• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.4. Hasil Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan gejala klinis dengan kepatuhan pengobatan. Data hasil penelitian dapat di lihat pada table berikut ini.

Tabel 5.4.1. Hubungan antara hilangnya gejala klinis dengan waktu makan obat Gejala klinis Makan obat Total Persentase (%) OR

Setiap hari % Hanya

ambil jika ingat % Batuk < 2 bulan 25 80,6 5 18,5 30 51,7 18,333 ≥ 2 bulan 6 19,4 22 81,5 28 48,3 Total 31 100,0 27 100,0 58 100.0 Batuk berdarah < 2 bulan 20 80,0 9 37,5 29 59,2 6,667 ≥ 2 bulan 5 20,0 15 62,5 20 40,8 Total 25 100,0 24 100,0 49 100,0 Nyeri dada < 2 bulan 15 60,0 4 17,4 19 39,6 7,125 ≥ 2 bulan 10 40,0 19 82,6 29 60,4 Total 25 100,0 23 100,0 48 100,0 Sesak nafas < 2 bulan 18 75,0 5 22,7 23 50,0 10,200 ≥ 2 bulan 6 25,0 17 77,3 23 50,0 Total 24 100,0 22 100,0 46 100,0 Demam < 2 bulan 23 79,3 4 16,7 27 50,9 19,167 ≥ 2 bulan 6 20,7 20 83,3 26 49,1 Total 29 100,0 24 100,0 53 100,0

Tabel 5.4.1. menunjukkan hilangnya gejala klinis dengan makan obat, daripada 58 orang yang putus berobat karena “sembuh” terdapat 30 orang gejala klinis batuknya hilang kurang dari 2 bulan dan 28 orang gejalanya hilang lebih dari 2 bulan.Batuk berdarah pula terdapat 29 orang yang gejalanya hilang kurang dari 2 bulan dan 20 orang lebih dari 2 bulan. Terdapat 9 orang yang tidak mengalami gejala ini. Gejala klinis nyeri dada yang hilang kurang dari 2 bulan adalah 19 orang dan

lebih dari 2 bulan adalah 29 orang. Terdapat 10 orang yang tidak mengalami gejala ini.Terdapat 23 orang yang gejalanya hilang kurang dari 2 bulan dan 23 orang yang gejalanya hilang lebih dari 2 bulan untuk sesak nafas. Terdapat 12 orang yang tidak mengalami gejala ini. Bagi demam pula, 27 orang yang gejalanya hilang dalam 2 bulan manakala seramai 26 orang gejalanya hilang lebih dari 2 bulan. Terdapat 5 orang yang tidak mengalami gejala ini.

Setelah dilakukan uji hipotesis dengan metode Chi Square diperoleh nilai p (p value) adalah 0,000 (p < 0,005) bagi batuk,sesak nafas dan demam nilai p (p value) adalah 0,000 (p <0,005) manakala untuk batuk berdarah adalah 0,002 (<0,005) dan nyeri dada adalah 0,003 (p< 0,005) yang berarti bahwa ada hubungan antara hilangnya gejala klinis tb paru dengan pengambilan pengobatan.

Hasil perhitungan Odds Ratio (OR) dan hasilnya seperti berikut odds ratio batuk adalah 18,333.Odds Ratio yang lebih besar dari 1 menunjukkan adanya hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Pada penelitian ini besarnya odds ratio di atas angka 1, karena itu dapat dikatakan bahwa pada penelitian ini ada hubungan hilang gejala klinis dengan kepatuhan minum obat. Dari hasil perhitungan, diketahui bahwa orang yang yang minum obat tidak teratur memiliki resiko 18,333 kali lebih besar untuk gejala batuk tidak hilang dalam pasien yang putus berobat karena merasa sembuh. Odds rasio batuk berdarah adalah 6,667 yang bermakna orang yang minum obat setiap hari mempunyai tingkat kesembuhan 6,667 kali lebih tinggi dari yang minum obat apabila hanya ingat dalam pasien yang putus berobat karena merasa sembuh. Nyeri dada,sesak nafas dan demam mempunyai odds rasio 7,125, 10,200 dan 19,167 masing yang tingkat kesembuhan masing-masing tinggi dari yang minum obat apabila ingat saja dalam pasien yang putus berobat karena merasa sembuh .

Table 5.4.2. Hubungan antara hilang gejala klinis dengan cara makan pengobatan

Gejala klinis

Cara Total Persentase

(%) OR Sebelum makan % Selepas makan % Batuk < 2 bulan 27 73,0 3 14,3 30 51,7 16,200 ≥ 2 bulan 10 27,0 18 85,7 28 48,3 Total 37 100,0 21 100,0 58 100,0 Batuk berdarah < 2 bulan 26 74,3 3 21,4 29 59,2 10,539 ≥ 2 bulan 9 25,7 11 78,6 20 40,8 Total 35 100,0 14 100,0 49 100,0 Nyeri dada < 2 bulan 18 52,9 1 7,1 19 39,6 14,625 ≥ 2 bulan 16 47,1 13 92,9 29 60,4 Total 34 100,0 14 100,0 48 100,0 Sesak nafas < 2 bulan 20 71,4 3 16,7 23 50,0 12,500 ≥ 2 bulan 8 28,6 15 83,3 23 50,0 Total 28 100,0 18 100,0 46 100,0 Demam < 2 bulan 24 72,7 3 15,0 27 50,9 15,111 ≥ 2 bulan 9 27,3 17 85,0 26 49,1 Total 33 100,0 20 100,0 53 100,0

Tabel 5.4.3. menunjukkan hilangnya gejala klinis dengan cara makan obat, daripada 58 orang yang putus berobat karena “sembuh” terdapat 30 orang gejala klinis batuknya hilang kurang dari 2 bulan dan 28 orang gejalanya hilang lebih dari 2 bulan.Batuk berdarah pula terdapat 29 orang yang gejalanya hilang kurang dari 2 bulan dan 20 orang lebih dari 2 bulan. Terdapat 9 orang yang tidak mengalami gejala ini. Gejala klinis nyeri dada yang hilang kurang dari 2 bulan adalah seramai 19 orang dan lebih dari 2 bulan adalah 29 orang. Terdapat 10 orang yang tidak mengalami

gejala ini.Terdapat 23 orang yang gejalanya hilang kurang dari 2 bulan dan 23 orang yang gejalanya hilang lebih dari 2 bulan untuk sesak nafas. Terdapat 12 orang yang tidak mengalami gejala ini. Bagi demam pula, 27 orang yang gejalanya hilang dalam 2 bulan manakala seramai 26 orang gejalanya hilang lebih dari 2 bulan. Terdapat 5 orang yang tidak mengalami gejala ini.

Setelah dilakukan uji hipotesis dengan metode Chi Square diperoleh nilai p (p value) adalah 0,000 (p < 0,005) bagi batuk,sesak nafas dan demam manakala nilai p (p value) untuk batuk berdarah adalah 0,001 (p <0,005) dan nyeri dada 0,003 (<0,005) yang berarti bahwa ada hubungan antara hilangnya gejala klinis tb paru dengan minum obat yaitu sebelum makan lebih baik dari selepas makan.

Manakala melalui perhitungan Odds Ratio (OR) dan hasilnya seperti berikut besarnya odds ratio batuk adalah 16,200.Odds Ratio yang lebih besar dari 1 menunjukkan adanya hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Pada penelitian ini besarnya odds ratio di atas angka 1, karena itu dapat dikatakan bahwa pada penelitian ini ada hubungan hilang gejala klinis batuk berdarah dengan cara pengambilan obat. Dari hasil perhitungan, diketahui bahwa orang yang yang mengambil selepas makan 16,200 kali lebih besar untuk gejala batuk tidak hilang dalam pasien yang putus berobat karena merasa sembuh. Sementara batuk berdarah mempunyai odds rasio 10,539 yang bermakna orang yang mengambil pengobatan sebelum makan mempunyai tingkat kesembuhan 10,539 kali lebih tinggi dari yang mengambil pengobatan apabila hanya ingat dalam pasien yang putus berobat karena merasa sembuh . Nyeri dada,sesak nafas dan demam mempunyai odds rasio 14,625, 12,500 dan 15,111 masing yang tingkat kesembuhan masing-masing tinggi dari yang mengambil pengobatan selepas makan dalam pasien yang putus berobat karena merasa sembuh .

5.5. Pembahasan

Sekitar sepertiga dari populasi dunia yang terinfeksi Mycobacterium tuberculosis dengan lebih dari 95% yang terinfeksi adalah negara membangun. Pelbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui penyebab putus berobat. Dengan mengetahui penyebab-penyebab putus berobat maka dapat mencegah pasien kembali dengan resistensi, relapse atau menderita TB lebih lama.

Penelitian ini mencoba mencari hubungan antara hilangnya gejala klinis TB paru dengan kepatuhan pengobatan. Gejala klinis TB biasanya hilang dalam fase intensif dengan pengambilan obat yang teratur..Segala gejala klinis TB biasanya berkurang pada fase intensif dan pasien putus berobat karena mereka merasa merasa bebas dari gejala klinisnya (Chandrasekaran.V et.al,2005)

Putus berobat dikaitkan dengan panjang dan kompleksitas pengobatan keadaan dimana sebagian besar pasien merasa sembuh atau lebih baik setelah bulan pertama atau kedua pengobatan(Shargie & Lindtjorn 2007).Di dalam penelitian yang dilakukan oleh peneliti terdapat 59,2% pasien yang putus berobat karena merasa sembuh diikuti dengan rumah sakit yang jauh (15,3%) ,sibuk (14,3%) dan masalah lain-lain (11,2%) seperti masalah transportasi,ketakutan efek samping dan pindah.Hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Sinha dan Tiwari di distrik Raipur India, mendapatkan 33,38% dari 695 pasien TB mangkir berobat. Pada penelitian ini juga dicari beberapa alasan yang melatarbelakangi ketidakpatuhan penderita ini. Alasan yang paling banyak dilontarkan oleh pasien-pasien ini adalah membaiknya kondisi dan berkurangnya keluhan penyakitnya atau yang dalam penelitian kami disebut over-estimated (34,48%). Selain itu ketakutan akan efek samping obat (20,26%) dan jauhnya jarak fasilitas kesehatan dengan tempat tinggal pasien (15,52%) juga dilaporkan sebagai alasan ketidakpatuhan ini.

Pada analisa data yang telah dilakukan menunjukkan kebanyakkan pasien putus berobat karena merasa sembuh dalam masa kurang dari 2 bulan dan adanya

hubungan di antara hilangnya gejala klinis dengan pengambilan pengobatan, hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan di Narobi yang kebanyakkan pasien yang putus berobat seringnya pada awal pengobatan karena merasa sembuh selepas mengambil obat untuk masa yang terdekat dan dalam penelitian ini dapat ditunjukkan oleh adanya nilai OR =18,333 untuk batuk, yang berarti seseorang yang mengambil pengobatan setiap hari berpeluang unuk hilang gejala klinis 18,333 kali dari yang mengambil pengobatan apabila hanya ingat dalam pasien putus berobat karena sembuh. Manakala OR= 6,667 untuk batuk berdarah yang berarti peluang seseorang yang hanya mengambil pengobatan apabila ingat berpeluang untuk tidak hilang gejala klinis kurang dari 2 bulan adalah 6,667 kali dari yang mengambil pengobatan setiap hari,Bagi nyeri dada pula OR= 7,125 yang berarti seseorang yang mengambil pengobatan setiap hari berpeluang untuk hilang gejala klinis pada fase intensif adalah sebanyak 7,125 kali dari yang mengambil pengobatan apabila hanya ingat dalam pasien putus berobat karena merasa sembuh, Bagi sesak nafas pula, OR=10,200 p=0,000 yang berarti seseorang yang mengambil pengobatan setiap hari berpeluang unuk sembuh 10,200 kali dari yang mengambil pengobatan apabila hanya ingat dan OR=19,167 untuk demam yang berarti seseorang yang mengambil pengobatan setiap hari berpeluang untuk sembuh 19,167 kali dari yang mengambil pengobatan apabila hanya ingat dalam pasien putus berobat karena sembuh. OR batuk dan demam tinggi karena pasien memandang gejala ini sebagai gejala yang remeh dan tidak mengambil pengobatan secara teratur.Manakala untuk sesak nafas,dan demam berdarah pasien lebih rajin mengambil pengobatan setiap hari. Walaupun gejala nyeri dada tidak hilang dalam 2 bulan pasien masih rajin mengambil pengobatan sehingga mereka sembuh.di dalam penelitian yang dilakukan oleh Chandrasekran di India mengatakan pada akhir bulan ke-2 pemeriksaan sputum menjadi BTA negatif dan kebanyakkan kurang simptomatik dan daya menularkan penyakitnya berkurang jika pasien mengambil pengobatan yang teratur. Menurut Rosanna pula kebanyakkan gejala klinis hilang disebabkan inhibisi separuh mycobacterium tuberculosis semasa pengambilan pengobatan yang teratur menyebabkan hilangnya gejala klinis dan

terjadinya perbaikan respon inflamasi dan kerusakkan jaringan.selain itu, pasien yang mengambil pengobatan anti-TB yang irregular berpotensi terjadinya extensively drug resistant tuberculosis.

Pada analisa data yang telah dilakukan menunjukkan adanya diantara hilangnya gejala klinis dengan cara pengambilan obat, hal ini dapat ditunjukkan oleh adanya nilai OR= 16,200 untuk batuk, OR=10,539 untuk batuk berdarah,OR=14,625 untuk nyeri dada, OR=12,500 untuk sesak nafas dan OR= 15,111. OR demam dan batuk masih tinggi berbanding gejala klinis batuk berdarah dan sesak nafas karena pandangan masyarakat masalah terhadap demam dan batuk sebagai gejala ringan dan mengambil pengobatan dari luar. Menurut WHO, waktu pengambilan obat TB yang benar adalah dengan perut kosong yaitu 1 jam sebelum makan atau 2 jam selepas makan.Macleods mengatakan dengan lebih spesifik bahawa absorpsi dan bioavailabilitas isoniazid dan ethambutanol yang > 80% akan berkurang jika seseorang mengambil pengobataan ini dengan makanan. Menurut Varaine. F, juga mengatakan absorpsi Rifampisin turut berkurang dengan pengambilan makanan. Walaubagaimanapun, terdapat sesetengah pasien dinasihatkan mengambil obat sebelum tidur jika pasien mengalami efek samping pengobatan rimfapisin (PDPI,2002).

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh oleh peneliti, proporsi jenis kelamin pasien TB putus berobat lebih banyak laki-laki di banding perempuan yaitu 65,3% berbanding 34,7%. Hal ini serupa dengan penelitian yang di lakukan oleh Putri bahawa 65,52%: 34,48%. Kecenderungan laki-laki lebih tinggi untuk mangkir berobat kemungkinan karena laki-laki aktivitasnya lebih tinggi dalam sehari-harinya,serta laki-laki merupakan tulang punggung keluarga yang harus bekerja.

Rata- rata usia pasien mayoritas dalam penelitian ini adalah pada fase dewasa awal. Menurut WHO, resiko umur yang paling rentan pada TB adalah 15-55 tahun yaitu dari fase remaja awal hingga lansia awal yang hampir sama dengan penelitian

yang telah dilakukan oleh peneliti.Tingginya angka pasien laki-laki pada usia produktif memungkinkan penularan yang lebih luas.Hal ini dikarenakan kelompok laki-laki kebanyakan keluar rumah mencari nafkah pada usia produktif, dengan frekuensi keluar rumah yang sering dapat dimungkinkan terjadinya penularan. Mayoritas pasien yang diwawancara adalah petani yaitu sebanyak 28,6% yang berarti perbedaan pekerjaan yang dimiliki seseorang menyebabkan terdapat pula perbedaan status sosial ekonomi yang dimiliki ( Notoatmodjo 2007) Pekerjaan dalam penelitan ini adalah pekerjaan sehari – hari sampel untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.sosioekonomi yang rendah yang lebih rentan terhadap infeksi TB karena persekitaran yang berdebu dan ventilasi yang jelek seperti yang dinyatakan dalam penelitian.

Kebanyakkan pasien yang diwawancarai hanya tamat SMP sama seperti yang dinyakan oleh Nurhayati di Banggai yaitu 33,5%. Pendidikan tentang TBC paru dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan yang memberi pengaruh positif dalam penyembuhan, hal ini sesuai dengan yang dikemukan oleh (Depkes RI, 2002) bahwa tingkat pendidikan yang relatif rendah pada penderita TB paru menyebabkan keterbatasan informasi tentang gejala dan pengobatan TB paru.

BAB 6

Dokumen terkait