BAB VI. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan sebanyak 5 kali pertemuan pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Penulis memberikan perlakuan yang berbeda kepada kedua kelas. Kelas eksperimen belajar dengan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL), sedangkan kelas kontrol belajar menggunakan metode demonstrasi. Konsep fisika yang diambil adalah Wujud zat dan perubahannya.
Sebelum memberikan perlakuan kepada kedua kelompok, peneliti memberikan pretest sehingga kesamaan kemampuan awal kedua kelompok dapat diketahui. Soal pretes terdiri dari 21 butir pilihan ganda dengan 4 (empat) alternatif jawaban. Setelah kedua kelompok diberikan perlakuan (pembelajaran) yang berbeda, penulis memberikan posttest dengan soal yang sama pada soal
pretest. Soal pretest maupun posttest yang diberikan merupakan instrumen tes yang sebelumnya telah diuji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembedanya, sehingga instrumen tes tersebut layak digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa.
Hasil belajar akhir siswa (posttest) akan dianalisis untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning
(CTL) terhadap hasil belajar fisika. Data hasil belajar fisika dilengkapi dengan data pendukung yaitu berupa hasil observasi aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Berikut ini adalah perolehan hasil pretest dan posttest yang didapat dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, hasil pengujian prasyarat analisis data, hasil analisis data, dan hasil observasi aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung.
Berikut adalah tabel sebaran nilai pretest dan posttest distribusi dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebagai berikut:
Tabel 4.1
Rekapitulasi Distribusi Sebaran Nilai Siswa
N Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Pretest Postest Pretest Postest
1. 0 10 30 20 2. 29 10 60 25 3. 29 13 63 27 4. 32 13 67 32 5. 36 16 67 47 6. 39 19 68 50 7. 41 36 70 63 8. 41 38 72 65 9. 42 38 72 67 10. 42 38 74 69 11. 43 40 74 69 12. 49 41 79 69 13. 49 41 80 69 14. 49 43 80 71 15. 52 43 80 72 16. 52 47 83 72 17. 54 47 85 74 18. 58 49 89 74 19. 60 51 91 78 20. 61 52 98 83
1. Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Berdasarkan hasil perhitungan pretest kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol yang terdiri dari 20 siswa, diperoleh data dalam bentuk diagram frekuensi sebagai berikut:1
Gambar 4.1. Diagram Batang Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
1
Dari data tabel dan diagram batang di atas, hasil pretest untuk kelompok eksperimen yaitu: sebanyak 1 siswa atau sebesar 5 % mendapatkan skor terendah pada interval 0 – 9. Skor terbanyak berada pada interval 41 - 50 yaitu 8 siswa atau sebesar 40 %, dan skor tertinggi berada pada interval 51 – 61 sebanyak 6 siswa atau sebesar 30 %. Untuk kelompok kontrol, sebanyak 2 siswa atau sebesar 10 % mendapatkan skor terendah yaitu pada interval 0 – 10. Skor terbanyak berada pada interval 41 – 50 yaitu 8 siswa atau sebesar 40 %, dan skor tertinggi berada pada interval 51 – 61 sebanyak 2 siswa atau sebesar 10 %.
Hasil pretest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dalam bentuk pemusatan data berupa rata-rata (mean), nilai tengah (median), skor terbanyak yang diperoleh siswa (modus) dan standar deviasi, dapat dilihat pada tabel dan diagram di bawah ini.2
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
No. Interval Frekuensi Kelompok Eksperimen Persentase (%) Frekuensi Kelompok Kontrol Persentase (%) 1 0 - 10 1 5 % 2 10 % 2 11 - 20 0 0 % 4 20 % 3 21 - 30 2 10 % 0 0 % 4 31 - 40 3 15 % 4 20 % 5 41 - 50 8 40 % 8 40 % 6 51 - 61 6 30 % 2 10 % Jumlah (Σ) 20 100 % 20 100 % 2
Adapun distribusi frekuensi hasil pretest kelompok eksperimen dan kontrol terlihat pada diagram dibawah ini adalah:
Gambar 4.2. Diagram Batang Pemusatan Data Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Berdasarkan tabel dan diagram batang di atas, pemusatan data hasil pretest
untuk kelompok eksperimen yaitu: skor terbesar 61 dan skor terkecil 0, rata-rata (mean)sebesar 44,35, median sebesar 39,5, modus sebesar 46 dan standar deviasi sebesar 12,96. Untuk kelompok kontrol diperoleh skor terbesar 52 dan skor terkecil 10, rata-rata (mean) sebesar 31,65, median sebesar 17,5, modus sebesar 21,6 dan standar deviasi sebesar 10,94.
2. Hasil Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Dari hasil perhitungan posttest kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol yang terdiri dari 38 siswa, diperoleh data dalam bentuk diagram batang sebagai berikut: 3
3
Gambar 4.3. Diagram Batang Data Hasil Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Berdasarkan diagram batang di atas, hasil posttest untuk kelompok eksperimen yaitu: sebanyak 1 siswa atau sebesar 5% mendapatkan skor terendah pada interval 13 – 26. Skor terbanyak berada pada interval 69 – 82 yaitu 9 siswa atau sebesar 45%, dan skor tertinggi berada pada interval 83 – 98 sebanyak 5 siswa atau sebesar 25%. Untuk kelompok kontrol, sebanyak 2 siswa atau sebesar 10% mendapatkan skor terendah yaitu pada interval 13 – 26. Skor terbanyak berada pada interval 69 – 82 yaitu 10 siswa atau sebesar 50%, dan skor tertinggi berada pada interval 83 – 98 sebanyak 1 siswa atau sebesar 5%.
Hasil posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dalam bentuk pemusatan data berupa rata-rata (mean), nilai tengah (median), skor terbanyak yang diperoleh siswa (modus) dan standar deviasi, dapat dilihat pada table dan diagram batang di bawah ini.4
4
Tabel Distribusi Frekuensi Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
No. Interval Frekuensi Kelompok Eksperimen Persentase (%) Frekuensi Kelompok Kontrol Persentase (%) 1 13 - 26 1 5% 2 10% 2 27 - 40 0 0% 2 10% 3 41 - 54 0 0% 2 10% 4 55 - 68 5 25% 3 15% 5 69 - 82 9 45% 10 50% 6 83 - 98 5 25% 1 5% Jumlah (Σ) 20 100% 20 100%
Adapun distribusi frekuensi hasil pretest kelompok eksperimen dan kontrol terlihat pada diagram dibawah ini adalah:
Gambar 4.4. Diagram Batang Pemusatan Data Hasil Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Dari tabel dan diagram batang di atas, pemusatan data hasil posttest untuk kelompok eksperimen yaitu: skor terbesar 98 dan skor terkecil 35, rata-rata (mean) sebesar 75,1, median sebesar 76,5, modus sebesar 85,95 dan standar deviasi sebesar 13,16. Untuk kelompok kontrol diperoleh skor terbesar 83 dan
skor terkecil 20, rata-rata (mean) sebesar 59,4, median sebesar 69,08, modus
sebesar 70,11 dan standar deviasi sebesar 12,07.
Berikut ini adalah tabel rekapitulasi pemusatan data hasil pretest dan
posttest kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol.
Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Pretest – Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Data Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Pretest Posttest Pretest Posttest
Nilai Tertinggi 61 98 52 83 Nilai Terendah 0 61 20 20 Mean 44,35 75,1 31,65 59,4 Median 39,5 76,5 17,5 69,08 Modus 46 85,95 21,6 70,11 Standar Deviasi 13,80 12,68 11,14 9,88
3. Hasil Pengujian Prasyarat Analisis Data Tes
Sebelum dilakukan analisis data, terlebih dahulu dilaksanakan pengujian prasyarat analisis data berupa uji normalitas dan uji homogenitas.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dari penelitian berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Chi-Kuadrat pada taraf signifikansi 0,05, kriterianya adalah :
X2 hitung ≤ X2 tabel : Ho diterima
X2hitung > X2tabel : Ho ditolak
Dengan diterimanya Ho berarti data penelitian berdistribusi normal, sedangkan jika Ho ditolak berarti data penelitian tidak berdistribusi normal. Hasil pengujian normalitas pretest dan posttest kedua sampel penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini.5
5
Tabel 4.6
Hasil Uji Normalitas Data Pretest-Posttest Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Statistik Eksperimen Kontrol
Pretest Posttest Pretest Posttest
N 20 20 20 20 X 44,35 75,1 31,65 59,4 S 12,96 13,16 10,94 12,07 χ2 hitung 9,12 5,33 9,18 4,052 χ2 tabel 9,488 9,488 9,488 9,488
Kesimpulan Normal Normal Normal Normal
Dari tabel Hasil uji normalitas di atas dapat disimpulkan bahwa data hasil
pretest maupun posttest kedua kelompok berdistribusi normal karena memenuhi kriteria yaituχ2
hitung< χ2 tabel.
b. Uji Homogenitas
Setelah kedua sampel kelompok dinyatakan berdistribusi normal, selanjutnya dilakukan pengujian homogenitas. Pengujian homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data penelitian memiliki varians yang homogen atau tidak. Dalam penelitian ini uji homogenitas dilakukan berdasarkan uji kesamaan varians kedua kelas, menggunakan uji Fisher pada taraf signifikansi 0,05 dengan kriteria pengujian yaitu: jika Fhitung < Ftabel maka data dari kedua kelompok mempunyai varians yang sama atau homogen. Hasil uji homogenitas pretest dan
posttest kedua kelompok sampel penelitian dapat dilihat pada tabel di bawah in:
Tabel 4.7 Hasil Uji Homogenitas Data Pretest – Posttest
Statistik Pretest Posttest
Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol
S2 167,96 119,68 173,18 145,68
F hitung 1,403 1,188
F table 1,79 1,79
Kesimpulan Homogen Homogen
Dari tabel di atas, untuk data pretest didapat Fhitung = 1,79 dan data posttest
dadapatkan Fhitung < Ftabel, maka dapat disimpulkan bahwa data dari kedua sampel tersebut mempunyai varians yang sama atau homogen.6
4. Hasil Pengujian Analisis Data Tes
Setelah dilakukan uji prasyarat analisis data, diketahui bahwa data kedua kelompok pada penelitian ini berdistribusi normal dan homogen, sehingga pengujian data pretest dan posttest kedua kelas dapat diteruskan pada analisis data berikutnya, yaitu uji hipotesis menggunakan uji “t” dengan kriteria pengujian sebagai berikut:
Jika thitung < ttabel : Ho diterima, Ha ditolak Jika thitung > ttabel : Ho ditolak, Ha diterima
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh thitung untuk nilai pretest sebesar 1,15 dan thitung nilai posttest sebesar 1,78. Pada taraf signifikansi 0,05 dan dk = 38, diperoleh nilai ttabel = 1,6681. Berikut adalah tabel pengujian hipotesis hasil
pretest dan posttest.
Tabel 4.7 Hasil Uji Hipotesis Data Pretest dan Posttest7
Statistik Pretest Posttest
Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol
N 20 20 20 20
X 44,35 31,65 75,1 59,4
S2 167,96 119,68 173,18 145,68
thitung 1,15 1,78
ttabel 1,6681 1,6681
Kesimpulan Tidak terdapat perbedaan Terdapat perbadaan
Dari tabel di atas,pada nilai pretest tampak bahwa nilai thitung < ttabel yaitu 1,15 < 1,6681 sehingga hipotesis nol (Ho) diterima dan hipotesis alternatif (Ha) ditolak. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pretest kelas VII.D sebagai kelompok eksperimen dan kelas VII.T sebagai kelompok kontrol. Dengan demikian, kedua kelas memiliki kemampuan yang homogen dan kedua kelas ini layak dijadikan sebagai sampel penelitian.
Berbeda dengan hasil perolehan pretest, nilai posttest kedua kelompok setelah diberikan perlakuan yang berbeda tampak bahwa nilai thitung > ttabel, yaitu
6
Perhitungan lengkap uji homogenitas dapat dilihat pada lampiran C.3. 7
1,78 > 1,6681 sehingga hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dengan diterimanya Ha pada pengujian hipotesis posttest tersebut, berarti rata-rata hasil belajar fisika kelas eksperimen lebih baik daripada rata-rata hasil belajar fisika kelas kontrol. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian ini dapat menguji kebenaran hipotesis yaitu terdapat pengaruh yang signifikan pada penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap hasil belajar fisika.
5. Hasil Analisis Data Observasi Aktivitas Siswa
Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan observasi langsung terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Oleh karena itu, semua indikator yang diobservasi dalam penelitian ini dikembangkan dari setiap aspek yang terdapat dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) diantaranya yaitu mengaitkan, mengalami, menerapkan, kerjasama dan mentransfer. Berikut ini adalah rekapitulasi hasil analisis data observasi aktivitas siswa.8
Tabel 4.8 Hasil Analisis Data Observasi Aktivitas Siswa No. Aspek CTL Memenuhi Pertemuan Ke- Rata-rata Kategori 1 2 1. Mengaitkan 71,8% 78,12% 74,96% Baik 2. Mengalami 70,83% 64,58% 67,70% Cukup
3. Menerapkan 93,75% 79,16% 86,45% Baik Sekali
4. Kerjasama 74,98% 85,93% 80,45% Baik Sekali
5. Mentransfer 56,25% 62,5% 59,37% Cukup
Presentase Rata-rata Aspek Contextual Teaching
and Learniang (CTL) 73,78
Baik
Tabel di atas menunjukkan persentase ketercapaian aktivitas siswa pada setiap aspek Contextual Teaching and Learning (CTL) berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, yang mencapai rata-rata ketercapaian sebesar 73,78% yaitu memiliki kategori baik. Dari hasil observasi tersebut, ada beberapa aspek Contextual Teaching and Learning (CTL)
8
yang berada di atas rata-rata yaitu aspek mengaitkan, menerapkan, dan kerjasama. Aspek Contextual Teaching and Learning (CTL) yang di bawah rata-rata yaitu aspek mengalami dan mentransfer, akan tetapi kedua aspek memiliki kategori cukup. Dengan demikian, penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) telah memunculkan aktivitas siswa selama proses pembelajaran berupa aspek menerapkan, mengalami, mengaitkan, kerjasama, dan mentransfer.
B. . Pembahasan
Berdasarkan analisis data nilai posttest menggunakan uji t, diperoleh hasil thitung lebih besar dari ttabel yaitu 1,78 > 1,6681. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata skor hasil belajar fisika pada kelompok eksperimen yang menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih tinggi daripada kelompok kontrol yang menggunakan metode demonstrasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar fisika.
Pencapaian hasil belajar tersebut didukung pula berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa pada setiap aspek Contextual Teaching and Learning
(CTL). Penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) telah memunculkan aktivitas siswa selama proses pembelajaran berupa aspek mengaitkan, mengalami, menerapkan, kerjasama, dan mentransfer. Berdasarkan hasil observasi aktivitas siswa selama pembelajaran, dapat dikatakan bahwa rata-rata ketercapaian aktivitas siswa pada aspek Contextual Teaching and Learning
(CTL) mencapai 73,78%, yaitu memiliki kategori baik.
Dari data hasil observasi tersebut, indikator siswa aktif mencapai 73,78%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa terlibat secara aktif dalam mengaitkan selama proses pembelajaran berlangsung dengan kehidupannya sehari-hari. Siswa mengaitkan keterlibatan dalam kegiatan eksperimen, mendiskusikan hasil eksperimen, dan pengisian lembar kerja siswa (LKS). Selain itu, siswa beserta kelompoknya, mendemonstrasikan, dan mempresentasikan hasil kegiatan eksperimennya di depan kelas. Dengan mengaitkan siswa dituntut untuk mengalami sebuah proses keterlibatan menemukan sebuah materi yaitu dengan
pengalaman langsung dan siswa dapat menemukan sebuah hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata.9
Berbeda dengan pencapaian skor pada aspek mentransfer, pencapaian aspek ini siswa masih di bawah rata-rata yaitu hanya 59,37%, akan tetapi memiliki kategori cukup. Keadaan tersebut dikarenakan siswa belum terbiasa membuat atau menciptakan pengetahuannya dengan fokus pada pemahaman yang di dapat tetapi siswa selalu terbiasa untuk menghafal suatu kejadian yang telah dialaminya sendiri jadi mengakibatkan pembelajaran bukanlah sesuatu yang baru. Siswa juga belum terbiasa untuk mengunjungi tempat-tempat yang berhubungan dengan fisika atau menghubungkan kejadian sehari-hari maupun fenomena alam dengan fisika.
Keadaan yang sama terjadi pada indikator pengalaman siswa, pencapaian aspek ini siswa masih di bawah rata-rata yaitu 67,70%, akan tetapi memiliki kategori cukup. Hal ini terjadi karena sebagian siswa belum terbiasa memunculkan kreativitas dalam berfikir berupa pengungkapan gagasan yang telah dialaminya dalam kehidupan sehari-hari dan pemecahan masalah yang bervariasi. Akan tetapi hampir setiap siswa telah menunjukkan kekreatifan dalam berbuat, yang ditunjukan dengan kegiatan merancang dan mengembangkan alat-alat dalam setiap eksperimen.
Untuk indikator kerjasama mencapai skor 80,45% atau baik sekali, hal tersebut menunjukkan bahwa siswa dapat mengikuti proses pembelajaran seperti apa yang diharapkan, seperti : memahami tujuan pembelajaran, memahami dan melaksanakan instruksi guru, memanfaatkan waktu dengan baik dan tidak banyak bercanda/bersantai, mencatat atau mendokumentasikan hal-hal penting tentang konsep fisika yang sedang dipelajari, memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru maupun pendapat orang lain, dan secara bertanggung jawab dapat mengumpulkan dan menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu. Semua itu adanya kerja sama antara murid dengan murid dan murid dengan guru.
