• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Faktor Penyebab Perceraian

Perceraian merupakan putusnya ikatan pernikahan antara suami dan istri yang di lakukan di depan sidang Pengadilan Agama bagi yang beragama islam dan di Pengadilan Negeri bagi yang non islam. Sedangkan perceraian menurut hukum perdata adalah penghapusan perkawinan yang di sertai dengan putusan hakim atas tuntutan dari salah satu pihak dalam perkawinan itu (Djumairi Achmad, 1990:65).

Di tinjau dari segi orang yang berwenang menjatuhkan, atau memutuskan perkawinan, maka perceraian dibagi menjadi, yang menjatuhkan talaq adalah suami, yang memberi putusan, atau menetapkan putusan yaitu hakim, yang putus dengan sendirinya karena salah satu dari pasangan suami-istri meninggal dunia (Djumairi Achmad, 1990:66).

Di samping, perceraian atas dasar talaq oleh suami, perceraian juga dapat dijatuhkan oleh hakim berdasarkan kepada gugatan yang diajukan oleh pihak-pihak yang berhak terhadap suatu perkawinan. Apabila gugatan itu terbukti maka hakim memberi keputusan suatu dengan gugatan. Putusan yang diputuskan oleh hakim ini dapat terjadi karena perkara Kematian,Talaq: Perceraian yang dijatuhkan suami, Taklil Talaq: talaq yang digantukan pada sesuatu yang telah diperjanjikan, Khuluk: talaq dengan tebus harta atau uang, Fasakh:merusak atau membatalkan hubungan perkawinan,Shiqoq:

pertengkaran antara suami dan istri,Riddah: murtad salah satu pihak beragama islam, Li‟an: sumpah laknat menuduh berzina,Illa‟: sumpah tidak akan mencampuri istrinya,Zhihar: sumpah seorang suami bahwa istrinya sama dengan punggung ibunya (sulaiman Rasjid, 2004: 379-391).

Di samping itu juga terdapat alasan lain terjadinya perceraian yaitu dalam pasal 19 PP No.9 tahun 1975, alasan tersebut adalah: 1.Salah satu pasangan mendapat cacad badan, atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri, 2.Antara suami dan istri, terus menerus terjadi perselisihan, atau pertengkaran, sehingga tidak ada harapan, akan hidup rukun lagi di dalam menjalankan rumah tangga, 3.Salah satu pihak berbuat zina, atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan sebagainya yang sukar disembuhkan, 4.Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain, dan tanpa alasan yang sah, atau karna hal lain diluar kemampuannya, 5.Salah satu pihak mendapatkan hukuman 5 (lima) tahun, atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung, 6.Salah satu pihak melakukan kekejaman, atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain.

Menurut kompilasi hukum islam (KHI Pasal 116) perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan sebagai berikut: 1.Salah satu pihak berbuat, atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan sebagaianya yang sukar disembuhkan. 2.Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain, dan tanpa alasan yang sah atau karena hal laindiluar kemampuannya. 3.Salah satu pihak mendapat hukuman

penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung. 4.Salah satu pihak melakukan kekejaman, atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain. 5.Salah satu pihak mendapat cacat badan, atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami dan istri. 6.Suami melanggar taklil talaq. 7.Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga.

Berdasarkan data dari buku tahunan Pengadilan Agama Bantaeng mengenai faktor penyebab perceraian yang terbagi atas dua perceraian yaitu cerai talak dan cerai gugat, dan adapun faktor-faktor tersebut di kelompokkan dalam beberapa kelompok, yang juga merupakan data-data perkara perceraian yang telah diputus oleh hakim dari tahun 2015 sampai tahun 2019. Perceraian yang ditangani di Pengadilan Agama Bantaeng menunjukkan Peningkatan yang tidak terlalu pesat.

Berdasarkan data dari Pengadilan Agama Bantaeng yang telah dikumpulkan dan di rinci oleh peneliti yang berkenaan dengan faktor-faktor penyebab perceraian yang dikelompokkan menjadi :

Faktor Moral, faktor ini dibagi menjadi 2 faktor yang memiliki 8 perkara, adapun pembagian faktor ini adalah sebagai berikut:Faktor Zina yaitu sebanyak 4 perkara yang telah diputus, Faktor Poligami tidak sehat yaitu sebanyak 4 perkara yang telah di putus.

