• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Proses telaah literatur dimulai dengan melakukan pencarian literatur menggunakan kata kunci yang telah dipilih. Setelah dilakukan seleksi berdasarkan kriteria inklusi, didapatkan tiga artikel yang dianalisis secara teliti untuk penelitian ini. Gambar 4.1. menjelaskan proses seleksi literatur.

Gambar 4.1 Flow Chart Metode Penelusuran Literatur

Literatur yang telah dipilih kemudian dianalisis. Tabel 4.1 merupakan ekstraksi data yang telah didapatkan dari tiga buah literatur. Tiga buah literatur tersebut adalah Comparison of Chest X-Ray Findings of Smear Positive and Smear Negative Patients with Pulmonary Tuberculosis (Ebrahimzadeh et al.,2014), Radiological Difference between New positive and Sputum-negative Pulmonary Tuberculosis (Rai et al.,2019) dan Evaluating The Validity

and Reliability of Chest Radiography in The Diagnosis of Tuberculosis Among Smear Negative Pulmonary Tuberculosis Patients (Tewolde et al.,2015). Data yang dianalisis dari ketiga literatur tersebut adalah tempat penelitian, metode penelitian, jumlah sampel penelitian, usia sampel, jenis kelamin sampel, jumlah pasien TB Paru dengan BTA Positif, jumlah pasien TB Paru dengan BTA Negatif, jumlah pasien dengan hasil pemeriksaan Kultur TB Positif, jumlah pasien dengan hasil pemeriksaan Kultur TB Negatif dan penemuan radiologis yang ditemukan pada hasil foto toraks pasien.

Studi Ebrahimzadeh et al.,2014

Rai et al.,2019 Tewolde et al., 2015

Tempat Penelitian Birjand, Iran. Bihar, India. Addis Ababa, Etiopia.

Metode Penelitian Studi restrokpektif deskriptif-analitik.

BTA Negatif 100 sampel. 109 sampel. 159 sampel.

Kultur Positif Tidak disebutkan. Tidak disebutkan. 47 sampel.

Kultur Negatif Tidak disebutkan. Tidak disebutkan. 103 sampel.

Intervensi

laboratorium

Dari hasil dari penelusuran literatur, telah didapatkan tiga jenis literatur yang seterusnya dianalisis. Tabel 4.1 menunjukkan ekstraksi data yang didapatkan dari setiap literatur.

Ketiga literatur yang dianalisis dilakukan di negara yang berbeda, literatur pertama melakukan pengambilan data di Birjand, Iran, literatur kedua melakukan pengambilan data Bihar, India dan literatur ketiga melakukan penelitian di Addis Ababa, Etiopia.

Metode penelitian pada penelitian yang dianalisis berbagai, metode-metode penelitian tersebut adalah retrospektif deskriptif-analitik, prospektif observasional dan deskriptif cross-sectional.

Pada literatur pertama sampel yang diteliti adalah 200 sampel pasien TB Paru. Pasien dengan hasil pemeriksaan BTA positif sebanyak 100 sampel dan pasien dengan hasil pemeriksaan BTA negatif juga sebanyak 100 sampel. Pada literatur kedua pula, sampel yang diteliti adalah sebanyak 147 sampel pasien TB paru. Jumlah sampel dengan hasil pemeriksaan BTA positif sebanyak 38 sampel dan sampel dengan hasil pemeriksaan BTA negatif sebanyak 109 sampel.

Dimana dalam literatur ketiga, jumlah sampel yang diteliti ialah 159 sampel pasien TB paru dengan hasil pemeriksaan BTA negatif.

Tindakan penelitian yang dilakukan pada literatur pertama ialah pemeriksaan foto toraks dan pemeriksaan BTA, hasil foto toraks yang didapatkan telah diinterpretasi oleh dua orang dokter radiologi secara independen. Di dalam literatur kedua, hanya dilakukan pemeriksaan foto toraks. Hasil daripada pemeriksaan foto toraks diinterpretasi oleh dua orang dokter radiologi yang tidak mengetahui mengenai hasil pemeriksaan BTA pada setiap pasien. Pada literatur ketiga, dilakukan pemeriksaan ulangan kultur sputum dan pemeriksaan ulangan foto toraks pada semua sampel. Hasil yang didapatkan daripada pemeriksaan foto toraks diinterpretasi oleh dua orang dokter radiologi yang senior.

Gambar 4.2 Grafik Temuan radiologis pada TB Paru BTA positif

Gambar 4.3 Grafik Temuan Radiologis pada TB Paru BTA negatif

Gambar 4.1 dan 4.2 menunjukkan grafik temuan-temuan radiologis yang sering dijumpai pada pasien TB Paru dengan BTA positif dan BTA negatif yang didapatkan pada ketiga literatur yang dianalisis. Literatur pertama menunjukkan bahwa penemuan radiologis yang paling sering ditemukan pada pasien BTA positif adalah kalsifikasi (56%) dan kelainan lebih sering dijumpai pada sisi kiri paru (47,36%) Seterusnya, pada pasien BTA negatif, kelainan pada sisi kiri paru dijumpai sebanyak 27,52% (P < 0,05). Kelainan lain yang sering ditemukan pada pasien BTA positif pula ialah adenopati (53%), bronkiektasis (40%), infiltrat retikulonodular (36%), dan infiltrat bercak (30%). Pada pasien BTA negatif, kelainan yang paling sering ditemukan ialah kalsifikasi (27%), infiltrat retikulonodular (41%), fibrosis (23%), adenopati (21%), dan infiltrat bercak (14%).