9
Dodi Hermana,Contextual Teaching and Learning:Menyusun Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). (Garut: Rahayasa Research and Training, 2010), hal.59.
Aspek terakhir yaitu menerapkan, mencapai skor 86,45% termasuk kategori baik sekali. Selama pembelajaran, siswa menunjukkan ekspresi wajah ceria dan tidak tegang seperti berani berbuat dan mencoba, serta berani dalam melakanakan instruksi guru.10 Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia melakukan kegiatan pemecahan masalah. Siswa menunjukkan sikap tubuh dan ketertarikan untuk terlibat dalam proses pembelajaran, terkesan dan senang selama proses pembelajaran yang mereka alami, sehingga merasa ketagihan untuk belajar.semua itu karena adanya pengaruh dari seorang guru yang selalu memberikan sebuah motivasi kepada siswa dengan memberikan latihan yang realistik dan relevan.11
Penerapan pendekatan pembelajaran Contextual Teaching and Learning i(CTL) ini dapat memberikan peluang kepada siswa untuk mengonstruksi pengetahuannya sendiri dan terlibat langsung selama proses pembelajaran. Siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengemukakan pertanyaan maupun mengutarakan pendapatnya tanpa tekanan dari siapapun termasuk guru. Siswa juga diberi kesempatan untuk bekerja seperti ilmuwan yakni melakukan eksperimen, menyimpulkan, mendemonstrasikan, dan mengkomunikasikan hasil eksperimen. sehingga proses pembelajaran yang dialami siswa akan lebih bermakna.
Karena tujuan utama dari pendekatan Contextual Teaching and Learning
(CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan anatar pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Siswa dapat menghubungkan pelajaran yang mereka pelajari dengan kondisi nyata mereka sehari-hari. Siswa dengan sadar akan menegerti apa makna hidup belajar tersebut, mereka akan sadar bahwa yang mereka peajari berguna bagi kehidupan nanti. Belajar akan lebih bermakna jika siswa mengalami apa yang dipelajarinya, bukan semata-mata mengetahuinya
10
Dokumentasi penelitian dapat dilihat di lampiran C.7.
11
Dodi Hermana,Contextual Teaching and Learning:Menyusun Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). (Garut: Rahayasa Research and Training, 2010), hal.62
saja.12 Siswa yang mengaitkan pelajaran dengan dunia mereka sehari-hari menjadi siswa yang dinamis. Mereka berada dalam posisi untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang bermutu dan menjawabnya dengan cara yang dapat mengubah dunia mereka.13
Pada pembelajaran tersebut, guru tidak mendominasi aktivitas pembelajaran, tetapi hanya sebagai fasilitator, mediator, memonitor, dan mendorong pengembangan setiap individu di dalam kelas. Sesuai dengan (Depdiknas, 2002:4) guru hanya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru hanya dapat memberi siswa tangga yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakn agar siswa sendrir yang memanjat tangga tersebut.14
Dari penjelasan-penjelasan di atas menunjukkan bahwa penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) memberikan peluang besar kepada siswa untuk terlibat langsung atau aktif selama pembelajaran. Akibat adanya pembelajaran mengalami sendiri, mengkonstruk pengalamannya, aktif, menumbuhkan kreativitas dan inovasi siswa, siswa berani mencoba dan berbuat, terkesan dan senang selama proses pembelajaran, dan merasa ketagihan untuk belajar, sehingga pembelajaran mencapai tujuan yang ditetapkan dan hasil belajar fisika mencapai hasil yang maksimal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan Contextual Teaching and learning (CTL) merupakan suatu keharusan dalam setiap pembelajaran. Selain itu, berdasarkan penelitian lain yang relevan yang telah dipaparkan di kajian teori, serta berdasarkan perhitungan analisis data dan hasil observasi aktivitas siswa pada setiap aspek Contextual Teaching and Learning
(CTL), telah terbukti bahwa penerapan pembelajaran ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar fisika siswa.
12
Ibid., hal.73-74
13
Elain B.Johnson. CTL Contextual teaching and learning: menjadikan kegiatan-belajar mengajar mengasyikkan dan bermakna, (Bandung: kaifa learning.2010), hal.148
14
77 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN