BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.6. Hasil Penelitian dari Peneliti Lain
Penggunaan GFRP dapat meningkatkan daya dukung aksial sebesar 11.86 % sampai dengan 15.25 % dan daktilitas aksial sebesar 12.41 % sampai dengan 47.14 %. (I Ketut Sudarsana dan A.A Gede Sutapa. 2007)
Perbaikan kekuatan dan daktilitas balok dan kolom beton bertulang menggunakan Fiber Reinforced Polymer (FRP) seperti yang telah diteliti. dengan retrofit FRP mengalami penambahan sebesar 20 % dibandingkan dengan kolom original. Dalam menentukan peningkatan daktilitas maka digunakan parameter displacement ductility. Nilai meningkat sebesar 4% pada balok FRP dibandingkan dengan b original. (Parmo Taufikurrahman. 2013)
Pengunaan FRP memberikan kontribusi peningkatan secara signifikan terhadap besarnya kapasitas aksial maupun daktilitas sebesar berturut-turut 97.5%
dan 64.2% dari kolom dengan tulangan non-standar. Penggunaan FRP sebagai perkuatan pada tulangan pengekang yang tidak standar (sengkang lingkaran) memberikan peningkatan kapasitas aksial sebesar 58% dari kolom dengan tulangan standar. (Anang Kristianjo, Yosafat Aji Pranata, dan Iswandi Imran.
2016)
Evolusi dari standart pengurangan gaya gempa telah dikenalkan persamaan design baru. Salah satu metode untuk perkuatan kolom beton bertulang menggunakan FRP (Fiber Reinceforment Polymer) Composit sebagai perkuatan sengkang. Hasil penelitian Remi Eid dan Patrick Paultre di akhir penelitian tulangan sengkang terjadi tekuk diikuti oleh hancurnya FRP, hasil dari penelitian gaya aksial mengalami penambahan 25%. (Remi Eid, Patrick Paultre. 2017).
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 UMUM
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kajian eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Beton Fakultas Teknik Departemen Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara dan Laboratorium di P4TK. Secara umum urutan tahap penelitian ini meliputi:
a. Penyediaan bahan penyusun beton b. Pemeriksaan bahan
c. Perencanaan campuran beton (mix design) d. Pembuatan benda uji
e. Pemeriksaan nilai slump
f. Pengujian kuat tekan beton umur 28 hari
Jumlah benda uji yang akan dibuat akan dijelaskan pada tabel 3.1 benda uji berbentuk silinder dan memiliki diameter 150 mm dan tinggi 300 mm
Tabel 3.1 Jumlah benda uji silinder
Benda Uji
Benda Uji
Kuat Tekan Jumlah 28 hari
Untuk metode penelitian dapat dilihat pada gambar 3.1.
Gambar 3.1 Flowchart Metodologi Penelitian
Mulai
Analisa dan pengolahan data Secara Teoritis : Analisa perbandingan kuat tekan
Pengujian Kuat Tekan Benda Uji pada Umur 28 Hari
Analisa dan pengolahan data hasil pengujian : Analisa perbandingan kuat tekan
Penarikan Kesimpulan dan Saran
Selesai Mulai
Penyediaan dan Pemeriksaan Benda Uji
Perencanaan Beton (Mix Design)
Pembuatan Benda Uji
Beton Konvensional
Beton dengan CFRP
Beton dengan GFRP Penyediaan Data
3.2 PENYEDIAAN DAN PEMERIKSAAN BAHAN PENYUSUN BETON Bahan penyusun beton yang direncanakan terbagi atas 3, yaitu bahan penyusun untuk beton konvensional, beton dengan CFRP, dan beton dengan GFRP. Bahan-bahan penyusun masing-masing benda uji meliputi :
a. Semen Portland b. Batu Pecah (Split) c. Pasir (Sand) d. Air (Water)
Masing-masing tipe beton terdiri komponen penyusun utama yang berbeda. Bahan penyusun untuk beton konvensional adalah beton tanpa FRP, bahan penyusun untuk beton dengan CFRP adalah beton dengan Wrapping Carbon Fiber Reinforcement Polymer, sedangkan untuk beton dengan GFRP adalah beton dengan Wrapping Glass Fiber Reinforcement Polymer. Agregat penyusun adalah Batu Pecah (Split).
Perencanaan campuran beton normal yang berbeda dimaksudkan untuk menjadi varibel pembanding antara kedua beton untuk mengetahui kinerja dari beton normal dengan bahan penyusun CFRP dan GFRP.
3.2.1. Semen Portland
Semen yang dipakai dalam penelitian ini adalah semen Ordinary Portland Cement (OPC) tipe I yaitu Semen Padang dalam kemasan 1 zak 50 kg.
3.2.2. Agregat Halus
Dalam penelitian ini agregat halus yang digunakan malalui tahapan pembersihan lumpur dan liat melalui penyucian dengan ayakan no.200. Agregat halus (pasir) yang dipakai dalam campuran beton melalui pemeriksaan, meliputi:
3.2.2.1. Analisa Ayakan Pasir a. Tujuan:
Untuk memeriksa penyebaran butiran (gradasi) dan menentukan nilai modulus kehalusan pasir (FM)
b. Hasil pemeriksaan:
Modulus kehalusan pasir (FM) : 2.92
Pasir dapat dikategorikan pasir halus.
Berdasarkan nilai modulus kehalusan (FM), agregat halus dibagi dalam beberapa kelas, yaitu :
▪ Pasir halus : 2.20 < FM < 2.60
▪ Pasir sedang : 2.60 < FM < 2.90
▪ Pasir kasar : 2.90 < FM < 3.20
3.2.2.2. Pemeriksaan Kadar Lumpur (Pencucian Pasir Lewat Ayakan No.200)
a. Tujuan :
Untuk memeriksa kandungan lumpur pada pasir.
b. Hasil pemeriksaan :
Kandungan lumpur : 4,3%< 5% , memenuhi persyaratan.
c. Pedoman :
Kandungan Lumpur yang terdapat pada agregat halus tidak dibenarkan melebihi 5% (dari berat kering). Apabila kadar lumpur melebihi 5% maka pasir harus dicuci.
3.2.2.3. Pemeriksaan Kandungan Organik a. Tujuan :
Untuk memeriksa kadar bahan organik yang terkandung di dalam pasir.
b. Hasil pemeriksaan :
Warna kuning terang (standar warna No.3), memenuhi persyaratan.
c. Pedoman :
Standar warna No.3 adalah batas yang menentukan apakah kadar bahan organik pada pasir lebih kurang dari yang disyaratkan.
(3.1)
3.2.2.4. Pemeriksaan Clay Lump Pada Pasir a. Tujuan :
Untuk memeriksa kandungan liat pada pasir.
b. Hasil pemeriksaan :
Kandungan liat 1,3%< 1% , tidak memenuhi persyaratan (pasir dicuci) c. Pedoman :
Kandungan liat yang terdapat pada agregat halus tidak boleh melebihi 1%
(dari berat kering). Apabila kadar liat melebihi 1% maka pasir harus dicuci.
3.2.2.5. Pemeriksaan Berat Isi Pasir a. Tujuan :
Untuk menentukan berat isi (unit weight) pasir dalam keadaan padat dan longgar.
b. Hasil pemeriksaan :
Berat isi keadaan rojok / padat : 1725,503 kg/m3 Berat isi keadaan longgar : 1654,168 kg/m3 c. Pedoman :
Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa berat isi pasir dengan cara merojok lebih besar daripada berat isi pasir dengan cara menyiram, hal ini berarti bahwa pasir akan lebih padat bila dirojok daripada disiram. Dengan mengetahui berat isi pasir maka kita dapat mengetahui berat pasir dengan hanya mengetahui volumenya saja.
3.2.2.6. Pemeriksaan Berat Jenis dan Absorbsi Pasir a. Tujuan :
Untuk menetukan berat jenis (specific gravity) dan penyerapan air (absorbsi) pasir.
c. Pedoman :
Berat jenis SSD merupakan perbandingan antara berat pasir dalam keadaan SSD dengan volume pasir dalam keadaan SSD. Keadaan SSD (Saturated Surface Dry) di mana permukaan pasir jenuh dengan uap air sedangkan dalamnya kering, keadaan pasir kering di mana pori-pori pasir berisikan udara tanpa air dengan kandungan air sama dengan nol, sedangkan keadaan semu di mana pasir basah total dengan pori-pori penuh air. Absorbsi atau penyerapan air adalah persentase dari berat pasir yang hilang terhadap berat pasir kering di mana absorbsi terjadi dari keadaan SSD sampai kering.
Hasil pengujian harus memenuhi :
Berat jenis kering < berat jenis SSD < berat jenis semu.
3.2.3. Agregat Kasar
Agregat kasar yang digunakan dalam perencanaan beton yaitu batu pecah. Untuk mencapai tujuan dari penelitian, ukuran diameter agregat kasar (Batu Pecah) yang digunakan adalah agregat lolos ayakan no.15.
Pencucian agregat juga terlebih dahulu dilakukan demi mencapai index properties yang baik dari material yang digunakan. Pencucian dimaksudkan untuk meminimalisasi lumpur maupun liat yang mungkin terdapat pada material dan dapat menurunkan mutu rencana dari beton.
Pemeriksaan yang dilakukan pada agregat kasar meliputi:
3.2.3.1. Analisa Ayakan Batu Pecah a. Tujuan :
Untuk memeriksa penyebaran butiran (gradasi) dan menentukan nilai modulus kehalusan(fineness modulus / FM) kerikil.
b. Hasil pemeriksaan : FM : 6.01
5.5 <6.01< 7.5 , memenuhi persyaratan.
c. Pedoman :
2. Agregat kasar untuk campuran beton adalah agregat kasar dengan modulus kehalusan (FM) antara 5.5 sampai 7.5.
3.2.3.2. Pemeriksaan Kadar Lumpur (Pencucian Kerikil Lewat Ayakan No.200)
a. Tujuan :
Untuk memeriksa kandungan lumpur pada kerikil.
b. Hasil pemeriksaan :
Kandungan lumpur : 0.95%< 1% , memenuhi persyaratan.
c. Pedoman :
Kandungan Lumpur yang terdapat pada agregat kasar tidak dibenarkan melebihi 1% (ditentukan dari berat kering). Apabila kadar lumpur melebihi 1%
maka pasir harus dicuci.
3.2.3.3 Pemeriksaan Keausan Dengan Mesin Los Angeles a. Tujuan :
Untuk memeriksa ketahanan aus agregat kasar.
b. Hasil pemeriksaan :
Persentase keausan : 30,50< 50%
c. Pedoman : keausan tidak boleh lebih dari 50%.
3.2.3.4 Pemeriksaan Berat Isi Batu Pecah a. Tujuan :
Untuk memeriksaan berat isi (unit weight) agregat kasar dalam keadaan padat dan longgar.
b. Hasil pemeriksaan :
Berat isi keadaan rojok / padat : 1620.325 kg/m3 Berat isi keadaan longgar : 1557,368 kg/m3
c. Pedoman :
Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa berat isi batu pecah dengan cara merojok lebih besar daripada berat isi dengan cara menyiram, hal ini berarti bahwa kerikil akan lebih padat bila dirojok daripada disiram. Dengan mengetahui berat isi batu pecah maka kita dapat mengetahui berat batu becah dengan hanya mengetahui volumenya saja.
3.2.3.5 Pemeriksaan Berat Jenis dan Absorbsi Batu Pecah a. Tujuan :
Untuk menentukan berat jenis (specific gravity) dan penyerapan air (absorbsi) batu pecah. keadaan SSD dengan volume batu pecah dalam keadaan SSD. Keadaan SSD (Saturated Surface Dry) di mana permukaan batu pecah jenuh dengan uap air, keadaan batu pecah kering di mana pori batu pecah berisikan udara tanpa air dengan kandungan air sama dengan nol, sedangkan keadaan semu di mana pasir basah total dengan pori penuh air. Absorbsi atau penyerapan air adalah persentase dari berat batu pecah yang hilang terhadap berat batu pecah kering, di mana absorbsi terjadi dari keadaan SSD sampai kering.
Hasil pengujian harus memenuhi :
Berat jenis kering < berat jenis SSD < berat jenis semu.
3.2.4. Air
Air yang digunakan dalam pembuatan sampel adalah air yang berasal dari sumber air yang bersih. Secara pengamatan visual air yang dapat pembuatan beton yaitu air yang jernih, tidak berwarna dan tidak mengandung
kotoran-kotoran seperti minyak dan zat organik lainnya. Dalam penelitian ini air yang dipakai adalah berasal dari PDAM Tirtanadi, di Laboratorium Bahan Rekayasa Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik USU.
3.2.5 Fiber Reinforcement Polymer (FRP)
FRP (Fiber Reinforcement Polymer) yang digunakan Carbon Fiber Reinforcement Polymer dan Glass Fiber Reinforcement Polymer.
Spesifikasi dari CFRP 231C
Memiliki tebal 0.35 mm, kuat tarik 2.6 GPa, modulus elastisitas 231 GPa, dan regangan 1%.
Spesifikasi dari GFRP Tipe E CR (Corrosion Resistant)
Memiliki tebal 0.35 mm, kuat tarik 2.35 GPa, modulus elastisitas 72 GPa, dan regangan 2%
3.3 Perencanaan Campuran Beton (Mix Design)
Perencanaan campuran beton dimaksudkan untuk mengetahui komposisi atau proporsi bahan-bahan penyusun beton. Proporsi bahan-bahan penyusun beton ini ditentukan melalui sebuah perencanaan beton (mix design). Hal ini dilakukan agar proporsi campuran dapat memenuhi syarat teknis. Dalam menentukan proporsi campuran dalam penelitian ini digunakan metode yang berdasarkan pada SNI 2847:2002.
Kriteria dasar perancangan beton dengan menggunakan metode ini adalah minimalisasi penggunaan agregat halus (pasir) dalam campuran beton.Sehingga beton akan di dominasi oleh agregat bergradasi lebih kasar dan mineral filler pasir akan lebih minimum.
Perencanaan campuran beton pada penelitian ini. Dari hasil perhitungan mix design diperoleh perbandingan campuran, seperti tabel 3.2.
Tabel 3.2 Perbandingan Campuran Beton Normal.
Semen Pasir Air Kerikil
1,00 1.6 0,46 2.75
Perhitungan mix design secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 2.
3.4 Pembuatan Benda Uji
Pembuatan benda uji campuran untuk percobaan, yaitu campuran beton normal. Setelah semua bahan selesai disediakan, hidupkan mesin molen dan masukkan air kedalamnya yang berfungsi untuk membasahi mesin tersebut supaya adukan beton yang sebenarnya tidak berkurang. Setelah ±30 detik, air didalam molen dibuang. Pertama yang dilakukan adalah memasukkan pasir, dan semen biarkan selama ±3 menit supaya pasir, dan semen tercampur dengan merata. Kemudian air dimasukkan secukupnya (10% dari total air) ke dalam molen secara menyebar, dengan tujuan agar campuran agregat halus, dan semen tidak menimbulkan abu yang mengepul dan keluar dari molen. Selanjutnya masukkan batu pecah dan biarkan mesin molen ±7 menit sampai campuran beton benar-benar tercampur secara merata. Setelah itu masukkan air secara bertahap tiap 1 liter sehingga terlihat campuran mulai mengalami penggumpalan. Setelah itu tunggu campuran beton hingga mencapai kondisi beton segar.
Adukan yang sudah tercampur merata, dituangkan ke dalam sebuah pan besar yang tidak menyerap air, dan kemudian adukan diukur kekentalannya dengan menggunakan metode slump test dari kerucut Abrams-Harder. Setelah pengukuran nilai slump, campuran beton dimasukkan ke dalam cetakan silinder yang berukuran diameter 15 cm dan tinggi 30 dengan cara dibagi dalam tiga tahapan, dimana masing-masing tahapan diisi 1/3 bagian dari cetakan silinder dan lalu dipadatkan dengan menggunakan alat vibrator. Setelah umur beton 24 jam, cetakan silinder dibuka dan mulai dilakukan perawatan beton (curing) dengan cara direndam dalam bak perendaman sampai pada masa yang direncanakan untuk melakukan pengujian. Ketika mau dilakukan pengujian beberapa beton dilapisi dengan CFRP dan GFRP.
