TINJAUAN PUSTAKA
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan spiritual dengan otonomi profesional perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Al Islam Bandung. Dari 323 populasi perawat didapatkan jumlah sampel 97 responden dengan mengambil 30% dari populasi (Nursalam, 2003). Penelitian dilaksanakan pada tanggal 16-24 Mei 2014. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara random sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner Spiritual Intelligence Self Report Inventory (SISRI) dan
Nursing Activity Scale (NAS).
Karakteristik responden terdiri dari 92 orang perawat perempuan dan 5 orang perawat laki-laki dengan rentang usia 24-39 tahun dan rata-rata usia 33,5 tahun. Semua responden telah menjadi perawat di ruang rawat inap lebih dari satu tahun.
Dari hasil penelitian tersebut dilakukan pengategorian terhadap kecerdasan spiritual dan otonomi profesional perawat. Untuk mengukur kecerdasan spiritual dengan melihat possible range, nilai tengah, dan actual range, sedangkan untuk kategori otonomi profesional perawat terbagi menjadi 3 kategori yaitu high level,
mid level, dan low level. Selanjutnya dilakukan pula uji hubungan pada kedua
variabel tersebut dengan uji spearman karena hasil ukur penelitian merupakan bentuk kategorik (ordinal/nominal) dan berdistribusi tidak normal.
4.1.1 Hasil Penelitian Univariat 4.1.1.1 Kecerdasan Spiritual
Hasil pengukuran kecerdasan spiritual pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Al Islam Bandung dengan menggunakan Spiritual Intelligence
Self-Report Inventory (SISRI) dapat dilihat dalam tabel 4.1.
Possible Range Nilai Tengah Actual Range Mean
0-96 48 61-93 78,87
Tabel 4.1 Tabel Numerik Kecerdasan Spiritual
Berdasarkan tabel 4.1, dapat disimpulkan bahwa rata-rata kecerdasan spiritual perawat di ruang rawat inap RS Al Islam Bandung, yaitu 78,87, berada di atas nilai tengah dari instrumen Spiritual Intelligence Self-Report (SISRI), yaitu 48, dan mendapatkan nilai 93 sebagai tertinggi actual range yang mendekati nilai tertinggi padapossible range, yaitu 96.
Karena instrumen SISRI tidak memiliki hasil ukur dalam kategori, maka penelitia hanya menyimpulkan bahwa kecerdasan spiritual perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Al Islam Bandung memiliki rata-rata dan nilai tertinggi di atas nilai tengah dan nilai tertinggi dari possible range.
Hasil pengukuran kecerdasan spiritual perawat di ruang rawat inap RSAI Bandung berdasarkan dimensinya yaitu Critical Existential Thinking (CET),
Personal Meaning Production (PMP), Transcendental Awareness (TA), dan
Possible Range Median Actual Range Mean
CET 0-28 24 18-28 24,04 0,858
PMP 0-20 10 15-20 18,05 0,902
TA 0-28 24 15-28 21,79 0,778
CSE 0-28 10 6-18 14,78 0,739
Tabel 4.2 Kecerdasan Spiritual Perawat Berdasarkan Dimensi
Skor akhir adalah nilai yang telah disesuaikan dari mean dengan nilai tertinggi possible range yang berbeda. Masing-masing mean memiliki nilai yang lebih tinggi dari median. Dari data tersebut menunjukan bahwa skor tertinggi berada pada dimensi Personal Meaning Production dan skor terendah berada pada dimensi Conscious State Expansion.
4.1.1.2 Otonomi Profesional Perawat
Hasil pengukuran otonomi profesional perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Al Islam Bandung dengan menggunakan Nursing Activity Scale (NAS) dapat dilihat dalamtabel 4.3.
Otonomi Profesional F %
High Level 87 89,69%
Mid Level 10 10,31%
Low Level - -
Total 97 100%
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Otonomi ProfesionalPerawat di Ruang Rawat Inap RSAI Bandung
Berdasarkan tabel 4.3, dapat diinterpretasikan otonomi profesional perawat mayoritas berada di kategori high level, hanya sedikit yang berada di kategori mid level, dan tidak ada perawat yang berada pada kategori low level, yaitu dengan jumlahhigh level 89,69%, sebanyak 87 orang. Otonomi profesional perawat mid level 10,31%, yaitu sebanyak 10 orang.
