HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Pada penelitian mini projek dokter internship bersama ini, sampel air yang diambil adalah dua puluh lima sampel, di mana diambil dari lima sumber mata air penduduk di kecamatan Jenangan. Kelima sumber mata air tersebut yaitu mata air (mata air pegunungan), sumur dalam, sumur dangkal, PDAM, dan WSLIC. Kelima sumber mata air tersebut didapat dari empat desa yaitu desa Semanding ( Mata air pegunungan ), desa Paringan (WSLIC), desa Sraten (Sumur dalam) dan desa Nglayang (Sumur dangkal dan PDAM). Penelitian dilakukan di Laboratorium Kesehatan Daerah Ponorogo. Adapun total sampel yang diteliti oleh peneliti terkhusus ada 5 sampel air bersih dari sumber mata air di Desa Semanding Kecamatan Jenangan Kota Ponorogo.
Sumber mata air di desa Semanding didapatkan dari Mata Air desa Ngrogung Kecamatan Ngebel yang dialirkan melalui perpipaan ke tampungan yang berada tepat di depan polindes Semanding. Setelah itu air yang sudah ditampung dibagi rata ke beberapa rumah masyarakat. Rumah yang mendapat jatah aliran mata air adalah rumah masyarakat yang ikut swadya pembangunan perpipaan dan penampungan. Air dari sumber mata air ini mengalir 24 jam dengan debit yang relatif konstan.
Mata Air di desa Ngrogung Kecamatan Ngebel termasuk Mata air depresi (depression spring) yakni mata air yang disebabkan karena permukaan tanah memotong muka air tanah (water table). Mata air ini dirasa cukup jernih, warna tidak keruh dan tidak berbau. Oleh karena itu banyak dipakai sebagai sumber mata air yang dialirkan tidak Cuma di kecamatan
45
Ngebel, tapi juga ke daerah sekitarnya hingga mencapai desa Semanding kecamatan Jenangan.
Dari mata air ini, peneliti mengambil lima sampel air yang didapatkan dari lima rumah penduduk di desa Semanding. Air yang didpatkan diambil sesuai dengan prosedur pengambilan sampel yang sudah ditetapkan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah Ponorogo.
Setelah itu sampel dikirim segera ke Laboratorium Kesehatan Daerah Ponorogo untuk diperiksa. Hal ini dikarenakan, peneliti mengharapkan kevalidan jumlah MPN coliformnya. Jika jarak waktu pengambilan sampel dengan pemeriksaan sampel tidak terlalu lama diharapkan bakteri coliform belum berkembang biak sehingga data yang didapatkan akan menjadi valid.
Beberapa yang menjadi perhatian dalam pengambilan dan pengiriman sampel adalah :
4.1.1. Prosedur pengambilan sampel. Dalam hal ini peneliti sudah menggunakan alkohol dan korek api sebgai desinfektan pada saluran keluaran pipa kran air. Selanjutnya langkah-langkah pengambilan juga dilakukan dengan selalu menjaga sterilisasi dari alat.
4.1.2. Prosedur pengiriman sampel. Dalam hal ini, peneliti berupaya dengan secepat mungkin sampel yang sudah diambil dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah Ponorogo dengan harapan kondisi sampel masih valid untuk diperiksa. Selama pengiriman sampel, botol yang dipakai dijaga temperaturnya dengan tas pendingin sehingga kuman atau MPN coliform tidak bisa berkembang biak dengan suhu tersebut.
4.1.3. Prosedur pelabelan. Dalam hal ini label yang digunakan nama, jenis sampel, pH, suhu, lokasi dan tanggal pemeriksaan.
Berikut hasil pemeriksaan sampel yang didaptakan dari Laboratorium Kesehatan Daerah Ponorogo.
46
4.2. Pembahasan
Dari data hasil penelitian di Laboratorium Kesehatan Daerah Ponorogo tersebut diatas, sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/ Menkes/Per/IX/1990, dapat kita ketahui bahwa air bersih yang memenuhi syarat di desa Semanding hanyalah 20 % atau 1 dari 5 sampel yang diperiksa. Sedangkan sesuai dengan SK. Dirjen PPM dan PLP No. 1/PO.03.04.PA.91 dan SK JUKLAK PKA Tahun 2000/2001, dapat kita ketahui bahwa sekitar 20 % (1 sampel) masuk kategori A (air bersih yang baik), 40 % (2 sampel) masuk kategori B (air bersih kurang baik), sedangkan sekitar 40% yang lain (2 sampel) masuk kategori E (airbersih yang sangat amat jelek).
