BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
a. Kondisi Geokultural
Banyumas adalah kawasan yang berada di wilayah Jawa Tengah bagian barat. Penduduknya sebagian besar merupakan Suku Jawa, yang secara
lvii
turun-temurun mendiami wilayah bagian tengah dan timur Pulau Jawa, dan menggunakan bahasa Jawa dengan beragam dialek dalam kehidupan seharí-harinya. Koentjaraningrat yang mengutip pendapat Kodiran menyebut wilayah Banyumas merupakan daerah kejawen bersama dengan Kedu, Yogyakarta, Surakarta dan Madiun. Wilayah di luar itu disebut Pesisir dan Ujung Timur, (Koentjaraningrat, 1990:329).
Secara geografis, Banyumas terletak di sebelah selatan lereng Gunung Slamet. Batas-batas wilayah Kabupaten Banyumas di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tegal, Brebes, dan Kabupaten Pemalang. Di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Cilacap. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Cilacap. Sedangkan di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara, Purbalingga, dan Kebumen, (Badan Arsip Informasi dan Kehumasan dengan Badan Pusat Statistik Kab. Banyumas, 2002:2).
Sebagai salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Tengah, Banyumas memiliki luas wilayah 132.759 ha atau 1.327,59 km2 setara dengan 4,08 % dari luas propinsi, memiliki 27 kecamatan, 229 desa dan 29 kelurahan. Secara umum wilayah ini memiliki tingkat curah hujan tinggi, sehingga kondisi lahan cukup subur untuk dijadikan areal pertanian, terutama padi. Bahkan dapat dikatakan Banyumas sebagai salah satu daerah lumbung padi bagi Propinsi Jawa Tengah, (Koderi, 1991:1).
lviii
Jumlah penduduk Banyumas pada akhir tahun 2004 berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2005 tercatat sebesar 1.538.285 jiwa (pertumbuhan menurun 0,15 % dibanding tahun 2003), dengan kepadatan penduduk mencapai 1.159 jiwa/km2. Jumlah rumah tangga pada akhir tahun 2004 sebesar 409.631, dengan rata-rata jiwa per rumah tangga sekitar tiga sampai empat jiwa. Dari jumlah tersebut sebagian besar menempati daerah pedesaan yang bertumpu pada sektor pertanian sebagai roda penggerak perekonomian. Dengan demikian, wilayah Banyumas merupakan salah satu daerah agraris,
(http://geminastiti. blogspot.
com/2007/10/pengembangan-kemitraan-peternakan.html, diakses tanggal 10 April 2009).
Secara antropologis historis, Banyumas memiliki kedudukan yang unik dalam kerangka Kebudayaan Jawa. Secara antropologis berada antara dua kebudayaan besar di Pulau Jawa, yaitu Kebudayaan Jawa yang berpusat di Surakarta/Yogyakarta, dan Kebudayaan Sunda. Sedangkan secara historis berada di antara dua wilayah kerajaan besar, yakni di bagian timur merupakan wilayah paling barat dari Kerajaan Majapahit, dan bagian barat merupakan wilayah kekuasaan paling timur dari Kerajaan Pajajaran. Letak wilayah yang terlalu jauh dari pusat Kebudayaan Jawa (Surakarta/Yogyakarta) memungkinkan Banyumas memiliki sikap dan karakter yang berbeda dengan Orang Jawa pada umumnya, (Rini Fidiyani, 2008:2).
Secara historis sosiologis, wilayah Banyumas bagian barat merupakan daerah perbatasan yang masyarakatnya memiliki hubungan persaudaraan
lix
dengan Kraton Pakuan Parahiyangan (Pajajaran). Menurut Budiono Herusatoto (2008:15), hubungan ini terjalin sejak zaman Kadipaten Pasirluhur. Sedangkan wilayah bagian timur memiliki hubungan historis dengan Kebudayaan Jawa, mengingat latar belakangnya sebagai wilayah mancanegara dari kraton-kraton di Jawa sejak Kerajaan Majapahit, Pajang, Mataram, Kartasura, Surakarta, sampai Jogjakarta.
Koentjaraningratpun menyebutkan bahwa Banyumas merupakan salah satu dari tujuh wilayah kebudayaan Jawa (Koentjaraningrat, 1994:25-29). Disebutkan bahwa wilayah Kebudayaan Banyumas itu meliputi eks Karesidenan Banyumas yang terdiri atas empat kabupaten. Yaitu; Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.
Pada umumnya masyarakat Banyumas menyebut dirinya Wong Banyumas. Namun menurut Drs. Sugeng Priyadi, M. Hum, pakar naskah kuno dan pengkaji Babad Banyumas dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Wong Banyumas adalah pembauran antara dua kelompok masyarakat dari kerajaan yang berdampingan, yaitu Pakuan Parahiyangan/Pajajaran dan Pasirluhur/Galuh). Pembauran ini akhirnya membentuk satu komunitas baru, sebagai suatu keluarga besar yang hidup rukun dan berkesinambungan, baik dalam sejarah maupun kehidupan sosial-budaya yang khas, (wawancara tanggal 28 Oktober 2009). Dijelaskan pula bahwa dinasti Banyumas adalah keturunan dinasti lokal Pasir dan Wirasaba dengan Pajajaran dan Majapahit. Teks Babad Banyumas melegitimasikan
lx
nenek moyang Wong Banyumas berasal dari dua kerajaan yang berwibawa di Pulau Jawa, yaitu Pajajaran dan Majapahit, (Sugeng Priyadi dan Suwarno, 2004:4).
Salah satu ciri utama Wong Banyumas terlihat pada bahasa ibu. Jika mereka berbicara terdengar cowag (keras nada suaranya), gemluthuk (bergelutuk karena bunyi-bunyi yang muncul terkesan serba berat) kalau berbincang seperti tergesa atau cepat menanggapi. Logat bahasanya kenthel, luged, mbleketaket (kental, mengasyikkan) enak didengar oleh komunitas masyarakat pemiliknya sesama daerah, tetapi kadang membuat orang dari wilayah lain tersenyum dan kesulitan memahami maknanya.
Daerah persebaran Bahasa Jawa dialek Banyumasan jauh berbeda dengan luas wilayah administratif pemerintahan. Perkembangannya pun maju searah dengan kemajuan zaman. Daerah persebaran yang saat ini masih menggunakan bahasa Jawa dialek Banyumasan adalah Kebumen, Banjarnegara, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Pemalang, Tegal, Brebes, dan Pesisir Cirebon bagian timur, (Budiono Herusatoto, 2008:20).
b. Kebudayaan Banyumas
Kebudayaan Banyumas merupakan salah satu kebudayaan daerah yang berkembang di wilayah Banyumas, yang menjadi lambang identitas daerah. Dapat pula diartikan sebagai segala bentuk warisan lokal yang dimiliki masyarakat Banyumas, baik yang berwujud (konkret) maupun tak berwujud (abstrak).
lxi
Berbicara tentang sejarah budaya Banyumas berarti membahas perkembangan warisan budaya, berupa kebudayaan tradisional yang didukung oleh masyarakat Banyumas. Masyarakat dengan penuh kreatifitas menata unsur-unsur budaya itu menjadi sesuatu yang harmonis dan khas. Pola kebudayaan yang telah berurat berakar pada pendukungnya ini diwariskan dari generasi ke generasi.
Unsur-unsur Budaya Banyumas yang menonjol adalah; sistem sosial, religi, bahasa, seni, sejarah, dan adat istiadat. Warisan lokal ini perlu dilestarikan karena memiliki nilai-nilai moral, ideologi, sosiologi, dan politik yang tinggi bagi pemiliknya. Selain itu jika dikembangkan bisa menjadi aset pendapatan daerah yang cukup potensial.
Penelitian terhadap Budaya Banyumas menunjukkan bahwa para Bupati Banyumas merupakan client dari patron raja-raja Jawa, (Sugeng Priyadi dan Suwarno, 2004:7). Karena itu, pola relasi sosial masyarakat Banyumas pun menunjukkan aspek paternalistik dan egaliter yang menonjol. Budaya paternalistik menunjukkan bahwa hubungan antara patron (bapak dari anak-anaknya) dengan masyarakat tidak ada jarak yang terlalu lebar. Contohnya hubungan bapak dan anak seringkali diperlihatkan dalam pergaulan yang dekat. Anak atau anak muda menyebut ayahnya atau orang yang lebih tua dengan sebutan ma, rama, atau ramane. Menurut Koderi (1991:150-152) orang Banyumas memiliki ungkapan anak polah bapa kepradhah, sebagai bentuk tanggung jawab yang besar seorang patron
lxii
terhadap perilaku anak-anaknya. Ungkapan dikempit diindhit, dikukup diraup, menunjukkan bahwa seorang patron harus dekat dengan rakyatnya dan tidak pilih kasih (emban cindhe emban siladan).
Budaya egaliter menjelaskan adanya hubungan yang sepadan antara patron dengan rakyat, misalnya ungkapan ngisor galeng, nduwur galeng. Ungkapan tersebut merupakan sikap yang tidak membeda-bedakan antara dirinya sebagai seorang patron dengan rakyatnya. Bahkan ungkapan angger agi dudu, aja kaya dadi; angger agi dadi, aja kaya dudu, menunjukkan kerendahan hati orang Banyumas, (Sugeng Priyadi, 2009:3).
Cablaka atau blakasuta (kebiasaan berbicara dan berbuat spontan apa adanya) yang berkedudukan sebagai sistem nilai budaya dalam kerangka kebudayaan Banyumas, memberikan contoh suatu masyarakat yang demokratis, egaliter, terus-terang, dan terbuka dalam berhubungan dengan masyarakat lain. Keterbukaan itu dapat dilihat dari kemauan dan kemampuan untuk menerima kebudayaan lain. Dalam hal ini kebudayaan Sunda. Banyumas sebagai daerah periphery mempunyai dua ciri kebudayaan, yaitu Jawa dan Sunda. Kebudayaan Jawa yang mendapat pengaruh Majapahit, tecermin pada dialek bahasa Banyumasan, yang lebih dekat dengan bahasa Jawa Kuna. Dengan demikian dialek bahasa Banyumasan itu lebih tua daripada bahasa Jawa baku, yaitu Sala dan Jogja. Bahasa kuna tidak mengenal strata bahasa yang meliputi ngoko, krama dan krama inggil. Bahasa Jawa dialek Banyumasan lekat dengan kecablakaan atau sangat terbuka dan apa
lxiii
adanya, karena bahasa tersebut mencerminkan keegaliteran manusia Banyumas, (Sugeng Priyadi, 2009:4).
Wilayah Banyumas dahulu merupakan daerah mancanegara dari kerajaan-kerajaan Jawa; sejak Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Kartasura hingga Kasunanan Surakarta. Setelah peristiwa perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830), Banyumas yang saat itu merupakan kadipaten, dilepas dari kekuasaan Kasunanan Surakarta dan menjadi wilayah kekuasaan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sejak tahun 1830, (Warwin R. Sudarmo dan Bambang S. Purwoko, 2009:149-157).
Pemerintah kolonial kemudian memecah bekas Kadipaten Banyumas menjadi dua kabupaten; yaitu Banyumas dan Ajibarang. Keduanya dipersiapkan untuk menjadi wilayah karesidenan, bersama dengan tiga kabupaten lainnya yaitu; Purbalingga, Banjarnegara, dan Cilacap. Berdasar Memori Residen Banyumas (M Zandweld) tanggal 4 Juli 1922 segera dibangun sarana irigasi dan transportasi baik jalan, jembatan dan rel kereta api penghubung antarkabupaten dalam karesidenan Banyumas, (Badan Penelitian dan Pengembangan Telematika dan Arsip Daerah, 2005:2-3). Bupati II Ajibarang yang bernama Mertadiredja II, memindahkan ibukota kabupaten dari Ajibarang ke Purwokerto, dan berganti nama menjadi Kabupaten Purwokerto. Selanjutnya, ketika resmi menjadi karesidenan, wilayah Banyumas terdiri atas lima kabupaten yaitu; Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, Cilacap, dan Purwokerto, (M. Koderi, 1991:5).
lxiv
Pada tahun 1935, Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menghapus Kabupaten Purwokerto, kemudian menggabungkannya dengan Kabupaten Banyumas. Terhitung sejak tanggal 1 Januari 1936, karesidenan Banyumas terdiri dari empat kabupaten, yaitu Banyumas, Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara, (Budiono Herusatoto, 2008:14).
Status Banyumas sebagai wilayah karesidenan kemudian dihapus pada masa Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Orde Baru). Sejak itu, keempat kabupaten tersebut secara administratif langsung berada di bawah kewenangan Gubernur Propinsi Jawa Tengah, dengan status sebagai daerah Pembantu Gubernur Jawa Tengah wilayah Banyumas.
Menurut riwayat, nama Banyumas diberikan oleh Jaka Kaiman yang juga dikenal dengan sebutan Adipati Mrapat dan kemudian bergelar Adipati Wargo Utomo II. Nama itu diberikan saat sedang membangun pusat pemerintahan di daerah hutan Mangli, (Koderi, 1991:3). Konon ketika tengah sibuk bekerja, tiba-tiba ada sebatang kayu besar bernama pohon Kayu Mas, hanyut di sungai Serayu, dan berhenti dekat lokasi pembangunan. Adipati Mrapat yang memimpin pembangunan tertarik untuk mengambil batang kayu tersebut dan dijadikan salah satu saka guru atau tiang utama bangunan. Karena kayu itu namanya Kayu Mas, dan hanyut terbawa banyu (air), maka pusat pemerintahan yang baru dibangun itu kemudian diberi nama Banyumas, (Adisarwono dan Bambang S. Purwoko, 1992:52). Namun secara resmi
lxv
Kabupaten Banyumas didirikan oleh Adipati Wargo Utomo II pada hari Jumat Kliwon, tanggal 6 April 1582 M, (Warsito dkk, 2004:3).
Adapun beberapa versi tentang sejarah Banyumas dapat diungkap dan disajikan secara ringkas meliputi babad atau cerita rakyat yang diyakini memiliki fakta, disusun secara kronologis adalah sebagai berikut.
1) Sejarah Banyumas Prakolonial
Budiono Herusatoto (2008:31-49) mendeskripsikan sejarah Banyumas prakolonial dalam kronologi dan pembabakan sebagai berikut :
a) Babad Pasir Luhur Zaman Hindu
Babad Pasir Luhur merupakan awal dari percaturan sejarah lokal dan menjadi sumber legalitas dari para elit penguasa di wilayah barat daya Jawa bagian tengah, yang kini bernama Banyumas. Babad Pasir Luhur menuturkan kisah dari zaman Kerajaan Pakuan Parahiyangan (Pajajaran) di Jawa Barat bagian timur sejak pemerintahan Sri Prabu Langgawesi Dewa Niskala (1466-1474), yang kemudian dilanjutkan oleh puteranya Sri Prabu Linggawastu Ratu Purana Jaya Dewata (1474-1513).
Sri Prabu Linggawastu memiliki empat putera, yaitu : (1)Raden Harya Banyak Catra.
(2)Raden Harya Banyak Blabur. (3)Raden Harya Banyak Ngampar. (4)Dewi Rena Pamekas.
lxvi
Cerita Kamandaka (Lutung Kasarung atau Banyak Catra) merupakan identitas penting sebagai alat penelusur silsilah Pasir (yang merupakan salah satu wilayah di bagian barat Purwokerto) dengan Pajajaran. Menurut silsilah Babad Pasir, yang menjadi Adipati Pasir Luhur hanya sampai pada keturunan keenam, yang dimulai dari Adipati Banyak Catra (Kamandaka), Adipati Banyak Wirata, Adipati Banyak Rama, Adipati Banyak Kesumba, Adipati Banyak Belanak dan Banyak Thole. Setelah masa penyebaran Islam, pada generasi kelima (Banyak Belanak), Pasir Luhur berada di bawah pengaruh Demak. Dengan demikian babakan zaman Hindu dan kekuasaan Kerajaan Majapahit berakhir dan memasuki zaman pra-Islam.
Pasir Luhur yang notabene Islam saat itu, membantu dalam penyebaran Islam dan pembangunan Masjid Demak. Karena jasanya yang dianggap cukup besar, Banyak Belanak diberi gelar Pangeran Senapati Mangkubumi I oleh Sultan Demak.
b) Babad Wirasaba I Zaman Hindu
Babad Wirasaba menceritakan asal-usul Jaka Katuhu dan Raden Paguwon (Adipati Wirahudaya) yang saat itu menjadi Adipati I di Kadipaten Wirasaba I (abad ke-15). Wilayah Kadipaten Wirasaba I saat itu merupakan bagian wilayah Kerajaan Majapahit II (1429-1522), tepatnya pada masa pemerintahan Prabu Kertabumi-Brawijaya V
lxvii
(1468-1478). Sampai saat wafatnya Adipati Wirahudaya, Kadipaten Wirasaba I merupakan kadipaten yang tentram dan makmur.
Ketika Adipati Anom Wirautama menjabat Adipati II, Kadipaten Wirasaba I itu, wilayahnya hingga batas Gunung Sindoro-Sumbing. Kadipaten Ageng Wirasaba selalu ambal-tinambal (berganti-ganti), dipimpin oleh putera, wayah, buyut, canggah, wareng (lima keturunan trah Wirautama I), yaitu Adipati Wirasaba III, Raden Jaka Hurang, bergelar Adipati Wirautama II, Adipati Wirasaba IV, Raden Jaka Surawin bergelar Adipati Wirautama III, Adipati Wirasaba V, Raden Jaka Tambangan bergelar Kiai Raden Adipati Surautama, dan Adipati Wirasaba VI, Raden Jaka Suwarga, bergelar Kiai Adipati Wargautama I.
c) Babad Pasirbatang Zaman Islam
Setelah zaman Hindu berakhir (keturunan kedelapan trah Kamandaka, Adipati Banyak Belanak), Pasir Luhur berada di bawah kekuasaan Demak. Didampingi Pangeran Makedum Wali dari Demak, Banyak Belanak berhasil mengembangkan agama Islam sampai ke Tanah Pasundan (Parahiyangan). Rakyat di daerah Kelundhung Bentar, Endralaya, Batulaya, Timbanganten, Ukur, dan Cibalunggung berhasil di Islamkan.
lxviii
Setelah zaman Adipati Banyak Belanak, trah Kamandaka lenyap akibat ulah putranya sendiri, Raden Arya Banyak Thole yang membangkang dan murtad kembali memeluk Hindu. Ia membunuh ayahnya sendiri dengan cara dikubur hidup-hidup saat tengah sakit. Karena alasan itu, Kadipaten Pasirbatang diserbu pasukan Demak, dan ia melarikan diri.
Patih dari Adipati Banyak Belanak dan sempat juga menjadi Patih dari Adipati Banyak Thole, yang bernama Banyak Geleh alias Patih Wirakencana, diberi kekuasaan penuh untuk mewakili Sultan Demak, menggantikan jabatan sebagai Adipati Pasir. Sejak itulah dalem Kadipaten Pasirluhur pindah dan nama wilayahnya disebut Kadipaten Pasirbatang. Praktis garis keturunan/silsilah keluarga kerajaan pun berganti, dan dimulai dari Adipati Wirakencana tersebut.
d) Babad Wirasaba II Zaman Islam
Pada zaman Kraton Pajang abad ke-16 (1546-1586), tepat setelah masuknya era Islam, yang menjadi Adipati Wirasaba adalah Kiai Adipati Wargautama. Ia memiliki lima putera; Raden Ayu Kartimah, Ngabehi Wargawijaya, Ngabehi Wirakusuma, Ngabehi Wirayuda, dan Raden Rara Sukartiyah. Disebutkan, Raden Ayu Kartimah dikawinkan dengan Raden Jaka Kaiman yang berasal dari trah keturunan Kadipaten Pasirbatang, dari silsilah Pangeran Senapati
lxix
Mangkubumi II (Adipati Arya Wirakencana) yang diangkat anak dan juga sebagai murid dari Ki Tolih.
Sejak tahun 1582, Jaka Kaiman (Adipati Wargautama II) menggantikan Kiai Adipati Wargautama. Ia membagi Kadipaten Wirasaba II menjadi empat wilayah. Selanjutnya keempat wilayah tersebut diberikan kepada saudara-saudara iparnya (putera Adipati Wargautama I), sedangkan ia sendiri ditetapkan oleh Sultan Hadiwijaya sebagai Wedana Bupati yang menkoordinir keempat wilayah itu. Karena tindakannya membagi wilayah kadipaten menjadi empat wilayah itu pula, ia kemudian diberi gelar sebagai Adipati Mrapat, oleh rakyat. Artinya, orang yang membagi menjadi empat.
Empat wilayah pembagian dari kadipaten Wirasaba II adalah : (1) Daerah Wirasaba, utara sungai Serayu-Pegunungan Perahu
(Sokaraja Lor, Wirasaba, Kali Merawu) diserahkan kepada Ngabehi Wargawijaya, yang kemudian dibangun menjadi Kabupaten Purbalingga.
(2) Daerah Merden, asal kata wedhen, mredhen; pesisir laut (Kali Citanduy, Pegunungan Kendeng, pesisir Laut Kidul) diserahkan kepada Ngabehi Wirakusuma, yang kemudian dibangun menjadi Kabupaten Cilacap.
lxx
(3) Wilayah Banjar Pertambakan (kali Merawu, dataran tinggi Dieng, pegunungan Kendheng) diserahkan kepada Ngabehi Wirayuda, yang kemudian dibangun menjadi Kabupaten Banjarnegara.
(4) Sedangkan Adipati Wargautama II mendapatkan wilayah Kejawar (selatan pegunungan Perahu, Ajibarang, Wangon, Sampang, Tambak, Kali Bodo) yang kemudian dibangun menjadi Kabupaten Banyumas. Adipati wargautama II kemudian membangun ibu kota kabupaten di sebelah barat Kejawar.
2) Sejarah Banyumas Masa Kolonial a) Banyumas Zaman VOC
Pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645) kabupaten-kabupaten di wilayah barat dijadikan sebagai lumbung (gudang logistik). Daerah-daerah penghasil padi itu terbentang dari Nusawungu sampai Kawunganten yang cukup banyak menghasilkan padi guna memenuhi kebutuhan pangan prajurit Mataram yang melakukan penyerbuan ke pusat kekuasaan Kompeni Belanda (VOC) di Batavia, (Budiono Herusatoto, 2008:65).
Disebutkan pula bahwa Kabupaten Banyumas dipimpin oleh Bupati Banyumas IV, Mertayuda (putera Mertasura/Janah II) ikut serta dalam perjuangan Sultan Agung melawan VOC, yaitu ketika melakukan penyerbuan ke Benteng Belanda pada tahun 1628 dan 1629. Atas peranan pentingnya itu, Mertayuda diberi gelar
lxxi
Tumenggung. Sejak itulah sejarah Banyumas muncul dalam kerangka sejarah Jawa.
b) Banyumas Zaman Kolonial Belanda
Kekuasaan Belanda di Banyumas merupakan imbas dari Perang Diponegoro. Ketika berkecamuk perang tersebut antara tahun 1825 sampai 1830, seorang lurah prajurit bernama Singadipa, Wedana Ajibarang, menjadi andalan Pangeran Diponegoro. Perjuangan heroiknya adalah saat berhasil menghancurkan benteng Margalayu milik Belanda di daerah Karangbolong, dengan mengerahkan kekuatan 600 prajurit (Tim DHC BPP-JSN 45 Banyumas, 2004:2-3).
Perang Diponegoro berakhir pada tahun 1830. Menurut Purnawan Basundoro (2009:4), ketika perlawanan Pangeran Diponegoro bisa dipadamkan (dengan tipu muslihat Belanda), Belanda menderita kerugian yang amat besar. Dari segi finansial mereka telah menanggung beban untuk biaya perang sebesar 30.000.000 Gulden, belum termasuk biaya khusus untuk keperluan militer mereka yang berjumlah tidak kurang dari 2.000.000 Gulden. Jumlah korban jiwa selama peperangan tersebut juga luar biasa banyak. Tidak kurang dari 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa serta tidak kurang dari 7.000 serdadu pribumi tewas. Kurang lebih 200.000 rakyat Jawa juga tewas, yang menyebabkan penduduk Yogyakarta menyusut separuh seusai peperangan tersebut.
lxxii
Dengan pertimbangan itu, Belanda beranggapan bahwa segala biaya dan kerugian yang dikeluarkan oleh Belanda juga menjadi tanggung jawab kedua kerajaan yang dibelanya. Belanda tidak mau begitu saja melepaskan Surakarta dari persoalan ini, walaupun sebenarnya urusan pemberontakan Pangeran Diponegoro adalah persoalan antara Kerajaan Yogyakarta dengan Belanda.
Kerugian sangat besar yang diderita oleh Belanda hampir seluruhnya dibebankan kepada pihak kerajaan. Sedangkan kerajaan sendiri tidak memiliki uang untuk menebus kerugian Belanda tersebut. Sebagai gantinya, Belanda minta sebagian wilayah yang menjadi kekuasaan kerajaan. Yaitu wilayah mancanegara barat terdiri atas Banyumas, Bagelen, dan wilayah mancanegara timur yang mencakup Kediri, Madiun.
Sebagai langkah awal dalam rangka pengambilalihan wilayah mancanegara, pemerintah kolonial Belanda membentuk komisi urusan tanah-tanah kerajaan (Commisie ter Regeling der Zaken) di Surakarta. Sebagian wilayah Kerajaan Surakarta akan ikut diambil alih oleh Belanda, walaupun sebenarnya Pangeran Diponegoro berasal dari Kerajaan Yogyakarta. Alasannya, selama berlangsung perang Diponegoro terpaksa mereka juga harus melindungi Kerajaan Surakarta.
lxxiii
Pada tangal 24 Mei 1830, sebelum diperoleh kesepakatan mengenai pengambilalihan tanah-tanah mancanegara tersebut, salah seorang anggota komisi, J.J. Sevenhoven, secara sepihak menunjuk Residen Pekalongan M.H. Hallewijn mempersiapkan penyelenggaraan pemerintahan sipil di Banyumas dan distrik-distrik di sekitarnya. Ketika Hallewijn tiba di Banyumas pada tanggal 13 Juni 1830, kepala perwakilan sementara pemerintahan Belanda di Banyumas, Borger, yang merupakan anak buah Residen Tegal van Poel, tidak mau mengadakan serah terima jabatan dengan alasan tidak mendapat perintah dari atasannya. Walaupun demikian ia tetap mau menjalankan setiap perintah dari penguasa yang baru.
Di Banyumas, persiapan pengambilalihan pemerintahan berlangsung terus tanpa seijin Susuhunan di Surakarta. Pada tanggal 15 Juni 1830, Hallewijn minta kepada seluruh bupati di wilayah Banyumas untuk menyerahkan piagam pengangkatannya sebagai bupati dari Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta. Baru pada tanggal 22 Juni 1830, pemerintah kolonial Belanda mengadakan perjanjian dengan raja di Surakarta. Dengan perjanjian ini maka secara resmi wilayah mancanegara barat diserahkan kepada pemerintah kolonial Belanda.
Pemerintah kolonial Belanda tampaknya masih cukup baik hati kepada Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta, dengan memberikan
lxxiv
kompensasi atas diambilnya daerah mancanegara. Kompensasi bagi pengambilalihan wilayah Banyumas sebesar 90.000 Gulden. Uang tersebut diberikan kepada Kerajaan Surakarta sebesar 80.000 Gulden dan kepada Kerajaan Yogyakarta sebesar 10.000 Gulden. Sejak saat itu, wilayah Banyumas berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda
(
http://basundoro.blog.unair.ac.id/2009/01/31/sisi-terang-kolonialisme-belanda-di-banyumas/).
Sedangkan unsur-unsur Budaya Banyumas yang masih terpelihara antara lain:
1) Bawor, Simbol Wong Banyumas
Di kalangan masyarakat Banyumas, tokoh Bawor dalam pewayangan menjadi ikon penting. Penetapan secara tidak tertulis ini bermula dari ide Bambang S Purwoko, salah satu tokoh pemerhati kebudayaan Banyumas pada tahun 1987, dan direstui Bupati Banyumas kala itu, Djoko Soedantoko. Hal ini terungkap dari wawancara yang dilakukan dengan Bambang S Purwoko tanggal 18 November 2009.
Tokoh Bawor dalam pakem pedalangan Layang Purwacarita yang menjadi pedoman dasar cerita (pakem) pedalangan gagrag (gaya, model) Banyumasan, diceritakan sebagai buah ciptaan dari bayang-bayang Semar, bukan anak keturunan Semar. Konon, Bawor diciptakan oleh Sang Hyang Tunggal dari bayang-bayang Semar untuk menjadi teman seperjalanan menuju tempat tugasnya di ngarcapada (alam dunia versi wayang).
lxxv
Secara etimologis, ‘Bawor’ berasal dari bahasa Kawi yaitu ‘Ba’ artinya ‘sunar’ (cahaya atau sinar) dan ‘Wor’ artinya awor (campur). Artinya campuran dari cahaya terang dan gelap. Cahaya terang yang terhalang oleh suatu benda sehingga bercampur dengan cahaya gelap dan memunculkan bentuk berupa bayang-bayang, (Budiono Herusatoto, 2008:198).
Bentuk tubuh Bawor mirip dengan bentuk tubuh Semar yang nyaris bulat (tambun). Kepala Bawor berambut bkoak, jidat nonong, perut bulat berpusar bodong, suaranya besar dan berat, namun dalam setiap penampilannya selalu menjadi tokoh yang dihormati dan pendapatnya dipercaya oleh adik-adiknya; Gareng dan Petruk.
Secara umum menurut budayawan Ahmad Tohari, (Rini Fidiyani, 2008:88) yang menjadi ciri khas lageyan (pola tingkah) Bawor menggambarkan watak :
a) Sabar lan narima. Meski dalam cerita sosok ini sering menjadi bahan