• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

1. Sub Sektor Pertanian Yang Menjadi Basis Dalam Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Sulawesi Selatan

Teori basis ekonomi menyatakan pandangannya bahwa laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya paningkatan ekspor dari wilayah tersebut. Sektor perekonomian regional dapat dibagi menjadi dua sektor yaitu sektor basis dan sektor non basis. Sektor basis adalah sektor yang mampu mengahasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan lokal serta mampu mengekspor ke luar wilayah yang bersangkutan. Sedangkan sektor non basis merupakan sektor yang hanya mampu menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan lokal saja serta belum mampu mengekspor ke luar wilayah yang bersangkutan. a. Analisis Location Quotient (LQ)

Untuk mengetahui apakah suatu sektor merupakan sektor basis atau sektor non basis dengan menggunakan metode

Location Quotient (LQ) yang merupakan perbandingan antara

pangsa relatif pendapatan sektor i pada tingkat wilayah terhadap pendapatan total wilayah dengan pangsa relatif pendapatan sektor i pada tingkat nasional terhadap pendapatan total nasional. Kriteria sektor tersebut adalah apabila nilai LQ > 1 atau LQ = 1 maka sektor tersebut merupakan sektor basis, sedangkan bila nilai LQ < 1 maka sektor tersebut merupakan sektor non basis dalam perekonomian wilayah.

Sulawesi Selatan didalam menjalankan kegiatan perekonomian ditopang oleh 17 sektor perekonomian yaitu sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor insektor pengolahan, sektor pengadaan listrik dan gas, sektor pengadaan air; pengolahan sampah; limbah; dan daur ulang, sektor kontruksi, sektor perdagangan besar dan reparasi mobil dan sepeda motor, sektor transportasi dan pergudangan, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, sektor informasi dan komunikasi, sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor real estat, sektor jasa perusahaan, sektor administrasi pemerintahan; pertahanan; dan jaminan sosial wajib, sektor pendidikan, sektor kesehatan dan kegiatan sosial, dan sektor jasa lainnya. Hasil dari analisis

Location Quotient (LQ) untuk sektor perekonomian di Provinsi

Sulawesi Selatan tahun 2015-2019 dapat dilihat dalam Tabel 4.1 berikut.

43

Tabel 4.1

Hasil Analisis Location Quotient (LQ) Sektor Perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan

Sumber : Data sekunder di olah, (2020)

Berdasarkan hasil analisis Location Quotient terhadap 17 sektor perekonomian di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan atas dasar harga konstan tahun 2015-2019 menunjukkan bahwa yang merupakan sektor basis yaitu sektor pertanian; kehutanan; dan perikanan, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan air; sektor pengelolaan sampah, sektor limbah, dan daur ulang, sektor Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 2019

Rata-Rata Ket Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan 1,654 1,688 1,680 1,672 1,629 1,665 Basis

Pertambangan dan Penggalian 0,738 0,723 0,731 0,711 0,708 0,722 Non Basis

Industri Pengolahan 0,658 0,668 0,659 0,627 13,324 3,187 Basis

Pengadaan Listrik dan Gas 0,087 0,090 0,092 0,092 0,092 0,091 Non Basis

Pengadaan Air; Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang

1,472 1,465 1,481 1,454 1,360 1,446 Basis

Konstruksi 1,221 1,214 1,212 1,218 1,232 1,219 Basis

Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

0,889 1,067 1,105 1,154 1,183 1,080 Basis

Transportasi dan Pergudangan 0,939 0,920 0,901 0,912 0,857 0,906 Non Basis Penyediaan Akomodasi dan

Makan Minum 0,449 0,453 0,471 0,494 0,486 0,471 Non Basis

Informasi dan Komunikasi 1,334 1,296 1,280 1,316 1,311 1,307 Basis

Jasa Keuangan dan Asuransi 0,893 0,911 0,884 0,872 0,836 0,879 Non Basis

Real Estat 1,234 1,226 1,212 1,204 1,179 1,211 Basis

Jasa Perusahaan 0,256 0,251 0,246 0,245 0,241 0,248 Non Basis

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib

1,312 1,241 1,254 1,266 1,306 1,276 Basis

Jasa Pendidikan 1,693 1,704 1,766 1,808 1,786 1,751 Basis

Jasa Kesehatan dan Kegiatan

Sosial 1,780 1,795 1,792 1,784 1,742 1,779 Basis

konstruksi, sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor, sektor informasi dan komunikasi, sektor real estat, sektor administrasi pemerintahan; pertahanan; dan jaminan sosial wajib, sektor jasa pendidikan, sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial dengan nilai rata-rata LQ > 1. Hal ini berarti sektor-sektor tersebut memiliki daya saing yang tinggi karena selain dapat memenuhi kebutuhan wilayah sendiri juga dapat mengekspor produknya keluar wilayah. Dari hasil analisis tersebut, memperlihatkan bahwa sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Selatan selama tahun 2015-2019 selalu menjadi sektor basis dalam perekonomian di wilayah ini.

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang strategis dan sebagai penyumbang terbesar dalam mendukung sektor perkonomian di Provinsi Sulawesi Selatan. Dalam menjalankan perekonomiannya sektor pertanian Sulawesi Selatan ditopang oleh beberapa sub sektor pertanian yaitu, tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Untuk menentukan sub sektor tersebut, apakah termasuk sektor basis atau non basis dilakukan metode analisis

Location Quotient (LQ). Hasil analisis Location Quotient (LQ) untuk

45

Tabel 4.2

Hasil Analisis Location Quotient (LQ) Sektor Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan

Sumber: Data sekunder di olah, (2020)

Hasil analisis LQ berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari enam sub sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Selatan terdapat tiga sub sektor yang memiliki nilai LQ > 1 yaitu, tanaman pangan dengan nilai LQ 2,406, perkebunan dengan nilai LQ 1,085 dan perikanan denga nilai LQ 3,203, artinya ketiga sub sektor tersebut merupakan sektor basis perekonomian Sulawesi Selatan. Hal ini dapat dikatakan bahwa ketiga sub sektor tersebut memiliki potensi ekspor dan peranan lebih besar sebagai penyumbang perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan dibandingkan sub sektor lainnya. Sedangkan sub sektor hortikultura dengan nilai LQ 0,839, peternakan dengan nilai LQ 0,715 dan kehutanan dengan nilai LQ 0,100 merupakan sub sektor non basis karena nilai LQ < 1.

b. Analisis Dynamic Location Quotient (DLQ)

Analisis untuk mengetahui terjadinya suatu perubahan posisi terhadap sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Selatan Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 2019 Rata-Rata Ket

a.Tanaman Pangan 2,341 2,429 2,442 2,444 2,374 2,406 Basis

b.Tanaman Hortikultura 0,876 0,887 0,872 0,793 0,766 0,839 Non Basis

c. Perkebunan 1,124 1,138 1,090 1,069 1,004 1,085 Basis

d. Peternakan 0,697 0,700 0,701 0,744 0,732 0,715 Non Basis

e. Kehutanan 0,105 0,100 0,101 0,099 0,096 0,100 Non Basis

dilakukan melalui metode Dynamic Location Quotient (DLQ). Pada dasarnya penafsiran metode DLQ dengan LQ adalah sama, hanya saja metode Location Quotient mempunyai kelemahan yaitu analisisnya yang bersifat statis sehingga tidak dapat menangkap kemungkinan perubahan-perubahan yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Karena sektor basis pada saat ini belum tentu akan menjadi sektor basis pada masa yang akan datang dan sebaliknya juga sektor non basis pada saat ini mungkin saja akan berubah menjadi sektor basis pada selanjutnya. Pada metode DLQ lebih menekankan pada proporsi laju pertumbuhan sektor perekonomian (PDRB) Provinsi Sulawesi Selatan dibandingkan sektor perekonomian Nasional. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah kedepannya sektor pertanian akan tetap akan menjadi basis atau terjadi reposisi menjadi non basis. Hasil analisis

Dynamic Location Quotient (DLQ) perekonomian Provinsi

47

Tabel 4.3

Hasil Analisis Dynamic Location Quotient (DLQ) Sektor Perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan

Lapangan Usaha DLQ Ket

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 1,079 Basis

Pertambangan dan Penggalian 77,893 Basis

Industri Pengolahan 1,117 Basis

Pengadaan Listrik dan Gas 2,002 Basis

Pengadaan Air; Pengelolaan Sampah,

Limbah, dan Daur Ulang 0,069 Non Basis

Konstruksi 0,890 Non Basis

Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi

Mobil dan Sepeda Motor 8,861 Basis

Transportasi dan Pergudangan 0,196 Non Basis

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 2,385 Basis

Informasi dan Komunikasi 0,354 Non Basis

Jasa Keuangan dan Asuransi 0,232 Non Basis

Real Estat 0,676 Non Basis

Jasa Perusahaan 0,230 Non Basis

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan

Jaminan Sosial Wajib 1,293 Basis

Jasa Pendidikan 1,388 Basis

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 0,596 Non Basis

Jasa Lainnya 0,425 Non Basis

Sumber: Data sekunder di olah tahun, (2020)

Hasil analisis Dynamic Location Quotient (DLQ) menunjukkan bahwa sektor pertanian tidak mengalami perubahan posisi karena memiliki nilai DLQ > 1 sehingga kedepan sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Selatan masih tetap menjadi sektor basis yang dapat diunggulkan dan mempunyai daya saing yang tinggi dibandingkan sektor pertanian terhadap nasional. Tetapi sektor yang menunjukkan meningkat sangat signifikan adalah sektor pertambangan dengan nilai 77,839 dan sektor perdagangan

besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor dengan nilai 8,861.

Tabel 4.4

Hasil Analisis Dynamic Location Quotient (DLQ) Sektor Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan

Sumber: Data sekunder di olah tahun, (2020)

Berdasarkan hasil analisis DLQ pada tabel 4.4 menunjukkan sub sektor pertanian basis yang memiliki nilai DLQ > 1 yaitu, tanaman pangan dengan nilai DLQ 1,815, peternakan dengan nilai DLQ 1,539 dan perikanan dengan nilai DLQ 1,211. Sedangkan sub sektor non basis yang memiliki nilai DLQ < 1 yaitu tanaman hortikultura dengan nilai DLQ 0,086, perkebunan dengan nilai DLQ 0,255 dan kehutanan dengan nilai DLQ 0,001.

Lapangan Usaha DLQ Ket

a. Tanaman Pangan 1,815 Basis

b. Tanaman Hortikultura 0,086 Non Basis

c. Perkebunan 0,255 Non Basis

d. Peternakan 1,539 Basis

e. Kehutanan 0,001 Non Basis

49

c. Analisis Gabungan Location Quotient (LQ) Dan Dynamic

Location Quotient (DLQ)

Untuk mengatahui perubahan posisi dari setiap sektor perekonomian maupun sektor pertanian dapat dilakukan dengan cara menggabungkan dua metode analisis sebelumnya yaitu metode Location Quotient (LQ) dan Dynamic Location Quotient (DLQ).

Tabel 4.5

Hasil Analisis Gabungan LQ Dan DLQ Sektor Perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan

Lapangan Usaha LQ DLQ Ket

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan 1,665 1,079 Tetap Basis

Pertambangan dan Penggalian 0,722 77,893 Non Basis Menjadi Basis

Industri Pengolahan 3,187 1,117 Tetap Basis

Pengadaan Listrik dan Gas 0,091 2,002 Non Basis Menjadi Basis

Pengadaan Air 1,446 0,069 Basis Menjadi Non Basis

Konstruksi 1,219 0,890 Basis Menjadi Non Basis

Perdagangan Besar dan Eceran;

Reparasi Mobil dan Sepeda Motor 1,080 8,861 Tetap Basis

Transportasi dan Pergudangan 0,906 0,196 Tetap Non Basis

Penyediaan Akomodasi dan Makan

Minum 0,471 2,385 Non Basis Menjadi Basis

Informasi dan Komunikasi 1,307 0,354 Basis Menjadi Non Basis

Jasa Keuangan dan Asuransi 0,879 0,232 Tetap Non Basis

Real Estat 1,211 0,676 Basis Menjadi Non Basis

Jasa Perusahaan 0,248 0,230 Tetap Non Basis

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan,

dan Jaminan Sosial Wajib 1,276 1,293 Tetap Basis

Jasa Pendidikan 1,751 1,388 Tetap Basis

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 1,779 0,596 Basis Menjadi Non Basis

Jasa Lainnya 0,786 0,425 Tetap Non Basis

Hasil analisis gabungan Location Quotient (LQ) dan

Dynamic Location Quotient (DLQ) berdasarkan tabel 4.5

menunjukkan ada lima sektor yang tidak mengalami perubahan dan tetap menjadi basis. Diantaranya seperti sektor pertanian, sektor industri, sektor perdagangan, sektor administrasi pemerintahan dan sektor jasa pendidikan. Ada empat yang tetap menjadi non basis diantaranya seperti sektor transportasi, sektor jasa keuangan, sektor jasa perusahaan, dan jasa lainnya. Ada tiga sektor yang mengalami perubahan posisi dari non basis menjadi basis yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor pengadaan listrik dan gas dan sektor penyediaan akomodasi. Dan ada lima sektor yang berubah posisi dari basis menjadi non basis yaitu sektor pengadaan air, sektor kontruksi, sektor informasi dan komunikasi, sektor real estat dan sektor jasa kesehatan. Ini harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah agar kedepannya dapat terus menjadikan tiap-tiap sektor menjadi sektor basis yang dapat diandalkan di masa yang akan datang.

51

Tabel 4.6

Hasil Analisis Gabungan LQ Dan DLQ Sektor Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan

Lapangan Usaha LQ DLQ Ket

a.Tanaman Pangan 2,406 1,815 Tetap Basis b.Tanaman Hortikultura 0,839 0,086 Tetap Non Basis c. Perkebunan 1,085 0,255 Basis Menjadi Non Basis d. Peternakan 0,715 1,539 Non Basis Menjadi Basis

e. Kehutanan 0,100 0,001 Tetap Non Basis

f. Perikanan 3,203 1,211 Tetap Basis

Sumber: Data sekunder di olah tahun, (2020)

Hasil analisis LQ dan DLQ berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan sub sektor tanaman pangan tetap menjadi basis dengan nilai LQ 2,406 nilai DLQ 1,815 dan sub sektor perikanan tetap menjadi basis dengan nilai LQ 3,203 dan DLQ 1,211 walaupun kedua sub sektor tersebut mengalami penurunan di masa yang akan datang. Sub sektor hortikultura dan sub sektor kehutanan masih tetap menjadi sub sektor non basis dengan nilai < 1. Sub sektor perkebunan mengalami perubahan posisi dari basis menjadi non basis dengan nilai LQ 1,085 dan DLQ 0,255. Dan sub sektor peternakan mengalami perubahan posisi dari sub sektor non basis menjadi sub sektor basis dengan nilai LQ 0,715 dan DLQ 1,539.

2. Faktor Yang Menyebabkan Perubahan Posisi Pada Sektor Atau Sub Sektor Pertanian di Provinsi Sulawesi Selatan

Analisis Shift share

Analisis Shift share digunakan untuk mengetahui perubahan posisi yang terjadi pada sektor perekonomian atau sub sektor pertanian yang terdiri dari Structural Shift share (SSS) dan

Locational Shift share (LSS).

Tabel 4.7

Hasil Analisis Shift share Sektor Perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan

Sumber : Data sekunder di olah tahun, (2020)

Lapangan Usaha SSS LSS TSS Faktor Penentu

Pertanian, Kehutanan, dan

Perikanan 19.908,47 95.106,22 115.014,69 Lokasi

Pertambangan dan

Penggalian -12.737,18 46.334,25 33.597,07 Lokasi

Industri Pengolahan 4.976,61 70.596,76 75.573,37 Lokasi

Pengadaan Listrik dan Gas -80,19 570,11 489,92 Lokasi

Pengadaan Air 1.053,35 -409,47 643,88 Struktur Ekonomi

Konstruksi -4.135,48 67.845,92 63.710,44 Lokasi

Perdagangan Besar dan

Eceran -103.986,46 167.696,90 63.710,44 Lokasi

Transportasi dan

Pergudangan 21.247,08 -1,810,21 19.436,87 Struktur Ekonomi

Penyediaan Akomodasi -5.614,52 12.779.27 7.164,75 Lokasi

Informasi dan Komunikasi 17.975,21 15.429,77 33.404,99 Struktur Ekonomi

Jasa Keuangan dan

Asuransi 17.792,86 623,70 18.416,56 Struktur Ekonomi

Real Estat 7.284,36 12.269,36 19.553,71 Lokasi

Jasa Perusahaan 2.176,27 76,29 2.252,56 Struktur Ekonomi

Administrasi Pemerintahan -1.408,90 25.564,79 24.155.,89 Lokasi

Jasa Pendidikan -9.016,77 37.458,40 28.441,63 Lokasi

Jasa Kesehatan 1.899,31 8.401,52 10.300,83 Lokasi

53

Hasil analisis Shift share berdasarkan tabel 4.7 menunjukkan perubahan posisi sektor perekonomian Provinsi Sulawesi Selatan lebih banyak disebabkan oleh faktor lokasi. Seperti sektor pertanian, sektor pertambangan, sektor industri, sektor pengadaan listrik dan gas, sektor kontuksi, sektor perdagangan, sektor penyediaan akomodasi, sektor real estat, sektor administrasi pemerintahan, sektor jasa pendidikan, sektor jasa kesehatan dan sektor jasa lainnya, karena memiliki nilai SSS < LSS. Sedangkan pada sektor pengadaan air, sektor transportasi, sektor informasi, sektor jasa keuangan dan jasa perusahaan sebagai faktor penentu terjadinya perubahan posisi disebabkan oleh faktor struktur ekonomi karena memiliki nilai SSS > LSS.

Tabel 4.8

Hasil Analisis Shift share Sektor Pertanian Provinsi Sulawesi Selatan

Lapangan Usaha SSS LSS TSS Faktor Penentu

a.Tanaman Pangan 12.116,27 26.794,90 38.911,18 Lokasi

b.Tanaman Hortikultura 9.427,55 -2.817,07 6.610,48 Struktur Ekonomi

c.Tanaman Perkebunan 21.553,47 1.473,00 23.026,47 Struktur Ekonomi

d.Peternakan -1.768,96 7.432,84 5.663,88 Lokasi

e.Kehutanan 719,63 -340,18 379,45 Struktur Ekonomi

f. Perikanan -12.518,18 50.977,23 38.459,04 Lokasi

Sumber: Data sekunder di olah tahun, (2020)

Hasil analisis Shift share pada sektor pertanian berdasarkan tabel 4.8 menunjukkan sub sektor tanaman pangan, sub sektor peternakan dan sub sektor perikanan mengalami perubahan posisi faktor penentu disebabkan oleh faktor lokasi,

karena memiliki nilai SSS < LSS yaitu sub sektor tanaman pangan dengan nilai SSS 12.116,27 dan LSS 26.794,90. Sub sektor peternakan dengan nilai SSS -1.768,96 dan LSS 7.432,84. Dan sub sektor perikanan dengan nilai SSS -12.518,18 dan LSS 50.977,23. Sedangkan sub sektor tanaman hortikultura, sub sektor perkebunan dan sub sektor kehutanan mengalami perubahan disebabkan oleh faktor struktur ekonomi karena memiliki nilai SSS > LSS. Yaitu sub sektor hortikultura dengan nilai SSS 9.427,55 dan LSS -2.817,07. Sub sektor kehutanan dengan nilai SSS 719,63 dan LSS -340,18.

Dokumen terkait