3.5 Pemeriksaan nilai slump
Adapun tahapan pengujian slump adalah:
1. Kerucut diletakkan terpancung pada alas yang rata yang tidak menyerap air
2. Adukan beton dimasukkan kedalam kerucut hingga 1/3 tinggi kerucut lalu dirojok 25 kali
3. Adukan beton dimasukkan lagi kedalam kerucut hingga 2/3 tinggi kerucut lalu dirojok 25 kali
4. Adukan beton ditambah lagi hingga penuh lalu dirojok 25 kali.
5. Permukaan kerucut diratakan
6. Kerucut diangkat perlahan-lahan vertikal ke atas
7. Penurunan adukan diukur dengan mistar dengan cara meletakkan kerucut terpancung disamping adukan beton maka penurunan diukur dari tinggi permukaan kerucut terpancung hingga ke tinggi permukaan adukan beton tersebut.
3.6. Pemasangan FRP
• Untuk Carbon Fiber Reinforcement Polymer menggunakan Sikadur 330 A dan Sikadur 330 B dengan perbandingan 4:1. Pertama kita campurkan Sikadur 330 A dan B, lalu kita letakkan pada FRP. Sebelum ditempelkan beton terlebih dahulu digrenda agar permukaan kasar, sehingga FRP dapat melekat dengan baik, jika tidak digrenda maka permukaan akan licin dikarenakan waktu pembuatan beton menggunakan minyak, selanjutnya kita tempelkan FRP pada beton lalu di roller.
• Untuk Glass Fiber Reinforcement Polymer menggunakan MAPE Wrap 1 SP A dan MAPE Wrap 31 SP B dengan perbandingan 3:1. Pertama kita campurkan MAPEWRap 1 SP A dan MAPEWrap 31 SP B, lalu letakkan campuran pada FRP. Sebelum ditempelkan beton terlebih dahulu digrenda agar permukaan kasar sehingga FRP dapat melekat dengan baik, jika tidak digrenda maka permukaan akan licin dikarenakan waktu pembuatan beton menggunakan minyak, selanjutnya kita tempelkan FRP pada beton lalu di roller.
Gambar 3.2 Sketsa Beton saat Diroller
3.7. Pengujian Kuat Tekan Silinder Beton
Pengujian yang dilakukan terhadap tiap benda uji yaitu pengujian kuat tekan beton (Compressive Test) pada Laboratorium P4TK.
Gambar 3.3. Compression Test Machine GOTech U60 di Lab P4TK
Pengujian dilakukan pada umur beton 28 hari untuk tiap variasi beton masing-masing sebanyak 5 buah. Sehari sebelum pengujian sesuai dengan umur rencana, silinder beton dikeluarkan dari bak perendaman dan dikeringkan kurang lebih 24 jam. Beberapa beton dilapisi CFRP dan GFRP.
Adapun tahap-tahap pengujian kuat tekan silinder beton adalah
1. Keluarkan benda uji silinder yang akan diuji kekuatan tekannya dari bak perendaman untuk tiap benda uji yang akan diuji kuat tekannya berdasarkan umur beton kemudian diamkan 1 hari agar benda uji berada dalam kondisi kering saat pengujian. Setelah itu beberapa beton dilapisi oleh CFRP dan GFRP.
Gambar 3.4. Foto Benda Uji
2. Lelehkan mortar belerang dan letakkan kedalam cetakan pelapis.
3. Letakkan permukaan atas benda uji ke dalam cetakan pelapis secara tegak lurus dan diamkan selama beberapa detik sampai mortar belerang mengeras
dan menempel pada permukaan atas benda uji. Lakukan pengapingan untuk kedua sisi penampang beton.
4. Timbang benda uji
5. Letakkan benda uji pada mesin tekan compression machine secara centris.
Gambar 3.5. Benda Uji pada Compression Machine
6. Hidupkan mesin tekan dengan penambahan beban yang konstan.
7. Lakukan pembebanan sampai jarum penunjuk beban tidak naik lagi dan menunjukkan bahwa beton tidak lagi memberi perlawanan terhadap kuat tekan yang diberikan. ambil grafik dimana arah y adalah pembebanan, arah x adalah deformasi vertical. dan catat angka max load yang ditunjukkan pada komputer.
Gambar 3.6. Grafik yang dihasilkan oleh Compression Machine
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. KUAT TEKAN DAN REGANGAN SILINDER BETON
4.1.1 KUAT TEKAN DAN REGANGAN BETON DENGAN TEORITIS Sebelum pengujian diperlukan sebuah analisa agar eksperimen tersebut tidak meleset, maka dari itu kita memerlukan perhitungan analisa dari kuat tekan dan regangan dari beton tersebut, analisa tersebut dilakukan dengan oleh metode (ACI Committee 440R-02, 2008) dan Richarts Model.
Tabel 4.1. Hasil Kuat Tekan dan Regangan Beton dengan Teoritis
Benda Uji Kuat Tekan
(MPa)
Regangan
Beton Konvensional 30 0,001
Beton dangan CFRP 54,15 0,006
Beton dengan GFRP 35,04 0,003
Maka dari hasil di atas kita dapat membuatkan grafik kuat tekan secara teoritis pada Gambar 4.1
Gambar 4.1. Grafik Kuat Tekan Secara Teoritis
Maka dari itu penambahan dengan CFRP meningkatkan kuat tekan beton sebesar 44.6% yang diakibatkan oleh modulus elastisitas CFRP yang besar,
30
sedangkan dengan GFRP meningkatkan kuat tekan sebesar 14,384% dikarenakan modulus elastisitas yang dimiliki GFRP lebih kecil dibandingkan dengan CFRP.
Dan regangan yang terjadi < 0.01 sehingga memenuhi syarat (ACI Committee 440R-02, 2008)
4.1.2 KUAT TEKAN DAN REGANGAN BETON DENGAN EKSPERIMEN Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuat tekan beton konvesional, beton dengan CFRP, dan beton dengan GFRP, dimana benda uji berbentuk silinder melalui proses pembuatan dan perawatan yang dilaksanakan di Laboratorium Beton USU.
Pengujian dilakukan pada umur 28 hari. Pengujian dilakukan berdasarkan SNI 1974 : 2011, Cara uji kuat tekan beton dengan benda uji silinder. Hasil pengujian kuat tekan untuk ketiga variasi beton dapat dilihat pada tabel dibawah.
Tabel 4.2. Hasil Pengujian Kuat Tekan Beton
No Benda telah dikalikan dengan faktor bentuk untuk silinder normal dengan ukuran
diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Faktor bentuk untuk benda uji silinder normal adalah 1 sesuai dengan SNI 1974 : 2011.
Tabel 4.3. Hasil Regangan Beton Secara Eksperimental No Benda
Gambar 4.2. Grafik Hubungan Pembebanan dan Deformasi vertikal untuk beton Konvensional
Elastis
Elastis
Plastis
Plastis
Plastis Elastis
Gambar 4.3 Grafik Hubungan Pembebanan dan Deformasi vertikal untuk beton dengan CFRP
Elastis
Elastis Elastis
Plastis
Plastis
Plastis
Gambar 4.4 Grafik Hubungan Pembebanan dan Deformasi vertikal untuk beton dengan GFRP
Dari hasil pengujian kuat tekan ketiga jenis benda uji dapat disimpulkan bahwa beton dengan CFRP memiliki kuat tekan yang lebih tinggi di bandingkan dengan kuat tekan beton dengan GFRP dan beton konvensional. Dengan kuat tekan beton dengan CFRP pada umur 28 hari adalah 44.257 MPa, kuat tekan beton dengan GFRP sebesar 38.016 MPa, dan kuat tekan beton konvensional sebesar 38.98 MPa. Peningkatan kuat tekan beton dengan CFRP, kuat tekan beton dengan GFRP berada antara 26.89 %, 14.89 % dari beton konvensional.
Elastis Plastis
Elastis
Elastis
Plastis
Plastis
Dalam mendesain beton ini perlu diketahui bahwa kuat tarik, regangan, dan modulus elastisitas dari tiap FRP akan memberikan hasil yang berbeda terhadap kuat tekan dari beton yang direncanakan. Beton dengan CFRP, akan menghasilkan beton yang memiliki kuat tekan yang tinggi dikarenakan kuat tarik dari CFRP yang tinggi sebesar 2.6 GPa, regangan yang kecil sebesar 1 %, dan modulus elastisitas tinggi sebesar 210 GPa, dibandingkan dengan beton dengan GFRP dan konvensional.
4.2. POLA RETAK PADA PENGUJIAN KUAT TEKAN
Pola retak pada pengujian kuat tekan benda uji silinder beton yang kerap terjadi adalah keruntuhan pola retak kerucut, retak total dan retak geser. Pola retak beton berdasar pada SNI 1974 : 2011.
Gambar 4.5. Pola Retak (SNI 1974 : 2011) Pola keretakan dapat di amati melalui Gambar 4.5
Gambar 4.6. Pola retak pada pengujian kuat tekan silinder beton
4.4. DISKUSI
Fiber Reinforcement Polymer (FRP) adalah salah satu material perkuatan struktur yang dapat memperkuat struktur secara eksternal. Dalam penelitian ini FRP dijadikan sebagai bahan pelapis beton.
FRP merupakan material yang dapat berbentuk lembaran, pelat, atau tulangan. Umumnya FRP ini dapat diperoleh dari PT MAPE, PT. SIKA, dll.
Pada penelitian ini, trial mix sebanyak tiga kali, demi mencapai mutu rencana. Trial Mix dan dapat dilihat pada daftar berikut :
1. Trial Mix I pada tanggal 28 Maret 2017
Mix Design diperoleh perbandingan bahan penyusun beton untuk 3 benda uji sebagai berikut :
Semen : 7.76 kg Pasir : 12.40 kg Kerikil : 21.30 kg Air : 3.54 L
Pada Trial Mix ini diameter dari agregat kasar yang di gunakan adalah lolos ayakan diameter 19 mm.
Pengujian benda uji trial mix I (pada umur 3 hari )
Tabel 4.4. Pengujian Benda Uji Trial Mix I
Sampel Berat (Kg)
Kuat Tekan
kN MPa
Sampel I 12.526 320 21.83
Sampel II 12.865 380 24.56
Mutu beton yang direncanakan dapat tercapai.
Dari hasil pengujian kuat tekan ketiga jenis benda uji dapat disimpulkan bahwa beton dengan CFRP memiliki kuat tekan yang lebih tinggi di bandingkan dengan kuat tekan beton dengan GFRP dan beton konvensional. Dengan kuat tekan beton dengan CFRP pada umur 28 hari adalah 53.322 MPa, kuat tekan beton dengan GFRP sebesar 45.803 MPa, dan kuat tekan beton konvensional sebesar 38.98 MPa. Peningkatan kuat tekan beton dengan CFRP, kuat tekan beton dengan GFRP berada antara 26.89 %, 14.89 % dari beton konvensional.
Dalam mendesain beton ini perlu diketahui bahwa kuat tarik, regangan, dan modulus elastisitas dari tiap FRP akan memberikan hasil yang berbeda terhadap kuat tekan dari beton yang direncanakan. Beton dengan CFRP, akan menghasilkan beton yang memiliki kuat tekan yang tinggi dikarenakan kuat tarik dari CFRP yang tinggi sebesar 2.6 GPa, regangan yang kecil sebesar 1 %, dan modulus elastisitas tinggi sebesar 210 GPa, dibandingkan dengan beton dengan GFRP dan konvensional.
Maka dari itu perbandingan penelitian saya dengan yang telah dilakukan peneliti yang lain hanya berbeda sedikit. Seperti dengan penelitian Remi Eid dan Patrick Paultre kenaikan yang terjadi sebesar 25% untuk CFRP, Taufikrahman kenaikan terjadi 20% untuk CFRP dan Penelitian I Ketut Sudarsana dan A.A Gede Sutapa kenaikan terjadi sebesar 11.86% - 15.25%. untuk GFRP.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Kuat tekan beton dengan CFRP secara teoritis adalah 54.15 Mpa. Kuat tekan beton dengan GFRP secara teoritis adalah 35.04 MPa. Sedangkan kuat tekan beton normal secara teoritis adalah 30 MPa. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa beton dengan adanya CFRP dan GFRP secara teoritis dapat meningkatkan kuat tekan sebesar 44.6%, 14.384% dari beton konvensional.
1. Kuat tekan beton dengan CFRP secara teoritis adalah 54.15 Mpa. Kuat tekan beton dengan GFRP secara teoritis adalah 35.04 MPa. Sedangkan kuat tekan beton normal secara teoritis adalah 30 MPa. Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa beton dengan adanya CFRP dan GFRP secara teoritis dapat meningkatkan kuat tekan sebesar 44.6%, 14.384% dari beton konvensional.