METODE PENELITIAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Sikap Kognitif Ibu Hamil Trimester III Tentang Hubungan Seksual Selama Kehamilan Di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri.
Data aspek sikap kognitif ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri. Dari 20 responden diperoleh 12 responden (60%) memiliki gambaran sikap positif, dan 8 responden (40%) memiliki gambaran sikap negatif. Seperti yang digambarkan dalam diagram pie berikut ini :
60%
40% positif
negatif
Sumber : Data Penelitian Tanggal 13-20 Juli 2008
Gambar 4.1 Diagram pie gambaran sikap kognitif ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan di BPS Ny.
Katminah Mojoroto Kediri
4.1.2 Gambaran Sikap Afektif Ibu Hamil Trimester III Tentang Hubungan Seksual Selama Kehamilan Di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri.
Data aspek sikap afektif ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri. Dari 20 responden diperoleh 6 responden (30%) memiliki gambaran sikap positif, dan 14 responden (70%) memiliki gambaran sikap negatif. Seperti digambarkan pada diagram pie berikut ini :
30%
70%
positif negatif
Sumber : Data Penelitian Tanggal 13-20 Juli 2008
Gambar 4.2 Diagram pie gambaran sikap afektif ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan di BPS Ny.
Katminah Mojoroto Kediri
4.1.3 Gambaran Sikap Konatif Ibu Hamil Trimester III Tentang Hubungan Seksual Selama Kehamilan di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri.
Data aspek sikap konatif ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri. Dari 20 responden diperoleh 9 responden (45%) memiliki gambaran sikap positif dan 11 responden (55%) memiliki gambaran sikap negatif. Seperti digambarkan pada diagram pie berikut ini :
45%
55%
positif negatif
Sumber : Data Penelitian Tanggal 13-20 Juli 2008
Gambar 4.3 Diagram pie gambaran sikap konatif ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan di BPS Ny.
Katminah Mojoroto Kediri.
4.1.4 Gambaran Sikap Ibu Hamil Trimester III Tentang Hubungan Seksual Selama Kehamilan Di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri.
Dari pengumpulan data di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri tanggal 13-20 Juli 2008 diperoleh 20 responden. Dari jumlah tersebut 9 responden (45%) memiliki gambaran sikap positif tentang hubungan seksual selama kehamilan dan 11 responden (55%) memiliki gambaran sikap negatif tentang hubungan seksual selama kehamilan. Seperti yang digambarkan dalam diagram pie berikut ini :
45%
55%
positif negatif
Sumber : Data Penelitian tanggal 13-20 Juli 2008
Gambar 4.4 Diagram pie gambaran sikap ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri
4.2 Pembahasan
Setelah dianalisis dan melihat hasil yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan pada tanggal 13-20 Juli 2008 tentang gambaran sikap ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan di BPS Ny.
Katminah Mojoroto Kediri, akan dibahas di bawah ini.
4.2.1 Gambaran Sikap Kognitif Ibu Hamil Trimester III Tentang Hubungan Seksual Selama Kehamilan Di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri.
Dari diagram pie 4.1 di atas tentang gambaran sikap ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan diperoleh 12 responden (60%) mempunyai gambaran sikap positif dan 8 responden (40%) mempunyai gambaran sikap negatif.
Pengetahuan merupakan domain atau dasar yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang karena dari pengalaman pribadi tentang hubungan seksual ternyata dapat menjadikan perilaku yang lebih langgeng daripada perilaku yang tidak di dasari pengetahuan. (Soekidjo N, 2003).
Dari data tentang aspek kognitif sikap ibu hamil tersebut diketahui bahwa sebagian besar ibu hamil mempunyai pengetahuan yang positif tentang hubungan seksual selama kehamilan. Hal ini dapat dilihat dari angket yang telah diberikan pada ibu hamil, yaitu dari 6 pernyataan yang bersifat kognitif sebagian besar ibu hamil setuju bahwa hubungan seksual merupakan hubungan yang bukan hanya alat kelamin dan daerah yang mudah terangsang tetapi juga psikologis dan emosi. Ini dapat dilihat dari 20 responden yang mengisi angket tentang pengetahuan ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan, 19 responden (95%) mengerti arti dari hubungan seksual, yaitu mereka mengerti bahwa hubungan seksual tidak harus dilakukan dengan coitus saja tetapi juga bisa dilakukan dengan yang lain misal ciuman, sentuhan, dll.