Faktor Meninggalkan KewajibanFaktor ini dibagi menjadi 3 faktor yang berjumlah 253 perkara, adapun pembagian faktor ini adalah sebagai

berikut: Faktor Ekonomi yaitu sebanyak 151 perkara yang telah diputus, Faktor Tidak Ada Tanggung Jawab yaitu sebanyak 101 perkara yang telah diputus, Faktor Kawin Paksa yaitu sebanyak 1 perkara.

Faktor Terus Menerus Berselisih Faktor ini dibagi menjadi 2 faktor yang memiliki perkara berjumlah 939 perkara, adapun pembagian faktor ini adalah sebagai berikut:Faktor Tidak Ada Keharmonisan yaitu sebanyak 138 perkara yang telah diputus, Faktor Perselisihan dan Pertengkaran Terus Menerus yaitu sebanyak 656 perkara yang telah diputus.

Faktor Kekerasan Dalam Rumah Tangga yaitu sebanyak 30 perkara yang diputus, Faktor Hukuman Penjara yaitu sebanyak 30 perkara yang telah diputus, Faktor Karena Cacat Biologis yaitu sebanyak 10 perkara yang telah diputus.

Faktor lain-lain ini meliputi 4 faktor dengan perkara sebanyak 16 perkara yaitu sebagai berikut:Faktor Mabuk, yaitu sebanyak 9 perkara yang telah diputus, Faktor Judi, yaitu sebanyak 2 perkara yang telah diputus, Faktor Madat, yaitu sebanyak 3 perkara yang telah diputus, Faktor Murtad, yaitu sebanyak 2 perkara yang telah diputus.

Dilihat dari tabel data perceraian maka faktor yang menjadi penyebab utama terjadinya perceraian adalah faktor perselisihan dan pertengkaran terus menerus yaitu sebanyak 656 perkara dengan prosentase 51.01%, faktor ekonomi sebanyak 151 perkara dengan prosentase 11.74%, faktor meninggalkan salah satu pihak sebanyak 145 perkara dengan prosentase 11.27%, faktor tidak ada keharmonisan yaitu sebanyak 138 perkara dengan

prosentase 10.73%, faktor tidak ada tanggung jawab yaitu sebanyak 101 perkara dengan prosentase 0.785%, faktor hukuman penjara yaitu sebanyak 30 perkara dengan prosentase 0.233%, faktor kekerasan dalam rumah tangga yaitu sebanyak 30 perkara dengan prosentase, 0.233%, faktor cacat badan yaitu sebanyak 10 perkara dengan prosentase 0.77%, faktor mabuk yaitu sebanyak 9 perkara dengan prosentase 0.69%, faktor zina yaitu sebanyak 4 perkara dengan prosentase 0.31%, faktor poligami yaitu sebanyak 4 perkara dengan prosentase 0.31%, faktor madat yaitu sebanyak 3 perkara dengan prosentase 0.23%, faktor judi yaitu sebanyak 2 perkara dengan prosentase 0.15%, faktor murtad yaitu sebanyak 2 perkara dengan prosentase 0.15%, dan faktor kawin paksa yaitu sebanyak 1 perkara dengan prosentase 0.07% dari jumlah total keseluruhan yaitu 1286 perkara Perceraian yang telah diputus oleh hakim Pengadilan Agama Bantaeng pada tahun 2015-2019.

Adapun peneliti meminta tanggapan dari Hakim Pengadilan Agama Bantaeng terkait masalah faktor faktor apa saja yang menjadi penyebab terjadinya perceraian di pengadilan agama berikut penjelasannya:

“Secara umum dalam bahasa masyarakat atau bahasa sehari-hari itu ada yang namanya perselisihan dalam rumah tangga, atau sudah tidak adanya kecocokan diantara keduanya, ada juga salah satu pasangannya berselingkuh entah itu istrinya atau suaminya atau bahkan keduanya, bisa juga faktor ekonomi, faktor ingin memiliki keturunan, judi, minum-minuman keras, zina, kurang saling pengertian, kurang perhatian, kurang komunikasi, salah satu pasangan tidak bisa menerima kekurangan dari pasangannya, faktor pekerjaan, kekerasan dalam rumah tangga, meninggalkan salah satu pihak, faktor salah satu pasangan dihukum penjara, konflik yang terus menerus terjadi tidak ada penyelesaian untuk mengatasi konflik dalam rumah tangga tersebut hingga memutuskan untuk bercerai dan masih banyak lagi faktor-faktor yang dapat

menyebabkan perceraian itu terjadi”(Wawancara dengan Hakim Pengadilan Agama, Kamaruddin Amri, S.H (40), 21/12/20).

Menurut penjelasan dari informan diatas mengenai penyebab perceraian ia menjelaskan bahwa ada banyak alasan penyebab dari perceraian tetapi yang paling umum,yang sering terjadi yaitu masalah ekonomi, masalah orang ketiga, masalah perselisihan dan pertengkaran terus menerusdan tidak ada penyelesaian sehingga menyebabkan terjadinnya perceraian. Perselisihan yang awalnya hanyalah sebuah masalah kecil yang dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan konflik dalam keluarga. Perlu diketahui bahwa perceraian merupakan hal yang halal namun sangatlah dibenci oleh Allah.

a. Faktor Ekonomi dan Orang Tua

Adapun beberapa informasi dari para informan yang telah peneliti wawancarai tentang faktor penyebab perceraian, berikut alasan-alasan mereka untuk bercerai.

“kalo faktornya itu duaji, pertama ka tidak na nafkahika suamiku, kedua gara-gara selalui juga ikut campur mertuaku, tapi ada lagi masalah-masalah ku yang lain biasa juga itu suamiku seringa na tinggalkan apalagi kalo malammi, na kasi seperti dirina waktuna masih muda, sering pergi dirumahna temanna nongkrong-nongkrong, lebih na pentingkan pergaulanna di banding saya. Baru kalau ku larangmi suamiku pergi, itu mertuaku na marah-marah i ma, gara-gara ku larangi bede anakna pergi bergaul” (wawancara dengan pelaku perceraian, RSP (18), 12/12/20).

Kemudian diperkuat oleh tanggapan informan selanjutnya yang mengatakan alasan perceraiannya, yaitu sebagai berikut:

“faktornya karena mertua saya selalu ikut campur urusan rumah tangga saya dengan suami saya, sampai saya tidak tahan dan lalu bercerai, bisa dibilang faktor perceraian saya itu gara-gara mertua, karena mertua saya itu tidak menyukai saya sampai suami saya selalu di hasut oleh mertua saya untuk menceraikan saya. Sampai pada akhirnya saya bercerai pada tahun 2018 karena sudah tidak

tahan lagi dengan perlakuan dari mertua saya yang semakin memojokkan saya” (wawancara dengan pelaku perceraian, U (26), 29/12/20).

Kedua informan diatas memiliki alasan perceraian yang sama yaitu bercerai yang diakibatkan oleh ikut campurnya orang tua laki-laki dalam urusan rumah tangga kedua pasangan tersebut, dan juga ada salah satu pasangan yang tidak di nafkahi oleh suaminya, hingga mengakibatkan kedua pasangan tersebut bercerai. Hal ini bisa terjadi apabila pasangan suami istri tinggal dengan orang tua dari suami atauun istri.

b. Faktor Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

Kemudian informan selanjutnya menjelaskan alasan mereka bercerai yaitu sebagai berikut:

“karena faktor seringka na pukul suamiku, sampaina tidak bisa mi ku tahan lagi jadi ku putuskan untuk berceraima saja, dari pada terus-terusan ka kena pukul” (wawancara dengan pelaku perceraian, I (21), 21/12/20).

Kemuadian diperkuat oleh informan selanjutnya yang menjelaskan alasan mereka bercerai yaitu sebagai berikut:

“faktor KDRT dengan faktor ekonomi juga, tanga lekbaka na nafkahi manna limambilangngang rupiah tala na sare toa, anre sikali mentodo. Injo punna lappalaka doe balanja tala na sarea, sanging la na ba‟ji ja, sanging passempa ji na sareangki, inai la kulle attahang punna kaminjo i, tala ganna ki sitahung bunting ku na ku sipelamo niak ja kapang ruang bulang” (wawancara dengan pelaku perceraian, F (20), 21/12/20).

Artinya:“faktor KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dengan ekonomi, saya tidak pernah di nafkahi walaupun lima ratus rupiah saya tidak pernah di beri uang, tidak ada sama sekali, walaupun saya minta untuk keperluan belanja, tapi saya tidak pernah diberi, yang saya terima itu hanya pukulan, dan tendangan, siapa yang kira-kira dapat bertahan dengan perlakuan seperti itu, pernikahan

saya tidak sampai setahun hingga saya memutuskan bercerai bahkan hanya dua bulan saja saya bertahan”

Kemudian di perkuat lagi oleh informan selanjutnya yang menjelaskan alasan mereka bercerai yaitu sebagai berikut:

“selaluka na pukul dan na curigai na kira ka selingkuh, karna kan saya kerja ka baru biasa agak sore mi na ku pulang itumi na curigaika sampai-sampai na pukuli ka, ka bagaimana tongka kalau tidak kerja ka tidak ada pemasukan, kadang ku nasehati, tapi kalau takkala marah mi biasa diam mamika karna tidak bisa tongka melawan, semakin ku lawan semakin na pukul ka tapi ku putuskan mi untuk bercerai saja, karena tidak bisa ma tahanki lagi”(wawancara dengan pelaku, RC (39), 29/12/20).

Ketiga informan diatas memiliki alasan perceraian yang sama yaitu faktor kekerasan dalam rumah tangga, dan ada juga dikarenakan oleh faktor ekonomi, sehingga memutuskan untuk bercerai karena sudah tidak tahan dengan perlakuan yang di terima oleh pasangannya. Menurut ketiganya jika tetap di pertahankan maka hanya akan semakin terluka dan tersiksa, jadi lebih baik melepaskan dan hidup lebih tenang. kekerasan dalam rumah tangga memang menjadi faktor yang paling sering mengakibatkan renggangnya hubungan dan mengakibatkan perceraian.Adapun peneliti meminta tanggapan dari anak korban yang orangtuanya bercerai, yaitu sebagai berikut:

“ya awalnya sepertiji keluarga pada umumnya, bahagia, tidak ada masalah apa-apa, cuman makin kesini bapakku seringki na bentak bentak mamaku, sampai bertengkarki dan mintaki cerai mamaku, kalau faktornya itu gara-gara seringki bertengkar, dan seringi beda pendapat mamaku sama bapakku” (wawancara dengan anak dari pelaku perceraian, SAH (22), 12/12/20).

Informan diatas menceritakan bahwa perceraian orang tuanya itu terjadi akibat kedua orang tuanya terus-terusan bertengkar dan berselisih pendapat,

sang ibu pun sering dibentak sehingga ibunya memutuskan untuk menggugat untuk bercerai.

c. Faktor Orang Ketiga (Selingkuh)

Adapun peneliti meminta tanggapan dari informan selanjutnyayang menjelaskan alasan perceraiannya yaitu sebagai berikut:

“baji-baji ji rolo mingka sanging angerangi mange baine maraeng, alampai mange a‟cewe-cewe na nu niak mo bainnenna niak mo anakna, mingka sanging lampa kija ji boya baine maraeng, jari kodi i ku kasia mo mingka ku tahan kija ji rolo ka niak anakku rua. Jari kutahan kija ji. Iya minjo ku assipela ka tanre mo ku kullei attahanga, bateku mo angsa‟bararangi, mingka singkamua na patoa-toai ja, ka sanging anggerang ji baine anrai kalau‟. Jari erokanganga si pelaka. ka sanging asselingkui.palottoi pole, ku tahan-tahanngi, barakka erok ji na pakabajiki pole mingka tanre memang na erok na pakabajiki giok-giok na, bajikangang ku pelaki mange”(wawancara dengan pelaku perceraian, R (45), 21/12/20). Artinya: “ awalnya baik-baik saja, tapi suami saya selalu membawa perempuan lain, dan berpacaran dengan perempuan lain, sedangkan dia sudah memiliki istri dan anak, tetapi masih sering mencari perempuan lain, saya sakit hati tapi saya masih bertahan karna saya memiliki dua anak, jadi saya masih bisa bertahan, tapi alasan saya berpisah karna saya sudah tidak bisa bertahan, saya sudah sabar, akan tetapi saya seperti di permainkan, karena suami saya masih sering membawa perempuan lain kesana kemari, jadi saya lebih baik berpisah, dia sering berselingkuh, dan juga berjudi, saya masih tahan, karena saya pikir dia bisa memperbaiki semuanya, tetapi dia tidak juga memperbaiki perilakunya, jadi lebih baik saya berpisah saja”

Informan diatas mengatakan bahwa penyebab utama dari perceraiannya yaitu karena suaminya sering membawa perempuan lain “selingkuh” dan sering berjudi, hingga ia pun sudah tidak tahan lagi dan lebih memutuskanuntuk bercerai. Adapun alasan dari informan selanjutnya yang menjelaskan alasan perceraian orang tuanya yaitu sebagai berikut:

“pada awalnya toh baik-baikji, karna kan bapakku itu sopir mobil bantaeng makassar, jadi biasa pergi subuh pulang sore, baik sekali ji dulu, tapi pada saat itu juga belumpi curiga mama ku, karna yang na tau itu semua yang menelfon di nomernya bapakku itu pasti langganan na ji untuk mau di jemput untuk turun ke makassar, tapi lama kelamaan ada salah satu penumpangnya yang perempuan yang sering na temani telfonan sampai tengah malam, sampai curiga mi mama ku, dan mungkin cemburu i karna tidak biasanya ki begitu bapakku, terus di tanya mi sama mama ku, tiba-tiba marah ki bapakku, na disitu mi mulai retak keluargaku, bapakku jarang mi pulang dirumah sampai na tau mamaku karna ada temanna bapakku yang tanyaki bilang selingkuhi bapakku, disitu na nda mau mi mamaku. Yah faktor yang kutahu itu gara-gara selingkuh i bapakku jadi mintaki cerai mamaku” (wawancara dengan anak pelaku perceraian, T (18), 29/12/20).

Adapun informan diatas menceritakan alasan mengapa kedua orang tuanya bercerai, yaitu karena ayah dari anak tersebut berselingkuh dengan penumpangnya sendiri, berhubung karena ayahnya ini seorang sopir, dan ayahnya lebih memilih selingkuhannya di bandingkan anak dan istrinya, sehingga ibunya ini memutuskan untuk menggugat suaminya bercerai yang sudah tidak tahan dengan perilaku suaminya.

Dalam beberapa kasus perceraian yang telah di teliti oleh peneliti ada beberapa faktor utama yang menjadi alasan perceraian, yaitu seperti kasus perselingkuhan, perselisihan dan pertengkaran terus menerus, KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), masalah ekonomi, ikut campurnya orang tua dalam urusan rumah tangga, suami berjudi, dan beberapa faktor lainnya. 2. Dampak yang di timbulkan setelah perceraian

Perceraian merupakan jalan satu-satunya bagi pasangan yang memiliki masalah yang memang sudah tidak dapat ia selesaikan sendiri, jadi memilih untuk menempuh jalur hukum, setiap keluarga pasti menginginkan keluarga

yang utuh hingga maut memisahkan karena tidak ada keluarga yang menginginkan perceraian.

Peneliti meminta tanggapan dari infoman yang merupakan hakim di pengadilan agama bantaeng mengenai dampak perceraian yaitu sebagai berikut:

“seperti yang kita ketahui bahwa perceraian ini akan sangat berdampak bagi anaknya apabila sudah memiliki anak. Perceraian ini akan sangat berdampak pada kehidupan si anak yang mana anaknya akan kurang perhatian dari kedua orang tuanya apalagi kalau salah satu atau keduanya masing-masing sudah menikah kembali, dan keduanya pasti akan berebut hak asuh anak. perceraian ini juga akan berdampak pada pemisahan harta gono-gini” (wawancara dengan Hakim Pengadilan Agama Bantaeng, Kamaruddin (45), 21/12/20).

Dampak dari perceraian tidak hanya akan menyakiti kedua keluarga dan kedua pasangan suami atau istri tetapi juga akan menyakiti anak, dampak perceraian yang mungkin saja terjadi pada anak akan berbeda-beda tergantung dari usia anak pada saat perceraian terjadi, serta keperibadian anak itu sendiri. Pada anak balita mungkin perceraian tidak akan terlalu berpengaruh terhadap perkembangan mentalnya, lain halnya dengan anak usia yang sudah memasuki usia sekolah atau usia remaja, dimana ia sudah bisa mengamati situasi di sekitanya dan menyadari bahwa orang tuanya tidak lagi bersama.

