• Tidak ada hasil yang ditemukan

DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

5.3 Hasil Penelitian

Tujuan penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dan mengetahui pengaruh jumlah penduduk, dana perimbangan dan investasi terhadap kesejahteraan masyarakat melalui belanja langsung pada tahun 2007-2012. Dari hasil perhitungan regresi dengan metode regresi sederhana (ordinary Least Square) dengan menggunakan program SPSS versi 21 terhadap model perasamaan struktural 4.4 dan 4.5 yang disajikan pada teknik analisis data.

5.3.1 Analisis jalur

1) Evaluasi terhadap terpenuhinya asumsi analisis jalur

Perlu dilakukan koreksi terhadap asumsi yang melandasi analisis jalur agar hasilnya memuaskan, adalah sebagai berikut :

103

(1) Hubungan antar variabel pada analisis jalur adalah linier dan aditif, setelah dilakukan uji linieritas dengan curve fit yang menggunakan prinsip parsimony, yaitu bilamana seluruh model signifikan atau non signifikan, berarti model dapat dikatakan berbentuk liner. Setelah dilakukan analisis yang tersaji pada Tabel 5.13 diketahui bahwa terdapat hubungan linier.

Oleh karena itu, model analisis jalur layak untuk diterapkan.

Tabel 5.13 Ringkasan Model Liner

Hubungan R2 F Hitung Df1 Df2 P.value Keterangan

X1 Y1 0,251 17.416 1 52 0,000 Signifikan

X2 Y1 0,287 20.888 1 52 0,000 Signifikan

X3 Y1 0,225 15.094 1 52 0,000 Signifikan X1 Y2 0,302 22.549 1 52 0,000 Signifikan X2 Y2 0,358 28.935 1 52 0,000 Signifikan X3 Y2 0,251 17.416 1 52 0,000 Signifikan Y1 Y2 0,883 393.869 1 52 0,000 Signifikan Sumber : Lampiran 2 s/d 8

Keterangan :

X1 = Jumlah penduduk yang bekerja X2 = Dana perimbangan

X3 = Investasi

Y1 = Belanja langsung

Y2 = Kesejahteraan masyarakat

(2) Hanya model rekusif dapat dipertimbangkan, bahwa model yang dibuat hanya sistem aliran kausal ke satu arah, tidak bolak balik sehingga analisis jalur layak diterapkan dalam penelitian ini.

(3) Variabel endogen minimal dalam skala ukuran interval, dalam penelitian ini variabel jumlah penduduk, dana perimbangan, investasi, belanja langsung dan kesejahteraan masyarakat berskala rasio. Sehingga analisis jalur layak digunakan dalam penelitian ini.

104

(4) Observed variabel tidak menggunakan instrumen berupa angket/daftar pertanyaan sehingga tidak perlu dilakukan pengujian valitidas dan reabilitas instrumen penelitian .

2) Pendugaan Parameter

(1) Evaluasi terhadap validitas model

Koefisien jalur dalam penelitian ini diperoleh dari hasil perhitungan regresi sederhana dengan menggunakan program spss versi 21 model persamaan struktural mengenai pengaruh jumlah penduduk, dana perimbangan, dan investasi terhadap kesejahteraan masyarakat melalui belanja langsung adalah sebagai berikut:

1) Model 1: Pengaruh Variabel Jumlah Penduduk (X1), Dana Perimbangan (X2) dan Investasi (X3) terhadap Belanja Langsung ( Y1)

2) Model 2: Pengaruh Variabel Jumlah Penduduk (X1), Dana Perimbangan (X2) dan Investasi (X3) terhadap Kesejahteraan Masyarakat ( Y2) melalui Belanja Langsung (Y1).

Kedua model tersebut , klasifikasi variabel dan persamaan model disajikan pada Tabel 5.14 berikut.

Tabel 5.14 Klasifikasi Variabel dan Persamaan Model Jalur

Model Variabel Indevenden Variabel Devenden Persamaan 1 a.Jumlah Penduduk

105

Berdasarkan persamaann-persamaan pada model tersebut selanjutnya dilakukan penaksiran parameter regresi. Pengujian validitas model regresi dilakukan dengan memperhatikan analisa varians.

5.3.2 Pengaruh jumlah penduduk,dana perimbangan dan investasi terhadap belanja langsung.

Berdasarkan hasil olahan data pada Lampiran 10 tentang pengaruh jumlah penduduk, dana perimbangan, dan investasi, terhadap belanja langsung dapat diringkas seperti tampak padaTabel 5.15

Tabel 5.15 Persamaan Regresi Linear Model 1: Pengaruh Jumlah penduduk, Dana

Perimbangan dan Investasi terhadap Belanja Langsung Coefficients

a. Dependent Variable: Belanja Langsung

Sumber : Lampiran 9

Pada Tabel 5.15 dapat dijelaskan bahwa jumlah penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja langsung dengan koefisien sebesar 0,349 dengan p value 0,007 < 0,05 persen, ini artinya bahwa jumlah penduduk berpengaruh terhadap belanja langsung.Selanjutnya tampak investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja langsung dengan koefisien 0,269 dan p value sebesar 0,036<0,05persen. Dana perimbangan juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja langsung sebesar 0,441 dan p value 0,000 < 0,05 ini berarti bahwa dana perimbangan berpengaruh positif dan

106

5.3.3 Pengujian hipotesis 1 : jumlah penduduk, dana perimbangan dan investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat di kabupaten /kota Provinsi Bali pada ahun 2007-2012.

.

Berdasarkan olahan data pada Lampiran 11 dapat diringkas seperti tampak pada Tabel 5.16 hasil olahan data pengaruh jumlah penduduk, dana perimbangan, investasi dan belanja langsung terhadap kesejahteraan masyarakat sebagai berikut.

Tabel 5.16 Persamaan Regresi Linear Model 2: Pengaruh Jumlah penduduk, Dana Perimbangan,

Investasi dan Belanja Langsung terhadap Kesejahteraan Masyarakat Coefficients Dependent Variable: Kesejahteraan Masyarakat

Sumber : Lampiran 10

Pada Tabel 5.16 tampak bahwa koefisien jalur jumlah penduduk terhadap kesejahteraan masyarakat sebesar 0,055 dan p value 0,374 ˃ 0,05 ini

107

artinya jumlah penduduk berpengaruh tidak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya tampak koefisien jalur dana perimbangan terhadap kesejahteraan masyarakat sebesar 0,129 dengan p value 0,035 < 0,05 ini berarti dana perimbangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat, koefisien jalur investasi terhadap kesejahteraan masyarakat sebesar 0,112 dengan p value 0,039 < 0,05 ini berarti investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat. Dan Koefisien jalur belanja langsung terhadap kesejahteraan masyarakat sebesar 0,789 dan p value 0,000 < 0,05 ini berarti belanja langsung berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat.

Dari Tabel 5.16 diperoleh persamaan sebagai berikut:

Y2=0,055(X1) + 0,129(X2) + 0,112 (X3) + 0,789(Y1) ………...(5.2) Keterangan :

X1 = Jumlah Penduduk X2 = Dana Perimbangan X3 = Investasi

Y1 = Belanja Langsung

Y2 = Kesejahteraan Masyarakat 5.3.4 Koefisien Jalur.

Berdasarkan hasil perhitungan koefisien regresi yang disajikan pada Tabel 5.15 dan 5.16 maka dapat dibuat ringkasan koefisien jalur seperti yang disajikan pada Tabel 5. 17 .

108

t hitung P.value Keterangan

X1 Y1 0,349 0,159 0,057 2,804 0, 007 Signifikan terstandar dapat dibuat ringkasan koefisien jalur seperti disajikan pada Gambar 5.2 berikut:

109

Keterangan : (S) = Signifikan (TS) = Tidak signifikan

Berdasarkan Tabel 5.16 dan Gambar 5.2 dapat dijelaskan bahwa jumlah penduduk (X1) berpengaruh tidak signifikan secara langsung terhadap kesejahteraan masyarakat (Y2), tetapi berpengaruh positif dan signifikan secara tidak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat (Y2) melalui belanja langsung (X1).

5.3.5 Evaluasi terhadap model (1) Koefisien determinasi total

Berpedoman pada rumus 4.1 dan rumus 4.2 koefisien total dari

persamaan struktural pada model penelitian sesuai dengan perhitungan SPSS maka diperoleh nilai R2m = 0,955. Koefisien determinasi total sebesar 0,955 memiliki arti bahwa sebesar 95,5 % informasi yang terkandung dapat dijelaskan oleh model yang terbentuk, sedangkan sisanya sebesar 4,5 % dijelaskan oleh variabel lain diluar model.

