• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan

G. Keabsahan Data

Langkah terakhir dari penelitian adalah uji keabsahan data. Menurut

Maleong (2012: 320-321), yang dimaksud dengan keabsahan data adalah bahwa

setiap keadaan harus dapat mendemonstrasikan nilai yang benar, menyediakan

dasar agar hal itu dapat diterapkan, dan memperbolehkan keputusan luar yang

dapat dibuat tentang konsistensi dari prosedurnya dan kenetralan dari temuan dan

keputusan-keputusannya. Di dalam uji keabsahan data, pada penelitian ini peneliti

menggunakan uji kredibilitas atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian. Uji

kredibilitas data dalam penelitian ini menggunakan dua macam triangulasi, yaitu

triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi dapat diartikan sebagai

teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik

pengumpulan data dan sumber data yang telah ada (Sugiyono, 2014: 330).

1. Triangulasi Teknik

Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber

yang sama dengan teknik yang berbeda (Sugiyono, 2014: 273). Sebagai contoh,

dalam penelitian peneliti melakukan wawancara, observasi, dan dokumentasi.

harus melakukan diskusi lebih lanjut dengan sumber data yang lain untuk

mengambil sebuah kesimpulan.

2. Triangulasi Sumber

Triangulasi sumber dilakukan dengan mengecek kredibilitas data melalui

beberapa sumber (Sugiyono, 2014: 273). Sebagai contoh, peneliti melakukan

wawancara terhadap guru, murid, dan kepala sekolah. Berdasarkan ketiga sumber

ini, maka peneliti harus menganalisis data tersebut dengan cara mendeskripsikan,

mengkategorikan serta mencari persamaan dan perbedaan pendapat antar

44 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Penelitian 1. Sampel sumber data

Adapun Subjek sebagai sampel sumber data dalam penelitian ini ada tiga

meliputi wali kelas V, kepala sekolah, dan murid kelas V SDN 004 Kalotok. Wali

kelas V yang menjadi subjek utama untuk memperoleh hasil dalam penelitian ini

ada dua yaitu ibu Samsinar, S.Pd. (wali semester I) dan ibu Vika Angriani, S.Pd

(wali Semester II).

Selain itu, Bapak Syaifuddin, S.Pd.I selaku kepala sekolah juga

merupakan subjek yang penting dalam pengumpulan data ini karena sebagai

pemegang otoritas tertinggi dalam lingkup SDN 004 Kalotok yang menjadi

pengambil keputusan dan solusi terkait perilaku bullying yang terjadi di SDN 004

kalotok.

Adapun murid kelas V sebagai sumber data dalam penelitian ini

dimaksudkan untuk mengetahui jenis bullying yang terjadi dan bagaimana proses

bullying dapat terbentuk.

2. Analisis data penelitian

a. Reduksi Data Penelitian (Data Reduction)

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya pada metode penelitian bahwa

yang didapat peneliti di lapangan, Peneliti memberikan gambaran melalui table

sebagai berikut:

Gambar 4.1 Alur reduksi data

Langkah-langkah reduksi data dalam penelitian ini adalah pertama,

mereduksi hasil wawancara dari 7 narasumber yang terlampir dalam insturmen

wawancara penelitian dan menfokuskan pada pengambilan kesimpulan yang

merupakan inti dari data yang didapat dari berbagai narasumber tersebut. Kedua,

menarik kesimpulan terkait catatan lapangan yang sumbernya ada dalam lampiran

penelitian.

Setelah melalui proses reduksi data dengan teknik wawancara dan

observasi (catatan lapangan) dengan subjek utama dalam hal ini wali kelas, kepala

sekolah dan murid maka peneliti melakukan penyajian data untuk mendampatkan

hasil atau temuan dalam penelitian ini.