Dapat disimpulkan bahwa otonomi profesional perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Al Islam Bandung mayoritas berada pada high level, hanya sedikit di mid level, dan tidak ada yang menunjukan otonomi profesional pada low
level.
Hasil pengukuran otonomi profesional perawat di ruang rawat inap RSAI Bandung berdasarkan dimensinya ditunjukkan oleh tabel berikut.
Possible Range Median Actual Range Mean
I 8-32 20 20-30 25,38 0,793
II 8-32 20 21-29 26,4 0,825
III 7-28 17,5 21-28 25,43 0,908
IV 7-28 17,5 21-26 23,55 0,841
Tabel 4.4 Otonomi Profesional Perawat Berdasarkan Dimensinya
Skor akhir adalah nilai yang telah disesuaikan dari mean dengan nilai tertinggi possible range yang berbeda. Kolom I menunjukan tanggung jawab perawat terhadap profesinya sendiri, kolom II menunjukan hubungan perawat dengan pasien, kolom III menunjukan hubungan dengan sesama perawat, dan kolom IV menunjukan hubungan dengan profesi kesehatan lainnya. Masing-masing mean memiliki nilai yang lebih tinggi dari median. Dari data tersebut
menunjukan bahwa skor tertinggi berada pada dimensi tanggung jawab terhadap karir keperawatan sesama perawat, dan skor terendah berada pada dimensikarir keperawatan secara mandiri.
4.1.1.2 Gambaran Otonomi Profesional Perawat dan Rata-Rata Kecerdasan Spiritualnya
Pada analisa ini dilihat pula rata-rata kecerdasan spiritual dilihat dari kategori level pada otonomi profesional perawat. Hasil pengukuran otonomi profesional perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Al Islam Bandung dengan kategori high level dan mid level memiliki rata-rata kecerdasan spiritual yang ditunjukan pada tabel 4.5.
Otonomi Profesional F Rata-Rata SQ
High Level 87 79,8
Mid Level 10 70,7
Low Level - -
Tabel 4.5Gambaran Otonomi Profesional Perawat dengan Rata-Rata Kecerdasan Spiritual
Berdasarkan tabel 4.5 dapat diinterpretasikan bahwa perawat ruang rawat inap dengan rata-rata kecerdasan spiritual 78,87 yang memiliki otonomi profesional di high level memiliki kecerdasan spiritual di atas rata-rata, yaitu 79,8, sementara perawat ruang rawat inap memiliki otonomi profesional di mid level memiliki kecerdasan spiritual di bawah rata-rata, yaitu 70,7.
Hasil pengukuran kecerdasan spiritual perawat dengan otonomi profesional yang berada pada kategori mid level berdasarkan dimensinya ditunjukan oleh tabel berikut.
Possible Range Median Actual Range Mean
CET 0-28 14 18-23 21,23 0,750
PMP 0-20 10 15-20 17 0,85
TA 0-28 14 15-20 18 0,642
CSE 0-28 10 6-14 11,77 0,588
Tabel 4.6 Kecerdasan Spiritual Perawat dengan Otonomi Porfesional Perawat Pada Kategori Mid Level
Skor akhir adalah nilai yang telah disesuaikan dari mean dengan nilai tertinggi possible range yang berbeda. Berdasarkan tabel 4.6 tidak berbeda dengan tabel 4.2, yaitu perawat dengan otonomi profesional pada kategori mid
level memiliki kecerdasan spiritual tertinggi pada dimensi personal meaning
production dan memiliki kecerdasan terendah pada dimensi transcendental
awareness.
..
4.1.2 Hasil Penelitian Bivariat
Data yang terkumpul dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji spearman untuk mengetahui besarnya asosiasi atau keeratan hubungan antara variabel kecerdasan spiritual dan variabel otonomi profesional perawat. Uji korelasi menggunakan Uji Spearman dengan hasil yang ditunjukan pada tabel 4.5.
Median SD Range P Value Spearman
Kecerdasan Spiritual 67 6,130 61 – 93 0,00 0,574
Otonomi Profesional 195,5 10,908 173 – 218 0,00 0,574
Tabel 4.7. Hasil Uji Bivariat Kecerdasan Spiritualdan Otonomi Profesional Perawat
Dari hasil perhitungan dengan uji korelasi spearman diperoleh nilai sig. (2-tailed) untuk korelasi spearman adalah sebesar 0,00yang mana lebih kecil dari nilai 0, 05. Keeratan hubungan korelasi yang terjadi adalah sebesar 0,574. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Ha diterima, yang memiliki makna bahwa terdapat hubungan yang signifikan/bermakna antara kecerdasan spiritual dan otonomi profesional perawat di ruang rawat inap RS Al Islam Bandung.
4.2 Pembahasan
Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif korelasional. Penelitian ini dilakukan selama sembilan hari di ruang rawat inap RSAI Bandung, yaitu pada tanggal 16 Mei-24 Mei 2014. Pada bagian ini peneliti membahas tentang permasalahan yang menjadi inti dari penelitian ini yaitu apakah ada hubungan yang bermakna antara kecerdasan spiritual dengan otonomi profesional perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Al Islam Bandung.
Pada pengujian hipotesis dengan menggunakanuji spearman, menyimpulkan bahwa terdapat hubungan positif dengan tingkat sedangantara kecerdasan spiritual dengan otonomi profesional perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Al Islam Bandung.
4.2.1 Gambaran Kecerdasan Spiritual Perawat di Ruang Rawat Inap RSAI Bandung
Kecerdasan spiritual telah disadari menjadi salah satu kebutuhan perawat sebagai pelayan kesehatan karena kecerdasan spiritual berkaitan dengan masalah makna, motivasi, dan tujuan hidup. Kecerdasan spiritual menjadi sumber kekuataan seseorang untuk menemukan makna dirinya dan menentukan keputusan.Di Rumah Sakit Al Islam Bandung, dari 97 perawat ruang rawat inap yang menjadi responden terdapat nilai rata-rata 78,87. Hasil penelitian menunjukan nilai rata-rata berada di atas median dan nilai tertinggi kecerdasan spiritual perawat di ruang rawat inap RSAI Bandung mendekati nilai tertinggi
possible range (tabel 4.1).
Namun nilai sangat rendah pada dimensi conscious state expansion, yaitu pengembangan area kesadaran. Hal ini bisa terjadi karena area kesadaran merupakan area yang dipengaruhi oleh kepekaan dan ketajaman intuisi dari faktor internal (Ezra, 2008). Sementara dimensi lainnya bisa dikembangkan melalui faktor eksternal, seperti transcendental awareness melalui ajaran dan keyakinan mengenai Tuhan dan hal gaib lainnya, personal meaning production melalui nilai dan moral yang ditanamkan, dan critical existential thinking melalui latihan memecahkan masalah dan berpikir secara kritis.
Salah satu pengembangan kecerdasan spiritual dilaksanakan melalui pelatihan Emotional Spiritual Quotient(ESQ) yang juga diadakan di Rumah Sakit Al Islam Bandung. Dalam penelitian sebelumnya yang dilaksanakan di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2009dengan pelatihan ESQ untuk
perawatnya ditemukan bahwa dari 82 perawat, 74% memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, namun baru berada pada aspek pribadi saja.
Hal ini sesuai dengan hasil yang didapatkan di ruang rawat inap RSAI Bandung, yaitu dimensi tertinggi kecerdasan spiritual adalah personal meaning
production, yaitu mengembangkan makna dalam area personal/pribadi. Hal ini
dikarenakan aspek pribadi lebih sering dipikirkan daripada yang lain, seperti beradaptasi dengan situasi stres, menentukan tujuan hidup, menemukan makna kegagalan, dan menemukan makna dalam pengalaman sehari-hari (King, 2008).