Mata air dari pengunungan jika dibandingkan dengan sumber mata air lainnya memang dinilai mempunyai kualitas yang lebih baik. Hal ini dikarenakan mata air pegungungan secara natural sudah mengalamai desinfektan saat melalui media akuifer tanah. Akan tetapi jika dilihat dari hasil penelitian ini tampaknya masih perlu kewaspadaan dan pengelolaan lebih lanjut terkait mata air ini.
Dari analisis data tersebut tampak bahwa air di desa Semanding yang notabene menggunakan air sumber mata air pegunungan masih belum layak dijadikan sumber air bersih untuk penduduk. Dari indikator bakteriologis yang dijadikan parameter uji kualitas air ini, juga tampak bahwa MPN coliform masih banyak terkandung di sumber mata air ini. Jumlah MPN coliform ini mengindikasikan bahwa dalam air tersebut besar kemungkinan masih tercemar dengan tinja atau feses. Selain itu dengan adanya MPN coliform ini, besar kemungkinan pula banyak bakteri yang terkandung dalam air tersebut.
Dalam bidang mikrobiologi pangan, dikenal istilah bakteri indikator sanitasi. Dalam hal ini pengertian pangan adalah pangan seperti yang tercantum pada Undang-Undang Pangan No. 7 tahun 1996 yang mencakup makanan dan minuman (termasuk air minum). Bakteri indikator sanitasi adalah bakteri yang keberadaannya dalam pangan menunjukkan bahwa air atau makanan tersebut pernah tercemar oleh kotoran manusia. Bakteri-bakteri indikator sanitasi tersebut pada umumnya adalah bakteri yang lazim terdapat dan hidup pada usus manusia.
47
Jadi adanya bakteri tersebut pada air atau makanan menunjukkan bahwa dalam satu atau lebih tahap pengolahan air atau makanan tersebut pernah mengalami kontak dengan kotoran yang berasal dari usus manusia dan oleh karenanya mungkin mengandung bakteri patogen lainnya yang berbahaya.
Bakteri yang paling banyak digunakan sebagai indikator sanitasi adalah E.
coli , karena bakteri ini adalah bakteri komensial pada usus manusia hal ini
dikarenakan bakteri tersebut menguntungkan tidak hanya membantu mencerna makanan tetapi juga melindungi organisme berbahaya yang mungkin masuk ke saluran gastrointestinal melalui air dan makanan, umumnya bukan patogen penyebab penyakit sehingga pengujiannya tidak membahayakan dan relatif tahan hidup di air sehingga dapat dianalisis keberadaannya di dalam air yang notabene bukan merupakan medium yang ideal untuk pertumbuhan bakteri.
Keberadaan E. coli dalam air atau makanan juga dianggap memiliki korelasi tinggi dengan ditemukannya patogen pada pangan. Karena uji E. coli yang kompleks, maka beberapa standar, misalnya Standar Nasional Indonesia (SNI), mensyaratkan tidak adanya coliform dalam 100 ml air minum. Air yang kurang bersih atau tercemar tentunya akan berdampak pada kesehatan . Dalam hal ini erat kaitannya dengan angka kejadian penyakit infeksi pada saluran pencernaa khususnya saluran pencernaan bagian bawah. Jika dilihat dari data angka kejadian penyakit infeksi saluran pencernaan bagian bawah, tampak diare menjadi kasus terbanyak di kecamatan Jenagan.
48
Diagram 11. Prosentase Penyakit Infeksi Saluran Pencernaan Bawah di
Puskesmas Jenangan Januari-Juni 2015
49
Angka kejadian diare sangat erat kaitannya dengan sumber mata air yang tercemar. Hal ini lah yang mengindikasikan bahwa terdapat hubungan antara angka kejadian diare yang banyak di kecamatan Jenangan dengan sumber mata air bersih belum memenuhi standar khususnya di desa Semanding yang saat ini masih menggunakan sumber mata air.
50