• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELIATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Pada bab ini, hasil penelitian akan dirunutkan secara rinci sesuai mengenai

“Efektivitas pembelajaran seni ilustrasi pada masa pandemi di kelas X IPA 1 SMA Negeri 4 Bulukumba provinsi Sulawesi Selatan”, peneliti memperoleh data sebagai berikut:

1. Hasil Observasi

Pada masa pandemi, pembelajaran seni rupa khususnya seni ilustrasi pada siswa kelas X IPA 1 SMA Negeri 4 Bulukumba tidak semua aplikasi pembelajaran selama daring (dalam jaringan) dapat dipakai begitu saja. Harus mempertimbangkan kebutuhan siswa dan guru, penyesuaian materi ajar, keterbatasan perangkat dalam hal ini handphone (telfon genggam) dan jaringan. Di sisi lain, untuk terciptanya suasana belajar yang efektif bergantung pada kedisiplinan dan kesadaran semua pihak. Hal ini juga menjadi kekurangan selama belajar daring dan masa pandemi, materi yang diajarkan belum tentu dipahami oleh siswa. Berdasarkan pengalaman mengajar secara daring dan di masa pandemi, sistem ini hanya efektif untuk memberi penugasan secara teori, tidak secara praktik.

2. Gambaran Responden Penelitian

Jumlah responden yang membantu hasil penelitian ini berjumlah 35 orang siswa dari kelas X IPA 1 SMA Negeri 4 Bulukumba, berikut tabel daftar nama siswa yang berpartisipasi sebagai responden:

Tabel 4.1: Daftar nama siswa (responden)

No Nama L/P

24 Nurul Fatimah Syahra P

Tabel 4.1. Presentase Hasil Belajar Siswa

Dari data diatas berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada peserta didik maka diperoleh tanggapan tentang efektivitas penyampaian materi yang diberikan oleh guru pada saat pembelajaran daring. Sebagian

Penilaian Jumlah Frekuensi (%)

besar peserta didik menilai efektif (11%), beberapa peserta didik menilai biasa saja (29%), dan yang menilai penyampain materi kurang efektif dipembelajaran daring sebanyak (60%).

Setelah ditinjau hasil kuisioner yang berupa petanyaan mengenai efektifitas pembelajaran melalui google form yang dibagikan kepada peserta didik secara daring maka didapatkan hasil efektivitas pembelajaran daring terhadap hasil belajar, sebagian besar peserta didik menilai pembelajaran daring cukup efektif (29%) untuk meningkatkan hasil belajar, dan ada juga yang menyatakan efektif (11%) dalam meningkatkan hasil belajar. Ternyata ada juga beberapa yang menyatakan pembelajaran daring tidak efektif (60%) dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik. Hasil efektivitas di atas bisa dilihat dalam tabel 4.1 dan gambar 4.2.

Hasil Penilaian Jumlah frekuensi (%)

Efektif 5 14

Cukup Efektif 13 37

Kurang Efektif 17 49

35 100

Tabel 4.2. Efektifitas Pembelajran Daring

Gambar 4.3 Diagram Efektifitas Pembelajaran Daring

3. Dampak Positif dan Negatif yang Dirasakan Peserta Didik dalam Pembelajaran Seni Budaya (Ilustrasi) Secara Daring

Berdasarkan kuesioner tentang efektivitas pembelajaran seni budaya secara daring yang dirasakan siswa dapat disimpulkan bahwa, dampak positif yang mereka rasakan yaitu, siswa yang awalnya merasa kurang saat pembelajaran luring namun dengan adanya pembelajaran daring siswa merasa lebih santai, dan tidak malu bertanya karena tidak secara langsung bertemu dengan teman sebaya dan guru, selain itu jika siswa mereasa kurang tentang materi yang dijelaskan maka siswa bisa mencari video atau gambar, alat music, dan materi seni budaya lainnya melalui Google. Siswa merasa lebih tenang dan santai saat melakukan pembelajaran dari rumah, dimana pembelajaran bisa dilakukan dimana saja cukup dengan mendengarkan dan melihat guru menjelaskan materi pembelajaran siswa sudah merasa nyaman dengan hal tersebut, kurangnya

0 10 20 30 40 50

Efektif Cukup Efektif Tidak Efektif Jumlah Frekuensi (%)

keributan seperti saat pembelajaran luring membuat siswa menjadi lebih focus dalam mengerjakan tugas.

Tanggapan siswa mengenai dampak negatif pembelajaran daring yang mereka rasakan, dari semua jawaban dapat disimpulkan bahwa kurang ketatnya penjagaan guru, dimana saat guru memberikan tugas ada siswa yang tidak mengumpulkan tugas sampai menunggu waktu batas pengumpulan tugas karena seluruh siswa memiliki akses dalam menggunakan link pengumpulan tugas ada siswa yang menggunakan hal tersebut secara sengaja mengambil karya ilustrasi dari internet sehingga ia bisa mendapatkan nilai yang bagus, pembuatan tugas membuat karya ilustrasi langkah demi langkah dengan cara merekam proses karya ilustrasi siswa melalui video. Merekam aktivitas praktik seni budaya memiliki ukuran video yang besar sehingga saat pengumpulan tugas siswa mengalami kendala, terlebih jika jaringan internet dan paket internet kurang memadai. Selain itu siswa mengeluhkan saat melakukan materi praktik memainkan alat music tradisional dimana siswa hanya bisa melakukan praktik memainkan alat music yang disediakan di sekolah, kurangnya alat pendukung dirumah membuat materi praktik seni budaya menjadi tidak lancar. Kendala jaringan internet menjadi alasan paling banyak yang dilontarkan oleh siswa, jaringan internet sangat mempengaruhi kelancaran belajar mengajar di kelas X IPA 1 SMAN 4 Bulukumba.

Peserta didik memberikan saran untuk pembelajaran daring dimana siswa mengharapkan untuk tidak terlalu banyak menggunakan aplikasi pembelajaran daring sehingga tidak memakan ruang penyimpanan yang banyak, kurangnya kuota internet siswa mengharapkan sekolah memberikan bantuan kuota internet diberikan satu minggu sekali karena aplikasi Google Meet, mengirim tugas video pembelajaran memakan kuota internet yang banyak. Selain itu siswa mengharapkan guru menggunakan media pembelajaran lain sehingga siswa tidak bosan dalam proses belajar mengajar.

Aplikasi penyimpanan yang digunakan oleh guru seni budaya di kelas X IPA 1 SMAN 4 Bulukumba yaitu Google Drive. Google Drive merupakan aplikasi penyimpan data tersinkroniasi yang dikembangkan oleh Google. Penggunaan Google Drive pada pembelajaran seni budaya berbasis daring dilakukan ketika guru memberikan tugas praktik dan harus mengumpulkan tugas dalam bentuk video.

B. Pembahasan

Pada bagian ini peneliti akan menguraikan hasil penelitian yang telah dilakukan di lapangan. beberapa proses belajar mengajar siswa dan guru dilaksanakan dirumah dengan metode pembelajaran daring dan observasi tatap muka setiap dua minggu sekali untuk menjawab beberapa permasalahan sesuai dengan analisa data berdasarkan pada kenyataan yang dihadapi atau ditemukan oleh peneliti.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif dapat dikategorisasikan efektivitas pembelajaran daring berdasarkan kategorisasi hasil belajar peserta didik yang terlihat pada Tabel 4.2 menunjukkan bahwa kategori hasil belajar dari 35 peserta didik, jumlah siswa yang mendapatkan nilai kategori tinggi hanya 4 orang, kategori sedang 10 orang dan kategori rendah 21 orang.

Selanjutnya hasil analisis data berdasarkan efektivitas penyampaian materi oleh guru mata pelajaran dapat dilihat pada tabel 4.3 maka didapatkan hasil peserta didik yang memilih kategori efektif sebanyak 4 orang (11%), kategori efektif atau biasa saja sebanyak 10 orang (29%), dan ada beberapa peserta didik yang memilih penyampaian materi secara daring tidak efektif sebanyak 21 orang (60%).

Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran daring dinilai tidak efektif. Khususnya, karena memiliki banyak kendala khususnya dibagian jaringan dan kuota internet.

Hasil penelitian ini didukung hasil-hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pembelajaran daring dapat meningkatkan hasil belajar menggunakan media pembelajaran (Damanti, Suradika, & Ulfaniatari 2020;

Nurhayati, 2020). Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang mampu menjadikan peserta didik mandiri sdan tidak bergantung dengan orang lain, sebab peserta didik akan lebih fokus pada layar handphone selama pembelajaran berlangsung (Syarifudin, 2020).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Khusniyah dan Hakim (2019) menunjukkan bahwa ada pengaruh positif dari blog terhadap proses

pembelajaran membaca bahasa Inggris sehingga berdampak pula terhadap peningkatan nilai yang diperoleh. Fauziyah (2020) dalam penelitiannya mengenai Dampak Covid-19 Terhadap Efektifitas Pembelajaran Daring Pendidikan Islam menyatakan bahwa efektivitas pembelajaran daring ini tergantung dari teknologi, pendidik dan peserta didik itu sendiri, sebagai pendidik dan siswa harus memahami teknologi, dan bagi peserta didik juga perlu kepercayaan diri agar dalam melakukan pembelajaran ini selalu semangat dan fokus.

Menurut Dhull dan Sakshi (2017) pembelajaran daring memungkinkan peserta didik memiliki keleluasaan waktu belajar, sehingga mereka dapat belajar kapanpun dan dimanapun. Selanjutnya Dewi (2020) mengungkapkan bahwa pembelajaran daring sebaiknya dilaksanakan sesuai dengan kemampuan masing- masing sekolah.

Pembelajaran daring tidak bisa terlepas dari jaringan internet. Koneksi jaringan internet menjadi salah satu kendala yang dihadapi peserta didik karena tempat tinggal di daerah pedesaan. Kalaupun ada yang menggunakan jaringan seluler terkadang jaringan tidak stabil, karena letak geografis yang masih jauh dari jangkauan sinyal seluler. Hal ini menjadi permasalahan yang banyak terjadi pada peserta didik yang mengikuti pembelajaran dalam penelitian ini sehingga biasa saja efektifnya pembelajaran daring dalam meningkatkan hasil belajar Seni Budaya (bukan sangat efektif dan juga bukan tidak efektif).

Berdasarkan hasil uraian tersebut, penulis mengklarifikasikan faktor yang mempengaruhi hasil belajar ke dalam dua faktor yaitu, faktor internal dan

faktor eksternal. Faktor internal ini merupakan faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik itu sendiri, seperti minat, bakat, dan motivasi belajar.

Sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri pribadi peserta didik atau berasal dari lingkungan.

Efektivitas pembelajaran daring juga tergantung dari kondisi ekonomi orang tua peserta didik, tidak semua orang tua peserta didik itu memiliki ekonomi yang stabil dan memadai. Banyak dari mereka yakni orang tua peserta didik yang memiliki ekonomi di bawah rata-rata, belum lagi tuntutan hidup menjadi halangan bagi orang tua peserta didik untuk dapat membeli kouta internet bagi anaknya.

51 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait