BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Gaya Bahasa Personifikasi dalam Novel Arah Langkah Karya Fiersa Besari.
Berdasarkan kajian yang diperoleh gaya bahasa personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Gaya bahasa personifikasi tampak pada kutipan berikut.
a. Pilihan Kata yang Mengenakan Sifat Manusia pada Benda Mati Terebut
1) Data I
“Nama itu kembali muncul, menyayat hatiku sewaktu-waktu; menandaskan segala keperkasaanku” (halaman 10).
Kutipan di atas merupakan data pertama dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata menyayat (kata verba) dari kata dasar sayat artinya potong kecil, iris, dan kata menyayat yang secara leksikal bermakna mengiris (tipis-tipis), mengiris untuk memisah-misahkan atau menguliti, meracik (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata menyayat pada kutipan di atas bermakna tentang perasaan atau melukai hati. Kata nama secara leksikal adalah kata untuk menyebut atau memanggil
orang (aplikasi KBBI V), sedangkan secara semantis kata nama adalah benda hidup yang bisa mengiris hati seseorang. Jadi, nama yang dimaksud sering kali menyayat.
2) Data II
“Aku merasakan kalimat kecil yang mengawali perjumpaan kami menari dikepalaku” (halaman 13).
Kutipan di atas merupakan data kedua dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata menari (kata verba) dari kata dasar tari artinya gerakan badan yang berirama, biasanya diiringi bunyi-bunyian, sedangkan kata menari yang secara leksikal bermakna memainkan tari (aplikasi KBBI V).
Adapun secara semantis kata menari adalah salah satu gerakan pikiran atau angan-angan. Kata kalimat kecil merupakan percakapan singkat antara mereka. Jadi, kalimat kecil yang membuat penulis menari.
3) Data III
“Bulan sabit mengawasi dari atas sana” (halaman 14).
Kutipan di atas merupakan data ketiga dari tiga puluh satu majas personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya
Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata mengawasi (kata verba) dari kata dasar awas artinya dapat melihat baik-baik, tajam penglihatan. Sedangkan mengawasi yang secara leksikal bermakna melihat, memperhatikan, mengamat-amati, menjaga baik-baik, dan mengontrol (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata mengawasi adalah salah satu kegiatan memperhatikan atau berjaga layaknya manusia. Kata bulan sabit merupakan indra penglihatan. Jadi, bulan sabit secara tidak langsung melakukan kegiatan mengawasi.
4) Data IV
“Angin berembus kencang, memorak-porandakan rambutku” (halaman 14).
Kutipan di atas merupakan data keempat dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata memorak-porandakan (kata reduplikasi) dari kata dasar porak-peranda artinya porak-poranda. Sedangkan kata memorak-porandakan yang secara leksikal bermakna memorak-porandakan (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata memorakporandakan
pada kutipan di atas bermakna cerai-berai tidak karuan. Kata angin adalah gerakan udara dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah (aplikasi KBBI V). Jadi, angin secara tidak langsung memorak-porandakan rambutku.
5) Data V
“Sambil minum susu, matanya menyapu pegawai kantoran yang baru pulang kerja...” (halaman 26).
Kutipan di atas merupakan data kelima dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata menyapu (kata verba) dari kata dasar sapu artinya alat rumah tangga dibuat dari ijuk yang diikat menjadi berkas, diberi tangkai pendek atau panjang untuk membersihkan debu, sampah, dan sebagainya, sedangkan kata menyapu yang secara leksikal bermakna membersihkan dengan sapu. Adapun secara semantis kata menyapu pada kutipan di atas bermakna bahwa matanya bergeser satu arah ke arah lain. Kata matanya merupakan salah satu indra untuk melihat. Jadi, matanya yang melakukan kegiatan menyapu pegawai kantoran yang baru pulang kerja.
6) Data VI
“Sesekali bus tua yang kami naiki batuk asap hitam...”
(halaman 27).
Kutipan di atas merupakan data keenam dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata batuk (kata nomina) secara leksikal bermakna mengeluarkan bunyi yang keras seperti menyalak yang disebabkan oleh penyakit pada jalan pernapasan atau paru-paru (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata batuk pada kutipan di atas bermakna salah satu jenis yang mengeluarkan bunyi. Kata bus adalah kendaraan angkutan umum yang besar, beroda empat atau lebih, dapat memuat penumpang banyak. Jadi, bus yang melakukan batuk asap hitam.
7) Data VII
“Langit biru seakan sedang bercermin di atas permukaan danau...” (halaman 28).
Kutipan di atas merupakan data ketujuh dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai
benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata bercermin (kata verba) dari kata dasar cermin artinya kaca bening yang salah satu mukanya dicat dengan air raksa dan sebagainya sehingga dapat memperlihatkan bayangan benda yang ditaruh didepannya, biasanya untuk melihat wajah ketika bersolek dan sebagainya.
Sedangkan kata bercermin yang secara leksikal bermakna bercermin (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata bercermin pada kutipan di atas bermakna melihat mukanya di dalam air dengan pantulan cahaya matahari. Kata langit merupakan ruang luas yang terbentang di atas bumi. Jadi, langit dapat bercermin dari atas permukaan danau layaknya manusia.
8) Data VIII
“Degup jantung ku berlarian” (halaman 32).
Kutipan di atas merupakan data kedelapan dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata berlarian (kata verba) dari kata dasar lari artinya melangkahkan kaki dengan cepat yang pada setiap langkahnya kedua kaki tidak menjejak tanak. Sedangkan kata berlarian yang secara leksikal bermakna berlari ke mana-mana (aplikasi KBBI V). Adapun
secara semantis kata berlarian pada kutipan di atas bermakna detak atau debar yang memukul keras. Kata jantung ku merupakan bagian tubuh yang menjadi pusat peredaran darah.
Jadi, jantung ku pada dalam keadaan berlarian.
9) Data IX
“Matahari pagi berusaha mendaki dari balik rentetan tebing yang mengitari Kota Sibolga” (halaman 33).
Kutipan di atas merupakan data kesembilan dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata mendaki (kata verba) berasal dari kata dasar daki artinya kotoran sisa debu bercampur keringat yang melengket pada tubuh.
Sedangkan kata mendaki yang secara leksikal bermakna memanjak, menaiki, dan naik (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata mendaki pada kutipan di atas bermakna berusah naik dengan memancarkan sinarnya. Kata matahari merupakan benda angkasa. Jadi, matahari diibaratkan sebagai benda hidup yang bisa mendaki tebing layaknya manusia.
10) Data X
“Sinarnya menusuk-nusuk mataku” (halaman 33).
Kutipan di atas merupakan data kesepuluh dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata menusuk-nusuk berasal dari kata dasar tusuk artinya memasukkan sesuatu benda yang runcing ke benda lain cocok. Sedangkan kata menusuk-nusuk yang secara secara leksikal bermakna memanaskan hati orang menghasut (aplikasi KBBI V) adalah paparan sinar matahari. Kata sinar merupakan pancaran terang.
Jadi, paparan sinarnya bisa menusuk-nusuk mataku.
11) Data XI
“Artikel tersebut seakan mengetuk kepalaku dengan kesadaran ...” (halaman 36).
Kutipan di atas merupakan data kesebelas dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata mengetuk dari kata dasar ketuk artinya tiruan bunyi seperti pukulan pada pintu, meja dan sebagainya yang dibuat dari kayu.
Sedangkan kata mengetuk yang secara leksikal bermakna
memukul sesuatu dengan buku jari, martil, dan sebagainya (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata mengetuk pada kutipan di atas bermakna salah satu kegiatan memukul atau membuka pikirannya. Kata artikel merupakan karya tulis lengkap.
Jadi, artikel sebagai benda hidup yang bisa mengetuk (membuka) kepalaku dengan kesadaran.
12) Data XII
“Angin sepoi meraba-raba wajah ku yang masih lengket karena keringat” (halaman 40).
Kutipan diatas merupakan data kedua belas dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata meraba-raba (kata reduplikasi) terdiri dari kata dasar raba artinya jamah, terka, dan duga. Sedangkan kata meraba-raba yang secara leksikal bermakna menyentuh–nyentuk karena hendak merasai atau mencari sesuatu (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata meraba-raba pada kutipan di atas bermakna angin sepoi sesekali menyentuh wajah ku yang dipenuhi dengan keringat.
Kata angin merupakan udara. Jadi, angin bisa meraba-raba (menyentuh) wajah ku yang lengket karena keringat.
13) Data XII
“Desir ombak bernyanyi merdu diteligaku, membisikkan pilu” (halaman 40).
Kutipan di atas merupakan data ketiga belas dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata bernyanyi (kata verba) dari kata dasar nyanyi artinya nyanyi, sedangkan kata bernyanyi yang secara leksikal bermakna mengeluarkan suara bernada dan berlagu (aplikasi KBBI V).
Adapun secara semantis kata bernyanyi pada kutipan di atas bermakna suara ombak yang merdu. Kata ombak merupakan gerakan air laut yang turun naik. atau bergulung-gulung Jadi, ombak yang melakukan kegiatan bernyanyi.
