• Tidak ada hasil yang ditemukan

HAS IL PENELITIAN DAN PEMBAHAS AN

A. Hasil Penelitian

Dari data yang kami peroleh tentang proses pembelajaran dapat diketahui bahwa dari 54 siswa, ada 21 siswa yang kurang aktif, dan 33 siswa sudah aktif. Artinya tingkat keaktifan siswa pada proses pembelajaran baru mencapai 61%. Sedangkan hasil evaluasi setelah kami analisis, diperoleh informasi bahwa siswa yang mendapat nilai mencapai KKM (62 keatas ) 35 siswa, sedangkan yang 19 siswa belum mencapai KKM . Artinya siswa yang tuntas mencapai 64,81%, dan yang belum tuntas 37%. Dengan demikian maka tingkat ketuntasan baru mencapai 64,81%, sedangkan target yang harus dicap ai adalah ketuntasan di atas 80%. Oleh karena itu pembelajaran akan kami ulang pada kegiatan siklus II, dengan memperhatikan kendala dan masalah yang muncul, serta alternatif solusi pemecahannya.

Berdasarkan hasil prestasi yang dicapai siswa pada siklus I, dapat terlihat peningkatan kemampuan siswa, namun demikian target penelitian belum tercapai. Pada kegiatan siklus I siswa belum dapat aktif semua karena media gambar seri terbatas. Hasil penilaian yang dilakukan oleh kepala sekolah, pembelajaran sudah bagus, namun ada beberapa hal yang harus diperbaiki, antara lain; media harus diperbanyak, siswa diberi bimbingan yang maksimal dalam diskusi, guru jangan segan-segan memberikan penguatan dan motivasi agar siswa antusias untuk bertanya dan menanggapi pendapat temannya dalam diskusi. Dari supervisor memberi masukan bahwa dalam pembelajaran guru jangan terlalu banyak menggunakan bahasa daerah, karena pembelajarannya Bahasa Indonesia, juga sama dengan anjuran kepala sekolah bahwa media gambar seri harus diperbanyak. Hasil pendapat siswa pada siklus I dapat disimpulkan rata-rata siswa mengaku lebih mudah menulis karangan dengan media gambar seri, namun masih ada beberapa siswa yang kesulitan dalam penggunaan ejaan, terutama penggunaan huruf besar dan kata depan.

Pada pembelajaran siklus II diperoleh data sebagai berikut: nilai rata – rata kelas mencapai 74,83 dengan demikian maka dapat dikatakan ketuntasan belajar sudah mencapai 100% karena KKM untuk Bahasa Indonesia adalah 62, demikian juga tingkat keaktifan siswa meningkat menjadi 94,44%, siswa yang tidak aktif hanya 3 anak jadi hanya mencapai 9%, dengan hasil yang demikian maka pada siklus II ini target pencapaian tujuan PTK sudah tercapai. Namun dari hasil refleksi dengan observer dan kepala sekolah ada masukan bahwa pembelajaran sudah berhasil tetapi untuk media gambar seri seharusnya dibuat lebih variatif, artinya untuk satu kelompok diskusi satu tema jadi kami harus menyediakan 14 set media gambar seri dengan 14 tema. Usulan ini bagi kami memang agak berat untuk diimplementasikan, namun kami akan coba nanti pada pembelajaran lain di luar kegiatan PTK, karena disamping tujuan sudah tercapai kami juga dibatasi hanya dua siklus, dengan harapan siswa lebih tertarik dan tertantang untuk menulis karangan dengan tema yang berfariasi. (Hasil refleksi bisa disimak dalam lampiran ).

Berdasarkan p restasi belajar yang dicapai siswa pada siklus II dapat diketahui bahwa kemampuan siswa dalam menulis karangan meningkat secara signifikan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, dengan menggunakan media gambar seri dapat meningkatkan kemampuan menulis karangan siswa kelas V SD Negeri 04 Bantarbolang, Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang.