(2) Theory trimming.

Berdasarkan pengaruh langsung dan tidak langsung yang tampak pada Tabel 5.17 dan Gambar 5.2, maka sesuai dengan theory trimming, pengaruh yang tidak signifikan dihilangkan atau dibuang sehingga mendapatkan model jalur yang lebih fit, sehingga diperoleh Gambar seperti disajikan pada Gambar 5.3

110 penduduk tidak berpengaruh secara langsung terhadap kesejahteraan masyarakat(Y2), tetapi berpengaruh positif dan signifikan secara tidak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat (Y2) melalui belanja langsung (X1). Dana perimbangan (X2) berpengaruh positif dan signfikan secara langsung dan secara tidak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat (Y2)melalui belanja langsung (X1). Selanjutnya investasi (X3) juga berpengaruh posistif dan signifikan secara langsung dan secara tidak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat (Y2) melalui belanja langsung (Y1) pada kabupaten/kota di Provinsi Bali pada tahun 2007-2012.

5.3.6 Pengujian hipotesis 2 : Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan jumlah penduduk, dana perimbangan dan investasi secara tidak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat melalui belanja langsung di kabupaten /kota Provinsi Bali pada tahun 2007-2012.

Analisis pengaruh langsung,tidak langsung maupun pengaruh total dapat menjelaskan hubungan antar variabel penelitian yaitu:pengaruh jumlah

Jumlah

111

penduduk, dana perimbangan dan investasi terhadap belanja langsung dan terhadap kesejahteraan masyarakat ditunjukan oleh koefisien semua anak panah dengan satu ujung, dan pengaruh tidak langsung terjadi melalui peran variabel antara, serta pengaruh total merupakan penjumlahan pengaruh langsung dan pengaruh tak langsung.

Berdasarkan Tabel 5.17 dan Gambar 5.3 dapat diketahui pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung serta pengaruh total antar variabel seperti pada tabel 5.18 berikut.

Tabel 5. 18

Perhitungan Pengaruh Langsung, Pengaruh Tidak Langsung dan Pengaruh Total Varia Jumlah penduduk (X1) tidak berpengaruh secara langsung terhadap kesejahteraan masyarakat (Y2) tetapi berpengaruh secara tidak langsung terhadap kesejahteraan (Y2) melalui belanja langsung (Y1) dengan koefisien jalur sebesar 0,349 x 0,789

= 0,275. Pengaruh langsung dana perimbangan (X2) terhadap kesejahteraan masyarakat (Y2) adalah sebesar 0,129, dan pengaruh secara tidak langsung dana perimbangan (X2) terhadap kesejahteraan masyarakat (Y2) melalui belanja

112

langsung (X1) adalah sebesar 0,269 x 0,789 = 0,212. Sehingga pengaruh total dana perimbangan (X2) terhadap kesejahteraan masyarakat (Y2) melalui belanja langsung (X1) adalah sebesar 0,129 + (0,269 x 0,789) = 0,341. Selanjutnya pengaruh langsung investasi (X3) terhadap kesejahteraan masyarakat (Y2) sebesar 0,112 dan pengaruh secara tidak langsung investasi (X3) terhadap kesejahteraan masyarakat (Y2) melalui belanja langsung (X1) adalah sebesar 0,441 x 0,789 = 0,348, sehingga pengaruh total investasi (X3) terhadap kesejahteraan masyarakat (Y2) melalui belanja langsung (X1) adalah sebesar 0,112 + (0,441 x 0,789) = 0,460.

5.3.7 Pengujian terhadap variabel mediasi.

a) Berdasarkan hasil olahan data yang disajikan pada Lampiran 10 dan Lampiran 11, tampak jumlah penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan dengan koefisien sebesar 0,330 dengan p valuae 0,005, namun setelah memasukkan varaibel mediasi yaitu belanja langsung, tampak pengaruh jumlah penduduk terhadap kesejahteraan masyarakat menurun menjadi tidak signifikan dengan koefisien regresi sebesar 0,055 dengan p value 0,374, maka variabel belanja langsung diakatakan merupakan variabel mediasi sempurna atau perfect mediator.

b) Berdasarkan hasil olahan data yang disajikan pada Lampiran 10 dan Lampiran 11, tampak dana perimbangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan dengan koefisien sebesar 0,341 dengan p valuae 0,004, dan setelah memasukkan variabel mediasi yaitu

113

belanja langsung, tampak pengaruh dana perimbangan terhadap kesejahteraan masyarakat menurun menjadi 0,129 dengan p value 0,035 tetapi tetap signifikan maka variabel belanja langsung merupakan variabel mediasi parsial atau partial mediator.

c) Selanjutnya hasil olahan data yang disajikan pada Lampiran 10 dan Lampiran 11, tampak investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan dengan koefisien sebesar 0,460 dengan p valuae 0,000, dan setelah memasukkan variabel mediasi yaitu belanja langsung, tampak pengaruh investai terhadap kesejahteraan masyarakat menurun menjadi 0,112 dengan p value 0,039 tetapi tetap signifikan maka variabel belanja langsung diakatakan sebagai variabel mediasi parsial atau partial mediator.

5.4 Pembahasan

5.4.1 Pengaruh jumlah penduduk, dana perimbangan dan investasi terhadap kesejahteraan masyarakat pada Kabupaten /Kota Di Provinsi Bali.

Peranan penduduk dalam pembangunan memiliki peran nyata dan sangat penting baik bagi pelaku ekonomi maupun bagi pemerintah, sesuai asumsi klasik dinyatakan jumlah penduduk dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Pentingnya jumlah penduduk bagi pelaku ekonomi karena dapat memberikan informasi pasar yang luas dan tersedianya factor produksi dalam kegiatan perekonomian. Bagi pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan perlu mengetahui perkembangan jumlah penduduknya agar dapat dijadikan referensi dalam membuat suatu kebijakan untuk perencanaan pembangunan melalui pengalokasian pengeluaran pemerintah melalui belanja langsung.

Kegiatan-114

kegiatan ekonomi produktif meningkat karena bertambahnya penduduk melakukan permintaan dan penawaran terhadap barang dan jasa yang dihasilkan, dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan analisis diperoleh hasil bahwa jumlah penduduk secara langsung berpengaruh tidak signifikan terhadap belanja langsung, tetapi terdapat pengaruh secara tidak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat melalui belanja langsung pada kabupaten/kota di Provinsi Bali. Hal ini memdukung pernyataan Arjoso: 2006, bahwa jumlah penduduk yang besar berimplikasi yang luas terhadap program pembangunan melalui jumlah belanja langsung yang dialokasikan untuk melaksanakan program dan kegiatan. penelitian ini sejalan dengan penelitian Suyekti Suindyah D (2009) dinyatakan bahwa jumlah tenaga kerja yang bekerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui pengeluaran pemerintah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan pembangunan khususnya di Jawa Timur. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Sasana : 2009 yang menyatakan bahwa,1) pertumbuhan ekonomi berpengaruh positif terhadap kesejahteraan masyarakat di kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah, 2) tenaga kerja berpengaruh positif dan signfikan terhadap kesejahteraan di kabupaten/kota Provinsi Jawa Tengah.

Manusia sebagai modal pembangunan dan juga merupakan tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan kesejaheraan masyarkat yang dapat dinilai dari aspek ekonomi dan aspek sosial. Melalui pembangunan dapat meningkatkan kegiatan ekonomi dan menciptakan kesempatan kerja serta menyerap angkatan kerja

115

sehingga dapat menurunkan pengangguran dan mengurangi angka kemiskinan akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Mengingat titik tolak desentralisasi di Indonesia adalah Daerah Tingkat II, dengan dasar pertimbangan bahwa dari dimensi politik Dati II dianggap kurang mempunyai fanatisme kedaerahan, dari dimensi administratif penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat dapat lebih efektif, Dati II adalah ujung tombak pelaksanaan pembangunan sehingga dianggap lebih tahu kebutuhan dan potensi daerahnya serta yang terakhir dapat meningkatkan local accountability pemerintah terhadap rakyatnya (Kuncoro, 2004). Implementasi pelaksanaan desentralisasi fiskal dapat ditinjau dari realisasi dana perimbangan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah kabupaten/kota.

Dana perimbangan erat kaitannya dengan besarnya pengeluaran pemerintah terlebih bagi daerah kabupaten/kota yang memiliki sumber pendapatan asli daerah yang rendah dalam rangka melaksanakan pembangunan untuk kepentingan publik.

Dari hasil analisis diperoleh bahwa dana perimbangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat, hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Yulian Rinawati Tahaa,DKK (2010) yang menyatakan bahwa DBH, DAU, DAK berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan melalui investasi swasta. Karena dana perimbangan yang dialokasikan pada pembiayaan infrastruktur ekonomi dapat menunjang kegiatan investasi swasta.

Bila daerah ingin menumbuhkan investasi swasta, maka dana perimbangan yang terdiri dari DBH, DAU, DAK tersebut seyogyanya juga tumbuh secara positif.

DBH, DAU berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

116

Oleh karena itu, dana perimbangan dialokasikan pada pembangunan infrastruktur ekonomi berdasarkan kebutuhan dapat mendorong kegiatan produksi barang atau jasa sehingga ekonomi daerah akan tumbuh.

Penelitian ini sejalan dengan Ihyaul Ulum (2005) dinyatakan bahwa dana perimbangan berpengaruh positif terhadap belanja daerah Provinsi di Indonesia.demikian juga dengan penelitian Lilis Setyowati (2012) hasilnya diperoleh bahwa DAU, DAK dan PAD berpengaruh positif terhadap IPM melalui pengalokasian Belanja Modal, dan Belanja Modal juga berpengaruh positif terhadap IPM sedangkan Pertumbuhan Ekonomi dinyatakan tidak berpengaruh positif terhadap IPM melalui belanja Modal.

Penelitian ini mendukung pernyataan Kuncoro :2006, bahwa dana perimbangan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah bertujuan untuk mengurangi kesenjangan fiskal dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat ternyata terbukti bahwa dana perimbangan berpengaruh positif terhadap kesejahteraan masyarakat. Demikian juga Lilis Setyowati (2012 menyatakan bahwa DAU, DAK dan PAD berpengaruh positif terhadap IPM melalui pengalokasian Belanja Modal, dan Belanja Modal juga berpengaruh positif terhadap IPM sedangkan Pertumbuhan Ekonomi tidak berpengaruh positif terhadap IPM melalui belanja Modal. Mengacu pada penelitian sebelumnya dan hasil analisis penelitian ini dapat dijelaskan bahwa dana perimbangan yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah, pemanfaatannya dalam pembangunan di kabupaten/kota Provinsi Bali telah dapat meningkatkan

117

kesejahteraan masyarakat melalui belanja langsung yang digunakan untuk membiayai program dan kegiatan.

Dalam model pertumbuhan Harrod – Domar dibangun berdasarkan pengalaman negara maju, yang memberikan peranan kunci kepada investasi didalam proses pertumbuhan ekonomi serta watak ganda yang dimiliki oleh investasi. Pertama ia menciptakan pendapatan kedua ia memperbesar kapasitas produksi pertanian dengan cara menaikkan stok modal. Minsky adalah salah satu akademisi (1950-1960) dalam Prasetyantoko (2010) memberi perhatian besar pada persoalan siklus ekonomi. Minsky menekankan pentingnya peran pemerintah dalam perekonomian, struktur regulasi, sistem hukum, peran institusi bisnis dan secara lebih spesifik peran institusi keuangan. Karena dinamika perekonomian pada dasarnya adalah keterkaitan antar faktor tersebut. Pemikiran Minsky adalah respon dominan dari pemikiran Keynes, dikatakan secara sederhana Keynes menekankan adanya keselarasan antara permintaan agregat, investasi dan peran pemerintah dalam memberikan jaring pengaman dalam perekonomian.

Hasil analisis penelitian ini diperoleh bahwa investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan. Penelitian ini membuktikan pernyataan Wagner dalam Dumairy (1997), bila dalam perekonomian suatu negara terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi akibat investasi maka akan diikuti dengan pengeluaran pmerintah yang relative besar pula, sebagai akibat dari campur tangan pemerintah dalam mengatur dampak kegiatan ekonomi itu sendiri yang muncul dalam bentuk eksternalitas positif maupun dalam bentuk ekternalitas negative.

118

Hasil penelitian ini juga mendukung model pembangunan tentang perkembangan pengeluaran pemerintah yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh Rostow dan Musgrave dalam Prasetya (2012) dinyatakan bahwa perkembangan pengeluaran pemerintah dengan tahap-tahap pembangunan ekonomi dapat dibedakan antara tahap awal, tahap menengah, dan tahap lanjut.

Pada tahap awal terjadinya perkembangan ekonomi, presentase investasi pemerintah terhadap total investasi besar karena pemerintah harus menyediakan fasilitas dan pelayanan seperti pendidikan, kesehatan, transportasi. Kemudian pada tahap menengah terjadinya pembangunan ekonomi, investasi pemerintah masih diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi agar dapat semakin meningkat, tetapi pada tahap ini peranan investasi swasta juga semakin besar.

Pada tahap tingkat ekonomi selanjutnya, Rostow mengatakan bahwa aktivitas pemerintah beralih dari penyediaan prasarana ke pengeluaran-pengeluaran untuk aktivitas sosial seperti kesejahteraan hari tua, program pelayanan kesehatan dan pendidikan.

Mengacu pada konsep teori kesejahteraan (welfare state), dinyatakan bahwa negara dituntut untuk memperluas tanggung jawabnya pada masalah-masalah sosial ekonomi yang dihadapi rakyat. Negara harus melakukan investasi dalam berbagai masalah sosial dan ekonomi untuk menjamin terciptanya kesejahteraan bersama dalam masyarakat. Di samping itu timbulnya konsep kesejahteraan yang memandang manusia tidak hanya sebagai individu, akan tetapi juga sebagai anggota atau warga dari kolektiva dan bahwa manusia bukanlah semata-mata merupakan alat kepentingan kolektiva akan tetapi juga

119

untuk kepentingan dirinya sendiri.Konsep atau teori mengenai negara kesejahteraan dikemukakan oleh R. Kranenburg dalam Jejen Hendar (2013) bahwa negara harus secara aktif mengupayakan kesejahteraan, bertindak adil yang dapat dirasakan seluruh masyarakat secara merata dan seimbang, bukan mensejahterakan golongan tertentu tapi seluruh rakyat.

Penelitian ini juga mendukung hasil penelitian Suyekti Suindyah D (2009) dinyatakan semakin meningkatnya investasi yang masuk ke Jawa Timur khususnya investasi asing dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi, jumlah tenaga kerja yang bekerja memupunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi, serta pengeluaran pemerintah akan memberikan dukukungan terhadap pelaksanaan pembangunan khususnya di Jawa Timur, karena dengan semakin bertambahnya pengeluaran pemerintah menyebabkan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Namun investasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah investasi pemerintah yaitu realisasi belanja modal melalui belanja langsung di kabupaten/kota Provinsi Bali sedangkan investasi dalam penelitian Suyekti Suindyah D (2009) adalah investasi asing yang masuk ke Jawa Timur .

5.4.2 Pengaruh jumlah penduduk, dana perimbangan dan investasi secara tidak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat melalui belanja langsung di kabupaten /kota Provinsi Bali

Mengacu teori (Haror-Domar dalam Todaro (2006), bahwa tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Ada 3 (tiga ) komponen utama dalam pertumbuhan ekonomi yaitu:

1) Akumulasi modal yang meliputi semua bentuk investasi baru, 2) Pertumbuhan

120

jumlah penduduk yang akhirnya menyebabkan petumbuhan angkatan kerja dan ke 3) adalah Kemajuan teknologi yang secara luas diterjemahkan sebagai cara baru untuk menyelesaikan pekerjaan. Jumlah penduduk memiliki hubungan yang kuat dengan kesejahteraan karena penduduk adalah merupakan subjek dan objek dari pembangunan. Penduduk selaku input dalam proses produksi dan sekaligus merupakan tujuan pembangunan itu sendiri adalah untuk ditingkatkan kesejehteraannya. Semakin bertambahnya penduduk maka semakin banyak orang-orang yang terlibat dalam pembangunan. Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi dan berkualitas dapat memperlancar proses pembangunan. Pendirian usaha baru akan menambah peluang bagi angkatan kerja, sehingga pendapatan perkapita masyarakat akan cenderung meningkat dan kesejahteraan masyarakatpun meningkat.

Berdasarkan Gambar 5.3 diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan secara tidak langsung jumlah penduduk terhadap kesejahteraan masyarakat melalui belanja langsung pada kabupaten/kota di Provinsi Bali. Hasil penelitian ini telah membuktikan pernyataan Harror Domar dalam Todaro (2006) bahwa penduduk adalah salah satu komponen pertumbuhan ekonomi yang nantinya diharapkan berpengaruh pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini juga mendukung oleh hasil penelitian Deddy Rustiono (2008) yang menyatakan bahwa penduduk angkatan kerja, investasi swasta (PMA dan PMDN) dan belanja pemerintah daerah memberi dampak positif terhadap perkembangan PDRB di Propinsi Jawa Tengah, dan hasil penelitian ini juga mendukung pernyataan Sasana (2009) bahwa tenaga

121

kerja yang bekerja berpengaruh positif terhadap kesejahteraan masyarakat di Provinsi Jawa tengah. Penduduk erat kaitannya dengan kesejahteraan, mengingat penduduk merupakan input dalam proses produksi dan sekaligus merupakan tujuan pembangunan itu sendiri adalah untuk ditingkatkan kesejehteraannya.

Dapat diuraikan bahwa dengan penduduk yang bekerja dengan kualitas yang dapat memperlancar proses pembangunan, dapat memberikan gambaran pasar yang luas bagi pelaku ekonomi, dan bagi pemerintah dapat dijadikan dasar dalam menyusun kebijakan berkaitan dengan perencanaan pembangunan melalui pengeluaran daerah (belanja langsung). Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang menempatkan manusia sebagai titik sentral, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi melalui tersedianya tenaga kerja yang berkualitas, memiliki jiwa inovatif dan kompetensi pada berbagai bidangserta diiringi dengan penguasaan teknologi informasi, maka akan mampu bersaing di pasar kerja, meningkat pendapatannya

dan meningkat pula kesejahteraannya.

Indek pembangunan manusia (IPM) mengingatkan kita pada pembangunan yang kita maksudkan adalah pembangunan dalam arti luas, bukan hanya dalam bentuk pendapatan yang lebih tinggi. Kesehatan dan pendidikan bukan hanya input produksi dalam perannya sebagai komponen sumber daya manusia tetapi merupakan tujuan pembangunan yang fundamental. Mengacu pendapat Nehen (2012) dinyatakan bahwa kita tidak sependapat bila suatu negara yang mempunyai penduduk berpendapatan tinggi, tetapi tidak berpendidikan, kesehatannya tidak

122

terpelihara dengan baik sehingga harapan hidupnya lebih singkat dari pada penduduk suatu negara yang lain di dunia telah mencapai tingkatan pembangunan yang lebih tinggi dari pada negara yang berpendapatan rendah tetapi usia harapan hidup dan kemampuan baca tulisnya lebih tinggi.

Penelitian ini mendukung penelitian Ranis (2004) dalam artikelnya yang berjudul Human Development And Economic Growth, digambarkan bahwa tujuan akhir dari proses pembangunan, dengan pertumbuhan ekonomi yang digambarkan adalah proxy yang tidak sempurna untuk mewujudkan kesejahteraan umum, atau sebagai sarana menuju pembangunan manusia ditingkatkan. Perdebatan ini telah memperluas definisi dan tujuan pembangunan, tetapi masih perlu untuk menentukan keterkaitan penting antara pembangunan manusia ( HD ) dan pertumbuhan ekonomi (EG). Sampai-sampai yang lebih besar kebebasan dan kemampuan meningkatkan kinerja ekonomi, pembangunan manusia akan

Penelitian ini mendukung penelitian Ranis (2004) dalam artikelnya yang berjudul Human Development And Economic Growth, digambarkan bahwa tujuan akhir dari proses pembangunan, dengan pertumbuhan ekonomi yang digambarkan adalah proxy yang tidak sempurna untuk mewujudkan kesejahteraan umum, atau sebagai sarana menuju pembangunan manusia ditingkatkan. Perdebatan ini telah memperluas definisi dan tujuan pembangunan, tetapi masih perlu untuk menentukan keterkaitan penting antara pembangunan manusia ( HD ) dan pertumbuhan ekonomi (EG). Sampai-sampai yang lebih besar kebebasan dan kemampuan meningkatkan kinerja ekonomi, pembangunan manusia akan

Dokumen terkait