14) Data XIV
“Aku lebih menikmati desir angin menerpa wajah ku sambil mendengar lagu-lagu pemberian Kiky Ersya...”
(halaman 76).
Kutipan di atas merupakan data keempat belas dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata
menerpa (kata verba) dari kata dasar terpa artinya menerpa, sedangkan kata menerpa yang secara leksikal bermakna melompati dan menerkam mengejar hendak menyergap (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata menerpa pada kutipan di atas bermakna menyerang wajahnya dengan tiupan angin yang kencang. Kata angin merupakan udara. Jadi, angin mengibaratkan benda hidup yang bisa menerpa wajah ku.
15) Data XV
“Setelah berjalan sekitar beberapa ratus meter ditemani mentari yang mulai merangkak turun dari langit, kami tiba di tempat yang dimaksudnya” (halaman 80).
Kutipan di atas merupakan data kelima belas dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata merangkak (kata verba) dari kata dasar rangkak artinya merangkak, sedangkan kata merangkak yang secara leksikal bermakna bergerak dengan bertumpu pada tangan dan lutut (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata merangkak pada kutipan di atas bermakna bergeser turun atau mulai terbenam matahari. Kata mentari merupakan matahari. Jadi, mentari
mengibaratkan sebagai benda hidup yang bisa melakukan merangkak turun dari langit.
16) Data XVI
“Beberapa kali langit memuntahkan gemuruh sebelum berujung di turunkannya rintik hujan yang membasahi bumi” (halaman 81).
Kutipan di atas merupakan data keenam belas dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata memuntahkan (kata verba) dari kata dasar muntah artinya keluar kembali (tentang makanan, minuman, dan sebagainya) yang telah masuk ke dalam mulut atau perut, sedangkan kata memuntahkan yang secara leksikal bermakna mengeluarkan apa-apa yang sudah masuk ke dalam perut (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis memuntahkan pada kutipan di atas bermakna mengeluarkan suara menggelegar atau gemuruh dari atas langit.
Kata langit adalah ruang luas yang terbentang diatas bumi. Jadi, langit bisa saja melakukan sesuatu yang dapat memuntahkan gemuruh sebelum hujan.
17) Data XVII
“Aku membuka mataku yang dipukuli cahaya” (halaman 81).
Kutipan di atas merupakan data ketujuh belas dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata dipukuli (kata preposisi) dari kata dasar pukul artinya ketuk (dengan sesuatu yang keras atau berat, dipakai juga dalam arti kiasan), sedangkan kata dipukuli yang secara leksikal bermakna kena pukul atau tidak berdaya (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata dipukuli pada kutipan di atas bermakna matanya kena paparan sinar matahari langsung. Kata cahaya merupakan sinar atau terang. Jadi, cahaya yang dapat memberikan paparan sehingga mataku yang dipukuli.
18) Data XVIII
“Bintang-bintang itu harus masuk ke dalam kameraku”
(halaman 92).
Kutipan di atas merupakan data kedelapan belas dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati
menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata masuk (kata verba) yang secara leksikal bermakna ke dalam (ruangan, kamar, lingkungan, dan sebagainya) (aplikasi KBBI V).
Adapun secara semantis kata masuk pada kutipan di atas bermakna agar dapat mengabadikan. Kata bintang-bintang merupakan salah satu benda langit. Jadi, bintang-bintang harus masuk agar dapat mengabadikan ke dalam kamera.
19) Data XIX
“Kala sang surya mengucapkan salam pagi ini di bus...”
(halaman 111).
Kutipan di atas merupakan data kesembilan belas dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata mengucapkan (kata verba) dari kata dasar ucap artinya mengeluarkan ucapan, melisankan, mengatakan dan menyatakan, sedangkan kata mengucapkan yang secara leksikal bermakna mengeluarkan ucapan (aplikasi KBBI V). Adapun yang secara semantis kata mengucapkan pada kutipan di atas bermakna bahwa secara tidak langsung dia dibangunkan oleh paparan sinar matahari. Kata sang surya merupakan matahari. Jadi, sang surya bisa melakukan dengan mengucapkan salam pagi.
20) Data XX
“Kabut perlahan memudar tersapu mentari pagi”
(halaman 122).