Selain itu juga ada ibu hamil trimester III yang tidak setuju dengan pernyataan hubungan seksual dapat dilakukan kapan saja selama kehamilan dalam keadaan normal sebesar 8 orang (40%) karena mereka menganggap hubungan seksual yang dilakukan selama kehamilan dapat membahayakan bayinya sedangkan untuk pernyataan pada kehamilan dengan plasenta previa yang menyetujui tetap boleh melakukan hubungan seksual sebanyak 5 orang, ini membuktikan bahwa sebagian ibu hamil sudah mengerti bahwa pada plasenta previa tidak boleh melakukan hubungan seksual karena dapat menyebabkan perdarahan.
Pada trimester III kehamilan biasanya gairah seksual ibu menurun karena terjadi perubahan-perubahan pada ibu baik fisik maupun psikologis, misalnya ibu merasa cepat lelah, sering kencing, perutnya yang semakin besar sehingga membuat ibu tidak nyaman saat melakukan hubungan seksual. Ini dapat dilihat dari angket yang diisi oleh ibu hamil sebagian besar setuju bahwa menurunnya gairah seksual adalah hal yang normal.
Sebagaimana yang telah di kemukakan, komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap (Azwar.2005).
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman pribadi atau informasi dari orang lain, sehingga ibu hamil dapat memiliki pengetahuan yang positif.
Yaitu ibu mempercayai bahwa selama kehamilan masih boleh melakukan hubungan seksual selama tidak membayakan bagi kehamilannya dan dapat memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Menurut Soekidjo
Notoatmojo (2003) bahwa pengetahuan merupakan hasil tahu setelah seseorang melakukan pengindraan melalui panca indra.
4.2.2 Gambaran Sikap Afektif Ibu Hamil Trimester III Tentang hubungan Seksual Selama Kehamilan Di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri.
Dari diagram pie 4.2 di atas tentang gambaran sikap ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan di peroleh 6 responden (30%) mempunyai gambaran sikap positif dan 14 responden (70%) mempunyai gambaran sikap negatif.
Sebagian ibu hamil merasa khawatir dan cemas melakukan hubungan seksual menjelang persalinannya karena pada trimester III libido turun kembali dan perubahan fisik yang terjadi pada ibu hamil tua sehingga ibu merasa tidak nyaman saat melakukan hubungan seksual serta ibu merasa cepat lelah (Suririah, 2004).
Dari data tentang aspek sikap afektif ibu hamil tersebut diketahui bahwa sebagian besar ibu hamil mempunyai sikap yang negatif tentang hubungan seksual selama kehamilan, yaitu khawatir atau takut melakukan hubungan seksual selama kehamilan dapat menyakiti bayinya. Perasaan itu muncul dari diri ibu hamil sendiri karena ibu terlalu khawatir terjadi sesuatu pada janin yang di kandungnya. Hal ini dapat di buktikan dari angket yang telah diberikan pada ibu hamil, yaitu dari 6 pernyataan yang bersifat afektif sebagian besar ibu hamil menyatakan takut melakukan hubungan seksual pada tiga bulan terakhir karena dapat menyakiti bayinya. Kekhawatiran muncul dari pengalaman dan informasi lain tentang hubungan seksual
selama kehamilan dapat menyebabkan keguguran, melukai bayinya dan menyebabkan kelahiran prematur.
Berdasarkan angket yang diisi didapatkan 11 orang khawatir atau takut melakukan hubungan seksual selama kehamilan karena dapat membuat ketuban pecah sehingga terjadi kelahiran. Padahal sebenarnya kelahiran tersebut tidak disebabkan oleh penis yang masuk ke dalam vagina dan yang menyentuh ketuban tetapi adanya sperma yang mengandung hormon prostaglandin sehingga menyebabkan kontraksi uterus.
Selain itu pada trimester III biasanya ibu hamil mengalami kecemasan menghadapi proses kelahiran bayinya sehingga mereka menghindari hal-hal yang dianggapnya dapat menyakiti bayinya diantaranya berhubungan seksual.
Kekhawatiran ibu hamil dipengaruhi oleh kepercayaaan yang dipercayai (Azwar. 2005). Menurut Heri Purwanto (1999), perasaan dan emosi yang baik menunjukkan tingkat toleransi dan adaptasi tinggi dalam melakukan tindakan yang disebabkan oleh adanya kemampuan mengendalikan emosi dari pengaruh luar.
4.2.3 Gambaran Sikap Konatif Ibu Hamil Trimester III Tentang Hubungan Seksual Selama Kehamilan Di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri.
Dari diagram pie 4.3 di atas tentang gambaran sikap ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan di peroleh 9 responden (45%) mempunyai gambaran sikap positif dan 11 responden (55%) mempunyai gambaran sikap negatif.
Pada trimester III kehamilan libido kembali menurun membuat rasa nyaman ibu jauh berkurang, pegal di punggung dan pinggul, tubuh bertambah dengan cepat, nafas lebih cepat sehingga ibu malas untuk melakukan hubungan seksual (Suririah, 2004)
Dari data tentang aspek sikap konatif ibu hamil tersebut diketahui bahwa sebagian besar ibu hamil trimester III mempunyai perilaku yang negatif terhadap hubungan seksual selama kehamilan. Ibu hamil cenderung menjauhi atau tidak mau melakukan hubungan seksual mulai usia kehamilan 7 bulan keatas dengan berbagai alasan, salah satunya ialah dengan perutnya yang semakin membesar sehingga tidak nyaman saat melakukan hubungan seksual dan khawatir dapat melukai bayi yang sedang di kandungnya.
Berdasarkan angket yang telah diisi ibu hamil trimester III sebagian besar yaitu 16 orang setuju bahwa saat melakukan hubungan seksual usahakan agar perut ibu tidak tertindih oleh berat badan suami sehingga ibu harus berhati-hati dalam memilih posisi saat melakukan hubungan seksual, hal ini yang membuat ibu takut melakukan hubungan seksual selama kehamilan.
Sebagian ibu hamil setuju bahwa pada waktu melakukan hubungan seksual hindari hal-hal yang dapat menyebabkan kontraksi misalnya merangsang putting susu dan usahakan sperma dikeluarkan di luar vagina karena sperma mengandung hormon prostaglandin. Selain itu 10 orang juga menyetujui saat melakukan hubungan seksual tidak boleh memasukkan sesuatu ke dalam vagina ibu karena dapat menyebabkan infeksi.
Dalam melakukan hubungan seksual ada beberapa posisi antara lain : pria diatas tapi ia miring ke salah satu sisi atau bertahan dengan lengan, agar berat badannya tak menekan wanita, wanita di atas tapi hindari penetrasi yang dalam, pria duduk di kursi atau tempat tidur dan wanita berada di atasnya. Selain tak membebani kehamilan, posisi ini juga memudahkan wanita mengatur irama hubungan sekaligus mengurangi tekanan di dinding rahim, pria-wanita berbaring menghadap satu arah dengan posisi wanita di depan pria. Penetrasi dilakukan pria dari belakang, Wanita dalam posisi lutut-siku (menungging). Penetrasi dilakukan pria dari belakang. (Hasto P, 2006).
Tetapi pada prinsipnya ibu hamil boleh melakukan hubungan seksual selama perut ibu tidak tertindih saat berhubungan dan tidak mempunyai riwayat keguguran selama kehamilannya. Meskipun ibu tahu hubungan seksual selama kehamilan boleh dilakukan asalkan kehamilannya dalam keadaan normal tapi sebagian ibu masih merasa takut untuk melakukan hubungan seksual karena khawatir terjadi sesuatu pada janinnya misalnya dapat terjadi kelahiran lebih dini atau prematur. Selain itu pada kehamilan trimester III masalah yang sering muncul ialah sering kencing karena kandung kemih tertekan kepala bayi sehingga sering kencing, hal inilah yang membuat ibu merasa tidak nyaman saat melakukan hubungan seksual.
Menurut Heri Purwanto (1999), bahwa sikap merupakan suatu kondisi yang intern dalam diri individu yang berperan dalam tindakan yang diambil lebih-lebih apabila terdapat berbagai kemungkinan untuk bertindak. Aspek
yang paling penting adalah aspek kemauan dan kerelaan untuk bertindak meskipun aspek kognitif dan aspek afektif tetap berperan.
4.2.4 Gambaran Sikap Ibu Hamil Trimester III Tentang Hubungan Seksual Selama Kehamilan Di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri.
Dari diagram pie 4.4 di atas tentang gambaran sikap ibu hamil trimester III tentang hubungan seksual selama kehamilan di dapatkan 9 responden (45%) memiliki sikap positif dan 11 responden (55%) memiliki sikap negatif.
Banyak mitos tentang seks dan kehamilan yang berkembang di masyarakat dan dianggap sebagai suatu kebenaran sehingga perilaku seksual juga dipengaruhi dan mengikuti informasi yang salah sesuai dengan mitos tersebut, diantaranya: mengaitkan posisi hubungan seksual dengan jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan, hubungan seksual tidak boleh dilakukan agar tidak mengganggu perkembangan bayi, tetapi ada juga yang menganggap hubungan seksual harus sering dilakukan selama masa hamil, agar bayi di dalam rahim dapat bertumbuh subur dan sehat (Bibilung, 2007).
Posisi dalam melakukan hubungan seksual juga menentukan sikap seseorang untuk melakukan hubungan seksual saat hamil terutama pada usia kehamilan 7 bulan ke atas, karena dengan perubahan fisik yang dialami ibu, biasanya gairah ibu menurun. Sebaiknya pada wanita hamil tua waktu melakukan coitus penis tidak terlampau keras menyentuh porsio karena uterus gravidus agak berpindah tempat kearah kranial. (Sarwono P, 2005).
Dari diagram 4.4 diketahui bahwa sikap ibu hamil trimester III cenderung untuk menjauhi, tidak menyukai, menghindari melakukan hubungan seksual selama kehamilannya. Hal ini dapat dilihat dari hasil angket yang diberikan kapada ibu hamil trimester III di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri, yaitu sebagian ibu hamil menyetujui bahwa hubungan seksual pada waktu hamil dapat mengganggu kenyamanan bayi. Mereka menganggap dengan masuknya alat kelamin pria ke dalam vagina ibu dapat mengusik ketenangan bayi yang ada di dalam rahim sehingga mereka takut dapat terjadi kelahiran lebih dini (prematur).
Tetapi sebenarnya hubungan seksual tidak mengganggu kenyamanan bayi karena bayi di dalam kandungan dilindungi selaput dan cairan ketuban yang berfungsi sebagai peredam kejutan yang sangat baik sehingga gerakan saat senggama maupun kontraksi rahim saat orgasme tidak menggangu kenyamanan bayi dan tidak menyebabkan kelahiran prematur. Untuk itu ibu tidak perlu takut saat melakukan hubungan seksual selama kehamilan.
Selain itu pada trimester III libido menurun kembali sehingga sikap ibu untuk melakukan hubungan seksual menurun, ini dipengaruhi oleh beberapa alasan antara lain: rasa nyaman sudah jauh berkurang, pegal di punggung dan pinggang, tubuh yang bertambah berat dengan cepat, dan cepat lelah (Suririah, 2004).
Sebagian perempuan masih merasa takut untuk melakukan hubungan seksual selama kehamilannya karena terjadi perubahan pada tubuhnya misalnya ibu merasa cepat lelah, semakin tua usia kehamilan perut ibu
bertambah besar pula dan sering kencing sehingga gairah seksual ibu menurun karena ibu merasa tidak nyaman.
Dari pernyataan di atas didapatkan ibu hamil trimester III mempunyai sikap yang negatif artinya cenderung untuk menjauhi, menghindari, tidak menyukai untuk melakukan hubungan seksual selama kehamilan.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.1.1. Dari 20 ibu hamil trimester III di BPS Ny. Katminah Mojoroto Kediri, terdapat 11 orang (55%) memiliki gambaran sikap yang negatif tentang hubungan seksual selama kehamilan.
5.1.2. Pada aspek kognitif 12 orang (60%) ibu hamil trimester III memiliki sikap positif tentang hubungan seksual selama kehamilan.
5.1.3. Pada aspek afektif 14 orang (70%) ibu hamil trimester III memiliki sikap negatif tentang hubungan seksual selama kehamilan.
5.1.4. Pada aspek konatif 11 orang (55%) ibu hamil trimester III memiliki sikap negatif tentang hubungan seksual selama kehamilan.
5.2 Saran
5.2.1. Bagi Tempat Penelitian
Diharapkan agar bidan memberikan penjelasan kepada ibu hamil tentang hubungan seksual yang aman selama kehamilan.
Hal ini dapat dilakukan pada saat ibu periksa kehamilan sehingga
ibu hamil tidak takut melakukan hubungan seksual selama kehamilan.
5.2.2. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan Karya Tulis Ilmiah ini dapat digunakan sebagai acuan penelitian selanjutnya tentang hubungan seksual selama kehamilan misalnya faktor-faktor yang menyebabkan ibu enggan untuk melakukan hubungan seksual.