• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Semua data yang digunakan dalam analisis ini merupakan data sekunder, deret waktu mulai dari tahun 2013 sampai dengan tahun 2017. Data diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Berikut ini merupakan data dari variabel penelitian.

Tabel IV.1

Rasio Keuangan Perusahaan Tekstil & Garment Periode 2013-2017

EMITEN TAHUN

Asset Growth Sales Growth

Return On Asset (ROA) % DER % A t-t-1 /t-1 B t-t-1/t-1 L/A U/E HDTX 2013 0,7458 0,2278 -9,19% 111,22% 2014 0,7760 0,1117 -2,45% 230,32% 2015 0,1548 0,1923 -7,29% 249,46% 2016 -0,0276 0,1752 -8,38% 302,52% 2017 -0,1494 -0,2148 -20,94% 784,90% MYTX 2013 0,1620 0,2510 -2,92% -2,12% 2014 -0,0258 0,1204 -8,09% -0,86% 2015 -0,0475 -0,1117 -15,23% -0,44% 2016 -0,1669 -0,3143 -22,04% -0,28% 2017 1,1353 0,2650 34,80% 0,89% RICY 2013 0,0317 0,5450 0,56% 130,91% 2014 0,3483 3,6175 0,89% 200,31% 2015 0,0223 -0,0628 1,03% 199,49% 2016 0,0755 0,0994 1,03% 212,41%

2017 0,0665 0,3102 1,05% 219,44% SSTM 2013 -0,0104 0,0348 -1,65% 195,12% 2014 -0,0352 -0,0939 -1,82% 204,80% 2015 -0,0669 -0,0263 -1,45% 185,69% 2016 -0,1001 -0,1373 -2,52% 155,10% 2017 -0,0677 -0,2126 -4,21% 185,05% STAR 2013 -0,0031 0,3390 75,99% 52,99% 2014 0,0354 -0,1660 62,08% 58,70% 2015 -0,0604 0,1327 42,10% 48,88% 2016 -0,0533 -0,5000 50,70% 40,85% 2017 -0,1094 -0,1157 41,70% 25,38% TRIS 2013 0,2980 0,1993 10,14% 61,40% 2014 0,0979 0,1142 7,00% 69,15% 2015 0,1004 0,1512 6,52% 74,46% 2016 0,1138 0,0490 3,42% 84,55% 2017 -0,1481 -0,1420 3,63% 52,98% UNIT 2013 0,2085 0,1517 181,19% 90,30% 2014 -0,0405 0,0055 80,11% 82,38% 2015 0,0454 0,1543 83,80% 89,54% 2016 -0,0600 -0,1197 198,83% 77,41% 2017 -0,0151 -0,0083 249,10% 73,85%

Sumber : IDX 2013-2017 (Data di olah)

Berdasarkan data diatas maka hasil pengujian regresi berganda menggunakan aplikasi SPSS 21.00 adalah sebagai berikut :

1. Statistik Deskriptif

Variabel-variabel dalam penelitian ini dimasukkan ke dalam program SPSS dan menghasilkan output-output sesuai metode analisis data yang telah

45

ditentukan. Berikut ini adalah tampilan data statistik secara umum dari seluruh data yang digunakan terlihat pada tabel berikut:

Tabel IV.2

Hasil Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Variance

Aset_growth 35 -,1669 1,1353 ,084629 ,2754792 ,076

Sales_growth 35 -,5000 3,6175 ,143480 ,6386497 ,408

Roa 35 -,2204 2,4910 ,293569 ,6331786 ,401

Der 35 -,0212 7,8490 1,299071 1,4112167 1,992

Valid N (listwise) 35

Sumber : data diolah dengan SPSS 21.00

Tabel diatas adalah tabel descriptive statistics yang merupakan salah satu hasil output dari pengujian yang dilakukan dengan bantuan program SPSS terhadap data aset growth, sales growth, return on aset, dan debt to equity rasio dimana tabel ini merupakan pengujian terhadap kualitas data penelitian yang dilihat dari nilai rata-rata, nilai maksimum dan minimum selama 5 tahun penelitian.

Berdasarkan hasil pengolahan data pada tabel IV.1 diatas diketahui bahwa rasio aset growth diperoleh mean sebesar 0,084629. Hal ini berarti bahwa rata-rata aset perusahaan tekstil dan garment mampu mendapatkan sebesar 8,46%. Nilai maksimum aset growth diketahui sebesar 1,1353 yang berarti aset growth perusahaan tekstil dan garment dapat mencapai 114%, dan minimum aset growth yaitu sebesar -0,1669 yang berarti aset terendah perusahaan tekstil dan garment yaitu menurun sebesar -16,69%.

Variabel sales growth menunjukkan nilai mean sebesar 0,143480. Hal ini berarti bahwa rata-rata penjualan perusahaan tekstil dan garment mampu mendapatkan sebesar 14,34%. Nilai maksimum sales growth diketahui sebesar 3,6175 yang berarti sales growth penjualan perusahaan tekstil dan garment dapat mencapai 362%, dan nilai minimum sales growth yaitu sebesar -0,5000 yang berarti penjualan terendah perusahaan tekstil dan garment yaitu menurun sebesar -50%.

Variabel return on aset menunjukkan nilai mean sebesar 0,293569. Hal ini berarti bahwa rata-rata perusahaan tekstil dan garment mampu mendapatkan laba bersih sebesar 29% dari total aset yang dimiliki perusahaan. Nilai maksimum

return on aset diketahui sebesar 2,4910 yang berarti return on aset perusahaan

tekstil dan garment dapat mencapai 249% dan nilai minimum return on aset yaitu -0,2204 yang berarti laba bersih terendah perusahaan tekstil dan garment yaitu menurun sebesar 22,04% dari seluruh total aset yang dimiliki perusahaan.

Variabel debt to equity ratio yang merupakan rasio total hutang dengan total ekuitas perusahaan menunjukkan nilai mean sebesar 1,299071. Hal ini berarti bahwa rata-rata perusahaan tekstil dan garment memiliki hutang sebesar 130% atau 1,30 kali lebih besar dari modal sendiri (ekuitas) yang dimiliki perusahaan. Nilai maksimum debt to equity ratio sebesar 7,8490 atau hutang yang dimiliki sebesar 785% atau 7,85 kali lebih besar dari modal sendiri yang dimiliki perusahaan, sedangkan nilai minimum dari debt to equity ratio adalah sebesar -0,0212 yang berarti bahwa debt to equity ratio terendah perusahaan tekstil dan garmen mengalami penurunan hingga sebesar 2,12% atau 0,02.

47

2. Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier berganda bertujuan untuk mengukur intensitas hubungan antara dua variabel atau lebih dan membuat prediksi perkiraan nilai independen (X) atas dependen (Y). Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel independen, yaitu variabel X1 aset growth, variabel X2 sales growth, variabel X3

return on aset (ROA) serta variabel dependen yaitu variabel Y debt to equity ratio

(DER). Melalui pengujian yang dilakukan dengan bantuan program SPSS, maka diperoleh hasil output yaitu cofficients sebagai berikut:

Tabel IV.3

Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1,501 ,280 5,363 ,000 Aset_growth -,657 ,923 -,128 -,712 ,482 Sales_growth ,152 ,399 ,069 ,381 ,706 Roa -,574 ,385 -,257 -1,489 ,147

a. Dependent Variable: Der

Sumber : data diolah dengan SPSS 21.00

Data tabel IV.2 diatas maka dapat diketahui nilai-nilai sebagai berikut:

Konstanta (a) = 1,501

Aset Growth = -0,657

Sales Growth = 0,152

Hasil tersebut dimasukkan ke dalam persamaan regresi linier berganda sehingga diketahui persamaan sebagai berikut:

Y = 1,501 – 0,657X1 + 0,152X2 – 0,574X3

Keterangan :

1. Konstanta (a) sebesar 1,501 dengan arah hubungannya positif menunjukkan bahwa apabila semua variabel independen dianggap konstanta, maka debt to equity ratio mengalami kenaikan sebesar 1,501. 2. Nilai Koefisien X1 Aset Growth

Nilai β sebesar -0,657 dengan arah hubungannya negatif menunjukkan bahwa setiap kenaikan aset growth maka akan diikuti oleh penurunan debt

to equity ratio sebesar 0,657 atau 65,7% dengan asumsi variabel

independen lainnya dianggap konstan. 3. Nilai Koefisien X2 Sales Growth

Nilai β sebesar 0,152 dengan arah hubungannya positif menunjukkan bahwa setiap kenaikkan sales growth maka akan diikuti oleh peningkatan

debt to equity ratio sebesar 0,152 atau 15,2% dengan asumsi variabel

independen lainnya yang dianggap konstan. 4. Nilai Koefisien X3 Return On Aset

Nilai β sebesar -0,574 dengan arah hubungannya negatif menunjukkan bahwa setiap kenaikan return on aset maka akan diikuti oleh penurunan

debt to equity ratio sebesar 0,574 atau 57,4% dengan asumsi variabel

49

5. Uji Asumsi Klasik

Pengujian asumsi klasik dilakukan untuk mendeteksi ada atau tidaknya penyimpangan dari asumsi klasik pada regresi berganda. Adapun pengujian asumsi klasik yang digunakan adalah uji normalitas, uji multikolinear, dan uji heterokedatisitas.

a. Uji Normalitas

Pengujian normalitas data dilakukan untuk melihat apakah dalam model regresi, variabel dependen dan independenya memiliki distribusi normal atau tidak. Untuk menentukan normalitas data dapat diuji dengan dua cara yaitu :

1) Analisis Grafik

Normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal p-plot regression dari atau dengan melihat histogram dari residualnya.

Sumber : data diolah dengan SPSS 21.00

Gambar IV.4 Hasil P-Plot Regression

Dari gambar diatas hasil dari pengujian normalitas data dapat dilihat bahwa data menyebar disekitar titik-titik yang menyebar di daerah garis diagonal dan penyebarannya mengikuti garis diagonal, sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi berdistribusi normal, uji normalitas terpenuhi dan layak untuk dianalisis.

Sumber : data diolah dengan SPSS 21.00

Gambar IV.5 Hasil Histogram

Dari gambar diatas diketahui bahwa grafik histogram menunjukkan pola berdistribusi miring negatif. Karena kurva membentuk lonceng dan memiliki kecenderungan pada sisi kiri.

2) Analisis Statistik

Uji normalitas dengan grafik akan menyesatkan apabila tidak berhati-hati secara visual terlihat normal, namun secara statistik bisa sebaliknya. Uji statistik lain yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik non-parametik Kolmogorov-Smirnov (K-S).

51

Tabel IV.4

Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov Test

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 35

Normal Parametersa,b Mean ,0000000 Std. Deviation 1,35236854

Most Extreme Differences

Absolute ,189

Positive ,189

Negative -,105

Kolmogorov-Smirnov Z 1,119

Asymp. Sig. (2-tailed) ,163

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Sumber : data diolah dengan SPSS 21.00

Dari hasil pengolahan data pada tabel IV.3 diatas diperoleh besarnya nilai signifikasi Kolmogorov-Smirnov adalah 0,163. Dari nilai tersebut dapat di disumpulkan bahwa Asymp.sig (2-tailed) lebih besar dari 0,05, sehingga variabel telah berdistribusi normal.

b. Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas digunakan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi yang kuat antara variabel independen (bebas). Model regresi yang baik seharusnya bebas multikolinearitas dapat dilihat dari nilai

tolerance > 0,10 dan nilai Variance Inflation Factor (VIF) < 5 berarti data tidak

ada masalah multikolinearitas. Berikut ini merupakan hasil output uji multikolinearitas pada data yang telah diolah :

Tabel IV.5

Hasil Uji Multikolinearitas

Coefficientsa

Model Correlations Collinearity Statistics

Zero-order Partial Part Tolerance VIF

1

(Constant)

Aset_growth -,094 -,127 -,123 ,913 1,095

Sales_growth ,053 ,068 ,066 ,910 1,099

Roa -,256 -,258 -,256 ,992 1,008

a. Dependent Variable: Der

Sumber : data diolah dengan SPSS 21.00

Dari hasil pengelolahan data pada tabel IV.4 diatas, dapat diketahui bahwa nilai VIF untuk variabel aset growth (X1) adalah 1,095, untuk variabel sales

growth (X2) adalah 1,099 dan untuk variabel return on aset (X3) adalah 1,008.

Dari masing-masing variabel independen menunjukkan bahwa nilai VIF lebih kecil dari 5. Sedangkan untuk nilai Tolerance untuk variabel aset growth (X1) adalah 0,913, untuk variabel sales growth (X2) adalah 0,910, dan untuk variabel

return on aset (X3) adalah 0,992. Dari masing-masing variabel independen

menunjukkan bahwa nilai Tolerance lebih besar dari 0,1. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah multikolinearitas antara variabel independen yang diindikasikan dari nilai VIF dan Tolerance.

c. Uji Autokorelasi

Autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah model regresi linier ada koreksi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Model regresi yang baik adalah bebas dari autokorelasi. Berikut ini merupakan hasil output uji autokorelasi pada data yang telah diolah :

53

Tabel IV.6 Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

Change Statistics Durbin-Watson R Square Change F Change df1 df2 Sig. F Change 1 ,286a ,082 -,007 1,4162948 ,082 ,919 3 31 ,443 1,436 a. Predictors: (Constant), Roa, Aset_growth, Sales_growth

b. Dependent Variable: Der

Sumber : data diolah dengan SPSS 21.00

Dari hasil pengolahan data pada tabel IV.5 diatas, dapat diketahui bahwa nilai Durbin Watson adalah 1,436. Dari nilai tersebut dapat disimpulkan bahwa

Durbin Watson berada diantara -2 sampai +2 yang artinya regresi pada penelitian

ini bebas dari autokorelasi.

d. Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heterokedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik (Point-point) menyebar dibawah dan diatas angka 0 (nol) pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas. Berikut ini merupakan hasil output uji heterokedastisitas pada data yang telah diolah :

Sumber : data diolah dengan SPSS 21.00

Gambar IV.6

Hasil Uji Heterokedastisitas

Dari gambar IV.6 diatas, dapat dilihat bahwa titik-titik yang dihasilkan dari model data adalah menyebar secara acak dan tidak membentuk suatu pola yang jelas ataupun teratur, serta tersebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y. Dengan demikian tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi penelitian ini.

6. Pengujian Hipotesis

a. Uji Signifikasi Parsial ( Uji statistik t )

Uji t dilakukan untuk melihat nilai signifikannya pada taraf kepercayaan 0,05 atau melihat apakah ada pengaruh secara parsial antara variabel independen dengan variabel dependen dengan tingkat α = 0,05 dengan nilai t tabel untuk df = 35 – 3 = 32 adalah 1,693. Dengan demikian ttabel ini digunakan sebagai kriteria

55

penarikan kesimpulan. Berikut ini merupakan hasil output uji t pada data yang telah diolah:

Tabel IV.7 Hasil Uji t (Parsial)

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 1,501 ,280 5,363 ,000 Aset_growth -,657 ,923 -,128 -,712 ,482 Sales_growth ,152 ,399 ,069 ,381 ,706 Roa -,574 ,385 -,257 -1,489 ,147

a. Dependent Variable: Der

Sumber : data diolah dengan SPSS 21.00

1) Pengaruh pertumbuhan aset terhadap struktur modal (DER)

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial pengaruh antara pertumbuhan aset terhadap struktur modal (DER) diperoleh sebagai berikut:

thitung = -0,712

ttabel = 1,693

Kriteria pengambilan keputusan berdasarkan thitung dan ttabel : H0 diterima jika : thitung ≤ 1,693 atau -thitung ≥- 1,693, pada α = 5% H0 ditolak jika : thitung > 1,693 atau –thitung < -1,693

Kriteria pengambilan keputusan berdasarkan probabilitasnya :

H0 diterima jika : 0,482 > 0,05, pada taraf signifikan α = 5% (sig.α ≤ 0,05)

Dari hasil tersebut, nilai -thitung -0,712 > -ttabel -1,693 dan nilai probabilitas (Sig) adalah sebesar 0,956 (Sig0,0482 > α0,05) yang berdasarkan kriteria penelitian maka H0 diterima dan Ha ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan aset tidak berpengaruh secara signifikan terhadap struktur modal pada perusahaan tekstil dan garment. Karena nilai ttabel bertanda negatif, maka pertumbuhan aset memiliki hubungan yang berlawanan dengan struktur modal. Dimana bahwa apabila aset growth mengalami peningkatan, maka nilai debt to equity

ratio akan mengalami penurunan, begitu pula sebaliknya apabila aset growth mengalami penurunan maka debt to equity ratio akan

mengalami peningkatan.

2) Pengaruh pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal (DER) Berdasarkan hasil pengujian secara parsial pengaruh antara pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal (DER) diperoleh hasil sebagai berikut:

thitung = 0,381

ttabel = 1,693

Kriteria pengambilan keputusan berdasarkan ttabel dan thitung : H0 diterima jika : thitung ≤ 1,693 atau -thitung ≥- 1,693, pada α = 5% H0 ditolak jika : thitung > 1,693 atau –thitung < -1,693

Kriteria pengambilan keputusan berdasarkan probabilitasnya :

H0 diterima jika : 0,706 > 0,05, pada taraf signifikan α = 5% (sig.α ≤ 0,05)

57

Dari hasil tersebut, nilai thitumg 0,381 < ttabel 1,693 dan nilai probabilitas (Sig) adalah sebesar 0,706 (Sig0,706 > α0,05) yang berdasarkan kriteria penelitian maka H0 diterima dan Ha ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya pengaruh antara pertumbuhan penjualan terhadap struktur modal pada perusahaan tekstil dan garment.

3) Pengaruh profitabilitas (ROA) terhadap struktur modal (DER)

Berdasarkan hasil pengujian secara parsial pengaruh antara profitabilitas terhadap struktur modal (DER) diperoleh hasil sebagai berikut:

thitung = -1,489

ttabel = 1,693

Kriteria pengambilan keputusan berdasarkan ttabel dan thitung : H0 diterima jika : thitung ≤ 1,693 atau -thitung ≥- 1,693, pada α = 5% H0 ditolak jika : thitung > 1,693 atau –thitung < -1,693

Kriteria pengambilan keputusan berdasarkan probabilitasnya :

H0 diterima jika : 0,147 > 0,05, pada taraf signifikan α = 5% (sig.α ≤ 0,05)

H0 ditolak jika : 0,147 ≤ 0,05

Dari hasil tersebut, nilai -thitumg -1,489 > -ttabel -1,693 dan nilai probabilitas (Sig) adalah sebesar 0,147 (Sig0,147 > α0,05) yang berdasarkan kriteria penelitian maka H0 diterima dan Ha ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya pengaruh antara

profitabilitas terhadap struktur modal pada perusahaan tekstil dan garment.

b. Uji Signifikasi Simultan (Uji statistik F)

Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen dan terikat. Untuk menguji hipotesis statistik melalui uji F dilakukan pada tingkat α = 5% dan nilai Fhitung untuk n= 35. Berikut ini merupakan hasil output dari uji F pada data yang telah diolah:

Tabel IV.8 Hasil Uji F (Simultan)

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression 5,529 3 1,843 ,919 ,443b

Residual 62,183 31 2,006

Total 67,712 34

a. Dependent Variable: Der

b. Predictors: (Constant), Roa, Aset_growth, Sales_growth

Sumber : data diolah dengan SPSS 21.00

Dari hasil pengelolaan dengan menggunakan SPSS for windows versi

21.00 , untuk kriteria uji F dilakukan pada tingkat α = 5% dengan nilai F untuk

Ftabel = n - k – 1 = 35 – 3 – 1 = 31 adalah sebesar 2,91.

Kriteria pengambilan keputusan berdasarkan Ftabel dan Fhitung:

H0 diterima jika : Fhitung ≤ 2,91 atau - Fhitung ≥ -2,91, pada α = 5%

59

Kriteria pengambilan keputusan berdasarkan probabilitasnya:

H0 diterima jika : 0,443 > 0,05, pada taraf signifikan α = 5% (sig.α ≤ 0,05)

H0 ditolak jika : 0,443 ≤ 0,05

Dari hasil pengujian secara simultan dengan menggunakan pengujian

Fhitung dan Ftabel pengaruh pertumbuhan aset, pertumbuhan penjualan, dan

profitabilitas terhadap struktur modal (DER) diperoleh 0,919 dengan signifikan 0,443. Nilai Fhitung (0,919) < Ftabel (2,91), dan nilai signifikan (0,443) > dari nilai probabilitas (0,05) yang berdasarkan kriteria penelitian maka H0 diterima dan Ha ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan aset, pertumbuhan penjualan, dan profitabilitas tidak berpengaruh signifikan secara bersama-sama (simultan) terhadap struktur modal pada perusahaan tekstil dan garment.

c. Koefisien Determinasi (R- Square)

Koefisien determinasi bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model regresi dalam menerangkan variasi variabel dependen. Berikut ini merupakan hasil output dari r- square pada data yang telah diolah:

Tabel IV.9 Koefisien Determinasi Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

Change Statistics Durbin-Watson R Square Change F Change df1 df2 Sig. F Chang e 1 ,286a ,082 -,007 1,4162948 ,082 ,919 3 31 ,443 1,436 a. Predictors: (Constant), Roa, Aset_growth, Sales_growth

b. Dependent Variable: Der

Nilai yang didapat melalui uji determinasi, yaitu sebagai berikut:

D = R2 x 100%

= -0,07 x 100%

= -7%

Berdasarkan hasil koefisien determinasi pada tabel diatas, nilai adjusted R2 diketahui bernilai -7%, artinya menunjukkan bahwa sekitar -7% variabel struktur modal (debt to equity ratio) yang dijelaskan oleh veriabel pertumbuhan aset, pertumbuhan penjualan, dan profitabilitas. Dengan kata lain kontribusi pertumbuhan aset, pertumbuhan penjualan dan profitabilitas dalam mempengaruhi struktur modal (debt to equity ratio) adalah sebesar -7%, sementara 107% adalah kontribusi dari variabel lain yang tidak termasuk dalam model regresi penelitian ini.

Dokumen terkait