BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
2. Hasil Penelitian
Dari wawancara yang dilakukan peneliti terhadap responden diperoleh hasil yang berkaitan dengan proses perjalanan kehidupan wanita dengan orientasi seksual sejenis.
a. Proses perkembangan identitas seksual yang di alami responden sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis.
Di dalam proses perkembangan identitas yang dialami responden sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis terdapat potret kehidupan responden sebelum menyadari orientasi seksualnya saat ini, awal mula responden mulai menyadari bahwa dirinya memiliki orientasi seksual sejenis, proses yang dijalani responden dimulai saat dia menyadari hingga akhirnya dapat menerima dan memutuskan untuk menjadi wanita dengan orientasi seksual sejenis.
Responden mengungkapkan bahwa sebelum menyadari orientasi seksualnya saat ini, ia memang sudah tertarik pada penampilan laki-laki ketika responden duduk di bangku SD. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Biasa aja sih awalnya, cuma dari SD udah suka aja dandanan cowok kliatannya tu keren dimata gue, kebawalah akhirnya ke keseharian gue.” (YD/TP-1, 003-005).
Keadaan tersebut diperkuat ketika responden mulai duduk dibangku SMP. Responden merasa bahwa lingkungannya saat itu mendukung keadaan dirinya sebagai pribadi yang lebih menyukai penampilan seorang laki-laki. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Akhirnya pas masuk SMP disalah satu SMP negri, gue kaget ternyata banyak yang kayak gue, tomboy gitu. Yaudah gue lanjutin aja sampe sekarang.” (YD/TP-1, 007-011).
Responden mulai menyadari bahwa dirinya memiliki orientasi seksual sejenis ketika ia duduk dibangku kelas 2 SMP. Ia merasa ada suatu kebanggaan dalam dirinya ketika mampu memiliki hubungan spesial dengan cewek tomboy. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Pas kelas 2 SMP. Jaman-jamannya pada main Facebook gue join di salah satu grup yang dibikin sama kakak gue dan disitu ada cewek tomboy. Kepo nih gue sama dia kasih aja inisialnya DR ya, gue coba ajakin ngobrol lewat inbox, ternyata dia penyuka sesama jenis. Singkat cerita akhirnya kita jadian, gue terima karna gue ngerasa bangga dan kagum aja kalo bisa deket sama cewek tomboy.” (YD/TP-2, 015-023).
Responden melewati berbagai fase dalam kehidupannya ketika ia berproses hingga akhirnya memutuskan menjadi waita dengan orientasi seksual sejenis. Tahap pertama yang responden alami adalah adanya rasa kebingungan atas suatu hal yang tidak biasa yang terjadi
pada dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Habis kejadian DR itu gue sempet ngerasa bingung sama diri gue sendiri “yakin nih gue kayak gini? kok bisa ya gue pacaran sama cewek. Ini gue lesbi nih?” gue nanya sama diri gue sendiri itu.” (YD/TP-3, 032-035).
Setelah berproses melewati tahap pertama, responden mulai menyadari bahwa banyak wanita di luar sana yang juga mengalami apa yang ia alami yakni adanya dalam orientasi seksualnya. Kemudian respoden meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sendirian dalam menjalani orientasi seksualnya. Hal terseut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Dari situ gue ngerasa yaudahlah mungkin emang ini duania gue, toh gue gak sendirian, di luar sana masih banyak kok yang kayak gue gini.” (YD/TP-3, 047-049).
Tahap selanjutya responden merasa bahwa dirinya baik-baik saja dalam menjalani orientasi seksualnya saat itu. Responden merasakan perasaan bahagia dan nyaman ketika mampu menjalani hari-harinya sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis. Hal terseut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Saat itu gue ngerasa bahwa gue tetep bisa happy dan gue fine-fine aja walaupun gue punya dunia yang berbeda dari orang normal yang lainnya dan walaupun gue menjalani hubungannya juga putus-nyambung karna masih dalam level cinta-cinta monyet lah ya, tapi gue nyaman ngejalaninnya” (YD/TP-3, 056-061).
Masuk ke tahap terakhir dimana responden memutuskan untuk fokus hanya pada dunia nya dengan cara meminimalisir hubungannya dengan lawan jenis. Responden memposisikan lawan jenis hanya sebatas teman bukan untuk dijadikan pasangan. Hal terseut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Semenjak putus sama MD sempet ngerasa pengen santai dulu ga ada niatan buat ngejalanin hubungan lagi, tapi ya tetep adalah chattingan-chattingan sama kenalan cewek-cewek yang kayak gue juga karna gue emang pengen fokus sama dunia gue yang seperti ini dan sama sekali ga ada niatan untuk punya hubungan atau pacaran sama cowok, ya paling cuma temen biasa nggak yang deket-deket banget sampe sahabatan gitu.” (YD/TP-3, 062-070).
Dalam perjalanannya melewati berbagai proses penerimaan dirinya sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis, responden mengalami pengalaman seksual pertamanya dalam hubungan yang dijalani responden bersama pasangannya yang juga memeiliki orientasi seksual sejenis. Hal terseut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Nah pas sama SA gue mulai kenal dunia “phone sex”. Awalnya gue kaget karna belum pernah kan denger orang desah-desah gitu di telpon, tapi lama-kelamaan gue mulai menikmati, gue mulai bermain fantasi gitu karna kan lawan gue jaih di sana ga ada di depan gue. (YD/TP, 095-099).
Responden memutuskan untuk tidak mengungkapkan tentang jati dirinya sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis kepada keluarga nya maupun masyarakat luas. Ia masih belum siap ketika hasru melihat respon dari keluarganya maupun masyarakat luas. Hal
tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Tapi sampai detik ini gue punya hubungan sama GJ, gue belum berani mempublish keadaan gue kedunia luar. Nggak ada yang tahu tentang keadaan gue termasuk orangtua dan keluarga baik dari pihak gue maupun pasangan gue. Orang-orang yang tahu tentang kita dan hubungan kita bisa diitung pake jari lah, cuma orang-orang yang bisa kita percaya dan yang jelas bisa nerima keadaan kita yang kayak gini. Di depan umum pun gue juga masih belum berani buat nunjukkin perilaku selayaknya orang pacaran gimana sih ya. Kenapa? Ya alasannya karna gue belum siap aja sama respon orang-orang terutama keluarga gue ketika mereka harus tau keadaan gue yang sekarang.” (YD/TP-3, 122-135).
SD :
Tertarik dengan dandanan cowok.
Ciri-ciri :
Meniru cara berpakain cowok dalam keseharian.
SMP :
Semakin yakin untuk berpenampilan tomboy
Mulai tertarik dengan sesama jenis
Sempat merasa bingung
Merasa tidak sendirian
Merasa baik-baik saja
Fokus dengan dunianya sendiri
Ciri-ciri :
Ketika masuk SMP banyak anak
perempuan yang berpenampilan tomboy
Untuk pertama kali menjalin hubungan dengan sesama jenis
Mempertanyakan diri sendiri apakah benar dia seorang lesbian.
Terus menerus menjalin hubungan dengan sesama jenis
Bahagia menjalani hidup sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis
Tidak ada niatan untuk berpacaran dengan lawan jenis
SMA :
Mulai mengenal perilaku seksual
Ciri-ciri :
Melakukan phone sex dengan pasangan sesama jenis dan fantasi seksual.
Kuliah :
Mantap untu menjalin hubungan sesama jenis
Tidak berani mempublish
Kuliah :
Menjalin hubungan selama 1,5 tahun dan tinggal bersama dalam satu kamar kost.
Menyembunyikan dari orangtua.
Bersikap layaknya teman biasa ketika ditempat umum.
Proses perkembangan identitas seksual yang di alami responden sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis divisualisasikan sebagai berikut:
Gambar 4.1 Bagan Proses Perkembangan Identitas Seksual Lesbian Responden
b. Faktor yang melatarbelakangi responden sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis.
Di dalam faktor yang melatarbelakangi responden sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis terdapat pengalaman responden ketika menjalin relasi dengan lawan jenis, pengalaman responden ketika menjalin relasi dengan pasangan wanita yang juga memiliki orientasi seksual sejenis. Kemudian diungkapkan juga mengenai relasi responden dengan keluarga, teman dan lingkungan sekitar baik sesudah maupun sebelum memutuskan menjadi wanita dengan orientasi seksual sejenis.
Dalam relasinya dengan lawan jenis, responden memiliki pengalaman perilaku yang tidak menyenangkan yakni dengan adanya perilaku yang kurang pantas dari lawan jenis. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Sempet dapet kenalan cowok, pas udah deket eh malah mereka nya tu menunjukkan perilaku yang nggak sopan kayak ngajakin phone sex sampe ke video call sex. Dua kali gue dapet kenalan cowok yang kayak gitu, gue mikirnya itu baru deket gimana nanti kalo udah pacaran bisa jadi gue dihamilin trus ditinggal gitu aja. Yaudah lah gue negrasa mereka itu lebih enak dijadiin temen aja nggak lebih.” (YD/FP-1, 155-162).
Akan tetapi responden memiliki kriteria tersendiri bagi lawan jenis yang mampu membuat nya hingga menaruh hati pada orang tersebut, walaupun hingga sampai saat ini ia belum menemukan atau berusaha
mencari lawan jenis yang memiliki kriteria tersebut. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Gue punya kriteria sendiri buat cowo yang bisa bikin gue sampe menaruh hati dan untuk hal itu gue berpatokan sama sosok almarhum bapak gue, kebetulan gue deket dengan beliau. Bapak itu punya band yang suka main di cafe sama suka diundang buat ngisi acara di hotel gitu, jadi tau lah ya lingkup pergaulannya kayak apa apalagi bapak tu orangnya mudah bergaul. Tapi walaupun begitu bagi beliau ibu adalah satu-satunya wanita yang beliau cintai sampai meninggal, selain itu beliau sosok yang sabar, kepala dingin dalam nyelesain masalah, bertanngung jawab sama keluarga. Tapi so far gue belum nemuin ataupun berusaha buat mencari lagi cowok yang punya kriteria kayak almarhum bapak.” (YD/FP-1, 165-178).
Responden juga pernah megalami adanya pelecehan seksual semasa ia kecil yang sangat membekas dalam ingatannya dan memunculkan perasaan tidak nyaman terhadap lawan jenis. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Gue juga pernah mengalami semacam pelecehan seksual gitu waktu gue kecil dan ini pelakunya adalah tetangga gue sendiri, yaitu om dari temen gue waktu kecil ya sekitar kelas 3 SD waktu itu.” (YD/FP-1, 178-182)
“Nah pas banget disitu ada om nya juga trus dia tu dateng trus dudukin gue dipangkuannya. Tau-tau dia mijetin pundak gue, lama-lama makin turun trus tau-tau negraba-raba payudara gue.Kejadian itu terekam jelas diingatan gue dan itu juga yang bikin gue jadi agak gimana gitu sama lawan jenis.” (YD/FP-1, 184-192)
Hal yang berbeda dirasakan responden ketika menjalin relasi dengan pasangan wanita yang juga memiliki orientasi seksual sejenis.
Ia mendapat respon yang lebih positif dibanding pengalaman relasinya dengan lawan jenis sehingga responden merasa yakin untuk terus menjalin hubungan dengan pasangan wanita yang juga memiliki orientasi seksual sejenis. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Gue merasa nyaman dan lebih bisa diperlakukan dengan baik. Saat gue mencoba membuka hati dengan sesama jenis kayak gue, mereka kasih respon yang positif, mereka bisa lebih sopan dalam bertutur kata dan berperilaku lebih peka, lemah-lembut, trus juga ada aksi nyata gak cuma omong aja, lebih bisa memahami perasaan karna dasarnya sama-sama perempuan sih. Itu sih yang akhirnya menguatkan gue untuk terus-menerus menjalin hubungan yang seperti ini sampe sekarang. (YD/FP-2, 196-204)
Dalam hubungan nya saat ini responden menemukan pasangan yang memiliki sifat-sifat seperti sosok almarhum sang ayah yang begitu dekat dengan responden. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Bahkan dalam diri pasangan gue yang sekarang ini gue bisa menemukan sifat-sifat yang dimiliki sosok almarhum bapak yang setia, sabar, tanggung jawab, bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Itu bikin gue semakin yakin buat terus mempertahankan hubungan ini sampe sekarang.” (YD/FP-2, 207-213)
Pengalaman relasi responden dengan keluarga, teman dan lingkungan sekitar mendapatkan respon yang berbeda-beda dari
masing-masing pihak. Semenjak peristiwa pertama kali nya responden menjalin hubungan dengan seorang wanita yang memiliki orientasi seksual sejenis berinisial DR dan diketahui oleh kakak nya beserta ibu dan almarhum bapak, sang ibu menjadi tidak suka ketika melihat responden berteman dengan perempuan yang bergaya tomboy. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Ada yang sedikit berubah dari ibu semenjak kejadian DR, beliau kurang suka kalo gue bawa temen atau kenalin temen gue yang tomboy. Trus kalo lihat cewek tomboy langsung kasih wejangan ke gue kalo gue ga boleh ikut-ikutan kayak gitu, harus tumbuh jadi wanita yang sesuai dengan kodratnya. Suka menghubungkan juga sama kisah di Alkitab tentang kisah Sodom dan Gomora yang dihancurkan Tuhan karna dosa mereka sebagai kaum homoseksual. Ibu bilang jangan sampai Tuhan murka sama gue karna hidup seperti orang-orang yang ada dikisah Sodom dan Gomora.” (YD/FP-3, 225-236).
Semenjak memutuskan untuk menjadi wanita dengan orientasi seksual sejenis, dalam lingkup pertemanan responden lebih berhati-hati dalam memilih teman. Bahkan responden sempat mengalami penolakan dari sahabatnya ketika responden mencoba untuk terbuka tentang jati dirinya. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Kalo dalam dunia pertemanan ga ada masalah sih dari sebelum nya sampe sekarang, cuma kalo sekarang lebih hati-hati aja sih dalam hal memilih siapa yang bisa gue percaya dan yang bisa tulus menerima tentang keadaan diri gue yang seperti ini. Karna pas gue kuliah ini kan gue deket sama 4 temen baru ya yang cewek yang udah gue
anggep kayak sahabat lah, trus sempet dapet penolakan dari 1 sahabat gue sendiri pas gue coba jujur tentang diri gue. Mungkin akhirnya dia nggak bisa menerima dan jauhin gue waktu itu.” (YD/FP-3, 240-250)
Tak jarang responden mendengar berbagai stereotip negatif tentang wanita dengan orientasi seksual sejenis ketika ia berbincang dengan teman-teman nya. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Pernah juga pas ngobrol sama temen-temen ada yang bilang “lesbian tuh penyakit, susah diilangin” ada juga yang bilang “ogah lah temenan sama yang begitu, takut ntar gue ke bawa-bawa” dan banyak omongan miring lainnya tentang dunia gue.” (YD/FP-3, 250-255)
Dalam hal pertemanan dengan lawan jenis, responden tidak menutup diri untuk membaur Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Masalah pertemenan sama lawan jenis gue ga menutup diri sih, nongkrong, jalan, ngobrol, dengerin curhatan-curhatan mereka masalah cewek.” (YD/FP-3, 257-259).
sejenis divisualisasikan sebagai berikut:
Gambar 4.2 Bagan Faktor yang Mempengaruhi Responden Memilih Orientasi Seksual Sejenis
Relasi dengan lawan jenis Relasi dengan sesama jenis Faktor yang Melatarbelakangi Mendapat perilaku tidak menyenangkan Mengalami pelecehan seksual waktu kecil Mendapatkan kenyamanan
orientasi seksual sejenis.
Di dalam perilaku seksual yang dialami responden terdapat bentuk komitmen dari hubungan yang dijalani responden sebagai pasangan wanita dengan orientasi seksual sejenis, cara menyalurkan dorongan seksual dalam hubungan serta hal yang melatarbelakangi terjadinya perilaku seksual tersebut.
Dalam hubungan yang dijalani responden bersama pasangannya saat ini berlandaskan pada prinsip kesetiaan yang akhirnya bisa membawa hubungan mereka berjalan hingga 1,5 tahun, yakni satu dari awal hingga akhir. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Satu dari awal hingga akhir. Dalam hubungan ini yang ada hanya gue dan dia, ga ada tambahan orang lain.” (YD/PS-1, 275-276).
Banyak hal yang dilakukan oleh responden dan pasangannya dalam hal meyalurkan dorongan seksual mereka yakni pegangan tangan, pelukan, ciuman, memasukkan jari ke dalam vagina, ciuman bibir dengan permainan lidah, berpelukkan hingga tidak menggunakan pakaian, mengesekkan alat kelamin, memberikan rangsangan ke alat kelamin menggunakan lidah, fingering. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Kalo yang lebih menantang lagi ada misalkan kayak dia masukin jari ke vagina gue, terus kayak ciuman bibir gitu tapi pake permainan lidah.” (YD/PS-2, 283-286).
“Dia itu tipenya suka dipeluk tapi ga mau kalo ada yang membatasi jadi kulit sama kulit langsung bersentuhan katanya sih nyaman, jadi otomatis ya sampe ga pake baju gitu. Kadang kalo kebawa suasana bisa sampe ke nggesekin alat kelamin gitu, jadi nanti posisinya dia yang di bawah aku yang di atas.” (YD/PS-2, 286-291).
“Terus juga dia kayak ngasih rangsangan gitu ke alat kelamin gue tapi pae lidahnya dia.” (YD/PS-2, 294-296).