SAMPEL SUMBER DATA

INSTRUMEN PENELITIAN WAWANCARA CATATAN LAPANGAN DOKUMENTASI REDUKSI DATA HASIL PENELITIAN (KESIMPULAN)

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Penyajian Data Penelitian

Penyajian data dilakukan bertujuan untuk menjelaskan

hubungan-hubungan dari sesuatu yang sedang diteliti. Di dalam penelitian kualitatif ini akan

diungkapkan makna dari data-data yang telah dikumpulkan selama penelitian

berlangsung.

a. Bullying pada murid kelas V SDN 004 Kalotok Kecamatan Sabbang Selatan Kabupaten Luwu Utara.

Perkembangan murid pada fase masa akhir anak-anak berkisar antara

umur 11-12 tahun ditandai dengan pembentukan kelompok teman sebaya,

sehingga hal tersebut bisa menjadi pemicu terjadinya kasus bullying. Pada murid

kelas V SDN 004 Kalotok kasus bullying yang sering teramati adalah perilaku

mengejek (Verbal Bullying) dengan memplesetkan nama korban bullying.

Hasil wawancara dengan Syaifuddin, S.Pd.I (SY) yang menjabat sebagai

Kepala Sekolah SDN 004 Kalotok yang dilakukan pada Selasa, 02 Februari 2021

juga sejalan dengan apa yang dikemukakan diatas:

Susah untuk dijelaskan tapi paling yang biasa teramati di sekolah adalah murid mengejek murid yang lain. Seperti contoh peristiwa bullying yang terjadi di sekolah ini ada murid perempuan kelas V yang tidak diajak bermain dan dijauhi oleh murid perempuan teman sekelasnya.

Hal tersebut sesuai dengan data yang peneliti dapat ketika melakukan

wawancara yang dilakukan pada hari Rabu, 10 Februari 2021 dengan Samsinar,

S.Pd. (SR) yang sekaligus menjadi wali kelas V SDN 004 Kalotok, Adapun hasil

Biasanya peristiwa bullying yamg teramati antar murid di kelas V SDN 004 Kalotok selama saya jadi wali kelas adalah mengejek seperti yang pernah kamu lihat sebelumnya ada seorang murid yang diejek dengan memplesetkan nama temannya, kalau secara fisik biasa terjadi tapi sangat jarang. Saya tidak tahu kalau diluar dari sekolah ini ketika mereka bermain bersama.

Data yang berkaitan dengan kasus bullying juga peneliti dapatkan ketika

melakukan wawancara pada Senin, 15 Februari 2021 dengan Vika Angriani, S.Pd

(VA) selaku wali kelas V SDN 004 Kalotok pada semester II. Namun yang

menjadi kendala ketika melakukan wawancara dengan narasumber ini ialah beliau

belum terlalu paham tentang perilaku dan karakter murid kelas V SDN 004

Kalotok karena beliau adalah guru baru dan saat penelitian dilakukan beliau

sementara mengikuti Prajabatan pegawai negeri sipil, adapaun hasil wawancara

dijabarkan sebagai berikut:

“Perilaku bullying yang biasa terjadi pada murid yaitu adanya kekurangan fisik pada murid sehingga bullying biasa terjadi.”

Selain hasil wawancara yang diperoleh peneliti dari wali kelas dan kepala

sekolah, catatan lapangan dari hasil observasi peneliti dan wawancara dengan

murid juga memberikan sumbangsi dalam memperjelas kasus bullying yang

terjadi pada murid kelas V. Dari hasil wawancara dengan 3 narasumber dengan

dari murid kelas V yaitu Muhammad Al-Iqra (MA), Reifan Aditya (RA), Tasya

(Ts) dapat memudahkan untuk merumuskan hasil penelitian. Adapun hasil

wawancara dari beberapa murid tersebut akan peneliti gambarkan dalam bentuk

Gambar 4.2 Penjabaran perilaku murid kelas V

Dari tabel tentang perilaku murid kelas V SDN 004 Kalotok peneliti

mendapatkan beberapa karakter tentang perilaku murid. Pola perilaku murid

menjadi salah satu tolak ukur yang dapat menyebabkan perilaku bullying dapat

terjadi di kelas. perilaku yang nakal dari murid merupakan salah satu faktor yang

menjadikan murid menjadi pelaku bullying dan dalam beberapa kasus korban

bullying biasanya merujuk pada murid yang menurut temannya sabar sehingga membuat pelaku menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan kekuatan antara pelaku

dan korban. SISWA KELAS V

SDN 004 KALOTOK

SISWA DAN SISWI KELAS V YANG

NAKAL

SISWA DAN SISWI KELAS V YANG

SABAR

SISWA DAN SISWI KELAS V DENGAN

TUBUH YANG KECIL

SISWA DAN SISWI KELAS V DENGAN

TUBUH YANG BESAR

Farhan Arjuna Putra (FA), Muhammad Al-Iqra (MA), Rendi Ismail (RI), Muh. Fiqram Ismail (MF), Dzalika Mufidha

(DZ), Nur Rafika Indah (NR).

Reifan Aditya (RA), Nur Azitri Satya (NA), Tasya (Ts), Aini

Arifah (AA).

Farhan Arjuna Putra (FA), Resky Auwlia (RA).

Fadil (Fa), Siren (Sr), Nur Rafika Indah (NR).

Hal tersebut berkaitan dengan temuan yang peneliti dapatkan dari hasil

observasi lapangan terkait perilaku bullying seperti apa yang terjadi pada murid

kelas V SDN 004 Kalotok yang akan peneliti paparkan sebagai berikut:

1. Observasi lapangan pada Selasa, 19 Januari 2021.

Proses pembelajaran berjalan seperti biasanya tapi ketika guru masuk ke

dalam rumah, saya memperhatikan Muhammad Al-Iqra (MA) dan Muh. Fiqram

Ismail (MF) sesekali meenggangu Adam (Ad) dan Reifan Aditya (RA) namun

ketika guru sudah masuk dalam proses pembelajaran lagi mereka berhenti

mengganggu dan saya melihat tidak ada murid yang melaporkan perbuatan

tersebut ke guru.

2. Observasi lapangan pada Selasa, 26 Januari 2021.

Pada proses pembelajaran hari ini ibu Samsinar, S.Pd. (SR) selaku wali

kelas V memberi materi pembelajaran tentan “Ekosistem” dan melakukan pembelajaran di luar ruangan. Guru membagi kelompok berisi 3 orang murid

sehingga kelompok ada 5 dan setelahnya bersama-sama keluar ruangan. Dalam

proses pembelajaran kelompok tersebut yang berlangsung di luar ruangan, saya

kembali mengamati murid atas nama Muhammad Al-Iqra (MA) dan ditemani

Farhan Arjuna Putra (FA) sesekali mendorong Reifan Aditya (RA) dan mengejek

dengan nama panggilan “papan” dan korban terlihat sangat tidak senang dengan panggilan seperti itu. Hal tersebut di saksikan oleh wali kelas Ibu Samsinar, S.Pd.

(SR) dan mengancam para pelaku tidak akan dimasukkan dalam kelas jika hal

tersebut dilakukan lagi.

Pada proses pembelajaran ini hanya 5 murid dan 5 siswi yang hadir dalam

pembelajaran tatap muka karena pandemic COVID 19. Ibu Samsinar, S.Pd. (SR)

sedang melakukan kegiatan belajar dan sesekali melakukan tanya-jawab dengan

murid. Saat ibu Samsinar, S.Pd. (SR) sedang menanyai Nur Rafika Indah (NR)

namun (NR) tidak mendengarnya ada seorang murid atas nama Rendi Ismail (RI)

memanggil (NR) dengan kata-kata “kau bonjeng dipanggil sama ibu”. Hal

tersebut membuat raut muka (NR) nampak tidak suka.

Dari beberapa data yang peneliti dapatkan melalui wawancara dengan wali

kelas, kepala sekolah dan murid serta catatan lapangan selama penelitian

memperjelas kasus bullying yang terjadi pada murid kelas V SDN 004 Kalotok

yang peneliti jelaskan melalui tabel sebagai berikut.

Gambar 4.3 Perilaku bullying murid kelas V SDN 004 Kalotok

PERILAKU BULLYING

KASUS BULLYING SISWA KELAS V SDN 004 KALOTOK

BULLYING FISIK VERBAL BULLYING BULLYING

RELASIONAL MENDORONG, MENENDANG DAN MEMUKUL MENGEJEK DENGAN MEMBERIKAN NAMA PANGGILAN PENGABAIAN DAN PENGUCILAN DALAM KELOMPOK PERTEMANAN

b. Pola terbentuknya bullying pada murid kelas V SDN 004 Kalotok Kecamatan Sabbang Selatan Kabupaten Luwu Utara.

Terbentuknya bullying pada murid kelas V SDN 004 Kalotok dipengaruhi

oleh perbedaan kekuatan murid, latar belakang status ekonomi keluarga dalam

masyarakat, perbedaan karakter antar murid, dan juga karena telah terbentuknya

kelompok teman sebaya antar murid yang ditandai dengan adanya “jagoan” dalam

kelas yang mempunyai beberapa “bawahan” dalam melakukan tindakan bullying. Paparan diatas terkait perbedaan status sosial orangtua murid juga

memiliki kesamaan dengan hasil wawancara Syaifuddin, S.Pd.I (SY) selaku

Kepala sekolah SDN 004 Kalotok, sebagai berikut:

“Alasannya bermacam-macam. Salah satunya masalah kecemburuan sosial.”

Berbeda dengan yang diungkapkan oleh wali kelas Samsinar, S.Pd. (SR)

pada hari Rabu, 10 Februari 2021 lebih fokus kepada perbedaan kekuatan antar

murid dan tentang kelompok teman sebaya yang menjadi penyebab terjadinya

bullying pada murid kelas V SDN 004 Kalotok, seperti yang dijabarkan dibawah narasumber dibawah ini:

Kalau di kelas V, murid laki-laki penyebabnya karena perbedaan kekuatan ada murid yang jauh lebih kuat biasa menindas yang paling lemah. Kalau murid perempuan biasanya karena persoalan pertemanan saja.

Dari kasus bullying yang sempat peneliti amati saat melakukan observasi

sebelum peneliti jelaskan pola terbentuknya dari pengamatan tersendiri peneliti

diluar catatan lapangan di sekolah, adapun pemaparannya sebagai berikut:

a. Catatan lapangan peneliti pada hari Selasa, 19 Januari 2021: Proses

pembelajaran berjalan seperti biasanya tapi ketika guru masuk ke dalam rumah,

saya memperhatikan Muhammad Al-Iqra (MA) dan Muh. Fiqram Ismail (MF)

sesekali meenggangu Adam (Ad) dan Reifan Aditya (RA) namun ketika guru

sudah masuk dalam proses pembelajaran lagi mereka berhenti mengganggu dan

saya melihat tidak ada murid yang melaporkan perbuatan tersebut ke guru.

b. Catatan lapangan peneliti pada hari Selasa, 26 Januari 2021: Pada proses

pembelajaran hari ini ibu Samsinar, S.Pd. (SR) selaku wali kelas V memberi

materi pembelajaran tentang “Ekosistem” dan melakukan pembelajaran di luar

ruangan. Guru membagi kelompok berisi 3 orang murid sehingga kelompok ada 5

dan setelahnya bersama-sama keluar ruangan. Dalam proses pembelajaran

kelompok tersebut yang berlangsung di luar ruangan, saya kembali mengamati

murid atas nama Muhammad Al-Iqra (MA) dan ditemani Farhan Arjuna Putra

(FA) sesekali mendorong Reifan Aditya (RA) dan mengejek dengan nama

panggilan “papan” dan korban terlihat sangat tidak senang dengan panggilan

seperti itu. Hal tersebut di saksikan oleh wali kelas Ibu Samsinar, S.Pd. (SR) dan

mengancam para pelaku tidak akan dimasukkan dalam kelas jika hal tersebut

dilakukan lagi.

c. Catatan lapangan peneliti pada hari Selasa, 10 Februari 2021: Saat ibu

Samsinar, S.Pd. (SR) sedang menanyai Nur Rafika Indah (NR) namun (NR) tidak

dengan kata-kata “kau bonjeng dipanggil sama ibu”. Hal tersebut membuat raut

muka (NR) nampak tidak suka.

Dalam setiap kasus bullying yang terjadi terdapat peran antara pelaku dan

korban, hal seperti itu juga ditemukan pada murid kelas V SDN 004 Kalotok yang

dijelaskan peneliti melalui tabel yang disimpulkan dari data hasil instumen

penelitian sebagai berikut:

Gambar 4.4 Peranan dalam bullying murid kelas V SDN 004 Kalotok

Dengan memberikan gambaran tentang peranan bullying dalam bentuk

tabel seperti diatas bisa memudahkan kita untuk mengetahui latar belakang

terbentuknya perilaku bullying pada murid kelas V SDN 004 Kalotok. Yang

peneliti jabarkan seperti dibawah ini.

PERANAN DALAM BULLYING SISWA KELAS V SDN

004 KALOTOK

PELAKU KORBAN

Muhammad Al-Iqra (MA) Muh. Fiqram Ismail (MF) Farhan Arjuna Putra (FA)

Rendi Ismail (RI) Dzalika Mufidha (DM)

Adam (Ad) Reifan Aditya (RA) Nur Rafika Indah (NR)

Dalam suatu observasi lapangan pada tanggal Selasa, 19 Januari 2021,

saya memperhatikan Muhammad Al-Iqra (MA) dan Muh. Fiqram Ismail (MF)

sesekali mengganggu Adam (Ad) dan Reifan Aditya (RA) namun ketika guru

sudah masuk dalam proses pembelajaran lagi mereka berhenti mengganggu dan

saya melihat tidak ada murid yang melaporkan perbuatan tersebut ke guru.

Dari hasil observasi tersebut peneliti ingin melihat latar belakang status

sosial orangtua murid yang menjadi korban dan pelaku bullying. Muhammad

Al-Iqra (MA) dan Muh. Fiqram Ismail (MF) yang menjadi pelaku dalam kasus

bullying fisik terhadap Adam (Ad) dan Reifan Aditya (RA). \

Muhammad Al-Iqra (MA) merupakan anak dari seorang guru SMP yang

dikalangan masyarakat mempunyai status sosial diatas rata-rata sehingga untuk

pemenuhan kebutuhan gaya hidup bisa dibilang terpenuhi dan juga diantara murid

laki-laki di dalam kelasnya dia memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibanding

yang lainnya dan mendapat julukan “bos”. Sehingga beberapa murid salah satu

diantaranya Muh. Fiqram Ismail (MF) menjadi “anggota” dan selalu ada bahkan

ikut terlibat ketika Muhammad Al-Iqra (MA) melakukan tindakan bullying.

Hal tersebut diperjelas dengan hasil wawancara yang peneliti lakukan

dengan Muhammad Al-Iqra (MA) pada Senin 15 Februari 2021 ketika

menanyakan tentang siapa yang paling nakal dalam kelas dan siapa yang pernah

dia pukul, hasil wawancaranya sebagai berikut:

“Kalau murid yang paling nakal itu saya sendiri dan Farhan Arjuna Putra (FA), Saya pernah memukul Reifan Aditya (RA).”

Muh. Fiqram Ismail (MF) seorang murid kelas V dari keluarga yang

diperhatikan dalam keluarga atau mendapat pengabaian dari orangtuanya tentang

di lingkungan mana dia bermain setelah sepulang sekolah seperti yang peneliti

lihat ketika Muh. Fiqram Ismail (MF) sering terlihat bermain bersama

Muhammad Al-Iqra (MA) yang kita ketahui merupakan anak yang nakal dan juga

dari status sosial yang berada yang membuat Muh. Fiqram Ismail (MF) lebih tepat

disebut “anggota” karena sering disuruh menuruti perintah dari Muhammad Al-Iqra (MA).

Berbeda dengan Muhammad Al-Iqra (MA), Adam (Ad) dan Reifan Aditya

(RA) selaku korban merupakan murid yang masih memiliki hubungan

kekeluargaan bahkan mempunyai rumah yang saling berseblahan. Pada kasus ini

saya lebih berfokus pada Reifan Aditya (RA) dengan alasan bahwa dialah yang

sering mendapat perlakuan bullying baik berupa fisik maupun verbal bullying

seperi memplesetkan nama menjadi “papan” yang sering peneliti dengar dari teman kelasnya yang laki-laki dan nampaknya dia tidak suka dengan suka dari

Muhammad Al-Iqra (MA) beserta “anggota” nya. Status ekonomi keluarga Reifan

Aditya (RA) bisa dibilang dibawah rata-rata yang memaksa ayah dari murid ini

harus merantau untuk mencukupi kehidupan keluarganya. Dari hal itulah Reifan

Aditya (RA) menjadi pribadi yang pendiam dan sabar. Hal lain yang menjadi

faktor penyebab Reifan Aditya (RA) sering menjadi korban bullying selain

pendiam karena dia terlihat lebih lemah dari murid yang lainnya sehingga menjadi

sasaran utama bagi murid yang memiliki kekuatan yang lebih besar.

Kasus lain dalam peristiwa bullying pada murid kelas V SDN 004 Kalotok

karena kelompok teman sebaya antar perempuan juga telah terbentuk pada fase ini

dan juga posisi rumah antar murid perempuan menentukan pembentukan

kelompok teman sebaya. Seperti yang peneliti dapatkan dari hasil wawancara

dengan murid Reifan Aditya (RA) pada Rabu 17 Februari 2021 sebagai berikut:

“Pernah saya melihat beberapa teman perempuan dikelas saya saling mengabaikan. Biasanya antara Nur Rafika Indah dan temannya dengan Dzalika Mufidha (DM) dan temannya.”

Bullying relasional adalah salah satu bentuk bullying dengan upaya

melakukan pengucilan atau pengabaian korban dari lingkar pertemenannya. Pada

murid kelas V SDN 004 Kalotok relasional bullying terjadi antar siswi perempuan

seperti yang sudah dijelaskan diatas. Untuk lebih memperjelas tentang faktor yang

mempengaruhi peristiwa bullying pada murid kelas V SDN 004 Kalotok, peneliti

membuat tabel seperti berikut:

Gambar 4.5 Pola terbentuknya bullying pada murid kelas V SDN 004 Kalotok POLA

TERBENTUKNYA

BULLYING SISWA

KELAS V SDN 004 KALOTOK

STATUS SOSIAL DAN EKONOMI ORANG TUA SISWA DALAM

MASYARAKAT

KARAKTER INDIVIDU ANTAR SISWA

UKURAN BADAN DAN PERBEDAAN KEKUATAN ANTAR SISWA

PEMBENTUKAN LINGKAR PERTEMENAN BERDASARKAN

KEDEKATAN RUMAH YANG MENYEBABKAN TERJADINYA RELASIONAL BULLYING ANTAR SISWI

c. Peranan guru kelas mengatasi perilaku bullying pada murid kelas V SDN 004 Kalotok Kecamatan Sabbang Selatan Kabupaten Luwu Utara.

Institusi sekolah merupakan wadah bagi peserta didik untuk

mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang sangat

menunjang dalam kehidupan setelah proses pendidikan selesai ditempuh. Sekolah

dasar adalah salah satu jenjang dalam pendidikan formal yang diharapkan dapat

membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuannya. Peranan guru

dan kepala sekolah sangat diperlukan dalam perumusan kegiatan belajar dan

metode pembelajaran dalam pembentukan karakter murid pada lingkup sekolah.

Salah satu hal yang menjadi permasalahan yang dihadapi pihak sekolah

dalam membentuk karakter murid adalah perilaku bullying sehingga sangat

diperlukan peranan guru kelas dan inisiatif dari kepala sekolah untuk mengurangi

bahkan mengatasi perilaku bullying tersebut. Dampak bullying pada korban

menjadi hal serius untuk diselesaikan karena menyangkut keberlangsungan hidup

peserta didik di masa depan. Peserta didik yang menjadi korban bullying biasanya

akan kehilangan kepercayaan diri, masalah psikologis bahkan yang lebih parah

putus sekolah.

Komitmen kepala sekolah dan sinergitas guru kelas memiliki peran yang

besar dalam mengatasi perilaku bullying tak terkecuali juga di SDN 004 Kalotok.

Tentunya sebagai kepala sekolah sudah menjadi kewajiban untuk bisa mengatasi

permasalahan yang timbul disekolah. Dalam penelitian ini melalui wawancara

Selasa, 02 Februari 2021 mempunyai cara tersendiri dalam menganani kasus

bullying seperti yang diuraikan dibawah ini:

Jika hal itu terjadi biasanya kami pihak sekolah memanggil pelaku dan korban ke kantor untuk diberikan bimbingan dan arahan. Contohnya yang menjadi pelaku diberi nasehat supaya tidak mengulangi hal-hal seperti itu lagi dan korban juga diberi bimbingan/diarahkan supaya tidak terlalu cengeng karena terkadang teman-temannya hanya bermain-main atau sekedar iseng.

Dan juga besar harapan kepala Sekolah SDN 004 Kalotok terhadap

penanganan bullying disekolah pada saat wawancara dengan peneliti sebagai

berikut:

Diharapkan kedepannya tidak ada lagi murid yang melakukan perilaku bullying karena ini menyangkut tentang karakter murid dan penanaman karakter juga harus dilakukan guru-guru di dalam kelas agar tidak ada lagi murid yang melakukan perilaku Bullying.

Selain menjadi tanggung jawab Kepala sekolah terkait kasus bullying

tentunya guru kelas juga mempunyai peranan penting karena guru kelasnya yang

lebih tahu tentang karakteristik setiap murid dan perkembangannya. Hal serupa

juga peneliti tanyakan pada sesi wawancara dengan Samsinar, S.Pd. (SR) selaku

guru kelas V SDN 004 Kalotok pada Rabu 10 Februari 2021 yang peneliti

uraikan sebagai berikut:

a. Peran guru kelas sebagai pembimbing: Peran guru kelas sebagai penasehat pada

murid kelas V SDN 004 Kalotok dapat diamati ketika terjadi kasus bullying

terjadi seperti pemberian nasehat kepada murid yang menjadi pelaku bahwa

perbuatan memukul (bullying fisik) dan mengejek (verbal bullying) adalah suatu

sikap yang sangat tidak manusiawi sehingga pelaku harus berpikir kembali jika

b. Peran guru sebagai teladan: Dalam proses pembelajaran yang bersifat tematik

guru kelas V SDN 004 Kalotok biasanya menyisipkan mata pelajaran PKN

tentang bagaimana sikap dan perilaku yang baik dan saling menghormati. Adapun

dalam menutup pelajaran guru kelas biasanya guru kelas memberikan ceramah

untuk saling menghargai antar teman sebaya dan juga murid diajarkan jika

melihat bullying agar melaporkan kepada orang yang lenih dewasa atau dalam hal

ini adalah guru dan pihak sekolah.

c. Peran guru sebagai Fasilitator: Menjadi fasilitator antar pelaku dan korban

bullying menjadi tanggung jawab guru kelas murid kelas V, sehingga menyelasaikan kasus bullying pada murid kelas V adalah tanggung jawab guru

kelas dengan berbagai metode yang digunakan. Namun untuk kasus bullying yang

lebih serius yang membuat murid ingin pindah sekolah adalah tanggung jawab

kepala sekolah.

Dokumen terkait