• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

Profitabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan dalam memperoleh laba. Laba yang terdiri dari laba kotor, laba bersih, serta laba operasi. Dalam menghitung rasio profitabilitas biasanya dicari antara

53

hubungan timbal balik antara pos yang terdapat di dalam laporan laba rugi dengan pos neraca yang digunakan untuk mengukur tingkat efisisensi dan profitabilitas yang bersangkutan. Berikut merupakan perhitungan rasio profitabilitas pada perusahaan PT. Adhi Karya:

1. Gross Profit Margin

Gross Profit Margin merupakan persentase antara laba kotor yang dibandingkan dengan penjualan. Semakin besar Gross Profit Margin maka semakin baik pula keadaan operasi pada perusahaan dikarenakan menunjukkan bahwa harga pokok penjualan relatif lebih rendah dibandingkan dengan penjualan (Syamsuddin 2009:61).

Tabel 1.3

Perhitungan Gross Profit Margin PT. Adhi Karya Tbk tahun 2016-2020

Tahun Laba Kotor Penjualan Gross Profit

Margin

Standar GPM

2016 Rp. 1.115.145.407.322 Rp. 11.063.942.850.707 10,1% 30%

2017 Rp. 2.057.806.343.384 Rp. 15.156.178.074.776 14% 30%

2018 Rp. 2.506.603.493.998 Rp. 15.655.499.866.493 16,01% 30%

2019 Rp. 2.336.053.613.279 Rp. 15.307.860.220.494 15,26% 30%

2020 Rp. 1.735.713.600.544 Rp. 10.827.682.417.205 16,03% 30%

Rata-rata 14,3%

Sumber : Annual Report PT. Adhi Karya Tbk. (Telah Diolah)

Gross profit margin =

x 100%

Gross Profit Margin (2016) =

x 100%

54 = 10,1%

Di atas merupakan cara untuk perhitungan gross profit margin pada tahun 2016 , dan untuk perhitungan gross profit margin tahun 2017 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada tabel 1.3 (perhitungan gross profit margin).

Gross Profit Margin PT. Adhi Karya tbk pada tahun 2016 yaitu sebesar 10,1% dan pada tahun 2017 naik menjadi 14% dikarenakan naiknya laba bruto atau laba kotor perusahaan dari sebelumnya tahun 2016 adalah sebesar 1.115.145.407.322 menjadi 2.057.806.343.384.

Lalu pada tahun 2018 GPM perusahaan sebesar 16% dan lebih tinggi dibandingkan dari 2 tahun sebelumnya tetapi pada tahun 2019 nilai dari GPM perusahaan mengalami penurunan sebesar 15,3%. Lalu pada tahun 2020 mengalami kenaikan sebesar 16%.

Adapun rata-rata rasio GPM pada PT. Adhi Karya tbk untuk tahun 2016 sampai dengan tahun 2020 adalah sebesar 14,3% sedangkan rata-rata industri untuk perhitungan rasio GPM adalah 30%, maka dari itu perusahaan berada dibawah rata-rata industri perusahaan yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan karena jumlah pendapatan bersih di tahun 2016 lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2020. Dilihat dari rata-rata perusahaan jumlah rasio yang diperoleh masih berada di

55

bawah standar industri yang sebesar 30% (Kasmir:2015). Semakin besar rasio ini maka semakin baik karena kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba cukup tinggi.

2. Net Profit Margin

Net Profit Margin merupakan persentase antara laba sebelum pajak yang dibandingkan dengan penjualan. Rasio ini digunakan untuk menghasilkan total keuntungan bersih yang diperoleh dari jumlah pendapatan yang dikurangi dengan semua biaya terkait.

Tabel 1.4

Perhitungan Net Profit Margin PT. Adhi Karya Tbk tahun 2016-2020

Tahun Laba Setelah Pajak Penjualan NetProfit Margin

Standar NPM

2016 Rp. 315.107.783.135 Rp. 11.063.942.850.707 0,03% 20%

2017 Rp. 517.059.848.207 Rp. 15.156.178.074.776 0,03% 20%

2018 Rp. 645.029.449.105 Rp. 15.655.499.866.493 0,04% 20%

2019 Rp. 665.048.421.529 Rp. 15.307.860.220.494 0,04% 20%

2020 Rp. 23.702.652.447 Rp. 10.827.682.417.205 0,002% 20%

Rata-rata 0,03%

Sumber : Annual Report PT. Adhi Karya Tbk. (Telah Diolah)

Net profit margin =

x 100%

56

Net Profit Margin (2016) =

x 100%

= 0,03%

Di atas merupakan cara untuk perhitungan net profit margin pada tahun 2016 , dan untuk perhitungan net profit margin tahun 2017 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada tabel 1.4 (perhitungan net profit margin).

Net Profit Margin PT. Adhi Karya tbk pada tahun 2016 sampai dengan tahun 2017 dengan nilai persentase yang sama yaitu sebesar 0,03% dan pada tahun 2018 sampai dengan 2019 mengalami kenaikan sebesar 0.04%. Namun, di tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 0,002% Namun pada tahun 2020 mengalami penurunan yang sangat drastis yaitu sebesar 0,4% dikarenakan turunnya penjualan .

Berdasarkan rata-rata industri perusahaan adalah 20% untuk menilai rasio NPM perusahaan (Kasmir:2015). Akan tetapi, nilai rata-rata yang diperoleh perusahaan PT. Adhi Karya Tbk sebesar 0,03%

dikarenakan jumlah laba setelah pajak dan jumlah penjualan yang didapatkan untuk ditahun 2020 sangat rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

3. ROA

ROA merupakan persentase antara laba bersih yang dibandingkan dengan total asset. Menurut Mardiyanto (2009:196) ROA merupakan rasio yang digunakan dalam mengukur kemampuan

57

sebuah perusahaan untuk menghasilkan laba karena rasio tersebut mewakili pengembalian dari aktivitas sebuah perusahaan.

Tabel 1.5

Perhitungan Retun On Assets PT. Adhi Karya Tbk tahun 2016-2020

Tahun Laba Bersih Total Aset Return On

Assets

Standar ROA

2016 Rp. 315.107.783.135 Rp. 20.095.435.959.279 1,6% 30%

2017 Rp. 517.059.848.207 Rp. 28.332.948.012.950 1,8% 30%

2018 Rp. 645.029.449.105 Rp. 30.118.614.769.882 2,1% 30%

2019 Rp. 665.048.421.529 Rp. 36.515.833.214.549 1,8% 30%

2020 Rp. 23.702.652.447 Rp. 38.093.888.626.552 0,1% 30%

Rata-rata 1,48%

Sumber : Annual Report PT. Adhi Karya Tbk. (Telah Diolah) Return On Assets =

x 100%

Return On Assets (2016) =

x 100%

= 1,6%

Di atas merupakan cara untuk perhitungan return on assets pada tahun 2016 , dan untuk perhitungan gross profit margin tahun 2017 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada tabel 1.5(perhitungan return on assets).

58

Return On Assets PT. Adhi Karya tbk pada tahun 2016 yaitu sebesar 1,6% dan pada tahun 2017 naik menjadi 1,8% dikarenakan naiknya laba bersih perusahaan dari sebelumnya tahun 2016 adalah sebesar 315.107.783.135 menjadi 517.059.848.207. Lalu pada tahun 2018 ROA perusahaan sebesar 2,1% dan lebih tinggi dibandingkan dari 2 tahun sebelumnya tetapi pada tahun 2019 nilai dari ROA perusahaan mengalami penurunan sebesar 1,8%. Namun pada tahun 2020 mengalami penurunan yang sangat drastis yaitu sebesar 0,1% dikarenakan turunnya laba bersih perusahaan dari sebelumnya tahun 2019 adalah 665.048.421.529 menjadi 23.702.652.447.

Rata-rata yang didapatkan perusahaan PT. Adhi Karya Tbk dalam perhitungan ROA adalah 1,48% sedangkan untuk rata-rata industri perusahaan dapat dikatakan optimal jika memenuhi standar yang telah ditetapkan sebesar 30% (Kasmir:2015). Hal ini disebabkan karena laba bersih yang didapatkan ditahun 2020 mengalami penurunan walaupun jumlah aset setiap tahunnya meningkat.

4. ROE

Return On Equity merupakan persentase antara laba bersih dengan modal sendiri (total ekuitas). Semakin tinggi rasio ini maka posisi pemilik perusahaan juga semakinn kuat, dan begitupun sebaliknya.

59

Tabel 1.6

Perhitungan Retun On Equity PT. Adhi Karya Tbk tahun 2016-2020 Tahun Laba Bersih Total Ekuitas (Modal

Sendiri)

Return On Equity

Standar ROE

2016 Rp. 315.107.783.135 Rp. 5.442.779.962.898 5,8% 40%

2017 Rp. 517.059.848.207 Rp. 5.869.917.425.997 8,8% 40%

2018 Rp. 645.029.449.105 Rp. 6.285.271.896.258 10,3% 40%

2019 Rp. 665.048.421.529 Rp. 6.834.297.680.021 9,7% 40%

2020 Rp. 23.702.652.447 Rp. 5.574.810.447.358 0,4% 40%

Rata-rata 7%

Sumber : Annual Report PT. Adhi Karya Tbk. (Telah Diolah) Return On Equity =

x 100%

Return On Equity (2016) =

x 100%

= 5,8%

Di atas merupakan cara untuk perhitungan return on equity pada tahun 2016 , dan untuk perhitungan return on equity tahun 2017 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada tabel 1.6 (perhitungan return on equty).

Return On Equity PT. Adhi Karya tbk pada tahun 2016 yaitu sebesar 5,8% dan pada tahun 2017 naik menjadi 8,8% dikarenakan naiknya laba bersih perusahaan dari sebelumnya tahun 2016 adalah

60

sebesar 315.107.783.135 menjadi517.059.848.207. Lalu pada tahun 2018 ROE perusahaan sebesar 10,3% dan lebih tinggi dibandingkan dari 2 tahun sebelumnya tetapi pada tahun 2019 nilai dari ROE perusahaan mengalami penurunan sebesar 9,7%. Namun pada tahun 2020 mengalami penurunan yang sangat drastis yaitu sebesar 0,4% . Rata-rata industri perusahaan adalah 40% dan dikatakan optimal jika berada diatas rata-rata standar tersebut (Kasmir:2015).

Akan tetapi rata-rata dari rasio ROE perusahaan PT. Adhi Karya berada dibawah standar yang telah ditetapkan sebesar 7% . Hal ini dikarenakan turunnya laba bersih yang didapatkan perusahaan di tahun 2020 serta total ekuitas perusahaan dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi naik dan turun.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Luthfi Ismayeni, Maulana Nugraha dan Suryani (2021) dengan menggunakan rasio profitabilitas untuk menilai kinerja keuangan yang menyatakan bahwa melalui perhitungan rasio gross profit margin selama empat tahun mengalami fluktuasi dimana terjadi kenaikan pada tahun 2017 dan 2018 tetapi turun pada tahun 2019. Pada tahun 2016 gross profit margin menunjukkan 9,35% dan tahun 2017 mengalami kenaikan sebesar 12,99% dikarenakan penjualan bersih dari tahun sebelumnya mengalami peningktan. Pada perhitungan ROE terjadi peningkatan selama 3 tahun dikarenakan terjadinya kenaikan laba bersih perusahaan , akan tetapi di tahun 2019 terjadi penurunan yang sangat jauh. Selama 4 tahun perusahaan cenderung dapat lebih efektif dalam menggunakan ekuitas perusahaan dalam

61

menghasilkan laba. Hanya saja ditahun 2019 terjadi penurunan disebabkan karena terjadinya penurunan laba bersih. Pada analisis ROE perusahaan belum dapat menghasilkan laba atas modal yang ada. Pada analisis ROA terlihat bahwa nilai ROA masih sangat kecil untuk setiap tahunnya, hal ini berarti perusahaan belum dapat memnfaatkan aset untuk menghasilkan laba perusahaan kurang baik.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Asri Jaya, Nurlina, dan Tenri Syahriani (2020) pada perhitungan dengan menggunakan rasio profitabilitas yang menyatakan bahwa pada rasio GPM tahun 2013 sampai dengan tahun 2017 perusahaan dalam kondisi sehat dikarenakan tingginya laba kotor yang diperoleh perusahaan, semakin tinggi rasio GPM maka rasio profitabilitasnya semakin baik. Dilihat dari rasio NPM secara keseluruhan mengalami peningkatan setiap tahunnya dikarenakan laba bersih yang didapatkan setiap tahunnya meningkat dan perusahaan dikatakan dalam kondisi baik dan sehat dan mampu mengendalikan biaya dengan baik. Pada analisis menggunakan rasio ROA di tahun 2013 ke 2014 mengalami penurunan lalu di tahun 2015 mengalami penimngkatan kemudian di tahun berikutnya 2016 dan 2017 mengalami penurunan lagi, hal ini dikarenakan perusahaan belum dapat menghasilkan laba secara baik dan efektif. Pada perhitungan menggunakan rasio ROE di tahun 2013 sampai dengan tahun 2016 mengalami peningktan persentase rasio setiap tahunnya, tetapi di tahun 2017 mengalami sedikit penurunan. Walaupun perusahaan masih dapat menghasilkan laba secara baik tapi dalam

62

persentse yang rendah, perusahaan masih dapat dikatakan efektif untuk menggunakan ekuitasnya.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Irwin Ananta Vidada, Ratiyah, Denny Erica, dan Hartanti (2019) yang menyatakan bahwa pada perhitungan GPM tahun 2014 sampai dengan tahun 2018 tejadi fluktuasi turun dan naik dikarenakan efisiensi produksi dan penentuan harga jual dalam rentang waktu tersebut mengalami peningkatan serta penurunan.

secara umum rasio persentase GPM dari tahun ke tahun masih dibawah standar rata-rata industri sebesar 24,90. Berdasarkan nilai NPM tahun 2014 sampai tahun 2018 mengalami fluktuasi turun dan naik, walaupun di tahun 2018 mengalami penurunan tapi secara umum rasio persentase berada di atas rata-rata industri sebesar 3,92%. Posisi rasio NPM di tahun 2014 sampai tahun 2018 dikisaran 5 sampai 7% pada setiap tahunnya. Nilai rasio persentse ROE nyaris setiap tahunnya berada diatas rata-rata standar industri sebesar 8,32%, rasio tertinggi sebesar 15,08% di tahun 2014, namun di tahun 2018 posisi rasio turun mengakibatkan posisi berada dibawah rata-rata standar industri. Berdasarkan pada nilai ROA tahun 2014 sampai 2018 tingkat ROA mengalami penurunan dari 4,72% di tahun 2014 menjadi 1,86% di tahun 2018, hal ini dikarenakan tidak dapat menggunakan aset perusahaan dengan baik dan membesarnya total aset secara signifikan dari tahun ke tahun tetapi tidak diikuti dengan perbandingan yang sama pada pendapatan bersih yang dari tahun ke tahun masih mengalami fluktuasi turun dan naik. Persentase ROA

63

berada dibawah rata-rata standar industri 5,98% dan posisi terendah berada di tahun 2018 sebesar 1,86%.

Dokumen terkait