Bagi responden sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis, perilaku seksual yang ia lakukan bersama pasangan bukan semata-mata hanya sebagai sarana untuk menyalurkan hasrat seksual, tetapi sebagai sarana untuk berkomunikasi dan juga sebagai sarana untuk rasa saling memiliki. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Kalo gue nganggepnya lebih ke sarana untuk berkomunikasi ketika kita ada masalah yang perlu diselesaikan atau diomongin jadi bisa bangun susana lebih nyaman aja.” (YD/PS-3, 299-302)
“Selain itu bagi gue hal kayak gitu buat nunjukkin rasa saling memiliki, ue Cuma punya dia dan begitu juga sebaliknya.” (YD/PS-3, 302-304)
sejenis divisualisasikan sebagai berikut:
Gambar 4.3 Bagan Perilaku Seksual Responden Orientasi Seksual Sejenis Perilaku Seksual Bentuk perilaku seksual Pegangan tangan Berpelukan Ciuman Ciuman dengan lidah Petting basah Berpelukan tanpa pakaian hingga saling menggesekan alat kelamin alat kelamin Memasukkan jari ke dalam vagina Seks Oral
d. Peran dalam relasi pasangan wanita dengan orientasi seksual sejenis Di dalam peran responden dibagi menjadi dua yakni bagaimana peran yang dijalani sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis dan hal yang melatarbelakangi responden dalam menjalani peran tersebut.
Responden sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis memilih untuk menjalani perannya dalam hal tersebut sebagai seorang androgini. Responden juga mengungkapkan adanya perbedaan perilaku yang ia tunjukkan ketika berperan sebagai sosok “laki-laki” maupun sosok “perempuan” dalam relasinya dengan pasangan. Hal terseut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Nah kalo gue bisa ngejalani 2 peran itu, tergantung gue dapet pasangan yang berperan sebagai apa.” (YD/PW-1, 309-311).
“Orang yang bisa menjalani 2 peran gitu biasanya disebut andro atau androgini. Ciri-cirinya ya kayak gue gini rambutnya panjang kayak cewek pada umumnya, cuma kalo berpakaiannya aja yang agak tomboy dalam artian lebih suka pake kaos sama celana panjang daripada pake rok atau dress gitu. ” (YD/PW-1, 318-323).
“Beda peran, beda juga gue bersikap tapi secara penampilan tetep kayak andro. Beda peran, beda juga gue bersikap dalam menghadapi pasangan. Ketika gue jadi butchy ya selayaknya laki-laki dalam sebuah hubungan sih kayak ngechatt duluan, nelpon duluan. Lebih ke protect ya kalo si pasangan nya pergi ya nanyain pergi kemana, sama siapa, pulang jam berapa. Lebih ke sikap-sikap yang menjaga dan melindungi gitu. Ketika gue jadi femme yang gue lakuin ya lebih ke ngeladenin kebutuhan dia, masak, manjain kalo dia capek pulang kerja, lebih teliti dalam hal-hal apapun itu, lebih peka sama hal-hal yang terjadi, lebih ke sikap yang lemah-lembut, lebih ke ngayomi.” (YD/PW-2, 325-337).
Kemudian hal yang melatarbelakangi responden dalam menjalani peran tersebut yakni karena keadaan dirinya yang memiliki penampilan agak tomboy sedari ia kecil. Hal terseut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Gue mikirnya sih mungkin karna dari kecil emang gue agak tomboy gitu sih, jadi kebawa lah ke peran yang seperti itu.” (YD/PW-2, 345-347).
divisualisasikan sebagai berikut:
Gambar 4.4 Bagan Potret Peran Responden dalam Relasi Pasangan Sejenis Ciri-ciri penampilan:
Rambut panjang layaknya perempuan pada umumnya
Lebih suka pakai kaos dan celana jeans daripada rok dan dress Tomboy dari kecil Androgini Ciri-ciri perilaku: Masak Memanjakan Melayani kebutuhan Peka Lemah-lembut
Teliti dalam segala hal Femme Ciri-ciri perilaku: Ngechatt duluan Nelpon duluan Protect (nanyain pergi kemana, sama siapa, pulang jam berapa)
Sikap menjaga dan melindungi
69
e. Harapan responden dalam hidup kedepannya sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis.
Sebagai wanita dengan orientasi seksual sejenis, responden juga memiliki berbagai harapan untuk perjalanan hidupnya ke depan. Bersama pasangan nya saat ini, responden memiliki ambisi untuk hidup bersama selamanya. Hal tersebut dapat dilihat dari ungkapan responden dalam wawancara sebagai berikut :
“Dulu gue punya ambisi terbesar pengen hidup bareng sama dia terus selamanya, ya macem pasangan suami istri gitu kalo bisa sampe nikah.” (YD/HD-1, 351-353)
Harapan responden yang terakhir yakni walaupun hidup sebagai