• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

Senyawa 1-(2-aminoetilamino)-3-(4-alil-2-metoksifenoksi)propan-2-ol diperoleh melalui reaksi eterifikasi dilanjutkan aminasi dengan menggunakan bahan dasar eugenol dengan zat antara 2-((4-alil-2-metoksifenoksi)metil)oksiran yang selanjutnya secara in-situ diaminasi menggunakan etilendiamina pada suhu 60oC – 65 oC. Dari 3.28 gram (0,02 mol) eugenol yang digunakan diperoleh residu hasil destilasi sebanyak 2,5 gram (89,28 %) berwujud gel berwarna coklat kekuningan.

Dari 2,5 gram hasil yang diperoleh, diambil 1 gram untuk dianalisis menggunakan kromatografi lapis tipis preparatif menggunakan pengembang pelarut etil asetat : n-heksan : amonia = 9 ml : 1 ml : 1 tetes serta fiksasi menggunakan lampu UV, menghasilkan sebanyak 0,6 gram (53,7%) rendemen murni dan memberikan nilai Rf 0.58.

Hasil anasilis menggunakan spektroskopi FT-IR terhadap senyawa hasil sintesis memberikan spektrum dengan puncak serapan pada daerah bilangan gelombang 3302,13 cm-1; 3078,39 cm-1; 2939,52 cm-1; 1033,85 cm-1; 1512,19 cm-1; 1666,50 cm-1 (Gambar 4.1), sedangkan spektrum FT-IR dari eugenol sebagai bahan dasar memberikan puncak serapan pada daerah bilangan gelombang 3512,84 cm-1; 3078,93 cm-1; 2976,89 cm-1; 1641,82 cm-1; 1233,31 cm-1; 1512,22 cm-1; 1434,50 cm-1; 1035,39 cm-1; 819,49 cm-1 dan 950,79 cm-1 (Lampiran 4).

.

Gambar 4.1. Spektrum FT-IR 1-(2-aminoetilamino)-3-(4-alil-2-metoksifenoksi) propan-2-ol

Hasil analisis menggunakan spektrofotometer 1H-NMR diperoleh puncak spektrum sebanyak 9 (sembilan) puncak lingkungan proton pergeseran kimia (δ) yaitu 2,00 ppm (Singlet), 2,75 ppm (triplet), 3,67 ppm (triplet), 3,32 ppm (doublet), 3,30 ppm (Quartet), 3.89 ppm (doublet), 3,34 (singlet), 6,73(double of doublet, singlet, triplet), 5,90 (multiplet) seperti gambar 4.2 dibawah ini sedangkan spektrum 1H-NMR eugenol sebagai bahan dasar untuk sintesis dapat dilihat pada Lampiran 4:

Gambar 4.2 Spektrum 1H-NMR 1-(2-aminoetilamino)-3-(4-alil-2-metoksifenoksi) propan-2-ol

4.2 Pembahasan

Senyawa 1-(2-aminoetilamino)-3-(4-alil-2-metoksifenoksi) propan-2-ol diperoleh melalui eterifikasi eugenol dengan epiklorohidrin diikuti aminasi secara in-situ dengan etilendiamina melalui tahapan reaksi berikut (Gambar 4.3):

Gambar 4.3 Reaksi Pembentukan Senyawa 1-(2-aminoetilamino)-3-(4-alil-2-metoksifenoksi) propan-2-ol

Tahap pertama dilakukan dengan mereaksikan eugenol bersama natrium metoksida mengunakan pelarut metanol untuk membentuk natrium eugenolat.

Natrium eugenolat yang diperoleh dipisahkan dari metanol menggunakan rotaryevaporator. Tujuan dilakukan pembentukan natrium eugenolat dalam hal ini untuk meningkatkan nukleofilitas atom O pada gugus -OH yang berada dalam bentuk ikatan kovalen menjadi O- Na+.

Natrium eugenolat kemudian direaksikan dengan epiklorohidrin pada suhu 117 oC - 118oC selama 4 jam sekaligus dilakukan pemantaun reaksi menggunakan kromtografi lapis tipis menggunakan plat silika GF254 dan campuran pelarut metanol : kloroform : amonia = 8 ml : 2 ml : 1 tetes sebagai pengembang serta fiksasi menggunakan lampu UV. Hasil pemantauan reaksi pada plat KLT dapat dilihat pada gambar 4.4 dibawah ini.

Gambar 4.4 Kromatogram Hasil Reaksi Eterifikasi Menggunakan Epiklorohidrin untuk Pemantauan Setiap 1,2,3,4 dan 5 Jam

Reaksi berlangsung optimal setelah 4 jam, karena setelah diuji ketika dilanjutkan sampai 5 jam berikutnya, noda pada plat KLT tetap memberi rasio besaran noda yang sama dengan harga Rf yang sama.

Tahap selanjutnya adalah reaksi pembentukan senyawa 1-(2-aminoetilamino)-3-(4-alil-2-metoksifenoksi) propan-2-ol dari reaksi adalah secara in-situ dengan melakukan penambahan etilendiamina setetes demi setetes kedalam senyawa antara dan berlangsung pada suhu 60oC – 65oC selama 3 jam sambil dilakukan pemantauan reaksi melalui kromatografi lapis tipis dengan menggunakan plat silika GF254 sebagai adsorben dan campuran palarut metanol : kloroform : amonia = 8 ml : 2 ml : 1 tetes sebagai pengembang serta lampu UV sebagai fiksasi. Hasil yang diperoleh seperti pada gambar kromatogram dibawah ini (Gambar 4.5)

.

Gambar 4.5 Kromatogram Reaksi Aminasi Menggunakan Etilendiamina untuk Pemantauan Setiap 1,2,3 dan 4 Jam

Setelah 3 jam, reaksi telah berlangsung optimal, karena setelah diuji ketika dilanjutkan sampai 4 jam berikutnya, noda pada plat KLT tetap memberi rasio besaran noda yang sama dengan harga Rf yang sama.

Pemurnian senyawa dilakukan dengan destilasi vakum untuk memisahkan molekul target dari pereaksi epiklorohidrin dan juga etilendiamina yang masih bersisa.

Untuk pemurnian senyawa yang diperoleh yaitu residu dari hasil destilasi dilakukanlah kromatografi lapis tipis preparatif terhadap residu sebelum dilakukan analisis struktur dengan spektroskopi FT-IR maupun 1H-NMR.

KLT preparatif dilakukan dengan menggunakan silika GF254 dan pengembang campuran pelarut etil asetat : n-heksan : amoniak dengan perbandingan 9 ml : 1 ml : 1 tetes sebagai pengembang serta fiksasi menggunakan lampu UV dan memberikan harga Rf 0,58. Residu destilasi yang diperoleh berupa gel berwarna coklat kekuningan dengan bobot 2,5 gram (89,28%), diambil 1 gram untuk dianalisis melalui kromatografi lapis tipis menghasilkan senyawa target sebanyak 0.6 gram (53,7%).

Berdasarkan struktur 1-(2-aminoetilamino)-3-(4-alil-2-metoksifenoksi) propan-2-ol, senyawa ini dapat digunakan sebagai pestisida nabati karena memiliki gugus hidroksil dan gugus amin yang merupakan bahan penting dalam pembuatan pestisida terhadap insektisida. Insektisida bekerja dengan cara menghambat enzim kholinesterase oleh gugus fungsional amina dan hidroksil yang memiliki fungsi penting dalam sistem syaraf serangga sehingga mampu mematikan serangga pengganggu tanaman (Sudarmo 1991).

Hasil analisis senyawa 1-(2-aminoetilamino)-3-(4-alil-2-metoksifenoksi) propan-2-ol menggunakan spektrofotometri inframerah (Gambar 4.1) memberikan puncak serapan pada daerah bilangan gelombang (ʋ) 3302,13 cm-1 yang merupakan vibrasi O-H yang sekaligus tumpang tindih dengan N-H dari gugus (-COH-CH2-NH-CH2-CH2-NH2), kemudian didukung oleh ʋ= 3078,39 cm-1 yang menunjukkan vibrasi stretching C-H sp2 , ʋ=

2939,52 cm-1 menunjukkan vibrasi ulur C-H sp3 pada CH2, ʋ= 1033,85 cm-1 menunjukkan vibrasi ulur asimetrik C-O-C, ʋ= 1512,50 cm-1 menunjukkan gugus C=C aromatis, dan C=C pada vinil ditunjukkan pada ʋ= 1666,50 cm-1.

Hasil analisis menggunakan spektrofotometer 1H-NMR (Gambar 4.2) diperoleh sebanyak 9 (sembilan) puncak lingkungan proton pergeseran kimia (δ) yaitu 2,00 ppm (Singlet), 2,75 ppm (triplet), 3,67 ppm (triplet), 3,32 ppm (doublet), 3,30 ppm (Quartet), 3.89 ppm (doublet), 3,34 (singlet), 6,73(double of doublet, singlet, triplet), 5,90 (multiplet). Berikut ini data pergeseran kimia

(Tabel 4.1) disertai dengan gambar struktur (Gambar 4.6) senyawa yang disintesis.

Tabel 4.1 Pergeseran Kimia Senyawa Target Senyawa 1-(2-aminoetilamino)-3-(4-alil-2-metoksifenoksi)propan-2-ol

Nomor Posisi Jumlah

Proton Signal Pergeseran

Kimia (δ)

1 (-NH2) 2H Singlet 2,00 ppm

2 (-CH2-) 2H Triplet 2,75 ppm

3 (N-CH2-) 2H Triplet 3,67 ppm

5 (-CH2-N) 2H Doublet 3,32 ppm

6 (-CH-OH) 1H Quartet 3,30 ppm

8 (O-CH2-) 2H Doublet 3,89 ppm

3H Double of doublet, Singlet, Triplet

6,73 ppm

5H Multiplet 5,90 ppm

11 (O-CH3) 3H Singlet 3,34 ppm

Benzena tersubstitusi orto dan para memberikan puncak lingkungan proton pergeseran kimia (δ) yaitu 6,73 ppm (doublet-doublet), 6,85 ppm (triplet) dan 6,88 ppm (singlet). Pada senyawa alil pemecahan spin terjadi berdasarkan proton – proton yang bergandengan seperti yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini (Gambar 4.7).

CH2-CH=CH2

Gambar 4.7 Penggandengan Antarproton yang Terjadi pada Senyawa Alil

Penggandengan antarproton yang terjadi pada ikatan-ikatan σ C-H di kedua sisi ikatan rangkap menyebabkan munculnya signal multiplet pada linkungan proton pergeseran kimia 5,90 ppm.

BAB 5

Dokumen terkait