama..

dijadikan satu dengan agama

menurutku ga bisa.. jadi ga ada

pengaruhnya...’

S : ‘...kadang merasanya karena kita jauh

pengennya kalo pas lagi disini tu aku pengen apa sih pergi berdua kek kemana gitu ha rusnya kan jalan-jalan cuman ya itu ada selalu yang

ngintilin...’

Pada aspek yang keempat yaitu perubahan yang terjadi sepanjang waktu di

dalam kehidupan perkawinan (changes in marriage over time), terdiri dari lima tugas penyesuaian.

1. Pemenuhan dan dukungan emosional : O merasa dirinya peka namun tertutupi oleh sikap cuek. S merasa O sangat cuek bahkan menganggap semua laki-laki cuek.

O : ‘...kalo untuk kepekaan aku.. punya kepekaan yang lebih da ri orang lain.. mungkin kembali lagi sikap

cuek’ku ini yang terkadang aku sendiri juga bingung...’

S : ‘...karena pada dasarnya laki-laki itu tidak peka.. aku ngambekpun dia ga nyadar malah ngatain ngapain sih tiba-tiba marah dia

berasanya dia tidak punya salah apapun...’

2. Kebiasaan pribadi : Menurut O perubahan terbesar yang terjadi adalah perubahan tanggung jawab. O dan S bersama-sama menyesuaikan dengan kebiasaan masing-masing walau ada beberapa kebiasaan yang tidak disukai.

O : ‘...mungkin sikap tanggung ja wabnya yang jelas berubah.. dia paling ga suka kebiasaan a ku

merokok di depan dia

langsung..melarangnya istilahnya ngasi pengertian-pengertian gitu dan

itupun juga berubah...’

S : ‘...ya biasanya masaknya kasa rannya ni aku

kan kalo masa k tomat kan bisa dua kalo orang lain pake satu aku pake dua gitu dia suka complain jadi sekarang tomat cuman separo karena dia bener-bener ga suka makanan

asem...’

3. Kehidupan sosial, pertemanan dan hiburan : Konversi agama tidak berpengaruh pada kehidupan sosial O namun hanya berpengaruh pada rutinitasnya saja.

O : ‘...untuk kearah sosial kan ga

terlalu pengaruh karena prinsipku sebetulnya semua agama sama hanya tata caranya aja yang beda jadi kalo untuk lingkungan sosial ga.. perubahannya paling lebih kearah

rutinitas keagamaan aja...’

S : ‘...kayaknya ga deh ya soalnya temen-temen

dia kan temen aku juga kita juga berangkat da ri agama yang berbeda-beda ga ada yang masalahin juga si a atau si b pindah agama

atau gimana gitu...’

4. Keluarga : O merasa beruntung dapat berhubungan sangat dekat dengan keluarga istrinya yaitu S, begitupun sebaliknya.

O : ‘...untuk keluarga aku sa ma keluarga istriku itu memang hubungannya udah deket sejak

pacaran.. mungkin dikatakan

beruntung juga.. memang dari a wal memang kelua rga udah saling

mendukung...’

S : ‘...Baik sih aku deket sih sama keluarga dia.. emang udah deket gampang juga keluarga dia atau keluarga aku tu gampang ga neko-neko juga santai karena mungkin juga kan udah

kenal lama...’

5. Moral, nilai dan ideologi : O masih belajar dalam menyesuaikan dengan agama yang baru karena masih kurang kesadaran dan terjadi pertentangan dalam dirinya, sedangkan S membantu O mendalami agama barunya.

O : ‘...sampai sekarang mindsetku

memang masih ke mindset muslim.. pada saat belajar itu terkadang ada pertentangan sendiri misalnya lebih mementingkan hal lain daripada

belajar itu...’

S : ‘...harus sedikit agak memaksa dia buat ke

gereja aku suruh anterin daripada cuman

nganterkan ayolah ikut ibadah bentar...’