B. Pembahasan

Dengan mengolah data yang dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran pada siklus I dan II dapat dideskripsikan sebagai berikut: Dari daftar nilai kemampuan menulis karangan siswa kelas V pada siklus I, dapat diketahui bahwa: Siswa yang mendapat nilai 51 – 60 ada 21 siswa;nilai 61 – 70 ada 27 siswa; nilai 71 – 80 ada 6 siswa. Nilai tertinggi yang diperoleh siswa 80 dan nilai terendah yang diperoleh siswa 50 dengan demikian nilai rata-rata yang diperoleh siswa 63, 20. Siswa yang mendapat nilai ≥ KKM sebanyak 35. Siswa yang mendapat nilai ≤ 19 siswa , jadi ketuntasan belajar mencapai 64,81%. Nilai keaktifan siswa adalah

siswa yang mendapat nilai cukup ada 21 siswa, nilai baik ada 33 siswa, jadi presentasi keaktifan pada siklus I mencapai 61,11%.

Dari daftar nilai kemampuan menulis karangan siswa kelas V pada siklus II dapat diketahui bahwa: Siswa yang mendapat nilai antara 51 – 60 tidak ada, nilai 61 – 70 ada 12 siswa. Nilai 71 – 80 ada 36 siswa, nilai 81 – 90 ada 6 siswa. Dengan demikian nilai tertingi yang diperoleh siswa adalah 88, sedangkan nilai terendah yang diperoleh siswa 63. Nilai rata-rata kelas mencapai 72,83. Siswa yang mendapat nilai ≥ KKM ada 54 siswa, siswa yang mendapat nilai ≤ 0, jadi semua siswa sudah tuntas. Artinya ketuntasan belajar 100%. Nilai keaktifan siswa ; nilai cukup ada 3 siswa, dan nilai baik ada 54 siswa, maka nilai keaktifan seluruhnya ada 94,44%.

Dengan melihat hasil di atas dapat dijelaskan bahwa perolehan nilai dan ketuntasan belajar yang diperoleh siswa setelah mendapatkan pembelajaran menulis karangan dengan media gambar seri pada siklus I dan siklus II menunjukkan adanya peningkatan yang cukup baik, yaitu 30%.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan PTK sudah dapat dikatakan mencapai keberhasilan, karena sudah memenuhi kriteria keberhasilan, yaitu: (1) nilai rata- rata pada penilaian kemampuan menulis karangan di atas nilai KKM 62, sedangkan p ada akhir pembelajaran ini nilai rata-rata sudah mencapai 72,83 ; dan (2) siswa yang mendapat nilai di atas KKM minimal 80%, sedangkan pada akhir pembelajaran ini siswa yang mendapat nilai di atas KKM (tuntas) mencapai 100%.

Berdasarkan data di atas dapat digambarkan dalam bentuk diagram dibawah ini 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Pra Siklus Siklus I Siklus II Nilai Siswa Keaktifan

Grafik Nilai Kemampuan menulis Karangan S iswa Kelas V

Dengan hasil yang demikian, maka penelitian cukup sampai pada siklus II. Untuk menyelesaikan masalah yang muncul pada siklus II, dilaksanakan bimbingan pada dua siswa yang tidak memperhatikan, mempersiapkan strategi yang lebih baik lagi agar pembelajaran lebih berhasil. Yang menyangkut media atas anjuran kepala sekolah akan diusahakan pengadaan media gambar seri yang lebih banyak lagi dan lebih variatif, mengadakan lomba menulis karangan setiap tahun untuk memotivasi siswa agar gemar menulis.

Jadi salah satu usaha untuk meningkatkan kemampuan menulis karangan siswa adalah dengan menggunakan media gambar seri. Hal ini t erjadi karena media gambar seri dapat menuntun cara berpikir anak yang runtut, mudah menentukan tema karangan, dan memudahkan mengembangkan karangan. Dengan gambar seri siswa juga merasa tertantang untuk menemukan judul yang lebih variatif, siswa juga tidak bosan karena dengan mengurutkan gambar seri, siswa merasa puas apabila telah berhasil dengan lebih cepat dari siswa yang lain. Pembelajaran menulis karangan bukan lagi menjadi membosankan tetapi

menyenangkan bagi siswa, dengan demikian maka secara umum nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa dapat meningkat.

Apabila kita cermati maka peningkatan kemampuan siswa dalam menulis karangan disebabkan karena mutu pembelajaran yang meningkat pada tiap siklus. Pada siklus I proses pembelajaran sudah lebih baik dari pada pembelajaran sebelum tindakan. Pada pra siklus pembelajaran lebih banyak menggunakan ceramah, alat pembelajaran seadanya artinya guru kurang kreatif mengadakan media, pembelajaran belum dirancang dengan cermat, keaktifan siswa kurang diperhatikan, Guru belum memberi kesempatan kepada siswa untuk menulis karangan dengan tema yang sesuai dengan minat siswa, siswa belajar dalam sausana yang kaku.

Pada siklus I pembelajaran sudah mulai meningkat, rencana pembelajaran disusun oleh guru dengan model yang inovatif, yaitu model STAD, guru mempersiapkan media sesuai dengan kebutuhan pembelajaran, keaktifan siswa diperhatikan, guru juga selalu membimbing siswa baik pada saat diskusi kelompok, maupun pada saat mengurutkan gambar seri, pemberian ganjaran bagi siswa yang mendapat nilai tertinggi merupakan motivasi bagi siswa yang selama ini tidak dirasakan, siswa mulai aktif dan senang pada saat kegiatan mengurutkan gambar seri. Pada saat kegiatan evaluasi siswa sudah dapat membuat karangan sesuai dengan gambar seri yang telah diurutkan.

Hasil nilai siswa dan keaktifan yang diperoleh pada siklus I masih kurang memuaskan, meskipun mengalami peningkatan, hal ini terjadi karena beberapa sebab yaitu: (1) Guru belum dapat memperhatikan kesulitan yang dialami siswa secara individu dengan maksimal, misalnya banyak siswa yang kesulitan pada saat menulis terutama tentang penggunaan ejaan dan kata depan guru membiarkan sehingga pada saat penilaian siswa mendapat nilai rendah, (2) Guru kurang dapat memancing siswa untuk berpendapat, sehingga siswa terlihat kurang bergairah pada saat teman yang lain menyampaikan hasil diskusi., (3) M edia gambar seri sangat kurang, dengan satu set media untuk delapan siswa ini sangat kurang artinya banyak siswa yang hanya jadi penonton dan cenderung cuek dalam melaksanakan diskusi mengurutkan gambar seri, (4) Guru belum maksimal dalam

memberikan motifasi dan penguatan terhadap siswa, (5) Bahasa daerah yang sering digunakan guru dalam menyampaikan materi menimbulkan siswa sering menggunakannya pada saat menulis karangan.

Dari siswa ada beberapa hal yang menyebabkan pembelajaran belum maksimal, yaitu: (1) Siswa belum dapat mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan dengan benar, malah sebagian siswa tidak aktif, (2) Dalam berdiskusi banyak yang tidak aktif, hanya bergantung pada ketua kelompoknya, (3) Siswa masih kesulitan dalam mengembangkan kerangka karangan, (4) Siswa masih banyak kesalahan tentang penulisan ejaan dan kata depan.

Kekurangan-kekurangan pada siklus I tersebut akan diperbaiki pada pembelajaran dalam siklus II. Sedangkan strategi yang akan digunakan untuk meyelesaikan permasalahan pembelajaran pada siklus I sebagai berikut: (1) Siswa dipancing untuk mengajukan pertanyaan dan tanggapan, dengan cara dipuji, diberi motivasi oleh guru, jangan disalahkan atau ditertawakan bila pertanyaan maupun tanggapannya kurang pas, (2) Guru harus lebih memberi perhatian dan bimbingan pada siswa secara individu, (3) M edia gambar seri diperbanyak, satu set media untuk satu kelompok, akan tetapi kelompoknya diubah menjadi 14 kelompok sehingga satu kelompok beranggota empat siswa, ini dapat meminimalisir ketidak aktifan siswa, (4) Guru menjelaskan kembali tentang ejaan dan penulisan kata depan, (5) Siswa yang mengalami kesulitan dalam memngembangkan kerangka karangan dibimbing secara khusus, sesuai dengan gambar seri yang telah diurutkan.

Penerapan strategi tersebut ternyata kualitas pembelajaran pada siklus II meningkat. Suasana pembelajaran lebih hidup, banyak siswa yang mengajukan pendapat dan pertanyaan, guru selalu memberi penguatan, proses diskusi juga berjalan baik, karena media cukup banyak sehingga semua siswa mendapat bagian untuk mengurutkan gambar seri, waktu yang digunakan untuk diskusi lebih cepat, pada saat evaluasi siswa sudah dapat mengerjakan lebih cepat dan hasilnya juga cukup mengembirakan, siswa sudah nampak senang dalam menulis karangan, bahkan mereka lupa waktu sehingga untuk evaluasi siklus II lebih dari 15 menit, siswa sulit dihentikan dalam mengembangkan karangan.

M eskipun pada siklus II pembelajaran sudah meningkat, masih ada beberapa permasalahan yang ditemukan, Yaitu: (1) Ada 2 siwa, yaitu Teguh Irawan dan Ainur Falahudin bercanda sendiri tidak memperhatikan teman yang sedang presentasi, (2) Ada beberapa siswa yang masih salah dalam menuliskan huruf besar dan tanda baca, (3) M edia sudah cukup, namun belum bervariasi sehingga siswa kurang tertantang untuk mengurutkan gambar seri, bahkan ada siswa yang hanya meniru temanya, (4) Pada kegiatan diskusi cepat selesai dan disaat presentasi siswa yang lain nampak kurang bersemangat menanggapi.

Bepijak dari uraian di atas kita mengetahui bahwa pembelajaran pada siklus II sudah dapat mencapai target penelitian, oleh karena itu tidak perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya, namun beberapa masalah yang ditemukan pada siklus II akan tetap dicarikan pemecahannya dan pelaksanaannya akan dilaksanakan di luar kegiatan Penelitian Tindakan Kelas. Adapun strategi nuntuk menyelesaikan permasalahan pada siklus II, adalah: (1) Dua siswa yang kurang memperhatikan pembelajaran diberi bimbingan secara khusus, diwawancarai apa yang menyebabkan mereka kurang memperhatikan pembelajaran, (2) M edia gambar seri dibuat dengan tema yang berbeda untuk tiap kelompok, dan siswa dibiarkan menentukan tema sendiri sesuai dengan minatnya, memang untuk mengadakan satu siswa satu media agak sulit, namun tetap akan diusahakan dan hal ini sudah mendapat dukungan dari kepala sekolah, (3) Guru harus selalu memberi penghargaan kepada siswa yang mengajukan pendapat atau pertanyaan, (4) M embuat Lembar Kerja Siswa yang lebih baik dan menantang siswa, sehingga siswa tidak bosan, dan tetap bersemangat dalam mengikuti pembelajaran.

Dalam pelaksanan PTK, dukungan dari kepala sekolah dan teman sejawat sangat diperlukan. Pengadaan media gambar seri memerlukan waktu yang cukup lama untuk membuatnya, ini dapat diantisipasi dengan mencari pada komik, atau bacaan anak yang ada pada perpustakaan, majalah anak, atau surat kabar. Diperlukan kreatifitas guru dan kerjasama dengan teman sejawat. Dengan demikian maka hal ini tidak menjadi masalah.

BAB V

Dokumen terkait