Ada 2 dampak yang dapat di timbulkan oleh pasangan suami istri baik yang sudah memiliki anak maupun yang belum memiliki anak setelah perceraian itu terjadi yaitu sebagai berikut:

a. Dampak terhadap suami danistri

Akibat dari perceraian adalah pasangan suami dan istri akan hidup sendiri-sendiri, suami maupun istri akan dapat bebas menikah kembali dengan orang lain.Kemudian peneliti meminta tanggapan dari informan mengenai dampak dari perceraiannya yaitu sebagai berikut:

“lebih bebaska kalau sekarang di bandingkan waktuku sama suamiku, ka tidak ada tonji juga anakku sama mantan suamiku, jadi tidak terlalu bagaimana sekali ji, cuman begitumi tidak ada tommi yang kasiki biaya, ya walaupun jarang tonja na biaya ia, tapi ka beda tongi kalo tidak ada mentong mi suami ta yang biayaki, kasiki makan dan uang” (wawancara dengan pelaku perceraian, RPR (18), 11/12/20)

Menurut informan di atas yang mengatakan bahwa ia lebih merasa bebas melakukan sesuatu yang ia inginkan dibandingkan dengan waktu masih bersama dengan suaminya, apalagi pasangan tersebut belum memiliki anak, jadi tidak akan ada dampak yang timbulkan bagi anaknya, walaupun sudah tidak ada lagi yang membiayai atau menafkahinya. Jadi menurut informan diatas dampaknya hanya pada biaya hidup, karena sudah tidak ada lagi yang menafkahinya. Kemudian Informan selanjutnya memberikan tanggapan sebagai berikut:

“tidak adaji kurasa dampak yang terlalu besar, ka kalau masalah menafkahi, nda pernah tonja na nafkahi selama samaka. Jadi tidak adaji bedanya samaji kurasa, malahan lebih baik ji sekarang, ka nda na pukul ma lagi, dan masalah anak tidak adaji anakku sama dia” (wawancara dengan pelaku perceraian, F (20), 21/12/20)

Jadi menurut informan di atas berbeda dengan informan sebelumnya ia mengatakan bahwa tidak ada dampak yang terlalu besar dari perceraiannya, karena sebelum dan sesudah bercerai pun mantan suaminya tidak pernah

menafkahinnya, jadi ia merasa perceraiannya tidak terlalu berdampak pada dirinya, bahkan ia merasa lebih baik setelah bercerai karena sudah tidak ada lagi yang melakukan kekerasan kepanya apalagi mereka juga belum memiliki anak jadi tidak akan berdampak pada anaknya.Kemudian diperkuat oleh informan selanjutnya yang memberikan tanggapan yaitu sebagai berikut:

“Tidak terlalu berdampakji sama saya, cuman mungkin lebih kearah statusji, karna berstatus janda ma jadi na capka orang negatif, kalau masalah yang lain seperti anak tidak adaji, karena memang belumpi ada anakku, itu ji dampaknya masalah status, apalagi masih muda ka na berstatus janda ma” (wawancara dengan pelaku perceraian, I (21), 21/12/20).

Informan diatas mengatakan bahwa dampak yang ia rasakan setelah perceraiannya, yaitu hanya kepada statusnya saja yang berubah yaitu “janda” dan menurut informan diatas tidak ada lagi dampak yang ditimbulkan selain masalah status itu, karena meraka pun belum memiliki anak, jadi tidak terlalu berdampak.

Perceraian itu sendiri akan membawa konsekuensi yang berhubungan dengan status suami, isteri dan anak serta terhadap kekayaannya. Sedangkan gelar yang akan diberikan kepada bekas suami yaitu duda dan bagi bekas isteri yaitu janda. Adapun apabila bekas isteri ingin menikah kembali harus menunggu masa iddah berakhir dengan bekas suaminya. Perceraian akan menimbulkan kesepian, karena kehilangan partner hidup yang mantap, karena setiap orang tentunya mempunyai cita-cita supaya mendapatkan partner hidup

Dokumen terkait