Partisipan 2

1. Identitas dan latar belakang

Partisipan adalah sepasang suami istri berinisial G yang pada awalnya beragama Kristen dan S beragama Islam. G berumur 28 tahun dan S berumur 25 tahun. Usia perkawinan mereka 3 tahun dan dikaruniai satu anak. Partisipan tinggal di Salatiga dan keduanya bekerja. G adalah anak pertama dari lima bersaudara sedangkan S anak pertama dari tiga bersaudara. Partisipan bersahabat dari kuliah, mereka satu fakultas dan

merasa cocok dan akhirnya memutuskan untuk berpacaran selama 4 tahun sampai memutuskan untuk menikah.

Pada 2 tahun awal hubungan pacaran mereka dijalani dengan backstreet tanpa sepengetahuan orangtua mereka karena mereka tahu mereka berbeda agama, di tahun ke tiga mereka memberanikan diri untuk berkata jujur pada orangtua masing-masing tentang hubungan mereka. Penolakan terjadi pada kedua belah pihak keluarga masing-masing namun setelah G memutuskan untuk melakukan pindah agama mengikuti agama S, keluarga S mulai mau menerima keberadaan G sedangkan keluarga G masih tidak dapat menerima sikap G yang melakukan pindah agama tapi lama kelamaan partisipan memberi pengertian secara terus menerus dan keluarga G mau menerima keputusan G dan semakin membaik dengan adanya anak dari perkawinan mereka.

2. Hasil

Pada aspek yang pertama yaitu pembagian tanggung jawab perkawinan (sharing marital responsibility), terdiri dari empat tugas penyesuaian.

1. Peran gender : Ada kesepakatan diawal mengenai kesadaran dalam bertukar peran dan mengurus rumah tangga.

G : ‘...kebetulan kita sama-sama ya mengurus rumah tangga ya, bagi peran ya imbanglah maksudnya saya juga ngurus rumah tangga istri saya juga...’

S : ‘...prinsip kami itu dikerjakan sama-sama mbak jadi misalnya kita ga pandang itu pekerjaan yang harus dikerjakan oleh istri

mana yang harus dikerjakan oleh suami...’

2. Materi dan keuangan : G dan S sama-sama bekerja, penghasilan keduanya digabungkan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

G : ‘...penghasilan saya ka sihkan ke istri untuk mengatur pengha silan

itu...’

S : ‘...suami saya dapet berapa saya dapet berapa kemudian uang itu nanti akhirnya di gabung jadi baru saya melakukan pembagian untuk pembayaran segala macemnya yang

3. Pekerjaan dan prestasi : Bagi G dan S konversi agama tidak memengaruhi pekerjaan G karena menurut S yang dilihat adalah performa kerjanya.

G : ‘...ga ada hubungannya sa ma konversi aga ma, ya di tempat kerja ga memperma salahkan konversi agama

sih...’

S : ‘...ga sih mbak karena memang.. yang penting itu performa kerjanya mbak bukan latar belakang dari keluarga, darimana kita berasal...’

4. Kekuatan / kekuasaan dan pengambilan keputusan : G dan S saling menyeimbangkan status dan peran masing-masing. Dalam mengambil keputusan selalu ada komunikasi sebelumnya.

G : ‘...ga ada ya kalo yang dominan ya semua sa ma-sama sih seimbang-seimbang aja.. kalo pengambilan keputusan biasanya kami ngobrol

dulu...’

S :‘...kita sendiri berusaha saling menyeimbangkan mbak jadi porsinya sa malah.. kita komunikasi kita ngobrol jalan tengahnya yang paling enak gimana kemudian yaudah kita

ambil keputusan...’

Pada aspek yang kedua yaitu komunikasi dan konflik (communication and conflict), terdiri dari dua tugas penyesuaian.

1. Komunikasi : G dan S adalah pasangan yang selalu berusaha terbuka dalam segala hal pada pasangannya.

G : ‘...kami pasangan yang selalu berusaha untuk mengkomunikasikan

segala sesuatu...’

S : ‘...pokoknya selagi kita masih bisa saling ngobrol banyak cerita ya ya kita cerita aja jadi

banyak-banyakin ngobrol ajalah...’

2. Konflik dan pemecahan masalah : G dan S belum pernah mengalami masalah yang besar dalam perkawinan mereka. Biasanya pemicu konflik paling sering adalah sikap pelupa dan teledor G.