Literatur kedua menemukan penemuan radiologis yang paling sering pada pasien BTA positif adalah infiltrat bercak (78,94%), kavitasi (36.84%), fibrosis (7,89%), nodul (2,63%), kistik (5,26%). Seterusnya, kelainan yang sering ditemukan pada pasien TB Paru BTA negatif adalah infiltrat bercak (49,54%), kavitasi (15,59%), fibrosis (12,84%), nodul (10,09%), kistik (13,76%). Ditemukan juga pada pasien BTA positif, sebanyak 34.21% lesi adalah bilateral dan sebanyak 35.77% lesi adalah bilateral pada pasien BTA negatif. Selain itu, frekuensi penemuan infiltrat bercak dan kavitasi secara signifikan lebih tinggi pada pasien BTA positif berbanding BTA negatif (P < 0,05).

Hasil penelitian literatur ketiga, dilaporkan bahwa penemuan radiologis yang paling sering ditemukan pada pasien TB Paru dengan BTA negatif adalah konsolidasi (40,3%), kavitasi (23,9%), nodul (17%), efusi pleura (14,5%) dan fibrosis (6,9%). Lokasi kelainan radiologis paling sering ditemukan kelainan pula adalah pada sisi kanan atas paru yaitu 36,48% dan pada sisi kiri atas paru yaitu sebanyak 30,19% daripada keseluruhan sampel pada literatur ketiga.

4.2 Pembahasan

Semua literatur yang dianalisis dalam penelitian ini merupakan penelitian-penelitian observasional. Metode-metode penelitian-penelitian yang digunakan dalam literatur yang dianalisis adalah retrospektif deskriptif-analitik, prospektif observasional dan deskriptif cross-sectional.

Ketiga artikel mengikuti standar internasional dalam mendiagnosis TB Paru. Dalam studi yang dilakukan oleh Rai et al. (2019) pasien TB Paru diklasifikasikan kepada dua kelompok yaitu pasien TB Paru sputum-positif dan pasien TB Paru sputum-negatif. Kriteria untuk penegakan diagnosis TB Paru adalah hasil pemeriksaan BTA positif atau satu pemeriksaan BTA positif diikuti dengan hasil pemeriksaan kultur sputum positif atau dijumpai kelainan radiologis dari hasil pemeriksaan foto toraks ke arah TB Paru (Rai et al.,2019). Tewolde et al. (2015) juga menggunakan panduan yang dikeluarkan WHO dalam menegakkan diagnosis TB Paru yaitu dengan melakukan pemeriksaan BTA dan pemeriksaan foto toraks.

Semua sampel pada ketiga artikel telah menjalani pemeriksaan foto toraks.

Foto toraks telah diobservasi oleh sekurang-kurangnya dua orang dokter radiologi dan hasil foto toraks diinterpretasi secara independen (Ebrahimzadeh et al., 2015).

Dimana dalam studi yang dilakukan oleh Tewolde et al. (2015) pemeriksaan foto toraks dilakukan oleh dokter radiologi senior.

Perbedaan yang dapat dilihat dari ketiga literatur adalah jenis sampel yang diambil, studi yang dilakukan oleh Ebrahimzadeh et al. (2014) mengambil sampel pasien terkonfirmasi TB Paru BTA positif dan BTA negatif dan di dalam penelitian tersebut ini tidak dilakukan pemeriksaan kultur sputum pada sampel.

Studi yang dilakukan oleh Rai et al. (2019) pula mengambil pasien TB

sputum-positif dan sputum-negatif sebagai sampel. Pasien TB sputum-negatif ialah pasien dengan hasil BTA negatif namun didiagnosis TB Paru dengan gejala klinis, hasil abnormal pada pemeriksaan foto toraks atau hasil positif pada hasil pemeriksaan GeneXpert (Rai et al.,2019). Literatur yang dilakukan oleh Tewolde et al. (2015) pula hanya mengambil sampel daripada pasien TB paru BTA negatif. Di dalam penelitian yang dilakukan oleh Tewolde et al. (2015) telah disebutkan bahwa telah dilakukan pemeriksaan kultur sputum pada semua sampel.

Dua dari tiga literatur yang dianalisis menyebutkan bahwa observasi penemuan radiologis pada foto toraks dilakukan berdasarkan panduan-panduan yang dikeluarkan oleh WHO dan CDC. Hal ini meningkatkan spesifisitas pemeriksaan foto toraks dalam menegakkan diagnosis TB Paru. Sebagai contoh, studi oleh Rai et al. (2019) mengklasifikasikan lesi paru berdasarkan klasifikasi yang dibuat oleh National Tuberculosis Association of USA, yaitu

i. Lesi minimal

ii. Lesi sedang (moderately advanced) iii. Lesi luas (far advanced)

Studi oleh Tewolde et al. (2015) pula mengevaluasi hasil foto toraks dengan mengikuti panduan CDC. Menurut panduan CDC, penemuan radiologis yang mengarah ke TB aktif adalah

i. Infiltrat atau konsolidasi pada bahagian anterior sisi atas paru dan bahagian superior sisi bawah paru

ii. Mana-mana lesi kavitasi aktif yang mempunyai dinding yang tebal iii. Nodul dengan batas tidak tegas

iv. Efusi pleura

v. Limfadenopati hilum atau mediastinum vi. Infiltrat retikulonodular

Selain itu, Tewolde et al. (2015) juga menggunakan sistem penskoran 4 tingkat yaitu 1-Bukan TB, 2-Mungkin TB, 3-Sugestif ke arah TB, 4-Sangat sugestif ke arah TB, kasus dengan skor 2 hingga 4 diambil kira sebagai kasus TB.

Di dalam studi yang dilakukan oleh Tewolde et al. (2015) semua sampel telah menjalani pemeriksaan kultur sputum dan pemeriksaan foto toraks. Telah didapatkan sebanyak dua kasus dengan hasil kultur positif, mempunyai hasil pemeriksaan foto toraks yang normal. Tewolde et al. (2015) menyimpulkan hal ini mempunyai kaitan dengan perkembangan dalam penegakan diagnosis TB Paru, sehingga TB Paru dapat dideteksi dengan lebih cepat. Pasien ini berkemungkinan telah didiagnosis dengan baik menggunakan alat diagnosis secara laboratorium sehingga kelainan radiologis yang disebabkan oleh TB belum sempat muncul. Hal ini kerana presentasi kasus TB dan ketepatan hasil pemeriksaan foto toraks, dipengaruhi oleh keterlambatan pasien mendapatkan diagnosis, pada kasus yang terlambat mendapatkan didiagnosis biasanya ditemukan lebih banyak kelainan kavitasi pada hasil pemeriksaan foto toraks (Tewolde et al.,2015). Selain itu, berdasarkan hasil penelitian yang dibuat oleh Rai et al, dapat disimpulkan bahwa pasien suspek TB dengan hasil pemeriksaan BTA yang positif cenderung akan menunjukkan gambaran infiltrat bercak atau kavitasi pada hasil pemeriksaan foto toraks.

Untuk meminimalkan kesalahan dalam menggunakan foto toraks sebagai alat diagnosis TB Paru, interpretasi foto toraks perlu disertakan bersama data klinis pasien yang detail, riwayat perawatan pasien, hasil foto toraks terdahulu pasien, menggunakan ahli radiologi yang pakar untuk menginterpretasi hasil foto toraks (Tewolde et al.,2015). Cara yang paling berkesan dalam mendiagnosis TB Paru menggunakan foto toraks adalah dengan menginterpretasi hasil foto toraks berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan BTA. Dikarenakan kebanyakan kelainan radiologis pada TB Paru dapat ditemukan pada penyakit paru lain, adalah lebih baik dipastikan terlebih dahulu bahwa pasien yang sedang diperiksa tidak menderita penyakit-penyakit paru yang terdapat pada diagnosis banding (Ebrahimzadeh et al.,2015).

Ketiga literatur yang dianalisis mengambil sampel dan melakukan penelitian di negara-negara membangun yaitu India, Iran dan Etiopia. Hal ini

secara tidak langsung mencerminkan persamaan dan relevansi analisis hasil penelitian dari artikel-artikel ini untuk diimplementasikan di Indonesia, yang juga merupakan sebuah negara berkembang.

Tewolde et al. (2015) menyimpulkan berdasarkan hasil penelitiannya bahwa foto toraks dapat digunakan sebagai alat diagnosis TB apabila pemeriksaan kultur sputum tidak dapat dilakukan. Tewolde et al. (2015) juga menyatakan bahwa foto toraks mempunyai sensitivitas yang lebih tinggi (77.1%) untuk mendiagnosis TB Paru BTA Negatif. Dapat disimpulkan bahwa hasil pemeriksaan foto toraks yang dibuat berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan BTA adalah alat diagnostik yang sangat berguna dalam mendiagnosis TB Paru (Ebrahimzadeh et al.,2015) Pemeriksaan foto toraks yang dilakukan pada pasien suspek TB dapat mengarahkan penegakan diagnosis yang lebih baik (Ebrahimzadeh et al.,2015). Tewolde et al. (2015) menyatakan bahwa sistem penskoran empat tingkat yang digunakan dalam penelitiannya untuk menginterpretasi hasil foto toraks terbukti membantu dalam meningkatkan spesifisitas foto toraks dalam mendiagnosis TB Paru BTA negatif. Studi yang dilakukan oleh Rai et al. (2019) menyimpulkan bahwa pemeriksaan foto toraks mempunyai sensitivitas yang tinggi untuk mendiagnosis TB Paru tetapi mempunyai spesifisitas yang rendah.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait