BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Perusahaan
PDAM Tirtanadi dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tanggal 8 Desember 1905 yang diberi nama NV Waterleiding Maatschappij Ajer Beresih. Pembangunana ini dilakukan oleh Hendrick Cornrlius Van Den Honert selaku Direktur Deli Maatschappij, Pieter Kolf selaku Direktur Deli Steenkolen Maatschappij dan Charles Marie Hernkenrath selaku Direktur Deli Spoorweg Maatschappij. Antor pusat dari perusahaan air bersih ini berada di Amsterdam Belanda.
Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi didirikan pada tanggal 23 September 1905 dengan nama NV. Water Leiding Maatschappij Ajer Beresih yang berkantor pusat di Amsterdm negeri Belanda. Dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah Sumatera Utara No. 11 tahun 1979 perusahaan resmi menggunakan nama yang sekarang (Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi) disingkat PDAM Tirtanadi berlokasi di JL. Sisisngamangaraja No. 1 Medan. Pada tahun 1985, Peraturan Daerah ini disempurnakan dengan Peraturan Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 25 tahun 1985 tentang Perusahaan Daerah Air Minum Propinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara.
Selanjutnya pada tahun 1991 diadakan perubahan pertama Peraturan Daerah No. 25 tahun 1985 dengan Peraturan Daerah No. 6 tahun 1991. Dalam Peraturan Daerah ini PDAM Tirtanadi disamping menangani air bersih juga
ditugaskan mengelola air limbah. Selanjutnya, pada tanggal 20 April 1999, Peraturan Daerah No. 6 tahun 1991 diperbahari lagi dengan Peraturan Daerah Propinsi Tingkat I Sumatera Utara No. 3 tahun 1999.
Pada saat itu air yang diambil dari sumber utama air Rumah Sumbul di Sibolangit dengan kapasitas 3000 m3/hari. Air tersebut ditaransmisikan ke Reservoir Menara yang memiliki kapasitas 1200 m3 yang terletak di Jl. Kapitan (sekarang kantor Pusat PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara). Reservoir ini memiliki ketinggian 42 m3 dari permukaan tanah. Reservoir ini dibuat dari besi dengan diameter 14 m. Setelah kemerdekaan Indonesia, perusahaan ini diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Pemerintah Indonesia.
Berdasarkan Perda Sumatera Utara No. 11 tahun 1979, status perusahaan diubah menjadi PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara. Sejak tahun 1991 PDAM Tirtanadi ditunjuk sebagai operator sistem pengelolaan air limbah Kota Medan. Dalam rangka pengembangan cakupan pelayanan air minum bagi masyarakat Sumatera Utara, PDAM Tirtanadi melaksanakan kerjasama operasi dengan 9 (Sembilan) PDAM dibeberapa Kabupaten di Sumatera Utara, yaitu Kabupaten Simalungun, Kabupaten Deli Serdang, kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Mndailing Natal, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan dan kabupaten Samosir. Pada Pebruari 2009, PDAM Tirtanadi Cabang Nias, Madina dan Simalungun dikembalikan ke Pemkab-nya masing masing dengan pertimbangan bahwa pihak Pemkab telah memliki kemampuan di dalam pengelolaan PDAM di daerahnya masing-masing.
Pada tanggal 10 September 2009, telah ditandatangani Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara No 10 Tentang Perusahaan Daerah Air Minum Tirtanadi yang menyatakan bahwa tujuan pokok PDAM Tirtanad adalah untuk mengelola dan penyelenggaraan air minum yang memenuhi persyaratan kesehatan dan untuk memenuhi perekonomian daerah, meningkatkan pendapatan daerah, serta menigkatkan kualitas lingkungan dengan memberikan pelayanan pengumpulan dan penyaluran air limbah melalui sistem perpipaan daam rangka mencapai kesejahteraan masyarakat pada umumnya.
2. Struktur Organisasi Satuan Pengawasan Intern (Internal Auditor)
Dalam memperlancar perusahaan dan mempermudah aktivitas arus kerja perusahaan, maka diperlukan struktur organisasi yang berbeda-beda antar satu dengan yang lainnya. Akan tetapi memiliki tujuan yang sama yaitu menghimpun kerja sama yang baik untuk mencapai keselarasan tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan dari adanya struktur organisasi yang berdasarkan pada pola hubungan kerja serta wewenang dan tanggung jawab. Dengan adanya struktur organisasi dan pembagian kerja, maka setiap orang yang terlibat dalam menejemen struktur tersebut harus dapat menggabungkan kegiatan dengan baik sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing.
Audit Internal pada Perusahaan Daerah Air Minum Provinsi Sumatera Utara dijabat oleh Bagian Satuan pengawasan Intern (SPI) yang secara teori Fungsi dan Tanggung jawabnya sama. Berdasarkan struktur organisasi PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara kedudukan divisi Satuan Pengawasan Intern (SPI) berada di bawah Direktur Utama.
3. Kedudukan Satuan Pengawasan Intern ( Internal Audit )
Kedudukan Satuan Pengawasan Intern (SPI) PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama. Dengan penempatan ini, Satuan Pengawasan Intern bersikap independen terhadap manajemen perusahaan yang menjadi objek dari ruang lingkup penugasannya. Batas pengawasan meliputi seluruh aspek organisasi perusahaan baik akuntansi, keuangan maupun operasional bahkan Satuan Pengawasan Intern PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara berhak untuk mengawasi pelaksanaan manajemen. Dengan demikian Satuan Pengawasan intern PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara mempunyai kedudukan yang kuat dalam organisasi.
4. Peran Satuan Pengawasan Intern ( Internal Audit ) dalam Pemeriksaan Penjualan
Internal Auditor dalam Pemeriksaan Penjualan berperan untuk membantu manajemen menemukan dan mencegah kecurangan yang terjadi di dalam kegiatan penjualan. Pemeriksaan yang di lakukan meliputi semua sasaran kegiatan penjualan yaitu:
a. Melakukan Rekapitulasi data terhadap Tunggakan Rekening Air PerUmur Saldo Aktif, Non Aktif Dan Campuran
b. Memeriksa daftar tunggakan pelanggan aktif perwilayah yang memuat bulan rekening dan nilai tunggakan.
c. Melakukan Pemeriksaan atas Catatan Akuntansi yang digunakan yaitu Jurnal Penerimaan kas, Jurnal Rekening, Buku Pembantu Piutang Langganan, dan Daftar Saldo Piutang Langganan.
d. Memeriksa Laporan Penerimaan Pelanggan apakah sudah sesuai dengan Penerimaan Kas dan Bukti Setoran Bank dengan Rekening Koran.
e. Memeriksa dan Mengevaluasi jaringan yang membentuk Sistem Akuntansi Penerimaan Kas Penjualan Air Yaitu Prosedur Pembaca Meter, Prosedur Pengelola Data Elektronik, Prosedur kas dan Penagihan (Kasir), dan Prosedur Pembukuan.
Internal Auditor juga berperan untuk membantu manajemen mencapai kinerja perusahaan yang baik dan ditujukan untuk membantu memperbaiki kinerja perusahaan agar lebih efektif. Internal Auditor membantu manajemen dengan cara mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengendalian intern serta memberikan catatan atas kekurangan yang ditemukan selama melakukan evaluasi. Dalam melaksanakan tugasnya, Audit Internal pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Provinsi Sumatera utara yang dijabat oleh Bagian Satuan pengawasan Intern (SPI) bertugas dan bertanggung jawab Melaksanakan Pemeriksaan Penjualan Sesuai dengan Uraian Prosedur Pelaksanaan Satuan Pengawasan Intern PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara yaitu:
a. Audit Planing yaitu Membuat Perencanaan Jadwal kerja Audit dengan kunjungan 1 Kali dalam Setahun di awali dengan Operasi Keliling dan dilanjutkan dengan pemeriksaan bagian Divisi / Cabang yang di laksanakan oleh 3 atau 4 orang Personil Satuan Pengawasan Intern PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara.
b. Kepala Satuan Pengawas Intern ( Ka. SPI) membuat Program Kerja Pemeriksaan dan melaporkan kepada Direktur Utama.
c. Jika menyetujui program kerja pemeriksaan maka Ka.SPI membentuk Tim dan menerbitkan Surat Perintah Tugas, namun jika tidak menyetujui maka Ka.SPI merevisi Program Kerja Pemeriksaan.
d. Tim melaksanakan pemeriksaan reguler ke Divisi/ Cabang sesuai Program Kerja Pemeriksaan yang telah disetujui.
e. Ketua Tim menerima dan mereview Kertas Kerja Pendukung jika diperlukan dari Anggota Tim.
f. Ketua Tim mengirim hasil pemeriksaan yang dituangkan dalam bentuk Kertas Kerja ke Divisi/ Cabang untuk diberikan tanggapan atas hasil temuan pemeriksaan.
g. Divisi/ Cabang memberikan tanggapan atas hasil temuan pemeriksaan dan mengembalikan Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) dan tanggapan kepada Ketua Tim Pemeriksa.
h. Ketua Tim menerima KKP dan tanggapan serta melakukan evaluasi atas tanggapan yang di berikan disesuaikan dengan temuan dan peraturan yang berlaku.
i. Ketua Tim membuat rangkuman atas temuan pemeriksaan kedalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) dan hasil LHP diserahkan kepada Kabid Pengawasan.
j. Kabid Pengawasan melakukan review LHP dan melaporkan ke Ka.SPI.
k. Ka.SPI menerima LHP dan mendisposisikan untuk dilaksanakan rapat pembahasan hasil pemeriksaan reguler dengan Divisi/ Cabang.
l. Ka.SPI, Kabid Pengawasan dan Tim Melakukan rapat pembahasan hasil pemeriksaan reguler dengan Divisi/ Cabang dan hasil rapat dicatat dalam Notulen oleh notulis.
m. Divisi/ Cabang menindaklanjuti hasil konfirmasi dan menyerahkan bukti tindak lanjut kepada Ka.SPI.
n. Ka. SPI menerima tindak lanjut dari Divisi/ Cabang dan melakukan evaluasi serta membuat laporan kepada Direktur Utama per-semester.
o. Kabid Pengawasan mengarsip berkas/ dokumen pemeriksaan.
Dalam melakukan pemeriksaan internal auditor harus membuat prosedur audit yang berisikan metode atau teknik pemeriksaan yang digunakan untuk mencari bukti audit atas temuan pemeriksaan, metode atau teknik pemeriksaan yang akan digunakan dalam pemeriksaan penjualan yang dilakukan oleh internal auditor PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara sebagai berikut :
1. Inspeksi
Inpeksi merupakan kegiatan pemeriksaan secara teliti atau pemeriksaan secara mendalam atas dokumen catatan atau pemeriksaan fisik atas sumbersumber berwujud. Dengan cara ini auditor dapat membuktikan keaslian suatu dokumen.
2. Pengamatan
Pengamatan atau Observasi merupakan prosedur audit yang dilakukan dengan melihat atau menyaksikan pelaksanaan suatu kegiatan. Dengan melakukan pengamatan pada saat kegiatan sedang berlangsung auditor dapat memperoleh bukti visual pelaksanaan suatu kegiatan. Pengamatan dalam penjualan dapat dilihat dengan memahami system pengendalian intern penjualan dan flowchart
penjualan perusahaan, dengan memahami hal tersebut auditor dapat dibandingkan dengan menyaksikan pelaksaanannya. Hasilnya auditor mendapatkan bukti visual pelaksanaan kegiatan penjualan.
3. Konfirmasi
Hal ini dapat dilakukan secara lisan ataupun tertulis. Pertanyaan dilakukan kepada sumber intern pada perusahaan tanpa adanya pertanyaan langsung pada sumber ekstern. Sehingga bukti yang dihasilakan berupa bukti lisan dan bukti documenter intern perusahaan. Dalam pemeriksaaan penjualan permintaan keterangan dilakukan dengan wawancara ke bagian terkait dengan membandingkan prosedur kegiatan guna menghasilkan temuan ataupun bukti audit.
5. Laporan Satuan Pengawasan Intern (Internal Auditor)
Laporan Audit Internal merupakan suatu dokumen formal yang menyimpulkan pekerjaan audit internal dengan melaporkan rekomendasi dan pengamatannya. Laporan hasil audit memberikan bukti mengenai karakter yang professional dari aktivitas audit internal dan mepersilahkan yang lainnya untuk mengevaluasi kontribusi ini.
Satuan Pengawasan Intern (SPI) pada PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara membuat laporan audit internal dalam bentuk Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP). Yang mana komponen-komponen KKP tersebut berisi :
a. Temuan
Temuan yang dibuat dalam KKP menjelaskan mengenai keadaan yang tidak sesuai dengan prosedur yang telah di buat oleh perusahaan.
b. Kondisi
Mengenai gambaran situasi yang sebenarnya terjadi di lembaga organisasi yang diaudit.
c. Kriteria
Kriteria merupakan sesuatu yang sebenarnya terjadi di organisasi yang diaudit (auditee), yang pada umumnya berupa standar masukan (input) serta standar proses dan standar hasil (output), baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif. Kriteria adalah standar yang digunakan untuk menetukan apakah suatu program dapat mencapai atau melebihi harapan. Kriteria merupakan suatu alat atau cara untuk dapat memahami hasil audit.
d. Sebab
Dengan mengetahui “sebab” suatu masalah secara jelas, auditor akan lebih mudah untuk memberi rekomendasi yang tepat untuk mengadakan perbaikan kinerja entitas yang diaudit. Suati masalah dapat merupakan akibat dari sejumlah faktor tertentu. Oleh karena itu, rekomendasi dapat lebih tepat jika auditor dapat dengan jelas menunjukkan bukti dan alas an tentang kaitan antara masalah yang ada dengan faktor yang diidentifikasi sebagai penyebab. e. Akbibat
Untuk mengetahui penting tidaknya temuan yang diungkapkan auditor perlu menentukan akibat atau kemungkinan akibat yang akan timbul. Apabila akibatnya cukup material terhadap tingkat pencapaian kinerja, akibat tersebut haris dicantumkan dalam temuan audit. Sebaliknya, bila temuan tersebut tidak material cukup diselesaikan dengan pihak pelaksana.
Pejabat yang berwenang pada Entitas yang di audit perlu menjelaskan mengenai kebenaran terhadap temuan pemeriksaan audit. Karena, dalam hal ini yang paling mengetahui kondisi entitas adalah menejemen itu pada entitas itu sendiri. Jadi diperlukannya tanggapan dari pejabat yang di periksa.
g. Saran dan Rekomendasi
Saran merupakan solusi yang diajukan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Saran harus bersifat membangun, objective, dan sesuai dengan temuan yang ditemukan.
Rekomendasi adalah tindakan yang dapat dipertimbangkan oleh menejemen untuk memperbaiki kondisi yang salah.