G :‘...kebetulan sampai seka rang belum pernah ada konflik yang besar-besar kayak gitu.. paling masalah

teledor.. pelupa juga...’

S : ‘...alhamdulilah sampe sekarang ini ga ada.. untuk masalah teledor itu paling sering sih.. emang dari dulu teledornya yang bikin saya

Pada aspek yang ketiga yaitu seks dalam perkawinan (sex in marriage), terdiri

dari satu tugas penyesuaian.

1. Penyesuaian seksual : Konversi agama yang dilakukan G tidak memengaruhi penyesuaian seksual yang mereka lakukan. Mereka melakukan hubungan seksual pada saat yang sama-sama memungkinkan.

G :‘...ga mempengaruhi ya apa masalah-masalah konversi agama itu dengan aktivitas seksual.. ketika pengen melakukan melakukan ketika lagi sama-sama capek apa gamau melakukan ya kita ga melakukan jadi ga terpengaruh juga sih sa ma apa

hubungan konversi agama...’

S : ‘...ga kalo untuk itu masalah itu ga

mempengaruhi sama sekali.. kalo memang kami memang sedang ingin melakukannya ya kami lakukan tapi yang jelas memang ada

komunikasi dululah...’

Pada aspek yang keempat yaitu perubahan yang terjadi sepanjang waktu di

dalam kehidupan perkawinan (changes in marriage over time), terdiri dari lima tugas penyesuaian.

1. Pemenuhan dan dukungan emosional : G mengekspresikan cintanya dengan ucapan dan tingkah laku begitu juga dengan S. S menambahkan dengan tanggung jawab pada keluarga seperti bertanggung jawab pada pekerjaan masing-masing menjadi salah satu hal penting dalam mengekspresikan cinta.

G : ‘...sehari-hari paling ya kaya k bilang sayang atau ngasih

pelukan-pelukan ciuman...’

S : ‘...memang paling gampang kan lewat kata-kata selain itu juga lewat tindakan ditunjukan dengan tanggungjawab kami masing-masing dengan pekerjaan dan terhadap rumah tangga...’

2. Kebiasaan pribadi : Ada kebiasaan pribadi masing-masing tidak disukai oleh G dan S. Alasan utama G dalam merubah kebiasaan merokoknya adalah dengan adanya anak.

G : ‘...sampai sekarang masih ada

kebiasaan-kebiasaan saya atau kebiasaan dia yang ga disukai..

sambil belajar kita saling

menyesuaikan.. karena udah ada anak ngerokok paling sudah ga di dalem

rumah...’

S : ‘...karena sekarang udah ada anak jadi dia

menghindari merokok di depan sa ya dan di depan anak karena yang pertama memang saya kurang suka dia merokok cuman karena apa ya kebiasaan memang ga bisa hilang secara

langsung ya jadi memang butuh belajar...’

3. Kehidupan sosial, pertemanan dan hiburan : Konversi agama tidak berpengaruh pada kehidupan sosial G namun menurut S hanya berpengaruh pada rutinitas suaminya saja.

G : ‘...di kehidupan sosial juga

sebenernya ga ada pengaruhnya sa ma pindah agama itu.. di lingkungan perumahan ga mempermasalahkan

masalah pindah agama juga...’

S : ‘...perubahannya lebih ke waktu

beribadahnya aja sih lebih kesitu...’

4. Keluarga : Pada saat G melakukan konversi agama ada rasa kecewa dan kehilangan dari keluarganya, terjadi kecanggungan keluarga G kepada S tanpa diketahui oleh G, namun membaik saat adanya anak.

G : ‘...ga ada penyesuaian-penyesuaian yang susah sebenernya ketika saya memutuskan untuk pindah agama dalam keadaan kelua rga mereka juga sudah bisa menerima bisa menerima sa ya sudah ga kaya k

dulu waktu pacaran...’

S : ‘...sekarang udah baik-baik aja sejak anak saya lahir semuanya jadi lebih baik.. wa ktu suami saya baru melakukan konversi agama orangtua dia masih canggung.. ya ada kekecewaan terus ada kayak rasa kehilangan

gitu...’

