BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
PT. Almira Lintang Pratama merupakan salah satu perusahaan yang bergerak pada bidang usaha jasa pelayanan kelistrikan. Sebagai perusahaan yang menjalankan amanah ketenaga listrikan untuk kepentingan hajat hidup seluruh rakyat Indonesia, perusahaan ini seharusnya memiliki komitmen menyajikan informasi keuangan yang berkualitas dan handal.
1. Pencatatan Aset tetap pada PT. Almira Lintang Pratama
Pencatatan aset tetap pada PT. Almira Lintang Pratama tidak dilakukan oleh setiap cabang perusahaan. Cabang perusahaan tidak mengharuskan laporan aset setiap bulan atau penyusutan setiap bulan pada kantor pusat. Laporan aset tetap yang dilakukan oleh
cabang perusahaan tidak mengharuskan setiap periode akuntansi yang berlaku. Laporan aset tetap yang dilakukan perusaahan ketika aset perusahaan mengalami kerusakan berat dan akan dilakukan penghapusan untuk dilaporkan dan dilakukan permintaan aset baru yang akan digunakan untuk operasional perusahaan.
Tabel 4.1
Daftar Aset Tetap PT. Almira Lintang Pratama Cabang Pinrang No
Urut
Nama Aset Tahun pembuatan Mulai dioperasikan Tahun kondisi Keterangan 1 Gedung/ kantor 2013 2014 90% Normal 2 Genset 2015 2016 90% Normal 3 Mobil -Daihatsu -Toyota Hilux -Toyota Avansa 2018 2015 2017 2019 2016 2017 90% 85% 95% Normal Normal Normal 4 Motor 2018 2019 90% Normal 5 Komputer 2014 2014 85% Normal 6 APD (Alat perlindungan diri ) 2014 2014 90% Normal 7 Katrol 2014 2014 85% Normal 8 Aset lain-lain - - -
Pencatatan aset yang dilakukan oleh perusahaan ini menggunakan Ms. Excel, namun perusahaan ini telah memiliki aplikasi khusus yaitu accurate aplikasi ini digunakan pada saat pencatatan kas keluar dan kas masuk. Pencatatan aset tetap yang begitu sederhana ini tidak melakukan pencatatan penyusutan yang seharusnya dilakukan oleh bagian keuangan/akuntansi sesuai dengan peraturan pencatatan penyusutan tiap periode akuntansi . Pencatatan kondisi normal atau tidak normalnya suatu aset tetap ini dilakukan dengan melakukan cek fisik secara langsung oleh pihak perusahaan.
Pencatatan aset tetap yang tidak dilakukan oleh perusahaan sejauh ini tidak berpengaruh dalam hal keuntungan perusahaan Menurut karyawan disana
“ selama ini kami tidak melakukan pencatatan aset tetap dan melakukan penyusutan karena bagi kami penyusutan akuntansi biasanya tidak sesuai realita di lapangan.kami tidak fokus pada penyusutan tiap periode karena aset yang kami gunakan tidak bergerak pada satu bidang. Hal ini tidak berpengaruh pada seberapa banyak keuntungan yang kami dapatkan dengan operational perusahaan pada lapangan. kami hanya fokus pada pemanfaatan aset, yang harus sesuai target perusahaan”. Selama perusahaan tersebut beroperasi aset yang digunakan tidak pernah dilakukan pencatatan maupun penyusutan, namun selama perusahaan beropersi belum pernah mengalami penurunan laba atau kerugian karena aset yang tidak di catat.
Tabel 4.2
PT. Almira Lintang Pratama Cab. Pinrang Per 31 Desember
Nama Tahun 2017 Tahun 2018
Aset Rp 1.345.752.350 Rp 2.097.423.743
Laba bersih Rp 470.518.040 Rp 682.425.852 Penjualan Rp 2.050.413.952 Rp 2.585.742.145 Modal Rp 1.050.413.925 Rp 2.050.413.925
2. Sistem dan Prosedur Akuntansi Aset Tetap
Sistem akuntansi adalah suatu sistem yang mengumpulkan, mencatat, menyimpan, dan mengolah data untuk menghasilkan informasi bagi pihak yang membutuhkannya, dalam rangka mempermudah pengelolaan perusahaan serta mempermudah penilaian hasil operasi perusahaan dalam periode tertentu.
a. Perencanaan Kebutuhan dan Penganggaran
PT. Almi ra Lintang Pratama sebagai pengguna barang merencanakan dan menyusun kebutuhan barang dalam rencana kerja sebagai bahan dalam penyusunan rencana anggaran dan kerja. Masing-masing cabang perusahaan menyusun rencana kebutuhan barang dan rencana kebutuhan pemeliharaan barang kemudian menyampaikan kepada pusat perusahaan untuk diteliti lebih lanjut kemudian pusat dari Perusahaan tersebut menyiapkan seluruh kebutuhan sesuai permintaan cabang.
Pengadaan aset adalah kegiatan untuk memperoleh atau mendapatkan aset/barang maupun jasa baik yang dilaksanakan sendiri secara langsung oleh pihak internal maupun oleh pihak luar sebagai mitra atau penyedia/pemasok aset bersangkutan. Prosedur pengadaan barang dimulai dari pejabat pegadaan barang melakukan beberapa rencana kerja yang telah diatur untuk memaksimalkan proses pengadaan serta dilakukan terbuka bagi setiap pihak yang ingin melakukan penawaran dan dipililahlah salah satu pemenang. Setelah itu pejabat pengadaan barang membuat suratperintah kerja menghubungipemegang atau pihak yang ditunjuk untuk membelanjakan barang. Barang yang telah ada dilakukan pencatatan untuk dijadikan laporan pengadaan barang dan dicatat sebagai inventaris.
c. Penyimpanan dan Penyaluran Aset
Penyimpanan adalah kegiatan untuk melakukan pengurusan, penyelenggaraan dan pengaturan barang persediaan dalam gudang, atau ruangan penyimpanan, sedangkan penyaluran adalah kegiatan melakukan pengiriman barang dari gudang induk atau unit ke unit satuan kerja pemakai barang. Prosedur penyimpanan dan penyaluran barang dari supplayer atau pihak ketiga dan diakhiri dengan disalurkan barang yang dibutuhkan oleh unit atau satuan kerja yang memerlukan.
d. Pemanfaatan Aset
Pemanfaatan barang merupakan pendayagunaan barang yang tidak dipergunakan sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Prosedur pemanfaatan barang dimulai dari pengusulan tentang barang yang akan disewa atau digunausahakan dari unit kerja ke kepala cabang dan diakhiri dilaksanakannya prosedur penerimaan kas.
e. Pemeliharaan Aset
Pemeliharaan barang adalah upaya mencegah kerusakan yang diyakini lebih baik dari pada memperbaikinya. Pemeliharaan barang dapat dilakukan terhadap barang inventaris yang sementara digunakan oleh perusahaan tanpa merubah, menanbah, mengurangi bentuk sehingga dapat mencapai pemberdayagunaan barang yang baik. Prosedur pemeliharaan barang ini meliputi kegiatan agar semua barang selalu dalam keadaan baik dan siap untuk digunakan
f. Penghapusan Aset
Penghapusan biasanya dilakukan apabila sesuatu barang dikategorikan rusak berat, hilang, kebakaran.
3. Flowchart Sistem dan Prosedur Akuntansi Aset Tetap
Cabang Gudang Induk perusahaan
Gambar 4.2 Flow Chart Aset Tetap Perencanaan
Keperluan Aset
Permintaan Aset Surat Permintaan
Aset Memeriksa catatan Pemeriksa an Aset Pengesahan SPA tidak ya Surat pengiriman Aset Dikirim beserta barang Permintaan Aset Menyiapkan Permintaan Aset Mengirim Aset
Laporan
Laporan Aset SPA Laporan Aset AsetAset yang di perlukan untuk keperluan operasional perusahaan di mulai dari setiap cabang yang memerlukan barang. Cabang perusahaan memulai perencanaan kebutuhan aset dengan menerbitkan sebuah dokumen untuk di berikan kepada pengelolah gudang. Bagian gudang memeriksa dokumen yang diberikan oleh kepala cabang untuk melakukan pemeriksaan stok aset yang di perlukan oleh cabang perusahaan. pengecekan barang yang dilakukan oleh bagian gudang akan mengetahui langsung kebutuhan cabang perusahaan untuk di lakukan pengiriman jika barang yang diminta tersedia di gudang, tetapi ketika barang yang di minta oleh cabang perusahaan tidak tersedia, maka bagian gudang melakukan permintaan barang kepada induk perusahaan sesuai dengan kebutuhan cabang perusahaan.
Barang yang ready di gudang akan langsung dikirimkan kepada pihak yang membutuhkan/ cabang perusahaan dengan menerbitkan surat pengiriman barang sebanyak dua rangkap untuk yang rangkap kedua dijadikan arsip gudang yang akan menjadi laporan ke bagian induk perusahaan jika di lakukan pemeriksaan oleh induk perusahaan, barang yang dikirimkan kepada cabang kemudian di terima oleh cabang dan membuat laporan penerimaan barang untuk di kirimkan sebagai pertanggung jawaban kepada induk. Sedangkan, barang yang belum ready digudang, pengelolah gudang akan membuat surat permintaan aset kemudian mengirimkan kepada induk perusahaan untuk dilakukan pengesahaan permintaan aset dan menyiapkannya sesuai kebutuhan yang di butuhkan oleh setiap cabang. Barang yang telah di siap akan dikirim oleh perusahaan induk dengan mengirimkan surat pengiriman barang beserta
barangnya kepada bagian gudang untuk kemudian di distribusikan kepada cabang yang membutuhkannya.
4. Pengukuran Efektifitas Sistem dan Prosedur Aset Tetap
a. Perencanaan adalah kebutuhan barang oleh masing-masing kementrian atau lembaga dan diakhiri dengan dilaksanakannya pengadaan barang yang dibutuhkan oleh pengadaan barang. PT. Almira Lintang Pratama menyusun rencana kebutuhan barang dan rencana kebutuhan pemeliharaan barang kemudian menyampaikan kepada pusat perusahaan untuk diteliti lebih lanjut kemudian pusat dari Perusahaan tersebut menyiapkan seluruh kebutuhan sesuai permintaan cabang.
b. Pengadaan barang milik Negara/daerah harus mengikuti peraturan perundangan tentang pengadaan barang dan jasa. Pengadaan aset pada PT. Almira Lintang Pratama mencatat seluruh barang yang masuk sebagai laporan pengadaan barang dan dicatat sebagai inventaris kantor.
c. Penyimpanan dan penyaluran barang yang ada harus disimpan kedalam gudang atau ruang penyimpanan, sedangkan penyaluran adalah kegiatan melakukan pengiriman barang dari gudang induk atau unit ke unit satuan kerja pemakaian barang. Penyimpanan aset tetap pada perusahaan tersebut berada pada setiap gudang yang telah disiapkan. Penyaluran barang tersebut dilakukan apabila setiap cabang barang tersebut maka gudang induk perusahaan menyalurkan sesuai dengan kebutuhan atau permintaan dari cabang perusahaaan.
d. Pemanfaatan adalah memanfaatkan barang sesuai dengan peraturan yang ada. Perusahaan ini menggunakan aset tetap misalnya pada kendaraan, komputer, tanah, gedung pemanfaatannya digunakan sesuai fungsi masing-masing demi berjalannya perusahaan dengan baik.
e. Pemeliharaan adalah upaya mencegah kerusakan yang diyakini lebih baik dari pada memperbaikinya. Perusahaan ini belum melakukan pemeliharaan secara rutin bagi aset yang ada pada perusahaan tersebut. Perusahaan ini hanya melakukan cek fisik dan kelayakan pakai bagi beberapa asetnya yaitu, kendaraan, inventaris kantor dan gedung. Pemeliharaan aset ini tidak memiliki dana khusus kecuali dalam proses perbaikan.
f. Penghapusan adalah mengusulkan aset yang layak untuk dihapus dan melakukan pencatatan terhadap barang yang telah dihapuskan. Perusahaaan ini melakukan penghapusan beberapa barang tersebut dengan cara melakukan pengecekan kondisi kerusakan barang tersebut. Apabila ditemukan barang yang tidak dapat digunakan atau rusak berat maka perusahaan tersebut melakukan penghapusan terhadap barang tersebut dari daftar inventaris.