Kutipan di atas merupakan data kedua puluh dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata tersapu (kata verba) dari kata dasar sapu artinya alat rumah tangga dibuat dari ijuk yang dikait menjadi berkas, diberi tangkai pendek atau panjang untuk membersihkan debu, sampah, dan sebagainya, sedangkan kata tersapu yang secara leksikal bermakna sudah, dibersihkan, dibinasakan sama sekali, dan sebagainya dapat disapu (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata tersapu pada kutipan di atas bermakna kabut pelan-pelan membersikan dengan mentari. Kata kabut merupakan awan lembap. Jadi, kabut dapat melakukan kegiatan dengan cara tersapu mentari.
21) Data XXI
“Perut kami sudah berdemo ingin diberi makan”
(halaman 143).
Kutipan di atas merupakan data kedua puluh satu dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah
Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata berdemo (kata verba) dari kata dasar demo artinya demonstrasi, sedangkan kata berdemo yang secara leksikal bermakna seperti halnya melakukan demonstrasi (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata berdemo pada kutipan di atas bermakna berteriak atau mengeluarkan bunyi. Kata perut merupakan salah satu bagian organ tubuh. Jadi, perut sudah melakukan kegiatan berdemo.
22) Data XXII
“Fajar kian melahap gelap” (halaman 172).
Kutipan di atas merupakan data kedua puluh dua dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata melahap (kata verba) dari kata dasar lahap artinya suka makan banyak dengan tidak memilih-milih makanan, rakus, bernafsu sekali ketika makan, sedangkan kata melahap yang secara leksikal bermakna makan banyak-banyak, menghabiskan, dan mengambil tanpa hak adalah makan (aplikasi KBBI V). Adapun
secara semantis kata melahap pada kutipan di atas bermakna matahari perlahan memancarkan sinarnya. Kata fajar merupakan cahaya kemerah-merahan dilangit sebelah timur pada menjelang matahari terbit. Jadi, fajar yang melakukan pergeseran sehingga melahap gelap.
23) Data XXIII
“Iringan pohon kelapa tegak berdiri dibelakang kamar-kamar” (halaman 175).
Kutipan di atas merupakan data kedua puluh tiga dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata iringan (kata nomina) dari kata dasar iring artinya ikut dan serta, sedangkan kata iringan yang secara leksikal bermakna yang mengiringi, sisi, lambung, samping, dan iring-iringan (aplikasi KBBI V). Adapun secara semantis kata iringan pada kutipan di atas bermakna adalah iring-iringan atau berjejer dari pohon satu ke pohon lainnya. Kata pohon merupakan tumbuhan atau pohon kayu. Jadi, pohon itu berdiri dalam keadaan iringan.
24) Data XXIV
“Beberapa kali daun yang lebat menyapu wajah kami”
(halaman 181).
Kutipan di atas merupakan data kedua puluh empat dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata menyapu (kata verba) dari kata dasar sapu artinya alat rumah tangga dibuat dari ijuk yang diikat menjadi berkas, diberi tangkai pendek atau panjang untuk membersihkan debu, sampah, dan sebagainya, sedangkan kata menyapu yang secara leksikal bermakna membersihkan dengan sapu (aplikasi KBBI V).
Adapun secara semantis kata menyapu pada kutipan di atas bermakna daun itu sering kali mengusap wajahnya. Kata daun merupakan bagian tanaman yang tumbuh berhelai-helai pada ranting. Jadi, daun sering kali melakukan kegiatan menyapu wajah kami.
25) Data XXV
“Kubiarkan cahaya mentari sore yang menguning memeluk sudut-sudut ruangan” (halaman 189).
Kutipan di atas merupakan data kedua puluh lima dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah
Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati menyerupai benda hidup layaknya seperti manusia. Pada kata memeluk (kata verba) dari kata dasar peluk artinya dekap (pada leher, tubuh, dan sebagainya), sedangkan kata memeluk yang secara leksikal bermakna meraih seseorang ke dalam dekapan kedua tangan yang dilingkarkan da mendekap (aplikasi KBBI V).
Adapun yang secara semantis kata memeluk pada kutipan di atas bermakna mentari mendekap atau menyentuh serta mampu memantulkan cahayanya. Kata cahaya mentari merupakan sinar.
Jadi, cahaya mentari mampu memeluk sudut-sudut ruang dengan hasil pantulan
26) Data XXVI
“Pepohonan kelapa melambai manis, menemani laut biru muda yang ombaknya membelai kaki dermaga”
(halaman 215).
Kutipan di atas merupakan data kedua puluh enam dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati
Kutipan di atas merupakan data kedua puluh enam dari tiga puluh satu gaya bahasa personifikasi yang ditemukan dalam novel Arah Langkah karya Fiersa Besari. Kutipan di atas dikategorikan sebagai gaya bahasa personifikasi karena sifat-sifat benda mati