5. Moral, nilai dan ideologi : Peran istri sangat besar untuk G dalam belajar agama barunya. Karena G memang melakukan konversi agama dengan sepenuh hati maka G belajar agama barunya dengan tekun agar dapat memberikan contoh kepada anaknya.

G : ‘...saya sudah mantep untuk

pindah agama.. istri juga membantu sih sebenernya ketika ada hal-hal apa

hal-hal dalam agama islam itu...’

S : ‘...suami saya udah niat jadi tetep saya disini mendampingi dia untuk belajar untuk kita bertumbuh bersama...

PEMBAHASAN

Dengan melihat kembali pada tujuan penelitian yaitu melihat gambaran mengenai penyesuaian perkawinan pasangan yang salah satunya melakukan konversi agama dalam penelitian ini suami yang melakukan konversi agama, berikut merupakan ulasan dari kedua partisipan.

Pembagian tanggung jawab perkawinan (sharing marital responsibility)

Dalam aspek ini terdiri dari empat tugas penyesuaian yang akan diulas yaitu peran gender, materi dan keuangan, pekerjaan dan prestasi, serta kekuatan / kekuasaan dan pengambilan keputusan. Dari empat tugas penyesuaian tersebut banyak kesamaan yang dialami oleh partisipan 1 dan 2. Dalam konteksnya dengan peran gender Hoffman & Nye (dalam Anjani & Suryanto, 2006) berpendapat bahwa wanita biasanya ditugaskan untuk mengurus rumah tangga, mengasuh dan merawat anak karena dianggap cocok bagi kondisi psikologis dan fisiologis. Laki-laki sebagai pemberi nafkah utama dan kepala keluarga yang harus dilayani dan dihormati oleh istri. Pendapat tersebut tidak dilakukan oleh kedua partisipan. Kedua partisipan hampir sama dalam hal mengurus rumah tangga, keduanya sama-sama melakukan pertukaran peran dalam mengurus rumah tangga.

Pada partisipan 1 pertukaran peran dilakukan karena sudah terbiasa dengan pertukaran peran yang dilakukan orangtua masing-masing terutama orangtua istri, mereka merasa jika ada waktu kosong dan salah satu dapat membantu pekerjaan pasangan yang lain kenapa tidak dilakukan. Saat anak mereka masih bayi partisipan pernah bergantian bertugas menjaga anak mereka, sang istri terus bangun dari jam 9 malam sampai jam 3 pagi setelah itu istri tidur dan anak mereka gantian diurus oleh suami. Partisipan 1 beraganggapan bahwa pertukaran peran dapat menjadi sarana

bekerjasama bagi mereka, perbedaan pendapat bagi mereka adalah hal yang wajar dalam pertukaran peran yang mereka lakukan.

Kondisi tersebut hampir sama dengan apa yang dialami partisipan 2. Partisipan 2 berprinsip bahwa segala hal dilakukan secara bersama-sama, tidak ada yang namanya pekerjaan istri atau pekerjaan suami. Partisipan 2 bersama-sama membagi tugas mereka dengan imbang, keduanya mengurus rumah tangga dan juga mengurus anak. Saat istri belum sempat membersihkan rumah dan suami bisa mengerjakan, suami akan mengerjakan begitupun dengan masalah dapur entah memasak atau cuci piring suami mau melakukannya. Namun dengan hal tersebut tidak membuat istri menjadi menyerahkan semua tugasnya kepada suami namun tetap menjalankannya bersama-sama.

Dalam konteksnya dengan materi dan keuangan, sumber keuangan partisipan

1 berasal dari keduanya. Suami dan istri sama-sama bekerja, namun tempat kerja mereka berjauhan membuat mereka terpisah dalam masalah tempat tinggal. Suami bekerja di Salatiga sedangkan istri bekerja di Bekasi. Karena keduanya bekerja mereka beranggapan bahwa penghasilan mereka milik bersama. Penghasilan yang biasa dikeluarkan untuk kebutuhan rumah tangga adalah penghasilan dari suami karena suami yang ada di Salatiga dan tinggal bersama anak mereka, setelah kebutuhan anak-anak mereka tercukupi biasanya suami mengirim uangnya untuk istri di Bekasi sebagai tambahan uang jajan karena suami menganggap penghasilan istri di Bekasi sudah cukup untuk kehidupan istri disana. Sebelum mereka terpisah karena pekerjaan, istri yang mengatur semua keuangan untuk kebutuhan rumah tangga mereka.

Sama halnya dengan yang dialami oleh partisipan 2, keduanya sama-sama bekerja dan mempunyai penghasilan. Dalam mengatur keuangannya partisipan

menggabungkan penghasilan mereka yang akan diatur untuk kebutuhan rumah tangga mereka, dalam hal ini yang mengatur keuangan adalah istri. Sampai saat ini partisipan belum mengalami masalah dalam keuangan malah mereka bisa menyisihkan penghasilan mereka untuk ditabung.

Dalam konteksnya dengan pekerjaan dan prestasi, partisipan 1 merasa

konversi agama yang Ia lakukan tidak mempengaruhi pekerjaannya saat ini namun berpengaruh pada pekerjaan-pekerjaan tertentu misalnya saat partisipan bersama-sama bekerja di sekolah khatolik di Bekasi, jika suami tidak melakukan konversi agama maka ia tidak akan bisa diterima bekerja disana. Namun suami merasa tidak cocok dan memilih kembali bekerja di Salatiga sebagai E.O dan istrinya masih bekerja di Bekasi sebagai guru. Dengan pekerjaannya sekarang partisipan sudah merasa nyaman namun keduanya menegaskan untuk berniat mencari pekerjaan yang lain. Bagi suami pekerjaannya sekarang belum sesuai dengan ekspektasinya, ia menginginkan pekerjaan yang Ia sendiri yang menentukan waktunya sedangkan istri ingin pindah kerja yang jarak tempatnya lebih dekat dengan keluarganya.

Partisipan 2 juga berpendapat bahwa konversi agama yang dilakukan suami tidak mempengaruhi mereka dalam pekerjaannya saat ini. Mereka merasa tidak ada hubungan antara konversi agama dengan pemilihan pekerjaan mereka karena yang dinilai adalah performa kerja mereka di tempat kerja mereka. Bekerja juga menjadi salah satu cara untuk memperlihatkan bentuk tanggungjawab partisipan terhadap keluarga mereka. Namun karena sibuk bekerja partisipan menjadi kurang dalam waktu bertemu dan mengurus anak mereka, maka setiap hari minggu menjadi hari wajib bagi partisipan dan anaknya berkumpul bersama entah pergi keluar atau hanya dirumah tanpa ada kesibukan lain.

Dalam konteksnya dengan kekuatan / kekuasaan dan pengambilan keputusan, partisipan 1 mempunyai keseimbangan dalam peran masing-masing. Tidak

ada yang terlalu dominan diantara keduanya dan sesuai porsinya masing-masing. Misalnya dalam mengajari anak belajar biasanya dilakukan oleh istri sedangkan suami biasanya mengurusi barang-barang elektronik. Dalam mengambil keputusan memang biasanya ada pembicaraan terlebih dahulu namun istri merasa suami berpikir lebih logis dibanding dirinya sedangkan istri lebih kepada perasaan, maka istri merasa lebih baik suami yang memutuskan sesuatu dibanding dirinya walaupun sebelumnya pasti ada pembicaraan antara mereka berdua.

Keseimbangan peran juga dialami oleh partisipan 2. Mereka saling menyeimbangkan dalam status dan peran masing-masing dalam rumah tangga. Tidak ada yang lebih dominan diantara suami atau istri. Namun partisipan 2 memiliki waktu tertentu dalam berkomunikasi lebih serius, biasanya mereka menyempatkan waktu sebelum tidur untuk sharing dan berkomunikasi satu sama lain mengenai apa yang terjadi pada hari itu. Dalam mengambil keputusan partisipan 2 selalu berkomunikasi terlebih dahulu namun jika salah satu harus mengambil keputusan secara cepat maka

Dalam dokumen T1 802009044 Full text (Halaman 22-45)

Dokumen terkait