BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
Hasil penelitian mengenai “faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa tingkat III dalam matakuliah praktek klinik kebidanan Agatha Pematangsiantar tahun 2008”
Tabel 1
Gambaran frekwensi mahasiswa berdasarkan jawaban mahasiswa tentang faktor internal
FAKTOR INTERNAL No Variabel Internal SS S TS STS SKOR RATA- RATA 4 3 2 1 1 Intelegense 45 180 14 42 0 0 0 0 222 3.76 2 Sikap 30 120 20 60 9 18 0 0 198 3.36 3 Bakat 32 128 27 81 0 0 0 0 209 3.54 4 Menarik 36 144 20 60 3 6 0 0 210 3.56 5 Motivasi 36 144 20 60 3 6 0 0 210 3.56
Jumlah rata-rata faktor internal 17.78
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa faktor internal yang dilihat dari nilai rata-rata yang paling tinggi adalah Intelegensi yaitu 3,76 dan yang paling rendah adalah sikap yang nilai rata-ratanya 3,36.
Tabel 2
Gambaran frekwensi mahasiswa berdasarkan jawaban mahasiswa tentang Faktor Eksternal FAKTOR EKSTERNAL No Variabel eksternal SS S TS STS SKOR RATA- RATA 4 3 2 1 1 Keluarga 33 132 26 78 0 0 0 0 210 3.56 2 Fasilitas 35 140 15 45 9 18 0 0 203 3.44 3 Masyarakat 32 128 11 33 14 28 2 2 191 3.24 4 Lingkungan 30 120 14 42 15 30 0 0 192 3.25
Jumlah rata-rata faktor eksternal 13.49
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa faktor eksternal yang dilihat dari nilai rata-rata yang paling tinggi adalah keluarga yaitu 3,56 dan yang paling rendah adalah masyarakat yang nilai rata-ratanya 3,24
Tabel 3
Gambaran frekwensi mahasiswa berdasarkan jawaban mahasiswa tentang Faktor Kemampuan Dosen
KEMAMPUAN DOSEN No Variabel kemampuan SM M TM STM SKOR RATA-RATA 4 3 2 1 1 Menguasai 5 20 50 150 4 8 0 0 178 3.02 2 Mengelola 5 20 46 138 8 16 0 0 174 2.95 3 Kelas 6 24 45 135 8 16 0 0 175 2.97 4 Media 4 16 49 147 6 12 175 2.97 5 Suasana 3 12 47 141 9 18 0 0 171 2.90
Jumlah rata-rata variabel Kemampuan
dosen 14.80
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa faktor kemampuan dosen yang dilihat dari nilai rata-rata yang paling tinggi adalah menguasai yaitu 3,02 dan yang paling rendah adalah suasana yang nilai rata-ratanya 2,90.
Tabel 4
Gambaran frekwensi mahasiswa berdasarkan jawaban mahasiswa tentang Faktor Kegiatan pembelajaran KEGIATAN PEMBELAJARAN Variabel Kegiatan Pembelajaran SS S JR TDL SKOR RATA- RATA 4 3 2 1 Diskusi 2 8 50 150 7 14 0 0 172 2.92 Demonstrasi 3 12 55 165 1 2 0 0 179 3.03 Ceramah 3 12 56 168 0 0 0 0 180 3.05 Seminar 5 20 49 147 5 10 0 0 177 3.00
Jumlah rata-rata Kegiatan Pembelajaran 12.00
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa faktor kegiatan pembelajaran yang dilihat dari nilai rata-rata yang paling tinggi adalah Ceramah yaitu 3,05 dan yang paling rendah adalah diskusi yang nilai rata-ratanya 2,92.
Tabel 5
Gambaran frekwensi mahasiswa berdasarkan jawaban mahasiswa tentang Faktor Lahan Praktek
LAHAN PRAKTEK No Variabel Lahan Praktek SM S TM STM SKOR RATA- RATA 4 3 2 1 1 Pasien 43 172 16 48 0 0 0 0 220 3.73 2 Kesempatan 48 192 11 33 0 0 0 0 225 3.81 3 Alat 33 132 26 78 0 0 0 0 210 3.56 4 Mahasiswa 34 136 23 69 2 4 0 0 209 3.58 5 Pelayanan 34 136 25 75 0 0 0 0 211 3.58
Jumlah rata-rata variabel lahan praktek 18.22
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa faktor lahan praktek yang dilihat dari nilai rata-rata yang paling tinggi adalah kesempatan yaitu 3,81 dan yang paling rendah adalah alat yang nilai rata-ratanya 3,56
Tabel 6
Gambaran hasil mahasiswa dari matakuliah praktek klinik kebidanan
No Nilai F % Kategori 1 86-100 6 10,2% Kurang 2 76-85 48 83,1% Baik 3 56-75 4 6,8% Kurang 4 41-55 - - 5 0-40 - - TOTAL 59 100%
Rentang nilai pendidikan D-III kebidanan yaitu kategori sangat baik apabila mendapat nilai 86-100, medapat nilai baik apabila mendapat nilai 76-85, cukup apabila mendapat nilai 56-75, kurang apabila mendapat nilai 41-55, gagal apabila mendapat nilai 0-40 ( Rentang nilai Pendidikan DIII Kebidanan ).
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa mahasiswa yang memperoleh nilai baik sebanyak 49 orang (83,1%), yang mendapat nilai sangat baik adalah 6 orang (10,2%), dan yang mendapat nilai cukup adalah 4 orang ( 6,8% ).
5.2. Pembahasan
Dalam pembahasan ini peneliti mencoba menjawab pertanyaan penelitian yaitu, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar mahasiswa tingkat III dalam matakuliah praktek klinik kebidanan.
5.2.1. Dari tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa berdasarkan jawaban mahasiswa tentang faktor internal yang paling banyak nilai rata-ratanya adalah pada jawaban sangat setuju terhadap intelegensi sebanyak 45 orang (76,2%) yang mencapai nilai
rata 3,76, dan nilai yang paling rendah adalah sikap sebanyak 36 orang (50,8%) yang nilai rata-rata 3,36.
Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat (Reber, 1988). Tingkat kecerdasan atau intelegensi siswa tak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses.
5.2.2. Dari tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa berdasarkan jawaban mahasiswa tentang faktor eksternal yang paling banyak nilai rata-ratanya adalah keluarga 33 orang (55,9%) yang mencapai nilai rata-ratanya 3,56, dan yang yang paling rendah lingkungan adalah 30 orang (50,8%) yang nilai rata-ratanya 3,25.
Situasi keluarga (ayah, ibu, saudara, adik, kakak, serta famili) sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalam keluarga. Pendidikan orangtua, status ekonomi, rumah kediaman, peresentase hubungan orangtua, mempengaruhi pencapaian hasil belajar.
5.2.3. Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa kategori kemampuan dosen berdasarkan jawaban mahasiswa yang menyatakan sangat mampu menguasai bahan ajar adalah sebanyak 50 orang( 84,7% ), dan yang paling rendah kemampuan dosen dalam menggunakan suasana yaitu sebanyak orang 47 (79,66 % ) yang nilai rata- ratanya 2,71.
Sebelum dosen tampil di depan kelas untuk mengelola interaksi belajar mengajar, terlebih dahulu harus sudah menguasai bahan yang akan di kontakkan dan sekaligus bahan apa yang dapat mendukung jalannya proses belajar mengajar.
Dengan modal penguasaan bahan, dosen akan dapat menyampaikan pelajaran secara dinamis. Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan dosen dalam PBM mempengaruhi prestasi belajar.
5.2.4. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa faktor kegiatan pembelajaran yang dilihat dari nilai rata-rata yang paling tinggi adalah ceramah yaitu 3,05 dan yang paling rendah adalah diskusi yang nilai rata-ratanya 2,92. Berdasarkan jawaban mahasiswa tersebut bahwa kegiatan pembelajaran dalam matakuliah praktek klinik kebidanan adalah yang paling sering dilakukan yaitu dengan cara ceramah yaitu 56 orang ( 94,9% ) yang nilai rata-ratanya 3,05. Dan yang paling rendah adalah diskusi sebanyak 50 ( 84,7% ).
Metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan kependidikan, khususnya kegiatan penyajian materi pelajaran kepada siswa (Tardif, 1989). Bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan pemakaian metoda justru akan mempersulit bagi guru dalam mencapai tujuan pengajaran. Pengalaman membuktikan bahwa kegagalan pengajaran salah satunya disebabkan oleh pemilihan metode yang kurang tepat. Kelas yang kurang bergairah dan kondisi anak didik yang kurang kreatif dikarenakan penentuan metode yang kurang sesuai dengan sifat bahan dan tidak sesuai dengan tujuan pengajaran . Karena itu, dapat dipahami bahwa metode adalah suatu cara yang memiliki nilai strategis dalam kegiatan belajar mengajar. Nilai strategisnya adalah metode dapat mempengaruhi jalannya kegitan belajar mengajar. Ini dapat dilihat dari pencapaian dari matakuliah praktek klinik kebidanan yang memeperoleh nilai sangat baik 6 orang (10,2%), yang mendapat
nilai nilai yang baik 49 orang (83,1% ), dan yang mendapat nilai cukup sebanyak 4 orang (6,8%).
5.2.5. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa lahan praktek yang dilihat dari nilai rata-rata yang paling tinggi adalah pasien sebanyak 48( 81,3% ) orang yang nilai rata-ratanya 3,81, dan yang paling rendah adalah alat sebanyak 33 ( 55,9% ) yang nilai rata-ratanya 3,56.
Praktik klinis memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk menjadi orang yang cekatan dalam menggunakan teori tindakan. Praktik klinis diharapkan menjadi lebih dari sekedar untuk menerapkan teori yang dipelajari dikelas ke dalam praktik. Benne r(1983) menyatakan bahwa “Teori menawarkan apa yang dapat dibuat secara eksplesit dan formal, tetapi praktek klinis selalu lebih kompleks dan menyajikan lebih banyak realitas dari pada yang ditangkap melalui teori saja”.