BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
Dalam subbab ini, peneliti memaparkan tiga hasil temuan yang diperoleh dari analisis data. Pemaparan dilakukan berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan metodologi pada bab III. Berikut ini pemaparan hasil penelitiannya. 4.2.1 Tingkat Keterbacaan Wacana Pada Buku Teks Kompeten Berbahasa
Indonesia untuk SMA Kelas XIterbitan Erlangga Berdasarkan Grafik Fry Analisis tingkat keterbacaan wacana yang dilakukan pada wacana-wacana yang terdapat dalam buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XIterbitan Erlangga berjumlah 24 wacana. Berikut ini tabel hasil analisisnya.
TABEL 7
Analisis Tingkat Keterbacaan Wacana Buku Teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI terbitan Erlangga Berdasarkan Fry
Kode Teks Jumlah Kalimat
Jumlah
Suku Kata Penafsiran Keterangan
Er. 1 7,5 128 4, 5, 6 Tidak Cocok
Er. 2 5,6 122 5, 6, 7 Tidak Cocok
Er. 3 4,7 142 8, 9, 10 Tidak Cocok
Er. 4 10,4 145 5, 6, 7 Tidak Cocok
Er. 5 4,6 163 11, 12, 13 Cocok
Er. 6 5,7 127 5, 6, 7 Tidak Cocok
Er. 7 2,6 136 8, 9, 10 Tidak Cocok
Er. 8 6,6 143 6, 7, 8 Tidak Cocok
Er. 9 7,2 155 8, 9, 10 Tidak Cocok
Dari analisis terhadap 24 wacana yang terdapat dalam buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XIterbitan Erlangga yang disajikan dalam Tabel 7 diperoleh hasil bahwa hanya terdapat dua teks yang cocok digunakan untuk siswa kelas XI, yaitu wacana dengan kode Er. 5 yang berjudul “Penerapan Manajemen untuk Kemajuan Koperasi” dan Er. 10 yang berjudul “Kualitas Penduduk Indonesia Memprihatinkan”, sedangkan 22 wacana lainnya menunjukkan bahwa wacana tersebut tidak cocok digunakan untuk siswa kelas XI.
Adapun teks-teks yang tidak cocok digunakan untuk siswa kelas XI adalah teks yang berkode Er.1 berjudul “Ibunda yang Merawat Alam Semesta”, Er. 2 berjudul “Cerita Nabi Sulaiman Mendengar Kata Landak”, Er. 3 berjudul “Malapetaka akan Datang, AS!”, Er. 4 berjudul “Barang Impor Menjajah Negeri Ini”, Er. 6 berjudul “Membayangkan Indonesia Masa Depan”, Er. 7 berjudul “Dari Gadis Sang Pemburu Senja”, Er. 8 berjudul “Bidan Susah, Terpaksa Anak Lahir
Er. 11 12,9 124 1, 2, 3 Tidak Cocok
Er. 12 7,6 118 3, 4, 5 Tidak Cocok
Er. 13 9 136 5, 6, 7 Tidak Cocok
Er. 14 7,8 151 7, 8, 9 Tidak Cocok
Er. 15 7,9 137 5, 6, 7 Tidak Cocok
Er. 16 6 145 7, 8, 9 Tidak Cocok
Er. 17 10,7 130 3, 4, 5 Tidak Cocok
Er. 18 6,5 148 7, 8, 9 Tidak Cocok
Er. 19 4,7 123 6, 7, 8 Tidak Cocok
Er. 20 15,5 116 0, 1, 2 Tidak Cocok
Er. 21 9,5 115 1, 2, 3 Tidak Cocok
Er. 22 6,9 125 4, 5, 6 Tidak Cocok
Er. 23 9 141 5, 6, 7 Tidak Cocok
di Tengah Hutan”, Er. 9 berjudul “Peluang dan Tantangan Kependudukan”, Er. 11 berjudul “Miranda: Jangan Ambil Nyawaku (Cloning Miranda)”, Er. 12 berjudul “Bako”, Er. 13 berjudul “Biji Jarak Sebagai Bahan Bakar Alternatif”, Er. 14 berjudul “Wayang, Karya Agung Dunia”, Er. 15 berjudul “Saat Hantu Jadi Selebritis”, Er 16 berjudul “Problem Kesehatan dan Herbal”, Er. 17 berjudul “Sungai”, Er. 18 berjudul “Dialog Lintas Agama”, Er. 19 berjudul “Heboh Senjata Biologis”, Er. 20 berjudul “Tiga Ribu Enam Ratus Detik Antara Rawasari dengan Cililitan”, Er. 21 berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”, Er. 22 berjudul “Johar Manikam Dilarikan Zenggi”, Er. 23 berjudul “Susi Susanti, Peraih Emas Pertama Olimpiade”, dan teks dengan kode Er. 24 berjudul “Wonder Boy Menuju Kandidat Juara Dunia”. Semua wacana tersebut memiliki tingkat keterbacaan yang berbeda-beda dan menunjukkan kelas baca yang berbeda pula.
Untuk wacana berkode teks Er. 5 dengan judul “Penerapan Manajemen untuk Kemajuan Koperasi” analisis datanya dapat dilihat pada lampiran. Dari analisis data menyebutkan kata 100 pada wacana tersebut jatuh pada kata ke-13 dari 20 kata. Perhitungan kalimat tidak utuh adalah ke-13 : 20 = 0,65 dibulatkan menjadi 0,6. Dengan demikian perhitungan kalimat utuhnya adalah 4 + 0,6 = 4,6. Berdasarkan perhitungan jumlah suku katanya adalah 272. Kemudian jumlah suku kata dikalikan 0,6 sehingga diperoleh hasilnya adalah 272 x 0,6 = 163,3 dibulatkan menjadi 163. Angka yang diplotkan ke dalam grafik Fry adalah 4,6 dan 163. Maka Grafik Frynya seperti berikut ini.
Grafik Fry 1 Untuk Kode Teks: Er. 5
Dalam grafik Fry, angka yang tertera dalam pada baris tegak lurus menunjukkan jumlah suku kata per 100 kata dan angka yang tertera pada garis mendatar menunjukkan jumlah kalimat per 100 kata. Pertemuan antara baris tegak lurus dengan baris mendatar menunjukkan tingkatan atau kelas-kelas pembaca. Kolom yang diarsir hitam/daerah hitam menunjukkan bahwa wacana tersebut tidak bis digunakan/tidak absah.
Berdasarkan pemplotan pada Grafik Fry di atas untuk kode teks Er. 5
berjudul “Penerapan Manajemen untuk Kemajuan Koperasi”, dari kolom jumlah suku kata yaitu 4,6 pada baris tegak lurus ditarik garis bertemu dengan garis dari baris mendatar yaitu 163 pada kolom jumlah kalimat sehingga titik pertemuannya jatuh pada tingkatan atau kelas pembaca 12. Sesuai dengan teori penggunaan Grafik Fry, maka hendaknya peringkat kelas pembaca ini dikurangi satu tingkat
dan ditambah satu tingkat. Sehingga, hasil yang diperoleh adalah 12 – 1 = 11 dan 12 + 1 = 13. Jadi wacana Er. 5 cocok untuk kelas 11, 12, dan 13 atau mahasiswa.
Teks dengan kode Er. 10 (Lihat Tabel 7) juga dianggap cocok untuk siswa kelas 11. Berdasarkan tabel analisis data (terlampir), teks yang berjudul “Kualitas Penduduk Indonesia Memprihatinkan” menyatakan kata ke-100 pada wacana tersebut jatuh pada kata ke-24 dari 25 kata. Perhitungan kalimat tidak utuh adalah 24 : 25 = 0,96 dibulatkan menjadi 1. Dengan demikian, perhitungan kalimat utuhnya adalah 3 + 1 = 4. Berdasarkan perhitungan jumlah suku katanya adalah 257. Kemudian jumlah suku kata dikalikan 0,6 sehingga diperoleh hasilnya adalah 257 x 0,6 = 154,2 dibulatkan menjadi 154. Angka yang diplotkan ke dalam grafik Fry adalah 4 dan 154. Maka Grafik Frynya seperti berikut ini.
Berdasarkan pemplotan pada Grafik Fry di atas, titik pertemuan antara kolom jumlah suku kata yaitu angka 4 pada baris tegak lurus ditarik garis bertemu dengan garis dari baris mendatar yaitu angka 154 pada kolom jumlah kalimat sehingga jatuh pada pada tingkatan atau kelas pembaca 11. Sesuai dengan teori penggunaan Grafik Fry, maka hendaknya peringkat kelas pembaca ini dikurangi satu tingkat dan ditambah satu tingkat. Sehingga, hasil yang diperoleh adalah 11 – 1 = 10 dan 11 + 1 = 12. Jadi wacana Er. 10 cocok untuk kelas 10 (kelas 1 SMA), 11, dan 12. Wacana Er. 10 sesuai dengan tingkat keterbacaan yang diharapkan dimana wacana tersebut menunjukkan kelas yang cocok bagi pembacanya, yaitu kelas 11.
Sebagian besar wacana dalam buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI terbitan Erlangga yang dianalisis menunjukkan kelas pembaca yang berbeda-beda atau tidak sesuai dengan tingkatan pembaca untuk kelas XI SMA. Teks yang dianggap tidak cocok contohnya adalah wacana dengan kode teks Er. 1 yang berjudul “Ibunda yang Merawat Alam Semesta”. Hasil analisis data (Lihat Lampiran) menunjukkan bahwa kata ke-100 pada wacana tersebut jatuh pada kata ke-10 dari 21 kata. Perhitungan kalimat tidak utuh adalah 10 : 21 = 0,47 dibulatkan menjadi 0,5. Dengan demikian perhitungan kalimat utuhnya adalah 7 + 0,5 = 7,5. Berdasarkan perhitungan jumlah suku katanya adalah 214. Kemudian jumlah suku kata dikalikan 0,6 sehingga diperoleh hasilnya adalah 214 x 0,6 = 128,4 dibulatkan menjadi 128. Angka yang diplotkan ke dalam grafik Fry adalah 7,5 dan 128.
Berdasarkan pemplotan pada Grafik Fry, titik pertemuan antara baris tegak lurus dengan baris mendatar yaitu 7,5 dan 128 jatuh pada tingkatan atau kelas pembaca 5. Sesuai dengan teori penggunaan Grafik Fry, maka hendaknya peringkat kelas pembaca ini dikurangi satu tingkat dan ditambah satu tingkat. Sehingga, hasil yang diperoleh adalah 5 –1 = 4 dan 5 + 1 = 6. Jadi wacana Er. 1 cocok digunakan untuk kelas pembaca 4, 5, dan 6 pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar.
Grafik Fry 3 Untuk Kode Teks Er. 1
Ketidak cocokkan wacana untuk siswa kelas XI SMA juga ditunjukkan oleh wacana berkode Er. 16. Wacana ini berjudul “Problem Kesehatan dan Herbal”. Kata ke-100 pada wacana tersebut jatuh pada kata terakhir yang merupakan satu kalimat utuh. Dengan demikian perhitungan kalimat utuhnya adalah 6. Berdasarkan perhitungan jumlah suku katanya adalah 242. Kemudian
jumlah suku kata dikalikan 0,6 sehingga diperoleh hasilnya adalah 242 x 0,6 = 145,2 dibulatkan menjadi 145. Angka yang diplotkan ke dalam grafik Fry adalah 6 dan 145.
Dari pemplotan Grafik Fry (Lihat Lampiran) menunjukkan titik pertemuan antara baris tegak lurus yaitu dari angka 6 yang berasal dari jumlah kalimat dengan baris mendatar yang menunjukkan jumlah suku kata yaitu angka 145 jatuh pada tingkatan atau kelas pembaca 8. Sehingga, hasil yang diperoleh adalah 8– 1 = 7 dan 7 + 1 = 9. Dengan demikian, wacana Er. 16 cocok digunakan untuk kelas pembaca 7, 8, dan 9. Kelas pembaca ini merupakan kelas pembaca untuk siswa SMP.
4.2.2 Tingkat Keterbacaan Wacana Pada Buku Teks Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA Kelas XI terbitan Esis Berdasarkan Grafik Fry
Untuk menjawab rumusan masalah yang kedua, maka berdasarkan deskripsi data peneliti melakukan analisis data tingkat keterbacaan wacana yang berjumlah 14 wacana. Hasil analisis wacana berdasarkan Grafik Fry tertuang pada tabel di bawah ini.
Tabel 8
Analisis Tingkat Keterbacaan Wacana Buku Teks Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA Kelas XI terbitan Esis Berdasarkan
Grafik Fry Kode Teks Jumlah Kalimat Jumlah Suku
Kata Penafsiran Keterangan
Es. 2 5,6 152 8, 9, 10 Tidak Cocok
Es. 3 5,4 140 7, 8, 9 Tidak Cocok
Es. 4 7,6 146 6, 7, 8 Tidak Cocok
Es. 5 7,8 154 7, 8, 9 Tidak Cocok
Es. 6 14,8 111 0, 1, 2 Tidak Cocok
Es. 7 11,3 110 0, 1, 2 Tidak Cocok
Es. 8 9,3 139 5, 6, 7 Tidak Cocok
Es. 9 5 156 9, 10, 11 Cocok
Es. 10 7,1 132 5, 6, 7 Tidak Cocok
Es. 11 8,4 134 4, 5, 6 Tidak Cocok
Es. 12 6,5 110 3, 4, 5 Tidak Cocok
Es. 13 6,4 151 8, 9, 10 Tidak Cocok
Es. 14 5,3 148 8, 9, 10 Tidak Cocok
Berdasarkan Tabel 8 di atas hasil analisis wacana yang terdapat dalam buku teks Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA Kelas XI terbitan Esis menunjukkan 13 wacana dianggap tidak cocok dan 1 wacana cocok digunakan untuk siswa kelas XI SMA. Wacana yang dianggap
cocok berjudul “Kerangka Keamanan RI-Australia” berkode teks Es. 9.
Hasil analisis data untuk wacana dengan kode teks Es. 9 (Lihat Lampiran) adalah sebagai berikut. Kata ke-100 pada wacana berjudul “Kerangka Keamanan RI-Australia” tersebut jatuh pada kata yang terakhir. Hal ini berarti kalimat tersebut merupakan kalimat utuh. Dengan demikian perhitungan kalimat utuh per seratus kata adalah 5. Berdasarkan perhitungan jumlah suku katanya adalah 260. Kemudian jumlah suku kata dikalikan 0,6 sehingga diperoleh hasilnya adalah 260 x 0,6 = 156. Angka yang diplotkan ke dalam grafik Fry adalah 5 dan 156. Hasil pemplotan wacana Es. 9 berdasarkan Grafik Fry seperti di bawah ini.
Grafik Fry 4 Untuk Kode Teks Es. 9
Dari pemplotan Grafik Fry di atas, pertemuan garis angka 5 pada jumlah kalimat dengan garis angka 156 pada jumlah suku kata jatuh pada daerah peringkat 10. Sesuai dengan teori penggunaan Grafik Fry untuk wacana Bahasa Indonesia, maka peringkat kelasnya hendaknya dikurangi satu tingkat dan ditambah satu tingkat. Jadi, wacana tersebut cocok untuk 10- 1 = 9, 10, dan 10 + 1 = 11 yang artinya wacana berkode Es. 9 dapat digunakan untuk pembaca kelas 9 SMP dan kelas 10 serta 11 SMA. Wacana yang termuat di dalam buku teks
Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA Kelas XI
terbitan Esis seharusnya berisi wacana-wacana yang sesuai dengan kelas pembacanya, yaitu siswa kelas XI.
Untuk kategori teks yang dianggap tidak cocok, salah satunya adalah
diperoleh data yaitu kata ke-100 jatuh pada kata ke-6 dari 7 kata. Perhitungan kalimat tidak utuh adalah 6 : 7 = 0,8. Dengan demikian, perhitungan kalimat utuh per seratus kata adalah 14 + 0,8 = 14, 8. Berdasarkan perhitungan jumlah suku katanya adalah 185. Selanjutnya, jumlah suku kata dikalikan 0,6 sehingga diperoleh hasilnya adalah 185 x 0,6 = 111. Maka, angka yang diplotkan ke dalam grafik Fry adalah 14, 8 dan 111. Hasil pemplotannya adalah seperti di bawah ini.
Grafik Fry 5 Untuk Kode Teks Es. 6
Berdasarkan pemplotan pada Grafik Fry di atas untuk wacana dengan kode teks Es.6 berjudul “Eiffel, I’m In Love”, titik pertemuan antara angka 14,8 untuk jumlah kalimat dari baris tegak lurus dengan angka 111 untuk jumlah suku kata dari baris mendatar jatuh pada tingkatan atau kelas pembaca 1. Hasil yang diperoleh dari peringkat kelas tersebut adalah 1 – 1 = 0 dan 1 + 1 = 2. Jadi, wacana Es. 6 cocok untuk kelas pembaca 0, 1, dan 2. Kelas pembaca 0 dapat
diartikan wacana ini tidak cocok digunakan untuk anak-anak yang berada pada jenjang Taman Kanak-Kanak. Tetapi, wacana Es. 6 dimungkinkan digunakan untuk siswa kelas 1 dan 2 SD.
4.2.3 Wacana dalam Buku Teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI terbitan Erlangga dan Buku Teks Panduan Belajar dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA kelas XI terbitan Esis Sebagai Bahan Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh tingkat keterbacaan wacana untuk masing-masing buku teks (Lihat Tabel 7 dan 8). Dari kedua tabel tersebut dapat diketahui tingkat keterbacaan wacana yang berbeda-beda. Untuk lebih jelasnya dikelompokkan dalam tabel di bawah ini.
Tabel 9
Perbedaan Tingkat Keterbacaan Wacana dalam Buku Teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI terbitan Erlangga dan Buku Teks Panduan Belajar dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA kelas XI terbitan
Esis Berdasarkan Grafik Fry Kompeten Berbahasa Indonesia untuk
SMA Kelas XI terbitan Erlangga
Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA Kelas
XI terbitan Esis
Kode Teks Penafsiran Keterangan Kode Teks Kelas Penafsiran Er. 1 4, 5, 6 Tidak Cocok Es. 1 7, 8, 9 Tidak Cocok Er. 2 5, 6, 7 Tidak Cocok Es. 2 8, 9, 10 Tidak Cocok Er. 3 8, 9, 10 Tidak Cocok Es. 3 7, 8, 9 Tidak Cocok Er. 4 5, 6, 7 Tidak Cocok Es. 4 6, 7, 8 Tidak Cocok
Er. 5 11, 12, 13 Cocok Es. 5 7, 8, 9 Tidak Cocok
Er. 6 5, 6, 7 Tidak Cocok Es. 6 0, 1, 2 Tidak Cocok Er. 7 8, 9, 10 Tidak Cocok Es. 7 0, 1, 2 Tidak Cocok Er. 8 6, 7, 8 Tidak Cocok Es. 8 5, 6, 7 Tidak Cocok Er. 9 8, 9, 10 Tidak Cocok Es. 9 9, 10, 11 Cocok Er. 10 10, 11, 12 Cocok Es. 10 5, 6, 7 Tidak Cocok
Er. 11 1, 2, 3 Tidak Cocok Es. 11 4, 5, 6 Tidak Cocok Er. 12 3, 4, 5 Tidak Cocok Es. 12 3, 4, 5 Tidak Cocok Er. 13 5, 6, 7 Tidak Cocok Es. 13 8, 9, 10 Tidak Cocok Er. 14 7, 8, 9 Tidak Cocok Es. 14 8 , 9, 10 Tidak Cocok Er. 15 5, 6, 7 Tidak Cocok
Er. 16 7, 8, 9 Tidak Cocok Er. 17 3, 4, 5 Tidak Cocok Er. 18 7, 8, 9 Tidak Cocok Er. 19 6, 7, 8 Tidak Cocok Er. 20 0, 1, 2 Tidak Cocok Er. 21 1, 2, 3 Tidak Cocok Er. 22 4, 5, 6 Tidak Cocok Er. 23 5, 6, 7 Tidak Cocok Er. 24 6, 7, 8 Tidak Cocok
Tabel di atas menunjukkan bahwa dari jumlah wacana yang berbeda dari dua buku teks yang berbeda menghasilkan tingkat keterbacaan wacana yang berbeda pula untuk masing-masing wacana. Jumlah wacana yang dianalisis yang dalam buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI terbitan Erlangga lebih banyak dari jumlah wacana yang dianalisis dari buku teksPanduan Belajar dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA kelas XI terbitan Esis. Dengan demikian, standar kompetensi membaca yang disajikan oleh buku Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XIterbitan Erlangga lebih banyak termuat. Ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih mengasah kemampuan membacanya. Tentu saja, wacana-wacana yang dipilah dan dianalisis tersebut sudah sesuai dengan kriteria kerepresentatifan wacana dalam teori tingkat keterbacaan.
Dari total keseluruhan wacana yang dianalisis dari kedua buku teks tersebut hanya terdapat tiga wacana yang cocok untuk siswa kelas XI SMA. Dua
wacana yang cocok berasal dari buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XIterbitan Erlangga dan hanya ada satu wacana yang cocok dari buku teks Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA kelas XI
terbitan Esis. Hal ini menunjukkan buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI terbitan Erlangga layak diberikan kepada siswa SMA kelas XI. Selain itu, buku teks tersebut dapat dijadikan pertimbangan guru dalam memilih buku teks sebagai bahan pembelajaran.
Berdasarkan Tabel 9 dapat dilihat bahwa hasil analisis tingkat keterbacaan wacana menunjukkan tingkatan atau kelas pembaca yang berbeda-beda. Ada 8 kemungkinan tingkatan/kelas pembaca yang muncul dari wacana-wacana yang diambil dari buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI
terbitan Erlangga. Kemungkinan ini dapat terjadi karena wacana yang dianalisis dapat digunakan dalam kelas pembaca yang berbeda. Hal ini sesuai dengan teori pengukuran tingkat keterbacaan berdasarkan grafik Fry yang terdapat dalam Landasan Teori (Bab II).
Kode teks Er. 11 berjudul “Miranda: Jangan Ambil Nyawaku (Cloning Miranda) dan kode teks Er. 20 berjudul “Tiga Ribu Enam Ratus Detik Antara Rawasari dengan Cililitan” dapat digunakan untuk kelas pembaca 0, 1, 2. Untuk kelas 1, 2, 3 muncul dari wacana yang berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk” dengan kode teks Er. 21.
Kelas pembaca 3, 4, 5 muncul dari wacana yang berkode Er. 14, Er. 16, dan Er. 18. Masing-masing wacana tersebut berjudul “Wayang, Karya Agung
Dunia”, “Problem Kesehatan dan Herbal”, dan “Dialog Lintas Agama”. Selanjutnya kelas 4, 5, 6 diperoleh dari wacana Er. 1, Er. 13, dan Er. 22 yang masing-masing judulnya adalah “Ibunda yang Merawat Alam Semesta”, “Biji Jarak Sebagai Bahan Bakar Alternatif”, dan “Johar Manikam Dilarikan Zenggi”. Wacana yang termasuk dalam kelas pembaca 1 sampai 6 merupakan wacana yang cocok digunakan untuk siswa-siswa di Sekolah Dasar.
Selain itu, muncul juga kelas pembaca 5, 6, 7. Titik pertemuan antara garis angka jumlah kalimat dengan garis angka jumlah suku kata jatuh pada tingkatan 6, tetapi berdasarkan teori tingkat keterbacaan berdasarkan grafik Fry, maka wacana yang berjudul “Cerita Nabi Sulaiman Mendengar Kata Landak”, “Barang Impor Menjajah Negeri Ini”, “Membayangkan Indonesia Masa Depan”, dan “Saat Hantu Jadi Selebritis” juga dapat digunakan untuk siswa kelas 5 dan 7 (SMP Kelas 1). Kode teksnya adalah Er. 2, Er. 4, Er. 6, Er. 15 dan Er. 23.
Untuk kelas 6, 7, 8 didapat dari wacana berkode teks Es. 8, Er. 19, Er.24. Judulnya adalah “Bidan Susah, Terpaksa Anak Lahir di Tengah Hutan”, “Heboh Senjata Biologis”, serta “Wondey Boy Menuju Kandidat Juara Dunia”. Tiga wacana lain yang merupakan isi buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI terbitan Erlangga justru tidak cocok untuk kelas XI, tetapi wacana tersebut justru dapat digunakan peringkat baca 7, 8, 9. Ketiga wacana itu adalah Er. 14 berjudul “Wayang, Karya Agung Dunia”, Er. 16 berjudul “Problem Kesehatan dan Herbal”, dan Er. 18 berjudul “Dialog Lintas Agama”.
Tingkatan pembaca terakhir yang muncul berdasarkan pemplotan grafik
Fry adalah 8, 9, 10. Kelas pembaca tersebut dari teks “Malapetaka akan Datang, AS!” berkode Er. 3, “Dari Gadis Sang Pemburu Senja” berkode Er. 7, serta wacana terakhir, “Pelauang dan Tantangan Kependudukan” berkode Er. 9.
Berdasarkan Tabel 9 di atas, untuk buku teks Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA kelas XI terbitan Esis, dari 14 wacana yang dianalisis hanya ditemukan satu wacana yang cocok dan tiga belas wacana lainnya dianggap tidak cocok. Hal ini berarti bahwa kurang banyak wacana yang terdapat dalam buku teks tersebut. Selain itu, wacana-wacana yang dipilah untuk dijadikan data analisis juga terbatas karena wacana yang ada dalam buku teks
Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA kelas XI
terbitan Esis tidak semuanya sesuai dengan kriteria tingkat keterbacaan. Dengan kata lain, kesempatan siswa untuk memperoleh bahan bacaan yang sesuai dengan kemampuan membacanya juga sedikit.
Berdasarkan pemplotan grafik Fry, wacana yang terdapat dalam buku teks
Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA kelas XI
terbitan Esis memperlihatkan 7 peringkat baca. Berbeda satu peringkat dengan buku teksKompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI terbitan Erlangga. Kelas 0, 1, 2 muncul dari wacana berkode Es. 6 dan Es. 7. Judul wacananya adalah “Eiffel, I’m In Love” dan “Ketika Pra Mau Bercerai”. Kelas baca 3, 4, 5 dan kelas baca 4, 5, 6 diperoleh dari masing-masing satu wacana, yaitu Es. 12 berjudul “Undangan” dan Es. 11 berjudul “Burung-Burung Manyar”. Wacana-wacana tersebut cocok digunakan untuk siswa atau pembaca di kelas-kelas
Sekolah Dasar. Selain itu, dua wacana dengan kode Es. 8 dan Es. 10 yang dapat digunakan untuk pembaca di kelas 5, 6 SD serta SMP kelas 7, yaitu “Eksekusi Mati Saddam Hussein” dan “Hikayat Pelanduk Jenaka”.
Ada kelas lainnya yang muncul, yaitu kelas baca 6, 7, 8 dari satu wacana yang berjudul “Mural, Karya Publik dan Risikonya” dengan kode teks Es. 4. Wacana-wacana dengan judul “Manusia Berlebihan Mengeksploitasi Bumi”, “Mengaca Diri Lewat Kisah orang Jelata”, dan “Hikayat Tikus dan Kucing Hutan” dapat digunakan sebagai bahan bacaan untuk siswa kelas 7, 8, 9 SMP. Dari tiga wacana yang berbeda dapat digunakan pada kelas-kelas yang berbeda pada satu jenjang pendidikan yang sama. Sedangkan tiga wacana lainnya, yaitu “Meluruskan Arah Pelestarian Keanekaragaman Hayati dan Pembangunan di Indonesia”, “Sukarno M. Noor: Ingin Jadi Aktor, Bukan Bintang Film”, “Ahmadinejad, Soekarno Persia”, yang masing-masing ditandai dengan kode teks Es. 2, Es. 13, dan Es. 14 jatuh pada titik pertemuan kelas 8, 9, 10. Ini berarti teks tersebut dapat digunakan untuk SMP kelas 8 dan 9 serta untuk SMA kelas 10.
Selain dari jumlah wacana, kemunculan kelas baca berdasarkan grafik Fry, memperoleh temuan lain dari buku teks Kompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI terbitan Erlangga dan buku teks Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA kelas XI terbitan Esis tampak dari jenis wacananya. Keseluruhan wacana yang dianalisis merupakan wacana prosa yang dibedakan menjadi wacana fiksi dan nonfiksi. Dari kedua buku teks tersebut, peneliti menemukan tiga puluh delapan wacana prosa. Dalam analisis wacana dari buku teksKompeten Berbahasa Indonesia untuk SMA Kelas XI terbitan Erlangga
terdapat tujuh wacana termasuk wacana fiksi dan tujuh belas wacana termasuk wacana nonfiksi.
Untuk buku teks Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA dan MA kelas XI terbitan Esis, peneliti menemukan enam wacana yang termasuk wacana fiksi dan delapan wacana termasuk wacana nonfiksi. Ciri yang membedakan wacana fiksi dan nonfiksi adalah dari bahasanya. Bahasa wacana