Kecerdasan spiritual berkembang seiring dengan pengalaman-pengalaman yang dihadapi dalam sehari-hari, termasuk oleh perawat di ruang rawat inap. Menurut Zohar dan Marshall (2010), kecerdasan yang kita gunakan untuk menyeimbangkan makna dan nilai, dan menempatkan kehidupan kita dalam konteks yang lebih luas dihasilkan dari pengalaman yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Kebutuhan akan makna dan nilai tersebut dibutuhkan oleh profesi keperawatan yang memiliki objek profesi yaitu manusia, maka meningkatkan kecerdasan spiritual penting untuk dilakukan. Sukidi dalam Muhidin (2011) menjelaskan cara meningkatkan kecerdasan spiritual adalah mengenali diri sendiri, melakukan intropeksi diri, mengaktifkan hati secara rutin, dan menemukan keharmonisan dan ketenangan hidup.
4.2.2 Gambaran Otonomi Profesional Perawat di Ruang Rawat Inap RSAI Bandung
Membuat keputusan sendiri sesuai dengan batasan profesinya sudah menjadi tanggung jawab seorang profesional. Namun tidak semua perawat memiliki otonomi profesional yang tinggi. Dari 97 perawat ruang rawat inap yang menjadi responden terdapat 87 perawat (89,69%) ada pada kategori high level dan 10 orang perawat (10,31%) ada pada kategori mid level, dan tidak ada perawat yang berada pada kategori low level.
Hal ini sesuai dengan teori yang menjelaskan bahwa otonomi profesional perawat berhubungan dengan makna dalam diri individu, termasuk kecerdasan spiritual. Dalam Wade (1999) dijelaskan bahwa meskipun keperawatan memiliki keterbatasan secara organisasional, individu masih bisa menunjukan sikap terhadap otonomi perawat profesional dan mempengaruhi otonomi struktural, karena keputusan secara individual dalam profesinya bisa mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap komunitas tersebut.
Dalam penelitian ini terlihat bahwa perawat memiliki otonomi untuk memutuskan karir yang akan dijalaninya, termasuk pilihan untuk menjalani keperawatan mandiri seperti membuat sebuah home care dan semacamnya. Sesuai dengan penelitian pertama dengan menggunakan PNAS bahwa perawat kesehatan masyarakat/komunitas memiliki otonomi profesional yang lebih tinggi daripada perawat Rumah Sakit, hal tersebut disebabkan karena adanya pengaruh yang kuat dari intervensi profesi lain sesuai dengan item pernyataan dalam penelitian ini.
Perawat juga sering kali menghadapi dilema etik terutama dalam masalah pengobatan dan terapi. Etika mengandung tiga pengertian pokok, yaitu: nilai-nilai atau norma moral yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam
mengatur tingkah laku, kumpulan asas atau nilai moral, misalnya kode etik dan ilmu tentang yang baik atau yang buruk (Ismaini, 2001).
Hasil penelitian otonomi profesional perawat memiliki perbedaan jika dibandingkan dengan perilaku profesional perawat yang diteliti sebelumnya yaituperilaku caring yang berusaha memberi kenyamanan, mengasihi, perhatian, memfasilitasi koping, empati, tindakan konsultasi dan pemeliharaan kesehatan. Penelitian di Rumah sakit Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2009 menunjukan bahwa rasio antara perawat dan pasien belum mencapai rasio ideal, ditambah dengan beban kerja yang banyak menyebabkan perawat tidak mampu memenuhi kriteria perilaku perawat yang diobservasi. Sehingga perawat menunjukan perilaku caring yang buruk di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang, yaitu sejumlah 79,2% dari 82 perawat.
Perbedaan dari perilaku caring yang diteliti oleh peneliti sebelumnya dengan otonomi profesional adalah adanya hubungan antar-disiplin pada otonomi profesional. Caring bisa dikembangkan di dalam komunitas keperawatan, bahkan lebih dipengaruhi oleh individu perawat itu sendiri. Otonomi profesional perawat dipengaruhi oleh hubungan dengan profesi lain dan sudut pandang keperawatan secara organisasional.
Hasil penelitian yang menunjukan perilaku buruk, menurut Bhatt (2012) diperlukan penekanan mengenai pentingnya memberikan pengajaran kurikulum formal terkait profesionalisme. Penelitian oleh Passi et al (2010) menemukan bahwa lima tema utama untuk mendukung pengembangan profesionalisme mahasiswa kesehatan adalah desain kurikulum, seleksi mahasiswa, metode pembelajaran, model peran dan metode penilaian. Mereka menyimpulkan bahwa
lima bidang membantu instansi pendidikan kesehatan untuk fokus pada penekanan dan pendekatan dalam mengembangkan profesionalisme.
Pengembangan profesionalisme mahasiswa kesehatan bisa dilaksanakan dengan memilih siswa melalui proses yang mencakup penyampaian pernyataan pribadi dan wawancara calon mahasiswa. The Notre Dame Medical School mengembangkan pendekatan untuk profesionalisme ditandai dengan; tanggung jawan, menghormati diri dan pasien; kasih sayang; kewajiban kepada masyarakat dan harapan masyarakat; kejujuran dan otonomi; kesadaran diri dan praktek reflektif; kerendahan hati, keadilan sosial dan praktek non diskriminatif; dan peduli terhadap mahasiswa lain dan kampus (Bhatt, 2012).
4.2.3 Hubungan Antara Kecerdasan Spiritual dengan Otonomi Profesional Perawat di Ruang Rawat Inap RSAI Bandung
Dari data yang telah diuraikan sebelumnya, menunjukan bahwa Ha diterima, yang berarti bahwa hubungan antara kecerdasan spiritual dan otonomi profesional perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Al Islam Bandung adalah signifikan. Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan hasil perhitungan statistik dengan menggunakan uji korelasi spearman denganp value untuk korelasi spearman adalah 0,000 yang mana lebih kecil dari nilaialpha. Besarnya keeratan hubungan antara kecerdasan spiritual ini sebesar 0,574, menunjukan bahwa hubungan antara kecerdasan spiritual dengan otonomi profesional perawat berada di tingkat sedang.
Salah satu kriteria utama bagi kecerdasan spiritual yang tinggi adalah menjadi apa yang disebut para psikolog „mandiri di lapangan‟. Itu berarti mampu
berdiri mempertahankan pendapatnya di depan orang banyak, berpegang pada pendapat yang tidak tidak diterima orang lain jika itu memang benar-benar diyakininya (Zohar dan Marshall, 2010). Hal ini menunjukan betapa kuatnya hubungan antara kecerdasan spiritual dengan keputusan sesuai dengan apa yang diyakini atau sesuai dengan batasan profesional.
Perawat yang sering merenungkan tujuan dan alasan atas keberadaannya, memiliki otonomi yang tinggi ketika mengembangkan rencana karir, dan mempertimbangkan untuk memasuki praktek keperawatan mandiri sesuai dengan pendidikan dan pengalaman yang dimiliki.Otonomi berdasarkan kepada kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan sesuai dengan aturan yang diyakininya. Keyakinan di dalam diri tersebut diatur oleh kecerdasan spiritual.
Hubungan yang ditunjukan dalam penelitian di Rumah Sakit Dr. M. Djamil pada tahun 2009 adalah perawat memiliki kecerdasan spiritual yang baik namun tidak diikuti dengan perilaku yang baik. Selanjutnya berdasarkan hasil korelasi spearman didapatkan hubungan yang lemah dan pola yang tidak signifikan antara kecerdasan spiritual dengan perilaku responden, yaitu dalam halcaring. Hal ini menunjukan bahwa kecerdasan spiritual lebih berpengaruh kepada otonomi profesional perawat daripada kepada perilaku caring.
Dalam Wade(1999) perilaku perawat yang buruk dimungkinkan karena faktor beban kerja yang tidak seimbang, rasio antara perawat dan pasien belum mencapai rasio ideal, ditambah dengan beban kerja yang banyak terutama untuk pekerjaan yang bersifat non fungsional.
Pengambilan keputusan adalah hal vital di dalam otonomi profesional perawat, menentukan tindakan dan keputusannya untuk karir keperawatannya
sendiri, kebijakan untuk klien, hubungan kolaborasi kerja dengan profesi lain, dan bertanggung jawab terhadap instansi tempat bekerja (Kelly, 2001 dalam Waltz, 2001).
Peranan perawat dalam pemeliharaan kesehatan sangat vital karena perawat merupakan tulang punggungnya sebagian besar tim perawatan kesehatan. Perawat di ruang rawat inap RSAI Bandung sangat menghargai profesi mereka. Hal ini dapat dilihat dengan cara perawat bersikap positif terhadap pekerjaannya, bahkan mampu memberi makna kehidupan dalam bekerja. Artinya bekerja bukanlah suatu rutinitas yang membosankan tapi justru menyediakan kesempatan untuk perkembangan pribadi dan memperluas hubungan dengan orang lain secara profesional.
Secara umum hasil penelitian menunjukan ada hubungan yang positif antara kecerdasan spiritual dengan otonomi profesional perawat di ruang rawat inap RSAI Bandung, namun hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan pada perawat di rumah sakit-rumah sakit lain. Penerapan populasi yang lebih luas dengan karakteristik yang berbeda perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan atau menambah variabe-variabel lain yang belum disertakan dalam penelitian ini, ataupun dengan menambah dan memperluas ruang lingkupnya.
Perspektif saat ini bersumber pada berbagai faktor sosial dan budaya bahwa spiritualitas dinilai positif untuk mempengaruhi suatu organisasi atau profesi (McGhee et al, 2008). Lebih lanjut McGhee memberikan gagasan bahwa memungkinkan untuk mendorong spiritualitas di tempat kerja untuk meningkatkan pengambilan keputusan pada tingkat pribadi dan dan iklim etika
ditingkatkan pada tingkat organisasi. Spiritualitas individu diterjemahkan ke dalam otonomi profesional dalam konteks organisasi.
Dimensi spiritual mempengaruhi pilihan individu terhadap nilai-nilai yang membentuk regulatif ideal. Model yang dikembangkan menjelaskan hubungan antara nilai-nilai dan kebajikan yang menghasilkan pengambilan keputusan di tempat kerja. Orang spiritual cenderung orang etis. Individu tersebut cenderung menjadi manfaat yang signifikan bagi organisasi mereka (McGhee, 2008). Nilai-nilai yang berkontribusi terhadap berkembangnya individu dan menghasilkan kebijakan praktek dijelaskan dalam skema 4.1.
Skema 4.1 Bagaimana Spiritualitas Diterjemahkan ke Dalam Kebijakan Praktek
Penjelasan skema 4.1 dijelaskan dalam McGhee dan Grant (2008), dimulai dari hubungan antara spiritualitas dan nilai. Spiritualitas seseorang bekerja sesuai dengan ideal regulatif yang terdiri dari nilai-nilai tertentu yang pada dasarnya mencari kebaikan untuk orang lain. Oleh karena itu, spiritualitas menggabungkan diri ke dalam siklus kebijakan. Siklus kebijakan (virtue cycle) adalah memperoleh kebajikan dengan sadar dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral. Hal ini berakar dalam sifat manusia, yaitu menempatkan suatu hubungan yang penuh
MORAL VALUES Core Values of Spirituality Self-Transecendence Interconnectedness Self-Transecendence Sense of Purpose Ultimate Concern Re gul ati ve Ide al VIRTUE PRACTICAL WISDOM
hormat dengan orang lain. Sebagai salah satu perkembangan dalam kebajikan seseorang menjadi kebijakan praktek (practical wisdom) yang memungkinkan seseorang untuk memahami lebih baik atau merasakan nilai moral dalam setiap tindakan.
4.3 Implikasi Terhadap Pelayanan dan Penelitian
Sesuai dengan kegunaan dalam penelitian ini, implikasi terhadap pelayanan dan penelitian di bidang keperawatan adalah menjadi pentingnya kecerdasan spiritual dalam meningkatkan otonomi profesional perawat sehingga kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan kecerdasan spiritual bisa dikembangkan. Pengembangan kecerdasan spiritual tersebut bisa dilaksanakan pada pendidikan keperawatan, manajemen keperawatan maupun Fprofesi keperawatan.
BAB V