BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
Menurut Q, yang mcrupakan salah satu santri pelajar di pondok pesanlren Hidayatul Mubtadi-ien Kalibening ketika ditanya mengenai motivasinya belajar di pesantren : “Aku tuh disuruh bapakku kuliah sambil mondolc76. Bapakku bilang meskipun tidak sungguh-sungguh, tetapi kalau di pondok sudah pasti akan terbiasa sholat jama’ah, ngaji dan sebagainya. Waktu dulu ketika masih di rumah aku sudah terbiasa hidup tertib jama’ah, ngaji, belajar selalu dipantau oleh bapakku. Sejak SD dan SMP sesudah pulang sekolah langsung ngaj77i madrasah. Sepulang dari madrasah, baru mandi, sholat dan makan. Ba’da maghrib mengaji lagi dilanjutkan dengan sholat isya’, belajar sampai jam 9 baru bisa tidur. Setiap harinya seperti itu terus. Diperbolehkan menonton televisi hanya sabtu malam minggu saja. Makanya, aku disuruh untuk kuliah tetapi juga tetap ngaji di pondok. Pokoknya bapakku tu pengen anaknya bisa lebih baik dari dia sendiri
Seperti halnya Q, I mengatakan alasan yang tidak begitu berbeda. “Bapakku bilang daripada ngekos78, mending di Pondok. Karena kalau mondok akan terbiasa sholat jama’ah, ngaji bersama, belajar bersama, bahkan jika ada pelajaran yang kurang paham bisa ditanyakan dengan senior yang lebih mengerti“.
Begitu juga dengan V yang mengungkapkan “Malah bapakku bilang begini, kalau di kos sebulan sudah berapa bayamya? Belum makan, jajan, dan lain-lain. Pokoknya kalau di kos akan tambah boros, tidak dapat tambahan ilmu agama lagi”.
74 M on dok, adalah istilah jawa yang artinya belajar di pondok
77 N gaji, adalah bahasa jawa yang artinya mengkaji. Biasanya digunakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan ilmu agama Islam
Sedangkan N mengatakan: “Waktu dulu di desaku dikunjungi oleh siswa- siswi SMP Alternatif Qaryah Thayyibah. Kebetulan mereka sedang berpromosi dan membawa CD tentang profil Qaryah Thayyibah. Dan temyata ibuku tertarik dengan tawaran mereka. Makanya, aku disuruh sekolah di sana dan dipondokkan sekalian di sini. Karena jarak yang dekat antara pondok dan Qaryah Thayyibah”.
Kemudian J yang juga merupakan salah satu santri pelajar mengatakan: “Sebenarnya aku dulu sudah mau kos di tempatnya mbok L, tetapi aku malah diiming-imingi oleh pak Q untuk mondok. Kata pak Q yang juga sebagai salah satu ustadz di pondok pesantren Hidayatul Mubtadi-ien, di sini dekat dengan Pondok. Pondok putri juga ada
Berbeda dengan mereka, H,0, T, A, K, M, C, dan G terdorong untuk belajar di pesantren dikarenakan faktor ekonomi. Semisal H yang mengatakan: “Sebenarnya aku dulu pengen banget ngelanjutin sekolah mbak. Tapi ibuku bilang, apa kuat ibumu ini membiayai kamu mondok sambil sekolah? Ya udah mbak aku ngalah, akhirnya aku mondok tok”. Ketika dia diberi pertanyaan kedua kenapa ia tidak memilih belajar di sekolah umum saja, ia pun berkelit, “Nggak boleh mbak, aku malah disuruh mondok tok”.
Sedangkan menurut M, “Aku disuruh mondok di pondok ini karena kakakku juga mondok di sini. Kata bapakku, nanti kalau menjenguk atau memberikan uang saku bisa sekalian, atau bisa pulang dengan bergantian.” Ketika ditanya lebih lanjut tentang besamya uang saku yang diberikan, ia pun menjawab: “Ya nggak tentu, seadanya orang tua lah. Nanti kalau kurang bisa dikirimi lagi gitu”.
Begitu juga dengan C yang mengatakan: “Aku disuruh mondok di sini karena kakakku juga mondok di sini”. Ketika peneliti mengajukan pertanyaan apakah ia betah dan kerasan79 belajar di pondok, ia pun menimpali “Ya begini ini mbak. Kerasan sih iya tapi belajarnya ya sekenanya, karena aku pengennya ngelanjutin sekolah. Tapi aku sadar mbak, mungkin orang tua kuatir kalau nggak kuat membiayai. Akhirnya, aku diajak kakakku belajar di sini”.
E yang merupakan salah satu santri mukim karena faktor ekonomi, berseloroh “ Bapakku bilang, mondok ya! Teman-teman dari sini banyak to? Sebenamya aku nggak mau mondok mbak tapi kata bapakku daripada di rumah nganggur, mau kerja masih kecil, disuruh mondok saja. Bapakku juga bilang, biar Bapak nggak bisa ngaji yang penting anaknya bisa”.
Masih berkaitan dengan faktor ekonomi, B yang merupakan salah satu santri mukim yang sampai sekarang masih menjabat sebagai lurah80 ( ketua ) pondok putri mengatakan: “ Sebenarnya aku disuruh ibu untuk melanjutkan SMA, tapi aku tidak mau. Karena aku sudah malas berfikir. Waktu itu aku kuatir kalau aku tidak lulus”. Ketika peneliti menyampaikan pertanyaan tambahan apakah ia tidak mencoba dahulu, ia pun berkilah “Ya pokoknya dulu aku takut banget kalau nggak lulus. Ya akhirnya, mondok tok81. Awalnya aku disuruh mondok di Pondok Y tapi aku nggak mau. Di sana peraturannya ketat banget. Pulang harus dijemput, nggak boleh bawa HP, nggak boleh ngobrol sama cowok,
79 B etah dan K erasan dalam bahasa jawa memiliki arti yang sama yaitu mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan kemudian tinggal di lingkungan tersebut
,0 Lurah dalam pranata sosial jawa digunakan untuk menyebut seseorang yang memimpin sebuah desa. Dalam bahasa Indonesia, Lurah identik dengan Kepala Desa. Di lingkungan pesantren istilah Lurah digunakan untuk menyebut ketua pesantren. Karena lurah tidak hanya menjadi pemimpin tetapi juga sebagai pengayom dan sebagai orang tua kedua. Hal ini sesuai dengan budaya pesantren yang menjadikan kekeluargaan sebagai landasan kehidupan
dan lain sebagainya. La wong82 saling memandang saja kena ta’zir. Ta’zirnya disuruh menyapu halaman pondok putra. Akhimya aku memilih untuk mondok di sini”.
Sedangkan Z yang merupakan salah satu santri mukim yang sekarang sudah menjabat sebagai pengurus mengatakan, “Aku sebenamya sudah pengen banget keluar sejak dulu. Tapi bapakku tidak memperbolehkan. Bapakku bilang, keluar mau ngapain? Keija? Mau kerja apa? Aku selalu disuruh berangkat ke pondok terus. Malah bapakku bilang, nanti kalau aku sudah lulus dari pondok Kalibening aku harus melanjutkan belajar di pondok Al-Qur’an Tingkir”. Ketika ditanya lebih lanjut dengan keterpaksaannyta ia pun berdalih, “Ya gimana ya? Rasanya aku sudah malas untuk berpikir yang sulit”. Ketika disinggung tentang masalah sekolah, ia pun menjawab: “Aku dulu sudah disuruh untuk melanjutkan sekolah di MTs X sekalian mondok, tapi aku tidak mau. Ya akhirnya, aku disuruh mondok di sini”. Kemudian peneliti menanyakan apakah ia akan melanjutkan belajar di pondok Tingkir setelah lulus dari Pondok Kalibening dan ia pun menjawab, “ Tidak tahu mbak, pengennya orang tua begitu, tapi aku yang sudah malas”.
Lain halnya dengan E, Y, U, T, L, R, F, D, UM, K, dan MT yang motivasi belajar mereka di pesantren karena keinginan sendiri untuk sungguh- sungguh belajar di pesantren. Selain keinginan sendiri mereka juga didukung oleh orang tua. Menurut pengakuan F, “Sebenarnya abahku menyuruh aku bekerja, tetapi kakakku malah bilang, perempuan itu tidak wajib mencari nafkah, tapi wajib mencari ilmu. Rizki datangnya dari Allah, yang penting kita
melaksanakan kewajiban dahulu. Uang bisa dicari kapan saja yang penting kita usaha sungguh-sungguh. Kalau kita tidak mencari ilmu, besuk tua kita pasti akan menyesal. Kata-kata kakakku tadi tak pikir-pikir. Ya sudah, akhirnya aku jadi pengen mondok” Ketika di lanjutkan dengan pertanyaan seputar abahnya ia menjawab, “Abahku ngikut aku mbak, tapi sampai sekarang abahku nyumh aku sambil kerja”.
Sedangkan T mengaku, “Ya pengen mondok aja, waktu MTs sudah pengen mondok tapi sekolahnya jauh dari pondok”. Ketika disinggung kenapa ia belajar di pondok baru sekarang, ia pun menjawab: “ He... nggak boleh ibuku, kata ibuku sambil bantu-bantu kerjaan rumah”.
Menurut pengakuan D, “La... temen-temenku yang dari rumah juga banyak yang mondok di sini, ya jadi pengen. Terus aku minta ijin sama bapakku. E, ternyata bapakku kok mendukung banget. Selang beberapa hari kemudian, aku diantar ke pondok ini untuk mendaftar”. Ketika ditanya saat awal ia masuk pondok ia bilang, “Ya, awalnya sih agak nggak kerasan. Tetapi ini kan kamauan aku sendiri, ya tak jalani apa adanya. Memang kehidupan di pondok seperti ini to mbak!”
Seperti halnya dengan H,A, L dan K yang mengatakan bahwa teman- teman mereka di rumah banyak yang mondok di sini, akhirnya mereka pun ikut mondok.
Menurut UK salah satu santri pelajar yang motivasinya karena keinginan sendiri dan didukung orang tuanya, “ Sebenamya dulu aku nggak berkeinginan melanjutkan sekolah di SMP Alternatif Qaryah Thayyibah. Tetapi kakakku kemudian bercerita tentang SMP QT yang pembayaran SPP-nya tidak memaksa
dan itu pun sekalian menabung buat membeli komputer, sekolahnya enak, pelajarannya mengutamakan bahasa inggris, komputer dan internet. Akhirnya, Aku tertarik dengan pelajaran komputer dan internetnya mbak!”. Ketika di telisik tentang kakaknya ia pun menjawab: “ Dulu kakakku mondok di sini, tetapi sekarang sudah berkeluarga dan mendapatkan istri orang sini. Jadi aku tau latar belakang SMP QT selain dari kakakku juga dari dari kakak iparku ”.
Berbeda dengan W yang menceritakan alasan ia belajar di Pondok, “Pertama kali aku dengar cerita tentang pondok ini dari A. Katanya pondok sini enak, peraturannya nggak terlalu ketat dan diperbolehkan pulang sendiri. Dan temyata dia mengajak aku ntuk mondok di sini. Ya, dari pada aku di rumah nganggur, akhirnya aku mau”. Ketika peneliti menanyakan apakah ia tidak berkeinginan melanjutkan sekolah ia malah berdalih, “ He... nggak mbak, nggak pengen aja. Masalah ijazah yang sekarang terasa penting nggak ada masalah. Di pondok ini kan ada program kejar paket B dan aku ikut program itu. Walaupun nyesel juga sih nggak melanjutkan sekolah”.
Lain halnya dengan P yang motivasinya karena dorongan pamannya. Ia mengatakan, “ Waktu aku lulus, aku mau melanjutkan di SMP 1 Suruh. Tapi lekku malah menganjurkan untuk sekolah di SMP Qaryah Thayyibah”. Disinggung mengenai sekolahnya sekarang ia menjawab, “ sekarang kelas 2, di SMK Pelita Salatiga. Lekku bilang, nanti mondok selesai sekolah juga selesai”83.
C. Pembahasan
Berdasarkan hasil wawancara dari 30 santri putri tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar para orang tualah yang memberikan
dorongan (motivasi) terhadap anak-anaknya untuk belajar di pondok pesantren. Sebagian besar orang tua juga berpendapat bahwa dipesantren-lah anak akan hidup mandiri, dapat memperbaiki akhlak dan membangun suasana kekeluargaan dan persaudaraan. Maka alasan inilah mengapa orang tua memasukkan anaknya ke pesantren,yang tentunya agar kelak anak mempunyai akhlak yang baik, dan
mempunyai pengalaman ilmu agama yang cukup Orang tua juga selalu mendukung anaknya sepanjang waktu demi kesuksesan anaknya.
. Menurut sebagian santri, orang tua kurang menguasai metode pemberian motivasi belajar. Hal ini dapat dilihat dari cara penyampaian mereka yang cenderung memaksa dan memberi tekanan kepada si anak. Jadi tidak ada kesan menyenangkan dan enjoy. Walaupun menurut para orang tua motivasi yang telah mereka berikan sudah sangat sesuai. Meski demikian para santri masih tetap menilai bahwasannya metode yang dilakukan oleh orang tua mereka tetaplah harus dihormati. Karena para santri sudah dapat merasakan keberhasilan dari metode tersebut dengan mengacu pada pujian, teguran, dan sapaan orang tua mereka tanpa merendahkan diri mereka.
Orang tua masih berpegang teguh dengan prinsip bahwa apapun bentuk motivasi yang diberikan kepada anak, nantinya akan berdampak positif terhadap kehidupan si anak. Meskipun bentuk motivasi tersebut terkadang merupakan penekanan dalam belajar. Artinya, memang tidak ada satu pun orang tua yang akan menjerumuskan anaknya ke hal yang negatif, meskipun kadang pandangan si anak berlawanan dengan apa yang menjadi prinsip orang tua..
Di samping faktor orang tua, motivasi santri untuk belajar di pesantren adalah kemauan dari diri sendiri yang kemudian didukung oleh orang tuanya.
Santri yang belajar di pesantren dengan motivasi ini biasanya akan mudah mengukir prestasi di pesantren. Misalnya di dalam pelaksanaan imtihan ( tes ) dan penerimaan buku raport..
Ketika sudah memasuki lingkungan pesantren, maka aktor utama yang memberikan motivasi adalah teman-teman sepondok. Hubungan mereka bersifat mutualisme. Dimana satu dan yang lainnya saling membutuhkan dan saling memberikan manfaat. Keterbatasan ruang dan waktu karena terpisah dari orang tua menyebabkan mereka membentuk komunitas yang bersifat mutual tersebut.
Kadang anak merasa tertekan dan tidak kerasan di pesantren. Hal ini biasanya terjadi ketika awal-awal masuk pesantren. Tetapi lama kelamaan usai berjalannya waktu anak tersebut akan merasa nyaman belajar di pesantren. Hal ini disebabkan karena adanya dukungan moral bahkan dukungan material dari teman-teman sepondoknya. Dimana hal tersebut merupakan hal yang sudah dibiasakan di pesantren sejak awal munculnya di negeri ini.
Bahkan terkadang motivasi yang diberikan oleh teman-temannya muncul secara tidak langsung dan tidak dapat diduga. Misalnya dengan cara memberikan pujian kepada salah satu temannya yang berprestasi dalam pelaksanaan imtihan (tes). Maka santri tersebut akan lebih bersemangat dalam belajar. Motivasi ini juga dapat dilihat didalam Tanya jawab antar santri. Ketika salah satu santri tidak bisa menjawab sebuah pertannyaan, maka ia akan berusaha untuk bisa menjawabanya dengan jalan mencari jawaban didalam kitab referensi yang tersedia atau dengan bertanya kepada santri-santri yang lebih senior yang dianggapnya lebih memahami permasalahan tersebut.
Berdasarkan pengamatan yang telah peneliti lakukan, dapat dilihat bahwa dalam kegiatan sehari-hari para santri merasakan kesenangan dan kenyamanan belajar di pesantren, tanpa merasakan beban dalam dirinya. Mungkin hal ini disebabkan santri hidup di lingkungan pesantren dengan teman yang begitu banyak dan selalu melaksanakan berbagai aktivitas secara bersama, berangkat mengaji bersama, belajar bersama. Inilah yang menjadi motivasi yang sangat kuat bagi santri untuk belajar lebih giat lagi. Mereka bagaikan satu keluarga yang memiliki rasa saling memiliki, saling menyayangi dan rasa persaudaraan yang sangat erat.
BAB IV PENUTUP
A . Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diam bil kesimpulan sebagai berikut:
1. D ari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap 30 santri putri Pondok Pesantren Hidayatul M ubtadi-ien dan dokumentasi pondok putri dapat diketahui bahwa 26 santriwati hidup dari keluarga petani, 2 santriwati dari keluarga wiraswasta, 1 santriwati dari keluarga pedagang dan satu santriwati lagi merupakan putri dari orang tua yang berprofesi sebagai anggota P O LR I.
2. D ari 26 santriwati keluarga petani tersebut 20 santriwati diantaranya term otivasi belajar di pesantren karena dorongan orang tua, sisanya karena ajakan dari teman sebayanya. Faktor ekonomi m enjadi motivasi tambahan bagi 6 santriwati dari 20 santriwati keluarga petani yang
> belajar di pesantren karena faktor orang tua. Sedangkan sisanya 6 anak
memang m em iliki keinginan sendiri dan 4 anak belajar di pesantren sambil sekolah umum di luar pesantren. Dua santriwati yang berasal dari keluarga wiraswasta belajar di pesantren karena faktor orang tua. Sedangkan satu santriwati anak pedagang dan satu anak anggota P O L R I belajar di pesantren selain karena dorongan orang tua juga karena sekolah umum di lingkungan sekitar pesantren.
Motivasi yang diberikan orang tua kepada anak dapat berupa: 1. Memberikan semangat dan dorongan dari rumah
2. Memberikan motivasi belajar ketika anak berada di rumah 3. Memberikan perhatian khusus agar anak tetap semangat belajar 4. Memberikan sarana belajar yang mendukung motivasi belajar Motivasi yang diberikan teman sepondoknya dapat berupa:
1. Memberikan semangat setiap mengikuti kegiatan, bisa berupa tepuk tangan, ungkapan dukungan, dukungan untuk lebih baik dan lain sebagainya
2. Belajar bersama
3. Memberikan perhatian kepada sesama teman dalam bentuk saling tolong-menolong dan saling membantu
B. Saran-saran
Bardasarkan hasil penelitian dan analisa penelitian terhadap motivasi santri, maka peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut:
a) Bagi orang tua:
1. Agar sebagai orang tua tetap memantau anaknya yang berada di pesantren supaya anak tetap merasakan perhatian orang tua.
2. Agar sebagai orang tua selalu memberikan motivasi atau dorongan dengan metode-metode yang tepat agar anak tidak merasa tertekan.
b) Bagi pihak pesantren:
1. Agar sebagai pihak pendidik memberikan metode-metode pengajaran dan pendidikan yang tepat supaya kegiatan belajar mengajar di lingkungan pesantren berhasil dengan baik.
2. Agar perhatian pihak pesantren terhadap santri tidak pemah kendur walaupun menyangkut hal-hal yang kecil. Seperti pemberian hadiah bagi siswa yang berprestai dan sebagainya.
3. Agar anak didik tidak merasa tertekan sebaiknya pihak pesantren memberikan kesempatan kepada santri untuk menimba ilmu dan pengalaman di luar pesantren.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad. 1987. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Angkasa
Arifin, H. M.1991. Kapita Selekta Pendidikan Islam dan Umum. Jakarta: Bumi Aksara
Arikunto, Suharsimi.1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Yogyakarta: Rineka Cipta
Bukhori.1983. Shoheh Bukhori, Penterjemah Zainuddin Hamidy dkk. Jakarta: Widjaya
Dauly, Haidar Putra.2004. Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Depag RI.2000. Al-Qur ’an dan Terjemahnya. Bandung: Diponegoro
_________ .2003. Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah, Pertumbuhan dan Perkembangannya. Jakarta
Djaramah, Syaifiil Bahri.2002. Rahasia Sukses Belajar. Jakarta: Rineka Cipta Drever, James. 1986. Kamus Psikopologi. Jakarta: Bina Aksara
Faisal, Sanapiah dan Mulyadi Guntur Waseso.1982. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional
Furchan, Arief.1992. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional
Galba, Sindu. 1995. Pesantren Sebagai Wadah Komunikasi. Jakarta: Rineka Cipta Hadi, Sutrisno.1995. Metodologi Research II. Yogyakarta: Yayasan Penerbit
Psykology UGM
Hamalik, Oemar.1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
______________ .1991. Manajeman Belajar di Perguruan Tinggi, Pendekatan Sistem Kredit Semester. Bandung: Sinar Baru
______________.1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Madjid, Nurcholish.1997. Bilik-bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramidana
Miles, Mattew B dan A Michael Huberman.1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI Press
Muhadjir, Noeng.l996.Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rake Sarasin Nafi’, M Dian dkk.2007. Praktis Pembelajaran Pesantren. Yogyakarta: LKiS
Pelangi Aksara
Nasir, H. M ridlwan.2005. Mencari Tipologi, Format Pendidikan Ideal, Pendidikan di Tengah Arus Perubahan. Yogyakarta: Pustaka pelajar
Pordarminta, W.J.S.1082. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Rachman, Budhy Munawar.2006. Ensiklopedi Nurcholish Madjid, Pemikiran Islam
di Kanvas Peradaban, Jilid III. Jakarta: Mizan
Sadirman.1992. Interaksi dan motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers Sukmadinata, Nana Syaodih.2003. Landasan Psikologis Proses Pendidikan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Syah, Muhibbin.1995. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Rosdakarya
www.google.com
Yasmadi.2002. Modernisasi Pesantren, Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional. Jakarta: Ciputat Press
KISI-KISI PENGUMPULAN DATA
NO. Metode
pengumpulan Data
Sumber Data Jenis Data
1. Wawancar a Ketua pondok pesantren Hidayatul Mubtadi-ien
1) Sejarah berdirinya pondok pesantren Hidayatul mubtadi-ien 2) Pendidikan dan pengajarannya 3) Sistem atau metode pengajaran di
kelas
• Ciri khas metodenya 4) Kurikulum
• Pembentukan kurikulum
• Ciri khas kurikulum
5) Keadaaan ustadz dan santri • Aktivitas santri
• Peraturan yang berlaku
Santri Motivasi belajar di pondok pesantren
Hidayatul Mubtadi-ien
• Alasan tidak melanjutkan sekolah (bagi santri mukim)
• Alasan tidak memilih untuk bekerja
2. Observasi Lingkungan • Kegiatan santri
• Letak pesantren dan penataan sarana dan prasarana
• Perlengkapan sarana dan prasarana
3. Dokumentasi Pondok pesantren Hidayatul
mubtadi-ien
• Jadwal mata pelajaran
• Struktur organisasi
• Absensi
• Jumal
• Jumlah ustadz
• Jumlah santri
PEDOMAN WAWANCARA
A. Pengurus pondok pesantren Hidayatul Mubtadi-ien
1) Bagaimana sejarah berdirinya pondok pesantren ini?
2) Bagaimana sistem pendidikan dan pengajaran yang telah berlaku saat ini? 3) Bagaimana sistem pengajaran di kelas?
4) Apakah santri juga ikut aktif dalam belajamya?
5) Siapakah yang membentuk kurikulum yang ada di pesantren ini? 6) Bagaimana prosesnya?
7) Apa ciri khas kurikulum dan metode di pesantren ini?
8) Apakah ada perbedaan antara struktur organisasi putra, organisasi putri, dan madrasah?
9) Berapakah jumlah ustadz yang aktif mengajar di pesantren ini? 10) Berapakah jumlah santri baik santri kalong maupun santri mukim? 11) Bagaimana aktivitas santri dalam kehidupan sehari-hari?
B. Santri
1) Apa motivasi anda dalam belajar di pondok pesantren ini? 2) Dengan dorongan siapakah anda belajar di pesantren ini? 3) Apakah anda merasa tertekan belajar di pesantren ini?
4) Apakah anda merasa tertekan dengan peraturan yang berlaku di pesantren ini? 5) Mengapa anda tidak memilih untuk melanjutkan sekolah?
6) Mengapa anda tidak memilih untuk bekerja? 7) Bagaimana dukungan orang tua?
8) Berapa lama anda pulang ?
9) Ketika belajar di kelas apakah anda cepat memahami pelajaran? 10) Ketika akan mendekati test bagaimana perasaan anda?
11) Ketika tidak mendapatkan rangking apakah anda merasa kecewa? 12) Bagaimana cara belajar anda di pesantren ini?
TRANSKIP OBSERVASI
H ari/T gl : Minggu, 5 April 2009 Jam : 21.00 - 22.00
Kegiatan : Khitobah Diskripsi Data :
Kegiatan khitobah ini dilakukan perkamar sesudah mereka sholat Isa’. Kegiatan ini dilakukan bertujuan untuk melatih mental santri, dan dilakukan satu minggu sekali, tepatnya malam senin. Dalam