HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan merupakan rumah sakit milik pemerintah. Rumah sakit ini dikelola oleh Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah Prov. Sumatera Utara. Rumah Sakit ini terletak di lahan yang luas di pinggiran kota Medan Indonesia. Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik merupakan Rumah Sakit tipe A sesuai dengan SK Menkes no. 547/Menkes/SK/VII/1998 dan juga sebagai Rumah Sakit Pendidikan sesuai dengan SK Menkes No. 502/Menkes/SK/IX/1991.
5.1.2. Proporsi Gambaran Karateristik Penderita Karsinoma Nasofaring
Berikut ini dapat diketahui distribusi proporsi karateristik penderita karsinoma nasofaring di Bagian Telinga, Hidung dan Tenggorakan (THT) RSUP. H. Adam Malik. Terdapat sebanyak 113 penderita karsinoma nasofaring yang berobat mulai bulan Januari 2009 sampai Desember 2009.
5.1.3. Distribusi Frekuensi Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Umur.
Pada penelitian ini, distribusi frekuensi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan umur diuraikan di tabel 5.1.
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Umur. Kelompok Umur n (%) i) < 30 tahun 20 17,7 ii) 30 - 39 tahun 17 15,0 iii) 40 - 49 tahun 30 26,5 iv) 50 - 59 tahun 25 22,1 v) 60 - 69 tahun 15 13,3 vi) 70 – 79 tahun 4 3,5 vii) 80 – 89 tahun 2 1,8 Total 113 100
Dari tabel 5.1. dapat dilihat bahwa kelompok umur yang tertinggi penderita karsinoma nasofaring adalah 40- 49 tahun yaitu sebanyak 30 orang (26,5%) diikuti dengan kelompok umur 50- 59 tahun yaitu sebanyak 25 orang (22,1%). Kelompok umur yang terendah adalah 80- 89 tahun yaitu sebanyak 2 orang (1,8%) diikuti dengan kelompok umur 70-79 tahun yaitu sebanyak 4 orang (3,5%).
5.1.4. Distribusi Frekuensi Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Jenis Kelamin.
Pada penelitian ini, distribusi frekuensi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan jenis kelamin diuraikan di tabel 5.2.
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Jenis Kelamin. Jenis Kelamin n (%) i) Laki- laki 83 73,5 ii) Perempuan 30 26,5 Total 113 100
Dari tabel 5.2 dapat dilihat bahwa proporsi tertinggi penderita karsinoma nasofaring dijumpai pada laki- laki yaitu sebanyak 83 kasus (73,5%) sedangkan perempuan dijumpai sebanyak 30 kasus (26,5%).
5.1.5. Distribusi Frekuensi Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Suku . Pada penelitian ini, distribusi frekuensi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan suku diuraikan di tabel 5.3.
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Suku. Suku Bangsa n (%) i) Batak 31 39,2 ii) Karo 15 19,0 iii) Jawa 14 17,7 iv) Minang 7 8,9 v) Aceh 12 15,2 vi) Tidak dicantum 34 30,1 Total 113 100
Dari tabel 5.3. dapat dilihat bahwa suku yang proporsi tertinggi suku Batak yaitu sebanyak 31 orang (39,2%) diikuti suku Karo sebanyak 15 orang (19,0%) , suku Jawa sebanyak 14 orang (17,7%) dan suku Aceh sebanyak 12 orang (15,2%). Proporsi dijumpai pada suku Minang yaitu sebanyak 7 orang (8,9%). Data yang tidak dicantum pada rekam medis adalah 34 orang (30,1%).
5.1.6. Distribusi Frekuensi Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Keluhan Utama .
Pada penelitian ini, distribusi frekuensi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan keluhan utama diuraikan di tabel 5.4.
Tabel 5.4 Distribusi Frekuensi Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Keluhan Utama.
Keluhan Utama n (%) i) Gangguan padaTelinga 12 10,6 ii) Gangguan pada Hidung 26 23,0
iii) Pembesaran Kelenjar Limfe 75 66,4 Total 113 100
Dari tabel 5.4. dapat dilihat bahwa keluhan utama yang tertinggi adalah pembesaran kelenjar limfe yaitu sebanyak 75 orang (66,4%) diikuti dengan gangguan pada hidung yaitu sebanyak 26 orang (23,0%). Keluhan utama yang terendah adalah gangguan pada telinga yaitu sebanyak 12 orang (10,6%) .
5.1.7. Distribusi Frekuensi Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Stadium .
Pada penelitian ini, distribusi frekuensi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan suku diuraikan di tabel 5.5.
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Stadium. Stadium Penyakit n (%) i) Stadium 1 1 0,9 ii) Stadium 2 17 15,0 iii) Stadium 3 39 34,5 iv) Stadium 4 56 49,6 Total 113 100
Dari tabel 5.5. dapat dilihat bahwa stadium penyakit yang tertinggi adalah stadium 4 yaitu sebanyak 56 orang (49,6%) diikuti dengan stadium 3 yaitu sebanyak 39 orang (34,5%). Stadium penyakit yang terendah adalah stadium 1 yaitu sebanyak 1 orang (0,9%).
5.1.8.Distribusi Frekuensi Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Tipe Histopatologis.
Pada penelitian ini, distribusi frekuensi penderita karsinoma nasofaring berdasarkan tipe histopatologis diuraikan di tabel 5.6.
Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Tipe Histopatologis
Tipe Histopatologis n (%) i) karsinoma sel skuamosa keratinisasi 12 10.6 ii) karsinoma sel skuamosa tanpa keratinisasi 47 41.6
iii) karsinoma tanpa differensiasi 54 47.8 Total 100 113
Dari tabel 5.6. dapat dilihat bahwa tipe histopatologis yang tertinggi adalah karsinoma tanpa diferensiensi yaitu sebanyak 54 orang (47,8%) diikuti dengan karsinoma sel skuamosa tanpa keratinisasi yaitu sebanyak 47 orang (41,6%). Tipe histopatogis yang terendah adalah karsinoma sel skuamosa keratinisasi yaitu sebanyak 12 orang (10,6%).
5.2. Pembahasan
5.2.1. Gambaran Distribusi Karateristik Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Kelompk Umur.
Pada penelitian ini, usia penderita KNF yang termuda adalah 12 tahun dan yang tertua adalah 89 tahun.Roezin(1995) di Jakarta melaporkan bahwa rentang umur termuda adalah 4 tahun manakala umur tertua adalah 84 tahun. Dari distribusi data,didapati penderita terbanyak pada kelompok umur 40 – 49 tahun(26,5%) dan 50 – 59 tahun(22,1%). Hal ini hampir sama dengan Roezin (1995) yang mendapatkan kelompok umur 40 – 49 tahun (25,92%) dan 50 – 59 tahun (19,75%) serta Magdalena et el (1996) di Yogjakarta mendapatkan insiden tertinggi KNF pada kelompok umur 40 – 49 tahun (42,4%) dan Ibrahim (2007) di Medan menjumpai kelompok umur 40 -49 tahun (24%) dan 50 -59 tahun (29,2%). Insiden kanker meningkat sesuai peningkatan usia dan memerlukan waktu yang lama ,mulai dari paparan pertama bahan karsinogen sampai timbulnya kanker ataupun faktor –faktor lain.
5.2.2. Gambaran Distribusi Karateristik Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Jenis Kelamin.
Laki – laki lebih tinggi proporsinya dibanding perempuan dimana laki – laki berjumlah 83 orang sedangkan perempuan 30 orang. Laki- laki lebih banyak beraktivitas di luar maka mengalami stress sehingga terjadi penurunan respon imun.Ibrahim (2007) di Medan, mendapati kasus yang lebih tinggi pada laki- laki yaitu 74% dibanding perempuan sebanyak 26% dengan perbandingan 2,84:1 dimana hampir sama perbandingan dalam penelitian ini yaitu 2,8 :1. Selain itu ,gaya hidup laki – laki berbeda daripada perempuan seperti kebiasaan merokok dimana jumlah laki – laki merokok lebih tinggi berbanding perempuan.
5.2.3. Gambaran Distribusi Karateristik Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Suku Bangsa.
Dari distribusi data didapati suku Batak (39,2%) paling banyak menderita KNF diikuti suku Karo (19,0%) dan suku Jawa (17,7%). Delfitri (2006) melaporkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara Antibodi anti Epstein Barr Virus (EBNA-1) dengan karsinoma nasofaring pada etnis Batak dan ditemukan gen yang berperan pada penyebab KNF suku batak adalah gen HLA-DRBI*0.
5.2.4 Gambaran Distribusi Karateristik Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Keluhan Utama.
Keluhan utama yang tertinggi adalah pembesaran kelenjar limfe (66,4%) yaitu 75 orang pederita. Pada penelitian ini, didapati sebanyak 35 orang penderita datang dengan keluhan terdapat benjolan pada bagian unilateral leher serta 40 orang penderita mendapati benjolan pada kedua – dua sisi leher. Dengan demikian penderita datang berobat ketika stadium telah lanjut atau tidak terdeteksi pada pelayanan kesehatan sebelumnya. Hal ini disebabkan gejala dini KNF tidak khas, sehingga tidak dihiraukan penderita. Beberapa penelitian juga mendapatkan pembesaran kelenjar getah bening servikal merupakan gejala dini paling sering dirasakan penderita KNF. Delfitri (2006) di Medan, mendapatkan adanya pembesaran kelenjar limfe sebanyak 43%, keluhan pada telinga sebanyak 13 % dan keluhan pada hidung sebanyak 20%.
5.2.5 Gambaran Distribusi Karateristik Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Stadium.
Stadium tumor pada penelitian ini paling banyak dijumpai pada stadium IV yaitu 56 penderita (49,6%). Stadium III dijumpai 39 penderita (34,5%), sedangkan stadium I dijumpai pada 1 orang penderita. Geara (2005) di Jakarta dalam penelitiannya menemukan stadium IV paling banyak (60%). Banyaknya penderita yang ditemukan pada stadium lanjut menunjukkan terlambatnya diagnosa ditegakkan.
Hal ini dapat disebabkan oleh gejala dini yang tidak khas dan belum memadainya pelayanan kesehatan.Krishna (2004) dalam penelitiannya di India menemukan penderita stadium IV sebanyak 58,9% dari 29 kasusnya. Delfitri (2006) di Medan , mendapatkan stadium IV sebanyak 26% dari 55 kasusnya, stadium III sebanyak 67% dan stadium II sebanyak 7% .
5.2.6 Gambaran Distribusi Karateristik Penderita Karsinoma Nasofaring Berdasarkan Tipe Histopatologis.
Pada penelitian ini sebahagian besar penderita KNF mempunyai jenis histopatologis WHO tipe 3 yaitu karsinoma tanpa diferensiensi (47,8%),diikuti WHO tipe 2 (karsinoma sel skuamosa tanpa keratinisasi) sebanyak 41,6% dan WHO tipe 1 (karsinoma sel skuamosa keratinisasi) sebanyak 10,6%. Beberapa penelitian mendapatkan WHO tipe 3 yang tertinggi seperti Magdalena (1996) di Yogjakarta sebanyak 88,98%, WHO tipe 2 (karsinoma sel skuamosa tanpa keratinisasi (3,74%) dan WHO tipe1, (karsinoma sel skuamosa keratinisasi) sebanyak 1,72% . Ibrahim (2007) mendapatkan WHO tipe 3 yaitu karsinoma tanpa diferensiensi (38,6%),diikuti WHO tipe 2 sebanyak 33,3% dan WHO tipe 1 sebanyak 28,1%. Delfitri (2006) di Medan , mendapatkan WHO tipe 3 yaitu karsinoma tanpa diferensiensi sebanyak 53%, diikuti WHO tipe 2 sebanyak 18 % dan WHO tipe 1 sebanyak 29 % dari 55 kasusnya. Di Asia, WHO tipe 3 merupakan tipe yang terbanyak sedangkan di Amerika Serikat yang paling banyak adalah WHO tipe 1. Berdasarkan perbedaan dominasi jenis histopatologis,perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor yang mempengaruhi jenis histopatologis.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN